8 Tahun di Negeri Orang, Saat Pulang Sang Miliarder Terpukul Melihat Istrinya Kehilangan Rumah dan Harus Bekerja Mencuci Piring
Delapan tahun hidup di negeri orang, saat akhirnya pulang, pria yang telah membangun kekayaan hingga ratusan miliar rupiah itu terpukul ketika mendapati rumahnya telah berubah menjadi showroom furnitur mewah, sementara istri yang sangat dicintainya justru hidup terlunta-lunta dengan bekerja sebagai pencuci piring di pasar ikan.
Bus antarkota mengerem mendadak di sebuah jalan yang dipenuhi sepeda motor di pinggiran Bandung, Jawa Barat.
Arif Pratama turun dari bus dengan sebuah ransel tua yang warnanya telah memudar di pundaknya, ransel yang selama bertahun-tahun menemaninya dari Indonesia ke Korea Selatan, lalu kembali lagi dari Korea Selatan ke tanah kelahirannya.
Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya tersimpan sebuah tusuk rambut dari kayu eboni bertatahkan kerang mutiara, yang dibuat sendiri oleh Arif pada malam-malam langka ketika ia mendapat waktu untuk beristirahat.
Delapan tahun.

Sudah delapan tahun sejak hari ketika ia meninggalkan Bandung dan pergi ke Busan untuk bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik mekanik.
Dari seorang pekerja angkut, Arif belajar bahasa Korea, mempelajari teknik, menabung setiap won yang diperolehnya, lalu bersama beberapa temannya membuka bengkel kecil yang memproduksi komponen.
Bengkel kecil itu berkembang menjadi perusahaan.
Perusahaan tersebut kemudian memperluas usahanya ke bidang logistik serta ekspor-impor.
Saat akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia, Arif bukan lagi buruh miskin seperti dahulu.
Namun ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada keluarganya.
Di dalam pikirannya hanya ada satu orang.
Sari.
Perempuan yang ia nikahi ketika mereka berdua hampir tidak memiliki apa-apa selain rumah tua peninggalan orang tua Arif dan sebuah halaman kecil yang dipenuhi bunga kertas, bunga kesukaan Sari.
Arif sudah ratusan kali membayangkan bagaimana ia akan mendorong gerbang besi tua rumah mereka, lalu Sari berlari keluar dari dapur, berdiri terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya menangis.
Ia akan meletakkan tusuk rambut itu ke telapak tangan istrinya dan berkata bahwa mulai hari ini, ia tidak akan pergi ke mana-mana lagi.
Namun ketika berbelok memasuki jalan yang begitu dikenalnya, langkah Arif tiba-tiba melambat.
Ia membeku.
Rumah beratap genteng tanah liat itu telah hilang.
Halaman kecil tempat Sari biasa menjemur pakaian juga sudah tidak ada.
Deretan bunga kertas merah dan ungu di sepanjang pagar pun lenyap tanpa menyisakan satu batang pun.
Sebagai gantinya, berdiri sebuah bangunan kaca dua lantai yang terang dan mencolok.
Di balik jendela-jendela kaca besar terlihat sofa kulit, meja makan impor, dan lampu dekorasi mahal.
Sebuah papan nama besar terpampang di depan gedung:
PRATAMA LIVING – FURNITURE & INTERIOR.
Kotak kayu di tangan Arif terlepas.
Ia bahkan tidak mendengar suara benda itu menghantam jalan.
Telinganya berdenging.
Arif melangkah maju beberapa langkah, menoleh ke kiri dan ke kanan, seakan-akan jika ia melihat lebih teliti, rumah lamanya akan muncul kembali.
Namun tidak ada apa-apa.
Bahkan pohon mangga tua yang dulu ditanam oleh ayahnya kini hanya menyisakan tunggul yang dipotong pendek di dekat trotoar.
Arif menoleh ke arah rumah-rumah tetangga.
Beberapa tirai jendela tampak sedikit terbuka.
Ada orang yang memperhatikannya.
Namun begitu mereka mengenali wajah Arif, jendela-jendela itu langsung ditutup.
Seorang perempuan yang sedang menyapu halaman buru-buru mengangkat ember berisi pakaian dan masuk ke dalam rumah.
Seorang lelaki tua yang tadi duduk di teras juga segera berdiri dan menghindari tatapannya.
Rasa dingin merambat di sepanjang tulang punggung Arif.
Ia berjalan mendekati bagian tembok lama yang masih tersisa di antara showroom dan rumah sebelah.
Di sebuah retakan, terselip selembar kertas yang telah menguning.
Arif menariknya keluar.
Tulisan di atasnya sudah kabur akibat air hujan, tetapi ia langsung mengenalinya.
Itu tulisan tangan Sari.
“Walaupun mereka memaksaku sampai mati, aku tidak akan pernah menandatanganinya. Arif, kamu ada di mana?”
Tangan Arif mencengkeram kertas itu erat-erat.
“Mereka” siapa?
Siapa yang telah memaksa Sari?
Arif langsung berlari menuju sebuah warung kecil di ujung jalan.
Dahulu tempat itu hanyalah kios sederhana yang menjual gorengan dan kopi tubruk milik Bu Siti, seorang perempuan tua yang sudah tinggal di kawasan itu sejak Arif masih kecil.
Bu Siti sedang menuangkan teh ketika bayangan seorang pria bertubuh tinggi berhenti di depan warungnya.
Ia mendongak.
Cangkir di tangannya jatuh ke lantai.
“Ya Allah…”
Bu Siti mundur selangkah.
“Arif?”
Arif berjalan mendekat.
“Bu Siti, ini saya.”
Bu Siti memandangnya seperti sedang melihat seseorang yang baru bangkit dari kubur.
“Kamu… masih hidup?”
Arif merasa dadanya langsung tenggelam.
“Kenapa semua orang menanyakan hal itu kepada saya?”
Bu Siti langsung menangis.
“Tiga tahun lalu, kakakmu, Bima, mengatakan kepada seluruh warga di sini bahwa kamu meninggal di luar negeri. Dia membawa surat kematian dan mengatakan kamu mengalami kecelakaan di laut saat sedang melakukan perjalanan kerja. Katanya jasadmu tidak ditemukan.”
Arif tidak bergerak.
Bu Siti melanjutkan dengan air mata yang terus mengalir.
“Dia bahkan membuat meja peringatan untukmu.”
“Lalu Sari?”
Bu Siti mengusap air matanya.
“Kasihan sekali anak itu.”
“Setelah mengumumkan bahwa kamu sudah meninggal, Bima dan istrinya, Rina, mengatakan bahwa rumah dan tanah ini adalah milik keluarga Pratama. Mereka memaksa Sari menandatangani surat pelepasan hak atas tanah ini.”
“Sari tidak mau menandatangani.”
“Malam itu hujan turun sangat deras. Mereka melemparkan pakaian Sari ke luar rumah, lalu mengusirnya.”
Arif merasa kedua kakinya hampir kehilangan tenaga.
“Tidak ada yang membantu dia?”
Bu Siti menundukkan kepala.
“Waktu itu Bima sudah punya uang dan banyak kenalan. Dia mengancam siapa pun yang berani memberi Sari tempat tinggal. Katanya orang yang membantu Sari akan ikut mendapat masalah. Beberapa waktu kemudian, tanah ini dijual. Pembelinya lalu membangun showroom ini.”
“Lalu bagaimana dengan uang yang saya kirim?”
Bu Siti mengangkat wajahnya.
“Uang apa?”
Arif tidak menjawab.
Selama delapan tahun bekerja di negeri orang, ia mengirimkan uang hampir setiap bulan. Pada tahun-tahun pertama jumlahnya memang tidak besar, hanya beberapa juta rupiah. Namun setelah usahanya berkembang, jumlah yang dikirim meningkat menjadi puluhan juta, bahkan beberapa kali mencapai lebih dari seratus juta rupiah dalam sebulan.
Jika semuanya dihitung, jumlahnya sudah mencapai miliaran rupiah.
Uang itu seharusnya cukup untuk memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan Sari, bahkan memberi istrinya kehidupan yang jauh lebih nyaman.
Namun sekarang Bu Siti bahkan tidak tahu bahwa uang itu pernah ada.
Arif menatap showroom di seberang jalan.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan rumah.
Selama bertahun-tahun, seseorang telah berdiri di antara dirinya dan Sari.
Seseorang telah mengambil uangnya.
Menghentikan surat-suratnya.
Memutus komunikasi mereka.
Lalu ketika waktunya dianggap tepat, orang itu bahkan mengumumkan kematiannya.
Arif mengepalkan tangan.
Namun ia memaksa dirinya tetap tenang.
Yang paling penting sekarang bukan Bima.
Yang paling penting adalah menemukan Sari.
Arif mengeluarkan foto pernikahan lama dari dompetnya.
“Bu Siti, apakah Ibu ingat ke mana Sari pergi setelah diusir?”
Bu Siti berpikir cukup lama.
“Dulu ada yang melihat dia menyewa kamar kecil di daerah Kiaracondong. Tapi cuma beberapa bulan. Setelah itu katanya pindah lagi karena tidak sanggup bayar kos.”
“Apakah dia punya keluarga?”
“Orang tuanya sudah lama meninggal. Saudara dekat juga hampir tidak ada.”
Jawaban itu membuat dada Arif semakin sesak.
Ia berterima kasih kepada Bu Siti lalu berjalan pergi.
Hari itu Arif berkeliling dari satu gang ke gang lainnya.
Ia mendatangi kos-kosan murah.
Bertanya kepada pedagang kaki lima.
Menunjukkan foto Sari kepada pemulung, tukang parkir, sopir angkot, dan para pekerja yang biasa berkumpul di warung makan.
Matahari Bandung sudah turun ketika ia akhirnya menemukan sebuah petunjuk.
Di sebuah toko gadai kecil, Arif melihat radio cassette tua berwarna hitam.
Tubuhnya langsung membeku.
Ada goresan berbentuk huruf V di sudut kanan radio itu.
Ia mengenalinya.
Dua belas tahun lalu, ketika dirinya dan Sari belum menikah, Arif membeli radio tersebut dari gaji pertamanya sebagai buruh angkut.
Sari menyukainya bukan karena harganya mahal.
Radio itu bahkan sangat murah.
Namun setiap malam mereka biasa duduk di teras rumah mendengarkan lagu sambil minum teh manis.
Arif masuk.
“Pak, radio itu milik siapa?”
Pemilik toko mengangkat bahu.
“Barang gadaian.”
“Siapa yang menggadaikan?”
“Sudah lama.”
Arif mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja.
“Saya tidak ingin membeli informasi pribadi orang. Saya hanya mencari istri saya. Ini fotonya.”
Pemilik toko menatap foto.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Oh.”
“Anda ingat?”
“Iya. Perempuan ini pernah datang.”
Jantung Arif berdegup keras.
“Kapan?”
“Sekitar empat atau lima bulan lalu.”
“Dia tinggal di mana?”
“Saya tidak tahu.”
“Kenapa dia menggadaikan radio?”
Pria itu menggaruk kepalanya.
“Dia sedang sakit. Katanya butuh uang sekitar tiga ratus ribu untuk beli obat dan makan beberapa hari. Saya sebenarnya kasihan.”
Arif menatap radio tersebut.
Tiga ratus ribu rupiah.
Sari harus menyerahkan salah satu barang yang paling mereka sayangi hanya demi mendapatkan tiga ratus ribu rupiah.
Arif membayar radio itu lalu membawanya keluar.
Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, ia memeluk radio tua tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Indonesia, Arif menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh diam-diam.
Ia merasa selama delapan tahun dirinya bekerja siang malam untuk memberi istrinya kehidupan yang lebih baik.
Tetapi di saat yang sama, Sari ternyata harus berjuang sendirian bahkan untuk membeli obat.
Saat Arif sedang berdiri di pinggir jalan, seorang pengemudi ojek yang sejak tadi memperhatikannya mendekat.
“Mas cari perempuan di foto itu?”
Arif segera mengangkat kepala.
“Iya.”
“Saya pernah lihat.”
“Di mana?”
Pria itu tampak ragu.
Arif menunjukkan foto lagi.
“Namanya Sari. Dia istri saya.”
Pengemudi ojek itu mengembuskan napas.
“Saya pernah mengantar dia dari terminal ke Jakarta beberapa bulan lalu. Katanya dapat pekerjaan di pasar ikan.”
“Jakarta bagian mana?”
“Kalau tidak salah Muara Angke.”
Arif tidak menunggu lebih lama.
Malam itu juga ia memesan mobil menuju Jakarta.
Hampir tengah malam ketika Arif tiba di kawasan Muara Angke.
Pasar masih hidup.
Truk-truk pengangkut ikan keluar masuk.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Air bercampur sisik ikan mengalir di lantai.
Bau asin laut bercampur dengan bau sampah, solar, dan ikan segar memenuhi udara.
Arif berjalan dari satu warung ke warung lain sambil membawa foto Sari.
Beberapa orang menggeleng.
Seorang pekerja menunjuk ke arah belakang deretan rumah makan.
“Coba cari di sana. Banyak pekerja cuci piring.”
Arif berlari.
Belum sampai ke ujung lorong, terdengar suara benda pecah.
Kemudian suara bentakan seorang perempuan.
“Kamu kerja pakai mata atau tidak?”
Arif berhenti.
Sebuah suara lemah menjawab.
“Maaf, Bu.”
Napas Arif seketika tercekat.
Ia mengenal suara itu.
Meski jauh lebih pelan.
Meski terdengar kelelahan.
Ia tetap mengenalinya.
“Sari…”
Arif berlari melewati tumpukan kotak styrofoam.
Di belakang sebuah rumah makan terdapat tempat pencucian terbuka.
Di sana seorang perempuan kurus sedang berjongkok di lantai basah sambil mengumpulkan pecahan piring.
Rambutnya acak-acakan.
Wajahnya pucat.
Tangannya memerah karena terlalu lama terkena air dan sabun.
Arif berdiri tanpa mampu bergerak.
Perempuan itu adalah Sari.
Tetapi hampir tidak ada lagi jejak perempuan sehat dan ceria yang ia tinggalkan delapan tahun lalu.
Tubuh Sari sangat kurus.
Pipinya cekung.
Bajunya kebesaran.
Yang membuat Arif semakin terpukul adalah jaket tua yang dipakai Sari.
Itu milik Arif.
Jaket abu-abu yang ditinggalkannya di rumah sebelum pergi ke Korea.
Seorang perempuan yang tampaknya pemilik rumah makan berdiri di hadapan Sari.
“Kamu pecahkan satu piring lagi. Gajimu malam ini saya potong.”
Sari menunduk.
“Iya, Bu.”
“Kalau tidak sanggup kerja, pulang saja.”
Sari tidak menjawab.
Ia kembali memungut pecahan piring dengan tangan telanjang.
Sebuah serpihan kecil melukai jarinya.
Darah menetes.
Saat itulah Arif akhirnya melangkah maju.
“Cukup.”
Pemilik warung menoleh.
“Siapa kamu?”
Arif tidak menjawab.
Ia berjalan mendekati Sari.
Perempuan itu masih menunduk sampai bayangan Arif jatuh tepat di depannya.
Sari perlahan mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu.
Wajah Sari langsung kehilangan warna.
Tangannya gemetar.
Bibirnya bergerak beberapa kali sebelum akhirnya satu kata keluar.
“Mas… Arif?”
Suara itu hampir seperti bisikan.
Arif berlutut.
“Aku pulang, Sar.”
Sari menatapnya seolah takut berkedip.
Ia mengangkat satu tangan, menyentuh pipi Arif, lalu menariknya kembali.
“Ini mimpi?”
“Bukan.”
“Mas benar-benar hidup?”
Arif tidak sempat menjawab.
Sari tiba-tiba jatuh ke depan.
Arif menangkapnya.
“Sari!”
Tubuh istrinya terasa sangat ringan.
Terlalu ringan.
Arif segera mengangkat Sari.
Saat itu sesuatu jatuh dari balik jaketnya.
Sebuah foto.
Arif menunduk.
Foto pernikahan mereka.
Sudah kusam.
Pinggirannya terlipat.
Namun Sari membungkusnya dengan plastik agar tidak terkena air.
Arif menggigit bibir untuk menahan tangis.
Delapan tahun.
Dan perempuan ini masih menyimpan foto mereka di dekat dadanya.
Ia menoleh kepada pemilik rumah makan.
“Berapa piring yang dia pecahkan?”
Perempuan itu gugup.
“Hanya… satu.”
Arif meletakkan beberapa lembar uang di meja.
“Bayar semua upahnya sampai hari ini.”
“Saya…”
“Tidak perlu menjelaskan apa pun.”
Arif lalu membawa Sari pergi.
Ia membawanya ke klinik swasta terdekat.
Dokter mengatakan Sari mengalami kelelahan berat, kurang gizi, demam ringan, serta infeksi pada beberapa luka di tangannya.
Tidak ada penyakit serius.
Yang ia butuhkan adalah istirahat, makanan bergizi, obat, dan lingkungan yang aman.
Kalimat terakhir itu membuat Arif terdiam cukup lama.
Lingkungan yang aman.
Sesuatu yang seharusnya diberikan seorang suami kepada istrinya.
Beberapa jam kemudian Sari membuka mata.
Arif duduk di samping ranjang.
Ketika melihatnya, Sari kembali menangis.
Arif menggenggam tangannya.
“Jangan takut.”
“Aku pikir Mas sudah meninggal.”
“Aku juga pikir selama ini kamu hidup baik-baik saja.”
Sari menutup wajahnya.
“Aku tidak pernah menerima uang setelah beberapa tahun pertama.”
Arif mengangguk pelan.
“Ceritakan semuanya.”
Malam itu, sedikit demi sedikit, Sari membuka masa lalu.
Pada awalnya uang dari Korea memang masuk secara normal.
Namun beberapa tahun kemudian Bima mengatakan bahwa lebih mudah jika kiriman uang Arif masuk melalui rekening tertentu karena ada masalah administrasi.
Sebagai kakak Arif, Bima menawarkan bantuan.
Sari percaya.
Perlahan uang yang diterimanya semakin sedikit.
Bima selalu punya alasan.
Biaya transfer.
Nilai tukar.
Masalah perusahaan.
Arif sedang kesulitan.
Kemudian komunikasi antara Arif dan Sari mulai terputus.
Surat tidak sampai.
Nomor telepon berubah.
Setiap kali Sari bertanya, Bima mengatakan Arif sedang sangat sibuk.
Di sisi lain, kepada Arif, Bima mengatakan Sari sering berpindah tempat karena merawat kerabat.
Kebohongan itu berlangsung bertahun-tahun.
Sampai tiga tahun lalu.
Bima datang membawa surat kematian.
Ia mengatakan Arif meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan bisnis.
Tidak ada jenazah yang bisa dibawa pulang.
“Aku tidak percaya,” kata Sari.
“Aku meminta bukti dari kedutaan. Aku ingin bicara dengan teman-teman Mas. Tapi Bima marah.”
Sari menarik napas.
“Lalu dia mulai memaksaku menandatangani surat.”
Mata Arif mengeras.
“Surat apa?”
“Pernyataan bahwa aku tidak akan menuntut bagian apa pun dari rumah dan tanah.”
“Dan kamu tidak tanda tangan?”
Sari menggeleng.
“Aku tahu rumah itu peninggalan orang tua Mas. Aku tidak punya hak mengambil milik orang lain. Tapi kalau Mas benar-benar meninggal, aku juga tidak mau mereka memalsukan apa pun.”
Sari lalu menjelaskan bahwa sebelum diusir, ia sempat menyimpan beberapa dokumen.
Bukti kiriman uang.
Salinan percakapan.
Dan yang terpenting, sebuah surat tulisan tangan Bima yang berisi ancaman agar Sari menandatangani pelepasan hak.
“Di mana semuanya?”
Sari memandang Arif.
“Masih ada.”
“Di mana?”
“Di bawah pohon mangga tua dekat rumah.”
Arif terdiam.
Sari melanjutkan.
“Malam aku diusir, aku memasukkan semuanya ke dalam kotak besi. Aku takut kalau kubawa, mereka akan merampasnya.”
Dini hari berikutnya, setelah memastikan Sari beristirahat, Arif kembali ke Bandung.
Ia tidak menemui Bima.
Ia langsung menuju bekas rumahnya.
Pohon mangga memang sudah ditebang.
Namun tunggulnya masih ada.
Arif menggali di dekat akar lama.
Setelah beberapa puluh menit, ujung sekop mengenai benda keras.
Kotak besi.
Berkarat.
Namun masih tertutup.
Arif membawanya ke hotel.
Di dalamnya terdapat puluhan bukti transfer lama.
Fotokopi beberapa dokumen.
Catatan tanggal.
Dan surat tulisan tangan Bima.
Arif membaca satu kalimat berkali-kali.
“Kalau kamu tetap tidak mau tanda tangan, jangan salahkan saya kalau besok kamu tidak punya tempat tinggal lagi.”
Arif meletakkan surat itu.
Ia tidak pergi mencari Bima.
Ia tidak membawa preman.
Tidak merusak showroom.
Pagi itu Arif menghubungi seorang pengacara di Bandung.
Namanya Hendra Wijaya.
Setelah mempelajari dokumen, Hendra berkata serius,
“Pak Arif, jangan menyentuh saudara Anda dulu. Kita periksa semuanya secara resmi.”
Mereka mulai dari bank.
Riwayat transfer menunjukkan pola yang jelas.
Sebagian uang memang pernah diteruskan kepada Sari.
Namun kemudian jumlah besar masuk ke rekening yang berada di bawah kendali Bima.
Mereka juga memeriksa dokumen tanah melalui kantor pertanahan.
Ada beberapa kejanggalan dalam proses perubahan data dan transaksi.
Nama Arif tercatat sebagai telah meninggal.
Ada dokumen kematian yang menjadi dasar sebagian proses administrasi.
Masalahnya sederhana.
Arif berdiri hidup-hidup di depan mereka.
Dengan paspor.
Dokumen perjalanan.
Catatan imigrasi.
Catatan kerja.
Dan bukti aktivitas bisnis selama periode ketika secara administratif ia disebut sudah meninggal.
Hendra menatapnya.
“Ini bukan sekadar pertengkaran keluarga.”
Arif mengangguk.
“Saya tahu.”
“Kalau terbukti ada dokumen palsu dan penggelapan uang, prosesnya bisa panjang.”
“Saya tidak peduli berapa lama.”
“Apa tujuan utama Anda?”
Arif menjawab tanpa ragu.
“Nama istri saya dibersihkan. Hak kami dikembalikan. Selebihnya biar hukum yang menentukan.”
Beberapa minggu berikutnya berlangsung sunyi.
Bima bahkan belum tahu bahwa Arif sudah kembali.
Sementara itu, kondisi Sari perlahan membaik.
Arif menyewa sebuah rumah kecil di kawasan yang tenang di Bandung agar Sari tidak harus tinggal di hotel.
Setiap pagi mereka sarapan bersama.
Kadang hanya bubur ayam.
Kadang nasi hangat dengan telur dadar.
Bagi Arif, makanan sederhana itu terasa lebih mahal daripada seluruh jamuan bisnis yang pernah ia hadiri di Seoul maupun Busan.
Suatu pagi Sari bertanya,
“Mas sekarang sebenarnya bekerja apa?”
Arif tersenyum.
“Masih bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Pabrik komponen. Sedikit logistik.”
Sari mengangguk.
“Besar?”
Arif terdiam.
“Lumayan.”
Sari menyipitkan mata.
“Seberapa lumayan?”
Arif tertawa kecil.
Baru saat itulah Sari mengetahui bahwa suaminya bukan lagi buruh pabrik.
Perusahaan Arif memiliki mitra di Korea, Jepang, dan Indonesia.
Nilai kepemilikan Arif telah mencapai ratusan miliar rupiah.
Sari memandangnya lama.
Lalu berkata,
“Kalau begitu kenapa Mas pulang naik bus?”
Arif tertawa.
“Karena aku ingin pulang sebagai Arif yang dulu pergi.”
Sari ikut tersenyum.
Namun kebahagiaan kecil itu belum menyelesaikan satu hal.
Bima.
Kesempatan datang ketika Arif mengetahui Bima akan mengadakan syukuran rumah barunya.
Hampir seluruh keluarga besar diundang.
Bima ingin memamerkan keberhasilannya.
Malam itu Arif meminta Sari mengenakan pakaian yang nyaman.
“Untuk apa?”
“Kita menghadiri pesta.”
Sari langsung tahu.
Wajahnya berubah tegang.
Arif menggenggam tangannya.
“Kalau kamu belum siap, kita tidak perlu datang.”
Sari diam beberapa saat.
Kemudian menggeleng.
“Aku mau datang.”
“Yakin?”
“Tiga tahun aku selalu berjalan menunduk kalau mendengar nama Bima.”
Sari menatap suaminya.
“Aku tidak mau menunduk lagi.”
Mereka tiba di rumah Bima sekitar pukul delapan malam.
Rumah itu besar.
Lampu terang memenuhi halaman.
Mobil para tamu berjajar di depan.
Di dalam, Bima sedang tertawa bersama beberapa kerabat.
Rina mengenakan perhiasan emas dan sibuk menerima pujian.
“Bima memang hebat,” kata salah seorang paman.
“Dari nol sekarang punya showroom dan rumah sebagus ini.”
Bima mengangkat gelas.
“Semua hasil kerja keras.”
Tepat saat itu pintu terbuka.
Arif masuk.
Tangan kirinya menggenggam tangan Sari.
Suara percakapan perlahan berhenti.
Bima menoleh.
Gelas di tangannya jatuh.
Pecah.
Wajahnya berubah pucat.
“Arif?”
Tak ada yang bergerak.
Seseorang di belakang berbisik,
“Bukannya Arif sudah meninggal?”
Rina mundur satu langkah.
Arif berjalan sampai ke tengah ruangan.
Bima menatapnya seperti melihat hantu.
Beberapa detik kemudian ia memaksakan senyum.
“Ya Allah! Arif! Kamu masih hidup!”
Bima membuka kedua tangannya seolah hendak memeluk.
Arif berhenti beberapa meter di depannya.
“Kalau menurut surat yang kau gunakan, aku sudah mati tiga tahun.”
Senyum Bima membeku.
Suasana langsung berubah.
Arif mengeluarkan map.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini catatan imigrasiku.”
Dokumen pertama.
“Ini catatan perusahaan tempat aku bekerja.”
Dokumen kedua.
“Ini bukti transfer uang yang kukirim selama bertahun-tahun.”
Dokumen ketiga.
“Dan ini rekening yang menerima sebagian besar uang tersebut.”
Bima mulai berkeringat.
“Arif, kita keluarga. Jangan membicarakan hal pribadi di depan orang banyak.”
Arif menatapnya.
“Keluarga?”
Ia mengambil satu surat terakhir.
“Kau mengenali tulisan ini?”
Wajah Bima seketika berubah.
Itu surat ancaman terhadap Sari.
Rina meraih lengan suaminya.
“Mas…”
Bima membentak pelan.
“Diam!”
Arif lalu memandang seluruh keluarga.
“Saya datang bukan untuk meminta kalian memilih pihak.”
“Saya hanya ingin satu hal diketahui.”
“Sari tidak meninggalkan rumah karena serakah.”
“Dia diusir.”
“Dia tidak mengambil uang saya.”
“Uang itu tidak pernah sampai kepadanya.”
“Dan selama tiga tahun dia hidup dengan keyakinan bahwa suaminya sudah meninggal karena seseorang menggunakan dokumen kematian yang sekarang sedang diperiksa.”
Bima tiba-tiba maju.
“Cukup!”
Arif tidak bergerak.
Bima menunjuk wajahnya.
“Kamu pergi delapan tahun! Kamu meninggalkan semuanya kepada saya!”
“Aku meninggalkan rumah kepada istriku.”
“Kamu tidak tahu betapa sulitnya hidup di sini!”
“Dan itu memberimu hak mengambil uangku?”
Bima terdiam.
Arif melanjutkan.
“Memberimu hak mengusir istriku?”
Bima tak mampu menjawab.
Di belakang Arif, Sari berdiri tegak.
Untuk pertama kalinya ia memandang Bima tanpa rasa takut.
Suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Beberapa orang berseragam dan petugas berpakaian sipil masuk bersama Hendra.
Hendra menghampiri Arif.
“Pak Arif.”
Arif mengangguk.
Petugas kemudian menjelaskan bahwa Bima diminta memberikan keterangan terkait laporan dugaan penggunaan dokumen palsu dan penguasaan dana yang sedang diselidiki.
Tidak ada adegan dramatis seperti film.
Tidak ada orang langsung dijatuhi hukuman malam itu.
Tetapi ketika Bima melihat dokumen resmi di depan matanya, lututnya seakan kehilangan tenaga.
“Arif…”
Suara Bima melemah.
“Kita selesaikan sebagai saudara.”
Arif menatapnya lama.
“Seharusnya kalimat itu kau ingat sebelum mengusir Sari.”
Bima menunduk.
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.
Dokumen diperiksa.
Transaksi keuangan ditelusuri.
Riwayat pertanahan diverifikasi.
Orang-orang yang terlibat dimintai keterangan.
Sebagian aset Bima yang berkaitan dengan transaksi bermasalah dibekukan selama pemeriksaan.
Arif tidak pernah meminta perlakuan khusus.
Ia menyerahkan semuanya kepada pengacaranya dan lembaga berwenang.
Pada akhirnya, hak atas bagian tanah yang sebelumnya bermasalah dipulihkan melalui proses hukum yang sah.
Beberapa transaksi yang menggunakan dasar dokumen bermasalah dibatalkan atau diselesaikan sesuai keputusan hukum.
Bima dan pihak-pihak yang terbukti terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Arif tidak merayakannya.
Pada hari Hendra memberitahukan bahwa proses terpenting telah selesai, Arif hanya pulang membawa martabak manis.
Sari sedang menyiram bunga di halaman rumah kontrakan.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Bagian terberatnya.”
Sari menatap martabak.
“Terus itu?”
“Perayaan.”
Sari tertawa.
“Orang ratusan miliar merayakan kemenangan pakai martabak?”
Arif mengangkat bahu.
“Kalau pakai berlian tidak bisa dimakan.”
Beberapa bulan kemudian, Arif mengambil keputusan lain.
Showroom di atas tanah lama tidak dipertahankan seperti sebelumnya.
Ia menyelesaikan urusan bangunan itu secara sah lalu menggunakan kembali bagian tanah yang menjadi haknya.
Sari mengira Arif akan membangun rumah besar.
Namun gambar yang dibawa arsitek justru sederhana.
Rumah dua lantai.
Teras lebar.
Dapur terbuka.
Dan halaman.
Sari menunjuk bagian depan gambar.
“Ini kosong.”
Arif tersenyum.
“Untuk bunga kertas.”
Sari terdiam.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Rumah itu selesai hampir setahun kemudian.
Tidak sebesar rumah Bima.
Tidak memiliki marmer impor.
Tidak ada lampu kristal yang menggantung tiga meter dari langit-langit.
Namun setiap sudutnya dipilih bersama.
Di halaman depan tumbuh deretan bunga kertas merah dan ungu.
Di ruang keluarga terdapat radio cassette tua yang dulu ditebus Arif dari tempat gadai.
Radio itu sudah rusak.
Arif tidak memperbaikinya.
Ia meletakkannya di rak.
“Kenapa disimpan kalau tidak bisa menyala?” tanya Sari.
Arif menjawab,
“Supaya kita tidak lupa bahwa pernah ada masa ketika benda ini lebih berharga daripada uang.”
Di hari ulang tahun pernikahan mereka, Arif memberikan kotak kayu yang dibawanya saat pulang.
Sari membukanya.
Tusuk rambut kayu eboni berada di dalam.
“Mas bikin sendiri?”
“Iya.”
Sari memperhatikannya.
“Agak miring.”
Arif langsung merebut kotak itu.
“Kalau begitu jangan dipakai.”
Sari cepat-cepat mengambil tusuk rambut tersebut.
“Siapa bilang tidak mau?”
Ia memasangnya.
“Bagus?”
Arif memandang istrinya.
Rambut Sari mulai sehat kembali.
Wajahnya juga sudah berisi.
Namun beberapa bekas luka kecil masih terlihat di tangannya.
Arif menggenggam tangan itu.
“Bagus.”
“Tusuk rambutnya?”
Arif menggeleng.
“Kamu.”
Sari tersenyum sambil menahan air mata.
Beberapa waktu kemudian, Arif juga mengurangi kegiatan bisnisnya di Korea.
Ia tidak menjual semuanya.
Ia tetap memiliki saham dan menerima pendapatan dari perusahaan.
Namun jabatan operasional diserahkan kepada mitra yang dipercayainya.
Arif memindahkan sebagian aktivitas bisnis ke Indonesia.
Ia bahkan membuka program pelatihan bagi pekerja migran yang baru pulang dari luar negeri dan ingin memulai usaha kecil.
Sari ikut membantu.
Bukan sebagai orang yang berdiri di belakang nama suaminya.
Ia mengelola sebuah program sederhana untuk membantu perempuan yang kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan karena masalah keluarga.
Program itu tidak besar.
Tidak masuk televisi.
Tidak pernah disebut sebagai yayasan mewah.
Kadang mereka hanya membantu membayar kos satu bulan.
Kadang membelikan obat.
Kadang membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.
Suatu sore Sari bertanya,
“Kenapa Mas setuju waktu aku bilang ingin membantu mereka?”
Arif memandang tangannya.
“Karena dulu kamu cuma butuh tiga ratus ribu rupiah untuk beli obat.”
Sari terdiam.
“Bagi sebagian orang, tiga ratus ribu itu uang makan malam.”
Arif melanjutkan.
“Bagi orang lain, jumlah yang sama bisa menentukan apakah besok dia masih punya tempat tidur.”
Sari menggenggam tangan suaminya.
Senja turun perlahan di Bandung.
Angin bergerak melalui bunga-bunga kertas yang tumbuh di halaman.
Arif duduk di teras sementara Sari membawa dua cangkir teh hangat.
Tidak ada rapat.
Tidak ada telepon bisnis.
Tidak ada tiket pesawat.
Hanya suara anak-anak bermain dari ujung jalan dan aroma masakan dari dapur.
Sari duduk di sebelahnya.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau bisa mengulang delapan tahun lalu, Mas masih akan pergi?”
Arif berpikir cukup lama.
“Aku mungkin tetap pergi.”
Sari memandangnya terkejut.
Arif tersenyum.
“Tapi aku tidak akan membiarkan delapan tahun berlalu tanpa pulang.”
Sari bersandar di bahunya.
Arif memandangi halaman rumah mereka.
Dulu ia percaya tugas seorang suami adalah bekerja sampai tangannya hancur agar keluarganya tidak kekurangan uang.
Sekarang ia memahami bahwa keluarga tidak hanya membutuhkan uang.
Mereka membutuhkan kehadiran.
Percakapan.
Kejujuran.
Dan keberanian untuk memastikan orang yang kita cintai tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Arif menunduk, melihat bekas luka di tangan Sari.
“Maaf aku terlambat pulang.”
Sari menggeleng.
“Yang penting Mas akhirnya pulang.”
Mereka terdiam.
Matahari hampir tenggelam.
Cahaya jingga menyentuh dinding rumah sederhana mereka.
Di antara bunga kertas yang bergoyang diterpa angin, satu kuntum baru mulai mekar.
Arif merangkul bahu istrinya.
Dulu ia pulang membawa kekayaan yang bernilai ratusan miliar rupiah.
Namun setelah semua yang terjadi, Arif akhirnya memahami bahwa harta paling berharga tidak pernah berada di rekening banknya.
Harta itu adalah perempuan yang tetap menyimpan foto pernikahan mereka ketika dirinya tidak memiliki apa-apa.
Perempuan yang masih menunggunya meski dunia mengatakan bahwa suaminya telah mati.
Perempuan yang pernah kehilangan rumah, uang, dan harga diri di mata orang-orang, tetapi tidak pernah kehilangan keteguhan hatinya.
Dan bagi Sari, kebahagiaan bukanlah ketika Arif kembali sebagai pengusaha kaya.
Kebahagiaan adalah ketika setiap pagi ia membuka mata dan mengetahui bahwa lelaki itu berada di rumah.
Bukan di bandara.
Bukan di negeri lain.
Bukan hanya sebagai nama di layar telepon.
Arif benar-benar berada di sisinya.
Sore itu Sari menyandarkan kepala di bahunya.
“Mas.”
“Ya?”
“Besok bunga kertas di depan perlu dipangkas.”
Arif tertawa kecil.
“Kenapa aku?”
“Katanya mau jadi suami di rumah.”
Arif menatap istrinya, lalu tertawa.
“Baik, Bu Sari.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi yang mereka tunggu.
Tidak ada surat yang mungkin hilang.
Tidak ada telepon yang mungkin diputus.
Tidak ada kebohongan yang berdiri di antara mereka.
Rumah mereka memang pernah dirampas.
Waktu mereka pernah dicuri.
Namun kehidupan memberikan keduanya kesempatan untuk membangun kembali sesuatu yang jauh lebih kuat.
Bukan sekadar rumah dari batu bata.
Melainkan rumah yang dibangun dari kepercayaan yang dipulihkan, luka yang disembuhkan, dan dua orang yang akhirnya memilih untuk menjalani sisa hidup mereka bersama.
Di bawah langit Bandung yang mulai gelap, lampu teras menyala.
Arif dan Sari masih duduk berdampingan.
Dan setelah delapan tahun terpisah oleh ribuan kilometer, mereka akhirnya berada tepat di tempat yang seharusnya.
Di rumah.
Bersama.
Arif tidak menjawab.
Selama delapan tahun bekerja di negeri orang, ia mengirimkan uang hampir setiap bulan. Pada tahun-tahun pertama jumlahnya memang tidak besar, hanya beberapa juta rupiah. Namun setelah usahanya berkembang, jumlah yang dikirim meningkat menjadi puluhan juta, bahkan beberapa kali mencapai lebih dari seratus juta rupiah dalam sebulan.
Jika semuanya dihitung, jumlahnya sudah mencapai miliaran rupiah.
Uang itu seharusnya cukup untuk memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan Sari, bahkan memberi istrinya kehidupan yang jauh lebih nyaman.
Namun sekarang Bu Siti bahkan tidak tahu bahwa uang itu pernah ada.
Arif menatap showroom di seberang jalan.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan rumah.
Selama bertahun-tahun, seseorang telah berdiri di antara dirinya dan Sari.
Seseorang telah mengambil uangnya.
Menghentikan surat-suratnya.
Memutus komunikasi mereka.
Lalu ketika waktunya dianggap tepat, orang itu bahkan mengumumkan kematiannya.
Arif mengepalkan tangan.
Namun ia memaksa dirinya tetap tenang.
Yang paling penting sekarang bukan Bima.
Yang paling penting adalah menemukan Sari.
Arif mengeluarkan foto pernikahan lama dari dompetnya.
“Bu Siti, apakah Ibu ingat ke mana Sari pergi setelah diusir?”
Bu Siti berpikir cukup lama.
“Dulu ada yang melihat dia menyewa kamar kecil di daerah Kiaracondong. Tapi cuma beberapa bulan. Setelah itu katanya pindah lagi karena tidak sanggup bayar kos.”
“Apakah dia punya keluarga?”
“Orang tuanya sudah lama meninggal. Saudara dekat juga hampir tidak ada.”
Jawaban itu membuat dada Arif semakin sesak.
Ia berterima kasih kepada Bu Siti lalu berjalan pergi.
Hari itu Arif berkeliling dari satu gang ke gang lainnya.
Ia mendatangi kos-kosan murah.
Bertanya kepada pedagang kaki lima.
Menunjukkan foto Sari kepada pemulung, tukang parkir, sopir angkot, dan para pekerja yang biasa berkumpul di warung makan.
Matahari Bandung sudah turun ketika ia akhirnya menemukan sebuah petunjuk.
Di sebuah toko gadai kecil, Arif melihat radio cassette tua berwarna hitam.
Tubuhnya langsung membeku.
Ada goresan berbentuk huruf V di sudut kanan radio itu.
Ia mengenalinya.
Dua belas tahun lalu, ketika dirinya dan Sari belum menikah, Arif membeli radio tersebut dari gaji pertamanya sebagai buruh angkut.
Sari menyukainya bukan karena harganya mahal.
Radio itu bahkan sangat murah.
Namun setiap malam mereka biasa duduk di teras rumah mendengarkan lagu sambil minum teh manis.
Arif masuk.
“Pak, radio itu milik siapa?”
Pemilik toko mengangkat bahu.
“Barang gadaian.”
“Siapa yang menggadaikan?”
“Sudah lama.”
Arif mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja.
“Saya tidak ingin membeli informasi pribadi orang. Saya hanya mencari istri saya. Ini fotonya.”
Pemilik toko menatap foto.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Oh.”
“Anda ingat?”
“Iya. Perempuan ini pernah datang.”
Jantung Arif berdegup keras.
“Kapan?”
“Sekitar empat atau lima bulan lalu.”
“Dia tinggal di mana?”
“Saya tidak tahu.”
“Kenapa dia menggadaikan radio?”
Pria itu menggaruk kepalanya.
“Dia sedang sakit. Katanya butuh uang sekitar tiga ratus ribu untuk beli obat dan makan beberapa hari. Saya sebenarnya kasihan.”
Arif menatap radio tersebut.
Tiga ratus ribu rupiah.
Sari harus menyerahkan salah satu barang yang paling mereka sayangi hanya demi mendapatkan tiga ratus ribu rupiah.
Arif membayar radio itu lalu membawanya keluar.
Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, ia memeluk radio tua tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Indonesia, Arif menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh diam-diam.
Ia merasa selama delapan tahun dirinya bekerja siang malam untuk memberi istrinya kehidupan yang lebih baik.
Tetapi di saat yang sama, Sari ternyata harus berjuang sendirian bahkan untuk membeli obat.
Saat Arif sedang berdiri di pinggir jalan, seorang pengemudi ojek yang sejak tadi memperhatikannya mendekat.
“Mas cari perempuan di foto itu?”
Arif segera mengangkat kepala.
“Iya.”
“Saya pernah lihat.”
“Di mana?”
Pria itu tampak ragu.
Arif menunjukkan foto lagi.
“Namanya Sari. Dia istri saya.”
Pengemudi ojek itu mengembuskan napas.
“Saya pernah mengantar dia dari terminal ke Jakarta beberapa bulan lalu. Katanya dapat pekerjaan di pasar ikan.”
“Jakarta bagian mana?”
“Kalau tidak salah Muara Angke.”
Arif tidak menunggu lebih lama.
Malam itu juga ia memesan mobil menuju Jakarta.
Hampir tengah malam ketika Arif tiba di kawasan Muara Angke.
Pasar masih hidup.
Truk-truk pengangkut ikan keluar masuk.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Air bercampur sisik ikan mengalir di lantai.
Bau asin laut bercampur dengan bau sampah, solar, dan ikan segar memenuhi udara.
Arif berjalan dari satu warung ke warung lain sambil membawa foto Sari.
Beberapa orang menggeleng.
Seorang pekerja menunjuk ke arah belakang deretan rumah makan.
“Coba cari di sana. Banyak pekerja cuci piring.”
Arif berlari.
Belum sampai ke ujung lorong, terdengar suara benda pecah.
Kemudian suara bentakan seorang perempuan.
“Kamu kerja pakai mata atau tidak?”
Arif berhenti.
Sebuah suara lemah menjawab.
“Maaf, Bu.”
Napas Arif seketika tercekat.
Ia mengenal suara itu.
Meski jauh lebih pelan.
Meski terdengar kelelahan.
Ia tetap mengenalinya.
“Sari…”
Arif berlari melewati tumpukan kotak styrofoam.
Di belakang sebuah rumah makan terdapat tempat pencucian terbuka.
Di sana seorang perempuan kurus sedang berjongkok di lantai basah sambil mengumpulkan pecahan piring.
Rambutnya acak-acakan.
Wajahnya pucat.
Tangannya memerah karena terlalu lama terkena air dan sabun.
Arif berdiri tanpa mampu bergerak.
Perempuan itu adalah Sari.
Tetapi hampir tidak ada lagi jejak perempuan sehat dan ceria yang ia tinggalkan delapan tahun lalu.
Tubuh Sari sangat kurus.
Pipinya cekung.
Bajunya kebesaran.
Yang membuat Arif semakin terpukul adalah jaket tua yang dipakai Sari.
Itu milik Arif.
Jaket abu-abu yang ditinggalkannya di rumah sebelum pergi ke Korea.
Seorang perempuan yang tampaknya pemilik rumah makan berdiri di hadapan Sari.
“Kamu pecahkan satu piring lagi. Gajimu malam ini saya potong.”
Sari menunduk.
“Iya, Bu.”
“Kalau tidak sanggup kerja, pulang saja.”
Sari tidak menjawab.
Ia kembali memungut pecahan piring dengan tangan telanjang.
Sebuah serpihan kecil melukai jarinya.
Darah menetes.
Saat itulah Arif akhirnya melangkah maju.
“Cukup.”
Pemilik warung menoleh.
“Siapa kamu?”
Arif tidak menjawab.
Ia berjalan mendekati Sari.
Perempuan itu masih menunduk sampai bayangan Arif jatuh tepat di depannya.
Sari perlahan mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu.
Wajah Sari langsung kehilangan warna.
Tangannya gemetar.
Bibirnya bergerak beberapa kali sebelum akhirnya satu kata keluar.
“Mas… Arif?”
Suara itu hampir seperti bisikan.
Arif berlutut.
“Aku pulang, Sar.”
Sari menatapnya seolah takut berkedip.
Ia mengangkat satu tangan, menyentuh pipi Arif, lalu menariknya kembali.
“Ini mimpi?”
“Bukan.”
“Mas benar-benar hidup?”
Arif tidak sempat menjawab.
Sari tiba-tiba jatuh ke depan.
Arif menangkapnya.
“Sari!”
Tubuh istrinya terasa sangat ringan.
Terlalu ringan.
Arif segera mengangkat Sari.
Saat itu sesuatu jatuh dari balik jaketnya.
Sebuah foto.
Arif menunduk.
Foto pernikahan mereka.
Sudah kusam.
Pinggirannya terlipat.
Namun Sari membungkusnya dengan plastik agar tidak terkena air.
Arif menggigit bibir untuk menahan tangis.
Delapan tahun.
Dan perempuan ini masih menyimpan foto mereka di dekat dadanya.
Ia menoleh kepada pemilik rumah makan.
“Berapa piring yang dia pecahkan?”
Perempuan itu gugup.
“Hanya… satu.”
Arif meletakkan beberapa lembar uang di meja.
“Bayar semua upahnya sampai hari ini.”
“Saya…”
“Tidak perlu menjelaskan apa pun.”
Arif lalu membawa Sari pergi.
Ia membawanya ke klinik swasta terdekat.
Dokter mengatakan Sari mengalami kelelahan berat, kurang gizi, demam ringan, serta infeksi pada beberapa luka di tangannya.
Tidak ada penyakit serius.
Yang ia butuhkan adalah istirahat, makanan bergizi, obat, dan lingkungan yang aman.
Kalimat terakhir itu membuat Arif terdiam cukup lama.
Lingkungan yang aman.
Sesuatu yang seharusnya diberikan seorang suami kepada istrinya.
Beberapa jam kemudian Sari membuka mata.
Arif duduk di samping ranjang.
Ketika melihatnya, Sari kembali menangis.
Arif menggenggam tangannya.
“Jangan takut.”
“Aku pikir Mas sudah meninggal.”
“Aku juga pikir selama ini kamu hidup baik-baik saja.”
Sari menutup wajahnya.
“Aku tidak pernah menerima uang setelah beberapa tahun pertama.”
Arif mengangguk pelan.
“Ceritakan semuanya.”
Malam itu, sedikit demi sedikit, Sari membuka masa lalu.
Pada awalnya uang dari Korea memang masuk secara normal.
Namun beberapa tahun kemudian Bima mengatakan bahwa lebih mudah jika kiriman uang Arif masuk melalui rekening tertentu karena ada masalah administrasi.
Sebagai kakak Arif, Bima menawarkan bantuan.
Sari percaya.
Perlahan uang yang diterimanya semakin sedikit.
Bima selalu punya alasan.
Biaya transfer.
Nilai tukar.
Masalah perusahaan.
Arif sedang kesulitan.
Kemudian komunikasi antara Arif dan Sari mulai terputus.
Surat tidak sampai.
Nomor telepon berubah.
Setiap kali Sari bertanya, Bima mengatakan Arif sedang sangat sibuk.
Di sisi lain, kepada Arif, Bima mengatakan Sari sering berpindah tempat karena merawat kerabat.
Kebohongan itu berlangsung bertahun-tahun.
Sampai tiga tahun lalu.
Bima datang membawa surat kematian.
Ia mengatakan Arif meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan bisnis.
Tidak ada jenazah yang bisa dibawa pulang.
“Aku tidak percaya,” kata Sari.
“Aku meminta bukti dari kedutaan. Aku ingin bicara dengan teman-teman Mas. Tapi Bima marah.”
Sari menarik napas.
“Lalu dia mulai memaksaku menandatangani surat.”
Mata Arif mengeras.
“Surat apa?”
“Pernyataan bahwa aku tidak akan menuntut bagian apa pun dari rumah dan tanah.”
“Dan kamu tidak tanda tangan?”
Sari menggeleng.
“Aku tahu rumah itu peninggalan orang tua Mas. Aku tidak punya hak mengambil milik orang lain. Tapi kalau Mas benar-benar meninggal, aku juga tidak mau mereka memalsukan apa pun.”
Sari lalu menjelaskan bahwa sebelum diusir, ia sempat menyimpan beberapa dokumen.
Bukti kiriman uang.
Salinan percakapan.
Dan yang terpenting, sebuah surat tulisan tangan Bima yang berisi ancaman agar Sari menandatangani pelepasan hak.
“Di mana semuanya?”
Sari memandang Arif.
“Masih ada.”
“Di mana?”
“Di bawah pohon mangga tua dekat rumah.”
Arif terdiam.
Sari melanjutkan.
“Malam aku diusir, aku memasukkan semuanya ke dalam kotak besi. Aku takut kalau kubawa, mereka akan merampasnya.”
Dini hari berikutnya, setelah memastikan Sari beristirahat, Arif kembali ke Bandung.
Ia tidak menemui Bima.
Ia langsung menuju bekas rumahnya.
Pohon mangga memang sudah ditebang.
Namun tunggulnya masih ada.
Arif menggali di dekat akar lama.
Setelah beberapa puluh menit, ujung sekop mengenai benda keras.
Kotak besi.
Berkarat.
Namun masih tertutup.
Arif membawanya ke hotel.
Di dalamnya terdapat puluhan bukti transfer lama.
Fotokopi beberapa dokumen.
Catatan tanggal.
Dan surat tulisan tangan Bima.
Arif membaca satu kalimat berkali-kali.
“Kalau kamu tetap tidak mau tanda tangan, jangan salahkan saya kalau besok kamu tidak punya tempat tinggal lagi.”
Arif meletakkan surat itu.
Ia tidak pergi mencari Bima.
Ia tidak membawa preman.
Tidak merusak showroom.
Pagi itu Arif menghubungi seorang pengacara di Bandung.
Namanya Hendra Wijaya.
Setelah mempelajari dokumen, Hendra berkata serius,
“Pak Arif, jangan menyentuh saudara Anda dulu. Kita periksa semuanya secara resmi.”
Mereka mulai dari bank.
Riwayat transfer menunjukkan pola yang jelas.
Sebagian uang memang pernah diteruskan kepada Sari.
Namun kemudian jumlah besar masuk ke rekening yang berada di bawah kendali Bima.
Mereka juga memeriksa dokumen tanah melalui kantor pertanahan.
Ada beberapa kejanggalan dalam proses perubahan data dan transaksi.
Nama Arif tercatat sebagai telah meninggal.
Ada dokumen kematian yang menjadi dasar sebagian proses administrasi.
Masalahnya sederhana.
Arif berdiri hidup-hidup di depan mereka.
Dengan paspor.
Dokumen perjalanan.
Catatan imigrasi.
Catatan kerja.
Dan bukti aktivitas bisnis selama periode ketika secara administratif ia disebut sudah meninggal.
Hendra menatapnya.
“Ini bukan sekadar pertengkaran keluarga.”
Arif mengangguk.
“Saya tahu.”
“Kalau terbukti ada dokumen palsu dan penggelapan uang, prosesnya bisa panjang.”
“Saya tidak peduli berapa lama.”
“Apa tujuan utama Anda?”
Arif menjawab tanpa ragu.
“Nama istri saya dibersihkan. Hak kami dikembalikan. Selebihnya biar hukum yang menentukan.”
Beberapa minggu berikutnya berlangsung sunyi.
Bima bahkan belum tahu bahwa Arif sudah kembali.
Sementara itu, kondisi Sari perlahan membaik.
Arif menyewa sebuah rumah kecil di kawasan yang tenang di Bandung agar Sari tidak harus tinggal di hotel.
Setiap pagi mereka sarapan bersama.
Kadang hanya bubur ayam.
Kadang nasi hangat dengan telur dadar.
Bagi Arif, makanan sederhana itu terasa lebih mahal daripada seluruh jamuan bisnis yang pernah ia hadiri di Seoul maupun Busan.
Suatu pagi Sari bertanya,
“Mas sekarang sebenarnya bekerja apa?”
Arif tersenyum.
“Masih bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Pabrik komponen. Sedikit logistik.”
Sari mengangguk.
“Besar?”
Arif terdiam.
“Lumayan.”
Sari menyipitkan mata.
“Seberapa lumayan?”
Arif tertawa kecil.
Baru saat itulah Sari mengetahui bahwa suaminya bukan lagi buruh pabrik.
Perusahaan Arif memiliki mitra di Korea, Jepang, dan Indonesia.
Nilai kepemilikan Arif telah mencapai ratusan miliar rupiah.
Sari memandangnya lama.
Lalu berkata,
“Kalau begitu kenapa Mas pulang naik bus?”
Arif tertawa.
“Karena aku ingin pulang sebagai Arif yang dulu pergi.”
Sari ikut tersenyum.
Namun kebahagiaan kecil itu belum menyelesaikan satu hal.
Bima.
Kesempatan datang ketika Arif mengetahui Bima akan mengadakan syukuran rumah barunya.
Hampir seluruh keluarga besar diundang.
Bima ingin memamerkan keberhasilannya.
Malam itu Arif meminta Sari mengenakan pakaian yang nyaman.
“Untuk apa?”
“Kita menghadiri pesta.”
Sari langsung tahu.
Wajahnya berubah tegang.
Arif menggenggam tangannya.
“Kalau kamu belum siap, kita tidak perlu datang.”
Sari diam beberapa saat.
Kemudian menggeleng.
“Aku mau datang.”
“Yakin?”
“Tiga tahun aku selalu berjalan menunduk kalau mendengar nama Bima.”
Sari menatap suaminya.
“Aku tidak mau menunduk lagi.”
Mereka tiba di rumah Bima sekitar pukul delapan malam.
Rumah itu besar.
Lampu terang memenuhi halaman.
Mobil para tamu berjajar di depan.
Di dalam, Bima sedang tertawa bersama beberapa kerabat.
Rina mengenakan perhiasan emas dan sibuk menerima pujian.
“Bima memang hebat,” kata salah seorang paman.
“Dari nol sekarang punya showroom dan rumah sebagus ini.”
Bima mengangkat gelas.
“Semua hasil kerja keras.”
Tepat saat itu pintu terbuka.
Arif masuk.
Tangan kirinya menggenggam tangan Sari.
Suara percakapan perlahan berhenti.
Bima menoleh.
Gelas di tangannya jatuh.
Pecah.
Wajahnya berubah pucat.
“Arif?”
Tak ada yang bergerak.
Seseorang di belakang berbisik,
“Bukannya Arif sudah meninggal?”
Rina mundur satu langkah.
Arif berjalan sampai ke tengah ruangan.
Bima menatapnya seperti melihat hantu.
Beberapa detik kemudian ia memaksakan senyum.
“Ya Allah! Arif! Kamu masih hidup!”
Bima membuka kedua tangannya seolah hendak memeluk.
Arif berhenti beberapa meter di depannya.
“Kalau menurut surat yang kau gunakan, aku sudah mati tiga tahun.”
Senyum Bima membeku.
Suasana langsung berubah.
Arif mengeluarkan map.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini catatan imigrasiku.”
Dokumen pertama.
“Ini catatan perusahaan tempat aku bekerja.”
Dokumen kedua.
“Ini bukti transfer uang yang kukirim selama bertahun-tahun.”
Dokumen ketiga.
“Dan ini rekening yang menerima sebagian besar uang tersebut.”
Bima mulai berkeringat.
“Arif, kita keluarga. Jangan membicarakan hal pribadi di depan orang banyak.”
Arif menatapnya.
“Keluarga?”
Ia mengambil satu surat terakhir.
“Kau mengenali tulisan ini?”
Wajah Bima seketika berubah.
Itu surat ancaman terhadap Sari.
Rina meraih lengan suaminya.
“Mas…”
Bima membentak pelan.
“Diam!”
Arif lalu memandang seluruh keluarga.
“Saya datang bukan untuk meminta kalian memilih pihak.”
“Saya hanya ingin satu hal diketahui.”
“Sari tidak meninggalkan rumah karena serakah.”
“Dia diusir.”
“Dia tidak mengambil uang saya.”
“Uang itu tidak pernah sampai kepadanya.”
“Dan selama tiga tahun dia hidup dengan keyakinan bahwa suaminya sudah meninggal karena seseorang menggunakan dokumen kematian yang sekarang sedang diperiksa.”
Bima tiba-tiba maju.
“Cukup!”
Arif tidak bergerak.
Bima menunjuk wajahnya.
“Kamu pergi delapan tahun! Kamu meninggalkan semuanya kepada saya!”
“Aku meninggalkan rumah kepada istriku.”
“Kamu tidak tahu betapa sulitnya hidup di sini!”
“Dan itu memberimu hak mengambil uangku?”
Bima terdiam.
Arif melanjutkan.
“Memberimu hak mengusir istriku?”
Bima tak mampu menjawab.
Di belakang Arif, Sari berdiri tegak.
Untuk pertama kalinya ia memandang Bima tanpa rasa takut.
Suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Beberapa orang berseragam dan petugas berpakaian sipil masuk bersama Hendra.
Hendra menghampiri Arif.
“Pak Arif.”
Arif mengangguk.
Petugas kemudian menjelaskan bahwa Bima diminta memberikan keterangan terkait laporan dugaan penggunaan dokumen palsu dan penguasaan dana yang sedang diselidiki.
Tidak ada adegan dramatis seperti film.
Tidak ada orang langsung dijatuhi hukuman malam itu.
Tetapi ketika Bima melihat dokumen resmi di depan matanya, lututnya seakan kehilangan tenaga.
“Arif…”
Suara Bima melemah.
“Kita selesaikan sebagai saudara.”
Arif menatapnya lama.
“Seharusnya kalimat itu kau ingat sebelum mengusir Sari.”
Bima menunduk.
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.
Dokumen diperiksa.
Transaksi keuangan ditelusuri.
Riwayat pertanahan diverifikasi.
Orang-orang yang terlibat dimintai keterangan.
Sebagian aset Bima yang berkaitan dengan transaksi bermasalah dibekukan selama pemeriksaan.
Arif tidak pernah meminta perlakuan khusus.
Ia menyerahkan semuanya kepada pengacaranya dan lembaga berwenang.
Pada akhirnya, hak atas bagian tanah yang sebelumnya bermasalah dipulihkan melalui proses hukum yang sah.
Beberapa transaksi yang menggunakan dasar dokumen bermasalah dibatalkan atau diselesaikan sesuai keputusan hukum.
Bima dan pihak-pihak yang terbukti terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Arif tidak merayakannya.
Pada hari Hendra memberitahukan bahwa proses terpenting telah selesai, Arif hanya pulang membawa martabak manis.
Sari sedang menyiram bunga di halaman rumah kontrakan.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Bagian terberatnya.”
Sari menatap martabak.
“Terus itu?”
“Perayaan.”
Sari tertawa.
“Orang ratusan miliar merayakan kemenangan pakai martabak?”
Arif mengangkat bahu.
“Kalau pakai berlian tidak bisa dimakan.”
Beberapa bulan kemudian, Arif mengambil keputusan lain.
Showroom di atas tanah lama tidak dipertahankan seperti sebelumnya.
Ia menyelesaikan urusan bangunan itu secara sah lalu menggunakan kembali bagian tanah yang menjadi haknya.
Sari mengira Arif akan membangun rumah besar.
Namun gambar yang dibawa arsitek justru sederhana.
Rumah dua lantai.
Teras lebar.
Dapur terbuka.
Dan halaman.
Sari menunjuk bagian depan gambar.
“Ini kosong.”
Arif tersenyum.
“Untuk bunga kertas.”
Sari terdiam.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Rumah itu selesai hampir setahun kemudian.
Tidak sebesar rumah Bima.
Tidak memiliki marmer impor.
Tidak ada lampu kristal yang menggantung tiga meter dari langit-langit.
Namun setiap sudutnya dipilih bersama.
Di halaman depan tumbuh deretan bunga kertas merah dan ungu.
Di ruang keluarga terdapat radio cassette tua yang dulu ditebus Arif dari tempat gadai.
Radio itu sudah rusak.
Arif tidak memperbaikinya.
Ia meletakkannya di rak.
“Kenapa disimpan kalau tidak bisa menyala?” tanya Sari.
Arif menjawab,
“Supaya kita tidak lupa bahwa pernah ada masa ketika benda ini lebih berharga daripada uang.”
Di hari ulang tahun pernikahan mereka, Arif memberikan kotak kayu yang dibawanya saat pulang.
Sari membukanya.
Tusuk rambut kayu eboni berada di dalam.
“Mas bikin sendiri?”
“Iya.”
Sari memperhatikannya.
“Agak miring.”
Arif langsung merebut kotak itu.
“Kalau begitu jangan dipakai.”
Sari cepat-cepat mengambil tusuk rambut tersebut.
“Siapa bilang tidak mau?”
Ia memasangnya.
“Bagus?”
Arif memandang istrinya.
Rambut Sari mulai sehat kembali.
Wajahnya juga sudah berisi.
Namun beberapa bekas luka kecil masih terlihat di tangannya.
Arif menggenggam tangan itu.
“Bagus.”
“Tusuk rambutnya?”
Arif menggeleng.
“Kamu.”
Sari tersenyum sambil menahan air mata.
Beberapa waktu kemudian, Arif juga mengurangi kegiatan bisnisnya di Korea.
Ia tidak menjual semuanya.
Ia tetap memiliki saham dan menerima pendapatan dari perusahaan.
Namun jabatan operasional diserahkan kepada mitra yang dipercayainya.
Arif memindahkan sebagian aktivitas bisnis ke Indonesia.
Ia bahkan membuka program pelatihan bagi pekerja migran yang baru pulang dari luar negeri dan ingin memulai usaha kecil.
Sari ikut membantu.
Bukan sebagai orang yang berdiri di belakang nama suaminya.
Ia mengelola sebuah program sederhana untuk membantu perempuan yang kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan karena masalah keluarga.
Program itu tidak besar.
Tidak masuk televisi.
Tidak pernah disebut sebagai yayasan mewah.
Kadang mereka hanya membantu membayar kos satu bulan.
Kadang membelikan obat.
Kadang membantu seseorang mendapatkan pekerjaan.
Suatu sore Sari bertanya,
“Kenapa Mas setuju waktu aku bilang ingin membantu mereka?”
Arif memandang tangannya.
“Karena dulu kamu cuma butuh tiga ratus ribu rupiah untuk beli obat.”
Sari terdiam.
“Bagi sebagian orang, tiga ratus ribu itu uang makan malam.”
Arif melanjutkan.
“Bagi orang lain, jumlah yang sama bisa menentukan apakah besok dia masih punya tempat tidur.”
Sari menggenggam tangan suaminya.
Senja turun perlahan di Bandung.
Angin bergerak melalui bunga-bunga kertas yang tumbuh di halaman.
Arif duduk di teras sementara Sari membawa dua cangkir teh hangat.
Tidak ada rapat.
Tidak ada telepon bisnis.
Tidak ada tiket pesawat.
Hanya suara anak-anak bermain dari ujung jalan dan aroma masakan dari dapur.
Sari duduk di sebelahnya.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau bisa mengulang delapan tahun lalu, Mas masih akan pergi?”
Arif berpikir cukup lama.
“Aku mungkin tetap pergi.”
Sari memandangnya terkejut.
Arif tersenyum.
“Tapi aku tidak akan membiarkan delapan tahun berlalu tanpa pulang.”
Sari bersandar di bahunya.
Arif memandangi halaman rumah mereka.
Dulu ia percaya tugas seorang suami adalah bekerja sampai tangannya hancur agar keluarganya tidak kekurangan uang.
Sekarang ia memahami bahwa keluarga tidak hanya membutuhkan uang.
Mereka membutuhkan kehadiran.
Percakapan.
Kejujuran.
Dan keberanian untuk memastikan orang yang kita cintai tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Arif menunduk, melihat bekas luka di tangan Sari.
“Maaf aku terlambat pulang.”
Sari menggeleng.
“Yang penting Mas akhirnya pulang.”
Mereka terdiam.
Matahari hampir tenggelam.
Cahaya jingga menyentuh dinding rumah sederhana mereka.
Di antara bunga kertas yang bergoyang diterpa angin, satu kuntum baru mulai mekar.
Arif merangkul bahu istrinya.
Dulu ia pulang membawa kekayaan yang bernilai ratusan miliar rupiah.
Namun setelah semua yang terjadi, Arif akhirnya memahami bahwa harta paling berharga tidak pernah berada di rekening banknya.
Harta itu adalah perempuan yang tetap menyimpan foto pernikahan mereka ketika dirinya tidak memiliki apa-apa.
Perempuan yang masih menunggunya meski dunia mengatakan bahwa suaminya telah mati.
Perempuan yang pernah kehilangan rumah, uang, dan harga diri di mata orang-orang, tetapi tidak pernah kehilangan keteguhan hatinya.
Dan bagi Sari, kebahagiaan bukanlah ketika Arif kembali sebagai pengusaha kaya.
Kebahagiaan adalah ketika setiap pagi ia membuka mata dan mengetahui bahwa lelaki itu berada di rumah.
Bukan di bandara.
Bukan di negeri lain.
Bukan hanya sebagai nama di layar telepon.
Arif benar-benar berada di sisinya.
Sore itu Sari menyandarkan kepala di bahunya.
“Mas.”
“Ya?”
“Besok bunga kertas di depan perlu dipangkas.”
Arif tertawa kecil.
“Kenapa aku?”
“Katanya mau jadi suami di rumah.”
Arif menatap istrinya, lalu tertawa.
“Baik, Bu Sari.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi yang mereka tunggu.
Tidak ada surat yang mungkin hilang.
Tidak ada telepon yang mungkin diputus.
Tidak ada kebohongan yang berdiri di antara mereka.
Rumah mereka memang pernah dirampas.
Waktu mereka pernah dicuri.
Namun kehidupan memberikan keduanya kesempatan untuk membangun kembali sesuatu yang jauh lebih kuat.
Bukan sekadar rumah dari batu bata.
Melainkan rumah yang dibangun dari kepercayaan yang dipulihkan, luka yang disembuhkan, dan dua orang yang akhirnya memilih untuk menjalani sisa hidup mereka bersama.
Di bawah langit Bandung yang mulai gelap, lampu teras menyala.
Arif dan Sari masih duduk berdampingan.
Dan setelah delapan tahun terpisah oleh ribuan kilometer, mereka akhirnya berada tepat di tempat yang seharusnya.
Di rumah.
Bersama.

