Beberapa jam sebelum jadwal eksekusinya dilaksanakan, seorang perempuan terpidana mati mengajukan satu permintaan terakhir.

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 229 tayangan
Beberapa jam sebelum jadwal eksekusinya dilaksanakan, seorang perempuan terpidana mati mengajukan satu permintaan terakhir.
Indeks

Beberapa jam sebelum jadwal eksekusinya dilaksanakan, seorang perempuan terpidana mati mengajukan satu permintaan terakhir.

Ia tidak meminta makanan khusus.

Ia tidak meminta bertemu pemuka agama.

Ia hanya meminta satu hal.

Bertemu dengan putrinya yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah bisa ia peluk.

Beberapa jam sebelum jadwal eksekusinya dilaksanakan, seorang perempuan terpidana mati mengajukan satu permintaan terakhir.

Tak seorang pun di dalam lembaga pemasyarakatan itu menyangka bahwa percakapan singkat antara seorang ibu dan anaknya akan membuka kembali sebuah perkara yang dianggap sudah selesai lima tahun lalu.

Sebuah perkara yang telah melewati persidangan panjang.

Sebuah perkara yang membuat hampir semua orang percaya bahwa perempuan itu bersalah.

Namun dalam waktu kurang dari 24 jam, sesuatu yang diucapkan seorang anak berusia delapan tahun akan membuat pelaksanaan hukuman ditangguhkan.

Dan sedikit demi sedikit, bukti yang selama ini dianggap tak terbantahkan mulai menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Namanya Nadira Prameswari.

Pagi itu, suara pintu besi terdengar di lorong blok tahanan dengan pengamanan ketat.

Dua petugas berhenti di depan sel Nadira.

“Nadira Prameswari.”

Nadira perlahan berdiri.

Lima tahun berada di balik jeruji telah mengubah dirinya.

Rambut hitamnya mulai dipenuhi beberapa helai uban. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan ketika pertama kali masuk. Garis kelelahan terlihat jelas di sekitar matanya.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Selama lima tahun, Nadira terus mengatakan kalimat yang sama.

“Aku tidak membunuhnya.”

Tak banyak orang yang masih mempercayainya.

Bukti dalam persidangan terlihat terlalu kuat.

Sidik jarinya ditemukan pada benda yang disebut sebagai barang bukti utama.

Pakaiannya memiliki noda yang dikaitkan dengan korban.

Seorang saksi bahkan mengaku melihat Nadira meninggalkan lokasi pada malam kejadian.

Jaksa membangun perkara yang terlihat hampir sempurna.

Pengadilan menjatuhkan hukuman terberat.

Banding demi banding gagal mengubah keputusan itu.

Dan sekarang waktunya hampir habis.

Salah satu petugas bertanya pelan,

“Ada permintaan terakhir?”

Nadira menatap lantai beberapa detik.

Kemudian ia mengangkat kepala.

“Aku ingin bertemu anakku.”

Kedua petugas terdiam.

Nadira menarik napas.

“Namanya Alya.”

Suaranya mulai bergetar.

“Aku cuma ingin melihatnya sekali lagi.”

“Kalau aku tidak boleh memeluknya, tidak apa-apa.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa ibunya tidak pernah berhenti mencintainya.”

Permintaan itu akhirnya sampai kepada kepala lembaga pemasyarakatan, Bambang Santoso.

Bambang sudah puluhan tahun bekerja di lingkungan pemasyarakatan.

Ia terbiasa menghadapi kasus berat, tahanan berisiko tinggi, serta keluarga yang datang membawa tangis dan penyesalan.

Namun perkara Nadira selalu meninggalkan satu pertanyaan di kepalanya.

Bukan karena ia merasa tahu siapa yang bersalah.

Bukan pula karena ia memiliki bukti baru.

Melainkan karena Nadira tidak pernah mengubah ceritanya.

Bahkan ketika pengacaranya pernah menyarankan strategi yang mungkin bisa meringankan hukumannya, Nadira menolak mengaku melakukan sesuatu yang menurutnya tidak pernah ia lakukan.

Bambang membaca kembali permintaan itu.

Nama anak tersebut tercetak jelas.

Alya Prameswari — 8 tahun.

Ia terdiam cukup lama.

Kemudian mengambil pena.

Permintaan kunjungan terakhir itu disetujui.

Beberapa jam kemudian, sebuah kendaraan resmi memasuki kompleks lembaga pemasyarakatan.

Seorang petugas pendamping turun terlebih dahulu.

Kemudian seorang anak perempuan kecil melangkah keluar.

Alya.

Usianya baru delapan tahun.

Rambut hitamnya diikat sederhana. Ia mengenakan blus putih dengan celana panjang berwarna gelap dan membawa tas kecil yang dipeluk erat di depan dada.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang untuk anak seusianya.

Ia tidak menangis.

Tidak bertanya mengapa ada begitu banyak pintu besi.

Tidak bertanya mengapa beberapa petugas terus memperhatikannya.

Alya hanya berjalan mengikuti petugas pendamping melewati lorong demi lorong.

Beberapa orang yang melihatnya spontan berhenti berbicara.

Bahkan petugas yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana memilih mengalihkan pandangan.

Akhirnya sebuah pintu dibuka.

Di baliknya terdapat ruang kunjungan sederhana.

Nadira sudah menunggu.

Kedua tangannya berada di atas meja.

Ketika pintu terbuka dan ia melihat sosok kecil di sana, seluruh ketegaran yang dipertahankannya selama bertahun-tahun seakan runtuh.

“Alya…”

Suara itu nyaris tidak terdengar.

Mata Nadira langsung dipenuhi air mata.

Anak kecil itu berhenti beberapa langkah dari meja.

Untuk sesaat, ibu dan anak hanya saling memandang.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun, hubungan mereka hanya hidup melalui beberapa surat, gambar, dan percakapan yang sangat terbatas.

Nadira berusaha tersenyum.

“Kamu sudah besar.”

Alya masih diam.

Kemudian ia berjalan mendekat.

Nadira menahan napas.

Alya berdiri tepat di depannya.

Lalu dengan sangat hati-hati, anak itu mendekat dan memeluk ibunya.

Nadira memejamkan mata.

Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.

“Ibu minta maaf…”

bisiknya.

“Ibu minta maaf karena tidak bisa berada di samping kamu.”

Alya tidak menjawab.

Ia hanya memeluk ibunya sedikit lebih erat.

Beberapa petugas yang berjaga saling berpandangan.

Kemudian Alya melepaskan pelukannya.

Ia melihat ke arah pintu.

Lalu ke arah kamera pengawas di sudut ruangan.

Setelah itu, ia kembali menatap ibunya.

Ada sesuatu dalam tatapan anak itu yang membuat Nadira tiba-tiba berhenti menangis.

Alya maju satu langkah.

Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nadira.

Dan berbisik sangat pelan.

Begitu pelan sehingga tak seorang pun di ruangan itu dapat mendengar kalimatnya.

Namun reaksi Nadira membuat seluruh petugas membeku.

Matanya membesar.

Wajahnya pucat.

Tangannya bergetar.

“Alya…”

bisiknya.

“Kamu yakin?”

Anak itu mengangguk.

Nadira menatap putrinya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

Lalu sesuatu yang tidak pernah dilihat para petugas selama bertahun-tahun terjadi.

Nadira tersenyum.

Bukan senyum seseorang yang telah menerima nasibnya.

Melainkan senyum seseorang yang baru saja menyadari bahwa mungkin masih ada satu bukti terakhir.

Satu bukti yang selama lima tahun tidak pernah ditemukan siapa pun.

Nadira tiba-tiba menoleh kepada petugas.

“Saya harus bicara dengan pengacara saya.”

Petugas di dekat pintu mengerutkan kening.

“Waktu kunjungan hampir selesai.”

“Tolong.”

Suara Nadira berubah tegas.

“Hubungi pengacara saya sekarang.”

“Kenapa?”

Nadira menatap Alya.

Anak kecil itu kembali memeluk tasnya erat-erat.

Kemudian Nadira mengatakan sesuatu yang membuat kepala lembaga pemasyarakatan yang mengawasi kunjungan itu ikut berdiri dari kursinya.

“Karena anak saya tahu di mana bukti yang selama ini mereka cari.”

Ruangan mendadak sunyi.

Tak seorang pun bergerak.

Nadira menelan ludah.

“Lima tahun lalu, seseorang berbohong di pengadilan.”

Ia memandang putrinya.

“Dan Alya baru saja memberitahuku bahwa orang itu menyimpan sesuatu yang seharusnya sudah dimusnahkan.”

Kurang dari sehari kemudian, pelaksanaan hukuman Nadira ditangguhkan sementara setelah tim hukumnya mengajukan permohonan pemeriksaan mendesak atas informasi baru.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Karena ketika penyidik akhirnya memeriksa petunjuk yang diberikan Alya…

mereka bukan hanya menemukan sesuatu yang berkaitan dengan malam pembunuhan itu.

Mereka menemukan sebuah dokumen lama, rekaman yang tidak pernah masuk ke berkas persidangan, dan nama seseorang yang selama lima tahun tidak pernah dianggap sebagai tersangka.

Dan ketika Bambang melihat nama tersebut…

wajahnya langsung berubah.

Karena ia mengenal orang itu.

BAGIAN 2 — BISIKAN ALYA

Bambang Santoso membaca nama yang tercetak pada lembar dokumen itu sekali lagi.

Tangannya perlahan turun.

Dr. Adrian Wibowo.

Ruangan pemeriksaan mendadak terasa terlalu sunyi.

Pengacara Nadira, Ratih Kusuma, yang berdiri di samping meja, langsung menyadari perubahan ekspresi Bambang.

“Bapak mengenalnya?”

Bambang tidak segera menjawab.

Ia menatap dokumen itu cukup lama sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk.

“Dia pernah bekerja sebagai konsultan forensik untuk beberapa perkara besar.”

Ratih mengerutkan kening.

“Termasuk perkara Nadira?”

Bambang mengangguk perlahan.

“Termasuk perkara Nadira.”

Dan saat itulah mereka mulai memahami bahwa apa yang ditemukan berkat Alya mungkin jauh lebih besar daripada sekadar satu bukti yang terlewat.

Semuanya bermula dari bisikan anak delapan tahun itu.

Beberapa jam sebelumnya, ketika Alya mendekat ke telinga ibunya di ruang kunjungan, ia hanya mengatakan satu kalimat:

“Bu, aku menemukan ponsel lama Ayah di belakang lemari Nenek. Ada rekaman suara Ibu di dalamnya, tapi suara Ibu bilang sedang berada di rumah bersamaku malam itu.”

Itulah alasan Nadira tersenyum.

Karena selama lima tahun, satu pertanyaan terus menghantuinya.

Ke mana perginya ponsel lama milik suaminya?

Malam ketika pembunuhan terjadi, Nadira sebenarnya berada di rumah bersama Alya yang saat itu masih sangat kecil.

Suaminya, Dimas Pratama, sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.

Setidaknya itulah yang Nadira yakini.

Mereka sempat melakukan panggilan video.

Dimas berbicara dengan Alya.

Nadira bahkan sempat mengeluh karena lampu dapur rusak.

Percakapan itu berlangsung cukup lama.

Jika data atau rekamannya masih ada, waktu panggilan tersebut bisa menjadi petunjuk bahwa Nadira berada jauh dari lokasi pembunuhan pada periode penting yang dipersoalkan jaksa.

Namun ponsel Dimas menghilang sebelum persidangan.

Dimas mengatakan ponsel itu rusak dan telah dibuang.

Tanpa perangkat tersebut, pembela Nadira tidak pernah memperoleh rekaman aslinya.

Sementara bukti yang diajukan jaksa terlihat jauh lebih kuat.

Sidik jari.

Noda pada pakaian.

Kesaksian tetangga.

Semuanya seperti mengarah kepada Nadira.

Lima tahun kemudian, Alya menemukan ponsel itu.

Bukan di tempat sampah.

Bukan dalam keadaan hancur.

Melainkan dibungkus kain dan disembunyikan di belakang lemari tua di rumah nenek dari pihak ayahnya.

Ratih langsung meminta perangkat tersebut diamankan.

Seorang penyidik independen bersama ahli digital memeriksa ponsel itu.

Mereka menemukan banyak data telah dihapus.

Tetapi tidak semuanya hilang.

Salah satu folder cadangan masih menyimpan potongan audio dan metadata dari malam kejadian.

Ada suara Nadira.

Ada suara Alya kecil.

Ada suara televisi dari ruang keluarga.

Dan ada satu detail yang membuat Ratih berdiri dari kursinya.

Di tengah rekaman terdengar bunyi jam dinding rumah Nadira.

Jam itu memiliki melodi khusus setiap pergantian jam.

Rekaman tersebut mempunyai penanda waktu yang konsisten dengan data perangkat.

Jika autentikasinya terbukti, rekaman itu menempatkan Nadira di rumah pada waktu yang sangat penting.

Namun itu baru permulaan.

Ahli digital menemukan file lain.

File itu tidak memiliki nama.

Hanya serangkaian angka.

Ketika dibuka, terdengar suara Dimas.

Lalu suara laki-laki lain.

Awalnya percakapan mereka terdengar seperti pembicaraan bisnis biasa.

Kemudian terdengar satu nama.

Nama korban.

Rendra Mahesa.

Rendra adalah mantan direktur keuangan perusahaan tempat Dimas bekerja.

Pria yang pembunuhannya membuat Nadira dijatuhi hukuman mati.

Suara Dimas terdengar tegang.

“Kita tidak bisa terus begini.”

Laki-laki lain menjawab,

“Kalau Rendra bicara, semuanya selesai.”

Ratih menghentikan rekaman.

Semua orang saling memandang.

Ia memutarnya kembali.

Kali ini mereka mendengarkan sampai akhir.

Percakapan itu tidak berisi pengakuan pembunuhan.

Namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang tidak pernah disampaikan kepada tim pembela Nadira.

Rendra ternyata mengetahui dugaan manipulasi laporan keuangan di perusahaan tersebut.

Dan Dimas mengetahuinya.

Lebih mengejutkan lagi, laki-laki yang berbicara dengan Dimas terdengar membahas seseorang yang bisa “mengurus laporan.”

Ratih meminta analisis suara.

Hasil awal belum bisa dianggap sebagai kesimpulan final.

Tetapi ada kecocokan karakteristik dengan satu orang.

Dr. Adrian Wibowo.

Konsultan yang pernah terlibat dalam pemeriksaan forensik perkara Nadira.

Ratih menatap Bambang.

“Itu sebabnya Bapak bereaksi ketika melihat namanya?”

Bambang mengusap wajah.

“Bukan cuma itu.”

Ia berdiri.

Kemudian berjalan menuju lemari arsip kecil di kantornya.

Dari dalam, ia mengambil sebuah map tipis.

“Sekitar dua tahun lalu, seorang mantan petugas pernah mengirim surat internal.”

“Apa isinya?”

“Dia mengaku ada ketidaksesuaian pencatatan barang bukti dalam perkara lama.”

Ratih menahan napas.

“Perkara Nadira?”

Bambang mengangguk.

“Saya meneruskannya ke bagian terkait. Jawaban yang saya terima mengatakan masalah itu hanya kesalahan administrasi.”

Ratih membuka map tersebut.

Ada salinan formulir penerimaan barang bukti.

Nomor segel pada pakaian Nadira tidak sama dengan nomor yang tercatat beberapa jam sebelumnya di lokasi kejadian.

Satu digit berbeda.

Kecil.

Mudah dianggap salah ketik.

Namun kini kesalahan kecil itu berubah menjadi sesuatu yang sangat penting.

Ratih segera meminta seluruh rantai penguasaan barang bukti diperiksa ulang.

Hasilnya membuat kasus tersebut semakin goyah.

Pakaian yang disebut memiliki noda terkait korban ternyata sempat berada di ruang penyimpanan sementara selama puluhan menit tanpa pencatatan petugas yang lengkap.

Barang bukti utama juga pernah dipindahkan sebelum pemeriksaan akhir.

Lebih buruk lagi, tanda tangan pada salah satu formulir tidak dapat langsung diverifikasi.

Pelaksanaan hukuman Nadira yang sebelumnya hanya ditunda sementara akhirnya dihentikan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Berita itu menyebar.

Namun Nadira tidak merayakannya.

Ia duduk di sel sambil memegang foto kecil Alya.

Ia tahu satu bukti baru tidak otomatis membuatnya bebas.

Dan ada pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan.

Mengapa Dimas menyembunyikan ponsel itu?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Penyidik mendatangi rumah ibu Dimas.

Perempuan tua itu akhirnya mengaku bahwa ponsel tersebut diberikan kepadanya oleh Dimas lima tahun lalu.

“Dia bilang jangan pernah menyalakannya.”

“Kenapa Ibu menyimpannya?”

Perempuan itu menangis.

“Karena dia anak saya.”

“Lalu kenapa tidak dihancurkan?”

Ia menutup wajah.

“Karena saya takut.”

“Takut kepada siapa?”

Perempuan itu menatap penyidik.

“Adrian.”

Nama itu muncul lagi.

Pemeriksaan kemudian mengungkap hubungan yang selama ini tersembunyi.

Adrian bukan sekadar konsultan.

Ia pernah bekerja sebagai penasihat eksternal untuk perusahaan yang sama dengan Dimas dan Rendra.

Rendra diduga menemukan transaksi perusahaan yang tidak wajar dan berniat menyerahkan dokumen kepada auditor.

Jika informasi itu terbuka, beberapa orang bisa kehilangan jabatan, uang, dan reputasi.

Tetapi masih ada satu masalah besar.

Tidak ada bukti langsung bahwa Adrian membunuh Rendra.

Kemudian saksi yang dulu mengatakan melihat Nadira meninggalkan lokasi dipanggil kembali.

Namanya Surya.

Lima tahun sebelumnya, Surya mengatakan ia melihat seorang perempuan dengan pakaian menyerupai Nadira keluar dari rumah Rendra.

Kini, setelah berjam-jam diperiksa dan diperlihatkan beberapa catatan baru, tangannya mulai gemetar.

“Saya tidak pernah melihat wajahnya.”

Ratih menatapnya.

“Di persidangan Anda mengatakan yakin itu Nadira.”

“Saya ditekan.”

“Oleh siapa?”

Surya menunduk.

“Seorang pria menemui saya sebelum saya memberikan keterangan resmi.”

“Siapa?”

Surya menggeleng.

“Saya tidak tahu namanya waktu itu.”

Ratih meletakkan foto Adrian di meja.

Surya langsung pucat.

“Itu dia.”

Potongan-potongan yang selama lima tahun tampak tidak berhubungan akhirnya mulai menyatu.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Dimas.

Ketika penyidik datang ke rumahnya, ia tidak melarikan diri.

Ia duduk di ruang tamu dan berkata,

“Saya tahu suatu hari ponsel itu akan ditemukan.”

Dimas dibawa untuk diperiksa.

Berjam-jam ia diam.

Sampai penyidik meletakkan foto Alya di atas meja.

Wajahnya berubah.

“Alya yang menemukannya?”

Tidak ada jawaban.

Dimas menutup mata.

Kemudian ia mulai bicara.

Ia mengakui sesuatu yang membuat Ratih hampir tidak percaya.

Dimas tahu Nadira tidak berada di lokasi pembunuhan.

Ia tahu karena ia melakukan panggilan video dengannya malam itu.

“Tapi kenapa kamu diam?”

Dimas menangis.

“Karena mereka bilang kalau aku bicara, Alya akan kehilangan kedua orang tuanya.”

“Mereka siapa?”

“Adrian dan orang-orang perusahaan.”

Menurut Dimas, setelah Rendra meninggal, Adrian menghubunginya.

Dimas telah terlibat dalam pemindahan dana perusahaan melalui beberapa rekening perusahaan cangkang.

Ia tidak terlibat dalam pembunuhan, katanya, tetapi ia memiliki cukup banyak rahasia untuk dihancurkan secara hukum.

Adrian menawarkan pilihan.

Diam.

Biarkan perkara bergerak menuju Nadira.

Atau semua keterlibatan finansial Dimas akan dibuka, dan ancaman lain akan menyusul.

Dimas memilih dirinya sendiri.

Ia menyembunyikan ponsel.

Ia membiarkan istrinya ditangkap.

Ia menyaksikan ibu dari anaknya dijatuhi hukuman mati.

Ratih menatapnya dengan jijik.

“Lima tahun.”

Dimas menangis.

“Aku takut.”

“Nadira juga takut.”

Ratih berdiri.

“Tapi dia menjalani lima tahun menunggu kematian karena ketakutanmu.”

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan resmi menemukan cukup banyak pelanggaran dalam penanganan bukti dan pengungkapan informasi untuk membuat putusan lama tidak lagi dapat dipertahankan sebagaimana sebelumnya.

Perkara Nadira diperiksa kembali.

Bukti forensik lama diuji ulang.

Dan hasil pemeriksaan baru menghasilkan kejutan lain.

Sidik jari Nadira pada barang bukti memang asli.

Tetapi itu tidak membuktikan ia menggunakannya saat pembunuhan.

Barang tersebut berasal dari sebuah acara makan malam beberapa hari sebelumnya, ketika Nadira dan Dimas mengunjungi rumah Rendra.

Nadira memang pernah memegangnya.

Fakta itu diketahui penyidik lama.

Namun konteksnya tidak pernah dijelaskan secara utuh di persidangan.

Sedangkan bukti biologis yang dikaitkan dengan pakaian Nadira tidak lagi dapat dianggap meyakinkan karena masalah serius pada rantai penguasaan barang bukti.

Kasus yang dulu tampak kokoh kini runtuh satu lapisan demi satu lapisan.

Adrian ditahan untuk penyelidikan terkait dugaan manipulasi bukti, intimidasi saksi, serta keterlibatan dalam rangkaian tindak pidana lain yang ditemukan selama pemeriksaan.

Dimas juga menghadapi proses hukum atas perannya dalam perkara keuangan dan tindakannya menyembunyikan informasi penting.

Tetapi Nadira hanya menanyakan satu hal kepada Ratih.

“Aku bisa pulang?”

Ratih tersenyum sambil menangis.

“Belum hari ini.”

Nadira menunduk.

Ratih menggenggam tangannya.

“Tapi kali ini kita tidak sedang menghitung waktu menuju eksekusi.”

Beberapa bulan kemudian, pengadilan membatalkan putusan terhadap Nadira setelah peninjauan menyeluruh menemukan bahwa bukti penting yang berpotensi menguntungkan pembela tidak ditangani sebagaimana mestinya dan dasar utama perkara lama tidak lagi dapat dipertahankan.

Jaksa memutuskan tidak melanjutkan perkara terhadap Nadira berdasarkan bukti yang tersedia.

Hari ketika Nadira keluar dari gerbang bukanlah hari yang megah.

Tidak ada musik.

Tidak ada pesta besar.

Hanya langit pagi yang cerah dan beberapa orang menunggu di luar.

Ratih.

Bambang.

Dan seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang berdiri sambil memeluk tas kecilnya.

Nadira berhenti.

Alya juga berhenti.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.

Kali ini tidak ada meja besi.

Tidak ada petugas di antara mereka.

Tidak ada batas waktu kunjungan.

Tidak ada rantai.

Nadira membuka kedua tangannya.

Alya berlari.

“Ibu!”

Nadira berlutut dan menangkap tubuh kecil putrinya.

Ia memeluk Alya begitu erat seolah sedang mencoba mendapatkan kembali seluruh tahun yang telah direnggut dari mereka.

“Maafkan Ibu.”

Alya menggeleng.

“Bukan Ibu yang harus minta maaf.”

Nadira menangis semakin keras.

Bambang memalingkan wajah.

Ratih menyeka matanya.

Kemudian Alya membuka tasnya.

“Aku punya sesuatu.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil.

Nadira membukanya.

Di dalamnya terdapat puluhan surat.

Semuanya ditulis dengan tulisan tangan anak-anak.

Nadira mengenali namanya sendiri di bagian atas beberapa halaman.

“Ini apa?”

Alya tersenyum kecil.

“Surat buat Ibu.”

Nadira kebingungan.

“Tapi Ibu tidak pernah menerima sebanyak ini.”

“Aku tahu.”

Alya menatapnya.

“Nenek bilang aku tidak boleh mengirimnya.”

Nadira membuka surat pertama.

Tulisan Alya masih besar dan tidak rapi.

Ibu, hari ini aku belajar naik sepeda.

Surat kedua.

Ibu, gigiku copot. Aku simpan supaya nanti bisa aku tunjukkan.

Surat berikutnya.

Ibu, aku menang lomba menggambar. Aku gambar rumah kita.

Nadira menutup mulutnya.

Lima tahun kehidupan putrinya ada di dalam amplop itu.

Ulang tahun.

Hari pertama sekolah.

Gigi yang tanggal.

Mimpi buruk.

Gambar keluarga.

Pertanyaan sederhana seorang anak yang tidak mengerti mengapa ibunya tidak pulang.

Nadira memeluk surat-surat itu ke dadanya.

Namun kemudian satu amplop terakhir jatuh ke tanah.

Berbeda dari yang lain.

Tulisan di depannya bukan tulisan Alya.

Itu tulisan Dimas.

Nadira membeku.

Ia membuka amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada satu lembar.

Dimas menulis surat itu sebelum memberikan ponsel kepada ibunya lima tahun lalu.

Ia menulis bahwa jika suatu hari keberaniannya gagal dan Nadira dihukum karena kebisuannya, ponsel tersebut harus diserahkan kepada Alya ketika ia cukup besar untuk memahami.

Di bagian paling bawah tertulis:

Aku tahu Nadira tidak bersalah.

Nadira membaca kalimat itu berulang kali.

Ia tidak merasa lega.

Ia justru menangis.

Karena akhirnya ia memahami sesuatu.

Bukan hanya kebohongan yang hampir membunuhnya.

Kebisuan orang-orang yang mengetahui kebenaranlah yang membuat kebohongan itu bertahan selama lima tahun.

Alya menggenggam tangan ibunya.

“Ayo pulang.”

Nadira menatap putrinya.

“Pulang ke mana?”

Alya tersenyum.

“Ke rumah kita.”

Mereka berjalan menuju mobil bersama.

Namun sebelum masuk, Nadira berhenti dan menoleh ke arah Bambang.

“Ada satu hal yang belum pernah saya mengerti.”

“Apa?”

“Kenapa Bapak mengizinkan Alya menemui saya hari itu?”

Bambang terdiam.

Kemudian ia mengeluarkan selembar kertas tua dari sakunya.

Surat internal tentang ketidaksesuaian barang bukti.

“Saya hampir membuang ini dua tahun lalu.”

Nadira menatapnya.

Bambang melanjutkan,

“Saya tidak punya bukti untuk mengatakan Anda tidak bersalah. Tapi saya punya cukup keraguan untuk merasa Anda berhak mengucapkan selamat tinggal kepada anak Anda.”

Nadira mengangguk pelan.

Lalu Alya tiba-tiba bertanya,

“Pak Bambang…”

“Ya?”

“Kalau waktu itu Ibu tidak boleh bertemu aku, apa yang terjadi?”

Tak seorang pun langsung menjawab.

Bambang memandang Nadira.

Kemudian memandang Alya.

Akhirnya ia berkata,

“Untungnya, kita tidak perlu mengetahui jawabannya.”

Beberapa tahun kemudian, Nadira menyimpan dua benda di sebuah kotak kayu di ruang keluarga rumah barunya.

Ponsel lama yang mengubah hidup mereka.

Dan seluruh surat Alya.

Tetapi benda yang paling ia jaga bukanlah keduanya.

Melainkan sebuah kertas kecil berisi tulisan tangan Alya yang dibuat setelah ibunya pulang.

Hanya ada satu kalimat:

“Ibu, sekarang tidak ada lagi yang bisa menghitung berapa menit kita boleh bersama.”

Setiap kali Nadira melihatnya, ia teringat hari ketika semua orang mengira hidupnya tinggal beberapa jam.

Hari ketika seorang anak berusia delapan tahun masuk ke sebuah ruangan dengan satu rahasia kecil.

Mendekat ke telinga ibunya.

Dan berbisik.

Bisikan itu tidak langsung membuktikan siapa yang bersalah.

Tidak langsung membuka pintu penjara.

Tidak langsung menghapus lima tahun yang telah hilang.

Tetapi bisikan itu melakukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Ia membuat orang-orang berhenti.

Memeriksa kembali.

Bertanya sekali lagi.

Dan menemukan bahwa perkara yang terlihat paling meyakinkan sekalipun dapat menyembunyikan kesalahan ketika orang berhenti mempertanyakan bukti.

Nadira kehilangan lima tahun hidupnya.

Alya kehilangan lima tahun bersama ibunya.

Tidak ada putusan pengadilan yang mampu mengembalikan waktu itu.

Namun pada malam pertama mereka kembali tinggal bersama, Alya tertidur di sofa dengan kepalanya di pangkuan Nadira.

Nadira tidak bergerak selama berjam-jam.

Tangannya hanya membelai rambut putrinya perlahan.

Menjelang tengah malam, Alya membuka mata sebentar.

“Ibu?”

“Ya, Sayang?”

“Besok Ibu masih ada di sini?”

Pertanyaan sederhana itu menghancurkan hati Nadira lebih dalam daripada semua pintu besi yang pernah menahannya.

Ia mencium kening putrinya.

“Besok Ibu ada di sini.”

Alya memejamkan mata lagi.

Nadira memandang wajah anaknya lama sekali.

Kemudian berbisik,

“Dan lusa juga.”

Ia tersenyum sambil menangis.

“Selama Ibu masih diberi waktu…”

Nadira menggenggam tangan kecil Alya.

“…Ibu tidak akan pergi ke mana-mana.”

Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Nadira tidak tidur sambil menunggu suara pintu sel dibuka.

Ia tertidur sambil mendengar napas putrinya.

Bebas.

Di rumah.

Bersama anak yang satu bisikannya telah menyelamatkan hidupnya.