SUAMIKU LUPA MENUTUP TELEPON, MENGIRA PANGGILAN SUDAH BERAKHIR — SAAT AKU MENDENGAR APA YANG SEBENARNYA DIA PIKIRKAN TENTANGKU, AKU MENYIAPKAN KEJUTAN YANG TAK AKAN PERNAH DIA LUPAKAN
BAGIAN 1
Aku dan Arga sudah menikah selama dua tahun.
Kami tinggal di sebuah rumah kecil di Bintaro, Tangerang Selatan. Saat itu aku sedang mengambil cuti melahirkan setelah kelahiran putri pertama kami, Alya.
Menjadi ibu baru ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah kubayangkan.
Tidur dua jam sudah terasa seperti kemewahan.

Kadang aku baru sempat mandi menjelang siang. Makan pun sering hanya beberapa suap sambil menggendong Alya yang menangis.
Dan di tengah semua itu, aku hampir selalu sendirian.
Arga jarang membantuku.
Katanya pekerjaannya sedang sangat sibuk. Hampir setiap malam selalu ada alasan yang sama.
Rapat dengan klien.
Makan malam dengan tim.
Presentasi mendadak.
Lembur di kantor.
Awalnya aku percaya.
Aku bahkan merasa bersalah kalau mengeluh.
Arga bekerja di sebuah perusahaan konsultan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Aku tahu pekerjaannya memang menuntut banyak waktu.
Jadi setiap kali dia pulang larut malam, aku berusaha memahami.
Setiap kali Alya menangis dan aku harus bangun sendirian, aku berkata dalam hati bahwa Arga juga pasti lelah.
Setiap kali dia menolak menggendong putrinya dengan alasan harus membalas pesan kantor, aku tetap mencoba memakluminya.
Sampai suatu sore, semuanya berubah.
Saat itu Alya baru saja tertidur setelah hampir satu jam menangis.
Aku berdiri di dapur sambil menyiapkan makan malam. Ada sayur asem, ayam goreng, sambal, dan tempe yang baru kuangkat dari penggorengan.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Arga.
Dia menjawab setelah beberapa kali nada sambung.
“Halo?”
Nada suaranya terdengar tidak sabar.
“Kamu pulang makan malam, kan?” tanyaku. “Aku sudah masak.”
Terdengar helaan napas panjang.
“Kayaknya nggak.”
“Masih ada kerjaan?”
“Iya, Nadia.”
Aku terdiam sebentar.
“Pulangnya kira-kira jam berapa?”
Tiba-tiba suaranya berubah tajam.
“Bisa nggak sih kamu berhenti ngecek aku terus?”
Aku membeku.
“Aku cuma tanya karena sudah masak.”
“Aku lagi kerja. Jangan tiap beberapa jam telepon cuma buat tanya kapan pulang.”
Dadaku terasa sesak.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak menelepon setiap beberapa jam.
Aku bahkan hampir tidak pernah menghubunginya saat jam kerja.
Tapi aku terlalu lelah untuk bertengkar.
“Ya sudah,” kataku pelan. “Hati-hati. Aku sayang kamu.”
Arga tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seperti ponselnya diletakkan di atas meja.
Kupikir dia sudah menutup telepon.
Aku meletakkan ponsel di samping botol susu Alya.
Namun ketika hendak berjalan menuju kamar, mataku menangkap sesuatu di layar.
Panggilan itu belum berakhir.
Angka durasi telepon masih terus berjalan.
Aku hampir menekan tombol merah.
Hampir.
Lalu aku mendengar suara yang membuat tanganku berhenti.
Seorang perempuan tertawa.
Bukan suara rekan kerja yang sedang membicarakan proyek.
Bukan suara percakapan kantor.
Tawanya pelan.
Akrab.
Terlalu akrab.
Aku mengambil ponsel lagi.
Kemudian terdengar suara Arga.
“Serius, dia bikin gue capek.”
Aku tidak bernapas.
Perempuan itu mengatakan sesuatu yang tidak terdengar jelas.
Arga tertawa.
“Setiap hari kirim foto bayi. Tanya kapan pulang. Tanya sudah makan atau belum.”
Jantungku mulai berdebar keras.
Aku tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
Aku.
“Aku cuma pengin dia berhenti ganggu gue sebentar.”
Perempuan itu kembali mengatakan sesuatu.
Kali ini aku mendengar sebagian.
“Kalau memang sudah nggak tahan, kenapa masih bertahan?”
Hening beberapa detik.
Lalu suamiku menjawab.
Jawaban yang sampai sekarang masih bisa kuingat kata demi kata.
“Karena belum waktunya aja.”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Memangnya kamu masih sayang sama dia?”
Arga tidak langsung menjawab.
Aku berdiri di dapur rumah kami sambil memandangi foto pernikahan yang tergantung di dekat meja makan.
Di foto itu, Arga sedang memelukku.
Kami tersenyum seperti dua orang yang yakin akan menghabiskan hidup bersama.
Kemudian suara Arga keluar dari speaker ponsel.
“Sayang?”
Dia tertawa.
“Jujur aja, gue udah nggak tahan sama dia.”
Tanganku mulai gemetar.
“Aku bahkan sudah jarang menyentuh dia.”
Perempuan itu mengatakan sesuatu lagi.
Kemudian Arga menjawab dengan nada santai.
“Tenang. Nanti gue cerai sama dia.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
Namun kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan.
“Habis itu kita nikah.”
Lalu terdengar suara kecupan.
Aku menatap layar ponsel.
Entah berapa lama.
Lima detik?
Sepuluh?
Aku tidak tahu.
Dari kamar terdengar Alya mulai merengek.
Suara kecil putriku membuatku kembali sadar.
Aku menekan tombol merah.
Panggilan berakhir.
Aku tidak menangis.
Aneh, kan?
Aku selalu membayangkan kalau suatu hari mengetahui suamiku berselingkuh, aku akan berteriak, menangis, atau langsung meneleponnya kembali.
Ternyata tidak.
Aku hanya berdiri diam.
Kemudian aku masuk ke kamar.
Alya sudah terbangun.
Aku mengangkatnya dan memeluk tubuh kecilnya ke dadaku.
Barulah air mataku jatuh.
Bukan karena perempuan itu.
Bukan juga karena Arga ingin menceraikanku.
Aku menangis karena baru menyadari sesuatu.
Selama berbulan-bulan aku merasa bersalah.
Aku pikir aku terlalu menuntut.
Aku pikir aku kurang menarik setelah melahirkan.
Aku pikir aku terlalu sering bertanya.
Aku bahkan pernah meminta maaf kepada Arga karena rumah berantakan ketika dia pulang kerja.
Padahal aku sedang mengurus bayi kami sendirian.
Dan sementara aku menyalahkan diriku sendiri…
dia sedang menertawakanku bersama perempuan lain.
Malam itu Arga pulang membawa sebuket bunga yang dibelinya dari supermarket.
“Buat kamu,” katanya.
Dia mencium keningku.
“Maaf akhir-akhir ini sibuk banget.”
Aku menerima bunga itu.
“Terima kasih.”
Dia mendekati boks bayi.
“Ayah kangen sama Alya.”
Aku memandang punggungnya.
Beberapa jam sebelumnya, laki-laki yang sama mengeluh karena aku mengirim foto putrinya.
Sekarang dia berdiri di depan boks sambil tersenyum seperti ayah paling penyayang di dunia.
Kemudian dia menoleh kepadaku.
“Kalian kangen aku?”
Aku tersenyum.
“Kangen.”
Itulah pertama kalinya aku berbohong kepadanya dengan tenang.
Selama enam hari berikutnya, aku tidak mengatakan apa pun.
Aku tidak bertanya siapa perempuan itu.
Tidak memeriksa ponselnya.
Tidak membuat keributan.
Sebaliknya, aku mulai memperhatikan.
Dan ternyata ketika kita berhenti mencari alasan untuk seseorang, banyak hal menjadi sangat jelas.
Arga selalu membawa ponselnya ke kamar mandi.
Kode layarnya berubah.
Dia mulai memakai parfum sebelum “lembur”.
Beberapa kali dia keluar rumah setelah menerima pesan WhatsApp, lalu kembali sambil tersenyum sendiri.
Aku memperhatikan semuanya.
Namun aku tetap diam.
Karena minggu berikutnya adalah ulang tahun pernikahan kami.
Sebelumnya aku sudah merencanakan makan malam sederhana.
Hanya aku, Arga, dan Alya.
Aku bahkan sudah memesan kue kecil.
Tapi setelah mendengar percakapan itu, rencanaku berubah.
Aku memutuskan bahwa ulang tahun pernikahan kami harus menjadi acara keluarga.
Aku menghubungi orang tuaku.
Lalu orang tua Arga.
Aku mengundang kakaknya dan istrinya.
Aku juga meminta adikku datang.
Arga terlihat heran ketika mengetahui akan ada banyak orang.
“Bukannya kita mau makan bertiga aja?”
Aku tersenyum.
“Sekali-sekali kumpul keluarga. Kan hari spesial.”
Dia menatapku beberapa detik.
Mungkin mencoba membaca wajahku.
Namun aku sudah belajar tersenyum dengan sangat baik.
Hari Minggu, rumah kami penuh.
Ibu mertuaku datang membawa puding.
Ibuku membantu menyiapkan meja.
Ada ayam bakar, sop iga, tumis sayur, sambal, kerupuk, dan nasi hangat.
Semua orang tertawa.
Berfoto.
Menggendong Alya bergantian.
Arga tampak santai.
Bahkan bahagia.
Dia beberapa kali merangkul bahuku di depan keluarganya.
Kalau ada orang melihat kami malam itu, mereka mungkin akan berpikir kami pasangan yang sempurna.
Setelah makan selesai, aku membawa kue ke meja.
Di atasnya hanya ada dua lilin kecil.
Dua tahun pernikahan.
Ibu mertua tersenyum.
“Semoga makin langgeng.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Arga menggenggam tanganku.
Kemudian seseorang berkata, “Pidato dong. Masa ulang tahun pernikahan nggak ada kata-kata?”
Semua orang setuju.
Arga tertawa.
“Ayo, Nadia. Kamu kan biasanya paling jago ngomong.”
Aku berdiri.
Mengambil gelas air.
Ruangan perlahan menjadi tenang.
Arga masih tersenyum.
Dia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aku memandang orang tuaku.
Lalu orang tua Arga.
Terakhir, aku menatap suamiku.
“Terima kasih semuanya sudah datang,” kataku.
“Dua tahun menikah membuat aku belajar banyak hal.”
Arga mengangguk sambil tersenyum.
Aku melanjutkan.
“Terutama tentang kepercayaan.”
Senyumnya sedikit berubah.
Aku menatap langsung ke matanya.
“Jadi malam ini aku sudah menyiapkan hadiah khusus untuk suamiku.”
Kakak Arga bersiul menggoda.
Semua orang tertawa.
Kecuali aku.
Dan perlahan…
Arga juga berhenti tertawa.
“Suamiku tercinta, Arga…”
Aku berhenti sebentar.
Lalu meraih sebuah amplop cokelat yang sejak tadi kusimpan di bawah meja.
Wajah Arga langsung berubah.
Karena dia tahu aku tidak pernah mengatakan apa pun tentang amplop itu.
Aku meletakkannya tepat di depan piringnya.
“Selamat ulang tahun pernikahan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap amplop itu.
Lalu menatapku.
“Nadia… ini apa?”
Aku tersenyum.
“Buka saja.”
Tangannya bergerak perlahan menuju amplop.
Dan saat itulah untuk pertama kalinya sejak mendengar telepon tersebut…
aku melihat ketakutan di mata suamiku.
BAGIAN 2
Arga menatap amplop cokelat di depannya seolah benda itu bisa meledak kapan saja.
Ruangan yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi tawa mendadak sunyi.
Ibu mertuaku, Bu Ratna, masih memegang sendok kecil di atas piring pudingnya.
Ayah Arga mengernyit.
Ibuku memandangku, lalu Arga, seakan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Arga akhirnya tersenyum kecil.
Senyum yang dipaksakan.
“Hadiah apaan sih sampai pakai amplop segala?”
“Buka saja,” jawabku.
“Nanti aja, Nad.”
“Kenapa nanti?”
Aku menarik kursi dan duduk di seberangnya.
“Bukannya tadi kamu bilang ini hari spesial?”
Tidak ada yang tertawa kali ini.
Arga menelan ludah.
Lalu membuka amplop itu.
Di dalamnya ada beberapa lembar kertas.
Bukan surat cerai.
Belum.
Lembar pertama hanyalah satu halaman putih berisi transkrip pendek.
Kalimat-kalimat yang sudah menghantuiku selama enam hari.
Arga membacanya.
Wajahnya berubah.
“Dia bikin gue capek.”
Matanya bergerak ke baris berikutnya.
“Gue udah nggak tahan sama dia.”
Kemudian berikutnya.
“Nanti gue cerai sama dia.”
Dan kalimat terakhir.
“Habis itu kita nikah.”
Tangan Arga berhenti.
Wajahnya kehilangan warna.
“Nadia…”
Bu Ratna langsung bertanya, “Itu apa?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menatap Arga.
“Ayo,” kataku pelan. “Jelaskan kepada mereka.”
Arga menutup kertas itu.
“Nggak ada yang perlu dijelasin.”
Aku hampir tertawa.
Enam hari aku membayangkan berbagai kemungkinan.
Dia akan meminta maaf.
Dia akan menangis.
Dia akan mengakui semuanya.
Ternyata aku lupa satu kemungkinan paling sederhana.
Dia akan berbohong.
“Nadia salah paham,” katanya cepat.
Aku menatapnya.
“Salah paham bagian mana?”
“Percakapan itu bukan seperti yang kamu pikir.”
“Bagian kamu bilang sudah nggak tahan sama aku?”
Dia diam.
“Atau bagian kamu bilang akan menceraikan aku?”
“Nad…”
“Atau bagian kamu bilang setelah itu akan menikahi perempuan lain?”
Ayah Arga meletakkan gelasnya.
“Arga.”
Nada suaranya rendah.
“Ini benar?”
Arga mengusap wajah.
“Pa, ini masalah rumah tangga.”
“Kalau masalah rumah tangga, kenapa ada perempuan lain?”
Arga tidak menjawab.
Bu Ratna mulai terlihat panik.
“Nadia, mungkin kamu salah dengar. Arga dari dulu memang suka bercanda sama teman kantor.”
Aku memandang ibu mertuaku.
Kalimat itu aneh.
Bukan karena dia membela anaknya.
Aku sudah menduga itu.
Yang aneh adalah dia langsung menyebut teman kantor.
Padahal aku belum mengatakan perempuan itu siapa.
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang selama enam hari tidak terpikir olehku tiba-tiba muncul.
“Ibu tahu?”
Bu Ratna membeku.
Arga langsung menoleh kepadanya.
“Mama, jangan ikut campur.”
Ruangan terasa semakin dingin.
Aku menatap mereka bergantian.
“Jadi Ibu tahu?”
“Nadia…”
“Sejak kapan?”
Bu Ratna meletakkan sendoknya.
“Nggak seperti yang kamu pikir.”
Aku tersenyum pahit.
Lucu sekali.
Ternyata malam itu semua orang menggunakan kalimat yang sama.
“Kalau begitu,” kataku, “jelaskan seperti apa.”
Bu Ratna tidak menjawab.
Justru Arga yang berdiri.
“Cukup.”
Suaranya meninggi.
“Aku nggak mau dipermalukan di depan keluarga cuma gara-gara kamu nguping percakapan pribadi.”
Aku ikut berdiri.
“Nguping?”
“Kamu sengaja dengar pembicaraan aku.”
“Teleponnya belum kamu tutup.”
“Tapi kamu bisa langsung matikan!”
Aku menatap laki-laki yang pernah berjanji akan melindungiku seumur hidup.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat siapa dia.
Bukan suami yang sedang menyesali kesalahan.
Dia marah karena tertangkap.
Bukan karena sudah menyakitiku.
“Aku memang bisa langsung menutup telepon,” kataku.
“Tapi untung aku tidak melakukannya.”
Aku menarik lembar kedua dari amplop.
“Karena kalau aku menutupnya, mungkin aku masih percaya semua kebohonganmu.”
Arga menatap kertas itu.
“Apa lagi?”
“Ini yang lebih menarik.”
Aku meletakkannya di meja.
Itu bukan transkrip.
Itu salinan mutasi rekening bersama kami.
Beberapa hari setelah mendengar telepon tersebut, aku memeriksa keuangan rumah tangga.
Bukan untuk mencari perselingkuhan.
Aku hanya ingin memastikan aku dan Alya aman jika Arga benar-benar meninggalkan kami.
Namun aku menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Selama lima bulan terakhir, ada transfer rutin dari rekening bersama kami.
Jumlahnya berbeda-beda.
Rp4 juta.
Rp7,5 juta.
Rp12 juta.
Rp6 juta.
Totalnya lebih dari Rp60 juta.
Aku awalnya tidak mengenali rekening tujuan.
Sampai aku melihat satu pembayaran dengan keterangan yang membuatku berhenti bernapas.
DP APARTEMEN.
“Uang apa ini?” tanya ayah Arga.
Arga tidak menjawab.
Aku menjawab untuknya.
“Tabungan kami.”
Ibuku langsung menatapku.
“Nadia?”
Aku mengangguk.
“Tabungan untuk dana darurat dan masa depan Alya.”
Wajah ibuku berubah.
Arga memukul meja dengan telapak tangannya.
“Nggak semuanya uang kamu!”
Aku menatapnya.
“Aku nggak pernah bilang semuanya uangku.”
“Terus kenapa kamu bicara seolah-olah aku mencuri?”
“Karena kamu mengambilnya tanpa memberitahuku.”
“Aku yang kerja!”
Kalimat itu keluar begitu cepat.
Begitu spontan.
Sampai seluruh ruangan kembali sunyi.
Aku memandangnya.
Arga tampaknya baru sadar apa yang baru saja dia katakan.
Aku tersenyum kecil.
“Nah.”
Suaraku hampir berbisik.
“Akhirnya keluar juga.”
“Nadia, maksudku bukan—”
“Karena aku sedang cuti melahirkan, uang itu sekarang milikmu?”
“Bukan begitu.”
“Karena aku di rumah mengurus anak kita, aku tidak dianggap bekerja?”
“Nad…”
“Siapa yang bangun tiga kali setiap malam?”
Dia diam.
“Siapa yang membawa Alya ke dokter?”
Diam.
“Siapa yang mencuci botol, mengganti popok, menenangkan dia saat demam, sambil masih mengurus rumah?”
Mataku mulai panas.
Tapi aku tidak mau menangis.
Tidak di depannya.
“Dan ketika aku cuma bertanya apakah kamu pulang makan malam, kamu bilang aku mengganggu.”
Arga duduk kembali.
Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.
Sekarang hanya ada kepanikan.
Ayahnya mengambil mutasi rekening itu.
“DP apartemen?”
Arga menunduk.
“Buat siapa?”
Aku menjawab.
“Untuk perempuan itu.”
Bu Ratna langsung berkata, “Nadia, jangan menuduh kalau belum tahu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tahu namanya.”
Arga mengangkat kepala.
Itu reaksi yang kutunggu.
“Namanya Keisha, kan?”
Wajah Arga benar-benar pucat.
Bu Ratna juga.
Dan saat itulah aku mendapat jawaban atas pertanyaan keduaku.
Ibu mertuaku memang tahu.
Aku mengeluarkan satu lembar terakhir.
Sebuah tangkapan layar.
Aku tidak mendapatkannya dari ponsel Arga.
Aku mendapatkannya dari tempat yang sama sekali tidak dia duga.
Tiga hari setelah telepon itu, seorang perempuan mengirim pesan kepadaku melalui Instagram.
Namanya Keisha Anindya.
Pesannya hanya berbunyi:
Mbak Nadia, saya rasa kita perlu bicara. Saya baru tahu Mas Arga belum mengurus perceraian seperti yang dia katakan kepada saya.
Awalnya aku ingin memblokirnya.
Namun kemudian kami berbicara.
Dan cerita yang kudengar membuatku sadar bahwa aku bukan satu-satunya orang yang dibohongi Arga.
Arga memberi tahu Keisha bahwa pernikahan kami sudah berakhir sejak lama.
Katanya kami hanya tinggal serumah karena Alya baru lahir.
Katanya proses perceraian sedang berjalan.
Katanya aku sudah setuju.
Bahkan lebih gila lagi, dia mengatakan apartemen itu akan menjadi tempat tinggal mereka setelah semuanya selesai.
Keisha percaya.
Setidaknya pada awalnya.
Sampai dia melihat foto ulang tahun pernikahan kami yang diunggah kakak Arga.
Foto Arga sedang merangkulku.
Dengan tulisan:
Semoga langgeng terus.
Itulah sebabnya Keisha menghubungiku.
“Aku sudah bicara dengan Keisha,” kataku.
Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
“Kamu ngapain hubungi dia?”
Aku tertawa pendek.
“Menarik.”
“Apa?”
“Kamu lebih marah karena aku bicara dengan selingkuhanmu daripada karena aku tahu kamu selingkuh.”
“Dia bukan—”
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Aku melihat layar.
Kemudian menatap Arga.
“Justru bagus.”
“Apa?”
“Dia sudah sampai.”
Arga menatapku seolah tidak memahami.
Lalu bel rumah berbunyi.
Tidak ada seorang pun bergerak.
Aku berjalan menuju pintu.
Saat membukanya, seorang perempuan berdiri di sana.
Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun.
Blus krem.
Celana hitam.
Tas kecil di bahunya.
Wajahnya tegang.
Matanya merah seperti habis menangis.
Keisha.
Ketika dia masuk ke ruang makan, Arga seperti kehilangan kemampuan berbicara.
“Kamu?”
Keisha menatapnya.
“Katanya kamu sudah pisah rumah.”
Arga membuka mulut.
Tidak ada suara.
“Katanya Nadia sudah tahu tentang aku.”
Keisha melanjutkan.
“Katanya perceraian tinggal menunggu tanda tangan.”
Bu Ratna berdiri.
“Keisha, ini bukan tempat—”
Keisha menoleh.
“Tante juga bilang saya harus sabar.”
Aku membeku.
Sekarang giliran aku yang terkejut.
“Apa?”
Keisha menatapku.
“Maaf, Mbak.”
Air matanya jatuh.
“Saya pernah ketemu ibunya Arga.”
Aku perlahan menoleh kepada Bu Ratna.
Wajahnya pucat.
Keisha melanjutkan.
“Beliau bilang pernikahan kalian memang sudah bermasalah. Saya disuruh jangan muncul dulu sampai semuanya selesai.”
Ayah Arga menatap istrinya.
“Kamu ketemu perempuan ini?”
Bu Ratna mulai menangis.
“Aku cuma ingin Arga bahagia.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.
Bukan karena aku membutuhkan persetujuannya.
Tetapi selama dua tahun, aku memanggil perempuan itu Ibu.
Dia hadir ketika Alya lahir.
Dia memelukku.
Membawa makanan.
Mengatakan aku harus banyak istirahat.
Sementara di belakangku, dia membantu anaknya menyiapkan kehidupan dengan perempuan lain.
Aku mengangguk perlahan.
“Baik.”
Hanya itu yang bisa kukatakan.
Bu Ratna mendekat.
“Nadia, Ibu minta maaf.”
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sekarang.”
Arga memandang semua orang.
Situasinya sudah tidak bisa dia kendalikan.
Jadi akhirnya dia melakukan sesuatu yang paling tidak kuduga.
Dia menangis.
Benar-benar menangis.
“Nad, aku salah.”
Aku diam.
“Aku kacau.”
Dia mendekat.
“Aku takut setelah Alya lahir semuanya berubah. Kamu selalu capek. Kita nggak pernah punya waktu berdua. Aku merasa kehilangan kamu.”
Aku hampir mempercayai kesedihannya.
Hampir.
Sampai dia berkata:
“Aku cuma butuh seseorang.”
Aku menatapnya.
Lalu tertawa kecil sambil menghapus air mata yang akhirnya jatuh.
“Kamu butuh seseorang?”
Dia diam.
“Aku juga, Arga.”
Suaraku bergetar.
“Aku baru melahirkan.”
“Aku takut.”
“Aku kurang tidur.”
“Aku sering menangis sendirian di kamar mandi supaya kamu nggak merasa terganggu.”
Aku menunjuk ke arah kamar Alya.
“Setiap malam aku juga butuh seseorang.”
Aku menatap matanya.
“Tapi orang yang kubutuhkan sedang bersama perempuan lain.”
Arga menangis semakin keras.
“Aku masih sayang kamu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak marah.
Aku hanya merasa lelah.
“Enam hari lalu,” kataku, “kamu bilang kamu membenciku.”
“Aku emosi.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu santai. Bahkan tertawa.”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku mengambil amplop kedua dari laci meja.
Yang ini berwarna putih.
Aku meletakkannya di depan Arga.
“Apa lagi?”
“Ini hadiah sebenarnya.”
Tangannya gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya ada salinan dokumen konsultasi hukum dan rincian pemisahan keuangan yang sudah mulai kupersiapkan.
Aku belum menandatangani keputusan akhir apa pun.
Aku tidak ingin membuat keputusan sebesar itu saat sedang marah.
Tetapi satu hal sudah pasti.
Aku dan Alya tidak akan hidup bergantung pada belas kasihan Arga.
“Aku sudah bicara dengan pengacara,” kataku.
“Aku juga sudah memindahkan bagian tabunganku sendiri ke rekening yang hanya bisa kuakses.”
Arga menatapku.
“Kamu mau cerai?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku mau pulang ke rumah orang tuaku bersama Alya untuk sementara.”
“Nadia…”
“Dan setelah itu, kita akan menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin dan secara resmi.”
Dia mencoba memegang tanganku.
Aku menariknya.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Dia menatapku.
“Aku nggak mau kehilangan Alya.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Aku mendekat.
“Kamu tidak kehilangan anakmu hanya karena kamu gagal menjadi suamiku.”
Arga menatapku dengan mata merah.
“Aku tidak akan menggunakan Alya untuk menghukummu.”
Aku menghela napas.
“Tapi mulai sekarang, kalau kamu ingin menjadi ayahnya, jadilah ayahnya sungguhan. Bukan cuma ketika ada orang yang melihat.”
Arga menunduk.
Malam itu berakhir tanpa teriakan.
Keisha pergi lebih dulu.
Sebelum keluar, dia menghampiriku.
“Saya minta maaf.”
Aku menatapnya.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena tidak.
Tapi aku juga tahu siapa yang membuat janji kepada siapa.
Jadi aku hanya berkata, “Jangan pernah percaya laki-laki yang meminta kamu menunggu sampai istrinya ‘siap’ ditinggalkan.”
Keisha mengangguk sambil menangis.
Lalu pergi.
Bu Ratna mencoba bicara denganku sekali lagi.
Aku tidak siap.
Aku meminta waktu.
Orang tuaku membantuku memasukkan pakaian dan perlengkapan Alya ke mobil.
Ketika aku hendak pergi, Arga berdiri di teras.
Tidak ada lagi pria percaya diri yang selama ini pulang larut malam dengan parfum mahal.
Yang kulihat hanyalah seseorang yang akhirnya menyadari bahwa setiap kebohongan memiliki harga.
Namun kejutan terakhir justru datang beberapa minggu kemudian.
Aku sedang berada di rumah orang tuaku ketika sebuah paket dikirim untukku.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya ada sebuah buku tabungan kecil dan surat tulisan tangan.
Aku mengenali tulisan itu.
Ayah Arga.
Nadia,
Aku baru tahu Ratna sudah lama mengetahui hubungan Arga. Aku tidak bisa mengubah apa yang mereka lakukan kepadamu.
Tapi ada sesuatu yang perlu kamu tahu.
Aku membalik halaman.
Tanganku langsung gemetar.
Ternyata beberapa bulan sebelum Alya lahir, ayah Arga pernah memberikan sejumlah uang kepada Arga.
Rp100 juta.
Arga mengatakan uang itu untuk membantu biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan menambah tabungan keluarga kami.
Aku tidak pernah tahu.
Tidak satu rupiah pun masuk ke rekening rumah tangga.
Sebagian uang itu ternyata digunakan untuk uang muka apartemen.
Aku duduk lama sekali sambil membaca surat tersebut.
Di bagian akhir, ayah Arga menulis:
Uang itu bukan utangmu. Arga yang harus mempertanggungjawabkannya. Aku sudah menyiapkan tabungan lain atas namaku untuk pendidikan Alya. Bukan untuk mengganti kesalahan anakku, karena kesalahan seperti ini tidak bisa dibayar dengan uang. Aku hanya ingin cucuku tidak kehilangan masa depannya karena keputusan orang dewasa.
Aku menangis.
Bukan karena jumlah uangnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, seseorang dari keluarga Arga tidak meminta aku memahami.
Tidak meminta aku bersabar.
Tidak meminta aku memaafkan.
Dia hanya mengakui bahwa apa yang terjadi memang salah.
Beberapa bulan kemudian, aku dan Arga resmi berpisah.
Prosesnya tidak indah.
Tapi juga tidak berubah menjadi perang.
Arga mengembalikan uang yang dia ambil dari tabungan bersama secara bertahap.
Apartemen itu dibatalkan.
Hubungannya dengan Keisha juga berakhir.
Bukan karena aku meminta.
Keisha sendiri yang pergi.
Sedangkan Bu Ratna membutuhkan waktu lama sebelum aku bersedia berbicara dengannya lagi.
Aku tidak melarangnya bertemu Alya.
Tapi hubungan kami tidak pernah kembali seperti dulu.
Ada hal-hal yang bisa dimaafkan tanpa harus dilupakan.
Dan Arga?
Anehnya, setelah kami berpisah, dia justru mulai belajar menjadi ayah.
Awalnya canggung.
Dia tidak tahu ukuran popok Alya.
Tidak tahu cara menyiapkan botol.
Tidak tahu lagu apa yang biasanya membuat putrinya tertidur.
Dulu semua itu dianggapnya urusanku.
Sekarang, ketika waktunya bersama Alya tiba, tidak ada aku yang akan menyelesaikan semuanya untuknya.
Dia harus belajar.
Pelan-pelan, dia belajar.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan sepenuhnya memaafkannya.
Dan sebenarnya aku tidak lagi merasa harus menemukan jawabannya.
Yang lebih penting, aku sudah memaafkan diriku sendiri.
Karena terlalu lama berpikir bahwa kalau suamiku menjauh, berarti aku kurang cantik.
Kurang perhatian.
Kurang sabar.
Kurang menjadi istri yang baik.
Ternyata tidak semua pengkhianatan terjadi karena kita kurang sesuatu.
Kadang seseorang mengkhianati kita hanya karena dia memilih untuk melakukannya.
Hampir setahun setelah malam ulang tahun pernikahan itu, aku sedang duduk di teras rumah kontrakan baruku ketika Alya berjalan tertatih ke arahku.
Dia sudah mulai belajar bicara.
“Mama.”
Aku mengangkatnya.
Dia tertawa dan memeluk leherku.
Di dalam rumah, ada foto kami berdua di atas meja.
Bukan foto pernikahan.
Bukan foto keluarga yang sempurna.
Hanya aku dan Alya di taman, tertawa karena angin membuat rambut kami berantakan.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Arga.
Besok aku jemput Alya jam sembilan. Aku sudah beli car seat baru. Bisa tolong cek apakah tipe ini aman?
Aku melihat foto yang dia kirim.
Lalu tersenyum kecil.
Setidaknya dia sedang belajar.
Aku menjawab singkat.
Kemudian meletakkan ponsel.
Alya menunjuk bunga kecil di halaman.
Aku membawanya mendekat.
Saat itulah aku teringat buket bunga supermarket yang dibawa Arga pada malam setelah aku mendengar percakapannya.
Dulu aku mengira cinta berarti mempertahankan keluarga dengan cara apa pun.
Sekarang aku tahu sesuatu yang berbeda.
Cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harga dirinya.
Dan keluarga tidak selalu berarti dua orang dewasa harus tetap berada di rumah yang sama sambil saling menyakiti.
Kadang keluarga berarti dua rumah yang lebih tenang.
Dua orang tua yang belajar menjalankan tanggung jawab masing-masing.
Dan seorang anak yang tidak perlu tumbuh dengan melihat ibunya menerima penghinaan demi mempertahankan penampilan.
Aku memeluk Alya lebih erat.
Lucunya, Arga pernah mengatakan kepadaku bahwa aku terlalu sering mengirim foto bayi.
Sekarang, hampir setiap kali Alya melakukan sesuatu yang baru, dia yang meminta foto.
Aku tidak pernah mengingatkan dia tentang perkataannya dulu.
Tidak perlu.
Beberapa pelajaran memang tidak membutuhkan balas dendam.
Konsekuensinya sudah cukup.
Malam ulang tahun pernikahan itu, aku pikir kejutan terbesar adalah amplop yang kuberikan kepada Arga.
Ternyata bukan.
Kejutan terbesar adalah apa yang kutemukan setelahnya.
Bahwa aku ternyata mampu berdiri sendiri.
Bahwa menjadi ibu tidak membuatku lemah.
Bahwa kehilangan seorang suami yang tidak menghargaimu bukan berarti kehilangan hidupmu.
Dan bahwa terkadang, ketika seseorang mengatakan diam-diam bahwa dia ingin meninggalkanmu…
hal paling kuat yang bisa kamu lakukan bukan memohon agar dia tetap tinggal.
Melainkan membuka pintu.
Dan membiarkannya pergi.
Karena setelah pintu itu tertutup, aku akhirnya melihat sesuatu yang selama ini tidak kusadari.
Di sisi lain pintu itu…
hidupku sendiri sedang menungguku.
