Hari Aku Kehilangan Bayiku, Suamiku Mengirim Asisten dan Uang Rp800 Juta—Tiga Puluh Hari Kemudian Ia Gemetar Saat Aku Berhenti Menunggu, Bertanya, Menangis, dan Memintanya Pulang Seperti Dulu Lagi
Bagian 1 — Aku Pulang dari Rumah Sakit Sendirian, Menghapus Namanya dari Hidupku, Lalu Membuka Kembali Pintu Karier yang Dulu Kutinggalkan Demi Pernikahan
Pada hari aku kehilangan bayi kami, suamiku tidak datang ke rumah sakit.
Bahkan ketika dokter mengatakan kehamilanku tidak mungkin dipertahankan, orang pertama dari keluarga suamiku yang muncul bukan Dimas.
Melainkan asistennya.
Namanya Arif.
Ia berdiri canggung di samping tempat tidurku di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, memegang map cokelat dan ponsel yang terus bergetar.
“Bu Alya, Pak Dimas sedang di Surabaya. Ada penandatanganan kontrak yang tidak bisa ditinggalkan.”
Aku masih mengenakan gelang pasien.
Infus menempel di tangan kiriku.
Sementara di bawah selimut, tubuhku masih terasa seperti sedang diperas dari dalam.
Aku bertanya pelan, “Dia tahu apa yang terjadi?”
Arif menunduk.
“Tahu, Bu.”
“Sejak kapan?”
“Tadi pagi.”
Aku menatap jendela.
Hujan bulan November memukul kaca seperti butiran pasir.
Aku masuk IGD pukul enam pagi.
Sekarang hampir pukul tiga sore.
Berarti selama sembilan jam, Dimas tahu anak kami tidak akan selamat.
Dan selama sembilan jam itu pula, ia memilih tidak datang.
Arif kemudian meletakkan sebuah kartu ATM di meja kecil.
“Pak Dimas juga meminta saya menyampaikan bahwa beliau sudah mentransfer delapan ratus juta rupiah. Untuk biaya rumah sakit dan pemulihan Ibu.”
Aku menoleh.
“Delapan ratus juta?”
“Iya.”
Lalu Arif mengucapkan kalimat yang sampai sekarang masih kuingat dengan sangat jelas.
“Pak Dimas berharap Ibu beristirahat dulu dan tidak membuat keputusan emosional sampai proyek Surabaya selesai.”
Aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Sepanjang tiga tahun pernikahan, Dimas terlambat pulang dua jam saja bisa membuatku menangis.
Pesanku tidak dibalas, aku menangis.
Ia makan malam dengan perempuan lain untuk urusan pekerjaan, aku menangis.
Ia lupa ulang tahunku, aku mengurung diri di kamar mandi dan menangis tanpa suara.
Tetapi hari itu, ketika anak yang sudah kutunggu hampir enam bulan hilang dan suamiku mengirimkan uang sebagai pengganti kehadirannya…
air mataku justru berhenti.
Aku hanya meminta Arif pulang.
Malamnya aku menjalani tindakan medis.
Ketika sadar, kamar rawat sudah gelap.
Tidak ada bunga.
Tidak ada pesan dari Dimas.
Tidak ada panggilan tak terjawab.
Yang ada hanya notifikasi mobile banking.
Rp800.000.000.
Berita transfernya berbunyi:
“Untuk kebutuhan Alya.”
Aku membaca empat kata itu lama sekali.
Lalu untuk pertama kalinya setelah menikah, aku mematikan fitur berbagi lokasi yang selama ini selalu aktif agar Dimas tahu aku berada di mana.
Aku menghapus pengingat untuk memesan obat lambungnya setiap bulan.
Aku keluar dari grup percakapan dengan sopir kantor yang biasa kugunakan untuk memastikan jadwal kepulangannya.
Terakhir, aku membuka kalender.
Ada puluhan tanda kecil.
Makan malam Dimas.
Golf Dimas.
Kontrol gigi Dimas.
Ulang tahun ibu Dimas.
Pertemuan alumni Dimas.
Aku menghapus semuanya.
Saat itulah aku sadar sesuatu yang memalukan.
Kalender hidupku selama tiga tahun hampir seluruhnya berisi kehidupan orang lain.
Dua hari kemudian aku pulang sendiri.
Rumah kami berada di kawasan Cilandak.
Sebuah rumah dua lantai yang kubeli empat tahun sebelum menikah, setelah menjual tanah peninggalan ayahku di Bandung dan menambahkan hampir seluruh tabunganku.
Sejak menikah, semua orang menyebutnya “rumah Dimas”.
Aku tidak pernah mengoreksi.
Dulu aku berpikir, untuk apa menghitung milik siapa kalau sudah menjadi suami istri?
Hari itu aku memahami bahwa ada perbedaan besar antara berbagi dengan seseorang dan menghilangkan diri sendiri demi seseorang.
Aku masuk ke kamar utama.
Di meja rias masih ada foto pernikahan kami.
Kumasukkan ke laci.
Aku tidak merobeknya.
Tidak membanting apa pun.
Aku terlalu lelah untuk marah.
Lalu aku memindahkan pakaian dan barang pribadiku ke kamar kerja di lantai bawah.
Malam berikutnya, Dimas akhirnya pulang.
Pukul 22.40.
Aku sedang duduk di meja makan dengan laptop terbuka.
Ia berhenti ketika melihatku.
“Sudah pulang?”
“Sudah.”
“Kondisimu?”
“Membaik.”
Dimas melepas jam tangannya.
Wajahnya menunjukkan ekspresi yang kukenal dengan baik.
Ia sedang menunggu.
Menunggu pertengkaran.
Menungguku bertanya mengapa ia tidak datang.
Menungguku menyebut nama perempuan yang selama enam bulan terakhir selalu muncul bersamanya: Celine Mahendra, pemilik agensi komunikasi yang menangani proyek perusahaannya.
Namun aku hanya kembali mengetik.
Akhirnya Dimas yang tidak tahan.
“Soal kemarin…”
Aku mengangkat wajah.
“Tidak perlu dijelaskan.”
Ia berhenti.
“Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Surabaya.”
“Baik.”
“Kontraknya bernilai ratusan miliar.”
“Baik.”
Dimas menatapku lama.
“Alya.”
“Hmm?”
“Kamu tidak marah?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Kemudian menjawab jujur.
“Aku sudah terlalu capek untuk marah.”
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Dimas berubah.
Seperti seseorang yang baru menyadari pintu rumahnya terbuka, tetapi belum tahu apa yang hilang.
Keesokan paginya ia menemukan aku tidur di kamar bawah.
“Kamu pindah kamar?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku lebih nyaman di sini.”
Dimas tertawa pendek.
“Kamu sedang menghukumku?”
Aku sedang menyisir rambut.
Aku bahkan tidak menoleh.
“Tidak.”
“Aku kenal kamu, Alya. Kalau marah, marah saja.”
Aku berhenti menyisir.
“Tiga tahun ini aku sudah terlalu sering marah supaya kamu peduli. Sekarang aku ingin mencoba tidak peduli.”
Dimas terdiam.
Pukul sembilan, setelah ia pergi bekerja, aku membuka sebuah kotak lama di lemari.
Di dalamnya ada sertifikat profesi, kartu nama, dan beberapa foto dari masa ketika aku masih bekerja sebagai auditor investigasi.
Sebelum menikah, pekerjaanku cukup bagus.
Aku bahkan pernah dipersiapkan menjadi senior manager.
Lalu Dimas berkata ia ingin punya istri yang “hadir ketika dia pulang”.
Aku mengundurkan diri.
Setahun pertama aku bahagia melakukannya.
Tahun kedua aku mulai kesepian.
Tahun ketiga aku bahkan lupa bahwa dulu ada orang-orang yang mengenalku sebagai Alya Maharani, bukan sebagai istri Dimas Pradana.
Aku menelepon mantan atasanku, Maya Santoso.
Telepon baru berdering dua kali ketika ia menjawab.
“Alya?”
Aku tersenyum untuk pertama kalinya setelah keluar dari rumah sakit.
“Mbak Maya, apakah tawaran untuk kembali ke dunia audit masih berlaku?”
Hening.
Lalu terdengar suara kursi bergeser.
“Jangan bilang kamu akhirnya sadar.”
Aku tertawa kecil.
“Mungkin agak terlambat.”
“Senin datang ke kantor. Kita bicara.”
Sore harinya, Celine mengunggah Instagram Story.
Sebuah meja restoran.
Dua gelas kopi.
Di sudut foto terlihat tangan laki-laki dengan jam Cartier yang sangat kukenal.
Caption-nya:
“Orang yang tepat tidak akan membuatmu merasa sendirian.”
Dulu foto seperti itu akan membuat tanganku gemetar.
Aku akan menelepon Dimas.
Meminta penjelasan.
Menangis.
Membandingkan diriku dengan Celine sampai dini hari.
Hari itu aku hanya menutup Instagram.
Malamnya Dimas mengirim pesan.
“Aku ada makan malam dengan klien.”
Kubalas:
“Baik.”
Sepuluh menit kemudian:
“Mungkin pulang larut.”
Kubalas:
“Tidak masalah.”
Lima menit kemudian:
“Kamu tidak mau tanya aku makan malam dengan siapa?”
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian menjawab:
“Tidak perlu.”
Pesan itu dibaca.
Tidak ada balasan lagi.
Tiga hari kemudian, ibu Dimas datang.
Bu Ratih masuk dengan wajah tegang.
Di belakangnya berdiri Celine membawa termos makanan.
Katanya ia ingin menjenguk.
Aku hampir tertawa.
Bu Ratih bahkan tidak menanyakan kesehatanku.
Kalimat pertamanya justru:
“Dimas bilang belakangan kamu sulit diajak bicara.”
Aku duduk di seberangnya.
“Memangnya ada yang perlu dibicarakan?”
“Kamu baru kehilangan kandungan. Ibu mengerti kamu sedih. Tapi jangan jadikan itu alasan membuat suamimu tidak nyaman di rumah.”
Aku menatapnya.
Bu Ratih melanjutkan.
“Dimas punya tanggung jawab besar. Kamu harusnya mendukung, bukan menambah beban.”
Celine buru-buru berkata, “Tante, mungkin Alya masih sensitif.”
Bu Ratih menepuk tangannya.
“Kamu lihat Celine. Perempuan bekerja saja bisa mengerti tekanan Dimas.”
Aku hampir kagum.
Di rumahku sendiri, perempuan yang berkali-kali bepergian dengan suamiku sedang dijadikan contoh istri yang baik.
Kemudian Bu Ratih mengeluarkan map biru.
“Sekalian tanda tangani ini.”
Aku mengambilnya.
Surat persetujuan penggunaan aset sebagai jaminan kredit.
Alamat rumah yang tercantum adalah rumah yang sedang kami duduki.
Nilai pengajuan kredit: Rp27 miliar.
Aku membaca halaman terakhir.
Lalu napasku berhenti.
Di sana sudah ada tanda tangan atas namaku.
Padahal aku belum pernah melihat dokumen itu.
Aku mengangkat kepala.
“Siapa yang menandatangani ini?”
Wajah Bu Ratih berubah.
“Ah, itu hanya administrasi.”
Celine ikut berdiri.
“Alya, mungkin staf bank hanya membuat contoh…”
Saat itulah pintu depan terbuka.
Dimas masuk.
Begitu melihat map di tanganku, langkahnya berhenti.
Aku membuka laci kabinet dan mengeluarkan sertifikat asli rumah.
Lalu kuletakkan di meja.
“Bagus kamu pulang.”
Dimas memucat.
Aku menunjuk tanda tangan palsu di dokumen kredit itu.
“Sekarang jelaskan di depan ibumu dan Celine.”
Aku mengangkat sertifikat rumah yang hanya mencantumkan satu nama.
Namaku.
“Kenapa perusahaanmu mencoba menjaminkan rumah milikku dengan tanda tangan yang bukan tanda tanganku?”
Ruangan itu langsung sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, bukan aku yang takut kehilangan Dimas.
Dimas yang terlihat takut kehilangan sesuatu dariku.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PerempuanBangkit #CeritaIndonesia #BelajarMencintaiDiri
Bagian 2 — Saat Ibu Mertuaku Datang Menghina dan Perempuan Itu Membawa Sup, Sebuah Sertifikat Rumah Membuat Wajah Mereka Seketika Berubah di Depan Matanya
“Alya, dengarkan dulu.”
Dimas maju satu langkah.
Aku langsung mengangkat tangan.
“Jangan sentuh dokumennya.”
Wajahnya mengeras.
“Itu belum diajukan.”
“Kenapa sudah ada tanda tanganku?”
“Tim legal mungkin salah.”
Aku menoleh kepada Bu Ratih.
“Lima menit lalu Ibu meminta saya menandatanganinya.”
Bu Ratih gugup.
“Ya karena memang belum selesai.”
“Kalau belum selesai, kenapa tanda tanganku sudah ada?”
Tidak ada yang menjawab.
Celine akhirnya meletakkan termos makanan di meja.
“Kita semua sedang emosional. Menurutku ini bisa dibicarakan baik-baik.”
Aku menatapnya.
“Kamu bukan keluarga saya.”
Senyumnya lenyap.
“Jadi jangan ikut mengatur bagaimana saya bicara soal aset saya.”
Bu Ratih langsung berdiri.
“Jaga ucapanmu!”
Aku ikut berdiri.
“Ini rumah saya, Bu.”
Aku menunjuk pintu.
“Kalau percakapannya berubah menjadi bentakan, silakan lanjutkan di luar.”
Bu Ratih seperti tidak percaya.
Selama tiga tahun, aku selalu menjadi menantu yang menunduk.
Lebaran di rumah siapa, aku mengikuti.
Acara keluarga mana yang harus dihadiri, aku datang.
Ketika Bu Ratih menyindir aku terlalu lama belum hamil, aku tersenyum.
Ketika akhirnya hamil dan diminta berhenti bepergian supaya “tidak ceroboh”, aku menurut.
Sekarang perempuan yang mereka kira akan selalu diam itu sudah tidak ada.
Dimas menyuruh ibunya pulang.
Celine ikut pergi.
Setelah pintu tertutup, Dimas membanting map ke meja.
“Kamu puas?”
Aku mengernyit.
“Puas karena apa?”
“Mempermalukan Ibu.”
Aku hampir tertawa.
“Yang barusan terbukti adalah ada dokumen memakai tanda tanganku tanpa izin. Tapi menurutmu masalah utamanya Ibumu malu?”
“Alya, perusahaan sedang butuh fasilitas kredit jangka pendek. Rumah ini hanya dijadikan tambahan jaminan.”
“Tanpa bertanya kepadaku?”
“Kita suami istri!”
“Itu bukan jawaban.”
Dimas berjalan mondar-mandir.
“Kamu bahkan tidak mengerti seberapa besar proyek yang sedang aku pegang.”
Aku menatapnya.
“Benar.”
Ia berhenti.
“Karena selama tiga tahun setiap kali aku mencoba bertanya tentang pekerjaanmu, kamu bilang urusan bisnis bukan urusanku.”
Wajahnya menegang.
“Sekarang aku setuju.”
Aku mengambil map.
“Urusan bisnismu memang bukan urusanku.”
“Tapi rumahku adalah urusanku.”
Malam itu aku memotret seluruh dokumen.
Besok paginya aku bertemu notaris yang menangani pembelian rumah tersebut dan seorang pengacara bernama Ratna Wirawan.
Aku tidak meminta siapa pun menghancurkan Dimas.
Aku hanya melakukan tiga hal.
Memastikan tidak ada asetku yang dapat digunakan tanpa persetujuanku.
Mencabut seluruh surat kuasa yang pernah kuberikan selama pernikahan.
Dan mengirim pemberitahuan resmi kepada bank bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan atas pengajuan jaminan tersebut.
Ternyata satu tindakan sederhana itu membuat masalah yang jauh lebih besar terbuka.
Tiga hari kemudian pihak bank meminta klarifikasi kepada perusahaan Dimas.
Karena tanda tangan penjamin dipermasalahkan, pencairan fasilitas kredit ditunda.
Bagian kepatuhan bank kemudian meminta ulang beberapa dokumen pendukung proyek.
Dari sanalah ditemukan sesuatu yang tidak pernah kuketahui sebelumnya.
Dalam delapan bulan terakhir, perusahaan Dimas membayar lebih dari Rp3,4 miliar kepada PT Selaras Kreasi.
Pemiliknya?
Celine Mahendra.
Sebagian pembayaran memiliki deskripsi jasa yang hampir sama.
Peluncuran proyek.
Media handling.
Hospitality client.
Tetapi tanggal dan nominalnya bertumpuk.
Bank meminta penjelasan.
Komisaris perusahaan meminta audit internal.
Aku mengetahui semua itu bukan karena mengorek komputer Dimas.
Pengacaraku menerima salinan dokumen yang mencantumkan namaku sebagai calon penjamin.
Dimas pulang malam itu dengan wajah merah.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku sedang menyusun pakaian untuk wawancara kerja besok pagi.
“Apa maksudmu?”
“Bank menahan kredit kami!”
“Aku hanya memberitahu mereka bahwa tanda tangan itu bukan milikku.”
“Kamu tahu proyek itu bisa gagal?”
Aku melipat blazer.
“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menggunakan namaku.”
Dimas meraih lenganku.
“Alya!”
Aku menatap tangannya.
“Lepaskan.”
Entah apa yang ia lihat di wajahku, genggamannya segera longgar.
Kemudian ia berkata sesuatu yang aneh.
“Aku lebih suka kamu berteriak seperti dulu.”
Aku tertawa pelan.
“Kenapa?”
“Setidaknya kalau kamu marah, aku tahu kamu masih peduli.”
Aku menatap laki-laki yang pernah menjadi pusat seluruh hidupku.
Baru saat itu aku memahami sesuatu.
Dimas tidak pernah menyukai tangisanku.
Namun ia menyukai kepastian bahwa apa pun yang ia lakukan, aku akan tetap menunggunya.
“Maaf.”
Aku mengambil blazer.
“Aku tidak punya energi lagi untuk memberimu kepastian itu.”
Keesokan harinya aku diterima bekerja di Nusa Advisory.
Posisiku memang satu tingkat di bawah jabatan terakhirku.
Aku tidak keberatan.
Ketika memasang kartu identitas baru di leher, tanganku sempat gemetar.
Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali sebuah kartu hanya menuliskan namaku sendiri.
ALYA MAHARANI.
Tanpa “istri Dimas”.
Tanpa “menantu keluarga Pradana”.
Hanya aku.
Dua minggu kemudian, saat aku pulang dari kantor, tiga mobil sudah terparkir di depan rumah.
Dimas duduk di ruang keluarga bersama ayahnya, direktur keuangan perusahaan, dan seorang pengacara.
Di atas meja terdapat setumpuk dokumen.
Celine berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat.
Begitu melihatku, Dimas bangkit.
Ponsel Celine tiba-tiba berbunyi.
Ia melihat layar.
Kemudian berbisik kepada Dimas dengan suara panik yang masih bisa kudengar.
“Mas… auditor sudah menemukan pembayaran apartemen.”
Ayah Dimas menghantam meja.
“Apartemen siapa?”
Celine membeku.
Dimas menutup mata.
Dan aku tahu, masalah tanda tanganku ternyata baru pintu pertama.
Di belakangnya masih ada ruangan penuh kebohongan yang selama ini mereka kira tidak akan pernah terbuka.
Bagian 3 — Suamiku Baru Panik Setelah Kehilangan Kendali, Tapi Bukti Keuangan dan Surat Cerai Membuat Semua Kebohongannya Terbuka di Depan Keluarga dan Rekan Bisnisnya
Tidak ada yang memintaku duduk malam itu.
Aku juga tidak berniat ikut campur.
Namun ayah Dimas, Pak Surya, memanggilku.
“Alya, kamu perlu mendengar ini.”
Aku akhirnya duduk.
Direktur keuangan membuka beberapa lembar hasil pemeriksaan.
Selama hampir setahun, Dimas menyetujui serangkaian pembayaran kepada perusahaan Celine.
Sebagian memang untuk pekerjaan nyata.
Namun beberapa tagihan ternyata dinaikkan.
Ada biaya perjalanan yang dibayar dua kali.
Ada jasa konsultasi yang tidak memiliki laporan pekerjaan.
Dan yang paling membuat ruangan membeku, perusahaan membayar uang muka sewa sebuah apartemen premium di kawasan Kuningan melalui akun “akomodasi tamu proyek”.
Nama penghuni yang tercatat adalah Celine.
Pak Surya menatap anaknya.
“Jelaskan.”
Dimas tidak langsung menjawab.
Celine menangis.
“Pak, apartemen itu dipakai kalau klien dari luar kota datang…”
Direktur keuangan menyela.
“Kami sudah memeriksa akses gedung. Tidak pernah ada klien perusahaan menginap di sana.”
Sunyi.
Aku memandang Dimas.
Anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.
Aku hanya merasakan kejernihan.
Selama ini aku mengira aku kurang cantik.
Kurang menarik.
Kurang pengertian.
Kurang sabar.
Ternyata tidak.
Aku hanya hidup bersama seseorang yang terus membuat pilihan buruk, lalu membiarkanku menganggap diriku penyebabnya.
Pak Surya akhirnya memutuskan Dimas dinonaktifkan sementara dari jabatan direktur operasional sampai audit selesai.
Kontrak perusahaan Celine dihentikan.
PT Selaras Kreasi diminta mengembalikan pembayaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Jika tidak tercapai penyelesaian, perusahaan akan membawa persoalan itu melalui jalur hukum.
Bu Ratih meneleponku malam itu.
Untuk pertama kalinya ia tidak membentak.
“Alya, tolong bicara dengan Pak Surya. Dimas bisa kehilangan semuanya.”
Aku menjawab tenang.
“Saya tidak punya wewenang di perusahaan.”
“Tapi ini bermula karena kamu mempermasalahkan rumah!”
Aku diam beberapa detik.
“Bukan, Bu.”
“Ini bermula ketika orang-orang memakai uang dan tanda tangan yang bukan hak mereka.”
Lalu aku menutup telepon.
Seminggu kemudian, Dimas menungguku di ruang makan.
Di depannya ada sekotak makanan dari restoran favoritku.
Dulu aku pasti akan menganggap itu sebagai tanda cinta.
Sekarang aku hanya melihat seorang laki-laki yang baru belajar memberi perhatian ketika sesuatu sudah hampir hilang.
“Aku putus hubungan dengan Celine.”
Aku meletakkan tas.
“Itu keputusanmu.”
“Aku juga akan mengembalikan semua uang perusahaan.”
“Bagus.”
“Aku sudah menjual mobil.”
Aku mengangguk.
Dimas mengepalkan tangannya.
“Apa benar-benar tidak ada yang bisa membuatmu bereaksi lagi?”
Aku menatapnya.
“Apa yang kamu inginkan? Aku menangis?”
“Aku ingin kamu peduli.”
“Aku peduli selama tiga tahun.”
Suaraku tetap rendah.
“Sampai hari aku berbaring sendirian di rumah sakit dan kamu mengirim delapan ratus juta rupiah supaya aku tidak mengganggu pekerjaanmu.”
Dimas menunduk.
“Aku takut datang.”
Aku terdiam.
Ia melanjutkan.
“Aku tahu kalau datang, aku harus menghadapi kenyataan bahwa anak kita sudah tidak ada. Aku pengecut. Aku memilih pekerjaan karena lebih mudah.”
Untuk pertama kalinya, ia mengatakannya tanpa alasan tambahan.
Tanpa menyalahkan rapat.
Tanpa menyalahkan proyek.
Tanpa menyalahkanku.
Mungkin enam bulan sebelumnya pengakuan itu akan membuatku memeluknya.
Hari itu tidak.
“Aku percaya kamu menyesal.”
Matanya langsung terangkat.
“Tapi penyesalan tidak otomatis mengembalikan hubungan.”
Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Surat gugatan perceraian.
Tangan Dimas berhenti di atas meja.
“Alya…”
“Aku sudah memikirkannya selama berminggu-minggu.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Kita bisa mulai lagi.”
“Tidak.”
Jawabanku membuat wajahnya runtuh.
Aku tidak membencinya.
Justru itulah tanda paling jelas bahwa semuanya benar-benar selesai.
Aku tidak ingin membalas dendam.
Aku tidak ingin melihatnya hancur.
Aku hanya tidak mau kembali menjadi perempuan yang harus terluka terlebih dahulu agar suaminya ingat bahwa ia ada.
Sebelum meninggalkan meja, aku mengirim kembali Rp800 juta yang dulu ditransfer Dimas.
Biaya rumah sakit telah ditanggung asuransiku.
Aku tidak pernah menyentuh uang itu.
Keterangan transfer kutulis sederhana:
“Dikembalikan.”
Dimas menatap notifikasi di ponselnya.
“Alya, kenapa?”
“Karena suatu hari nanti aku tidak ingin kamu mengingat hari terburuk dalam hidupku sebagai hari ketika kamu membayarku untuk diam.”
Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.
Rumah di Cilandak tetap menjadi milikku karena memang sudah kubeli sebelum menikah dan dokumennya lengkap.
Untuk aset yang diperoleh selama pernikahan, penyelesaiannya dilakukan melalui pengacara tanpa pertengkaran terbuka.
Audit perusahaan Dimas juga selesai.
Ia diwajibkan mengganti sejumlah pengeluaran yang dinilai tidak memiliki dasar bisnis, kehilangan jabatan direktur operasional, dan dipindahkan ke posisi non-eksekutif sampai kewajibannya terhadap perusahaan diselesaikan.
Celine tidak lagi bekerja dengan kelompok usaha keluarga Pradana.
Perusahaannya mengembalikan sebagian pembayaran setelah proses mediasi dan sisanya diselesaikan melalui perjanjian hukum.
Aku tidak pernah bertanya apakah hubungan mereka berlanjut.
Itu bukan urusanku lagi.
Enam bulan setelah kembali bekerja, Maya memanggilku ke ruangannya.
Ia mendorong sebuah surat di atas meja.
Promosi menjadi manager.
Aku membaca namaku berkali-kali.
Lalu tertawa.
Maya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menahan air mata.
“Aku cuma baru sadar ternyata hidupku tidak berhenti ketika pernikahanku berhenti.”
Malam itu aku pulang membawa sebuket bunga yang kubeli sendiri.
Kamar yang dulu sempat kami siapkan untuk bayi tidak kubiarkan terkunci.
Aku mengecat ulang dindingnya.
Kumasukkan rak buku.
Meja kerja.
Sebuah kursi besar di dekat jendela.
Ruangan itu tidak lagi menjadi tempat yang kutakuti.
Ia menjadi tempatku membaca setiap pagi sebelum berangkat kerja.
Kehilangan anakku tetap menjadi luka.
Perceraian tidak menghapusnya.
Karier tidak menggantikannya.
Aku hanya belajar bahwa sembuh bukan berarti berpura-pura sesuatu tidak pernah terjadi.
Sembuh berarti suatu pagi kau bisa mengingatnya tanpa kembali menyerahkan seluruh hidupmu kepada rasa sakit itu.
Suatu Minggu, ketika sedang menyiram tanaman di teras, sebuah mobil berhenti di depan pagar.
Dimas turun.
Ia terlihat lebih kurus.
Tidak ada sopir.
Tidak ada setelan mahal.
Ia hanya berdiri di luar pagar dan berkata, “Aku cuma ingin tahu kamu baik-baik saja.”
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu menjawab dengan jujur.
“Aku baik.”
Dimas mengangguk.
Matanya merah.
“Aku terlambat menyadari banyak hal.”
“Aku tahu.”
“Maaf.”
Aku tidak menjawab dengan kemarahan.
Aku juga tidak mengatakan aku memaafkannya.
Beberapa hal tidak membutuhkan percakapan panjang untuk selesai.
Dimas akhirnya berjalan kembali menuju mobilnya.
Aku menutup pagar.
Kemudian masuk ke rumah.
Ponselku berdering.
Pesan dari Maya.
Senin pagi kami akan memulai proyek audit terbesar yang pernah kutangani.
Aku membuka laptop, membuat kopi, lalu duduk di ruangan yang sekarang menjadi ruang kerjaku.
Cahaya sore masuk melalui jendela.
Rumah itu sunyi.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sunyi tidak terasa seperti ditinggalkan.
Sunyi terasa seperti damai.
Dulu aku berpikir akhir bahagia berarti Dimas akhirnya memilihku.
Ternyata aku salah.
Akhir bahagiaku dimulai ketika aku akhirnya berhenti menunggu dipilih oleh seseorang yang berkali-kali menunjukkan bahwa aku selalu berada di urutan terakhir.
Karena pada akhirnya, orang pertama yang harus memilih Alya Maharani…
adalah Alya Maharani sendiri.

