Miliarder Mengajak Ibunya Makan Malam di Bandung – Terdiam Saat Bertemu Mantan Istri dan Bocah Pengamen yang Sangat Mirip Dengannya

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 680 tayangan
Miliarder Mengajak Ibunya Makan Malam di Bandung – Terdiam Saat Bertemu Mantan Istri dan Bocah Pengamen yang Sangat Mirip Dengannya
Indeks

Miliarder Mengajak Ibunya Makan Malam di Bandung – Terdiam Saat Bertemu Mantan Istri dan Bocah Pengamen yang Sangat Mirip Dengannya

Malam di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Gerimis dari dataran tinggi Lembang tertiup angin menerobos deretan pohon pinus, meninggalkan lapisan embun buram di kaca sebuah restoran mewah di kawasan Dago Atas.

Arga Pratama, 38 tahun, mengangkat secangkir teh jahe hangat ke bibirnya, tetapi hanya menyesap sedikit.

Tatapannya yang lelah mengarah ke Kota Bandung yang tenggelam di balik tirai hujan.

Di usia ketika banyak orang baru mulai memantapkan karier, Arga sudah memiliki salah satu jaringan distribusi hasil pertanian dan bahan pangan terbesar di Jawa Barat. Perusahaannya memasok sayuran, kopi, teh, dan berbagai hasil pertanian ke ratusan supermarket, hotel, serta restoran dari Bandung hingga Jakarta.

Uang, rumah, mobil mewah, dan kedudukan, semuanya ia miliki.

Hanya ketenangan yang tidak.

Miliarder Mengajak Ibunya Makan Malam di Bandung – Terdiam Saat Bertemu Mantan Istri dan Bocah Pengamen yang Sangat Mirip Dengannya

Di hadapan Arga duduk ibunya, Ibu Ratna Pratama.

Perempuan itu perlahan memotong ikan bakar di piringnya, lalu mulai berbicara dengan nada seolah persoalan yang dibahas sudah lama diputuskan.

“Menurut Ibu, putri Pak Hendra itu cocok sekali untukmu, Arga.”

Arga sedikit mengernyit.

Ibu Ratna melanjutkan.

“Keluarganya sudah puluhan tahun menjalankan usaha perkebunan teh di Ciwidey. Gadis itu berpendidikan, tahu sopan santun, dan keluarganya juga sepadan dengan keluarga kita. Kamu sudah bekerja keras bertahun-tahun. Sekarang sudah waktunya memikirkan rumah tangga.”

Arga meletakkan cangkir tehnya.

“Ibu mulai lagi.”

“Memangnya Ibu salah?”

Ibu Ratna menatap putranya lurus-lurus.

“Usiamu sebentar lagi empat puluh tahun. Ibu sendiri tidak tahu masih bisa hidup berapa lama lagi. Sebelum menutup mata, Ibu hanya ingin melihatmu punya keluarga dan anak.”

Arga mengembuskan napas pelan.

Selama delapan tahun terakhir, ia sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu sampai hampir bisa menebak apa yang akan dikatakan ibunya selanjutnya.

“Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, Bu. Aku belum memikirkan soal itu.”

Ia memalingkan wajah ke luar jendela, sengaja ingin mengakhiri pembicaraan.

Namun tepat pada saat itulah, tatapan Arga mendadak berhenti.

Di bawah kanopi lebar di luar restoran, seorang perempuan bertubuh kurus sedang memeluk seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.

Sepertinya ibu dan anak itu baru saja berlari ke sana untuk berteduh dari hujan.

Perempuan itu mengenakan jaket tua yang warnanya sudah pudar. Sementara anak kecil di sampingnya hanya memakai jas hujan plastik tipis, jenis yang biasa dijual murah di toko-toko pinggir jalan.

Angin dari arah Lembang berembus tajam dan dingin.

Sang ibu menarik sisi jaketnya untuk menutupi tubuh anaknya.

Bocah itu tidak menangis.

Ia menggosok kedua tangan kecilnya, meniupkan udara hangat ke telapak tangannya, lalu tiba-tiba mulai bernyanyi lirih.

Suaranya sangat pelan.

Kalau Arga tidak sedang memperhatikan ke luar, mungkin ia tak akan mendengarnya.

Namun hanya beberapa nada pertama sudah cukup membuat seluruh tubuhnya menegang.

Itu bukan lagu anak-anak terkenal.

Bukan pula lagu yang sedang populer.

Melainkan sebuah melodi tanpa judul.

Delapan tahun lalu, ketika Arga masih bekerja sebagai kurir dengan sepeda motor tua dan tinggal di kamar kontrakan berukuran kurang dari dua puluh meter persegi di Antapani, setiap malam ia sering memeluk istri mudanya dari belakang sambil bersenandung dengan melodi yang sama.

Perempuan muda yang dulu berada dalam pelukannya itu bernama Maya Lestari.

Istrinya.

Atau lebih tepatnya, mantan istrinya.

Perempuan yang delapan tahun lalu menghilang dari hidup Arga ketika ia masih terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Arga tidak menyadari bahwa jari-jarinya mulai gemetar.

Anak laki-laki di luar restoran masih bersenandung.

Nada sederhana itu mengalir bersama suara hujan, membawa Arga kembali pada sebuah kamar kontrakan sempit di Antapani, pada kasur tipis di lantai, pada suara kipas angin tua yang berderit setiap malam, dan pada Maya yang biasa tertidur sambil menyandarkan kepala di dadanya.

Saat itu mereka tidak punya banyak uang.

Kadang-kadang untuk makan malam mereka hanya membeli satu bungkus nasi goreng dan membaginya berdua.

Namun Arga tidak pernah merasa miskin.

Karena ada Maya di sisinya.

Kini, delapan tahun kemudian, melodi yang sama keluar dari mulut seorang anak laki-laki yang belum pernah ia kenal.

Arga menatap lebih tajam.

Anak itu mendongakkan kepala.

Kerabat bajunya sedikit bergeser.

Dan di tengkuknya tampak sebuah tanda lahir kemerahan berbentuk bulan sabit.

Napas Arga berhenti.

Tangannya spontan menyentuh bagian belakang lehernya sendiri.

Ia memiliki tanda yang sama.

Almarhum ayahnya juga memilikinya.

Suara sendok yang terlepas dari tangannya berdenting keras di atas piring.

Ibu Ratna tersentak.

“Arga?”

Namun sebelum Arga menjawab, perempuan tua itu mengikuti arah pandang putranya.

Wajahnya seketika berubah.

Ia melihat Maya.

Lalu anak kecil di sampingnya.

Tangan Ibu Ratna yang memegang gelas mendadak gemetar.

“Arga…”

Ia menekan dada.

“Ibu sesak.”

Arga langsung bangkit.

“Bu?”

“Pulang. Tolong bawa Ibu pulang sekarang.”

Arga memang melihat keganjilan di wajah ibunya, tetapi ia tidak punya waktu memikirkannya.

Ia membayar makanan, memapah Ibu Ratna menuju mobil, lalu melaju meninggalkan Dago Atas.

Saat mobil melewati depan restoran, Arga menurunkan kaca jendela.

Maya sedang menatap ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan di wajah Maya.

Tidak pula rasa bersalah.

Yang ada hanyalah ketenangan dingin dari seseorang yang sudah terlalu lama menanggung luka hingga tidak punya tenaga lagi untuk marah.

Malam itu dokter keluarga datang ke rumah mereka di Kota Baru Parahyangan.

Setelah memeriksa Ibu Ratna, dokter mengatakan tidak ada masalah serius.

Tekanan darahnya sedikit naik, tetapi kondisi jantungnya baik.

“Barangkali karena udara dingin atau terlalu lelah,” katanya.

Setelah dokter pulang, Ibu Ratna menggenggam tangan Arga.

“Jangan ke restoran itu lagi.”

Arga mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Tempatnya tidak enak.”

“Tidak enak bagaimana?”

Ibu Ratna mengalihkan pandangan.

“Pokoknya Ibu tidak suka. Kamu juga jangan sering-sering ke kawasan sana.”

Arga tidak menjawab.

Ia hanya menarik selimut ibunya, lalu keluar dari kamar.

Namun malam itu ia tidak bisa tidur.

Wajah anak kecil tadi terus muncul di pikirannya.

Begitu pula Maya.

Pukul dua pagi, Arga akhirnya menghubungi asistennya.

“Dimas.”

“Ya, Pak Arga?”

“Cari seseorang untuk saya.”

Ia menyebut nama Maya.

Lalu menambahkan ciri-ciri anak kecil tadi.

“Lakukan diam-diam. Jangan sampai Ibu tahu.”

Menjelang siang keesokan harinya, Dimas datang membawa sebuah map cokelat tipis.

Arga membukanya.

Foto pertama langsung membuat tenggorokannya tercekat.

Seorang anak laki-laki berdiri di depan sekolah dasar negeri dengan tas lusuh di punggungnya.

Nama: Raka Lestari.

Usia: tujuh tahun enam bulan.

Ibu kandung: Maya Lestari.

Tidak tercantum nama ayah pada beberapa catatan administratif yang berhasil ditemukan.

Arga menghitung cepat dalam pikirannya.

Maya meninggalkannya delapan tahun lalu.

Jika Raka berusia tujuh tahun enam bulan sekarang, Maya pasti sudah mengandung ketika mereka berpisah.

Arga menutup map.

“Alamatnya?”

Dimas menyerahkan secarik kertas.

“Cicaheum, Pak. Mereka tinggal di rumah kos sederhana. Bu Maya menerima jahitan dan kadang bekerja membantu dapur katering. Anak itu sering bernyanyi di depan beberapa rumah makan pada akhir pekan, tapi sepertinya bukan pengamen tetap. Kata orang sekitar, dia membantu ibunya mencari tambahan uang.”

Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

Satu jam kemudian, ia sudah berada di Cicaheum.

Mobilnya terlalu mencolok untuk masuk ke gang sempit, sehingga ia memarkirnya di jalan besar lalu berjalan kaki.

Ia menemukan kamar kos Maya di ujung gang.

Pintunya terbuka sedikit.

Dari luar, Arga melihat Maya duduk di depan mesin jahit tua.

Raka sedang belajar di meja plastik kecil.

Sesekali anak itu bangkit untuk mengambilkan air minum bagi ibunya.

Pemandangan sederhana itu membuat dada Arga terasa sesak.

Ia mengetuk pintu.

Maya mengangkat kepala.

Saat melihatnya, tangannya berhenti di atas kain.

Namun ia tidak terkejut.

Seolah-olah selama delapan tahun ini ia selalu tahu bahwa hari tersebut pada akhirnya akan datang.

“Raka,” katanya lembut, “masuk ke dalam dulu.”

Anak itu menurut.

Arga melangkah masuk.

Kamar itu kecil.

Namun bersih.

Sangat rapi.

Tidak ada televisi besar, tidak ada sofa, tidak ada dekorasi mahal.

Hanya kebutuhan paling dasar.

Arga duduk, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Pada akhirnya ia melakukan satu-satunya hal yang selama bertahun-tahun paling ia kuasai.

Ia mengeluarkan sebuah map.

“Aku sudah mencari tahu tentang sekolah Raka.”

Maya menatap map itu tanpa ekspresi.

“Aku bisa memasukkannya ke sekolah swasta yang bagus. Semua biaya akan kutanggung.”

Tidak ada jawaban.

“Aku juga punya apartemen di Setiabudi. Kalian bisa tinggal di sana.”

Maya masih diam.

Arga mulai merasa semakin gugup.

“Kalau kamu tidak nyaman, aku bisa membeli tempat lain. Rumah kecil juga tidak masalah. Atau kos ini bisa direnovasi seluruhnya.”

Maya akhirnya tersenyum.

Bukan senyum bahagia.

Senyum pahit.

“Delapan tahun berlalu, kamu masih sama.”

Arga terdiam.

“Maksudmu?”

“Kamu selalu berpikir uang bisa memperbaiki semuanya.”

“Aku hanya ingin Raka hidup lebih baik.”

“Raka hidup baik.”

“Di tempat seperti ini?”

Mata Maya berubah tajam.

“Ya. Di tempat seperti ini.”

Arga sadar perkataannya telah terdengar merendahkan.

“Aku tidak bermaksud…”

Maya mendorong map itu kembali kepadanya.

“Delapan tahun lalu aku meninggalkan dua benda untukmu.”

Arga membeku.

“Sebuah hasil USG.”

Napasnya tercekat.

“Dan sebuah surat.”

Arga menatap Maya seperti baru saja dipukul.

“Aku tidak pernah menerima apa pun.”

“Aku tahu.”

“Kamu… sudah hamil?”

Maya tersenyum getir.

“Tiga bulan.”

Arga berdiri.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

“Aku memberitahumu.”

Maya menunjuk ke arah dadanya.

“Aku menulis semuanya di surat itu.”

“Aku tidak pernah melihatnya!”

“Kalau begitu tanyakan pada ibumu.”

Ruangan menjadi hening.

Arga merasakan darah di wajahnya menghilang.

“Ibu?”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Aku tidak ingin membuka semuanya lagi, Arga. Aku sudah terlalu lelah.”

“Maya, tunggu.”

“Pulanglah.”

“Aku berhak tahu tentang anakku.”

Maya menghela napas.

“Dan Raka berhak mendapatkan ayah yang hadir karena mencintainya, bukan karena baru mengetahui keberadaannya lalu merasa bersalah.”

Kalimat itu menusuk Arga.

Maya membuka pintu.

“Kalau kamu benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi, carilah surat itu.”

Arga pulang ke rumah dengan kepala penuh pertanyaan.

Ia menunggu sampai Ibu Ratna tidur siang.

Lalu ia mulai mencari.

Lemari kerja.

Brankas.

Laci dokumen.

Tidak ada.

Hingga matanya tertuju pada lemari kayu jati tua yang sejak dulu dilarang disentuh siapa pun.

Arga teringat bahwa ibunya pernah mengatakan lemari itu menyimpan peninggalan keluarga.

Ia membuka bagian bawahnya dengan kunci cadangan.

Di sana terdapat sebuah kotak kayu kecil.

Saat tutup kotak dibuka, dunia Arga seperti berhenti berputar.

Hasil USG.

Sebuah janin kecil.

Tanggal pemeriksaan sesuai dengan masa ketika ia masih koma.

Di bawahnya ada surat.

Tulisan tangan Maya.

Arga membacanya perlahan.

Setiap kalimat terasa seperti pisau.

Maya menulis bahwa dokter sempat mengatakan kemungkinan Arga bertahan hidup sangat kecil.

Ibu Ratna yang kehilangan suami sejak lama menjadi panik.

Dalam keputusasaan, ia mendatangi seseorang yang dianggap memahami primbon dan perhitungan weton.

Orang itu mengatakan Maya membawa ketidakcocokan nasib bagi Arga.

Tidak masuk akal.

Tidak ilmiah.

Namun bagi seorang ibu yang percaya putranya akan meninggal, ucapan bodoh sekalipun bisa berubah menjadi harapan terakhir.

Maya menulis bahwa Ibu Ratna berlutut di lorong rumah sakit.

Memohon agar ia pergi.

Memohon agar ia melepaskan Arga.

Maya sedang mengandung.

Ia tidak percaya pada ramalan itu.

Tetapi ia juga melihat seorang ibu yang hampir kehilangan kewarasannya.

Maya akhirnya pergi.

Ia meninggalkan surat dan hasil USG agar Arga mengetahui semuanya setelah sadar.

Namun ternyata Arga tidak pernah menerimanya.

Tangan Arga gemetar.

Dari belakang terdengar suara pelan.

“Arga…”

Ia menoleh.

Ibu Ratna berdiri di ambang pintu.

Ketika melihat kotak kayu terbuka, wajahnya langsung pucat.

Arga tidak marah.

Justru ketenangannya membuat suasana jauh lebih berat.

“Ibu menyembunyikannya?”

Ibu Ratna menangis.

“Aku takut.”

“Delapan tahun, Bu.”

“Aku takut kehilanganmu.”

“Delapan tahun Raka hidup tanpa ayah.”

Ibu Ratna menutupi wajah.

“Waktu itu dokter bilang kemungkinanmu kecil. Ibu sudah kehilangan ayahmu. Ibu tidak sanggup kehilanganmu juga.”

Arga menarik napas panjang.

“Jadi Ibu mengatakan Maya membawa uang kami dan meninggalkanku?”

Ibu Ratna mengangguk sambil menangis.

“Aku ingin kamu berhenti mencarinya.”

Arga menatap lantai.

Ia ingin marah.

Namun di depannya bukan penjahat.

Hanya seorang ibu yang dulu membuat keputusan mengerikan karena rasa takut.

Tetap salah.

Tetap menghancurkan kehidupan banyak orang.

Tetapi bukan karena kebencian.

Arga berlutut.

“Ibu.”

Ibu Ratna menangis semakin keras.

“Aku tidak akan membuang Ibu dari hidupku.”

Perempuan tua itu mengangkat kepala.

“Tapi aku juga tidak akan mengulangi kesalahan delapan tahun lalu.”

Arga memasukkan surat Maya ke saku dekat dadanya.

“Aku akan menjadi ayah bagi Raka.”

“Bagaimana dengan Maya?”

“Aku tidak tahu apakah dia masih mau menerima aku.”

Arga menelan ludah.

“Dan aku tidak punya hak memaksanya.”

Malam itu Arga pergi ke Cicaheum.

Namun ia tidak mengetuk pintu.

Ia hanya berdiri di ujung gang.

Dari jendela, ia melihat Maya sedang menidurkan Raka.

Saat itu ia sadar satu hal.

Ia tidak bisa datang sebagai miliarder.

Ia harus datang sebagai Arga.

Pria yang delapan tahun lalu pernah dicintai Maya.

Hari berikutnya ia kembali memakai kemeja sederhana.

Tanpa mobil mewah.

Tanpa map sekolah.

Tanpa uang.

Ia menemukan keran umum di kos bocor.

Arga memperbaikinya.

Dua hari kemudian, atap seng tetangga Maya bocor.

Arga membantu menggantinya.

Hari lain, Raka sedang berusaha membuat mainan dari bambu.

Arga duduk di sampingnya.

“Mau Om bantu?”

Raka menatapnya curiga.

“Om bisa?”

Arga tertawa.

“Dulu Om juga pernah miskin.”

“Masa?”

“Beneran.”

Raka menyipitkan mata.

“Sekarang Om kelihatannya tidak miskin.”

Arga tertawa.

“Sekarang memang tidak.”

Sejak hari itu, Raka mulai menunggu kedatangannya.

Arga mengajarinya membuat layang-layang.

Membantu mengerjakan matematika.

Mengantar Raka membeli buku bekas.

Maya tidak melarang.

Tetapi ia juga tidak pernah memberikan harapan.

Sampai suatu sore, setelah Arga selesai memperbaiki jendela, Maya meletakkan segelas bandrek di dekatnya.

“Minum.”

Arga menatap gelas itu.

Lalu Maya.

“Terima kasih.”

“Itu bukan berarti aku sudah memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan berharap semuanya kembali seperti dulu.”

“Aku juga tahu.”

Arga mengambil bandrek.

“Aku cuma ingin diberi kesempatan berada di dekat Raka.”

Maya terdiam.

“Aku tidak akan mengambilnya darimu,” lanjut Arga.

“Aku tidak akan mengganti sekolahnya tanpa persetujuanmu. Aku tidak akan memindahkan kalian. Aku tidak akan membuat keputusan apa pun tanpa bicara lebih dulu.”

Maya menatapnya lama.

“Kamu berubah.”

Arga tersenyum tipis.

“Mungkin baru mulai.”

Beberapa minggu kemudian, Maya akhirnya mengambil keputusan.

Suatu Minggu sore, ia memanggil Arga masuk.

Raka duduk di tengah kamar.

Wajahnya terlihat penasaran.

Maya berkata, “Raka, kamu pernah bertanya tentang ayahmu.”

Raka mengangguk.

Maya menatap Arga.

“Sekarang waktunya.”

Jantung Arga berdegup keras.

Ia berlutut di depan Raka.

“Raka.”

“Ya, Om?”

Arga menarik napas.

“Om bukan cuma Om Arga.”

Anak itu mengerutkan dahi.

“Aku ayahmu.”

Hening.

Raka menatap Maya.

Maya mengangguk perlahan.

“Benar.”

Raka kembali menatap Arga.

“Kenapa Ayah baru datang sekarang?”

Arga merasa matanya panas.

Ia tidak menyalahkan Ibu Ratna.

Tidak membebani anak tujuh tahun dengan kesalahan orang dewasa.

“Ayah tidak tahu kamu ada.”

Raka menunduk.

“Kalau tahu?”

“Ayah akan datang.”

“Sejak aku bayi?”

“Iya.”

“Benar?”

Arga mengangguk.

“Benar.”

Raka diam lama.

Kemudian bertanya sesuatu yang membuat dada Arga hampir runtuh.

“Ayah akan pergi lagi?”

Arga menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau Mama marah sama Ayah?”

“Ayah tetap akan menjadi ayahmu.”

“Kalau Ayah sibuk?”

“Ayah akan menyediakan waktu.”

“Kalau aku nakal?”

Arga tertawa kecil sambil mengusap air mata.

“Ayah mungkin marah sedikit.”

Raka tersenyum untuk pertama kalinya.

Kemudian perlahan-lahan ia mengulurkan tangan.

Arga menggenggamnya.

Hanya itu.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada musik.

Namun bagi Arga, genggaman kecil itu jauh lebih berharga daripada seluruh bisnis yang ia bangun.

Hari-hari berikutnya berubah.

Arga mulai mengantar Raka sekolah dua kali seminggu.

Kadang ia terlambat masuk rapat karena harus menunggu Raka menyelesaikan sarapan.

Dan anehnya, ia tidak pernah merasa lebih bahagia.

Di kantor, para direktur yang dulu mengenalnya sebagai bos dingin mulai melihat perubahan.

Arga lebih sering tersenyum.

Ia berhenti bekerja sampai tengah malam.

Ia bahkan memasang sebuah gambar buatan Raka di ruang kerjanya.

Gambar itu sederhana.

Tiga orang berdiri di bawah matahari.

Ada tulisan kecil:

Mama.

Aku.

Ayah.

Maya sendiri masih menjaga jarak.

Arga menghormatinya.

Ia tidak pernah meminta Maya kembali.

Tidak pernah bicara tentang pernikahan.

Sampai suatu malam Raka demam tinggi.

Maya panik.

Arga datang membawa mereka ke rumah sakit.

Sepanjang malam ia tidak pergi.

Ia duduk di samping tempat tidur Raka, mengganti kompres, membacakan cerita, dan sesekali tertidur di kursi.

Menjelang subuh, Maya keluar dari kamar setelah membeli kopi.

Ia melihat Arga tertidur sambil menggenggam tangan Raka.

Ada sesuatu yang perlahan melunak dalam hatinya.

Bukan karena kekayaan Arga.

Bukan karena janji.

Tetapi karena pria itu hadir.

Ketika Raka pulih, Maya berkata, “Terima kasih.”

Arga menjawab, “Dia anakku.”

Maya menatapnya.

“Dulu aku sering membayangkan bagaimana rasanya kalau kamu ada saat dia sakit.”

Arga menunduk.

“Maaf.”

Untuk pertama kalinya, Maya tidak menjawab dengan dingin.

“Aku tahu sekarang kamu juga korban.”

“Tapi itu tidak menghapus delapan tahun yang kamu jalani sendiri.”

“Tidak.”

“Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memperbaiki bagian yang masih bisa diperbaiki.”

Maya tersenyum kecil.

“Kedengarannya seperti proposal bisnis.”

Arga tertawa.

“Maaf. Kebiasaan.”

Beberapa hari setelah itu, Ibu Ratna datang ke Cicaheum.

Ia tidak memakai perhiasan.

Tidak membawa sopir masuk ke gang.

Ia berjalan sendiri.

Saat melihat Maya, perempuan tua itu langsung menangis.

“Maya.”

Maya terdiam.

Ibu Ratna menundukkan kepala.

“Ibu tidak meminta kamu melupakan semuanya.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Ibu hanya ingin meminta maaf.”

Maya menggenggam tangannya sendiri.

“Ibu mengambil delapan tahun dari hidup kami.”

“Iya.”

“Anda membuat Arga membenci saya.”

“Iya.”

“Anda membuat anak saya tumbuh tanpa ayah.”

Ibu Ratna mengangguk.

“Iya.”

Ia tidak membela diri.

Tidak mencari alasan.

“Aku salah.”

Maya memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, Raka keluar.

Ia melihat Ibu Ratna.

“Ini siapa?”

Maya membuka mata.

Lalu berkata pelan.

“Ini nenekmu.”

Ibu Ratna menutup mulut, menahan tangis.

Raka menatapnya.

“Nenek?”

“Ya.”

“Bawa makanan?”

Arga yang baru datang dari ujung gang hampir tertawa.

Ibu Ratna buru-buru membuka tas.

“Ada brownies kukus.”

Mata Raka langsung berbinar.

“Nenek boleh masuk.”

Maya tidak bisa menahan senyum.

Sejak hari itu, Ibu Ratna mulai datang setiap akhir pekan.

Hubungannya dengan Maya tidak langsung pulih.

Kadang suasana masih canggung.

Tetapi sedikit demi sedikit, luka lama menemukan ruang untuk bernapas.

Enam bulan kemudian, Arga membeli sebuah rumah kecil di kawasan yang tidak terlalu jauh dari sekolah Raka.

Bukan vila.

Bukan rumah mewah.

Rumah sederhana dengan halaman kecil.

Namun Arga tidak memberikan rumah itu kepada Maya.

Ia justru berkata, “Aku ingin membeli ini untuk Raka. Atas nama dia nanti ketika waktunya tepat.”

Maya menatapnya.

“Kenapa bukan apartemen mewahmu?”

“Karena dia suka main di halaman.”

Maya tersenyum.

“Dan?”

“Karena dekat sekolah.”

“Dan?”

Arga menggaruk kepala.

“Karena… kalau kalian tinggal terlalu jauh, aku susah cari alasan untuk sering datang.”

Maya tertawa.

Tawa yang sudah delapan tahun tidak didengar Arga.

Ia terpaku.

Maya menyadarinya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Bohong.”

“Aku lupa suara tawamu.”

Senyum Maya perlahan menghilang, digantikan tatapan lembut.

“Arga.”

“Ya?”

“Aku belum bisa kembali menjadi Maya yang dulu.”

“Aku tidak memintamu.”

“Aku sudah berubah.”

“Aku juga.”

Maya menatapnya cukup lama.

“Kalau begitu mungkin…”

Arga menahan napas.

“Kita mulai dari awal.”

Bukan kembali.

Mulai dari awal.

Kalimat itu terasa jauh lebih indah.

Setahun kemudian, di halaman rumah kecil itu, tidak ada pesta besar.

Tidak ada ballroom hotel.

Tidak ada ratusan tamu.

Hanya keluarga dekat dan beberapa tetangga.

Raka berdiri di antara Arga dan Maya dengan kemeja putih kecil.

Ibu Ratna duduk di barisan depan sambil menangis tanpa henti.

Setelah melalui proses resmi dan pembicaraan panjang, Arga dan Maya memutuskan menikah kembali.

Bukan untuk mengulang masa lalu.

Tetapi untuk membangun sesuatu yang baru.

Saat acara selesai, Raka berlari menghampiri mereka.

“Sekarang Mama tidak boleh suruh Ayah pulang lagi, kan?”

Semua orang tertawa.

Maya mencubit pipi anaknya.

“Banyak sekali maumu.”

Arga memeluk Raka.

“Sekarang Ayah memang tidak mau pulang ke mana-mana.”

Malam turun di Bandung.

Udara dingin datang dari arah Lembang.

Mereka duduk bertiga di teras.

Raka tiba-tiba mulai bersenandung.

Melodi yang sama.

Melodi tanpa nama yang pernah menyatukan Arga dan Maya ketika mereka masih miskin.

Arga ikut bernyanyi.

Maya memandang keduanya lalu tertawa.

“Kalian berdua tetap salah nada.”

Raka protes.

“Ayah yang ngajarin!”

“Berarti sumber masalahnya jelas.”

Arga tertawa.

Ia meraih tangan Maya.

Kali ini perempuan itu tidak menariknya.

Dari dalam rumah, Ibu Ratna memandang mereka sambil tersenyum.

Delapan tahun sebelumnya, rasa takut telah membuat keluarga itu tercerai-berai.

Kini bukan uang yang menyatukan mereka kembali.

Bukan rumah mewah.

Bukan bisnis bernilai triliunan rupiah.

Melainkan keberanian untuk mengakui kesalahan.

Kesabaran untuk memperbaikinya.

Dan kesediaan untuk hadir setiap hari, bahkan ketika tidak ada jaminan bahwa seseorang akan memaafkan.

Arga akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan dunia bisnis kepadanya.

Uang bisa membeli rumah.

Tetapi tidak bisa membeli rasa pulang.

Uang bisa membayar sekolah terbaik.

Tetapi tidak bisa menggantikan tangan seorang ayah yang menggandeng anaknya di hari pertama masuk kelas.

Uang bisa membeli ribuan hadiah.

Tetapi tidak dapat membeli kembali delapan tahun yang hilang.

Yang bisa dilakukan manusia hanyalah menjaga hari-hari yang masih tersisa.

Arga menatap Maya.

Maya menatap Raka.

Dan untuk pertama kalinya setelah begitu lama, mereka tidak lagi berbicara tentang masa lalu.

Di bawah gerimis lembut Bandung, keluarga kecil itu akhirnya memiliki masa depan.