Perawat yang Merawat Miliarder Hilang Ingatan – Kalimat Pertama yang Ia Ucapkan Saat Sadar Membuatnya Menangis

Avatar penulis
Cerita 01
21 menit baca 692 tayangan
Perawat yang Merawat Miliarder Hilang Ingatan – Kalimat Pertama yang Ia Ucapkan Saat Sadar Membuatnya Menangis
Indeks

Perawat yang Merawat Miliarder Hilang Ingatan – Kalimat Pertama yang Ia Ucapkan Saat Sadar Membuatnya Menangis

Sebuah tamparan keras terdengar di tengah lorong ruang VIP Rumah Sakit Internasional Mahardika, salah satu rumah sakit swasta ternama di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Suara tajam itu membuat seluruh lorong yang tadinya tenang mendadak membisu.

“Perawat miskin sepertimu bekerja seumur hidup pun belum tentu mampu membayar biaya rawat inapnya selama seminggu. Kalau masih tahu diri, jauhi dia sebelum kubuat tidak ada satu pun rumah sakit di Jakarta yang berani menerimamu bekerja.”

Perempuan dengan gaun merah mewah itu mendesis pada setiap kata yang diucapkannya.

Namanya Karina Mahendra.

Perawat yang Merawat Miliarder Hilang Ingatan – Kalimat Pertama yang Ia Ucapkan Saat Sadar Membuatnya Menangis

Kuku-kukunya yang dicat merah masih gemetar karena marah.

Semua orang yang berdiri di sekitar sana mengira perawat yang baru saja ditampar itu akan menangis, atau setidaknya menundukkan kepala dan meminta maaf demi mempertahankan pekerjaannya.

Namun gadis itu tidak melakukan apa pun seperti yang mereka bayangkan.

Ia hanya mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, membungkuk untuk memunguti lembar demi lembar rekam medis yang berjatuhan di lantai marmer, merapikannya hingga kembali lurus, lalu diam-diam masuk ke kamar nomor 402.

Namanya Ayu Lestari.

Usianya dua puluh lima tahun.

Sudah tiga tahun ia bekerja sebagai perawat.

Dan di balik pintu kamar itu terbaring seorang pria yang namanya pernah cukup untuk membuat para pelaku dunia keuangan Indonesia berhati-hati.

Arga Wijaya.

Presiden Direktur Wijaya Nusantara Group.

Seorang pria yang pernah memimpin puluhan perusahaan, memiliki saham senilai ribuan miliar rupiah, dan sering muncul di berbagai majalah bisnis ternama Jakarta.

Namun semuanya berubah setelah sebuah kecelakaan mobil enam bulan lalu.

Arga selamat, tetapi cedera otak berat membuat ingatannya kacau. Ia hampir tidak bisa berkomunikasi, nyaris tidak menunjukkan respons jelas terhadap orang-orang di sekitarnya, dan harus bergantung pada berbagai alat bantu medis.

Para dokter menyebut kondisinya sebagai keadaan kesadaran minimal dengan prognosis yang sangat buruk.

Keluarganya hampir tidak pernah datang lagi.

Satu-satunya orang yang rutin mewakili keluarga untuk berurusan dengan pihak rumah sakit adalah Karina Mahendra, tunangan Arga sekaligus orang yang saat ini mengendalikan sebagian besar operasional perusahaan untuk sementara.

Malam itu, hujan mengguyur Jakarta dengan sangat deras.

Menjelang pukul sebelas malam, air hujan terus menghantam jendela-jendela besar rumah sakit.

Ayu masuk ke kamar 402 setelah hampir empat belas jam bekerja tanpa henti.

Seragam biru mudanya menempel di punggung karena keringat. Beberapa helai rambut yang sebelumnya terikat rapi sudah terlepas dan menempel di dahinya.

Namun seperti hari-hari sebelumnya, ia tetap memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, dan infus Arga satu per satu dengan teliti.

Bekas tamparan di pipinya masih terasa panas.

Semua itu bermula beberapa jam sebelumnya.

Karina datang ke rumah sakit bersama sekretarisnya, dua anggota dewan direksi, dan sebuah tim media.

Begitu masuk ke kamar, wajahnya langsung menunjukkan rasa tidak suka.

“Bau apa ini?”

Ayu menjawab dengan tenang.

“Bu Karina, itu bau cairan antiseptik dan obat yang sedang digunakan. Dokter Bima sudah meminta agar tidak memakai pengharum ruangan karena saluran pernapasan Pak Arga sangat sensitif.”

Karina langsung menoleh tajam.

“Kamu sedang mengajariku?”

“Tidak, Bu. Saya hanya menjalankan instruksi dokter.”

“Saya membayar puluhan juta rupiah setiap hari agar dia dirawat di ruang VIP ini. Sore ini media akan datang. Saya tidak mau ruangan ini berbau rumah sakit seperti ini.”

Ayu tetap berdiri di tempatnya.

“Kalau dokter yang menangani mengizinkan, saya akan melakukannya. Tapi selama belum ada persetujuan, saya tidak bisa memasukkan bahan pewangi kimia ke dalam kamar.”

Tamparan itu mendarat tepat setelah kalimat tersebut selesai.

Tubuh Ayu terhuyung.

Berkas-berkas medis berhamburan.

Sudut bibirnya pecah dan berdarah.

Namun ia tetap tidak melakukan apa yang diminta Karina.

Dokter Bima Prasetyo, kepala unit perawatan intensif, bergegas datang setelah mendengar keributan.

Ia memandang darah di bibir Ayu, lalu menatap Karina dengan wajah tegang.

Namun di hadapan seorang perempuan yang mewakili keluarga pasien VIP sekaligus memiliki pengaruh besar terhadap dana bantuan dan kerja sama rumah sakit, bahkan dirinya hanya bisa berusaha meredakan keadaan.

Ayu tidak menangis.

Ia pernah mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan.

Tiga tahun lalu, ayahnya meninggal di sebuah rumah sakit kecil di Jawa Tengah setelah menderita penyakit berat.

Saat itu keluarga Ayu tinggal di dekat Klaten.

Mereka sudah meminjam uang ke banyak kerabat, menggadaikan sepeda motor tua dan sebidang sawah kecil di belakang rumah, tetapi tetap tidak mampu menutup seluruh biaya pengobatan yang terus bertambah.

Setelah ayahnya meninggal, utang itu masih tersisa.

Ayu kemudian pergi ke Jakarta untuk bekerja.

Setiap menerima gaji, hal pertama yang dilakukannya adalah mengirim sebagian uang kepada ibunya di kampung melalui transfer bank. Sisanya digunakan untuk membayar kamar kos, makan sehari-hari, dan cicilan utang.

Ada bulan-bulan ketika ia hampir hanya bertahan dengan nasi bungkus dari warung kecil di dekat rumah sakit.

Karena itulah Ayu sangat memahami bagaimana rasanya ketika nyawa seseorang seolah ditimbang dengan uang.

Ia menarik selimut agar menutupi tubuh Arga dengan lebih baik.

“Hari ini hujan besar sekali di Jakarta, Pak Arga.”

Tidak ada respons.

Ayu tersenyum.

Ia memang sering berbicara seperti itu kepada Arga.

“Jalanan di Kemang mungkin sudah banjir lagi. Nanti waktu pulang kerja, mungkin saya harus mendorong motor melewati genangan.”

Dengan lembut ia memijat jari-jari Arga agar ototnya tidak mengalami kekakuan.

“Dokter Bima bilang besok obat Bapak akan disesuaikan lagi. Jadi Bapak harus terus berjuang.”

Sunyi.

Ayu memandang wajah pria di hadapannya.

Meskipun sudah setengah tahun terbaring di rumah sakit, garis wajah Arga masih terlihat tegas. Hanya kulitnya yang pucat dan tubuhnya yang jauh lebih kurus.

Ayu berkata pelan.

“Ayah saya dulu juga pernah lama terbaring tanpa bisa bergerak. Semua orang bilang beliau tidak bisa mendengar apa-apa, tapi saya tetap berbicara dengannya setiap hari.”

Suaranya semakin pelan.

“Saya selalu percaya bahwa orang yang terbaring di ranjang rumah sakit bisa mendengar lebih banyak daripada yang kita kira.”

Ia menggenggam tangan dingin Arga.

“Jadi, jangan menyerah.”

Ayu meletakkan kembali tangan Arga di atas kasur, lalu berdiri untuk memeriksa kantong infus.

Namun tepat ketika ia membalikkan badan, sebuah tarikan yang sangat lemah menahan ujung bajunya.

Tubuh Ayu langsung membeku.

Ia berbalik.

Jari-jari Arga sedang gemetar.

Pria itu sedang menggenggam ujung seragamnya.

“Pak Arga?”

Alat pengukur tekanan darah di tangan Ayu terjatuh.

Mata Arga yang selama ini hampir selalu tampak kosong kini sedang menatap lurus ke arahnya.

Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.

Bibirnya bergerak.

Ayu segera membungkuk mendekat.

“Bapak mau mengatakan sesuatu?”

Ia hendak menekan tombol panggil dokter, tetapi tangan Arga tiba-tiba menggenggam seragamnya sedikit lebih erat.

Tidak kuat.

Namun cukup jelas bahwa ia tidak ingin Ayu memanggil orang lain.

Ayu mendekatkan telinganya ke bibir Arga.

Kemudian terdengarlah suara serak yang sangat lemah keluar dari tenggorokannya.

Suara serak itu begitu lemah hingga Ayu nyaris mengira dirinya hanya berhalusinasi karena kelelahan.

“Jangan… menangis.”

Ayu membeku.

Matanya membesar.

Selama enam bulan, Arga hampir tidak pernah mengeluarkan satu kata pun yang bisa dipahami. Bahkan dokter-dokter terbaik yang didatangkan Karina dari Singapura dan Jakarta hanya mengatakan bahwa kemungkinan fungsi kesadarannya pulih sepenuhnya sangat kecil.

Namun sekarang, pria itu baru saja berbicara kepadanya.

Ayu menahan napas.

“Pak Arga… Bapak mendengar saya?”

Bibir Arga bergerak lagi.

Butuh waktu beberapa detik sebelum suara berikutnya keluar.

“Terima kasih…”

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya.

Kemudian tatapan Arga berubah.

Ada ketakutan di sana.

Bukan kebingungan seorang pasien.

Bukan tatapan kosong seseorang yang kehilangan ingatan.

Melainkan ketakutan seorang pria yang selama berbulan-bulan sadar bahwa hidupnya berada di tangan orang-orang yang ingin melihatnya mati.

“Mereka…”

Napas Arga tersendat.

“Mereka ingin saya mati.”

Kalimat itu menghantam Ayu lebih keras daripada tamparan Karina beberapa jam sebelumnya.

Gadis yang tadi berdiri tanpa menangis ketika wajahnya dipukul di depan banyak orang, kini justru menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air matanya mengalir deras.

Bukan karena sakit di pipinya.

Bukan pula karena penghinaan.

Ia menangis karena membayangkan betapa mengerikannya kehidupan Arga selama enam bulan terakhir.

Mendengar.

Melihat.

Menyadari semuanya.

Tetapi tidak mampu berteriak meminta pertolongan.

Ayu menggenggam tangan Arga.

“Saya di sini, Pak.”

Suaranya gemetar.

“Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Bapak.”

Mata Arga perlahan menutup.

Tubuhnya terlalu lemah.

Beberapa detik kemudian, monitor jantung kembali menunjukkan irama yang stabil.

Namun malam itu mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Ayu tidak lagi melihat Arga hanya sebagai pasien yang membutuhkan perawatan.

Ia melihat seorang manusia yang sedang terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.

Dan seseorang sedang menunggu kesempatan untuk menghabisinya.

Hari-hari berikutnya Ayu menjadi jauh lebih berhati-hati.

Ia tidak memberi tahu siapa pun bahwa Arga sudah bisa berbicara.

Bahkan kepada Dokter Bima sekalipun.

Bukan karena ia tidak percaya kepada dokter itu, melainkan karena Ayu belum tahu seberapa jauh pengaruh Karina di rumah sakit.

Di depan kamera pengawas, Arga tetap berpura-pura tidak sadar.

Ketika jarinya bergerak, Ayu menutupi tangannya dengan selimut.

Ketika matanya mengikuti suara orang tertentu, Ayu berdiri di depan kamera sambil berpura-pura memeriksa infus.

Setiap malam, ketika lorong mulai sepi, mereka mencoba berkomunikasi.

Arga belum mampu berbicara panjang.

Terkadang hanya satu atau dua kata.

Tetapi setiap hari kemampuan itu membaik.

Suatu malam, Ayu berbisik,

“Pak Arga, apakah Bapak ingat kecelakaannya?”

Arga menatap langit-langit.

Wajahnya menegang.

“Sedikit.”

“Ada orang lain?”

“Sopir.”

“Pak Darto?”

Arga mengangguk sangat pelan.

“Rem…”

Ayu menahan napas.

“Rem mobil bermasalah?”

Arga memejamkan mata.

Kemudian berbisik,

“Bukan… kecelakaan.”

Jantung Ayu terasa jatuh.

Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi tidak berani memaksa.

Tubuh Arga belum cukup kuat.

Beberapa hari kemudian, Ayu menemukan sesuatu yang membuat kecurigaannya semakin besar.

Dokter Bima meninggalkan setumpuk dokumen keuangan rumah sakit di meja kamar 402 setelah dipanggil menangani keadaan darurat.

Dokumen itu berkaitan dengan penghematan biaya ICU.

Beberapa angka dicoret berulang kali.

Dokter Bima sudah berhari-hari mencari cara agar rumah sakit bisa menghemat anggaran tanpa mengurangi kualitas perawatan pasien.

Saat Ayu kembali satu jam kemudian, sebuah garis tinta biru muncul di atas halaman tersebut.

Beberapa angka telah diubah.

Ada catatan kecil mengenai penggunaan dana cadangan dan rotasi persediaan obat antarunit.

Ayu menatap halaman itu.

Lalu melihat tangan Arga.

Di ujung telunjuknya terdapat noda tinta biru.

“Bapak yang melakukan ini?”

Arga tidak menjawab.

Namun sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Untuk pertama kalinya Ayu menyadari bahwa pria yang terbaring di hadapannya bukan hanya seorang pengusaha kaya.

Arga memiliki pikiran yang luar biasa tajam.

Malam itu, Ayu mencari informasi tentang dirinya melalui komputer rumah sakit.

Ia menemukan banyak artikel lama.

Arga pernah menyelamatkan beberapa perusahaan besar dari kebangkrutan.

Ia dikenal mampu melihat transaksi mencurigakan hanya dari laporan keuangan yang sangat rumit.

Beberapa media menjulukinya sebagai salah satu otak paling tajam dalam dunia restrukturisasi bisnis Indonesia.

Ayu menatap foto lama Arga dalam setelan jas hitam.

Sulit mempercayai bahwa pria penuh percaya diri di layar komputer itu adalah orang yang sekarang tidur tak berdaya di kamar 402.

Namun ada satu hal yang membuat Ayu tersenyum.

Arga sedang kembali.

Sedikit demi sedikit.

Dan mungkin itulah alasan sebenarnya mengapa seseorang begitu takut ia sadar.

Ketakutan Ayu terbukti seminggu kemudian.

Karina datang bersama tim media dan beberapa petinggi Wijaya Nusantara Group.

Di depan kamera, ia memegang tangan Arga sambil menangis.

“Sayang, kamu harus bertahan. Semua orang menunggumu pulang.”

Ayu berdiri di sudut ruangan.

Ia melihat sesuatu yang tidak ditangkap kamera.

Jari Karina menekan keras pergelangan Arga.

Begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.

Arga tidak bereaksi.

Namun Ayu melihat otot rahangnya menegang.

Setelah sesi foto selesai, Direktur Hendra memberikan selembar kertas kepada Ayu.

“Bacakan ini kepada wartawan.”

Ayu melihat isinya.

Di sana tertulis bahwa Arga hampir tidak memiliki peluang untuk pulih dan perawatan lebih lanjut hanya memperpanjang penderitaannya.

Ayu menatap Hendra.

“Ini bukan kesimpulan tim medis.”

Hendra mendekat.

“Jangan banyak bertanya. Bacakan saja.”

Ketika mikrofon diarahkan kepadanya, Ayu menyimpan kertas itu ke dalam saku.

“Sebagai perawat yang merawat Pak Arga setiap hari, saya hanya bisa mengatakan bahwa kondisinya masih terus dipantau.”

Karina langsung menatapnya tajam.

Ayu melanjutkan,

“Selama tanda-tanda vitalnya stabil dan masih ada respons neurologis, kami tidak berhak menyatakan bahwa hidup seseorang sudah tidak memiliki harapan.”

Ruangan mendadak sepi.

Karina tersenyum kaku di depan kamera.

Tetapi Ayu tahu ia baru saja menjadikan dirinya musuh.

Benar saja.

Sore harinya Ayu mendengar Karina berbicara dengan seorang pengacara bernama Surya Adinata di tangga darurat.

“Dokumen kuasa medis sudah selesai?”

“Sudah.”

“Dan wasiat?”

“Sudah dibuat agar terlihat sah.”

Karina menghela napas.

“Bagus. Akhir minggu ini semuanya harus selesai.”

Ayu menahan napas di balik pintu.

Surya berkata,

“Begitu dokter menyatakan tidak ada kemungkinan pulih, keputusan menghentikan terapi akan lebih mudah dibenarkan.”

“Setelah itu sahamnya?”

“Bisa kita urus.”

Darah Ayu terasa membeku.

Mereka benar-benar ingin membunuh Arga tanpa terlihat seperti pembunuhan.

Malam itu Ayu kembali ke kamar 402.

Ia menggenggam tangan Arga erat-erat.

“Mereka sedang menyiapkan dokumen untuk menghentikan perawatan Bapak.”

Mata Arga terbuka.

Ayu berbisik,

“Saya akan mencari cara. Bapak jangan menyerah.”

Arga menatapnya lama.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Ayu…”

Itu pertama kalinya ia menyebut nama gadis itu.

Ayu hampir menangis lagi.

“Ya?”

“Pergi.”

Ayu menggeleng.

“Tidak.”

“Berbahaya.”

“Saya tahu.”

“Kenapa?”

Ayu terdiam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Karena saya seorang perawat.”

Arga menatapnya.

Ayu menambahkan,

“Dan karena waktu Bapak tidak bisa meminta tolong kepada siapa pun, Bapak tetap berusaha mengatakan kepada saya bahwa mereka ingin membunuh Bapak. Setelah mendengar itu, bagaimana mungkin saya pura-pura tidak tahu?”

Arga menutup mata.

Namun satu tetes air mata mengalir di pelipisnya.

Keesokan paginya, jebakan datang.

Karina menuduh Ayu mencuri jam saku perak milik ibu Arga.

Jam itu ditemukan di dalam loker Ayu.

Semua orang langsung memandangnya dengan curiga.

Karina berkata,

“Kamu miskin. Kamu punya utang. Motifmu jelas.”

Ayu tidak panik.

Ia menunjuk jam tersebut.

“Kalau saya mencurinya, kenapa saya menyimpannya di loker rumah sakit?”

Tidak ada jawaban.

Ayu melanjutkan,

“Silakan panggil polisi. Periksa sidik jari. Periksa kamera. Saya tidak pernah membuka brankas pribadi Pak Arga.”

Wajah Karina berubah sesaat.

Tetapi ia segera menekan pihak rumah sakit.

Ayu akhirnya dilarang masuk ICU dan dipindahkan sementara ke bagian laundry.

Malam pertama di ruang bawah tanah, Ayu duduk di antara suara mesin cuci industri.

Tangannya merah karena deterjen.

Ia menatap langit-langit.

Di atas sana, beberapa lantai lebih tinggi, Arga sendirian.

Dua hari.

Tiga hari.

Ayu akhirnya tidak tahan.

Pukul dua dini hari, ia mengenakan kembali seragam perawat dan diam-diam naik melalui tangga darurat.

Dokter Bima melihatnya.

Bukannya menghentikan, ia hanya berkata pelan,

“Lima belas menit.”

Ayu terkejut.

Dokter Bima menatapnya.

“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi saya tahu seorang perawat tidak akan mempertaruhkan kariernya seperti ini tanpa alasan.”

Ayu hampir menangis.

“Terima kasih, Dok.”

Malam demi malam ia kembali.

Arga semakin kuat.

Ia mulai bisa menggerakkan tangan.

Kemudian suatu malam ia mampu duduk beberapa detik dengan bantuan Ayu.

“Kita harus punya bukti,” kata Ayu.

Arga mengangguk.

“Ada…”

“Apa?”

“Jas.”

“Jas Bapak?”

“Waktu kecelakaan.”

Ayu mengingat sebuah kotak barang pribadi lama di sudut gudang kecil kamar VIP.

Ia membuka kotak itu.

Di sana terdapat pakaian Arga dari malam kecelakaan.

Jasnya robek dan penuh noda darah lama.

Ketika Ayu memeriksa lapisan dalamnya, ia menemukan jahitan yang berbeda.

Dengan hati-hati ia membukanya.

Sebuah buku catatan kecil berwarna hitam jatuh.

Ayu membuka halaman pertama.

Tangannya mulai gemetar.

Di sana tercatat transaksi bernilai ratusan miliar rupiah.

Nama perusahaan.

Nomor rekening.

Tanggal transfer.

Dan dua nama yang muncul berulang kali.

Karina Mahendra.

Surya Adinata.

Di halaman terakhir tertulis catatan Arga:

Jika sesuatu terjadi padaku, periksa rem mobil, transaksi Aruna Holdings, dan komunikasi Karina dengan Surya.

Ayu menatap Arga.

“Ini cukup untuk membuka penyelidikan.”

Arga mengangguk.

“Dimas.”

“Siapa?”

“Dimas Hartono. Pengacara pribadi saya.”

Ayu mencatat namanya.

Keesokan harinya, saat libur, Ayu mencari kantor Dimas.

Awalnya resepsionis menolaknya.

Namun ketika Ayu menyebut buku hitam Arga, Dimas keluar sendiri.

Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu membawa Ayu masuk ke ruangannya.

Setelah melihat beberapa halaman, wajahnya berubah drastis.

“Dari mana Anda mendapat ini?”

Ayu menceritakan semuanya.

Dimas berdiri dan berjalan ke jendela.

“Pak Arga sebenarnya sudah mencurigai kebocoran dana sebelum kecelakaan.”

Ayu terkejut.

“Bapak tahu?”

“Sebagian.”

Dimas membuka sebuah brankas.

Ia mengeluarkan flash drive.

“Pak Arga pernah meminta saya menyimpan salinan beberapa dokumen penting. Ia bilang jangan membukanya kecuali sesuatu terjadi kepadanya.”

“Kenapa Bapak tidak bertindak selama enam bulan?”

“Karena saya tidak tahu apakah kecelakaannya terkait. Karina juga berhasil mengisolasi hampir semua orang dekat Arga. Saya bahkan beberapa kali ditolak ketika mencoba menjenguk.”

Dimas menatap Ayu.

“Sekarang kita punya alasan untuk bergerak.”

Mereka menghubungi penyidik.

Tetapi Dimas meminta Ayu tidak kembali ke rumah sakit.

“Mulai sekarang terlalu berbahaya.”

Ayu mengangguk.

Namun malam itu ia tetap kembali.

Karena ia tahu Arga sedang menunggunya.

Kesalahan itu hampir membunuh mereka berdua.

Sekitar pukul tiga pagi, listrik di koridor VIP tiba-tiba padam beberapa detik.

Dua orang berpakaian medis masuk ke kamar 402.

Ayu melihat salah satu dari mereka mendekati infus Arga dengan sebuah alat suntik.

“Hei!”

Pria itu terkejut.

Ayu berlari.

Ia mendorong tangan pria tersebut.

Suntikan jatuh.

Orang kedua menarik Ayu dari belakang.

Tubuhnya terhempas ke lantai.

“Pergi!”

Ayu berteriak kepada Arga, meski tahu pria itu belum mampu berjalan.

Salah satu penyerang mencoba mendekati tempat tidur.

Ayu bangkit dan memeluk tubuh Arga, menjadikan dirinya pelindung.

Sebuah pukulan menghantam bahunya.

Ia menjerit.

Namun tangannya berhasil meraih tombol alarm.

Suara sirene darurat memecah kesunyian.

Kedua pria itu melarikan diri.

Dokter Bima dan beberapa petugas keamanan berlari masuk.

Mereka menemukan Ayu di lantai.

Tangannya masih menggenggam selimut Arga.

“Ayu!”

Dokter Bima berlutut.

Sebelum kehilangan kesadaran, Ayu hanya berkata,

“Jangan tinggalkan Pak Arga sendirian.”

Ketika sadar, Ayu berada di kamar perawatan.

Dimas duduk di sampingnya.

“Orang-orang itu tertangkap.”

Ayu terkejut.

“Apa?”

“Petugas sudah berjaga di area luar rumah sakit sejak sore. Salah satu dari mereka ditangkap di parkiran.”

“Pak Arga?”

“Aman.”

Ayu menutup mata lega.

Dimas tersenyum.

“Dan saya rasa ada seseorang yang ingin menemui Anda.”

Pintu terbuka.

Dokter Bima masuk mendorong kursi roda.

Di atasnya duduk Arga.

Ayu terdiam.

Untuk pertama kalinya ia melihat Arga berada di luar kamar 402.

Masih kurus.

Masih lemah.

Tetapi matanya hidup.

“Ayu.”

Suara Arga belum kuat.

Namun kali ini jelas.

Ayu langsung menangis.

Arga tersenyum.

“Sudah saya bilang… jangan menangis.”

Ayu tertawa sambil menghapus air matanya.

“Bapak juga pernah bilang saya harus pergi.”

“Untung kamu keras kepala.”

Beberapa hari berikutnya, semuanya bergerak cepat.

Kesaksian pelaku yang tertangkap mengarah kepada seorang perantara.

Catatan keuangan Arga diperiksa.

Dokumen Dimas dibandingkan dengan transaksi perusahaan.

Polisi kemudian memanggil Karina dan Surya untuk pemeriksaan.

Pada awalnya Karina menyangkal semuanya.

Ia mengklaim Ayu memanipulasi Arga demi uang.

Tetapi tuduhan itu runtuh ketika bukti digital, transaksi keuangan, dan komunikasi antara Surya dengan beberapa pihak mulai ditemukan.

Lebih buruk lagi bagi mereka, salah satu orang yang sebelumnya bekerja sebagai sopir cadangan perusahaan akhirnya memberikan kesaksian bahwa kendaraan Arga pernah dibawa ke bengkel tanpa sepengetahuan Arga beberapa hari sebelum kecelakaan.

Penyelidikan berkembang.

Karina dan Surya ditetapkan sebagai tersangka dalam beberapa perkara berbeda.

Direktur Hendra juga diperiksa karena dugaan manipulasi dokumen rumah sakit.

Semua itu tidak langsung selesai dalam sehari.

Ada pemeriksaan panjang.

Audit.

Persidangan.

Tetapi satu hal sudah berubah.

Arga tidak lagi sendirian.

Enam bulan kemudian, ia mampu berjalan tanpa kursi roda.

Satu tahun kemudian, ia kembali memasuki kantor pusat Wijaya Nusantara Group.

Namun Arga yang kembali bukan pria yang sama seperti sebelum kecelakaan.

Ia merombak perusahaan.

Beberapa petinggi yang terlibat permainan Karina diberhentikan.

Sistem audit diperketat.

Dan untuk pertama kalinya, perusahaan membangun sebuah yayasan kesehatan.

Modal awalnya Rp300 miliar.

Nama yayasan itu membuat Ayu terdiam saat melihat dokumennya.

Yayasan Darma Lestari.

Darma adalah nama ayah Ayu.

“Kenapa nama ayah saya?”

Ayu bertanya.

Arga berdiri di dekat jendela kantornya.

“Karena dulu ayahmu pergi ketika keluargamu tidak punya cukup pilihan.”

Ayu menunduk.

Arga melanjutkan,

“Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita bisa membuat keluarga lain punya kesempatan yang dulu tidak kalian miliki.”

Yayasan itu membantu pasien dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan biaya darurat di luar perlindungan yang mereka miliki.

Ayu ditawari menjadi salah satu penasihat program.

Ia langsung menolak.

“Saya perawat, Pak Arga. Saya tidak mengerti perusahaan besar.”

Arga tersenyum.

“Bagus.”

Ayu mengerutkan dahi.

“Bagus?”

“Saya tidak mencari orang perusahaan. Saya mencari orang yang tahu bagaimana rasanya berdiri di samping pasien ketika uang mulai menentukan siapa yang punya pilihan.”

Ayu terdiam.

Akhirnya ia menerima.

Bukan sebagai hadiah.

Bukan sebagai balasan.

Melainkan sebagai pekerjaan.

Beberapa bulan kemudian, Arga datang ke Klaten.

Tidak dengan rombongan mobil mewah.

Tidak dengan wartawan.

Hanya bersama Dimas dan seorang sopir.

Ia mengunjungi rumah sederhana tempat ibu Ayu tinggal.

Ibu Ayu hampir menjatuhkan nampan teh ketika mengetahui siapa tamunya.

“Jadi… ini pasien yang dulu Ayu ceritakan?”

Arga tersenyum.

“Dulu saya pasiennya, Bu.”

Ibu Ayu memandang putrinya.

“Sekarang?”

Ayu langsung tersedak teh.

“Bu!”

Arga tertawa.

Malam itu mereka makan bersama.

Nasi hangat.

Ayam goreng.

Sayur lodeh.

Sambal buatan ibu Ayu.

Tidak ada restoran mahal.

Tidak ada ruang VIP.

Namun Arga merasa itu salah satu makan malam paling damai yang pernah ia alami.

Sebelum pulang, ia berdiri bersama Ayu di halaman.

Udara Klaten jauh lebih sejuk daripada Jakarta.

“Dulu,” kata Arga, “waktu saya terbaring di kamar 402, saya sering bertanya-tanya seperti apa hidup kalau saya benar-benar keluar dari sana.”

Ayu menatapnya.

“Dan?”

“Saya membayangkan kembali ke kantor.”

Ayu tersenyum kecil.

“Cocok sekali dengan Bapak.”

“Tapi anehnya, setelah saya pulih, saya sadar saya tidak ingin hidup saya hanya berisi rapat, laporan, dan saham.”

Ayu tidak menjawab.

Arga menarik napas.

“Ada satu hal yang terus saya ingat.”

“Apa?”

“Suara seseorang yang setiap malam menceritakan banjir Kemang, nasi bungkus, kucing di tempat parkir, dan ibunya di Klaten.”

Ayu tertawa malu.

“Waktu itu saya tidak tahu harus cerita apa.”

“Itu yang membuat saya bertahan.”

Ayu terdiam.

Arga kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan cincin.

Melainkan sebuah kartu kecil.

Di sana tercetak dua tiket kereta menuju Yogyakarta.

Ayu memandangnya bingung.

“Ini apa?”

“Undangan.”

“Ke mana?”

“Besok kita ke Yogyakarta. Makan gudeg. Jalan-jalan. Tidak ada rapat. Tidak ada rumah sakit.”

Ayu mengangkat alis.

“Pak Arga sedang mengajak saya kencan?”

Arga tersenyum.

“Setelah hampir mati dua kali, saya belajar satu hal.”

“Apa?”

“Kalau ada sesuatu yang penting, jangan menunggu enam bulan untuk mengatakannya.”

Ayu tertawa.

“Dan kalau saya menolak?”

“Saya akan tetap bayar tiketnya.”

“Tiket bukan masalahnya.”

“Kalau begitu?”

Ayu menatap pria di hadapannya.

Setahun lalu ia melihat Arga terbaring tak berdaya dengan tubuh penuh kabel dan selang.

Sekarang pria itu berdiri di depan rumah ibunya, sedikit lebih kurus daripada foto-foto lamanya, tetapi jauh lebih hangat.

Ayu mengangguk.

“Baik.”

Arga tersenyum lebar.

“Tapi satu syarat.”

“Apa?”

“Jangan panggil saya Pak Arga kalau kita sedang tidak bekerja.”

Ayu menahan tawa.

“Baik, Pak Arga.”

“Ayu.”

“Baik, Pak Arga.”

“Ayu…”

Tawa mereka pecah di halaman kecil itu.

Dua tahun kemudian, di taman sederhana di belakang sebuah rumah di Klaten, Ayu berdiri mengenakan kebaya putih.

Tidak ada pesta dengan ribuan tamu.

Tidak ada media.

Hanya keluarga, beberapa sahabat, Dokter Bima, Dimas, dan sejumlah orang yang pernah membantu mereka melewati masa paling gelap.

Arga duduk di sebelah Ayu setelah akad selesai.

Ia menggenggam tangannya.

Ibu Ayu menangis sejak pagi.

Dokter Bima bercanda,

“Pak Arga, dulu saya pikir pasien kamar 402 tidak akan pernah keluar dari ICU. Sekarang malah menikahi perawatnya.”

Ayu langsung menjawab,

“Dok, jangan membuatnya besar kepala.”

Semua orang tertawa.

Arga menoleh kepada istrinya.

“Saya punya satu pertanyaan.”

“Apa?”

“Kalau dulu saya tidak menarik ujung bajumu malam itu, apa kamu tetap akan merawat saya?”

Ayu berpikir sebentar.

“Tentu.”

“Kenapa?”

Ayu memandangnya.

“Karena saat itu kamu adalah pasien saya.”

“Hanya itu?”

Ayu tersenyum.

“Waktu itu, iya.”

“Sekarang?”

Ayu menggenggam tangannya lebih erat.

“Sekarang kamu keluarga saya.”

Arga tidak menjawab.

Ia hanya mencium kening Ayu.

Di depan mereka, matahari sore turun perlahan di balik pepohonan.

Tidak ada lagi kamar 402.

Tidak ada suara monitor jantung.

Tidak ada Karina.

Tidak ada ancaman.

Mereka tidak mendapatkan kembali waktu yang hilang.

Ayu tidak mendapatkan kembali ayahnya.

Arga tidak bisa menghapus enam bulan ketika dirinya terperangkap dalam tubuh yang tidak mampu bergerak.

Tetapi mereka berhasil melakukan sesuatu yang lebih penting.

Mereka membuat luka lama melahirkan kehidupan baru.

Yayasan Darma Lestari kemudian membuka program bantuan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jakarta.

Ribuan keluarga mendapat bantuan.

Ayu tetap bekerja di bidang keperawatan sambil menyelesaikan pendidikan lanjutan di bidang manajemen pelayanan kesehatan.

Arga kembali memimpin perusahaannya, tetapi setiap akhir pekan ia berusaha meninggalkan laptop di rumah.

Dan sesekali, ketika hujan deras mengguyur Jakarta, Ayu masih menggoda suaminya.

“Ingat malam waktu kamu pertama kali bicara?”

Arga biasanya menjawab,

“Ingat.”

“Apa kalimat pertamamu?”

“Jangan menangis.”

Ayu akan tertawa.

“Padahal justru setelah itu aku menangis.”

Arga selalu menggenggam tangannya.

“Karena malam itu aku akhirnya tahu masih ada seseorang yang menganggap hidupku layak diperjuangkan.”

Ayu kemudian bersandar di bahunya.

Di luar, hujan terus turun.

Sama seperti malam ketika semuanya dimulai.

Namun kali ini tidak ada rasa takut di antara mereka.

Karena kadang-kadang, kehidupan tidak berubah ketika orang kaya memperoleh kembali kekuasaannya.

Kehidupan berubah ketika seseorang yang tidak memiliki uang, jabatan, ataupun pengaruh memilih untuk tidak berpaling dari orang yang membutuhkan pertolongan.

Dan bagi Arga Wijaya, kekayaan terbesar yang pernah ia miliki bukan perusahaan bernilai ribuan miliar rupiah.

Bukan saham.

Bukan rumah mewah.

Bukan pula rekening bank.

Melainkan seorang perawat bernama Ayu Lestari yang pada malam paling gelap dalam hidupnya menggenggam tangannya dan berkata,

“Jangan menyerah. Saya masih di sini.”