Hendra Melihat Tetangganya Menggendong Istrinya yang Hamil ke Kamar, Lalu Pulang Membawa Hadiah untuk Orang yang Ia Curigai
Bagian 1
Hendra baru membuka kamera ruang tamu karena istrinya tidak menjawab telepon ketika gambar di layar membuat tangannya berhenti bergerak. Rina, yang sedang hamil delapan bulan, tergeletak di lantai dekat meja makan, sementara Arif, tetangga dari unit seberang, berlari masuk ke apartemen mereka.
Sore itu hujan turun begitu deras di Bandung sampai jalan di depan kantor Hendra berubah menjadi barisan lampu rem yang hampir tidak bergerak. Sejak pukul empat ia sudah gelisah ingin pulang.
Rina beberapa kali mengalami kram kaki dan gula darahnya sempat turun dalam dua minggu terakhir. Dokter kandungannya sudah mengingatkan agar ia tidak terlambat makan dan tidak terlalu lama berdiri.
Pagi tadi sebelum Hendra berangkat, Rina bahkan sempat berkata, “Pulang jangan terlalu malam, ya. Sejak siang badan aku agak lemas.”
Hendra berjanji.
Namun tepat ketika ia hendak menutup laptop, atasannya meminta dua dokumen diperiksa ulang. Hendra menyelesaikannya secepat mungkin, lalu berlari mengejar bus yang biasanya membawanya pulang sebelum pukul enam.
Ia baru setengah perjalanan ketika hujan membuat lalu lintas berhenti.
Hendra menelepon Rina.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Sambungan kedua hanya berakhir tanpa jawaban.
Pesan WhatsApp yang dikirimnya masih centang satu beberapa menit kemudian.
Hendra mulai tidak tenang.
Ia tahu baterai ponsel Rina sering bermasalah, tetapi sore itu pikirannya langsung menuju hal-hal buruk. Kehamilan mereka sudah memasuki minggu-minggu yang membuat setiap keluhan terasa jauh lebih serius.
Hendra membuka aplikasi kamera rumah.
Mereka memasang dua kamera kecil sejak beberapa bulan sebelumnya setelah pernah terjadi kehilangan paket di lorong apartemen. Salah satunya menghadap ruang tamu dan sebagian meja makan.
Jaringan seluler bergerak lambat.
Lingkaran di layar berputar beberapa detik.
Ketika gambar akhirnya muncul, Hendra melihat sebuah kursi makan miring.
Lalu ia melihat kaki Rina.
Istrinya terbaring di lantai.
“Rina!”
Beberapa penumpang menoleh ketika Hendra tanpa sadar berteriak.
Ia memperbesar gambar.
Rina tidak bergerak.
Pada saat itulah pintu depan terbuka dan Arif masuk.
Arif tinggal bersama istrinya di unit tepat di seberang. Usianya mungkin tiga atau empat tahun lebih tua dari Hendra. Mereka tidak dekat, tetapi sering bertegur sapa di lorong atau bertemu saat menunggu lift.
Hendra tahu Arif bekerja dari rumah cukup sering. Selebihnya ia tidak tahu banyak.
Di kamera, Arif berjongkok di samping Rina.
Ia memanggil sesuatu yang tidak terdengar karena mikrofon kamera jarang mereka aktifkan.
Kemudian Arif menyentuh bahu Rina, memeriksa wajahnya, lalu berdiri cepat.
Hendra menahan napas.
Arif membungkuk, mengangkat tubuh Rina dengan kedua tangan, lalu membawanya melewati ruang tamu menuju kamar tidur.
Hendra menatap layar tanpa berkedip.
Rasa takut yang semula memenuhi kepalanya perlahan bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Kenapa Arif bisa masuk?
Kenapa pintu rumah tidak terkunci?
Kenapa ia membawa Rina ke kamar tidur?
Beberapa detik kemudian Arif muncul kembali.
Ia meraih telepon dari sakunya dan melakukan panggilan. Dari gerak tubuhnya, percakapan itu terlihat tegang.
Arif berjalan bolak-balik dari meja makan ke pintu kamar.
Sekali ia menoleh ke arah kamar.
Lalu ia berbicara lagi sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Hendra mencoba mengaktifkan suara kamera, tetapi koneksinya putus-putus.
Ia tidak mendengar siapa yang ditelepon Arif.
Dua menit terasa sangat panjang.
Setelah panggilan selesai, Arif mengambil selimut tipis dari sofa dan membawanya ke kamar. Ia keluar lagi, menyalakan kipas dengan kecepatan rendah, lalu beberapa saat kemudian bergegas meninggalkan apartemen.
Hendra menatap pintu yang kembali tertutup.
Kepalanya penuh pertanyaan.
Sebagian masuk akal.
Sebagian sebenarnya tidak.
Namun dalam keadaan panik, ia tidak mampu membedakan keduanya.
Hubungan Hendra dengan Rina selama hampir enam tahun pernikahan tidak pernah memiliki masalah perselingkuhan. Mereka memang pernah bertengkar tentang pekerjaan, uang, atau keluarga seperti pasangan lain, tetapi Hendra tidak pernah punya alasan serius mencurigai istrinya.
Sampai beberapa minggu terakhir.
Sekarang ketika ia mencoba mengingat, hal-hal kecil mendadak terlihat berbeda.
Arif pernah membantu membawa galon ketika Hendra belum pulang.
Rina pernah berkata Arif meminjamkan tang karena keran dapur bocor.
Dua hari sebelumnya, Hendra melihat mereka berbicara di lorong.
Percakapan itu bahkan tidak sampai satu menit.
Tetapi kecemasan membuat ingatan biasa berubah bentuk.
Hendra menelepon Rina lagi.
Tetap tidak dijawab.
Ia menelepon Arif.
Tidak diangkat.
Dada Hendra semakin sesak.
Ia berdiri dari kursinya ketika bus hanya bergerak beberapa meter selama hampir sepuluh menit.
“Pak, saya turun di sini.”
Konduktur menatap hujan di luar.
“Masih jauh, Pak.”
“Saya tahu.”
Hendra turun.
Dalam waktu kurang dari semenit kemejanya sudah basah.
Ia memesan ojek daring, tetapi tiga pengemudi membatalkan karena beberapa ruas jalan tergenang. Akhirnya Hendra berlari ke jalan yang lebih besar, menumpang angkot satu ruas, kemudian melanjutkan dengan berjalan cepat.
Sepanjang perjalanan, ia bergantian antara takut menemukan Rina dalam kondisi buruk dan marah karena tidak memahami apa yang baru saja dilihatnya.
Ketika akhirnya tiba di apartemen, napas Hendra hampir habis.
Ia tidak menunggu lift.
Apartemen mereka hanya beberapa lantai di atas lobi, sehingga ia mengambil tangga.
Begitu sampai di koridor, pintu unit Arif tertutup.
Hendra sempat ingin mengetuk.
Ia tidak jadi.
Rina lebih penting.
Tangannya gemetar ketika memasukkan kunci.
Begitu pintu terbuka, ia langsung memanggil.
“Rin?”
Tidak ada jawaban dari ruang tamu.
Sepasang sandal Rina masih berada dekat rak sepatu. Kursi makan yang ia lihat melalui kamera sudah kembali berdiri, tetapi sebuah gelas kosong tergeletak di meja.
Hendra berlari ke kamar.
Rina sedang bersandar pada dua bantal.
Wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka.
“Hendra?”
Ia baru mengatakan satu kata ketika Hendra duduk di tepi tempat tidur dan memeluknya.
“Kamu bikin aku hampir gila.”
Rina mengangkat satu tangan perlahan ke punggung suaminya.
“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu pingsan.”
“Aku tahu.”
Hendra melepaskan pelukan dan memandang wajah istrinya.
“Kepalamu sakit? Perutmu sakit? Bayinya gimana?”
“Gerak. Tadi sudah gerak lagi.”
Di meja kecil dekat tempat tidur terdapat secangkir minuman hangat beraroma jahe dan gula. Di sebelahnya ada semangkuk bubur putih yang masih mengeluarkan sedikit uap.
Hendra memegang tangan Rina.
Jari-jari istrinya terasa hangat.
“Kenapa teleponmu nggak bisa dihubungi?”
“Baterainya mati.”
Hendra melirik ponsel Rina yang sedang terhubung ke pengisi daya di sudut meja.
Ia mengangguk kecil.
Kemudian pandangannya kembali pada bubur.
Ada pertanyaan lain yang sejak tadi menghantam kepalanya.
Ia mencoba menahannya.
Tidak berhasil.
“Aku tadi lihat kamera.”
Rina menatapnya.
Hendra menelan ludah.
“Aku lihat kamu jatuh.”
Wajah Rina sedikit berubah.
Hendra melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
“Aku juga lihat Arif masuk.”
Rina tidak menjawab.
Hendra menunjuk samar ke arah pintu kamar.
“Dia angkat kamu dari lantai.”
Rina masih diam.
Semua bayangan yang dibangun Hendra selama perjalanan kembali menyerbu.
Ia menggenggam tangan istrinya lebih erat.
“Kamu benar-benar nggak apa-apa?”
“Iya.”
“Maka jelaskan satu hal sama aku.”
Rina menunggu.
Hendra akhirnya mengucapkan pertanyaan yang sepanjang perjalanan ingin sekaligus takut ia tanyakan.
“Kenapa Arif tadi ada di rumah kita?”

Bagian 2
Rina menatap Hendra cukup lama sampai Hendra mulai merasa nada pertanyaannya terdengar lebih buruk daripada yang ia maksudkan.
“Dia dengar aku jatuh,” kata Rina akhirnya.
Hendra mengernyit.
“Dengar dari mana?”
“Pintu depan.”
Rina menarik napas pendek lalu menjelaskan bahwa sekitar setengah jam sebelumnya ia sedang mengambil makanan dari dapur ketika pandangannya mendadak gelap. Ia mencoba duduk, tetapi tidak sempat mencapai kursi.
Saat jatuh, tubuhnya mengenai sisi meja dan kursi roboh.
Pintu apartemen memang tidak terkunci sempurna.
Sore tadi seorang kurir mengantar paket perlengkapan bayi. Setelah menerima paket, Rina hanya menarik pintu sampai hampir menutup karena ingin segera ke kamar mandi.
Ia mengira kunci otomatis sudah masuk.
Ternyata belum.
Arif sedang mengeluarkan sampah ketika mendengar suara benda jatuh dari dalam.
“Dia panggil dari luar dua kali,” kata Rina. “Aku ingat sedikit. Habis itu aku nggak tahu.”
Hendra melihat ke arah pintu kamar.
“Terus telepon itu?”
“Dia menelepon istrinya.”
“Istrinya?”
“Iya. Mbak Maya.”
Nama itu Hendra tahu, meskipun mereka hanya beberapa kali bertemu. Maya bekerja di sebuah klinik bersalin dan sering mendapat jadwal sore.
Rina melanjutkan, “Arif panik karena aku hamil. Dia takut salah melakukan apa-apa. Mbak Maya suruh dia pastikan aku bernapas normal, baringkan miring, jangan kasih minum waktu aku belum sadar, lalu dia sendiri pulang dari klinik.”
Hendra melirik minuman jahe dan bubur.
“Maya yang bikin?”
Rina mengangguk.
“Dia datang sekitar sepuluh menit setelah Arif turun. Kamu mungkin sudah nggak lihat kamera waktu itu.”
Hendra memang sudah berlari menembus hujan.
“Mereka mau bawa aku ke IGD,” lanjut Rina. “Aku sudah sadar waktu Mbak Maya datang. Aku bilang tunggu kamu dulu karena bayinya masih bergerak dan aku nggak ada nyeri atau perdarahan. Tapi dia tetap telepon klinik buat tanya dokter jaga.”
Rina menunjuk kertas kecil di meja.
“Mereka bilang karena aku sempat kehilangan kesadaran, tetap harus diperiksa malam ini.”
Selama beberapa detik Hendra hanya mendengar suara hujan di jendela.
Semua adegan yang tadi tampak mencurigakan kini mendapatkan penjelasan sederhana.
Bahkan memalukan.
“Kenapa Arif pergi?”
“Ambil mobil dari parkiran bawah. Katanya kalau kamu belum sampai, mereka mau antar aku.”
Hendra memejamkan mata sebentar.
“Ya Tuhan.”
Rina memandang suaminya lebih tajam.
“Kamu tadi mikir apa?”
“Nggak ada.”
“Hendra.”
“Aku cuma panik.”
“Panik karena aku pingsan atau karena Arif menggendong aku?”
Pertanyaan itu membuat Hendra diam terlalu lama.
Rina sudah mendapatkan jawabannya.
“Kamu curiga sama aku?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Hendra berdiri, berjalan dua langkah, kemudian kembali.
“Aku lihat laki-laki lain masuk rumah kita, menggendong kamu ke kamar, terus menelepon seseorang dengan wajah tegang. Aku nggak tahu apa yang terjadi.”
“Aku sedang pingsan, Hen.”
“Aku tahu sekarang.”
“Tapi tadi kamu belum tahu, jadi kamu memutuskan kemungkinan terburuk?”
Hendra tidak punya jawaban yang membuat dirinya terdengar lebih baik.
Rina menunduk.
Tangannya bergerak ke perut.
“Aku tadi takut sesuatu terjadi pada bayi kita. Begitu sadar, orang pertama yang aku cari kamu.”
Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi justru karena itulah terasa berat.
Sebelum Hendra sempat menjawab, terdengar ketukan.
Arif berdiri di luar bersama Maya.
Arif sudah mengganti kaus yang basah di bahu. Maya membawa tas kerja dan kunci mobil.
“Kondisi Rina bagaimana?” tanya Maya.
Hendra menyingkir agar mereka masuk.
Rasa malu membuat tengkuknya panas.
Maya memeriksa Rina sebentar, lalu berkata mereka sebaiknya tetap pergi ke rumah sakit.
Arif berdiri dekat pintu.
Hendra menatapnya.
Ada ucapan terima kasih yang seharusnya langsung keluar.
Namun yang muncul lebih dulu justru pertanyaan.
“Tadi Mas Arif masuk karena dengar kursi jatuh?”
Arif mengangguk.
“Pintu kebuka sedikit. Saya panggil dulu. Nggak ada jawaban.”
Maya menoleh kepada suaminya.
“Dia telepon saya sampai tiga kali. Saya lagi pegang pasien.”
Arif tersenyum hambar.
“Saya pikir saya bakal dimarahin karena masuk rumah orang.”
Hendra merasa dadanya semakin berat.
“Maaf.”
Arif mengangkat alis.
“Kenapa minta maaf?”
Sebelum Hendra menjawab, ponselnya bergetar.
Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Pesan dari kakaknya, Dedi.
Hendra, Mama bilang kamu melihat tetangga laki-laki bawa Rina ke kamar. Jangan diam saja. Kalau perlu malam ini kami datang.
Hendra menatap layar.
Kemudian ia teringat sesuatu yang jauh lebih buruk daripada prasangkanya sendiri.
Dalam perjalanan pulang tadi, ketika pikirannya kacau, ia sempat menelepon ibunya.
Dan tanpa memastikan satu fakta pun, Hendra telah menceritakan apa yang ia lihat.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Hendra segera mematikan layar ponselnya, tetapi Rina sudah melihat perubahan wajahnya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Rina tidak lagi menerima jawaban itu.
“Kasih lihat.”
“Rin, sekarang kita ke rumah sakit dulu.”
“Kasih lihat, Hen.”
Hendra berdiri beberapa detik sambil menggenggam ponsel.
Maya sedang memasukkan botol air ke tas. Arif menunggu dekat pintu. Keduanya jelas menyadari ada sesuatu yang salah, tetapi tidak ikut campur.
Akhirnya Hendra menyerahkan telepon kepada istrinya.
Rina membaca pesan Dedi.
Ia membacanya sekali.
Kemudian sekali lagi.
“Kamu cerita ke Mama?”
Nada suaranya datar.
Hendra mengangguk.
“Kapan?”
“Di jalan.”
“Apa yang kamu bilang?”
Hendra ingin memilih kata-kata yang lebih aman, tetapi tidak ada cara memperindahnya.
“Aku bilang aku lihat kamera. Aku bilang kamu pingsan, Arif masuk, terus menggendong kamu ke kamar.”
“Hanya itu?”
Hendra terdiam.
Rina kembali menatap layar.
“Mama sampai bilang Kak Dedi jangan diam saja. Berarti bukan cuma itu.”
“Aku bilang aku nggak ngerti kenapa dia ada di rumah kita.”
“Dan?”
Hendra menarik napas.
“Aku bilang aku curiga ada sesuatu yang nggak aku tahu.”
Rina menyerahkan ponsel itu kembali.
Arif memalingkan wajah ke lorong.
Maya berhenti memasukkan barang ke tas.
Keheningan yang muncul begitu tidak nyaman sampai Hendra berharap ada siapa pun yang mengatakan sesuatu.
Rina yang akhirnya bicara.
“Kita ke rumah sakit.”
Tidak ada pertengkaran lagi.
Justru itulah yang membuat Hendra semakin tidak tenang.
Mereka turun menggunakan lift.
Arif menyetir. Maya duduk di depan, sedangkan Hendra dan Rina di belakang.
Sepanjang jalan, Rina bersandar ke kursi dengan satu tangan di perut. Hendra beberapa kali ingin menyentuh tangannya, tetapi akhirnya tidak jadi.
Pemeriksaan membutuhkan waktu hampir dua jam.
Dokter memastikan kondisi bayi stabil. Tekanan darah Rina sedikit rendah, dan kondisi tubuhnya memang kemungkinan dipengaruhi keterlambatan makan serta kelelahan. Karena ia sempat pingsan pada kehamilan trimester akhir, dokter meminta mereka lebih berhati-hati dan segera kembali jika ada keluhan lain.
Tidak ada keadaan darurat malam itu.
Namun bagi Hendra, saat mereka keluar dari ruang pemeriksaan, masalah yang lain baru dimulai.
Arif dan Maya masih menunggu.
Hendra benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi keduanya.
Ia menghampiri Arif lebih dulu.
“Mas.”
Arif menoleh.
“Terima kasih.”
Arif mengangguk.
Hendra melanjutkan, “Bukan cuma karena tadi mengangkat Rina. Terima kasih karena nggak ninggalin dia sendirian.”
“Siapa pun mungkin melakukan hal yang sama.”
Hendra menggeleng.
“Belum tentu.”
Ia menatap lantai sebentar.
“Dan saya harus minta maaf. Waktu lihat kamera, saya salah berpikir.”
Arif sudah memahami arah pembicaraan itu dari suasana di apartemen.
Ia tidak pura-pura tidak tahu.
“Seberapa salah?”
Pertanyaan itu disampaikan tenang.
Hendra menjawab jujur.
“Saya curiga.”
Arif menghela napas.
“Sama saya?”
“Dan sama Rina.”
Untuk pertama kalinya ekspresi Arif benar-benar berubah.
Bukan marah besar.
Lebih seperti kecewa.
“Saya masuk karena istri Anda jatuh.”
“Saya tahu.”
“Kalau waktu itu pintunya terkunci, mungkin saya cuma bisa panggil petugas gedung.”
“Saya tahu.”
Arif menatapnya beberapa detik.
“Kalau Anda mau marah saya masuk rumah tanpa izin, saya terima. Tapi saya berharap masalah ini jangan sampai membuat Maya ikut dipandang aneh atau keluarga saya jadi bahan cerita.”
Ucapan itu mengenai bagian yang paling membuat Hendra malu.
Masalah itu memang sudah keluar dari rumah mereka.
Ia mengangguk.
“Saya akan bereskan.”
Arif tidak menjawab.
Maya mendekati Rina.
“Nanti jangan tunggu sampai benar-benar lapar, ya.”
Rina mengangguk.
“Terima kasih, Mbak.”
Maya meremas pelan tangan Rina.
Mereka kemudian pulang dengan kendaraan berbeda. Hendra dan Rina memesan mobil daring karena Rina meminta Arif dan Maya tidak perlu mengantar lagi.
Di dalam mobil, hampir dua puluh menit mereka tidak bicara.
Hendra memandangi lampu jalan yang memantul di kaca basah.
Akhirnya ia berkata, “Aku akan telepon Mama.”
Rina tidak menoleh.
“Aku akan jelaskan semuanya.”
Rina masih diam.
“Aku salah.”
Kali ini Rina menjawab.
“Iya.”
Tidak ada tambahan.
Hendra menunggu.
“Aku bukan cuma salah curiga,” katanya. “Aku juga salah cerita sebelum tahu apa-apa.”
“Iya.”
Hendra mengusap wajah.
“Aku panik.”
Rina akhirnya menoleh.
“Jangan pakai panik untuk membenarkan semuanya.”
“Aku nggak membenarkan.”
“Kamu tahu bagian yang paling bikin aku sakit?”
Hendra menunggu.
“Bukan karena kamu sempat punya pikiran buruk. Mungkin kalau aku lihat hal yang sama tanpa suara, aku juga akan bingung.”
Rina berhenti beberapa detik.
“Tapi kamu punya pilihan menelepon Arif lagi, menelepon petugas gedung, pulang, lalu tanya aku. Kamu malah telepon Mama.”
Hendra tidak bisa menyangkalnya.
Selama bertahun-tahun, setiap kali ada masalah yang membuatnya merasa kehilangan kendali, ia memang sering menelepon ibunya.
Kadang hanya untuk bercerita.
Kadang untuk meminta pendapat.
Hendra tidak pernah menganggap kebiasaan itu sebagai masalah besar.
Rina pernah mengeluhkan hal tersebut, tetapi biasanya dalam perkara kecil.
Tentang mereka membeli lemari.
Tentang rencana mudik.
Tentang kapan Rina berhenti bekerja sebelum melahirkan.
Tentang apakah kelak orang tua Rina atau orang tua Hendra yang datang lebih dulu setelah bayi lahir.
Hendra selalu mengatakan, “Aku cuma cerita.”
Malam itu ia baru melihat akibat sebenarnya.
Sebuah cerita yang dibagikan kepada satu orang dapat menjadi kesimpulan bagi seluruh keluarga.
Ketika mereka sampai di apartemen, ponsel Hendra sudah memiliki sebelas pesan belum dibaca.
Ibunya mengirim empat.
Dedi mengirim tiga.
Adiknya, Lia, bahkan bertanya apakah Rina masih berada di rumah.
Hendra tidak membuka semuanya.
Ia langsung membuat panggilan grup dengan ibunya, Dedi, dan Lia.
Rina sedang duduk di sofa. Ia tidak meminta ikut bicara, tetapi tidak pergi.
Begitu panggilan tersambung, suara ibunya langsung terdengar.
“Gimana? Kamu sudah bicara sama laki-laki itu?”
Hendra memejamkan mata.
“Ma, dengarkan dulu.”
“Dari awal Mama sudah bilang, kalau suami sering pulang malam itu rumah tangga bisa…”
“Ma.”
Nada Hendra membuat ibunya berhenti.
“Apa yang Hendra ceritakan tadi salah.”
Dedi menyela.
“Salah bagaimana?”
“Rina pingsan.”
“Kami tahu.”
“Arif dengar dia jatuh. Pintu kami nggak terkunci sempurna. Dia masuk untuk menolong. Dia telepon istrinya yang kerja di klinik bersalin. Mereka yang bantu Rina sampai sadar dan mau mengantar ke rumah sakit.”
Tidak ada suara beberapa detik.
Hendra melanjutkan.
“Aku lihat potongan kejadian lewat kamera, lalu bikin kesimpulan sendiri.”
Ibunya berkata, “Tapi laki-laki itu memang menggendong Rina ke kamar, kan?”
“Karena Rina tidak sadar.”
“Ya tetap saja…”
“Mama.”
Hendra jarang memotong ibunya dua kali dalam satu percakapan.
“Jangan lanjutkan.”
Suasana berubah.
Hendra berkata, “Yang salah aku. Bukan Rina. Bukan Arif.”
Ibunya diam.
Dedi kemudian tertawa kecil, terdengar canggung.
“Ya kalau begitu syukurlah cuma salah paham.”
Bagi Dedi mungkin masalahnya selesai.
Bagi Hendra belum.
“Kak, tadi Kakak bilang kalau perlu kalian datang. Pesan itu berdasarkan cerita yang salah dari aku. Jangan cerita ini ke orang lain.”
“Memangnya aku cerita ke siapa?”
“Aku nggak tahu. Makanya aku bilang sekarang.”
Lia berkata pelan, “Mama tadi sudah cerita ke Tante Eni.”
Hendra menutup mata.
Ibunya segera membela diri.
“Mama cuma bilang ada masalah.”
Rina yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Ia berjalan ke kamar tanpa satu kata.
Hendra melihatnya pergi.
“Ma, dengar. Besok tolong telepon Tante Eni dan bilang apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kenapa harus dibesar-besarkan begitu?”
“Karena yang tersebar bukan cerita kecil.”
“Hendra, Mama kan cuma khawatir.”
“Aku tahu. Tapi kekhawatiran tetap bisa merusak nama orang kalau isinya salah.”
Ibunya tersinggung.
“Jadi sekarang Mama yang salah?”
“Yang mulai aku.”
Hendra mempertahankan nada suaranya.
“Aku yang cerita tanpa memastikan. Aku akan minta maaf. Mama cuma perlu bantu menghentikannya.”
Percakapan berakhir tidak menyenangkan.
Tetapi untuk pertama kalinya Hendra tidak menyerahkan keputusan kepada ibunya hanya karena ia merasa bersalah telah membuat sang ibu tersinggung.
Setelah menutup telepon, ia masuk ke kamar.
Rina sedang melipat selimut bayi kecil yang beberapa hari sebelumnya baru mereka beli.
“Rin.”
“Hm?”
“Aku sudah jelaskan.”
“Aku dengar.”
“Mama akan hubungi Tante Eni.”
Rina terus melipat kain.
Hendra duduk di ujung tempat tidur.
“Aku minta maaf.”
Rina meletakkan selimut.
“Yang ini jangan selesai karena aku bilang iya.”
Hendra memandangnya.
“Aku belum bisa bilang semuanya baik-baik saja.”
“Aku ngerti.”
“Aku lagi hamil delapan bulan. Aku pingsan sendirian. Orang yang menolong aku justru dicurigai. Dan sebelum aku sempat bicara dengan suamiku sendiri, keluarga suamiku sudah tahu versi yang bahkan belum tentu benar.”
Hendra menunduk.
“Kalau aku jadi kamu, aku juga marah.”
“Aku bukan cuma marah.”
Rina menarik napas.
“Aku takut.”
Hendra mengangkat kepala.
“Takut apa?”
“Kalau nanti kita punya masalah lain, apa kamu akan bicara denganku dulu atau keluargamu dulu?”
Pertanyaan itu jauh lebih besar daripada kejadian sore tadi.
Hendra tidak menjawab cepat.
Rina melanjutkan.
“Aku nggak pernah minta kamu berhenti dekat dengan Mama. Aku juga cerita ke ibuku. Tapi ada hal yang harus tetap jadi urusan suami istri sampai kita berdua sepakat membawanya keluar.”
Hendra mengangguk.
“Benar.”
“Kamu sudah beberapa kali melakukan ini.”
Hendra ingin mengatakan kejadian-kejadian sebelumnya tidak sebesar ini.
Ia urung.
Justru karena sebelumnya kecil, ia tidak pernah memperbaiki kebiasaan itu.
“Aku akan berubah.”
Rina menatapnya.
“Jangan janji malam ini.”
Kalimat itu tidak kasar.
“Lakukan saja nanti.”
Malam itu Hendra tidur di sofa karena Rina mengatakan ia ingin beristirahat sendiri.
Bukan pengusiran dramatis.
Bukan ancaman berpisah.
Hanya jarak satu pintu.
Tetapi bagi Hendra, jarak itu terasa lebih jujur daripada permintaan maaf berkali-kali.
Keesokan pagi ia bangun lebih awal.
Sebelum Rina keluar kamar, Hendra sudah menghubungi kantornya dan meminta bekerja dari rumah selama beberapa hari.
Atasannya mengizinkan setelah Hendra menjelaskan kondisi kehamilan istrinya.
Kemudian ia menghubungi Arif.
Tidak melalui chat panjang.
Ia meminta waktu bicara lima menit di lorong.
Arif keluar sekitar pukul delapan.
Hendra membawa sebuah kotak kue yang dibelinya dari minimarket bawah gedung.
Kotak itu terasa terlalu sederhana dibanding bantuan yang diterima Rina, tetapi Hendra tidak ingin membuat pemberian besar yang justru terasa aneh.
Ia menyerahkannya.
“Ini bukan buat mengganti apa yang Mas lakukan. Cuma tanda terima kasih.”
Arif menerima.
“Terima kasih.”
Hendra kemudian menceritakan bahwa kesalahpahamannya sempat ia sampaikan kepada keluarga.
Wajah Arif langsung menegang.
“Saya sudah luruskan,” kata Hendra cepat. “Dan saya minta keluarga saya jangan menyebarkannya.”
Arif diam.
Hendra menambahkan, “Kalau sampai Mas atau Mbak Maya dengar omongan lain, bilang ke saya. Saya yang akan menjelaskan.”
“Saya harap nggak perlu.”
“Saya juga.”
Arif melihat kotak di tangannya.
“Saya sebenarnya sempat kesal semalam.”
“Wajar.”
“Bukan karena Anda curiga.”
Hendra mengangkat alis.
Arif tersenyum tipis.
“Kalau saya lihat istri saya dibawa laki-laki lain ke kamar lewat kamera tanpa tahu konteksnya, mungkin kepala saya juga nggak langsung jernih.”
“Lalu?”
“Saya kesal karena saya pikir Anda bakal menyalahkan Rina.”
Hendra tidak menjawab.
Arif melanjutkan, “Orang pingsan nggak memilih siapa yang menolong.”
Kalimat itu sederhana.
Hendra mengangguk.
“Saya tahu sekarang.”
“Bagus.”
Mereka tidak mendadak menjadi sahabat.
Arif kembali ke rumahnya.
Hendra juga masuk.
Rina sedang membuat teh di dapur.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
“Ketemu Arif.”
Rina menoleh.
Hendra menunjukkan bahwa tangannya sudah kosong.
“Aku kasih kue. Aku juga cerita kalau kemarin aku sempat cerita ke keluarga dan aku sudah luruskan.”
Rina mengangguk.
Hendra tidak bertanya apakah istrinya sudah memaafkan.
Hari itu ia mulai melakukan hal-hal yang lebih kecil.
Ia memasang pengingat makan di ponsel Rina sekaligus ponselnya sendiri setelah bertanya apakah Rina mau.
Ia memindahkan beberapa makanan ringan ke meja dekat kamar.
Ia memeriksa kunci pintu yang kadang tidak menutup sempurna dan melapor kepada pengelola gedung.
Yang paling sulit justru kebiasaan lain.
Sekitar siang, ibunya menelepon.
Hendra melihat nama “Mama” di layar.
Refleks pertamanya adalah menjawab lalu menceritakan kondisi Rina secara detail.
Ia berhenti.
Ia masuk kamar dan bertanya, “Mama telepon. Kalau dia tanya hasil pemeriksaan, kamu oke kalau aku cerita bayi stabil dan dokter minta kamu lebih teratur makan?”
Rina menatapnya beberapa detik.
“Iya.”
Baru setelah itu Hendra mengangkat panggilan.
Perubahan itu kecil sekali.
Tetapi Rina memperhatikannya.
Beberapa hari kemudian, Tante Eni mengirim pesan pribadi kepada Rina.
Isinya canggung.
Ia mengatakan mendengar kabar yang tidak lengkap lalu meminta maaf jika sempat memiliki prasangka.
Rina menunjukkan pesan itu kepada Hendra.
“Setidaknya Mama benar-benar menelepon dia.”
Hendra mengangguk.
“Aku juga telepon Tante Eni kemarin.”
Rina menoleh.
“Kamu?”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
Hendra berpikir sebentar.
“Karena kalau aku bilang cuma supaya kamu lihat aku memperbaiki kesalahan, rasanya malah jadi transaksi.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian malam itu, Rina tersenyum kecil.
Tidak lama.
Namun cukup.
Seminggu kemudian, ketika kontrol kandungan, Hendra mengambil cuti setengah hari.
Mereka duduk berdampingan di ruang tunggu.
Rina sedang membaca daftar perlengkapan bayi ketika berkata, “Aku masih kepikiran satu hal.”
“Apa?”
“Waktu kamu lihat kamera, kamu benar-benar percaya aku punya hubungan sama Arif?”
Hendra menjawab setelah beberapa detik.
“Nggak sampai percaya.”
“Terus?”
“Aku takut.”
“Takut sama apa?”
Hendra menggeser tubuh menghadap istrinya.
“Mungkin bukan cuma takut kehilangan kamu.”
Ia berpikir keras mencari kalimat yang tidak terdengar seperti alasan.
“Aku terbiasa merasa tugasku melindungi semuanya. Kamu, bayi, rumah. Waktu lihat sesuatu yang nggak bisa aku kendalikan, aku langsung marah dan mencari siapa yang harus dicurigai.”
Rina mendengarkan.
“Padahal hari itu justru karena aku nggak ada, orang lain membantu.”
“Iya.”
“Itu bikin aku malu.”
“Bagus kalau malu membuatmu belajar.”
Hendra tertawa pendek.
“Pedas juga.”
“Delapan bulan hamil. Aku dapat hak sedikit pedas.”
Mereka sama-sama tersenyum.
Namun Rina kemudian serius lagi.
“Aku juga punya salah.”
Hendra mengernyit.
“Apa?”
“Aku seharusnya lebih disiplin makan. Aku tahu beberapa kali gula darahku turun, tapi aku masih sering bilang nanti, nanti.”
“Itu bukan alasan aku curiga.”
“Aku tahu. Ini bagian yang berbeda.”
Rina menyentuh perutnya.
“Aku nggak mau semua kesalahan hari itu ditaruh ke kamu juga. Kita masing-masing harus mengurus bagian kita.”
Kalimat itu justru membuat Hendra merasa lebih lega daripada jika Rina sekadar memaafkannya.
Mereka tidak sedang menentukan siapa penjahat dan siapa korban sempurna.
Mereka sedang memperbaiki dua hal berbeda yang kebetulan bertabrakan pada sore yang sama.
Menjelang kelahiran, hubungan mereka perlahan kembali ringan.
Tidak sama persis seperti sebelumnya.
Dalam beberapa hal justru berbeda.
Hendra mulai lebih jarang menggunakan keluarganya sebagai ruang pertama untuk melampiaskan kecemasan.
Jika terjadi sesuatu antara dirinya dan Rina, ia belajar membicarakannya dengan Rina sebelum mencari pendapat pihak lain.
Rina juga mulai mengatakan lebih jelas saat ia membutuhkan bantuan.
Tidak lagi, “Aku bisa.”
Kadang ia berkata, “Tolong pulang lebih cepat.”
Atau, “Aku capek. Makanan nanti pesan saja.”
Dan Hendra belajar tidak menganggap permintaan seperti itu sebagai kegagalan dirinya sebagai suami.
Hubungan dengan Arif dan Maya kembali normal.
Mereka bertegur sapa.
Kadang Hendra menitipkan paket.
Kadang Maya menanyakan kondisi Rina.
Tidak ada persahabatan berlebihan yang mendadak muncul hanya karena satu kejadian.
Justru jarak wajar itu membuat semuanya terasa nyaman.
Sekitar tiga minggu setelah kejadian hujan tersebut, Rina mulai mengalami kontraksi teratur pada dini hari.
Kali ini Hendra tidak panik dengan cara yang sama.
Ia mengambil tas persalinan.
Memastikan dokumen ada.
Membantu Rina mengenakan sandal.
Kemudian menelepon kendaraan yang sudah mereka siapkan kontaknya sejak minggu sebelumnya.
Saat mereka membuka pintu, pintu seberang ikut terbuka.
Arif keluar dengan rambut acak-acakan.
“Mau ke rumah sakit?”
Hendra mengangguk.
“Kayaknya waktunya.”
Maya muncul di belakang suaminya.
Ia langsung tersenyum melihat Rina.
“Tenang saja. Pelan-pelan.”
Arif mengambil tas dari tangan Hendra tanpa perlu diminta.
“Lift dulu.”
Di dalam lift, Hendra sempat memandang Arif.
Tiga minggu sebelumnya, pemandangan laki-laki itu berada dekat istrinya membuat pikirannya dipenuhi prasangka.
Pagi itu, Hendra justru menyerahkan tas perlengkapan bayi kepadanya sementara kedua tangannya membantu Rina berdiri nyaman.
Beberapa jam kemudian, putri mereka lahir sehat.
Mereka menamainya Alya.
Hari pertama dipenuhi rasa lelah, tangisan bayi, pesan keluarga, dan upaya Hendra memahami cara menggendong seorang manusia yang terasa begitu kecil di lengannya.
Ibunya datang sore berikutnya.
Hubungan antara Rina dan mertuanya masih sedikit canggung akibat kejadian sebelumnya.
Namun Hendra sudah bicara dengan ibunya sebelum kedatangan.
“Ma, kalau datang nanti kita fokus ke Rina dan bayi. Jangan bahas kejadian Arif lagi.”
Ibunya sempat berkata, “Mama kan sudah nggak bahas.”
Hendra hanya menjawab, “Bagus. Berarti gampang.”
Rina mendengar percakapan itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi setelah Hendra menutup telepon, jemarinya menyentuh punggung tangan suaminya sebentar.
Ibunya benar-benar tidak membicarakan soal Arif.
Ia membawa sup hangat, menggendong cucunya, kemudian pulang sebelum malam.
Bukan rekonsiliasi besar.
Tetapi cukup sebagai langkah pertama.
Dua bulan setelah Alya lahir, suatu sore hujan kembali turun deras.
Hendra sudah pulang dari kantor ketika bel berbunyi.
Arif berdiri di depan pintu membawa wadah plastik.
“Maya bikin bubur kebanyakan.”
Dari dalam, Rina tertawa.
“Alasan. Dia sengaja bikin lebih.”
Arif mengangkat bahu.
“Mungkin.”
Hendra menerima wadah itu.
“Masuk dulu?”
“Nggak usah. Anak saya video call bentar lagi.”
Sebelum Arif pergi, Hendra teringat sesuatu.
“Tunggu.”
Ia masuk ke kamar lalu kembali membawa kantong kecil.
Di dalamnya ada kopi dan camilan yang dibelinya sepulang kerja.
Arif menatap kantong itu.
“Ini apa lagi?”
“Hadiah terlambat.”
“Yang kemarin sudah ada kue.”
“Yang itu karena kamu nolong Rina.”
“Terus ini?”
Hendra tersenyum.
“Karena waktu itu kamu nggak mukul saya setelah tahu saya sempat curiga sama kamu.”
Arif tertawa sampai terdengar dari dalam rumah.
“Kalau begitu kopinya saya terima.”
Setelah pintu seberang tertutup, Hendra kembali ke ruang tamu.
Rina sedang menggendong Alya.
“Kamu sekarang sering kasih hadiah ke tetangga.”
“Jangan khawatir. Anggarannya terbatas.”
Rina tersenyum.
Hendra duduk di sebelahnya.
Di dekat televisi, kamera kecil yang menjadi awal seluruh kekacauan masih terpasang.
Mereka tidak membuangnya.
Kamera itu tidak pernah bersalah.
Ia hanya merekam gambar.
Kesalahan terjadi ketika Hendra mengisi bagian yang tidak ia lihat dengan ketakutannya sendiri.
Beberapa bulan sebelumnya ia mungkin akan menjelaskan pikiran itu panjang lebar.
Sekarang tidak perlu.
Alya bergerak kecil dalam pelukan ibunya.
Hendra berdiri, berjalan ke pintu, lalu memeriksa kuncinya sebelum malam.
Sekali.
Tidak dua atau tiga kali seperti setelah insiden dulu.
Kemudian ia kembali ke sofa.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari grup keluarga muncul.
Ibunya bertanya kapan mereka akan datang berkunjung akhir pekan.
Hendra membaca pesan itu.
Ia tidak langsung menjawab.
Ia menoleh kepada Rina.
“Mama tanya Sabtu kita bisa datang atau nggak.”
Rina berpikir.
“Minggu saja. Sabtu aku mau istirahat.”
Hendra mengetik.
Minggu kami datang, Ma. Sabtu Rina mau istirahat di rumah.
Balasan ibunya muncul beberapa saat kemudian.
Baik. Minggu Mama tunggu.
Hendra meletakkan ponselnya.
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada keputusan yang dibuat atas nama istrinya.
Rina menyerahkan Alya kepadanya karena hendak mengambil minum.
Hendra menerima putrinya dengan hati-hati.
Di luar, suara hujan semakin deras.
Kali ini ia tidak merasa perlu membuka kamera untuk mengetahui apakah rumahnya aman.
Semua orang yang perlu ia percaya berada tepat di sana.
Menurutmu, apakah Rina tepat memberi Hendra kesempatan memperbaiki kepercayaan setelah prasangkanya menyebar ke keluarga?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
