Setelah enam tahun bekerja di Singapura, aku pulang ke Indonesia dan menemukan rumah yang kubelikan untuk Ibu ternyata diiklankan untuk disewakan.

Avatar penulis
Cerita 04
23 menit baca 199 tayangan
Setelah enam tahun bekerja di Singapura, aku pulang ke Indonesia dan menemukan rumah yang kubelikan untuk Ibu ternyata diiklankan untuk disewakan.
Indeks

Setelah enam tahun bekerja di Singapura, aku pulang ke Indonesia dan menemukan rumah yang kubelikan untuk Ibu ternyata diiklankan untuk disewakan.

Aku membuat janji survei menggunakan nama palsu.

Adikku sendiri yang membukakan pintu.

Ia memakai perhiasan milik Ibu dan berkata santai, “Rumah ini milikku. Ibuku sudah pikun. Sekarang dia tinggal di bawah karena harus banyak istirahat.”

Namun ketika aku menemukan Ibu terbaring tak sadarkan diri di sebuah ranjang lipat dekat gudang belakang, aku langsung membuka penyamaranku.

Kupikir adikku akan ketakutan.

Ternyata dia malah tersenyum, mengambil ponselnya, lalu mengirim satu pesan.

Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka.

Dan orang yang masuk membawa sebuah dokumen yang membuatku sadar bahwa rumah itu bukan satu-satunya hal yang sedang mereka coba rebut dariku.

Setelah enam tahun bekerja di Singapura, aku pulang ke Indonesia dan menemukan rumah yang kubelikan untuk Ibu ternyata diiklankan untuk disewakan.

BAGIAN 1

Setelah enam tahun bekerja di Singapura, aku akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta hanya dengan satu koper besar, satu tas kabin, dan sebuah nama palsu.

Namaku sebenarnya Nadira Prameswari.

Tapi sore itu, aku datang ke rumah Ibu sebagai Dina Rahmawati, seorang perempuan yang katanya sedang mencari rumah kontrakan di kawasan Bintaro.

Aku tidak pernah membayangkan kepulanganku akan seperti ini.

Seharusnya aku menelepon Ibu dari bandara.

Seharusnya aku datang membawa oleh-oleh, memeluknya, lalu mendengar keluhannya karena aku terlalu kurus atau bekerja terlalu keras.

Tapi semua rencana itu berubah saat aku sedang menunggu penerbangan pulang.

Aku iseng membuka sebuah situs properti Indonesia.

Lalu aku melihat foto rumah yang sangat kukenal.

Pagar putih.

Pohon mangga di sisi teras.

Jendela besar yang dulu dipilih Ibu sendiri.

Bahkan pot keramik biru yang kubeli saat terakhir pulang masih terlihat di foto.

Judul iklannya sederhana:

Rumah Nyaman di Bintaro — Siap Huni.

Aku membaca alamatnya tiga kali.

Itu rumah Ibu.

Rumah yang kubeli tiga tahun setelah Ayah meninggal.

Aku yang membayar uang mukanya.

Aku pula yang mengirim cicilan setiap bulan dari Singapura.

Aku tidak pernah menganggap rumah itu sebagai investasi.

Aku membelinya karena setelah Ayah meninggal, Ibu selalu berkata rumah lama kami terlalu penuh kenangan.

Aku ingin dia punya tempat baru.

Tempat yang aman.

Tempat yang benar-benar bisa dia sebut rumah.

Tapi sekarang rumah itu disewakan.

Lebih aneh lagi, orang yang memasang iklan menggunakan nama adikku sendiri.

Raisa Prameswari.

Aku langsung menelepon Ibu.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Aku mencoba menghubungi Raisa.

Namun sebelum menekan tombol panggil, aku berhenti.

Selama sekitar enam bulan terakhir, ada sesuatu yang memang terasa aneh.

Setiap kali aku video call dengan Ibu, Raisa selalu berada di dekatnya.

Panggilan tidak pernah lebih dari beberapa menit.

Kamera selalu diarahkan sangat dekat ke wajah Ibu.

Kalau aku bertanya mengapa Ibu terlihat lemas, Raisa akan menjawab lebih dulu.

“Ibu sekarang gampang capek, Kak.”

Atau:

“Tadi habis minum obat.”

Atau:

“Dokter bilang harus banyak tidur.”

Aku terlalu jauh untuk memeriksa sendiri.

Dan aku mempercayai adikku.

Itulah kesalahanku.

Aku menghubungi nomor di iklan menggunakan nomor baru.

Kukatakan bahwa namaku Dina dan aku tertarik menyewa rumah tersebut.

Raisa langsung membalas.

Kami membuat janji.

Sebelum datang, aku membeli topi, kacamata besar, dan masker. Rambut panjangku kuselipkan ke dalam jaket.

Ketika aku menekan bel rumah itu, jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.

Pintu terbuka.

Raisa berdiri di sana.

Aku hampir lupa bernapas.

Bukan karena melihat wajah adikku setelah sekian lama.

Melainkan karena benda yang dikenakannya.

Sepasang anting mutiara kecil.

Dan gelang emas tipis.

Aku mengenal keduanya.

Anting itu milik Ibu.

Gelang tersebut hadiah dari Ayah saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh lima.

Ibu hampir tidak pernah melepasnya.

“Dina?” tanya Raisa ramah.

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Silakan masuk. Lihat-lihat saja dulu.”

Aku melangkah melewatinya.

Di dekat pintu ada beberapa pasang sepatu yang tidak kukenal.

Di ruang keluarga, sofa lama Ibu sudah hilang.

Diganti furnitur murah.

Ada beberapa kotak makanan di meja.

Tiga helm tergantung di dekat dapur.

Jelas ada orang lain yang tinggal di sana.

“Rumahnya punya Mbak sendiri?” tanyaku sambil berusaha menjaga suaraku.

Raisa tersenyum.

“Iya. Punya saya.”

Tanganku mengepal di dalam saku.

“Lumayan besar.”

“Warisan keluarga,” katanya enteng.

Warisan?

Aku hampir tertawa.

Tapi kutahan.

Aku harus tahu seberapa jauh kebohongan ini sudah berjalan.

“Kalau boleh tahu, sekarang rumahnya kosong?”

“Tidak sepenuhnya. Ada dua kamar yang sudah ditempati. Tapi bulan depan satu kamar kosong lagi.”

Aku menoleh ke arah tangga.

Lalu sengaja bertanya, “Orang tua Mbak tinggal di sini juga?”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Raisa berubah sedikit.

Hanya sepersekian detik.

Kemudian senyumnya kembali.

“Ibu saya masih tinggal di sini.”

“Oh.”

“Tapi tidak akan mengganggu.”

Aku pura-pura tertawa kecil.

“Kalau tinggal serumah, saya cuma takut kurang privasi.”

Raisa langsung menggeleng.

“Nggak. Ibu tinggal di bagian belakang bawah.”

“Kenapa?”

Raisa menghela napas seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang merepotkan.

“Sudah mulai pikun.”

Darahku terasa dingin.

“Parah?”

“Lumayan.”

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih bisa kudengar jelas.

“Kadang harus dikasih obat supaya tidur lebih lama. Kalau nggak, suka bingung sendiri dan bikin penghuni lain terganggu.”

Aku menatapnya dari balik kacamata.

Adikku sedang berbicara tentang perempuan yang membesarkan kami.

Perempuan yang pernah menjual gelangnya agar Raisa bisa membayar uang kuliah semester pertama.

Dan dia membicarakannya seperti gangguan kecil bagi bisnis kontrakan.

“Boleh saya lihat bagian bawah?” tanyaku.

Raisa ragu.

“Apa perlu?”

“Kalau saya mau tinggal di sini, saya ingin melihat seluruh rumah.”

Dia akhirnya mengangkat bahu.

“Ya sudah.”

Kami melewati dapur menuju sebuah pintu sempit.

Aku bahkan tidak tahu bagian itu pernah digunakan sebagai ruang tidur.

Dulu hanya gudang kecil dekat area servis.

Begitu pintunya dibuka, udara pengap langsung terasa.

Raisa berjalan lebih dulu.

Aku mengikuti.

Lalu aku melihat Ibu.

Seluruh tubuhku membeku.

Ibu terbaring di sebuah ranjang lipat tua.

Bukan tempat tidur.

Bukan kamar.

Ranjang lipat.

Di sampingnya ada kipas kecil, beberapa botol air mineral, tumpukan pakaian, dan sebuah kursi plastik.

Tubuh Ibu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali aku melihatnya melalui layar.

Dia mengenakan cardigan tebal meskipun udara Tangerang Selatan sedang panas.

“Ibu?”

Aku hampir mengucapkannya dengan suara asliku.

Untung aku masih bisa menahan diri.

Raisa berkata, “Lagi tidur.”

Aku mendekat.

“Ibu Mbak tidur terus?”

“Obatnya memang bikin ngantuk.”

Di atas kursi plastik terdapat beberapa botol dan kemasan obat serta suplemen tanpa penjelasan yang jelas.

Aku menyentuh tangan Ibu.

Dingin.

“Ibu?”

Tidak ada jawaban.

Aku menggoyangkan bahunya pelan.

Tetap tidak ada respons berarti.

Saat itulah seluruh penyamaranku terasa tidak penting lagi.

Aku berdiri.

Perlahan kulepas kacamata.

Lalu topiku.

Rambutku jatuh ke bahu.

Wajah Raisa berubah.

Dia menatapku seperti baru melihat orang mati berdiri di depannya.

“Kak… Nadira?”

Aku menatapnya.

“Katamu rumah ini milikmu.”

Raisa mundur selangkah.

“Dengar dulu—”

“Rumah ini kubeli untuk Ibu.”

“Kak, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan kenapa Ibu tidur di tempat seperti ini.”

Raisa pucat.

“Bukan seperti yang Kakak pikir.”

“Lalu seperti apa?”

Aku menunjuk ke arah obat-obatan di samping ranjang.

“Kenapa enam bulan terakhir setiap kali aku menelepon, kamu selalu ada di samping Ibu?”

Dia tidak menjawab.

“Kenapa aku tidak pernah boleh bicara lama dengannya?”

Diam.

“Dan kenapa kamu menyewakan kamar-kamar di rumah yang kubeli untuk Ibu?”

Aku mengira Raisa akan menangis.

Atau memohon.

Atau berusaha kabur.

Tapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan terjadi.

Ekspresinya berubah.

Rasa takutnya menghilang.

Raisa menatapku beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Dia mengambil ponselnya.

Mengetik sesuatu.

Mengirim pesan.

“Kamu kirim pesan ke siapa?”

Raisa memasukkan ponselnya kembali ke saku.

“Kak Nadira…”

Suaranya menjadi sangat tenang.

“Kakak seharusnya nggak pulang tanpa memberi tahu siapa pun.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, aku merasa masalah ini jauh lebih besar daripada Raisa.

Aku segera memeriksa napas Ibu dan menelepon bantuan medis.

Setelah memastikan pertolongan sedang menuju rumah, aku kembali menatap adikku.

Aku tidak mau dia menghilangkan bukti apa pun.

Di lantai atas, aku menemukan salinan perjanjian sewa.

Beberapa nama penghuni.

Bukti transfer.

Dan tanda tangan yang membuat perutku mual.

Tanda tangan Ibu.

Tapi bentuknya tidak benar.

Aku mengenal tanda tangan Ibu.

Yang ada di dokumen itu terlalu kaku.

Terlalu rapi.

Seperti seseorang sedang menirunya.

Aku memotret semuanya.

Lalu kubuka laptop.

“Apa yang Kakak lakukan?” tanya Raisa.

“Semua orang yang tinggal di sini harus tahu siapa pemilik rumah sebenarnya dan apa yang kamu lakukan.”

Raisa justru tertawa kecil.

“Kakak masih belum mengerti.”

“Aku mengerti cukup banyak.”

“Nggak.”

Dia duduk santai di kursi ruang makan.

“Kakak baru melihat permukaannya.”

Menjelang malam, para penghuni rumah berkumpul di ruang makan.

Dua orang pekerja kantoran dan seorang mahasiswa.

Wajah mereka bingung.

Raisa duduk di ujung meja.

Aku berdiri di dekat televisi dengan laptop terbuka.

Aku sudah menyiapkan bukti transfer pembayaran rumah.

Dokumen pembelian.

Percakapan lama dengan agen properti.

Serta foto-foto perjanjian sewa yang baru saja kutemukan.

Aku ingin semuanya terbuka.

Bukan hanya demi rumah.

Demi Ibu.

“Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui tentang rumah ini,” kataku.

Salah satu penghuni menatap Raisa.

Raisa tidak bergerak.

Aku baru hendak menampilkan dokumen pertama ketika terdengar suara dari depan.

Klik.

Pintu utama terbuka.

Tidak ada yang berdiri untuk membukanya.

Artinya orang itu punya kunci.

Langkah kaki berat terdengar dari foyer.

Seorang pria bertubuh besar masuk ke ruang makan.

Usianya sekitar empat puluhan.

Jaket kulit gelap.

Ada bekas luka lama di dekat alisnya.

Aku belum pernah melihatnya.

Namun Raisa langsung bersandar di kursinya.

Tenang.

Seolah-olah sejak tadi dia memang menunggu pria itu datang.

Pria tersebut berhenti tepat di antara aku dan pintu keluar.

Dia tidak mengenakan seragam polisi.

Tidak membawa surat dari kelurahan.

Tidak memperkenalkan diri.

Dia hanya mengeluarkan sebuah map abu-abu.

Lalu melemparkannya ke atas meja.

Map itu meluncur sampai berhenti tepat di depanku.

“Apa ini?” tanyaku.

Pria itu menatapku tanpa ekspresi.

“Baca.”

Aku membuka map tersebut.

Halaman pertama membuat tanganku gemetar.

Namaku tercetak di sana.

NADIRA PRAMESWARI.

Nomor pasporku.

Tanggal lahirku.

Bahkan alamat apartemen lamaku di Singapura.

Lalu kulihat judul dokumennya.

Aku membaca sekali.

Dua kali.

Tidak mungkin.

Aku menoleh kepada Raisa.

Dia tersenyum.

“Sekarang Kakak mulai paham?”

Aku membalik halaman berikutnya.

Ada tanda tangan.

Tanda tangan yang terlihat seperti milikku.

Di bawahnya tercantum sebuah pernyataan bahwa beberapa tahun sebelumnya aku telah memberikan kuasa pengelolaan aset kepada seseorang di Indonesia.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Tidak pernah.

Namun yang membuatku lebih takut bukanlah tanda tangannya.

Melainkan nama orang yang menerima kuasa tersebut.

Bukan Raisa.

Aku menatap pria di hadapanku.

“Siapa kamu?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia menarik sebuah kursi dan duduk.

Kemudian dia berkata pelan,

“Pertanyaan yang lebih penting, Nadira, adalah kenapa selama enam tahun kamu percaya semua uang yang kamu kirim dari Singapura benar-benar masuk ke rekening ibumu?”

Aku merasa udara di ruangan itu menghilang.

Raisa tersenyum semakin lebar.

Pria itu mengeluarkan satu dokumen lagi dari map.

Kali ini sebuah laporan rekening.

Aku mengenali nomor rekening pengirimnya.

Rekeningku sendiri.

Tetapi rekening penerimanya…

bukan rekening Ibu.

Bukan pula rekening Raisa.

Aku menatap deretan transaksi selama bertahun-tahun.

Ratusan juta rupiah.

Lalu aku melihat nama pemilik rekening tujuan.

Tanganku langsung berhenti bergerak.

Aku mengenal nama itu.

Sangat mengenalnya.

Karena orang itu seharusnya sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Aku menatap Raisa.

“Apa-apaan ini?”

Raisa tidak menjawab.

Pria berjaket kulit itu mencondongkan tubuh ke depan.

Kemudian dia mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh dunia yang kukenal runtuh.

“Kalau kamu benar-benar ingin tahu siapa yang mengambil uangmu, rumah ibumu bukan tempat pertama yang harus kamu periksa.”

Dia menunjuk dokumen di tanganku.

“Periksa siapa yang sebenarnya menandatangani surat kematian ayahmu.”

Aku tidak bisa bergerak.

Di luar, suara kendaraan medis semakin mendekat.

Namun di dalam rumah itu, tidak seorang pun berbicara.

Karena saat itu aku akhirnya mengerti.

Aku pulang ke Indonesia karena mengira adikku diam-diam menyewakan rumah Ibu.

Ternyata rumah itu hanyalah pintu masuk.

Dan rahasia sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku pergi ke Singapura.

BAGIAN 2

“Periksa siapa yang sebenarnya menandatangani surat kematian ayahmu.”

Kalimat itu membuat seluruh ruang makan mendadak terasa sunyi.

Aku menatap pria berjaket kulit di depanku.

Lalu menatap Raisa.

Adikku tidak lagi tersenyum lebar. Namun dia juga tidak terlihat takut.

Seolah-olah dia sudah menunggu bertahun-tahun untuk melihat wajahku saat rahasia ini akhirnya terbuka.

Dari luar terdengar kendaraan berhenti di depan rumah.

Aku langsung berlari ke bagian belakang.

Petugas medis masuk beberapa saat kemudian dan memeriksa Ibu.

Aku mengikuti mereka dengan tangan gemetar.

Salah seorang petugas mengatakan kondisi Ibu harus segera diperiksa di rumah sakit. Dia tampak mengalami dehidrasi dan pengaruh zat yang membuatnya sangat mengantuk, tetapi penyebab pastinya harus ditentukan dokter melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Saat tandu dibawa keluar, Raisa berdiri di lorong.

Aku menatapnya.

“Kalau terjadi sesuatu pada Ibu…”

Raisa memotongku.

“Aku tidak pernah ingin mencelakai Ibu.”

“Lalu kenapa dia tidur di ranjang lipat dekat gudang?”

Wajahnya berubah.

“Karena kamar-kamarnya harus disewakan.”

“Untuk apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku menunjuk pria asing itu.

“Dan siapa dia?”

Pria tersebut akhirnya berdiri.

“Namaku Bima.”

“Bima siapa?”

“Bima Santoso.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.

Namun kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku kembali membeku.

“Aku pernah bekerja untuk ayahmu.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Ayahku punya toko bahan bangunan. Dia bukan bos perusahaan besar yang membutuhkan orang seperti kamu.”

Bima menatapku lama.

“Itu yang kamu tahu tentang dia.”

Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi petugas medis meminta seseorang menemani Ibu.

“Aku ikut,” kataku.

Raisa tiba-tiba maju.

“Aku juga.”

“Tidak.”

“Kak—”

“Kamu tetap di sini.”

Untuk pertama kalinya dia terlihat terluka.

“Dia juga ibuku.”

Aku hampir membalas.

Tapi sesuatu di wajah Raisa membuatku berhenti.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Bukan takut kepadaku.

Dia takut kepada Bima.

Saat itulah aku mulai menyadari satu hal.

Mungkin Raisa bukan satu-satunya orang yang berbohong.

Aku mendekatinya.

“Kalau kamu ingin aku percaya sedikit saja, serahkan ponselmu.”

Dia menatap Bima.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

Bima juga melihatnya.

Raisa kemudian memasukkan tangan ke tas.

Namun bukannya mengeluarkan ponsel, dia mengeluarkan sebuah kunci kecil.

Dia menggenggamnya erat.

Lalu menyelipkannya ke tanganku saat Bima sedang menoleh ke arah pintu.

Hampir tanpa suara, Raisa berbisik,

“Loker 317. Stasiun Sudirman.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Jangan percaya siapa pun.”

Matanya berkaca-kaca.

“Termasuk aku.”


Aku menghabiskan malam di rumah sakit.

Dokter mengatakan Ibu berada dalam kondisi stabil.

Itu kalimat pertama yang membuatku bisa bernapas sedikit lega.

Mereka masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apa yang masuk ke tubuhnya dan berapa lama kondisinya seperti itu.

Aku duduk di samping tempat tidur.

Wajah Ibu tampak begitu kecil di atas bantal.

Aku memegang tangannya.

“Ibu…”

Tidak ada jawaban.

“Aku pulang.”

Kelopak matanya bergerak sedikit.

Aku menunduk.

“Maaf aku terlambat.”

Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Indonesia, aku menangis.

Enam tahun.

Enam tahun aku mengira mengirim uang setiap bulan sudah cukup.

Aku membayar rumah.

Biaya hidup.

Perawatan kesehatan.

Tagihan.

Aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa aku melakukan semuanya demi Ibu.

Tapi ternyata uang tidak bisa menggantikan keberadaan seseorang.

Menjelang pagi, jari Ibu bergerak.

Lemah sekali.

Kemudian bibirnya terbuka.

“Nadira…”

Aku langsung berdiri.

“Ibu?”

Matanya hanya terbuka sedikit.

“Ayahmu…”

Jantungku berhenti.

“Ayah kenapa?”

Dia berusaha bicara.

Aku mendekatkan telinga.

“Bukan… Bima…”

Lalu matanya tertutup lagi.

Aku memanggil perawat.

Setelah kondisinya diperiksa dan dinyatakan stabil, aku duduk kembali.

Tiga kata itu terus berputar di kepalaku.

Bukan Bima.

Apa maksudnya?


Pagi itu aku pergi ke Stasiun Sudirman.

Aku tidak memberi tahu Raisa.

Tidak memberi tahu Bima.

Tidak memberi tahu siapa pun.

Loker 317 berada di deretan paling ujung.

Kunci dari Raisa pas.

Di dalamnya hanya ada tiga benda.

Sebuah ponsel lama.

Sebuah amplop cokelat.

Dan sebuah USB hitam.

Aku membuka amplop.

Ada fotokopi beberapa rekening.

Dokumen notaris.

Salinan identitas.

Dan satu surat tulisan tangan.

Aku mengenali tulisan itu sebelum membaca namanya.

Tulisan Ayah.

Tanganku gemetar.

Di bagian atas tertulis:

Untuk Nadira dan Raisa.

Aku duduk di bangku terdekat.

Lalu membaca.

Ayah menulis surat itu beberapa bulan sebelum meninggal.

Dia mengaku selama bertahun-tahun bisnis bahan bangunannya terlilit utang.

Awalnya kecil.

Lalu semakin besar.

Dia meminjam uang dari berbagai pihak untuk menutup pinjaman sebelumnya.

Salah satu orang yang membantunya adalah Bima.

Tapi Bima bukan rentenir.

Dia bekerja sebagai penagih untuk seseorang.

Nama orang itu ada di halaman kedua.

Hendra Wijaya.

Aku mengenal nama itu.

Paman Hendra.

Sahabat Ayah.

Pria yang berdiri paling depan saat pemakaman Ayah.

Orang yang memelukku sambil berkata,

“Sekarang kamu harus kuat untuk Ibu dan Raisa.”

Aku terus membaca.

Ayah rupanya menemukan bahwa Hendra menggunakan bisnis-bisnis kecil yang terlilit utang untuk memindahkan uang melalui rekening mereka.

Ketika Ayah mencoba keluar, Hendra mengancam akan mengambil rumah lama kami.

Ayah lalu mengumpulkan bukti.

Transfer.

Percakapan.

Nama perusahaan.

Rekening.

Semua disimpan di USB.

Tetapi bagian terakhir surat itulah yang membuatku hampir menjatuhkannya.

Jika sesuatu terjadi padaku, jangan langsung percaya bahwa aku pergi karena sakit.

Aku menutup mulut.

Ayah memang meninggal setelah disebut mengalami serangan jantung.

Tidak ada yang mencurigakan saat itu.

Setidaknya begitulah yang kami percaya.

Aku membuka ponsel lama.

Baterainya masih memiliki sedikit daya.

Ada satu folder rekaman suara.

Rekaman terakhir dibuat beberapa hari sebelum Ayah meninggal.

Aku menekan tombol putar.

Suara Ayah terdengar.

“Kalau kamu mendengar ini, berarti aku tidak sempat memperbaiki semuanya.”

Aku mulai menangis.

Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suaranya.

“Ayah melakukan kesalahan. Banyak sekali. Tapi satu hal yang tidak boleh kalian percaya adalah bahwa Nadira meninggalkan keluarga.”

Aku membeku.

“Ayah tahu Nadira akan bekerja ke luar negeri. Ayah juga tahu dia akan mengirim uang. Jangan gunakan uang itu untuk membayar utang Ayah.”

Kemudian terdengar suara lain.

Suara seorang perempuan muda.

Raisa.

“Kalau mereka datang lagi bagaimana?”

Suara Ayah menjawab,

“Jangan tanda tangani apa pun.”

Aku menghentikan rekaman.

Raisa tahu.

Sejak awal.


Aku kembali ke rumah sakit menjelang siang.

Raisa sudah berada di lorong.

Sendirian.

Begitu melihat USB di tanganku, wajahnya runtuh.

“Kak…”

Aku menamparnya.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat kami berdua terdiam.

Air mataku jatuh.

“Enam tahun.”

Raisa menangis.

“Aku tahu.”

“Enam tahun kamu bohong kepadaku.”

“Aku tahu.”

“Uangku ke mana?”

Dia duduk di kursi lorong.

Lalu untuk pertama kalinya, adikku menceritakan semuanya.

Setelah Ayah meninggal, Hendra datang membawa dokumen.

Dia mengatakan Ayah meninggalkan utang hampir Rp1,8 miliar.

Jika keluarga tidak membayar, dia akan melaporkan masalah bisnis Ayah dan mengambil aset yang tersisa.

Ibu panik.

Raisa baru berusia dua puluhan.

Aku sudah berada di Singapura.

Kemudian uang kirimanku mulai masuk.

Hendra mengetahui itu.

“Awalnya cuma sebagian,” kata Raisa sambil menangis. “Dia bilang kalau utang Ayah lunas, semuanya selesai.”

“Tapi tidak pernah selesai.”

Raisa menggeleng.

“Setiap kali hampir lunas, muncul angka baru.”

Aku langsung mengerti.

“Itu bukan utang.”

Raisa menangis semakin keras.

“Itu pemerasan.”

Aku menatapnya.

“Lalu rumah?”

Ketika aku membeli rumah untuk Ibu, Hendra menyadari ada aset baru.

Dia memaksa Raisa menyewakan kamar-kamar.

Uang sewa diserahkan kepadanya.

“Tapi kenapa Ibu dipindahkan ke belakang?”

Raisa menunduk.

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan itu.

“Aku butuh kamar tambahan untuk disewakan.”

“Dan obat?”

“Aku tidak tahu itu apa.”

“Jangan bohong lagi!”

“Hendra yang membawanya!”

Suara Raisa pecah.

“Dia bilang itu vitamin dan obat tidur dari klinik supaya Ibu nggak cemas. Awalnya aku percaya.”

Aku menatapnya dengan jijik.

“Lalu setelah Ibu hampir tidak bisa bangun?”

Raisa menutup wajahnya.

“Aku takut.”

“Takut bukan alasan untuk membiarkan Ibu seperti itu.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya dia tidak membela diri.

“Aku tahu, Kak.”

Dia menurunkan tangannya.

“Aku melakukan hal yang mengerikan.”

Kami terdiam lama.

Lalu aku bertanya,

“Bima?”

Raisa menggeleng.

“Dia bukan orang Hendra.”

“Tapi kamu memanggilnya.”

“Aku menghubungi dia karena aku tahu Kakak akan pulang setelah melihat iklan rumah.”

Aku tercengang.

“Kamu sengaja memasang iklan itu?”

Raisa mengangguk.

Semua bagian cerita yang kukira sudah kupahami kembali berantakan.

“Aku mencoba menelepon Kakak beberapa kali dari nomor lain. Tapi aku takut semuanya dipantau. Jadi aku memasang rumah dengan foto asli.”

“Supaya aku melihatnya?”

“Iya.”

Aku tidak tahu apakah ingin memeluknya atau menamparnya lagi.

“Kenapa tidak langsung bilang?”

“Karena Hendra punya salinan surat kuasa palsu atas nama Kakak. Dia bilang kalau Kakak kembali dan membuat masalah, Kakak yang akan dituduh melakukan penipuan aset.”

“Dan Bima?”

“Bima sudah lama mencoba membantu Ayah mengumpulkan bukti.”

Tiga kata Ibu kembali terngiang.

Bukan Bima.

Aku akhirnya mengerti.


Sore itu kami membuka USB.

Isinya cukup untuk mengubah semuanya.

Ada salinan transaksi.

Percakapan.

Dokumen perusahaan.

Dan foto surat kematian Ayah.

Tanda tangan dokter di sana tampak sah.

Tapi ada lampiran administratif lain.

Nama orang yang mengurus seluruh proses setelah Ayah meninggal:

Hendra Wijaya.

Kami menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang melalui bantuan pengacara.

Aku tidak mencoba menjadi pahlawan.

Aku tidak mendatangi Hendra sendirian.

Aku tidak membuat jebakan dramatis.

Setelah melihat apa yang terjadi pada Ibu, aku sudah belajar satu hal:

bukti lebih berguna daripada keberanian bodoh.

Penyelidikan berlangsung.

Dokumen-dokumen diperiksa.

Aliran dana ditelusuri.

Surat kuasa yang menggunakan namaku dipersoalkan keabsahannya.

Beberapa rekening yang selama ini menerima uang juga diperiksa.

Dan akhirnya muncul fakta yang bahkan Raisa tidak tahu.

Utang Ayah memang pernah ada.

Tapi jumlah sebenarnya jauh lebih kecil daripada yang diklaim Hendra.

Sebagian besar sudah dilunasi bertahun-tahun sebelumnya.

Selama ini, Hendra memanfaatkan rasa takut keluarga kami untuk terus mengambil uang.

Namun mengenai kematian Ayah, kenyataannya tidak seperti dugaan paling burukku.

Setelah pemeriksaan dokumen medis dilakukan, tidak ditemukan dasar untuk menyimpulkan bahwa Hendra menyebabkan kematian Ayah.

Ayah memang memiliki masalah jantung yang tidak pernah dia ceritakan kepada kami.

Suratnya bukan bukti pembunuhan.

Itu adalah surat seorang lelaki ketakutan yang tahu dirinya sedang berhadapan dengan orang berbahaya dan tidak tahu apa yang akan terjadi.

Aneh sekali.

Sebagian diriku merasa lega.

Sebagian lain justru semakin sedih.

Karena ternyata tidak ada konspirasi besar yang merenggut Ayah.

Yang ada hanyalah serangkaian kesalahan manusia.

Utang.

Ketakutan.

Rahasia.

Dan kebohongan yang tumbuh karena semua orang terlalu takut mengatakan kebenaran.


Beberapa minggu kemudian, Ibu akhirnya pulang dari rumah sakit.

Bukan ke rumah Bintaro.

Aku menyewa sebuah apartemen kecil sementara sampai masalah rumah selesai.

Hari pertama Ibu cukup kuat untuk duduk di balkon, aku membawakan teh hangat.

Raisa datang.

Dia berdiri di pintu.

Tidak berani masuk.

Ibu melihatnya.

Wajah Raisa langsung basah oleh air mata.

“Bu…”

Ibu tidak menjawab.

Raisa berlutut di depan kursinya.

“Maafin Raisa.”

Tidak ada alasan.

Tidak ada pembelaan.

Hanya dua kata itu.

Ibu menatapnya lama.

Kemudian bertanya,

“Kamu yang pindahkan tempat tidur Ibu?”

Raisa mengangguk sambil menangis.

“Iya.”

“Kamu yang sewakan kamar?”

“Iya.”

“Kamu kasih Ibu obat?”

Raisa terdiam.

“Hendra yang kasih, tapi Raisa yang memberikan.”

Aku melihat tangan Ibu gemetar.

Aku pikir dia akan menyuruh Raisa pergi.

Sebaliknya, Ibu berkata,

“Ibu belum bisa memaafkan kamu.”

Raisa menangis semakin keras.

“Tapi…”

Ibu menarik napas.

“…Ibu juga belum mau kehilangan anak kedua.”

Raisa menatapnya.

Ibu mengulurkan tangan.

Bukan untuk memeluknya.

Hanya meletakkannya di kepala Raisa.

“Kalau kamu benar-benar menyesal, jangan minta semuanya kembali seperti dulu.”

Raisa terisak.

“Perbaiki pelan-pelan.”

Itulah Ibu.

Bahkan setelah semua yang terjadi, dia masih tahu perbedaan antara memaafkan dan berpura-pura tidak pernah terluka.


Kasus terhadap Hendra berjalan melalui proses hukum.

Aku tidak mendapatkan seluruh uangku kembali.

Mungkin tidak akan pernah.

Tapi rumah itu berhasil diamankan dari klaim berdasarkan dokumen yang bermasalah.

Para penyewa diberi waktu yang wajar untuk mencari tempat baru. Mereka juga bukan musuhku. Mereka membayar sewa dengan itikad baik dan tidak tahu apa yang terjadi.

Raisa tidak langsung kembali tinggal bersama Ibu.

Itu keputusan kami bertiga.

Dia mencari pekerjaan tetap dan mulai membayar kembali sebagian uang sewa yang pernah dia ambil.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada pelukan yang langsung menghapus enam tahun kebohongan.

Kepercayaan dibangun kembali dengan cara yang membosankan.

Satu hari.

Satu tindakan.

Satu kebenaran pada satu waktu.

Tapi kejutan terakhir datang beberapa bulan kemudian.

Aku sedang membersihkan kamar Ibu ketika menemukan kotak kayu kecil milik Ayah.

Di dalamnya ada buku tabungan lama.

Aku membawanya kepada Ibu.

“Ini apa?”

Ibu tersenyum.

“Buka.”

Rekening itu dibuat bertahun-tahun lalu.

Atas nama Ibu.

Ada transfer kecil setiap bulan.

Kadang Rp500 ribu.

Kadang satu juta.

Kadang tidak ada sama sekali.

Lalu aku melihat sumbernya.

Ayah.

“Ini tabungan rahasia?”

Ibu mengangguk.

“Ayahmu menyisihkan sedikit setiap kali bisa.”

“Untuk apa?”

Ibu membuka halaman terakhir.

Ada tulisan tangan Ayah.

Untuk tiket pulang Nadira.

Aku tidak bisa bicara.

Ibu tersenyum sedih.

“Dia selalu takut kamu suatu hari terlalu malu untuk pulang karena merasa belum cukup sukses.”

Air mataku langsung jatuh.

Selama enam tahun aku bekerja seperti orang gila.

Aku mengejar promosi.

Menambah jam kerja.

Mengirim semakin banyak uang.

Aku berpikir menjadi anak yang baik berarti memastikan keluargaku tidak pernah kekurangan uang.

Ternyata Ayah, dengan segala kesalahan dan utangnya, menyimpan uang sedikit demi sedikit hanya untuk satu hal.

Agar aku selalu punya jalan pulang.

“Ibu…”

Ibu menggenggam tanganku.

“Ayahmu bukan orang sempurna.”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Tapi dia sayang kalian.”

Saat itu Raisa muncul di pintu membawa makanan.

Dia melihat kami menangis.

“Ada apa?”

Aku menatapnya.

Lalu menggeser buku tabungan itu ke arahnya.

Raisa membacanya.

Beberapa detik kemudian, dia duduk di lantai dan menangis seperti anak kecil.

Kami bertiga tidak mengatakan apa-apa.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami hanya duduk bersama.

Tidak ada rahasia.

Tidak ada layar ponsel.

Tidak ada Singapura.

Tidak ada surat kuasa.

Tidak ada rekening tersembunyi.

Hanya tiga perempuan yang akhirnya memahami bahwa keluarga mereka hampir hancur bukan karena satu orang jahat saja.

Keluarga kami hampir hancur karena kami berhenti berbicara jujur satu sama lain.


Beberapa bulan kemudian, aku berdiri di depan rumah Bintaro.

Pagar putihnya sudah dicat ulang.

Kamar belakang yang dulu menjadi tempat Ibu terbaring sudah kami bongkar dan ubah menjadi ruang kecil yang menghadap taman.

Aku tidak menjual rumah itu.

Aku juga tidak menyewakannya lagi.

Ibu kembali tinggal di sana setelah merasa siap.

Raisa tidak.

Belum.

Dia menyewa tempat kecil tidak jauh dari sana dan datang beberapa kali seminggu.

Hubungan mereka perlahan membaik.

Hubunganku dengan Raisa juga begitu.

Suatu sore kami bertiga duduk di teras.

Ibu memakai gelang emas pemberian Ayah.

Anting mutiaranya juga sudah kembali.

Raisa membawa teh dari dapur.

Aku menatap rumah itu.

Enam tahun sebelumnya, aku meninggalkan Indonesia dengan keyakinan bahwa tugasku adalah mencari uang sebanyak mungkin agar keluargaku aman.

Sekarang aku tahu aku salah.

Uang bisa membeli rumah.

Tapi uang tidak bisa memastikan rumah itu tetap menjadi tempat yang aman.

Uang bisa membayar tagihan.

Tapi tidak bisa menggantikan percakapan yang seharusnya dilakukan.

Dan cinta kepada keluarga tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kesalahan mereka.

Kadang mencintai seseorang berarti meminta mereka bertanggung jawab.

Kadang berarti memberi kesempatan kedua.

Dan kadang berarti mengatakan:

Aku memaafkanmu, tapi kepercayaan itu harus kamu bangun kembali.

Ibu tiba-tiba menyentuh lenganku.

“Nadira.”

“Ya, Bu?”

“Kapan kembali ke Singapura?”

Aku melihat rumah.

Lalu Raisa.

Kemudian wajah Ibu.

Aku tersenyum.

“Belum tahu.”

Ibu mengangkat alis.

“Kerjaanmu?”

“Bisa diatur.”

Raisa tertawa kecil.

Ibu menggenggam tanganku.

Aku memandang pintu depan yang beberapa bulan sebelumnya kubuka dengan nama palsu.

Aku datang ke rumah itu sebagai orang asing karena takut pada apa yang akan kutemukan.

Sekarang aku duduk di terasnya sebagai diriku sendiri.

Aku kehilangan banyak uang.

Aku kehilangan enam tahun yang tidak mungkin kembali.

Dan aku kehilangan gambaran sempurna tentang keluargaku.

Tapi mungkin memang itu yang harus hilang.

Karena sebagai gantinya, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Kebenaran.

Kesempatan kedua.

Dan sebuah rumah yang akhirnya terasa seperti rumah lagi.

Di sampingku, Ibu tersenyum.

Di seberang meja, Raisa menuangkan teh.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada satu pun dari kami yang menyembunyikan sesuatu.

Aku akhirnya mengerti mengapa Ayah menyimpan tabungan kecil itu.

Dia tidak sedang menabung untuk tiket pesawat.

Dia sedang menyimpan sebuah pesan.

Bahwa sejauh apa pun aku pergi…

aku selalu boleh pulang.

TAMAT.