MANTANKU MENGHILANG ENAM TAHUN LALU. LALU AKU MENEMUKANNYA TERTIDUR DI BANDARA SOEKARNO-HATTA BERSAMA DUA ANAK PEREMPUAN KECIL YANG MEMILIKI MATA PERSIS SEPERTIKU. SEBELUM AKU SEMPAT MENDEKATI MEREKA, AKU MENDENGAR IBUKU BERKATA, “IBU MEREKA SEHARUSNYA TAHU DIRI.” SAAT ITU JUGA AKU MEMBATALKAN KESEPAKATAN BISNIS TERBESAR DALAM HIDUPKU. TAPI YANG KUTEMUKAN SETELAHNYA JAUH LEBIH MENGEJUTKAN—SEBUAH DOKUMEN HUKUM DENGAN TANDA TANGANKU SENDIRI, YANG MEMBUKA RAHASIA KELUARGAKU SELAMA ENAM TAHUN.
BAGIAN 1
Aku menyadari bahwa kemungkinan besar aku adalah ayah dari dua anak kembar berusia lima tahun saat berdiri di lantai mengilap Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ironisnya, tiga puluh menit sebelumnya aku masih menganggap keterlambatan penerbangan sebagai masalah terbesar dalam hidupku.
Namaku Arga Mahendra.
Usiaku empat puluh empat tahun.

Selama hampir dua puluh tahun, aku membangun jaringan hotel butik dari nol. Kami memiliki beberapa properti di Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Labuan Bajo. Pagi itu aku seharusnya terbang ke Surabaya untuk menghadiri pertemuan terakhir mengenai akuisisi sebuah hotel bersejarah.
Nilainya lebih besar daripada transaksi mana pun yang pernah kutandatangani.
Aku bahkan datang hampir dua jam lebih awal.
Kemudian tulisan merah muncul di layar keberangkatan.
PENERBANGAN DITUNDA.
Aku langsung menelepon Dimas, direktur keuanganku.
“Kalau aku belum sampai, mulai rapat tanpa aku. Semua dokumennya sudah ada. Jangan biarkan mereka mengubah syarat hanya karena aku terlambat.”
“Berapa lama delay-nya?”
“Belum jelas.”
Aku menutup telepon dengan kesal.
Karena area dekat gerbang keberangkatan semakin ramai, aku berjalan mencari tempat yang sedikit lebih tenang. Aku menemukan kursi kosong tidak jauh dari jendela besar yang menghadap landasan.
Aku membuka laptop.
Baru membaca dua baris laporan keuangan, pandanganku berhenti pada seseorang beberapa meter di sebelah kiriku.
Seorang perempuan tertidur sambil bersandar ke dinding.
Di samping kakinya ada koper biru tua yang sudah penuh goresan.
Dua anak perempuan kecil berada di dekatnya.
Yang satu tidur dengan kepala di paha perempuan itu.
Yang satunya lagi memeluk gagang koper dengan kedua tangan kecilnya, seolah takut seseorang akan mengambil satu-satunya barang yang mereka miliki.
Aku sebenarnya hampir kembali melihat laptop.
Sampai perempuan itu bergerak dalam tidurnya.
Tangannya terangkat.
Ia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga dengan gerakan kecil yang sangat kukenal.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Tidak mungkin.
Aku berdiri perlahan.
Menatapnya lebih lama.
Enam tahun telah mengubah wajahnya.
Tubuhnya jauh lebih kurus. Ada garis kelelahan di sekitar matanya. Pakaiannya sederhana—blus polos, celana panjang gelap, dan sepatu yang tampak sudah lama dipakai.
Tapi aku tidak mungkin salah mengenalinya.
Nadira Prameswari.
Perempuan yang pernah ingin kunikahi.
Perempuan yang menghilang dari hidupku enam tahun lalu tanpa satu penjelasan pun.
Selama bertahun-tahun aku mencoba mengubur namanya di bawah pekerjaan.
Aku membuka hotel baru.
Terbang dari satu kota ke kota lain.
Menghadiri makan malam investor.
Menandatangani kontrak.
Membuat diriku terlalu sibuk untuk bertanya mengapa seseorang yang mengatakan mencintaiku bisa pergi begitu saja.
Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, ibuku, Ratna Mahendra, selalu memberikan jawaban yang sama.
“Nadira akhirnya sadar bahwa dunia kita bukan tempatnya, Arga.”
Aku masih bisa mendengar suaranya.
“Biarkan dia pergi dengan harga dirinya. Jangan mempermalukan dirimu dengan mengejar perempuan yang sudah memilih meninggalkanmu.”
Dulu aku mempercayainya.
Atau mungkin aku hanya ingin mempercayainya.
Karena pilihan lainnya jauh lebih menyakitkan.
Aku mengenal Nadira ketika dia bekerja sebagai koordinator acara untuk yayasan sosial milik keluarga kami di Jakarta.
Saat itu aku berusia tiga puluh lima tahun.
Nadira tiga puluh satu.
Dia bukan berasal dari keluarga konglomerat.
Ayahnya pensiunan guru.
Ibunya pernah membuka usaha katering kecil di Bogor.
Nadira tidak pernah terkesan dengan nama belakang Mahendra.
Saat orang lain tertawa pada lelucon ayahku hanya karena takut menyinggung keluarga kami, Nadira bisa menatapku dan berkata,
“Tidak lucu.”
Aku justru menyukainya karena itu.
Dia satu-satunya orang yang berani mengatakan bahwa sebuah ide hotelku buruk.
Satu-satunya perempuan yang pernah menyeretku keluar dari acara gala mewah hanya karena menemukan penjual nasi goreng yang menurutnya jauh lebih menarik daripada makan malam tujuh menu.
Aku jatuh cinta padanya tanpa rencana.
Ibuku menyadarinya lebih cepat daripada aku.
Dan sejak awal, dia tidak menyukainya.
Suatu malam setelah makan malam keluarga di rumah kami di Pondok Indah, Ibu memintaku tinggal sebentar.
“Bersenang-senang dengan seseorang itu satu hal,” katanya.
“Membangun keluarga bersamanya itu hal lain.”
Aku tahu persis apa yang dia maksud.
“Namanya Nadira, Bu.”
“Aku tahu namanya.”
“Kalau begitu jangan bicara tentang dia seolah dia tidak cukup baik untuk keluarga ini.”
Ibu menatapku lama.
“Kamu pewaris keluarga Mahendra.”
“Dan?”
“Kamu punya tanggung jawab.”
Aku tertawa pendek.
“Kalau tanggung jawab itu berarti menikahi orang yang Ibu pilih, aku tidak tertarik.”
Aku masih ingat perubahan kecil di wajahnya.
Bukan kemarahan.
Sesuatu yang lebih dingin.
Aku mengatakan kepadanya malam itu bahwa jika suatu hari aku menikah, Nadira adalah satu-satunya perempuan yang kuinginkan.
Empat bulan kemudian, aku pergi ke Singapura selama hampir tiga minggu untuk mengurus pembukaan properti baru.
Aku menelepon Nadira setiap malam.
Semuanya tampak normal.
Sampai dua hari sebelum aku pulang.
Teleponnya mati.
Pesanku tidak terkirim.
Ketika tiba di Jakarta, aku langsung pergi ke apartemennya.
Kosong.
Tidak ada pakaian.
Tidak ada buku.
Tidak ada tanaman kecil yang selalu diletakkannya dekat jendela.
Pemilik apartemen hanya mengatakan Nadira sudah pindah.
Aku mencoba menghubungi teman-temannya.
Tidak ada yang tahu.
Aku mengirim surat ke alamat orang tuanya di Bogor.
Surat itu kembali.
Aku bahkan meminta seseorang dari kantor mencari informasi.
Lalu ibuku datang membawa sebuah amplop.
Dia mengatakan Nadira telah meninggalkan pesan melalui pengacara keluarga.
Menurut Ibu, Nadira tidak ingin ditemukan.
Dia ingin memulai hidup baru.
Dan dia secara khusus meminta agar aku berhenti mencarinya.
Aku hancur.
Tapi harga diriku lebih besar daripada keberanianku.
Aku berhenti mencari.
Itulah kesalahan yang selama enam tahun tidak kusadari.
Sampai pagi itu.
Di Terminal 3.
Ketika salah satu dari dua anak kecil di samping Nadira perlahan terbangun.
Dia mengucek mata.
Kemudian mengangkat wajah.
Aku berhenti bernapas.
Rambutnya hitam dan sedikit bergelombang.
Dagunya memiliki bentuk yang sangat kukenal.
Tapi matanya…
Ya Tuhan.
Matanya.
Cokelat gelap dengan lingkar keemasan tipis di sekitar pupil.
Aku memiliki mata yang sama.
Ayahku juga.
Begitu pula almarhum kakekku.
Aku menatap anak kedua.
Dia masih tertidur.
Wajah mereka hampir identik.
Kembar.
Tanganku mulai dingin.
Aku menghitung cepat.
Nadira menghilang enam tahun lalu.
Anak-anak itu terlihat sekitar lima tahun.
Tidak.
Tidak mungkin.
Atau justru terlalu mungkin.
Seolah merasakan seseorang sedang memperhatikannya, Nadira membuka mata.
Pandangan kami bertemu.
Tubuhnya langsung menegang.
Wajahnya kehilangan warna.
Dia tidak terlihat seperti perempuan yang bertemu mantan kekasih.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru melihat masa lalu yang selama bertahun-tahun berusaha dia hindari.
Secara refleks, Nadira menarik kedua anak itu mendekat.
Aku mengambil satu langkah.
“Nadira.”
Bibirnya terbuka.
Tidak ada suara.
Aku mendekat satu langkah lagi.
“Aku sudah bertanya pada diriku sendiri selama enam tahun kenapa kamu pergi.”
Matanya mulai basah.
“Arga…”
Aku menunjuk perlahan ke arah kedua anak itu.
Aku bahkan tidak sanggup menyelesaikan pertanyaanku.
“Apakah mereka…?”
Nadira memejamkan mata beberapa detik.
Ketika membukanya kembali, ada sesuatu yang lebih kuat daripada kesedihan di sana.
Ketakutan.
Bukan terhadapku.
Terhadap seseorang yang lain.
Dia menarik napas.
“Arga, ibumu tidak pernah memberitahumu?”
Jantungku terasa berhenti.
“Memberitahuku apa?”
Nadira menatap kedua putrinya.
Salah satu anak memegang tangannya.
“Bunda, siapa Om itu?”
Sebelum Nadira menjawab, aku mendengar suara langkah dari belakang.
Suara perempuan.
Suara yang kukenal sepanjang hidupku.
“Aku sudah bilang jangan kembali ke Jakarta.”
Aku berbalik.
Ibuku berdiri beberapa meter dari kami.
Ratna Mahendra.
Dia seharusnya berada di rumah.
Setidaknya itulah yang dia katakan kepadaku malam sebelumnya.
Tapi pagi itu dia berada di bandara.
Dan yang lebih aneh, dia sama sekali tidak terlihat terkejut melihat Nadira.
Seolah pertemuan itu sudah direncanakan.
“Ibu?”
Ratna mengabaikanku.
Tatapannya tertuju pada Nadira.
“Aku sudah memberikan apa yang kamu minta.”
Nadira berdiri.
“Aku tidak pernah meminta uang Anda.”
“Aku memastikan anak-anakmu punya kehidupan.”
“Mereka bukan hanya anakku.”
Suasana di antara mereka membuat darahku terasa dingin.
Aku menatap Ibu.
“Kalian saling berhubungan selama ini?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu tahu Nadira masih ada?”
Ratna menarik napas.
“Arga, ini bukan tempat untuk membicarakan urusan keluarga.”
Aku hampir tertawa.
“Urusan keluarga?”
Salah satu anak perempuan memeluk kaki Nadira.
Aku melihat wajah kecil itu lagi.
Lalu aku menatap ibuku.
“Apakah mereka anakku?”
Ratna diam.
Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Nadira berkata pelan,
“Mereka bernama Alya dan Alina.”
Tanganku gemetar.
“Umur?”
“Lima tahun.”
Aku harus memegang sandaran kursi agar tetap berdiri.
Lima tahun.
Aku memiliki dua anak perempuan.
Dan aku tidak tahu mereka ada.
“Kenapa?”
Hanya satu kata itu yang mampu keluar.
Nadira menatap ibuku.
“Aku mencoba memberitahumu.”
Aku menoleh tajam.
“Apa maksudmu?”
“Aku datang ke rumah keluargamu setelah mengetahui aku hamil. Kamu masih di Singapura.”
Dia berhenti.
“Ibumu menemuiku.”
Ratna langsung berkata, “Jangan dramatis.”
Nadira tertawa kecil, tetapi air mata mulai turun.
“Dia menunjukkan dokumen kepadaku.”
“Dokumen apa?”
Nadira membuka tas lusuh yang tergantung di bahunya.
Dari dalamnya, dia mengambil map plastik bening.
Tangannya gemetar ketika mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Dokumen ini.”
Aku mengambilnya.
Di halaman terakhir ada namaku.
Arga Mahendra.
Dan tepat di bawahnya…
tanda tanganku.
Aku mengenal setiap lengkungannya.
Tapi aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Isinya menyatakan bahwa aku mengetahui kehamilan Nadira.
Bahwa aku menolak segala tanggung jawab.
Bahwa hubungan kami telah berakhir atas keinginanku sendiri.
Dan bagian yang paling membuatku hampir kehilangan keseimbangan—
aku disebut telah memberikan kuasa kepada perwakilan keluarga untuk menyelesaikan seluruh urusan terkait Nadira dan calon anak kami tanpa keterlibatanku.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Nadira menatapku.
“Itulah yang baru kusadari beberapa bulan lalu.”
Aku melihat tanggalnya.
Hari ketika dokumen itu dibuat, aku berada di Singapura.
Tetapi ada sesuatu yang lebih buruk.
Nama kantor hukum yang tercantum di bagian bawah sangat kukenal.
Mereka bukan pengacara Nadira.
Mereka adalah firma hukum yang menangani hampir seluruh aset keluarga Mahendra.
Aku mengangkat wajah.
Ibuku masih berdiri di sana.
Tenang.
Terlalu tenang.
Lalu ponselku bergetar.
Dimas menelepon.
Rapat akuisisi.
Kesepakatan terbesar dalam karierku.
Aku menekan tombol jawab.
“Pak Arga, pihak Surabaya sudah menunggu. Kalau Bapak tidak berangkat sekarang, kita bisa kehilangan transaksi ini.”
Aku menatap Nadira.
Lalu Alya.
Lalu Alina.
Lima tahun kehidupan mereka telah hilang dariku.
Ulang tahun pertama.
Langkah pertama.
Hari pertama sekolah.
Demam tengah malam.
Cerita sebelum tidur.
Semua hal yang tidak bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.
“Batalkan.”
Dimas terdiam.
“Maaf?”
“Batalkan akuisisinya.”
“Pak, nilainya hampir—”
“Aku tahu nilainya.”
Aku menutup telepon.
Ibuku langsung menatap tajam.
“Kamu kehilangan akal?”
“Tidak.”
Aku melipat dokumen itu perlahan.
“Sepertinya aku baru mendapatkannya kembali.”
Kemudian aku melihat tanda tanganku sekali lagi.
Ada sesuatu yang aneh.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Aku pernah melihat versi tanda tangan seperti itu sebelumnya.
Pada dokumen lama perusahaan.
Dokumen yang hanya ditandatangani menggunakan mesin reproduksi tanda tangan milik kantor ayahku.
Mesin itu tidak pernah berada di Singapura.
Mesin itu berada di kantor keluarga kami di Jakarta.
Aku mengangkat kepala.
“Ibu.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, ketenangan Ratna menghilang.
Aku menunjukkan halaman terakhir.
“Siapa yang menggunakan tanda tanganku?”
Ratna tidak menjawab.
Nadira tiba-tiba berkata,
“Arga… itu belum semuanya.”
Aku menatapnya.
Dia membuka bagian belakang map dan mengeluarkan satu lembar lain.
“Dua bulan lalu aku mendapatkan salinan ini dari seseorang yang dulu bekerja untuk keluargamu.”
Aku mengambilnya.
Kali ini bukan surat pernyataan.
Itu dokumen perwalian.
Ada nama Alya.
Ada nama Alina.
Ada namaku.
Dan ada satu nama lain yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Nama orang yang selama enam tahun secara hukum telah tercatat memiliki kewenangan atas masa depan kedua putriku.
Aku perlahan menatap ibuku.
Saat itulah aku mendengar Ratna berbisik kepada seorang pria yang baru muncul dari arah ruang tunggu VIP.
Dia mengira aku tidak mendengarnya.
Tapi aku mendengar setiap kata.
“Ibu mereka seharusnya tahu diri sejak awal.”
Pria itu mendekat.
Aku mengenal wajahnya.
Dia adalah orang yang selama bertahun-tahun kupercaya mengurus hampir seluruh dokumen hukum keluarga kami.
Dan saat melihat map di tanganku, langkahnya langsung berhenti.
Wajahnya pucat.
Pada detik itu aku mengerti satu hal.
Nadira tidak pernah meninggalkanku.
Seseorang telah memastikan aku percaya bahwa dia pergi.
Dan siapa pun yang melakukan itu bukan hanya mencoba memisahkan kami.
Mereka telah menggunakan namaku, tanda tanganku, dan kekayaan keluargaku untuk menyembunyikan dua anak dariku selama hampir enam tahun.
Aku memandang Alya dan Alina.
Untuk pertama kalinya salah satu dari mereka menatapku tanpa bersembunyi di belakang ibunya.
Kemudian Alya bertanya pelan,
“Bunda… kenapa Om itu menangis?”
Aku tidak menyadari air mataku sudah jatuh.
Nadira memegang tangan putrinya.
Lalu menatapku.
Dan kalimat berikutnya membuatku sadar bahwa dokumen palsu itu bahkan bukan rahasia terbesar keluarga Mahendra.
“Karena mungkin sudah waktunya dia tahu,” katanya.
“Tahu apa?”
Nadira menatap ibuku.
Kemudian dia berkata,
“Alasan sebenarnya ibumu memisahkan kita bukan karena dia membenciku, Arga. Dia takut pada sesuatu yang ditemukan ayahmu sebelum meninggal.”
Aku tidak bergerak.
“Apa yang ditemukan Ayah?”
Nadira mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua dari dasar tasnya.
Di sudut amplop itu terdapat tulisan tangan ayahku.
Dan di bawah namaku hanya ada empat kata:
UNTUK ARGA. JANGAN PERCAYA SIAPA PUN.
Enam tahun aku mengira Nadira meninggalkanku.
Ternyata selama enam tahun, aku bahkan tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang berusaha dilindungi keluargaku.
Atau apa yang mereka sembunyikan dariku.
BAGIAN 2 — AMPLOP TERAKHIR AYAH
Tanganku gemetar ketika menerima amplop cokelat itu.
Tulisan di bagian depan jelas milik ayahku.
UNTUK ARGA. JANGAN PERCAYA SIAPA PUN.
Ayah meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung.
Selama empat tahun aku mengira tidak ada lagi percakapan yang belum selesai di antara kami.
Ternyata aku salah.
Aku menatap Nadira.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Seseorang mengirimkannya kepadaku tiga bulan lalu.”
“Siapa?”
Nadira melirik pria yang berdiri di belakang ibuku.
Namanya Hendra Kusuma.
Selama lebih dari dua puluh tahun, dia menjadi salah satu penasihat hukum keluarga Mahendra. Dia hadir ketika ayah membeli hotel pertama kami. Dia hadir saat perusahaan berubah menjadi grup. Dia bahkan berdiri di barisan depan ketika ayah dimakamkan.
Bagiku, Hendra hampir seperti paman.
Sekarang wajahnya pucat.
“Hendra?”
Dia tidak menjawab.
Ibuku melangkah maju.
“Arga, kita pulang. Kita bicarakan ini di rumah.”
Aku tertawa pendek.
“Enam tahun, Bu.”
“Apa?”
“Enam tahun Ibu punya kesempatan bicara.”
Aku mengangkat dokumen dengan tanda tanganku.
“Sekarang kita bicara di sini.”
Beberapa orang mulai memperhatikan kami.
Aku tidak peduli.
Selama hidup, keluargaku terobsesi pada satu hal: jangan membuat keributan di depan umum.
Hari itu aku tidak lagi peduli pada nama Mahendra.
Aku hanya peduli pada dua anak kecil yang ternyata mungkin putriku.
Aku membuka amplop.
Di dalamnya ada tiga benda.
Sebuah surat tulisan tangan.
Salinan laporan audit.
Dan sebuah flashdisk hitam kecil.
Aku membaca suratnya terlebih dahulu.
Tulisan ayah tidak serapi yang kuingat.
Seolah dibuat ketika tangannya sudah mulai lemah.
Arga,
Kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku gagal memperbaiki kesalahan yang kubiarkan terjadi di keluarga kita.
Ada hal tentang Nadira dan anak-anak yang tidak pernah kamu ketahui.
Aku mengetahuinya terlambat.
Dan ketika aku mencoba memperbaikinya, ibumu meminta aku diam demi melindungi perusahaan.
Aku menurut.
Itu adalah keputusan paling pengecut dalam hidupku.
Aku berhenti membaca.
“Ayah tahu?”
Nadira mengangguk perlahan.
“Belakangan.”
Aku kembali membaca.
Ayah menulis bahwa beberapa bulan setelah aku pulang dari Singapura, dia menemukan transaksi mencurigakan dari rekening salah satu perusahaan keluarga.
Bukan jutaan.
Miliaran rupiah.
Awalnya dia mengira itu pembayaran konsultan.
Kemudian dia menemukan bahwa uang tersebut dikirim ke beberapa perusahaan yang ternyata saling terhubung.
Semua pembayaran disetujui menggunakan otorisasi atas namaku.
Masalahnya sederhana.
Aku tidak pernah menyetujuinya.
Aku menatap Hendra.
“Ini tentang perusahaan?”
Hendra menunduk.
Ayah rupanya mulai menyelidiki.
Dan dalam penyelidikan itulah dia menemukan dokumen lain dengan tanda tanganku.
Surat tentang Nadira.
Surat yang sekarang berada di tanganku.
Ayah sadar seseorang telah menggunakan sistem reproduksi tanda tangan di kantornya untuk memalsukan persetujuanku.
Tetapi dia tidak langsung melapor.
Karena orang yang memiliki akses ke mesin itu hanya tiga orang.
Ayah.
Hendra.
Dan…
Aku menatap ibuku.
Ratna memejamkan mata.
“…Ibu.”
Tidak ada yang bicara.
Lalu Nadira memegang bahuku.
“Baca sampai selesai.”
Aku melanjutkan.
Ayah menulis bahwa ibuku memang menemui Nadira enam tahun lalu.
Nadira sedang hamil.
Dia datang ke rumah keluarga untuk mencariku karena teleponnya kepadaku tiba-tiba tidak bisa tersambung.
Ibuku menunjukkan surat dengan tanda tanganku.
Surat itu mengatakan aku tidak menginginkan anak tersebut.
Aku merasa mual.
Aku menatap Nadira.
“Kamu percaya?”
Air matanya turun.
“Aku tidak mau percaya.”
“Kenapa kamu tidak menungguku?”
“Aku mencoba.”
Suaranya pecah.
“Aku datang ke kantormu tiga kali.”
Aku membeku.
“Tiga kali?”
“Resepsionis mengatakan kamu tidak mau menemuiku.”
“Aku bahkan tidak tahu kamu datang.”
“Aku mengirim surat.”
“Aku tidak pernah menerimanya.”
“Aku mengirim email.”
“Aku tidak pernah melihatnya.”
Nadira tertawa getir.
“Setelah beberapa minggu, aku mulai berpikir mungkin semuanya benar.”
Aku tidak bisa menjawab.
Selama enam tahun aku marah kepadanya karena meninggalkanku.
Sementara dia menghabiskan minggu-minggu itu mengetuk pintu yang sengaja ditutup orang lain.
“Aku pindah ke Yogyakarta,” katanya. “Bibiku membantu selama kehamilan. Aku bekerja mengurus acara kecil, lalu membantu sebuah homestay. Setelah Alya dan Alina lahir, aku berhenti mencoba menghubungimu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak akan membesarkan anak-anak sambil memohon kepada seorang laki-laki yang kukira tidak menginginkan mereka.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Aku berlutut di depan kedua anak itu.
Mereka menatapku dengan bingung.
Aku ingin memeluk mereka.
Tapi aku tidak melakukannya.
Aku belum berhak.
Jadi aku hanya berkata,
“Halo, Alya. Halo, Alina.”
Alina bersembunyi sedikit di belakang ibunya.
Alya menatap wajahku.
“Kata Bunda, kami punya Papa.”
Nadira langsung menutup mulutnya.
Aku menoleh padanya.
Alya melanjutkan dengan kepolosan yang membuat dadaku sesak.
“Tapi Papa tinggal jauh sekali.”
Aku hampir tidak mampu bicara.
“Mungkin… Papa ternyata tidak sejauh yang kalian kira.”
Mata Nadira penuh air.
Namun suara ibuku memecah momen itu.
“Cukup.”
Aku berdiri.
Ratna terlihat lebih tua daripada satu jam sebelumnya.
“Arga, ada bagian yang tidak kamu pahami.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia menatap Hendra.
Kemudian menatapku.
“Aku memang membuat surat itu.”
Nadira menahan napas.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Ulangi.”
“Aku yang memerintahkan surat itu dibuat.”
Aku melangkah mendekat.
“Kenapa?”
“Karena saat itu perusahaan kita hampir hancur.”
Aku tertawa tidak percaya.
“Apa hubungannya dengan Nadira?”
“Banyak.”
Lalu ibuku mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“Nadira melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.”
Aku menoleh padanya.
Nadira tampak sama bingungnya.
Ratna menjelaskan.
Enam tahun lalu, ketika Nadira masih mengurus acara yayasan keluarga, dia menerima sebuah faktur yang salah alamat.
Nilainya hampir Rp4,8 miliar.
Nadira menganggap angka itu aneh karena acara yang tercantum dalam faktur tidak pernah terjadi.
Dia menanyakannya kepada bagian keuangan.
Beberapa hari kemudian, dia menyebutkannya kepadaku.
Aku samar-samar mengingat percakapan itu.
Saat itu aku bahkan tertawa.
Kupikir hanya kesalahan administrasi.
Ternyata bukan.
Faktur tersebut berasal dari salah satu perusahaan cangkang yang digunakan untuk memindahkan uang keluar dari Mahendra Hospitality.
“Hendra yang membuat sistem itu,” kata ibuku.
Aku menatap pria itu.
Hendra akhirnya bicara.
“Bu Ratna—”
“Diam.”
Suara Ibu tajam.
“Sudah terlalu lama kita berbohong.”
Untuk pertama kalinya, Hendra terlihat takut.
Ibuku melanjutkan.
Ketika dia mengetahui adanya transaksi itu, Hendra mengatakan bahwa jika penyelidikan dibuka, perusahaan bisa kehilangan kepercayaan bank dan investor.
Saat itu bisnis kami sedang menanggung utang besar akibat ekspansi terlalu cepat.
Skandal dapat menghancurkan semuanya.
Hendra kemudian meyakinkan ibuku bahwa Nadira adalah risiko.
Maka Ibu membuat pilihan.
Dia menyingkirkan Nadira dari hidupku.
Tapi ada sesuatu yang tidak cocok.
“Kalau tujuan Ibu melindungi perusahaan,” kataku, “kenapa menyembunyikan anak-anakku?”
Ratna tidak menjawab.
Aku membuka dokumen perwalian.
“Dan apa ini?”
Tangannya mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu tampak mampu mengendalikan seluruh ruangan itu kehilangan kata-kata.
Nadira berkata,
“Itu yang membuatku kembali ke Jakarta.”
Dia menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya, saat hendak mengurus dokumen sekolah Alya dan Alina, seorang notaris di Yogyakarta menemukan ketidaksesuaian dalam berkas lama.
Ada dokumen yang seolah memberi kewenangan kepada perwakilan keluarga Mahendra untuk mengatur sebuah dana atas nama anak-anak.
Nadira tidak pernah menandatanganinya.
Aku melihat nama yang tercantum sebagai pengelola dana.
Hendra Kusuma.
Aku mengangkat kepala.
“Dana apa?”
Hendra mundur satu langkah.
Ratna menjawab.
“Dana pendidikan.”
Tapi Nadira menggeleng.
“Bukan.”
Dia mengeluarkan satu berkas lagi.
“Nilainya terlalu besar untuk sekadar dana pendidikan.”
Aku membaca angka di halaman kedua.
Rp32 miliar.
Aku terdiam.
Dana itu dibentuk beberapa bulan setelah kelahiran Alya dan Alina.
Sumber dananya berasal dari saham pribadi ayahku.
Dan penerima manfaatnya adalah…
Alya dan Alina.
“Kenapa Ayah memberikan saham kepada anak yang secara resmi bahkan tidak pernah dia akui sebagai cucunya?”
Tidak ada jawaban.
Lalu aku memahami.
“Ayah melakukan tes DNA?”
Nadira mengangguk.
“Diam-diam.”
Ternyata tiga tahun sebelum meninggal, ayah menemui Nadira di Yogyakarta.
Dia meminta maaf.
Dia mengatakan telah mengetahui pemalsuan surat itu.
Dia juga meminta izin melakukan tes DNA agar tidak ada seorang pun yang suatu hari bisa menyangkal bahwa Alya dan Alina adalah bagian dari keluarga Mahendra.
Hasilnya menunjukkan kecocokan hubungan keluarga.
Ayah kemudian membentuk dana amanah untuk cucu-cucunya.
Tetapi Hendra ditunjuk sebagai salah satu pengelola karena ayah masih mempercayainya.
“Dan setelah Ayah meninggal?” tanyaku.
Nadira menyerahkan laporan rekening.
Dana itu menyusut.
Rp32 miliar menjadi Rp21 miliar.
Lalu Rp16 miliar.
Aku melihat transaksi demi transaksi.
Perusahaan konsultasi.
Biaya administrasi.
Investasi.
Pinjaman.
Semua mengarah pada jaringan perusahaan yang sama.
Aku menatap Hendra.
“Kamu mencuri uang anak-anakku.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan.”
“Itu investasi sementara.”
“Sebelas miliar rupiah?”
“Dana itu akan dikembalikan.”
Aku hampir menerjangnya.
Tapi sebuah tangan kecil menyentuh jariku.
Alya.
Aku menunduk.
Dia menatapku ketakutan.
Saat itu juga amarahku berubah.
Aku tidak ingin pertemuan pertama anakku denganku menjadi kenangan tentang seorang pria yang berteriak.
Aku berjongkok.
“Tidak apa-apa.”
Kemudian aku berdiri dan menghubungi seseorang.
Bukan Dimas.
Bukan staf hotel.
Aku menelepon pengacara independen yang tidak pernah bekerja untuk keluarga Mahendra.
“Pak Adrian, saya butuh tim Anda sekarang. Ada dugaan pemalsuan tanda tangan dan penyalahgunaan dana perwalian. Saya akan mengirim dokumennya.”
Hendra langsung pucat.
Ratna tidak menghentikanku.
Justru dia berkata,
“Akhirnya.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ibuku membuka tasnya.
Dia mengeluarkan ponsel lama.
Kemudian meletakkannya di atas koper Nadira.
“Aku datang ke bandara bukan untuk menghentikan Nadira.”
Nadira mengernyit.
“Lalu untuk apa?”
“Untuk memastikan Hendra mengikutiku.”
Semua orang terdiam.
Ibu membuka ponsel itu.
Di dalamnya terdapat rekaman percakapan.
Suara Hendra.
Suara ibuku.
Tanggalnya tiga hari sebelumnya.
Hendra mengancam akan menghancurkan reputasi keluarga jika Ratna membantu Nadira membuka kembali dokumen lama.
Dia juga mengaku telah mengambil uang dari dana tersebut untuk menutup kerugian investasi pribadinya.
Aku menatap ibuku.
“Kenapa baru sekarang?”
Ratna menangis.
Aku belum pernah melihat ibuku menangis sejak pemakaman ayah.
“Karena aku pengecut.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Enam tahun lalu aku memang memisahkan kalian. Itu dosaku. Hendra tidak memaksaku melakukan itu.”
Dia menatap Nadira.
“Aku pikir kamu tidak cocok untuk anakku.”
Nadira diam.
“Aku pikir aku sedang melindungi keluarga.”
Ratna mengusap air matanya.
“Lalu ketika aku tahu kamu hamil, semuanya sudah terlalu jauh. Hendra menggunakan kepanikan itu untuk menutupi apa yang dia lakukan.”
“Kenapa Ibu tidak mengaku setelah Ayah mengetahuinya?”
“Karena aku malu.”
Jawaban itu sederhana.
Dan mungkin karena itulah rasanya begitu menyakitkan.
“Ayah ingin memberitahumu. Aku memohon agar dia memberiku waktu untuk memperbaikinya sendiri.”
“Empat tahun bukan waktu yang cukup?”
Ratna menunduk.
“Tidak ada waktu yang cukup untuk memperbaiki sesuatu kalau orangnya terlalu takut mengakui kesalahannya.”
Aku tidak memaafkannya hari itu.
Aku bahkan tidak mencoba.
Beberapa luka terlalu besar untuk diselesaikan dengan satu permintaan maaf.
Tiga bulan berikutnya mengubah kehidupan kami.
Audit independen menemukan belasan transaksi yang tidak sah.
Hendra akhirnya diperiksa terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana. Proses hukumnya panjang, dan pengacara kami memperingatkan bahwa tidak semua uang mungkin bisa kembali.
Aku tidak peduli pada jumlahnya.
Aku mengganti seluruh pengelola dana Alya dan Alina dengan lembaga independen.
Lalu aku melakukan tes DNA resmi.
99,99 persen.
Aku adalah ayah mereka.
Aku menatap hasil itu hampir satu jam.
Kemudian aku menangis sendirian di mobil.
Bukan karena terkejut.
Aku sudah tahu sejak pertama melihat mata mereka.
Aku menangis karena selembar kertas akhirnya mengonfirmasi lima tahun kehidupan yang tidak pernah bisa kudapatkan kembali.
Nadira tidak langsung kembali kepadaku.
Dan aku tidak memintanya.
Aku menyewa apartemen kecil di Yogyakarta beberapa menit dari rumah mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku membiarkan timku mengurus perusahaan tanpa diriku setiap hari.
Aku belajar hal-hal yang jauh lebih sulit daripada membeli hotel.
Alya tidak suka wortel.
Alina takut suara petir.
Alya tidur sambil memeluk boneka kelinci.
Alina selalu meminta dua cerita sebelum tidur lalu tertidur di tengah cerita pertama.
Aku belajar mengepang rambut dengan hasil yang sangat buruk.
Aku belajar menyiapkan bekal sekolah.
Aku belajar bahwa menjadi ayah tidak dimulai dari tes DNA.
Itu dimulai ketika seorang anak muntah pukul dua pagi dan satu-satunya hal yang kau pikirkan adalah apakah dia baik-baik saja.
Enam bulan kemudian, sesuatu terjadi.
Aku sedang menjemput mereka dari sekolah ketika Alina berlari keluar.
Biasanya dia memanggilku “Om Arga.”
Hari itu dia berteriak,
“Papa!”
Aku berhenti berjalan.
Dia sendiri tampaknya tidak menyadari apa yang baru dikatakannya.
Dia langsung memeluk kakiku.
Aku menatap Nadira yang berdiri beberapa meter di belakangnya.
Dia tersenyum sambil menangis.
Aku berlutut dan memeluk putriku.
Alya ikut berlari.
Untuk beberapa menit, aku tidak bisa bicara.
Setahun setelah pertemuan di bandara, kami kembali ke Jakarta.
Bukan untuk rapat perusahaan.
Bukan untuk pengadilan.
Kami datang ke rumah lama ayah.
Ratna sudah menunggu di teras.
Hubunganku dengannya belum pulih sepenuhnya.
Mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Tapi dia menjalani konseling keluarga, menyerahkan seluruh jabatan di yayasan, dan memberikan kesaksian lengkap dalam proses hukum.
Dia tidak meminta aku melupakan.
Itu satu-satunya alasan aku perlahan belajar memberinya ruang untuk berubah.
Alya dan Alina berdiri ragu-ragu.
Ratna berjongkok.
Dia tidak berkata, “Aku nenek kalian.”
Dia hanya berkata,
“Nama saya Ratna. Saya pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk kepada ibu kalian dan kepada ayah kalian. Kalau suatu hari kalian mau mengenal saya, saya akan sangat bersyukur.”
Alina melihat Nadira.
Nadira tidak memerintahkannya.
Akhirnya Alina menyerahkan sebuah bunga kecil yang dia petik di halaman.
Ratna menerimanya dengan kedua tangan.
Dia menangis.
Dan saat itulah Nadira menyentuh lenganku.
“Ada satu hal lagi.”
Aku menatapnya.
“Jangan bilang masih ada dokumen.”
Untuk pertama kalinya, dia tertawa.
“Bukan.”
Dia mengambil amplop kecil dari tas.
Di dalamnya ada foto lama.
Ayahku sedang duduk di taman di Yogyakarta.
Di pangkuannya ada dua bayi perempuan.
Aku menatap foto itu lama.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayah.
Untuk cucu-cucuku. Maaf Kakek terlambat menemukan kalian. Semoga ayah kalian tidak terlambat juga.
Aku menutup mata.
Selama ini aku berpikir twist terbesar dari seluruh cerita adalah mengetahui bahwa aku memiliki dua anak.
Lalu aku berpikir itu adalah pemalsuan tanda tanganku.
Kemudian dana Rp32 miliar.
Ternyata bukan.
Rahasia terbesar ayah adalah bahwa dia telah menemukan cucu-cucunya sebelum meninggal.
Dia pernah menggendong mereka.
Dia pernah melihat mata yang sama denganku.
Dan meskipun dia gagal mengatakan kebenaran kepadaku ketika masih hidup, dia meninggalkan jalan agar kebenaran itu suatu hari bisa ditemukan.
Aku membalik foto itu lagi.
Ada sesuatu di sudut bawah yang sebelumnya tidak kulihat.
Tanggal.
Aku menghitung mundur.
Foto itu diambil hanya sebelas hari sebelum Ayah meninggal.
Aku menatap Nadira.
“Ini terakhir kali kamu bertemu Ayah?”
Dia mengangguk.
“Ada yang dia katakan?”
Nadira terdiam cukup lama.
Lalu tersenyum sedih.
“Dia bilang satu hal.”
“Apa?”
“Dia bilang selama hidupnya dia mengajarimu cara membangun perusahaan, menjaga nama keluarga, dan menghasilkan uang.”
Nadira menggenggam tanganku.
“Tapi dia khawatir lupa mengajarimu satu hal yang lebih penting.”
“Apa?”
Nadira menatap Alya dan Alina yang sedang berlari mengejar kupu-kupu di halaman.
“Cara mengetahui kapan sesuatu lebih berharga daripada semua yang sudah kamu bangun.”
Aku teringat pagi di bandara.
Aku seharusnya pergi ke Surabaya untuk menandatangani kesepakatan terbesar dalam karierku.
Aku membatalkannya.
Perusahaan lain akhirnya membeli hotel itu.
Setahun sebelumnya, kehilangan transaksi sebesar itu pasti akan membuatku tidak bisa tidur berminggu-minggu.
Sekarang?
Aku bahkan hampir lupa nama hotelnya.
Aku menatap kedua putriku.
Kemudian Nadira.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.
Kami membangunnya lagi.
Perlahan.
Tanpa janji besar.
Tanpa tekanan.
Satu makan malam.
Satu percakapan.
Satu perjalanan sekolah.
Satu ulang tahun.
Satu hari biasa setelah hari biasa lainnya.
Delapan belas bulan setelah bandara, aku membawa Nadira ke warung nasi goreng kecil yang dulu sering kami datangi ketika masih pacaran.
Tempatnya sudah berubah.
Pemiliknya sudah berganti.
Tapi Nadira masih memesan makanan yang sama.
Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Dia langsung menggeleng sambil tertawa.
“Arga.”
“Tenang. Aku belum bertanya apa-apa.”
“Bagus.”
Aku meletakkan kotak itu di meja.
“Enam tahun lalu aku berpikir cinta berarti memastikan seseorang punya semua yang dia butuhkan.”
Nadira menatapku.
“Sekarang aku tahu itu tidak cukup.”
Aku membuka kotaknya.
Ada cincin sederhana.
“Aku tidak mau mengembalikan hidup kita yang lama.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku mau membangun hidup yang baru. Kalau kamu mau.”
Dia tidak langsung menjawab.
Lima detik.
Sepuluh.
Lalu Nadira berkata,
“Kamu masih buruk mengepang rambut anak-anak.”
Aku tertawa.
“Itu bukan jawaban.”
“Kamu juga selalu lupa membawa botol minum Alina.”
“Nadira.”
Dia tersenyum.
“Ya.”
Kami menikah enam bulan kemudian.
Bukan di hotel mewah.
Bukan di ballroom milik keluarga Mahendra.
Kami menikah di sebuah taman kecil di Yogyakarta.
Alya dan Alina membawa bunga.
Ibuku duduk di barisan belakang.
Tidak ada media.
Tidak ada investor.
Tidak ada nama besar di papan.
Hanya orang-orang yang benar-benar kami inginkan di sana.
Sebelum acara dimulai, Alya menarik jas tanganku.
“Papa.”
“Ya?”
“Kenapa Papa menangis?”
Pertanyaan yang hampir sama seperti hari pertama kami bertemu.
Aku berjongkok.
Kali ini aku tahu jawabannya.
“Karena Papa pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.”
Alya terlihat bingung.
“Tapi sekarang sudah ketemu?”
Aku menatap Nadira.
Alina.
Kemudian putriku yang berdiri di depanku.
Aku tersenyum.
“Sudah.”
Dia memeluk leherku.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak memikirkan hotel.
Tidak memikirkan uang.
Tidak memikirkan nama Mahendra.
Aku hanya memikirkan satu keterlambatan penerbangan yang pernah membuatku marah.
Tiga puluh lima menit.
Hanya itu.
Tiga puluh lima menit yang kuanggap hampir menghancurkan kesepakatan terbesar dalam hidupku.
Ternyata keterlambatan itulah yang membawaku kepada dua anak yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.
Kepada perempuan yang tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Dan kepada sebuah kebenaran yang keluargaku kubur selama enam tahun.
Kadang-kadang aku masih menyimpan foto ayah bersama Alya dan Alina di meja kerjaku.
Di sebelahnya ada salinan surat terakhirnya.
Bukan untuk mengingat pengkhianatan.
Tapi untuk mengingat kalimat yang akhirnya kupahami.
Ayah memang mengajariku membangun kerajaan bisnis.
Namun dua anak perempuan kecil mengajariku sesuatu yang jauh lebih sulit.
Rumah bukanlah hotel yang kita miliki, perusahaan yang kita bangun, atau nama keluarga yang kita wariskan.
Rumah adalah orang-orang yang tetap ingin kita temukan—bahkan setelah enam tahun membuat kita percaya bahwa mereka telah pergi.
