“Kalau Ibu mengizinkan saya dan anak-anak tinggal di sini, saya akan bekerja tanpa dibayar. Saya bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus apa pun yang Ibu perlukan. Saya hanya butuh tempat agar anak-anak saya bisa tidur malam ini.”

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 611 tayangan
“Kalau Ibu mengizinkan saya dan anak-anak tinggal di sini, saya akan bekerja tanpa dibayar. Saya bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus apa pun yang Ibu perlukan. Saya hanya butuh tempat agar anak-anak saya bisa tidur malam ini.”
Indeks

“Kalau Ibu mengizinkan saya dan anak-anak tinggal di sini, saya akan bekerja tanpa dibayar. Saya bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus apa pun yang Ibu perlukan. Saya hanya butuh tempat agar anak-anak saya bisa tidur malam ini.”

Nadira Prameswari tidak pernah membayangkan suatu hari ia akan mengucapkan kalimat seperti itu di depan pagar rumah orang asing di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Malam sudah semakin larut.

“Kalau Ibu mengizinkan saya dan anak-anak tinggal di sini, saya akan bekerja tanpa dibayar. Saya bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus apa pun yang Ibu perlukan. Saya hanya butuh tempat agar anak-anak saya bisa tidur malam ini.”

Putranya yang berusia tujuh tahun, Dimas, berdiri di sampingnya sambil memeluk ransel bergambar dinosaurus. Di tangan satunya ada kantong plastik berisi beberapa helai pakaian yang berhasil mereka bawa.

Sementara Alya, putrinya yang baru berusia empat tahun, tertidur di bahu Nadira.

Anak itu kelelahan.

Sudah tiga malam mereka berpindah-pindah tempat.

Malam pertama mereka menumpang di rumah seorang teman lama Nadira.

Malam berikutnya di apartemen kecil milik sepupunya.

Namun Nadira mengenal tatapan itu.

Tatapan tidak nyaman yang mulai muncul ketika seorang tamu perlahan tidak lagi terasa seperti tamu.

Nadira tidak menyalahkan siapa pun.

Semua orang punya kehidupan dan masalah masing-masing.

Dan masalah Nadira terlalu besar untuk dititipkan kepada orang lain.

Suaminya, Arga Mahendra, sudah menyampaikan semuanya dengan sangat jelas.

“Aku mau cerai. Aku sudah punya orang lain.”

Nadira masih mengingat bagaimana Arga mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Lalu pria yang telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun itu menambahkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

“Dan jangan buang waktu mencoba menuntut harta. Rumah itu atas nama ibuku. Mobil milik perusahaan. Hampir semua aset lainnya sudah diatur. Kamu tidak punya hak atas apa pun.”

Delapan belas tahun pernikahan.

Dua anak.

Ribuan hari ketika Nadira mengurus rumah, membesarkan anak-anak, menemani suaminya dari titik terendah hingga menjadi pengusaha sukses.

Semuanya diringkas Arga hanya dalam beberapa kalimat.

Nadira berhenti bekerja setelah Dimas lahir.

Sebelumnya, ia pernah menjadi manajer administrasi sebuah klinik swasta di Jakarta.

Kemudian kehidupan berubah.

Ada anak-anak.

Rumah.

Jadwal sekolah.

Pertemuan bisnis Arga.

Makan malam bersama klien.

Acara perusahaan.

Perjalanan kerja.

Dan seribu hal kecil yang membuat Nadira perlahan membangun seluruh hidupnya di sekitar karier suaminya.

Sekarang, pada usia empat puluh dua tahun, ia tidak memiliki pekerjaan tetap.

Tidak memiliki rumah yang bisa ditempati.

Dan tabungannya tidak cukup untuk membayar uang muka serta sewa rumah baru dalam waktu singkat.

Itulah alasan Nadira berdiri di jalan itu malam tersebut.

Ia tidak mengenal siapa pun di sana.

Ia hanya mengambil keputusan yang bahkan terdengar gila bagi dirinya sendiri.

Mengetuk beberapa rumah sampai menemukan seseorang yang bersedia membuka pintu.

Interkom di pagar itu diam cukup lama.

Nadira mulai berpikir tidak ada yang akan menjawab.

Lalu terdengar bunyi mekanis.

Pagar perlahan terbuka.

Dimas menarik ujung lengan ibunya.

“Bu…”

Nadira menoleh.

“Kalau mereka punya anjing, bilang Dimas bisa bantu kasih makan.”

Nadira hampir menangis mendengarnya.

Di tengah keadaan seperti itu, anaknya masih berpikir bagaimana membuat dirinya berguna agar mereka tidak diusir lagi.

“Iya,” jawab Nadira pelan. “Nanti Ibu bilang.”

Mereka berjalan melewati halaman luas yang tertata rapi menuju sebuah rumah modern yang besar tetapi tidak berlebihan.

Lampu-lampu putih menerangi taman.

Sebelum mereka sampai di teras, pintu utama terbuka.

Seorang pria berdiri di sana.

Nadira langsung berhenti.

Jantungnya seperti jatuh.

Ia mengenal pria itu.

Raka Wijaya.

Rekan bisnis Arga.

Orang yang membangun perusahaan bersama suaminya sejak belasan tahun lalu.

Bahkan Raka pernah menghadiri pernikahan Nadira dan Arga.

Raka juga mengenalinya.

“Nadira?”

Nadira tidak mampu menjawab.

Wajahnya memanas karena malu.

Dari semua rumah yang bisa ia datangi malam itu, mengapa harus rumah orang yang mengenal suaminya?

Dimas justru menjadi orang pertama yang memecah keheningan.

Ia menunjuk adiknya yang masih tertidur.

“Ini Alya. Dia lagi tidur. Aku Dimas.”

Raka menatap anak itu dengan bingung.

Dimas melanjutkan dengan sangat serius.

“Om punya anjing?”

Raka menggeleng.

“Enggak.”

Wajah Dimas langsung kecewa.

Namun beberapa detik kemudian Raka menambahkan,

“Tapi mungkin suatu hari Om akan punya.”

Dimas kembali menatapnya.

Raka membuka pintu lebih lebar.

“Masuk dulu.”

Setengah jam kemudian, Alya sudah tidur di sofa panjang di ruang keluarga.

Dimas duduk di meja makan sambil menghabiskan roti isi dan segelas susu.

Ia berusaha makan perlahan.

Namun Nadira tahu anaknya lapar.

Raka duduk di seberangnya.

Ia tidak berputar-putar.

“Apa yang Arga lakukan?”

Nadira menunduk.

Kemudian ia menceritakan semuanya.

Perempuan lain.

Permintaan cerai.

Bagaimana Arga memintanya meninggalkan rumah.

Bagaimana suaminya mengatakan bahwa Nadira tidak berhak atas aset apa pun.

Raka mendengarkan tanpa memotong.

Ekspresinya semakin serius.

Sampai akhirnya ia bertanya,

“Bagaimana dengan apartemen yang dulu diwariskan orang tuamu?”

Nadira mengangkat wajah.

“Sudah enggak ada.”

“Maksudmu?”

“Aku jual.”

Raka mengerutkan kening.

“Kapan?”

“Sekitar tujuh belas tahun lalu.”

Raka terdiam.

“Kenapa kamu jual?”

Nadira membutuhkan beberapa detik sebelum menjawab.

“Untuk modal Arga mendirikan perusahaan.”

Raka berhenti bergerak.

Tangannya yang hendak mengambil gelas menggantung di udara.

“Apa?”

Nadira menatapnya.

“Waktu itu Arga tidak punya modal. Apartemen itu peninggalan orang tuaku. Lokasinya di Jakarta Pusat. Aku menjualnya dan hampir seluruh uangnya aku berikan kepada Arga.”

Raka perlahan meletakkan gelasnya.

“Berapa?”

Nadira mencoba mengingat.

“Kalau tidak salah sekitar sembilan ratus juta rupiah.”

Wajah Raka berubah.

Bukan sekadar terkejut.

Seolah sebuah angka yang baru saja didengarnya membuka pintu menuju sesuatu yang selama ini tersembunyi.

“Nadira…”

“Apa?”

“Arga bilang uang modal awal itu berasal dari pinjaman pamannya.”

Nadira mengernyit.

“Pamannya?”

“Iya.”

Nadira menggeleng perlahan.

“Keluarga Arga tidak punya paman yang bisa meminjamkan uang sebanyak itu. Saat kami menikah, kondisi ekonomi keluarganya biasa saja.”

Raka berdiri.

Ia berjalan beberapa langkah.

Lalu kembali.

Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat Nadira mulai merasa tidak nyaman.

“Kenapa?”

Raka menatapnya.

“Nadira, aku mendirikan perusahaan itu bersama Arga.”

“Aku tahu.”

“Tidak.”

Raka menggeleng.

“Maksudku, sejak hari pertama. Aku ada di sana ketika rekening perusahaan pertama dibuka. Aku ikut menghitung modal. Aku ikut menandatangani dokumen pendirian.”

Nadira semakin bingung.

Raka kembali duduk.

“Dan selama tujuh belas tahun, aku percaya aku tahu persis dari mana modal awal perusahaan itu berasal.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Bahkan suara Dimas membuka bungkus roti terdengar jelas.

Nadira akhirnya bertanya,

“Memangnya Arga bilang apa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia memandang Nadira cukup lama.

“Dia bilang uang itu sepenuhnya milik dia.”

Nadira merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

“Tidak mungkin.”

“Aku juga berharap begitu.”

Malam itu Raka memberikan dua kamar tamu untuk Nadira dan anak-anaknya.

Namun sebelum naik ke lantai atas, Nadira berhenti di depan tangga.

“Aku mau satu hal jelas.”

Raka menatapnya.

“Aku tidak mau dikasihani.”

“Nadira—”

“Biar aku selesai.”

Raka diam.

“Aku akan bekerja selama tinggal di sini. Aku bisa memasak, membersihkan rumah, mengatur kebutuhan rumah, belanja, apa pun. Kalau kamu tidak mengizinkan aku bekerja sebagai gantinya, besok pagi aku akan pergi.”

Raka memandangnya beberapa saat.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Nadira sedikit terkejut.

“Baik?”

“Kesepakatan.”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Nadira merasa dirinya bukan seseorang yang sedang meminta belas kasihan.

Ia masih bisa memberikan sesuatu.

Ia masih memiliki harga diri.

Keesokan paginya, Nadira bangun sebelum anak-anak.

Ia menyiapkan sarapan dari bahan-bahan yang tersedia di dapur.

Ketika Raka turun, aroma nasi goreng dan telur memenuhi ruangan.

Dimas sudah duduk bersama Alya.

Untuk beberapa menit, suasananya hampir terasa normal.

Lalu ponsel Raka berdering.

Ia melihat nama penelepon.

Ekspresinya berubah.

Raka berjalan menjauh sebelum menjawab.

Nadira tidak bisa mendengar semuanya.

Hanya beberapa potongan kalimat.

“Yakin angka itu?”

Diam.

“Rekening yang mana?”

Diam lagi.

“Cari dokumen pembukaan rekening lama.”

Raka menutup telepon.

Ketika kembali ke ruang makan, wajahnya berbeda.

“Ada masalah?” tanya Nadira.

Raka memasukkan ponsel ke sakunya.

“Hari ini aku mau membuka arsip lama perusahaan.”

Nadira menghentikan tangannya.

“Kenapa?”

Raka mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja.

“Karena semalam aku hampir tidak tidur memikirkan satu hal.”

“Apa?”

“Angka yang kamu sebut.”

“Sembilan ratus juta?”

Raka mengangguk.

“Angka itu terasa familiar.”

Nadira menatapnya.

Raka menarik napas.

“Kalau Arga berbohong kepadamu tentang uang yang dipakai untuk mendirikan perusahaan…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku ingin tahu apa lagi yang selama ini dia bohongkan kepadaku.”

Raka pergi.

Nadira berdiri di dapur sambil memegang spatula, tanpa menyadari bahwa percakapan singkat malam sebelumnya baru saja membuka sebuah pintu yang seharusnya tetap tertutup.

Karena di ruang arsip perusahaan, tersimpan dokumen lama yang hampir tidak pernah disentuh selama belasan tahun.

Dokumen pembukaan rekening.

Bukti transfer.

Perjanjian modal.

Dan satu lembar dokumen dengan tanda tangan yang sudah lama dilupakan.

Ketika Raka akhirnya menemukan dokumen itu dan melihat nama yang tercantum di sana, ia langsung duduk.

Ia membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Kemudian kembali melihat nominal transfer awal.

Rp900.000.000.

Persis seperti angka yang disebut Nadira.

Namun bukan itu bagian yang membuat tangan Raka mulai gemetar.

Di samping angka tersebut terdapat keterangan mengenai sumber dana dan kepemilikan modal awal.

Dan jika dokumen itu asli, Arga bukan hanya telah berbohong kepada istrinya selama tujuh belas tahun.

Ia juga mungkin telah membangun sebagian kekayaannya menggunakan sesuatu yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya.

Raka mengambil ponselnya.

Namun sebelum menelepon Nadira, ia membuka satu map lain.

Lalu ia membeku.

Karena di sana ada dokumen yang jauh lebih baru.

Dokumen yang dibuat hanya beberapa bulan sebelumnya.

Dan nama Nadira kembali muncul di dalamnya.

Padahal Nadira sama sekali tidak pernah merasa menandatangani dokumen tersebut.

Raka menatap tanda tangan di bagian bawah halaman.

Lalu mengambil foto dokumen itu.

Saat itulah ia sadar.

Perceraian yang diumumkan Arga mungkin bukan awal dari rencananya.

Perceraian itu justru kemungkinan adalah langkah terakhir.

Dan apa pun yang sedang berusaha disembunyikan Arga, ternyata telah dipersiapkan jauh sebelum ia mengusir istri dan kedua anaknya dari rumah.

Nadira belum mengetahui apa pun.

Ia masih berada di rumah Raka, membantu Alya memakai sepatu dan menyiapkan Dimas untuk sekolah.

Ia bahkan masih percaya masalah terbesarnya adalah bagaimana memulai hidup baru setelah delapan belas tahun pernikahan.

Ia tidak tahu bahwa namanya tercantum dalam sebuah dokumen bernilai miliaran rupiah.

Ia tidak tahu bahwa sebuah tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya telah muncul tanpa sepengetahuannya.

Dan yang paling mengejutkan…

Ia belum tahu bahwa uang Rp900 juta yang diberikannya tujuh belas tahun lalu ternyata meninggalkan jejak yang dapat mengubah siapa sebenarnya pemilik sebagian perusahaan tersebut.

Beberapa menit kemudian, ponsel Nadira berdering.

Nama Raka muncul di layar.

Begitu Nadira menjawab, pria itu hanya mengatakan satu kalimat.

“Nadira, jangan hubungi Arga dan jangan tanda tangani dokumen apa pun yang dia kirim.”

Nadira membeku.

“Kenapa?”

Raka terdiam beberapa detik.

Kemudian menjawab,

“Karena aku baru menemukan namamu di tempat yang seharusnya tidak mungkin ada.”

Nadira menggenggam ponselnya semakin erat.

Dan saat itu ia belum tahu bahwa penemuan tersebut akan menghancurkan hampir semua yang selama ini diklaim Arga sebagai miliknya.

Nadira menggenggam ponselnya semakin erat.

“Apa maksudmu namaku ada di sana?”

Suara Raka terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Aku belum mau menjelaskan lewat telepon. Jemput anak-anak dari sekolah seperti biasa. Setelah itu langsung pulang ke rumahku.”

“Raka, kamu membuatku takut.”

“Aku tahu. Tapi satu hal yang paling penting: kalau Arga menelepon, jangan beri tahu dia bahwa aku sedang membuka arsip lama.”

Nadira menatap meja makan.

“Memangnya apa yang kamu temukan?”

Hening beberapa detik.

Kemudian Raka menjawab,

“Sebuah dokumen yang menyatakan kamu menyetujui pengalihan hak atas sejumlah aset perusahaan.”

Napas Nadira tertahan.

“Aku tidak pernah menandatangani dokumen seperti itu.”

“Itulah masalahnya.”

Telepon berakhir.

Sepanjang hari, kalimat itu terus berputar di kepala Nadira.

Ia tidak pernah menandatangani pengalihan aset.

Bahkan selama bertahun-tahun, Arga selalu mengatakan bahwa Nadira tidak perlu memahami urusan perusahaan.

“Kamu urus rumah saja. Biar aku yang cari uang.”

Kalimat itu dulu terdengar seperti pembagian tanggung jawab.

Sekarang terdengar sangat berbeda.

Menjelang sore, Nadira menjemput Dimas dan Alya.

Dimas langsung menyadari wajah ibunya tegang.

“Ibu sakit?”

“Enggak.”

“Terus kenapa dari tadi diam?”

Nadira memaksakan senyum.

“Ibu cuma sedang mikir.”

Dimas menggenggam tangannya.

“Kalau kita enggak boleh tinggal di rumah Om Raka lagi, enggak apa-apa. Aku bisa tidur di mana saja.”

Langkah Nadira langsung berhenti.

Ia berjongkok di depan putranya.

“Dengar Ibu.”

Dimas menatapnya.

“Kamu tidak perlu memikirkan tempat tinggal. Itu urusan Ibu. Tugas kamu sekolah, main, dan menjaga adik. Paham?”

Dimas mengangguk.

Namun kalimat anak itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Nadira.

Tujuh tahun.

Anaknya baru tujuh tahun dan sudah belajar bagaimana rasanya merasa menjadi beban.

Semua karena dua orang dewasa gagal menjaga keluarga mereka.

Ketika mereka tiba di rumah Raka, sebuah mobil sudah terparkir di halaman.

Di ruang kerja, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menunggu mereka.

Raka memperkenalkannya sebagai Bu Ratih, konsultan hukum perusahaan yang sudah mengenal struktur awal perusahaan sejak bertahun-tahun lalu.

Di atas meja terdapat tiga map.

Raka menunjuk kursi.

“Duduk dulu.”

Nadira duduk.

Bu Ratih membuka map pertama.

“Bu Nadira, saya perlu memastikan sesuatu. Tujuh belas tahun lalu Ibu menjual apartemen warisan orang tua?”

“Iya.”

“Nilai bersih yang Ibu terima?”

“Sekitar sembilan ratus juta.”

“Setelah itu?”

“Saya transfer ke rekening yang diberikan Arga.”

Bu Ratih mendorong selembar salinan bukti transaksi ke arahnya.

“Rekening ini?”

Nadira melihat nomor rekening.

Ia tidak mungkin mengingat seluruh angkanya setelah belasan tahun.

Tetapi nama penerima membuatnya tercekat.

PT Mahendra Wijaya Nusantara.

“Itu perusahaan?”

Raka mengangguk.

“Rekening pertama perusahaan.”

Nadira menatapnya.

“Arga bilang itu rekening pribadinya untuk menampung modal sementara.”

Raka tertawa pendek tanpa humor.

“Tentu saja.”

Bu Ratih membuka dokumen lain.

“Dana Ibu masuk hanya beberapa hari sebelum akta pendirian dan administrasi modal perusahaan diselesaikan.”

Nadira masih belum mengerti.

“Jadi?”

Raka menjawab,

“Jadi uangmu bukan sekadar uang yang kamu berikan kepada suamimu untuk membantu rumah tangga.”

Ia menunjuk sebuah angka.

“Uang itu masuk langsung sebagai bagian dari modal awal perusahaan.”

Jantung Nadira berdetak lebih cepat.

“Tapi namaku tidak pernah menjadi pemegang saham.”

“Benar.”

“Berarti tidak ada gunanya.”

Bu Ratih menggeleng.

“Jangan menyimpulkan apa pun dulu. Kita perlu memeriksa dokumen asli, catatan bank, dan konstruksi hukumnya secara lengkap. Bukti sumber dana tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemilik saham. Tetapi jejak ini sangat penting, terutama jika ada pernyataan palsu atau dokumen lain yang dibuat menggunakan nama Ibu.”

Nadira mengangguk perlahan.

Penjelasan itu justru membuat semuanya terasa lebih nyata.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada selembar kertas yang tiba-tiba membuatnya menjadi orang kaya.

Yang ada adalah jejak.

Dan jejak itu menuju ke Arga.

Raka kemudian membuka map kedua.

“Sekarang bagian yang lebih buruk.”

Ia mengeluarkan salinan dokumen baru.

Tanggalnya sekitar empat bulan sebelumnya.

Nadira membaca namanya sendiri.

Lalu melihat tanda tangan di bagian bawah.

Wajahnya memucat.

“Itu mirip tanda tanganku.”

“Mirip,” kata Raka.

“Tapi bukan punyaku.”

“Yakin?”

“Seratus persen.”

Nadira menunjuk huruf pertama pada tanda tangan tersebut.

“Aku berhenti membuat garis seperti ini sejak bertahun-tahun lalu.”

Bu Ratih segera mencatat sesuatu.

Dokumen itu menyatakan bahwa Nadira mengetahui dan menyetujui serangkaian penataan aset yang berkaitan dengan kepentingan Arga di perusahaan.

“Kenapa dia membutuhkan namaku kalau selama ini dia bilang aku tidak punya hak apa-apa?”

Raka dan Bu Ratih saling berpandangan.

Akhirnya Bu Ratih menjawab.

“Itu yang harus kita cari tahu.”

Malam itu Nadira tidak bisa tidur.

Ia berdiri di depan jendela kamar tamu.

Di ranjang, Alya tidur sambil memeluk boneka kecil yang dipinjamkan Raka.

Dimas tidur di kamar sebelah.

Nadira memikirkan delapan belas tahun hidupnya.

Berapa banyak dokumen yang pernah Arga letakkan di meja makan?

Berapa kali Arga berkata,

“Cuma administrasi.”

Berapa kali ia percaya?

Keesokan harinya, Arga akhirnya menelepon.

“Nadira.”

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang.

“Kita perlu menyelesaikan ini seperti orang dewasa.”

“Apa yang perlu diselesaikan?”

“Pengacara akan mengirim beberapa dokumen. Kamu tanda tangan, nanti aku beri uang untuk kontrakan selama enam bulan.”

Dulu Nadira mungkin akan merasa bersyukur.

Sekarang ia justru bertanya,

“Dokumen apa?”

Arga diam.

“Dokumen perceraian dan beberapa pernyataan aset.”

“Kenapa ada pernyataan aset kalau aku tidak punya apa-apa?”

Keheningan di ujung telepon berubah.

Hanya satu atau dua detik.

Tetapi Nadira merasakannya.

Arga tidak menyangka pertanyaan itu.

“Pengacara yang mengurus bahasanya.”

“Kalau begitu biar pengacaraku yang membaca.”

“Nadira.”

Nada Arga mengeras.

“Kamu tidak punya uang untuk pengacara.”

Untuk pertama kalinya, Nadira tidak merasa kecil mendengar kalimat itu.

Ia menjawab pelan,

“Mungkin.”

Lalu memutus telepon.

Tiga hari berikutnya mengubah segalanya.

Raka meminta bagian administrasi membuka arsip lama secara resmi.

Bu Ratih memeriksa dokumen perusahaan bersama tim hukum independen.

Nadira sendiri mencari semua barang yang masih tersimpan di akun email lamanya.

Dan sebuah email dari tujuh belas tahun lalu akhirnya ditemukan.

Subjeknya sederhana.

Modal awal.

Pengirimnya Arga.

Isi pesannya hanya beberapa kalimat.

Arga berterima kasih kepada Nadira karena bersedia menjual satu-satunya warisan dari orang tuanya.

Lalu ada kalimat yang membuat Bu Ratih meminta Nadira mencetak email tersebut.

“Kalau usaha ini berhasil, apa yang aku bangun dari uangmu adalah masa depan kita berdua.”

Tidak membuktikan semuanya.

Tetapi Arga tidak lagi bisa mengatakan bahwa uang itu berasal dari pamannya.

Kemudian muncul bukti kedua.

Bukti yang jauh lebih berbahaya bagi Arga.

Seorang mantan staf keuangan perusahaan bernama Pak Surya masih menyimpan salinan buku besar awal.

Ia sudah pensiun.

Ketika Raka mendatanginya, Pak Surya langsung mengenali transaksi Rp900 juta itu.

“Saya ingat karena jumlahnya besar sekali waktu itu.”

“Arga bilang dari pamannya,” kata Raka.

Pak Surya mengernyit.

“Bukan.”

“Bapak yakin?”

“Waktu dana masuk, Pak Arga sendiri bilang itu uang hasil penjualan properti istrinya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Pak Surya membuka sebuah kotak arsip pribadi.

Ia mengeluarkan fotokopi memo internal lama.

Di sana tertulis bahwa kontribusi tersebut harus dicatat terpisah sampai struktur kepemilikan diselesaikan.

Raka membaca nama yang tercantum.

Nadira Prameswari.

Nadira menutup mulut ketika melihatnya.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Pak Surya menatapnya dengan rasa bersalah.

“Saya kira Ibu tahu.”

“Tidak.”

“Beberapa bulan setelah perusahaan berjalan, Pak Arga meminta catatan itu diperbaiki. Katanya urusan antara suami dan istri sudah diselesaikan secara pribadi.”

“Diselesaikan bagaimana?”

“Saya tidak tahu.”

Tidak ada dokumen penyelesaian.

Tidak ada bukti pembayaran kembali.

Tidak ada perjanjian bahwa Nadira melepaskan klaim atas uang tersebut.

Yang ada justru dokumen baru bertanda tangan mencurigakan.

Kemudian, pada minggu berikutnya, motifnya mulai terlihat.

Arga sedang berusaha menjual sebagian kepentingan ekonominya dalam perusahaan kepada investor.

Nilainya puluhan miliar rupiah.

Sebelum transaksi besar itu berjalan, ia ingin memastikan tidak ada sengketa yang dapat muncul dari sumber modal awal maupun pembagian harta dalam perceraiannya.

Itulah mengapa perceraian dilakukan sekarang.

Bukan semata karena perempuan lain.

Perempuan lain memang ada.

Tetapi ia bukan alasan utama mengapa Arga terburu-buru.

Arga membutuhkan Nadira keluar dari rumah.

Membutuhkan Nadira merasa tidak punya apa-apa.

Dan yang paling penting—

ia membutuhkan tanda tangan.

Pertemuan akhirnya dijadwalkan.

Bukan di rumah.

Bukan di restoran.

Tetapi di kantor hukum di Jakarta Selatan.

Arga datang bersama dua pengacara.

Nadira datang bersama Bu Ratih dan penasihat hukumnya sendiri.

Raka hadir sebagai pihak dari perusahaan.

Ketika Arga melihat Raka, wajahnya langsung berubah.

“Kenapa dia ada di sini?”

Raka duduk tanpa menjawab.

Arga menatap Nadira.

“Kamu tinggal di rumah dia?”

Nadira tetap tenang.

“Aku dan anak-anak tinggal di tempat yang tidak mengusir kami.”

Rahang Arga menegang.

Salah satu pengacaranya mencoba mengembalikan pembicaraan ke dokumen perceraian.

Namun Bu Ratih mengeluarkan bukti transfer.

Rp900.000.000.

Kemudian email.

Lalu memo internal.

Satu per satu diletakkan di meja.

Arga tidak lagi bersandar santai.

“Ini tidak membuktikan kepemilikan saham,” katanya.

Bu Ratih mengangguk.

“Benar.”

Arga terlihat sedikit lega.

“Kami juga tidak mengatakan bahwa satu transfer otomatis menjadikan Bu Nadira pemegang saham.”

Nadira memandang Arga.

Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata suaminya.

Bu Ratih melanjutkan,

“Yang perlu dijelaskan adalah sumber modal, pencatatan awal, berbagai representasi yang dibuat setelahnya, serta dokumen terbaru yang menggunakan tanda tangan Bu Nadira.”

Ia mengeluarkan halaman terakhir.

Arga memucat.

“Itu tanda tangannya.”

Nadira menggeleng.

“Bukan.”

“Kamu lupa.”

“Tidak.”

“Nadira, selama delapan belas tahun kamu menandatangani banyak dokumen.”

“Benar.”

Nadira membuka tasnya.

Kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil.

“Aku juga menandatangani ini.”

Arga menatapnya.

Itu buku tabungan lama milik Nadira yang baru ditemukan di kotak dokumen yang selama ini disimpan sepupunya.

Ada beberapa contoh tanda tangannya dari periode berbeda.

Bu Ratih menjelaskan bahwa dokumen yang disengketakan akan diperiksa melalui prosedur yang sesuai.

Arga berdiri.

“Ini gila.”

Raka akhirnya bicara.

“Duduk.”

“Kamu jangan ikut campur urusan keluargaku.”

Raka menatapnya dingin.

“Kamu membawa urusan keluargamu ke perusahaan tujuh belas tahun lalu.”

Arga membeku.

Raka mendorong satu dokumen lagi.

“Aku juga menemukan ini.”

Kali ini Arga benar-benar kehilangan warna di wajahnya.

Itu bukan dokumen tentang Nadira.

Melainkan perjanjian awal antara Arga dan Raka.

Di dalamnya, masing-masing pihak menyatakan sumber dana modal yang mereka kontribusikan tidak sedang disengketakan dan informasi yang diberikan mengenai asal dana harus benar.

Jika ternyata ada informasi material yang sengaja disembunyikan, konsekuensinya dapat memengaruhi transaksi tertentu dan memicu pemeriksaan internal.

Raka menatap sahabat sekaligus partner bisnisnya selama hampir dua dekade.

“Kamu bilang uang itu milikmu.”

Arga tidak menjawab.

“Kamu bilang berasal dari keluarga.”

Masih diam.

“Padahal istrimu menjual warisan terakhir dari orang tuanya.”

Arga akhirnya menoleh kepada Nadira.

“Dan kamu sekarang mau menghancurkan semua yang kita bangun?”

Kalimat itu membuat Nadira hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena begitu ironis.

“Aku?”

Suaranya bergetar.

“Aku yang menghancurkan?”

Ia menatap pria yang pernah dicintainya.

“Aku menjual rumah peninggalan ayah dan ibuku karena kamu bilang kita sedang membangun masa depan.”

Arga menunduk.

“Aku berhenti bekerja untuk membesarkan anak-anak kita.”

Nadira menahan air mata.

“Aku memasak untuk klienmu. Aku mengingat ulang tahun orang-orang yang bahkan kamu lupa. Aku menemanimu ketika perusahaan hampir bangkrut. Aku menjual perhiasan ibuku ketika gaji karyawan terlambat.”

Arga mengangkat wajah.

“Aku tahu.”

“Tidak.”

Air mata akhirnya jatuh.

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan mengatakan aku tidak punya apa-apa.”

Tak seorang pun berbicara.

Nadira menyeka pipinya.

“Aku tidak datang untuk mengambil perusahaanmu.”

Ia menarik napas.

“Aku datang karena kamu mencoba menghapus delapan belas tahun hidupku seolah aku tidak pernah ada.”

Pertemuan berakhir tanpa tanda tangan.

Setelah itu proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Tidak cepat.

Tidak dramatis seperti film.

Ada pemeriksaan dokumen.

Penelusuran rekening.

Negosiasi.

Penilaian aset.

Keterangan beberapa orang.

Dan sengketa mengenai tanda tangan.

Rencana transaksi Arga dengan investor tertunda sementara berbagai persoalan internal diperiksa.

Akhirnya, melalui proses penyelesaian hukum dan negosiasi yang panjang, Nadira memperoleh pembagian aset yang jauh berbeda dari klaim awal Arga bahwa ia “tidak punya hak atas apa pun.”

Namun hal yang paling mengejutkan justru bukan uang.

Suatu sore, Raka datang membawa sebuah kotak.

“Ada satu arsip lagi.”

Nadira tersenyum lelah.

“Aku sudah trauma melihat map.”

“Yang ini bukan map.”

Di dalam kotak terdapat sebuah amplop tua.

Tulisan tangan di depannya membuat Nadira membeku.

Itu tulisan ayahnya.

Raka menjelaskan bahwa amplop tersebut terselip di antara dokumen lama yang dulu diserahkan bersama salinan berkas penjualan apartemen.

Nadira membuka amplop dengan tangan gemetar.

Di dalamnya ada surat pendek.

Ayahnya menulis surat itu sebelum meninggal.

Ia tahu Nadira mungkin suatu hari akan menjual apartemen tersebut untuk membangun kehidupan bersama suaminya.

Namun ada satu kalimat yang membuat Nadira menangis.

Kalau suatu hari rumah ini berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, jangan pernah lupa bahwa nilai terbesar yang Ayah tinggalkan bukan bangunannya. Nilainya adalah supaya kamu selalu punya pilihan. Jangan menyerahkan pilihanmu kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang kamu cintai.

Nadira menutup surat itu di dadanya.

Selama ini ia berpikir telah kehilangan warisan orang tuanya.

Ternyata tidak.

Warisan itu hanya berubah bentuk.

Beberapa bulan kemudian, Nadira tidak membeli rumah mewah.

Ia menyewa rumah sederhana lebih dulu.

Kemudian kembali bekerja.

Pengalamannya mengelola klinik memang sudah lama, tetapi ia mulai dari posisi administratif di sebuah pusat kesehatan swasta.

Gajinya tidak fantastis.

Namun ketika menerima transfer gaji pertamanya, Nadira duduk di dalam mobil dan menangis hampir sepuluh menit.

Bukan karena jumlahnya.

Karena nama yang tercantum sebagai penerima adalah namanya sendiri.

Suatu malam, Dimas masuk ke kamarnya.

“Ibu?”

“Iya?”

“Kalau nanti kita punya rumah sendiri, boleh pelihara anjing?”

Nadira tertawa.

“Kenapa kamu masih mikirin anjing?”

“Kan waktu kita enggak punya rumah, aku sudah bilang aku bisa jagain anjing.”

Nadira menarik putranya ke dalam pelukan.

“Kita akan punya rumah.”

“Yang besar?”

“Enggak harus.”

“Yang ada halaman?”

“Mungkin.”

Dimas berpikir sebentar.

“Yang penting enggak ada yang bisa suruh kita pergi.”

Senyum Nadira menghilang.

Ia memeluk anaknya lebih erat.

“Iya.”

Setahun kemudian, mereka pindah ke rumah kecil di Bintaro.

Bukan rumah puluhan miliar.

Bukan rumah dengan pagar tinggi dan kolam renang.

Rumah dua lantai dengan halaman kecil.

Pada hari pertama, Raka datang membawa hadiah.

Dimas berlari membuka pintu.

Beberapa detik kemudian terdengar teriakan dari depan.

“IBUUU!”

Nadira panik dan berlari keluar.

Lalu berhenti.

Raka berdiri di halaman sambil memegang tali.

Di ujungnya ada seekor anjing kecil berwarna cokelat yang mengibas-ngibaskan ekor.

Dimas hampir menangis karena bahagia.

“Om Raka bilang dia butuh rumah!”

Raka mengangkat kedua tangan.

“Aku cuma membantu memperkenalkan. Keputusan tetap ibumu.”

Dimas menatap Nadira dengan mata memohon.

Alya ikut memeluk kaki ibunya.

Nadira mencoba bertahan sekitar lima detik.

Lalu menyerah.

“Baik.”

Dimas menjerit kegirangan.

Anjing kecil itu berlari mengelilingi halaman.

Alya mengejarnya.

Untuk beberapa saat, Nadira hanya berdiri di ambang pintu.

Raka menghampirinya.

“Kamu baik-baik saja?”

Nadira mengangguk.

Kemudian ia melihat rumah kecil itu.

Dua anaknya.

Anjing yang baru datang.

Dan kunci rumah di tangannya.

“Dulu aku mengetuk rumahmu karena kupikir aku sudah kehilangan semuanya.”

Raka tersenyum.

“Dan ternyata?”

Nadira melihat Dimas tertawa di halaman.

“Ternyata yang hilang cuma kehidupan yang memang sudah tidak sehat untuk kupertahankan.”

Raka tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum.

Beberapa minggu kemudian, Nadira menerima satu surat terakhir dari pengacaranya.

Semua penyelesaian utama telah selesai.

Di bagian paling bawah ada angka yang dulu mungkin akan menjadi satu-satunya hal yang ia lihat.

Sekarang tidak.

Ia melipat surat itu.

Memasukkannya ke laci.

Lalu mengambil surat lama dari ayahnya dan meletakkannya di tempat yang lebih aman.

Karena akhirnya Nadira memahami sesuatu.

Tujuh belas tahun lalu, ia mengira telah memberikan warisannya kepada Arga.

Sebenarnya, ia sedang mempertaruhkan kepercayaannya kepada orang yang salah.

Dan pada malam ketika Arga mengusirnya sambil berkata bahwa ia “tidak punya apa-apa”, Nadira juga mempercayainya.

Hanya selama beberapa hari.

Sampai sebuah angka lama—Rp900 juta—muncul kembali dan memaksa semua orang melihat kebenaran yang selama ini terkubur.

Namun kemenangan terbesar Nadira bukan ketika Arga kehilangan kendali atas kebohongannya.

Bukan ketika dokumen-dokumen lama ditemukan.

Bukan pula ketika ia akhirnya memperoleh penyelesaian yang layak.

Kemenangan terbesar terjadi pada suatu pagi biasa.

Nadira sedang membuat sarapan ketika Dimas berlari masuk dari halaman.

Alya mengejarnya bersama anjing kecil mereka.

“Bu!”

“Apa?”

Dimas mengangkat sesuatu.

Sebuah papan kayu kecil yang ia buat untuk tugas sekolah.

Tulisan di atasnya sedikit miring.

RUMAH KITA.

Nadira tidak mengatakan apa-apa.

Dimas menunjuk pintu depan.

“Boleh aku pasang di sana?”

Nadira menatap kedua anaknya.

Matanya mulai basah.

“Boleh.”

“Kenapa Ibu nangis?”

Nadira tersenyum sambil mengusap air matanya.

“Karena Ibu baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

Ia berjongkok dan memeluk Dimas serta Alya sekaligus.

Malam ketika ia berdiri di depan pagar orang asing dengan dua anak dan satu ransel, Nadira mengira dirinya sedang meminta tempat tinggal.

Ternyata bukan.

Tanpa disadarinya, ia sedang mengambil langkah pertama menuju kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Nadira mencium kepala kedua anaknya.

Kemudian berkata,

“Karena sekarang kita benar-benar pulang.”