“Di depan ada desa kecil. Jalan lurus saja kalau kamu tidak mau mati sendirian di sini. Aku tidak mau mengurus beban lagi. Sekarang seluruh warisan ayahmu menjadi milikku.”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan ibu tiriku setelah pemakaman ayah.
Saat itu aku baru berusia sepuluh tahun.
Dia meninggalkanku sendirian di pinggir jalan sepi, tanpa uang, tanpa ponsel, bahkan tanpa tahu harus pergi ke mana.
Aku tidak menangis.
Aku hanya membuka ransel dan mengeluarkan secarik kertas kusut yang diberikan Ayah sebelum meninggal.
Di atasnya hanya ada satu nama dan satu nomor telepon.

Aku belum tahu bahwa nomor itulah yang akan membuka rahasia yang selama ini berusaha disembunyikan ibu tiriku.
“Turun dari mobil.”
Aku menatap Bu Laras, ibu tiriku, karena kupikir aku salah dengar.
“Apa?”
“Turun, Naufal.”
Nada suaranya datar.
“Mulai hari ini, kamu bukan tanggung jawabku lagi.”
Butuh beberapa detik bagiku untuk memahami bahwa dia benar-benar serius.
Belum lama sebelumnya, aku berdiri di TPU dekat Yogyakarta dan melihat peti jenazah ayahku diturunkan perlahan ke liang lahat.
Aku masih mengenakan kemeja putih yang kupakai saat pemakaman. Kerahnya sudah lembap karena panas dan keringat.
Di punggungku ada tas sekolah berisi sebuah buku tulis, botol minum kosong, beberapa pakaian, dan secarik kertas yang diberikan Ayah kepadaku sebelum kondisinya memburuk.
Tulisan tangannya terlihat gemetar.
Pak Damar.
Di bawahnya ada sebuah nomor telepon.
Ayah hanya sempat mengatakan satu hal kepadaku.
“Kalau terjadi sesuatu dan kamu merasa tidak aman, telepon orang ini.”
Aku menggenggam tangannya.
“Pak Damar siapa?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Tatapannya saat itu aneh.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi ia takut waktunya tidak cukup.
“Dia akan membantumu.”
Ayah berhenti sebentar sebelum menambahkan dengan suara sangat pelan,
“Maafkan Ayah, Nak.”
Aku tidak pernah mengerti kenapa Ayah meminta maaf.
Dan aku sama sekali tidak mengenal seseorang bernama Damar.
Ibuku meninggal ketika aku berusia lima tahun.
Beberapa tahun kemudian, Ayah bertemu Laras.
Laras cantik, rapi, percaya diri, dan selalu terlihat seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia inginkan.
Mereka menikah tidak lama setelah berkenalan.
Selama Ayah berada di rumah, Laras tidak pernah memperlakukanku dengan buruk.
Dia membelikanku seragam sekolah.
Dia menanyakan nilai ulanganku.
Kadang dia bahkan membawakan makanan kesukaanku.
Tetapi selalu ada sesuatu yang terasa berbeda ketika Ayah tidak berada di dekat kami.
Senyumnya menghilang.
Suaranya berubah.
Aku tidak pernah dipukul atau diteriaki.
Namun aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Seolah keberadaanku hanya perlu ditoleransi karena aku adalah anak suaminya.
Kemudian kondisi kesehatan Ayah memburuk dengan cepat.
Dalam hitungan minggu, semuanya berubah.
Rumah sakit.
Dokter.
Obat-obatan.
Telepon dari keluarga.
Lalu pemakaman.
Aku bahkan belum sempat memahami bahwa aku benar-benar kehilangan Ayah ketika Laras memasukkanku ke dalam mobil setelah pemakaman.
Aku mengira kami akan pulang ke rumah kami di Sleman.
Namun mobil justru bergerak semakin jauh dari kota.
Kami melewati jalan utama, lalu masuk ke daerah yang semakin sepi.
Sawah terbentang di kedua sisi jalan.
Rumah-rumah mulai jarang terlihat.
Laras tidak mengatakan sepatah kata pun.
Aku duduk di belakang sambil memeluk ransel.
Akhirnya mobil berbelok ke sebuah jalan kecil.
Beberapa saat kemudian, Laras menghentikan kendaraan.
“Turun.”
Aku melihat ke luar jendela.
Tidak ada rumah di dekat kami.
Hanya jalan, pepohonan, dan hamparan sawah.
“Di sini?”
“Iya.”
“Tapi kita mau ke mana?”
Laras akhirnya menoleh kepadaku.
“Kita tidak pergi ke mana-mana.”
Aku mengerutkan kening.
“Kamu yang pergi.”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Aku tidak mengerti.”
“Ayahmu sudah meninggal, Naufal.”
“Aku tahu.”
“Dan semua yang dia tinggalkan sekarang menjadi milikku.”
Aku terdiam.
“Rumah, rekening, usaha, kendaraan. Semuanya.”
“Tapi aku tinggal di rumah itu juga.”
“Dulu.”
Satu kata itu terasa lebih dingin daripada bentakannya.
Aku memeluk ransel semakin erat.
“Maksud Ibu apa?”
Laras mengembuskan napas seperti sedang menjelaskan sesuatu kepada anak yang dianggap terlalu lambat memahami.
“Aku tidak akan menghabiskan delapan tahun berikutnya untuk membesarkan anak orang lain.”
Aku merasa tenggorokanku tercekat.
“Tapi aku anak Ayah.”
“Dan ayahmu sudah tidak ada.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Aku baru berusia sepuluh tahun.
Aku tidak mengerti hukum warisan.
Aku tidak tahu apa yang tertulis dalam surat-surat milik Ayah.
Yang kutahu hanyalah rumah kami masih ada.
Kamarku masih ada.
Buku-buku sekolahku masih ada di meja.
Foto Ayah dan Ibu kandungku masih kusimpan di dalam laci.
“Aku tidak punya uang.”
“Itu bukan urusanku.”
“Aku juga tidak punya HP.”
Laras mengangkat bahu.
“Di depan ada desa. Jalan terus mengikuti jalan ini. Kamu akan menemukan orang.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Bu…”
Dia membuka pintu dari dalam.
“Turun.”
Aku tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Justru lega.
Seolah dia sudah menunggu bertahun-tahun untuk mengatakan kalimat berikutnya.
“Aku sudah selesai mengurusmu.”
Aku turun perlahan.
Begitu kedua kakiku menyentuh tanah, pintu mobil langsung tertutup.
Aku berdiri di samping kendaraan sambil memegang tali ransel.
“Bu Laras…”
Dia menyalakan mesin.
Aku mengetuk kaca jendela.
“Bu! Tunggu!”
Mobil mulai bergerak.
Aku mengejarnya beberapa langkah.
“Bu Laras!”
Dia tidak berhenti.
Mobil itu berputar, meninggalkan debu beterbangan di belakangnya, lalu semakin kecil hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Aku berdiri sendirian.
Ayahku dimakamkan hari itu.
Dan sebelum hari berakhir, satu-satunya orang dewasa yang seharusnya membawaku pulang justru meninggalkanku di tempat yang bahkan tidak kukenal.
Aku ingin menangis.
Tapi entah kenapa air mataku tidak keluar.
Aku hanya berdiri di sana sampai debu kembali turun ke tanah.
Kemudian aku mulai berjalan.
Aku tidak tahu seberapa jauh desa yang dimaksud Laras.
Aku hanya mengikuti jalan.
Matahari terasa menyengat.
Botol minumku kosong.
Kakiku mulai sakit karena sepatu yang kupakai sebenarnya sepatu formal untuk pemakaman, bukan untuk berjalan jauh.
Beberapa kendaraan lewat.
Aku terlalu takut untuk menghentikannya.
Jadi aku terus berjalan.
Sampai akhirnya aku melihat beberapa rumah.
Ada warung kecil.
Ada musala.
Ada beberapa sepeda motor terparkir di depan rumah warga.
Aku mengetuk pintu rumah pertama.
Tidak ada jawaban.
Rumah kedua juga kosong.
Di rumah ketiga, seorang perempuan membuka pintu.
Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun. Rambutnya diikat sederhana dan ia mengenakan pakaian rumahan.
Begitu melihatku, ekspresinya berubah.
“Nak?”
Aku menelan ludah.
“Iya, Bu.”
“Kamu sendirian?”
Aku mengangguk.
“Orang tuamu mana?”
Aku mencoba menjawab.
Tetapi suaraku tiba-tiba pecah.
“Ayah saya dimakamkan hari ini.”
Perempuan itu terdiam.
“Terus?”
“Ibu tiri saya menurunkan saya di jalan tadi.”
Wajahnya langsung menegang.
“Apa?”
“Katanya saya bukan tanggung jawabnya lagi.”
Perempuan itu membuka pintu lebih lebar.
“Masuk dulu.”
Namanya Bu Ratna.
Dia seorang guru SD di desa tersebut.
Hal pertama yang diberikannya kepadaku bukan pertanyaan.
Melainkan segelas air.
Aku menghabiskannya hampir tanpa berhenti.
Dia menuangkan satu gelas lagi.
Kemudian dia memberiku nasi hangat, telur, tempe, dan sayur.
Aku tidak sadar betapa laparnya diriku sampai mulai makan.
Bu Ratna duduk di seberang meja.
Dia tidak memaksaku bercerita.
Dia menunggu.
Setelah merasa lebih tenang, barulah aku menceritakan semuanya.
Tentang Ayah.
Tentang pemakaman.
Tentang Laras.
Tentang mobil yang berhenti di jalan sepi.
Tentang perkataannya bahwa seluruh harta Ayah sekarang menjadi miliknya.
Bu Ratna mendengarkan tanpa memotong.
Kemudian aku teringat sesuatu.
“Kertas.”
“Apa?”
Aku membuka ransel.
Tanganku mencari di antara buku sampai menemukan secarik kertas yang sudah kusut.
“Ayah memberi ini sebelum meninggal.”
Aku menyerahkannya kepada Bu Ratna.
“Dia bilang kalau ada sesuatu yang terjadi, saya harus menelepon orang ini.”
Bu Ratna membaca nama di atas kertas.
“Pak Damar?”
Aku mengangguk.
“Ibu kenal?”
“Tidak.”
Dia mengambil ponselnya.
“Coba kita telepon.”
Aku duduk di sampingnya.
Bu Ratna memasukkan nomor tersebut.
Telepon berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Kami mencoba lagi beberapa waktu kemudian.
Tetap tidak diangkat.
Malam itu Bu Ratna mengizinkanku tidur di kamar tamunya sambil menghubungi pihak yang bisa membantu memastikan aku aman.
Sebelum tidur, aku berdiri di depan pintu kamar.
“Bu?”
“Iya?”
“Kalau Pak Damar tidak mau membantu saya bagaimana?”
Bu Ratna menatapku cukup lama.
Lalu dia mendekat.
“Kalau besok dia tidak menjawab, kita cari cara lain.”
Aku menunduk.
“Kalau tidak ada yang mau saya?”
Bu Ratna menggeleng pelan.
“Jangan pikirkan terlalu jauh malam ini. Yang penting sekarang kamu aman dan tidak sendirian.”
Aku masuk ke kamar.
Tetapi hampir sepanjang malam aku tidak bisa tidur.
Aku terus memikirkan satu kalimat Ayah.
Kalau terjadi sesuatu, telepon dia.
Keesokan paginya, Bu Ratna mencoba nomor itu lagi.
Aku duduk di samping meja sambil memandangi ponselnya.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian—
“Halo?”
Aku langsung mengangkat kepala.
Suara seorang pria terdengar dari seberang.
Dalam.
Serius.
Bu Ratna memperkenalkan dirinya.
“Maaf, Pak. Apakah saya sedang berbicara dengan Pak Damar?”
“Betul.”
“Saya menelepon soal seorang anak bernama Naufal.”
Hening.
Sangat lama.
Kemudian suara pria itu berubah.
“Naufal?”
“Iya.”
“Naufal… anaknya Michael?”
Aku menatap Bu Ratna.
Bagaimana orang itu tahu nama Ayah?
“Iya, Pak.”
“Ada apa dengan Michael?”
Bu Ratna menarik napas.
“Pak Michael meninggal.”
Tidak terdengar jawaban.
Beberapa detik berlalu.
Lalu pria itu berkata sangat pelan,
“Kapan?”
“Pemakamannya kemarin.”
Hening lagi.
Bu Ratna melanjutkan.
“Saya menemukan Naufal sendirian. Lebih tepatnya, dia datang ke rumah saya setelah berjalan dari jalan besar.”
“Apa maksud Ibu?”
“Ibu tirinya meninggalkannya.”
Suara dari seberang langsung meninggi.
“Laras?”
“Iya.”
“Dia meninggalkan anak itu di mana?”
Bu Ratna menjelaskan semuanya.
Aku bisa mendengar napas pria itu berubah.
Bukan lagi sedih.
Marah.
Namun ia menahan diri.
Kemudian dia menanyakan sesuatu yang membuat Bu Ratna terdiam.
“Apakah Laras mengatakan bahwa semua harta Michael menjadi miliknya?”
Aku menatap ponsel.
Bu Ratna memandangku.
Aku mengangguk cepat.
“Iya,” jawabnya. “Menurut Naufal, begitu katanya.”
Pria itu mengembuskan napas panjang.
Lalu terdengar suara kursi bergeser.
“Dengarkan saya baik-baik, Bu.”
Nada suaranya sekarang sangat serius.
“Jangan biarkan anak itu pergi dengan siapa pun sampai saya tiba.”
Bu Ratna menegang.
“Bapak siapa sebenarnya?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, dia bertanya,
“Apakah Naufal ada di sana?”
Bu Ratna menyerahkan telepon kepadaku.
Tanganku gemetar ketika menempelkannya ke telinga.
“Halo?”
Beberapa detik tidak terdengar apa-apa.
Lalu pria itu berkata,
“Naufal.”
“Iya, Pak.”
“Kamu mungkin tidak mengenal saya.”
Aku menelan ludah.
“Tidak.”
“Tapi ayahmu mengenal saya sangat baik.”
“Bapak temannya?”
Hening sejenak.
Kemudian dia menjawab,
“Saya adik kandung ayahmu.”
Aku membeku.
Ayah tidak pernah mengatakan bahwa ia memiliki seorang adik.
“Paman saya?”
“Iya.”
“Kenapa saya tidak pernah bertemu Paman?”
“Itu cerita yang panjang.”
Aku memandangi Bu Ratna.
Kemudian Pak Damar mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan seakan mendadak sunyi.
“Naufal, sebelum ayahmu meninggal, dia menghubungi saya.”
Jantungku berdegup keras.
“Kapan?”
“Beberapa minggu lalu.”
“Dia bilang apa?”
Pak Damar menarik napas.
“Dia bilang ada sesuatu yang tidak beres di rumahnya.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
“Apa maksudnya?”
“Dia mulai mencurigai Laras.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Kemudian pamanku bertanya,
“Apakah Laras benar-benar mengatakan rumah, perusahaan, rekening, dan seluruh warisan ayahmu sudah menjadi miliknya?”
“Iya.”
“Dia bilang semuanya?”
“Iya.”
Dari seberang terdengar napas panjang.
Lalu Pak Damar berkata dengan suara yang begitu tenang hingga justru membuatku semakin takut.
“Kalau begitu, dia melakukan persis seperti yang dikhawatirkan ayahmu.”
Aku menatap Bu Ratna.
“Apa yang Ayah takutkan?”
Paman Damar terdiam beberapa detik.
Kemudian dia menjawab,
“Ayahmu takut Laras akan mencoba mengambil sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diwariskan kepadanya.”
Aku tidak memahami maksudnya.
“Bukankah semuanya sudah jadi milik dia?”
“Tidak, Naufal.”
Suaranya tegas.
“Jauh sebelum meninggal, ayahmu sudah membuat pengaturan lain.”
Aku berdiri dari kursi.
“Pengaturan apa?”
“Kamu belum perlu membicarakannya lewat telepon. Saya akan datang membawa dokumen.”
“Dokumen?”
“Iya.”
Kemudian dia mengucapkan kalimat yang terus terngiang di kepalaku.
“Dan kalau dokumen yang saya pegang masih berlaku, rumah yang Laras klaim sebagai miliknya mungkin bukan miliknya sama sekali.”
Aku membeku.
Namun ternyata itu baru permulaan.
Karena menurut Paman Damar, beberapa minggu sebelum meninggal, Ayah menemukan perubahan mencurigakan pada sejumlah dokumen dan transaksi yang tidak pernah ia setujui.
Itulah sebabnya dia menulis nomor telepon itu.
Itulah sebabnya dia meminta maaf kepadaku.
Dan itulah sebabnya dia takut aku akan ditinggalkan begitu dirinya tidak ada.
Laras mengira dengan meninggalkanku di jalan sepi, dia telah menyingkirkan satu-satunya orang yang bisa menghalanginya mendapatkan seluruh harta Ayah.
Dia tidak tahu bahwa di dalam ransel anak sepuluh tahun yang baru saja dia buang…
ada nomor telepon menuju satu-satunya orang yang memegang salinan dokumen yang selama ini berusaha dia sembunyikan.
Dan ketika Paman Damar akhirnya tiba membawa sebuah map cokelat milik Ayah, aku baru memahami satu hal:
Ibu tiriku mungkin telah meninggalkanku karena mengira seluruh warisan sudah berada di tangannya.
Tetapi Ayah telah mempersiapkan sesuatu sebelum meninggal.
Sesuatu yang bahkan tidak pernah diceritakannya kepadaku.
Dan isi map itu akan mengubah semuanya.
Paman Damar tiba menjelang sore.
Aku sedang duduk di teras rumah Bu Ratna ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.
Seorang pria turun sambil membawa map cokelat tebal di tangan kirinya.
Usianya mungkin awal empat puluhan. Tubuhnya tinggi, rambutnya pendek, dan ada sedikit uban di dekat pelipis. Ia mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung sampai siku.
Begitu melihatku, langkahnya berhenti.
Aku juga tidak bergerak.
Selama beberapa detik kami hanya saling menatap.
Lalu wajahnya berubah.
Bukan karena terkejut.
Seperti seseorang yang sedang melihat kenangan lama hidup kembali di depan matanya.
“Ya Tuhan…”
Ia berjalan mendekat.
“Kamu benar-benar mirip Michael waktu kecil.”
Aku berdiri.
“Paman Damar?”
Dia mengangguk.
Namun dia tidak langsung memelukku.
Dia berhenti beberapa langkah dariku, seolah sadar bahwa bagiku dia tetap orang asing.
“Aku boleh mendekat?”
Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokanku terasa sesak.
Sejak Ayah meninggal, semua orang dewasa seperti memutuskan sesuatu untukku.
Laras memutuskan aku tidak boleh pulang.
Dia memutuskan aku harus turun dari mobil.
Dia memutuskan aku bukan lagi bagian dari rumah yang selama bertahun-tahun kutinggali.
Tetapi pria yang baru kukenal ini justru meminta izin sebelum mendekat.
Aku mengangguk.
Paman Damar berjongkok di depanku.
Matanya merah.
“Aku terlambat,” katanya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dia menundukkan kepala.
“Seharusnya aku datang lebih cepat.”
Aku akhirnya bertanya,
“Kenapa Paman tidak datang ke pemakaman Ayah?”
Wajahnya langsung menegang.
“Aku tidak tahu Michael meninggal.”
Aku terdiam.
“Laras tidak menghubungimu?”
“Tidak.”
“Bukankah Paman adiknya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Damar menatap map cokelat di tangannya.
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Bu Ratna mempersilakan kami masuk.
Di ruang tamu kecil itu, Paman Damar meletakkan map di atas meja.
Dia tidak langsung membukanya.
Sebaliknya, dia menatapku.
“Naufal, ada beberapa hal tentang ayahmu yang mungkin sulit kamu pahami sekarang.”
“Aku mau tahu.”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Aku cuma mau tahu kenapa dia menyuruhku menelepon Paman.”
Damar membuka map.
Di dalamnya ada beberapa dokumen, fotokopi surat, bukti transfer, dan sebuah amplop putih yang masih tertutup.
Namaku tertulis di bagian depan.
Untuk Naufal.
Aku mengenali tulisan tangan Ayah.
Tanganku langsung dingin.
“Itu dari Ayah?”
“Iya.”
“Kenapa ada di Paman?”
Damar menarik napas.
“Karena tiga minggu sebelum masuk rumah sakit, ayahmu datang menemuiku.”
Aku menatapnya.
“Dia pergi menemui Paman?”
“Iya.”
“Tapi waktu itu dia bilang pergi urusan kantor.”
“Dia berbohong kepadamu karena tidak ingin membuatmu takut.”
Damar mengambil sebuah dokumen.
“Michael mulai mencurigai ada yang mencoba memindahkan sebagian aset perusahaan tanpa sepengetahuannya.”
“Laras?”
“Ayahmu belum yakin waktu itu.”
Dia menunjukkan beberapa lembar.
Aku tentu tidak memahami semua angka dan istilah di sana.
Tetapi aku melihat nama Ayah.
Nama perusahaan.
Dan beberapa tanda tangan.
Damar menunjuk salah satunya.
“Ini bukan tanda tangan Michael.”
Aku mengerutkan kening.
“Paman tahu?”
“Aku bekerja bersamanya hampir lima belas tahun sebelum kami bertengkar.”
“Bertengkar tentang apa?”
Damar terdiam.
“Laras.”
Aku tidak menyangka jawaban itu.
Dia menjelaskan bahwa sejak awal, dirinya tidak mempercayai cara Laras masuk ke kehidupan Ayah begitu cepat.
Bukan karena Laras berasal dari keluarga tertentu atau karena ia menikah dengan duda.
Masalahnya muncul ketika Laras mulai ikut campur dalam urusan perusahaan.
Dia mendorong Ayah mengubah beberapa struktur kepemilikan.
Meminta akses ke rekening.
Menyarankan agar aset tertentu dipindahkan.
Paman Damar menentangnya.
Ayah marah.
Mereka bertengkar besar.
Setelah itu mereka hampir tidak pernah berbicara.
“Jadi Ayah memilih Laras daripada Paman?”
“Waktu itu, iya.”
Aku menunduk.
“Paman marah?”
“Bertahun-tahun.”
“Terus kenapa Paman mau membantu?”
Damar tersenyum sedih.
“Karena orang boleh bertengkar dengan kakaknya. Tapi bukan berarti berhenti menyayanginya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kemudian dia mengeluarkan dokumen lain.
“Dua bulan lalu, Michael meneleponku.”
Setelah bertahun-tahun tidak berbicara.
Ayah meminta bertemu.
Mereka bertemu diam-diam di sebuah kantor notaris.
Di sana Ayah mengakui bahwa beberapa kecurigaan Damar dulu ternyata benar.
Ada dokumen yang berubah.
Ada transaksi yang tidak dikenalnya.
Dan yang paling membuat Ayah takut bukan kehilangan uang.
Melainkan aku.
“Dia bilang apa tentang aku?”
Damar menatapku.
“Dia bilang, ‘Kalau terjadi sesuatu padaku, aku takut Naufal tidak akan punya siapa-siapa.’”
Aku langsung menundukkan kepala.
Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.
Damar tidak menyuruhku berhenti menangis.
Dia menunggu.
Setelah aku mengusap wajah, dia melanjutkan.
“Karena itu Michael membuat beberapa pengaturan.”
“Apa?”
“Rumah tempat kalian tinggal tidak pernah diberikan kepada Laras.”
Aku terdiam.
“Lalu milik siapa?”
Damar menatapku.
“Milikmu.”
Aku hampir tertawa karena mengira aku salah dengar.
“Aku?”
“Iya.”
“Tapi aku anak kecil.”
“Karena itulah kepemilikannya diatur melalui mekanisme hukum dan pengelolaan wali sampai kamu cukup umur.”
Aku melihat dokumen di meja.
“Jadi Laras bohong?”
“Setidaknya mengenai rumah, iya.”
“Tapi dia bilang semuanya punya dia.”
“Dia memang mendapat bagian tertentu sebagai istri sah. Kita tidak boleh mengabaikan haknya.”
Damar berhenti.
“Tapi bukan semuanya.”
Ternyata Ayah telah memisahkan sejumlah aset.
Sebagian kepemilikan usaha tetap memiliki pengaturan tersendiri.
Dana pendidikan disiapkan untukku.
Ada tabungan yang hanya boleh digunakan untuk kebutuhan hidup dan sekolahku.
Dan rumah keluarga telah dilindungi agar tidak bisa begitu saja dijual oleh Laras.
Namun ada masalah jauh lebih besar.
Damar mengeluarkan tiga lembar fotokopi.
“Setelah Michael masuk rumah sakit, muncul dokumen baru.”
“Apa?”
“Surat yang seolah-olah memberikan kuasa sangat luas kepada Laras.”
Aku tidak memahami istilahnya.
“Artinya?”
“Artinya, kalau dokumen ini dianggap sah, Laras bisa mencoba mengendalikan hampir semuanya.”
“Apakah sah?”
“Itulah masalahnya.”
Damar menunjuk tanggal.
“Pada tanggal dokumen ini katanya ditandatangani, ayahmu sedang dalam kondisi yang membuat keabsahan prosesnya perlu diperiksa.”
Aku langsung teringat rumah sakit.
Hari itu Ayah bahkan sulit berbicara.
Aku berdiri di samping ranjang sambil memegang tangannya.
“Dia hampir tidak bisa membuka mata.”
Damar mengangguk.
“Itulah sebabnya dokumen ini harus diperiksa.”
Keesokan harinya, semuanya bergerak cepat.
Bu Ratna sudah melaporkan situasiku kepada pihak berwenang agar keselamatanku ditangani dengan benar.
Paman Damar tidak mencoba membawaku begitu saja.
Dia mengatakan bahwa hubungan keluarga tidak memberinya hak untuk mengabaikan prosedur.
Untuk sementara, aku tetap bersama orang dewasa yang dianggap aman sambil proses mengenai pengasuhanku ditangani.
Sementara itu, pengacara keluarga menghubungi Laras.
Dan Laras panik.
Aku tahu karena dia akhirnya menelepon.
Saat itu aku sedang duduk di rumah Bu Ratna.
Ponsel Bu Ratna berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Dia mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, dia menatapku.
“Laras.”
Aku tidak ingin bicara.
Namun akhirnya aku setuju mendengarkan melalui pengeras suara.
Suara Laras terdengar berbeda.
“Naufal?”
Aku diam.
“Naufal, pulanglah.”
Kalimat itu hampir membuatku marah.
Kemarin aku bukan tanggung jawabnya.
Sekarang dia memintaku pulang.
“Aku tidak punya rumah,” jawabku.
“Apa maksudmu? Tentu kamu punya rumah.”
“Katamu itu rumahmu.”
Dia terdiam.
“Naufal, kemarin Ibu sedang emosi.”
Aku menatap Paman Damar.
Dia memberi isyarat agar aku tidak terpancing.
Laras melanjutkan.
“Kita semua sedang berduka. Ibu melakukan kesalahan.”
“Kenapa Ibu meninggalkanku?”
“Aku tidak berpikir jernih.”
“Kenapa Ibu bilang aku beban?”
Sunyi.
“Naufal…”
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Kemudian nada suaranya berubah.
“Apakah Damar ada di sana?”
Aku terkejut.
Jadi dia mengenal Paman.
Damar mengambil ponsel.
“Aku di sini.”
Hening.
Lalu Laras berkata,
“Kamu tidak berhak ikut campur.”
“Aku tidak akan berdebat lewat telepon.”
“Itu urusan keluargaku.”
“Naufal adalah keluargaku juga.”
“Kamu bahkan tidak hadir di pemakaman!”
“Karena tidak ada yang memberitahuku Michael meninggal.”
Laras diam.
Damar melanjutkan.
“Pengacara akan menghubungimu. Jangan jual, pindahkan, atau mengubah apa pun sampai status semua dokumen diperiksa.”
Telepon langsung ditutup.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke rumah di Sleman.
Bukan untuk tinggal.
Hanya untuk mengambil barang-barang pribadiku dengan pendampingan orang dewasa.
Begitu memasuki kamar, aku merasa seperti sudah pergi bertahun-tahun.
Padahal baru beberapa hari.
Buku matematikaku masih terbuka di meja.
Seragam sekolah tergantung di belakang pintu.
Foto Ayah masih ada di samping tempat tidur.
Aku mengambilnya.
Saat hendak memasukkannya ke ransel, aku melihat sesuatu di bawah meja.
Sebuah mobil-mobilan kayu kecil.
Ayah membuatnya untukku ketika aku berusia tujuh tahun.
Aku mengambilnya.
Ada suara kecil dari dalam.
Seperti sesuatu bergeser.
Aku menggoyangkannya lagi.
“Krek.”
Paman Damar menoleh.
“Apa itu?”
“Aku tidak tahu.”
Mobil kayu itu memiliki bagian bawah yang bisa dilepas.
Aku tidak pernah tahu.
Damar membantuku membukanya.
Di dalamnya ada benda kecil berwarna hitam.
Sebuah kartu memori.
Kami saling menatap.
Kartu itu kemudian diserahkan kepada pihak yang menangani perkara agar diperiksa dengan benar.
Isinya bukan rekening rahasia.
Bukan daftar uang.
Melainkan beberapa rekaman suara Ayah.
Rekaman pertama dibuat berminggu-minggu sebelum dia dirawat.
Suara Ayah terdengar lelah.
“Aku merekam ini karena aku mulai tidak yakin dokumen mana yang masih aman.”
Dadaku langsung sesak.
Dalam rekaman berikutnya, Ayah menjelaskan bahwa dia menemukan salinan tanda tangannya pada dokumen yang tidak pernah dia ingat tandatangani.
Dia tidak langsung menuduh Laras.
Dia hanya mencatat apa yang ditemukannya.
Tanggal.
Nama dokumen.
Percakapan.
Dan kekhawatirannya.
Rekaman terakhir jauh lebih pendek.
Suara Ayah sangat lemah.
“Kalau Naufal mendengar ini suatu hari nanti, berarti aku gagal menjelaskan semuanya sendiri.”
Aku menutup mulut.
Suara itu berlanjut.
“Naufal, dengarkan Ayah.”
Aku mulai menangis.
“Rumah bukan hal terpenting yang Ayah tinggalkan untukmu. Perusahaan juga bukan. Uang bisa habis. Rumah bisa rusak. Tapi jangan pernah percaya kalau seseorang mengatakan kamu adalah beban hanya karena mereka harus menyayangimu.”
Aku menundukkan kepala di meja.
Damar meletakkan tangan di bahuku.
Rekaman belum selesai.
“Ayah melakukan banyak kesalahan. Salah satunya membiarkan pertengkaran membuat Ayah menjauh dari adik Ayah sendiri.”
Damar membeku.
“Ayah terlalu gengsi meminta maaf lebih cepat.”
Aku melihat wajah pamanku.
Air matanya mengalir.
Kemudian terdengar kalimat terakhir.
“Damar, kalau kamu mendengar ini… maafkan aku.”
Paman Damar menutup wajah dengan kedua tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang pria dewasa menangis seperti anak kecil.
Beberapa bulan berikutnya tidak berjalan seperti film.
Tidak ada polisi datang lalu semuanya selesai dalam lima menit.
Tidak ada hakim langsung menyerahkan semua kekayaan kepadaku.
Dokumen diperiksa.
Tanda tangan dianalisis.
Catatan bank dibandingkan.
Orang-orang dimintai keterangan.
Hak Laras sebagai pasangan tetap diperhitungkan sesuai proses hukum.
Tetapi klaim bahwa seluruh harta otomatis menjadi miliknya tidak bertahan.
Beberapa dokumen yang dipermasalahkan harus melalui pemeriksaan lebih lanjut, dan transaksi tertentu dibekukan selama sengketa berlangsung.
Yang paling penting bagiku justru bukan uang.
Perbuatannya meninggalkanku sendirian setelah pemakaman menjadi bagian serius dari penilaian mengenai apakah dia pantas bertanggung jawab atas pengasuhanku.
Laras akhirnya tidak mendapatkan satu hal yang paling dia inginkan:
kendali penuh.
Aku kemudian tinggal bersama Paman Damar setelah semua proses yang diperlukan diselesaikan.
Awalnya terasa canggung.
Dia tidak tahu makanan favoritku.
Aku tidak tahu kebiasaannya.
Dia memasak nasi terlalu lembek.
Aku selalu lupa mematikan lampu kamar mandi.
Kami bahkan pernah berdebat karena dia ingin membelikanku sepatu baru sementara aku bersikeras sepatu lamaku masih bisa dipakai.
Tetapi setiap kali kami bertengkar, Damar tidak pernah mengatakan aku adalah beban.
Dia selalu kembali.
Selalu mengetuk pintu.
Selalu bertanya,
“Kita bicara sekarang atau nanti?”
Perlahan aku memahami sesuatu.
Keluarga bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Keluarga adalah orang yang tetap memilih bertanggung jawab setelah kesalahan terjadi.
Hampir setahun kemudian, aku menerima satu surat.
Dari Laras.
Aku tidak membukanya selama tiga hari.
Ketika akhirnya kubaca, isinya tidak seperti yang kubayangkan.
Tidak ada permintaan uang.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada alasan panjang.
Hanya beberapa kalimat.
Dia mengakui bahwa setelah kematian Ayah, ketakutannya berubah menjadi keserakahan.
Dia takut kehilangan kehidupan yang selama ini dinikmatinya.
Dan dia melihatku bukan sebagai anak yang baru kehilangan ayah, melainkan sebagai hambatan.
Di akhir surat dia menulis:
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku hanya ingin suatu hari nanti kamu tahu bahwa apa yang kulakukan kepadamu adalah pilihanku sendiri. Bukan karena kamu anak yang sulit. Bukan karena kamu menjadi beban. Aku yang gagal menjadi orang dewasa.”
Aku membaca bagian itu berkali-kali.
Kemudian kulipat suratnya.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Mungkin pengampunan memang tidak selalu datang seperti tombol yang bisa ditekan.
Tetapi aku berhenti bertanya apa yang salah denganku.
Pada ulang tahunku yang kesebelas, Paman Damar memberiku sebuah kotak kecil.
Di dalamnya bukan ponsel mahal.
Bukan uang.
Melainkan mobil kayu milik Ayah yang sudah diperbaiki.
Bagian bawahnya telah ditutup kembali.
Di sampingnya ada secarik kertas.
Tulisan Damar.
Untuk anak yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Aku menatapnya.
“Rumah yang mana?”
Damar tersenyum.
“Bukan bangunan.”
Aku langsung mengerti.
Malam itu kami pergi ke makam Ayah.
Aku membawa dua benda.
Mobil kayu itu.
Dan secarik kertas kusut berisi nomor telepon Paman Damar.
Aku duduk di depan makam cukup lama.
“Ayah…”
Suaraku bergetar.
“Aku menelepon nomor itu.”
Aku tertawa kecil sambil menangis.
“Paman ternyata menyebalkan.”
Damar yang berdiri beberapa meter di belakangku langsung protes.
“Hei.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya di makam Ayah.
Kemudian aku meletakkan tangan di atas batu nisannya.
“Aku masih marah karena Ayah tidak cerita semuanya.”
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
“Tapi aku mengerti kenapa Ayah memberikan nomor itu.”
Aku menatap secarik kertas di tanganku.
Pada hari Laras meninggalkanku di jalan, kupikir benda itu adalah petunjuk menuju orang yang akan menyelamatkan warisanku.
Aku salah.
Rahasia terbesar yang disimpan nomor tersebut bukan soal rumah.
Bukan perusahaan.
Bukan rekening bank.
Nomor itu menghubungkanku dengan seseorang yang pernah kehilangan kakaknya karena kesalahan, tetapi menolak kehilangan keponakannya untuk kedua kalinya.
Aku berdiri dan berjalan menuju Damar.
Dia mengulurkan tangan.
Aku menggenggamnya.
Sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi ke makam Ayah.
Laras pernah berkata bahwa setelah Ayah meninggal, aku bukan tanggung jawab siapa-siapa.
Dia salah.
Karena hari itu aku akhirnya memahami pesan terakhir Ayah.
Warisan terbesar yang ia tinggalkan bukan sesuatu yang bisa dicuri dengan tanda tangan.
Bukan sesuatu yang bisa dipindahkan melalui rekening.
Dan bukan sesuatu yang bisa direbut dengan selembar dokumen.
Ayah meninggalkanku sebuah jalan pulang.
Dan semuanya dimulai dari satu nama di atas secarik kertas kusut:
Damar.
