SUAMIKU DATANG KE SIDANG PERCERAIAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PRA-NIKAH YANG IA YAKINI TAK BISA DIGUGAT, DAN PEREMPUAN YANG AKAN DINIKAHINYA SETELAH KAMI BERCERAI.

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 519 tayangan
SUAMIKU DATANG KE SIDANG PERCERAIAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PRA-NIKAH YANG IA YAKINI TAK BISA DIGUGAT, DAN PEREMPUAN YANG AKAN DINIKAHINYA SETELAH KAMI BERCERAI.
Indeks

SUAMIKU DATANG KE SIDANG PERCERAIAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PRA-NIKAH YANG IA YAKINI TAK BISA DIGUGAT, DAN PEREMPUAN YANG AKAN DINIKAHINYA SETELAH KAMI BERCERAI.

Dia begitu yakin akan membawa pergi hampir seluruh harta kami—bahkan mendapatkan hak asuh utama atas kedua putra kembar kami.

Namun semuanya berubah ketika hakim membuka dokumen asli pendirian perusahaan, melihat NAMA PERTAMA yang tercantum di sana, lalu mengajukan satu pertanyaan.

Dalam hitungan detik, wajah suamiku langsung pucat.

Pagi itu, ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hampir penuh.

Perceraian kami telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Bukan karena aku terkenal.

SUAMIKU DATANG KE SIDANG PERCERAIAN DENGAN TIGA PENGACARA, PERJANJIAN PRA-NIKAH YANG IA YAKINI TAK BISA DIGUGAT, DAN PEREMPUAN YANG AKAN DINIKAHINYA SETELAH KAMI BERCERAI.

Melainkan karena suamiku, Arga Mahendra, adalah CEO Mahendra Trans Logistik, salah satu perusahaan transportasi dan distribusi yang berkembang pesat di Indonesia.

Wajah Arga sering muncul di majalah bisnis.

Dia kerap diundang ke acara perusahaan, seminar kewirausahaan, kegiatan amal, dan makan malam bersama para pengusaha serta pejabat.

Di depan kamera, Arga selalu terlihat sempurna.

Setelan mahal.

Jam tangan mewah.

Senyum tenang.

Dan cerita yang selalu sama.

Ia membangun semuanya dari nol.

Setidaknya, itulah yang selama bertahun-tahun dipercaya semua orang.

Sedangkan aku?

Namaku Nadira Prameswari.

Hampir tidak ada orang yang mengenalku.

Selama tiga belas tahun pernikahan kami, aku selalu berdiri beberapa langkah di belakang Arga.

Aku datang ke acara penghargaan perusahaan.

Aku duduk di sampingnya dalam jamuan bisnis.

Aku tersenyum ketika wartawan bertanya bagaimana rasanya menjadi istri dari seorang pengusaha sukses.

Mereka biasanya menulis satu kalimat sederhana tentangku:

Istri yang setia mendampingi kesuksesan suaminya dari balik layar.

Aku tidak pernah repot-repot mengoreksinya.

Setelah anak kembar kami, Raka dan Rafa, lahir, aku semakin jarang muncul di depan publik.

Hari-hariku dipenuhi rapat orang tua murid, mengantar anak sekolah, jadwal dokter, membantu pekerjaan rumah, mengurus rumah, dan memastikan kedua anak kami tetap merasa memiliki keluarga meskipun ayah mereka hampir selalu bepergian.

Arga bisa berada di Surabaya pada hari Senin, Makassar hari Rabu, lalu kembali ke Jakarta hanya untuk menghadiri makan malam perusahaan pada Jumat malam.

Aku yang tetap berada di rumah.

Karena itulah, perlahan-lahan orang mulai menganggap aku tidak melakukan apa-apa.

Dan Arga membiarkan mereka mempercayainya.

Pagi itu, ia memasuki ruang sidang bersama tiga orang pengacara.

Di tangannya terdapat map hitam tebal.

Langkahnya mantap seperti seorang pria yang sudah mengetahui hasil persidangan sebelum hakim membacakan keputusan.

Ia mengenakan setelan abu-abu gelap yang dibuat khusus untuknya.

Di pergelangan tangannya terpasang jam yang nilainya mungkin cukup untuk membeli sebuah mobil keluarga.

Namun yang paling menarik perhatian orang bukanlah ketiga pengacaranya.

Melainkan perempuan yang berjalan di sampingnya.

Celine Wijaya.

Direktur komunikasi perusahaan.

Dan perempuan yang, menurut kabar yang sudah beredar di lingkungan perusahaan, akan dinikahi Arga begitu perceraian kami selesai.

Celine mengenakan gaun krem sederhana tetapi mahal.

Tangannya sesekali menyentuh lengan Arga dengan begitu alami, seolah-olah posisi sebagai istri CEO itu sudah menjadi miliknya.

Aku belum berada di ruang sidang ketika mereka datang.

Dan rupanya itu membuat Arga semakin percaya diri.

Pengacara utamanya, Bram Santoso, sudah berminggu-minggu membangun satu narasi yang sangat sederhana.

Arga mendirikan perusahaan.

Arga membangun kekayaan keluarga.

Arga menyediakan rumah, kendaraan, pendidikan, investasi, dan seluruh kehidupan nyaman yang selama ini dinikmati anak-anak kami.

Sedangkan aku?

Menurut mereka, aku hanyalah ibu rumah tangga yang sudah terlalu lama tidak memiliki karier tetap.

Mereka bahkan menggunakan perjanjian pra-nikah kami sebagai senjata utama.

Dokumen itu ditandatangani sebelum pernikahan.

Menurut tim hukum Arga, sebagian besar kepemilikan perusahaan, investasi, dan aset tertentu telah dilindungi oleh perjanjian tersebut.

Arga yakin setelah perceraian selesai, aku hanya akan menerima sebagian kecil dari apa yang selama ini orang anggap sebagai “kekayaan keluarga”.

Bukan hanya itu.

Ia juga meminta hak asuh utama atas Raka dan Rafa.

Alasannya sederhana.

Ia memiliki kemampuan finansial yang jauh lebih besar.

Rumah mewah di Pondok Indah.

Sopir.

Asisten rumah tangga.

Biaya sekolah internasional.

Tabungan pendidikan.

Asuransi.

Semua itu digunakan untuk membangun gambaran bahwa hanya Arga yang mampu menjamin masa depan kedua anak kami.

Ketika hakim memasuki ruang sidang, semua orang langsung berdiri.

Hakim Ratna Kusumawardani duduk di kursinya dan mulai memeriksa berkas di hadapannya.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepala.

Tatapannya jatuh ke kursi kosong di meja tempat aku seharusnya duduk.

“Di mana Ibu Nadira Prameswari?”

Arga melihat jam tangannya.

Kemudian tersenyum tipis.

“Nadira memang tidak pernah terlalu pandai menghargai jadwal orang lain, Yang Mulia.”

Celine menutupi mulutnya, berusaha menyembunyikan tawa kecil.

Hakim Ratna langsung menatapnya.

“Ibu Celine, ini ruang sidang. Bukan tempat untuk memberikan komentar pribadi. Silakan diam kecuali saya meminta Anda berbicara.”

Senyum Celine seketika menghilang.

Bram Santoso berdiri.

Ia mulai menjelaskan permohonan Arga mengenai hak asuh.

Dengan suara tenang dan penuh keyakinan, ia membicarakan rumah keluarga kami di Pondok Indah.

Biaya pendidikan Raka dan Rafa.

Portofolio investasi Arga.

Pendapatan perusahaan.

Serta gaya hidup yang selama ini dinikmati anak-anak kami.

“Klien kami,” katanya, “memiliki kemampuan finansial, lingkungan tempat tinggal, dan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan kedua anak tersebut mempertahankan kualitas hidup yang stabil.”

Arga duduk dengan kedua tangan terlipat.

Tenang.

Nyaris santai.

Seolah seluruh persidangan hanyalah formalitas.

Bram belum selesai berbicara ketika pintu ruang sidang terbuka.

Beberapa kepala langsung menoleh.

Aku masuk.

Raka berjalan di sebelah kiriku.

Rafa di sebelah kanan.

Masing-masing menggenggam satu tanganku.

Raka mengenakan kemeja putih dan blazer biru tua. Pandangannya terus tertuju ke lantai.

Rafa menggenggam jemariku begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Begitu melihat kami, sesuatu berubah di wajah Arga.

Hanya sesaat.

Namun aku melihatnya.

Kepercayaan dirinya goyah.

Celine membungkuk sedikit ke arahnya.

“Dia benar-benar membawa anak-anak?”

Bisikannya cukup keras untuk terdengar.

Hakim Ratna langsung mengangkat kepala.

“Ibu Celine.”

Nada suaranya kali ini lebih tegas.

“Saya sudah memperingatkan Anda.”

Celine segera duduk tegak.

Aku membawa Raka dan Rafa menuju meja di sisi lain ruang sidang.

Kemudian aku berdiri menghadap hakim.

“Mohon maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia.”

Aku menarik napas.

“Raka dan Rafa meminta ikut bersama saya.”

Hakim Ratna menatap kedua anakku selama beberapa detik.

“Anak-anak pada umumnya tidak seharusnya berada di dalam ruang sidang untuk perkara seperti ini.”

Aku mengangguk.

“Saya memahami itu.”

Hakim kemudian memandang Raka.

Lalu Rafa.

Ada sesuatu pada ekspresi kedua anak itu yang membuatnya tidak langsung meminta mereka keluar.

“Apakah ibu mereka yang meminta kalian datang?”

Raka menggeleng.

“Tidak, Bu Hakim.”

Ruangan mendadak hening.

Rafa akhirnya mengangkat wajah.

“Kami yang meminta.”

Arga langsung bergerak di kursinya.

“Yang Mulia, saya rasa anak-anak sudah dipengaruhi—”

“Pak Arga.”

Hakim Ratna menghentikannya.

“Saya belum bertanya kepada Anda.”

Arga terdiam.

Hakim kembali memandang kedua anak kami.

“Mengapa kalian ingin datang?”

Raka menatapku sebentar.

Kemudian ia melihat ayahnya.

“Karena Ayah bilang Ibu tidak pernah membantu membangun perusahaan.”

Keheningan di ruangan itu berubah.

Bukan lagi keheningan biasa.

Bram perlahan menoleh kepada Arga.

Aku melihat rahang mantan suamiku mengeras.

Hakim Ratna menyandarkan tubuhnya.

“Dan kalian ingin mengatakan sesuatu mengenai itu?”

Raka mengangguk.

Namun sebelum ia sempat menjawab, aku menyentuh bahunya.

“Tidak perlu.”

Aku menatap hakim.

“Mereka tidak datang untuk memberikan kesaksian tentang masalah keuangan kami. Mereka hanya ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

Aku membuka tas yang kubawa.

Kemudian mengeluarkan sebuah map abu-abu tua.

Sudut-sudutnya sudah mulai aus.

Tidak terlihat istimewa.

Apalagi dibandingkan map hitam mahal milik tim hukum Arga.

Tetapi ketika Arga melihatnya, wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya pagi itu, senyumnya benar-benar hilang.

Bram memperhatikan reaksi kliennya.

“Pak Arga?”

Arga tidak menjawab.

Aku meletakkan map itu di atas meja.

“Anak-anak ingin memastikan dokumen ini sampai ke pengadilan.”

Hakim Ratna mengernyit.

“Dokumen apa?”

Aku membuka pengikat map.

Di dalamnya terdapat dokumen lama.

Beberapa lembar sudah menguning.

Ada akta.

Dokumen pendirian perusahaan.

Catatan penyertaan modal.

Dan satu daftar nama yang dibuat bertahun-tahun sebelum Mahendra Trans Logistik menjadi perusahaan bernilai miliaran rupiah.

Bram berdiri.

“Yang Mulia, kami perlu mengetahui relevansi dokumen tersebut.”

Hakim Ratna memandangnya.

“Dan Anda akan mengetahuinya setelah saya membacanya.”

Petugas membawa map itu ke meja hakim.

Arga menatapku.

Tatapan yang sudah sangat kukenal.

Tatapan yang dulu muncul setiap kali ia merasa aku mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak kuketahui.

Ia membisikkan namaku.

“Nadira.”

Aku tidak menjawab.

Hakim Ratna membuka halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Ruangan begitu sunyi hingga suara kertas yang dibalik terdengar jelas.

Celine menatap Arga.

“Apa itu?”

Arga tetap diam.

Hakim Ratna berhenti pada sebuah halaman.

Ia membaca bagian atasnya.

Lalu matanya bergerak perlahan ke daftar nama di bawahnya.

Sekali.

Dua kali.

Ia kembali ke halaman sebelumnya untuk memastikan sesuatu.

Kemudian menatapku.

Setelah itu, ia menatap Arga.

“Pak Arga.”

Tidak ada jawaban.

“Pak Arga Mahendra.”

Arga akhirnya mengangkat kepala.

“Ya, Yang Mulia?”

Hakim Ratna meletakkan dokumen itu di meja.

“Sebelum pengacara Anda melanjutkan argumen bahwa Mahendra Trans Logistik adalah perusahaan yang Anda bangun dan miliki sebelum perkawinan…”

Ia berhenti.

Bram langsung membuka berkasnya sendiri.

Wajahnya mulai serius.

Hakim melanjutkan.

“Saya ingin Anda menjelaskan satu hal.”

Arga menelan ludah.

“Apa itu?”

Hakim Ratna mengangkat dokumen pendirian perusahaan yang asli.

“Jika perusahaan ini benar-benar milik Anda sejak awal…”

Tatapannya tertuju tepat kepada Arga.

“…mengapa nama pertama yang tercatat sebagai pemilik modal awal sekaligus pihak dengan penyertaan terbesar adalah Nadira Prameswari?”

Wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.

Celine perlahan menarik tangannya dari lengan Arga.

Bram berhenti membalik halaman.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Karena pertanyaan hakim itu baru membuka pintu pertama.

Di dalam map abu-abu tersebut masih ada satu dokumen lain.

Dokumen yang bahkan Arga tidak tahu masih kusimpan.

Dan ketika dokumen itu dibuka, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang akan mendapatkan perusahaan setelah perceraian.

Dokumen itu akan menjelaskan dari mana modal pertama perusahaan berasal.

Mengapa namaku perlahan menghilang dari sejumlah catatan perusahaan.

Dan siapa sebenarnya yang telah membiayai Mahendra Trans Logistik bertahun-tahun sebelum dunia mengenal Arga Mahendra sebagai “pendirinya”.

Namun bagian yang paling mengejutkan bukanlah soal uang.

Melainkan alasan mengapa Raka dan Rafa menemukan map itu.

Karena mereka menemukannya di tempat yang seharusnya tidak pernah mereka buka.

Dan di sana terdapat sebuah surat lama yang ditujukan khusus untuk mereka.

Sebuah surat dengan tanda tangan seseorang yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.

BAGIAN 2

Tidak ada seorang pun di ruang sidang yang langsung berbicara.

Hakim Ratna masih memegang dokumen pendirian perusahaan itu ketika Arga akhirnya mengalihkan pandangannya kepadaku.

“Nadira,” katanya pelan. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena setelah tiga belas tahun menikah, setelah berbulan-bulan ia membangun narasi bahwa aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hidup dari uangnya, pertanyaan pertama Arga bukanlah bagaimana aku mendapatkan dokumen tersebut.

Ia bertanya apa yang sedang kulakukan.

Seolah-olah aku sedang menyerangnya.

Padahal aku hanya membawa kembali sesuatu yang selama bertahun-tahun sengaja ia sembunyikan.

Aku menatapnya.

“Aku sedang menjawab cerita yang selama ini kamu sampaikan kepada semua orang.”

Bram segera berdiri.

“Yang Mulia, kami keberatan apabila persidangan ini berubah menjadi tuduhan tanpa dasar.”

Hakim Ratna tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen.

“Pak Bram, klien Anda menyatakan dalam berkas yang diajukan bahwa perusahaan tersebut merupakan aset yang telah dimilikinya sebelum perkawinan.”

“Benar.”

“Dokumen ini menunjukkan sesuatu yang berbeda.”

Bram terdiam.

Hakim kemudian melihatku.

“Ibu Nadira, jelaskan asal dokumen ini.”

Aku menarik napas.

“Dokumen itu berasal dari arsip ayah saya.”

Nama ayahku adalah Prasetyo Prameswari.

Ia meninggal enam tahun lalu.

Bagi kebanyakan orang, Ayah hanyalah pemilik perusahaan ekspedisi kecil di Semarang yang akhirnya dijual setelah kesehatannya memburuk.

Tetapi sebelum meninggal, Ayah pernah mengatakan sesuatu kepadaku.

Jangan pernah membuang dokumen lama hanya karena orang lain bilang dokumen itu sudah tidak berguna.

Saat itu aku tidak memahami maksudnya.

Sekarang aku mengerti.

Sebelum aku menikah dengan Arga, aku bekerja bersama Ayah.

Aku bukan sekretaris.

Aku bukan sekadar anak pemilik perusahaan yang datang ke kantor ketika sedang bosan.

Aku belajar pembukuan, kontrak pengiriman, negosiasi dengan gudang, sampai bagaimana menghitung biaya armada.

Di sanalah aku bertemu Arga.

Saat itu Arga belum memiliki perusahaan.

Ia bekerja sebagai supervisor operasional.

Dia ambisius.

Cerdas.

Dan luar biasa pandai membuat orang percaya kepadanya.

Aku jatuh cinta pada versi Arga yang belum memiliki apa-apa.

Ketika ia mengatakan ingin mendirikan perusahaan logistik sendiri, aku menjadi orang pertama yang mendukungnya.

Masalahnya, ia tidak punya cukup modal.

Aku punya.

Bukan karena aku kaya.

Tetapi karena beberapa tahun sebelumnya, almarhum ibuku meninggalkan deposito dan sebagian hasil penjualan tanah keluarga atas namaku.

Jumlahnya sekitar Rp1,8 miliar.

Hampir seluruh uang itu kumasukkan sebagai modal awal.

Ayah menambahkan sejumlah dana.

Arga memasukkan tabungannya.

Namun jumlahnya jauh lebih kecil.

Perusahaan pertama kami bahkan belum bernama Mahendra Trans Logistik.

Namanya NP Logistics.

NP.

Nadira Prameswari.

Aku melihat Celine menoleh cepat kepada Arga.

“NP?”

Arga tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Setelah kami menikah, Arga mengatakan nama itu terlalu personal untuk perusahaan yang ingin berkembang secara nasional. Dia mengusulkan perubahan nama.”

Aku menyetujuinya.

Saat itu aku tidak peduli namaku ada di papan kantor atau tidak.

Aku pikir kami sedang membangun sesuatu bersama.

Hakim Ratna melihat dokumen lain.

“Di sini tertulis Ibu Nadira memiliki penyertaan awal enam puluh persen.”

“Benar.”

“Pak Arga?”

Arga mengusap rahangnya.

“Itu perusahaan lama. Strukturnya berubah.”

“Ada dokumen perubahan?”

“Tentu.”

Bram segera membuka map hitamnya.

“Ada, Yang Mulia.”

Ia menyerahkan beberapa dokumen.

Hakim membacanya.

Aku sudah tahu apa yang akan ditemukannya.

Nama Arga perlahan menjadi dominan.

Persentase kepemilikanku turun.

Kemudian turun lagi.

Sampai akhirnya aku hanya terlihat seperti pemegang saham kecil yang tidak terlibat aktif.

Hakim Ratna menatapku.

“Apakah Ibu menandatangani perubahan-perubahan ini?”

“Sebagian.”

“Sebagian?”

Aku mengangguk.

“Beberapa dokumen memang saya tandatangani. Arga mengatakan itu diperlukan untuk masuknya investor dan restrukturisasi perusahaan.”

“Dan sisanya?”

Aku menatap Arga.

“Itulah alasan saya membawa dokumen kedua.”

Untuk pertama kalinya, kulihat kepanikan nyata di wajahnya.

“Jangan.”

Suaranya pelan.

Namun seluruh ruangan mendengarnya.

Hakim Ratna menatap tajam.

“Pak Arga?”

Arga langsung memperbaiki posisi duduknya.

“Saya hanya mengatakan bahwa persoalan perusahaan seharusnya ditangani secara terpisah.”

Aku mengeluarkan sebuah amplop putih.

Di dalamnya terdapat salinan beberapa dokumen perusahaan.

Di sebelah setiap tanda tanganku, Ayah membuat catatan kecil dengan pensil.

Aku menyerahkannya kepada petugas.

“Ayah saya mencurigai perubahan struktur kepemilikan perusahaan beberapa tahun sebelum beliau meninggal.”

Hakim memeriksa halaman pertama.

Kemudian kedua.

Aku berkata, “Ada tiga dokumen yang diklaim telah saya tandatangani ketika saya sedang berada di Yogyakarta bersama anak-anak.”

Bram langsung menyela.

“Itu belum membuktikan apa pun.”

“Benar,” jawabku.

Aku membuka map lagi.

“Karena itu saya membawa ini.”

Bukti perjalanan.

Tagihan hotel.

Catatan sekolah Raka dan Rafa.

Dan salinan surel lama yang menunjukkan aku berada di Yogyakarta pada tanggal salah satu dokumen tersebut disebut telah ditandatangani langsung di Jakarta.

Wajah Bram berubah.

Ia berbisik kepada salah satu pengacara di sebelahnya.

Arga menatap meja.

Hakim Ratna tidak membuat kesimpulan tergesa-gesa.

Ia hanya berkata bahwa keaslian dan implikasi dokumen-dokumen tersebut perlu diperiksa lebih lanjut melalui proses hukum yang sesuai.

Namun satu hal sudah jelas.

Cerita sederhana bahwa seluruh perusahaan adalah milik Arga sejak awal tidak lagi bisa diterima begitu saja.

Lalu hakim melihat amplop terakhir.

“Ini apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Rafa yang berbicara.

“Surat Kakek.”

Arga menoleh kepadanya.

“Rafa.”

Anakku mengecilkan bahunya.

Aku meraih tangannya.

“Tidak apa-apa.”

Hakim Ratna memandangku.

“Bagaimana anak-anak menemukan surat ini?”

Aku menarik napas panjang.

“Tiga minggu lalu, Arga meminta beberapa barang lama saya dipindahkan dari rumah.”

Aku baru mengetahui rencana itu setelah Raka menelepon.

Ia melihat dua pekerja membawa beberapa kotak dari gudang kecil di belakang ruang kerja.

Raka dan Rafa mengenali satu kotak kayu tua milik kakek mereka.

Mereka meminta pekerja itu tidak membawanya.

Ketika membukanya, mereka menemukan map abu-abu.

Dan sebuah amplop.

Di bagian depan tertulis:

Untuk Nadira. Berikan kepada cucu-cucuku ketika mereka sudah cukup dewasa untuk memahami.

Aku tidak pernah melihat surat itu sebelumnya.

Raka menemukannya lebih dulu.

Namun dia tidak membukanya.

Dia membawanya kepadaku.

Aku membaca surat tersebut sendirian malam itu.

Dan setelah membacanya, aku menangis sampai hampir pagi.

Hakim bertanya, “Apakah surat itu berkaitan dengan perusahaan?”

“Ya.”

Aku menatap anak-anakku.

“Tapi bukan hanya tentang perusahaan.”

Hakim mengizinkan surat itu diperiksa.

Tulisan tangan Ayah memenuhi tiga halaman.

Ia menulis tentang masa awal perusahaan.

Tentang bagaimana aku menggunakan hampir seluruh warisan dari ibuku untuk membantu Arga.

Tentang bagaimana aku bekerja sampai larut malam menyusun kontrak dan sistem operasional ketika perusahaan baru memiliki dua truk sewaan.

Namun bagian terakhir bukan ditujukan kepadaku.

Itu ditujukan kepada Raka dan Rafa.

Aku masih mengingat setiap kalimatnya.

Ayah menulis:

Kalau suatu hari kalian membaca surat ini, mungkin Kakek sudah tidak ada.

Orang akan mengatakan perusahaan keluarga kalian dibangun oleh satu orang.

Jangan marah kepada mereka.

Mereka hanya mengetahui cerita yang paling sering diceritakan.

Ayah kalian punya keberanian besar untuk membawa perusahaan itu maju. Itu benar.

Tapi ibu kalian adalah orang yang memberikan fondasinya.

Ia memberikan uangnya ketika perusahaan belum punya nilai.

Ia memberikan waktunya sebelum kalian lahir.

Dan setelah kalian lahir, ia memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang: kesempatan bagi ayah kalian untuk bekerja tanpa harus memilih antara kantor dan keluarga.

Aku tidak sanggup membaca bagian selanjutnya dengan suara keras.

Raka yang melanjutkannya.

Suaranya gemetar.

“Kakek bilang…”

Ia berhenti.

Matanya mulai basah.

Aku memegang tangannya.

Raka menarik napas.

“Jangan pernah mengukur nilai seseorang hanya dari nama yang tercetak di pintu kantor.”

Ruangan kembali sunyi.

Bahkan Bram tidak berbicara.

Kemudian sesuatu terjadi yang tidak pernah kuduga.

Celine berdiri.

Arga langsung menatapnya.

“Mau ke mana?”

Celine tidak menjawab.

Ia mengambil tasnya.

“Celine.”

Kali ini suara Arga lebih keras.

Hakim Ratna menatap mereka.

Celine berhenti.

Kemudian berkata, “Yang Mulia, saya rasa ada sesuatu yang perlu diketahui pengadilan.”

Arga langsung bangkit.

“Tidak.”

Bram memegang lengannya.

“Duduk.”

Celine terlihat pucat.

“Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya hakim.

Celine membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel.

“Tiga bulan lalu Pak Arga meminta saya menyiapkan strategi komunikasi setelah perceraian selesai.”

Aku menatapnya.

“Strategi komunikasi?”

Celine mengangguk.

“Dia ingin perusahaan mengeluarkan pernyataan bahwa Bu Nadira tidak pernah terlibat dalam bisnis.”

Arga memejamkan mata.

Celine melanjutkan.

“Awalnya saya percaya itu benar.”

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuatku sendiri terkejut.

“Dua minggu lalu saya menemukan arsip foto perusahaan lama.”

Foto-foto kantor pertama.

Aku berdiri di depan gudang kecil.

Aku sedang memegang clipboard.

Ada foto ketika aku bertemu calon pelanggan pertama.

Foto ketika aku dan Ayah mengecat papan nama.

Dan satu foto Arga sedang berdiri di samping dua truk sewaan dengan spanduk kecil bertuliskan NP Logistics.

“Apa yang Anda lakukan dengan foto-foto itu?” tanya hakim.

Celine menunduk.

“Pak Arga meminta saya menghapusnya dari arsip digital.”

Aku menatap Arga.

Dia tidak berani melihatku.

“Tapi saya tidak menghapus semuanya,” kata Celine.

Ia menyerahkan ponselnya kepada pengacaranya sendiri yang duduk di belakang.

“Saya menyimpan salinan karena saya merasa ada sesuatu yang salah.”

Arga akhirnya menatapnya.

“Kamu bilang kamu mencintaiku.”

Celine tersenyum getir.

“Aku mencintai orang yang kukira kamu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Celine mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruang sidang.

Arga tidak mengejarnya.

Mungkin karena ia tahu ada sesuatu yang lebih besar sedang runtuh.

Bukan hubungannya.

Citranya.

Persidangan hari itu tidak berakhir dengan keputusan dramatis seperti dalam film.

Hakim tidak langsung menyerahkan perusahaan kepadaku.

Tidak ada palu diketuk lalu seseorang tiba-tiba kehilangan segalanya.

Dokumen-dokumen perusahaan harus diperiksa.

Perubahan kepemilikan harus ditelusuri.

Tanda tangan yang dipersoalkan harus diverifikasi.

Masalah harta dan struktur perusahaan memerlukan proses hukum lebih lanjut.

Tetapi permohonan Arga untuk menggambarkan dirinya sebagai satu-satunya pencipta seluruh kekayaan keluarga runtuh hari itu.

Dan persoalan hak asuh berubah arah karena alasan yang bahkan lebih sederhana.

Raka dan Rafa tidak peduli siapa yang memiliki rumah paling besar.

Mereka tidak peduli siapa yang punya sopir atau rekening investasi lebih banyak.

Ketika hakim berbicara kepada mereka secara terpisah melalui prosedur yang sesuai, keduanya mengatakan hal yang sama.

Mereka ingin tetap dekat dengan kedua orang tua.

Tetapi rumah utama mereka adalah bersamaku.

Bukan karena aku meminta.

Karena, kata Rafa:

“Di rumah Mama, kami tidak perlu memilih siapa yang harus kami sayangi.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami akhirnya selesai.

Pemeriksaan perusahaan menghasilkan temuan yang jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan siapa pun.

Beberapa perubahan kepemilikan memang sah.

Beberapa harus dipersoalkan lebih lanjut.

Aku tidak mendapatkan seluruh perusahaan.

Arga juga tidak kehilangan semuanya.

Kenyataan jarang sesederhana itu.

Namun kepemilikanku yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berarti akhirnya diakui berdasarkan dokumen dan transaksi yang dapat dibuktikan.

Aku menerima bagian yang cukup besar.

Lebih dari cukup untuk memulai hidup baru.

Tapi aku melakukan sesuatu yang mengejutkan Arga.

Aku tidak meminta posisi CEO.

Aku tidak mengambil alih kantornya.

Aku tidak mencoba menghancurkan perusahaan yang pernah kubantu bangun.

Sebaliknya, aku meminta agar sebagian kepemilikanku dibentuk menjadi aset jangka panjang untuk Raka dan Rafa dengan pengelolaan profesional.

Sisanya kugunakan untuk mendirikan perusahaan kecil sendiri.

Bukan perusahaan logistik.

Aku sudah terlalu lama hidup di dunia itu.

Aku membuka sebuah perusahaan konsultan operasional untuk membantu bisnis keluarga kecil membangun sistem yang rapi tanpa kehilangan kendali atas usaha mereka sendiri.

Aku menamainya Prameswari Partners.

Nama itu kupilih bukan untuk membalas Arga.

Aku hanya ingin melihat namaku sendiri di pintu untuk pertama kalinya.

Enam bulan setelah perceraian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Arga datang ke kantor baruku.

Sendirian.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada sopir.

Tidak ada kamera.

Ia berdiri di depan meja resepsionis sambil membawa sebuah kotak.

Aku menemuinya di ruang rapat kecil.

“Apa ini?”

Ia mendorong kotak itu ke arahku.

Ketika kubuka, aku menemukan sebuah benda yang langsung kukenal.

Papan nama lama.

NP Logistics.

Papan itu sudah kusam.

Salah satu sudutnya retak.

Aku menyentuh huruf-hurufnya.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Gudang lama.”

Arga duduk di hadapanku.

Untuk beberapa saat kami tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian ia berkata:

“Aku minta maaf.”

Dulu aku membayangkan hari ketika ia mengatakan kalimat itu.

Dalam bayanganku, aku akan merasa menang.

Ternyata tidak.

Aku hanya merasa lelah.

“Apa yang sebenarnya kamu sesali?”

Arga memandang papan itu.

“Aku mulai percaya pada cerita yang kubuat sendiri.”

Aku diam.

“Awalnya aku bilang kepada investor bahwa aku pendiri perusahaan karena lebih mudah menjelaskan satu wajah daripada dua. Lalu media mulai menulisnya. Aku tidak mengoreksi mereka.”

Ia menarik napas.

“Setelah beberapa tahun, aku mulai merasa memang akulah yang melakukan semuanya.”

“Padahal kamu tahu itu tidak benar.”

“Ya.”

“Dan kamu mencoba mengambil anak-anak dariku.”

Matanya memerah.

“Itulah bagian yang paling aku sesali.”

Aku menatapnya lama.

“Aku bisa memaafkanmu suatu hari nanti, Arga.”

Ia mengangkat kepala.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Ia mengangguk.

“Aku tahu.”

Sebelum pergi, Arga berhenti di pintu.

“Nadira?”

“Ya?”

“Surat ayahmu benar.”

Aku menunggu.

“Aku bisa membangun perusahaan karena kamu membangun rumah yang selalu bisa kutinggalkan dan kutemukan tetap berdiri ketika aku pulang.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak membutuhkan pengakuannya.

Tapi aku tetap menghargai bahwa akhirnya ia mampu mengatakannya.

Setahun kemudian, Raka dan Rafa membantuku menggantung papan NP Logistics yang lama di dinding kantor.

Bukan di ruang depan.

Bukan sebagai trofi.

Kami memasangnya di ruang kerjaku.

Di bawahnya ada foto Ayah.

Rafa berdiri mundur beberapa langkah.

“Bagus di situ.”

Raka mengangguk.

Kemudian ia bertanya kepadaku:

“Ma, kalau Mama bisa kembali ke masa lalu, Mama tetap akan memberikan uang itu kepada Ayah?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Aku bisa saja mengatakan tidak.

Aku bisa mengatakan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Tetapi kalau aku mengubah satu keputusan itu, mungkin aku tidak akan memiliki Raka dan Rafa.

Jadi aku tersenyum.

“Ya.”

Keduanya terlihat terkejut.

“Serius?”

“Serius.”

“Walaupun akhirnya seperti ini?”

Aku mengangguk.

“Karena sesuatu tidak harus berlangsung selamanya untuk pernah memiliki arti.”

Aku menunjuk papan tua itu.

“Perusahaan itu pernah menjadi impian kami bersama. Ayah kalian memang melakukan banyak kesalahan. Tapi dia juga bekerja keras membesarkannya. Mama tidak perlu menghapus bagian yang benar hanya untuk membuktikan bagian yang salah.”

Raka terdiam.

Rafa memelukku.

Kemudian Raka ikut memeluk dari sisi lain.

Dan di antara kedua anakku, akhirnya aku memahami bagian terakhir dari surat Ayah yang sebelumnya tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Ada satu kalimat setelah nasihatnya kepada cucu-cucunya.

Kalimat yang sebenarnya ditujukan kepadaku.

Nadira, kalau suatu hari kamu harus memilih antara mendapatkan kembali namamu atau menghancurkan orang yang mengambilnya, pilih namamu.

Karena kemenangan terbaik bukan ketika orang lain kehilangan segalanya.

Melainkan ketika kamu menemukan kembali dirimu sendiri.

Aku dulu masuk ke ruang sidang itu dengan keyakinan bahwa aku sedang berjuang mendapatkan kembali apa yang menjadi milikku.

Perusahaan.

Uang.

Reputasi.

Anak-anakku.

Ternyata bukan itu yang paling penting.

Selama bertahun-tahun aku membiarkan dunia memanggilku “istri Arga Mahendra”.

Kemudian aku menjadi “mantan istri Arga Mahendra”.

Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa kedua sebutan itu memiliki masalah yang sama.

Keduanya mendefinisikan aku melalui seorang laki-laki.

Sekarang, setiap pagi ketika memasuki kantor, aku melewati sebuah papan sederhana bertuliskan:

PRAMESWARI PARTNERS

Dan setiap sore, aku pulang ke rumah tempat Raka dan Rafa biasanya sudah membuat kekacauan di meja makan dengan buku sekolah, sepatu, gelas kosong, dan camilan.

Hidup kami jauh dari sempurna.

Arga masih menjadi bagian dari kehidupan anak-anak.

Kami masih sesekali berbeda pendapat.

Masih ada luka yang belum sepenuhnya hilang.

Tetapi kami belajar sesuatu yang tidak pernah kami pahami ketika masih menikah:

Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang memenangkan perang.

Mereka membutuhkan orang tua yang berhenti menjadikan mereka medan perang.

Suatu malam, Rafa melihat foto lama NP Logistics di dinding rumah.

“Ma?”

“Hmm?”

“Jadi sebenarnya siapa pendiri perusahaan itu? Mama atau Ayah?”

Aku tersenyum.

Pertanyaan yang setahun sebelumnya mungkin akan membuatku marah sekarang terasa sangat sederhana.

“Kami berdua.”

“Tapi nama Mama yang pertama.”

Aku tertawa kecil.

“Iya.”

“Berarti Mama menang.”

Aku menggeleng.

“Bukan begitu caranya.”

Aku menarik kedua anakku mendekat.

“Nama Mama memang ada di urutan pertama dalam dokumen itu.”

“Tapi?”

“Tapi kemenangan Mama bukan karena nama itu.”

Aku melihat wajah kedua putraku.

“Kemenangan Mama adalah ketika Mama tidak lagi membutuhkan nama itu untuk tahu siapa diri Mama.”

Dan akhirnya aku mengerti mengapa Ayah menyimpan dokumen-dokumen tersebut selama bertahun-tahun.

Ia bukan sedang mempersiapkan senjata untuk menghancurkan Arga.

Ia sedang menyimpan bukti agar suatu hari nanti, ketika seluruh dunia membuatku meragukan sejarah hidupku sendiri, masih ada sesuatu yang bisa mengingatkanku pada kebenaran.

Aku pernah membangun sesuatu.

Aku pernah berkorban.

Aku pernah mempercayai orang yang salah.

Aku pernah kehilangan namaku di dalam kehidupan yang kubantu ciptakan.

Tetapi aku juga berhasil mengambilnya kembali.

Bukan dari Arga.

Bukan dari perusahaan.

Bukan dari pengadilan.

Melainkan dari diriku sendiri.

Dan mungkin itulah warisan terbesar yang akhirnya bisa kuberikan kepada Raka dan Rafa:

Jangan pernah membiarkan siapa pun meyakinkanmu bahwa kontribusimu tidak pernah ada hanya karena nama mereka tercetak lebih besar daripada namamu.