SETELAH KEBENARAN TERUNGKAP, DIMAS MEMBUKA KEMBALI RUANG JAHIT IBUNYA DAN MENGAJARKANKU ARTI SEBUAH KELUARGA YANG SESUNGGUHNYA

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 307 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — SETELAH KEBENARAN TERUNGKAP, DIMAS MEMBUKA KEMBALI RUANG JAHIT IBUNYA DAN MENGAJARKANKU ARTI SEBUAH KELUARGA YANG SESUNGGUHNYA

Langkah Raka terdengar menaiki tangga.

Ketika dia muncul di pintu, tatapannya langsung jatuh pada laptop.

Lalu pada kartu memori.

Wajahnya berubah.

—Kalian menemukan itu?

Aku tidak perlu bertanya lagi.

Satu kalimat tersebut sudah cukup.

—Masuk.

Raka tidak bergerak.

—Ardi, dengarkan dulu—

—Masuk.

Dia akhirnya melangkah ke dalam.

Aku tidak memukulnya.

Tidak berteriak.

Anehnya, setelah mendengar pesan terakhir istriku, kemarahanku justru berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

—Delapan koma empat miliar.

Raka menunduk.

—Aku bisa jelaskan.

—Silakan.

Dia duduk.

Ternyata tiga tahun lalu bisnis yang dijalankannya mengalami kerugian besar.

Awalnya dia hanya mengambil sejumlah kecil dan berniat mengembalikannya dalam beberapa minggu.

Kemudian kerugiannya semakin besar.

Dia mengambil lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

—Aku panik.

—Jadi kamu mencuri dari perempuan yang sedang sakit?

Raka menangis.

—Aku tahu aku salah.

Ibuku mencoba mendekat.

—Ardi—

Aku mengangkat tangan.

—Biarkan dia bicara.

Raka mengaku bahwa selama tiga tahun terakhir dia sebenarnya telah mengembalikan sebagian uang melalui rekening lain.

Dia menjual dua aset miliknya dan menutup usahanya.

Namun jumlah yang dikembalikan bahkan belum mencapai setengah.

—Aku datang hari ini karena Ibu bilang Sari menemukan koper itu.

Aku menatap ibuku.

Jadi kedatangan Raka bukan kebetulan.

—Apa rencanamu? Mengambil kartu memorinya?

Raka menggeleng cepat.

—Tidak. Aku sudah lelah lari.

Dia mengeluarkan ponselnya.

Di sana terdapat catatan semua transaksi pengembalian.

—Aku siap bertanggung jawab.

Aku bisa saja melaporkannya saat itu juga.

Sebagian diriku bahkan ingin melakukannya.

Namun aku teringat kata-kata istriku.

Minta pertanggungjawaban.

Bukan membalas dendam.

Keesokan harinya, aku menemui pengacara dan auditor independen.

Semua transaksi diperiksa.

Raka menandatangani pengakuan kewajiban dan menyerahkan aset yang masih dimilikinya untuk mengganti kerugian.

Aku juga mencabut seluruh aksesnya terhadap bisnis keluarga.

Untuk pertama kalinya, aku berhenti membiarkan hubungan darah menjadi alasan untuk mengabaikan batas.

Ibuku meminta maaf.

Bukan hanya kepadaku.

Dia meminta maaf kepada Dimas dan Sari.

—Saya terlalu sibuk menjaga nama keluarga sampai lupa bahwa kebohongan justru merusaknya dari dalam.

Sari tidak langsung memaafkannya.

Dan aku tidak memaksanya.

Beberapa luka memang tidak sembuh hanya karena seseorang mengucapkan kata maaf.

Tetapi sesuatu mulai berubah.

Terutama pada Dimas.

Kamar jahit tidak pernah dikunci lagi.

Setiap pulang sekolah, dia masuk ke sana.

Kadang menjahit.

Kadang menggambar.

Kadang hanya duduk di kursi rotan milik ibunya sambil membaca buku.

Suatu sore dia memanggilku.

—Ayah.

Aku sedang menjawab pesan pekerjaan.

—Sebentar.

Dia terdiam.

Aku melihat layar ponsel.

Lalu teringat video istriku.

Aku mematikannya.

—Tidak. Ayah sekarang punya waktu.

Dimas tersenyum.

Dia menunjukkan mesin jahit.

—Bantu aku.

—Ayah bahkan tidak tahu cara memasukkan benang.

—Aku ajari.

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa anehnya kehidupan.

Aku mampu memimpin dua ratus orang.

Mampu membaca laporan keuangan puluhan halaman.

Mampu bernegosiasi untuk kontrak miliaran rupiah.

Tetapi anak berusia sepuluh tahun harus mengajariku memasukkan benang ke lubang jarum.

Kami menghabiskan hampir satu jam untuk membuat sebuah tas kain kecil.

Hasilnya buruk.

Jahitannya miring.

Pegangannya tidak sama panjang.

Namun Dimas membawanya ke sekolah keesokan harinya.

Aku belum pernah merasa sebangga itu.

Beberapa bulan kemudian, audit menemukan sesuatu yang tidak kami duga.

Usaha jahit peninggalan istriku ternyata masih memiliki hak atas beberapa kontrak lama.

Sari selama bertahun-tahun diam-diam membantu para pekerja mempertahankan usaha itu dalam skala kecil.

Aku memutuskan tidak mengambil alih.

Sebaliknya, kami membentuk yayasan kecil menggunakan nama yang pernah dipilih istriku.

Tempat itu menyediakan pelatihan menjahit gratis bagi ibu tunggal dan perempuan yang ingin kembali bekerja setelah lama mengurus keluarga.

Sari menjadi pengelolanya.

Aku menyediakan modal dan sistem bisnis.

Tetapi ada satu aturan yang kutetapkan.

Tidak ada satu pun keputusan besar yang boleh dibuat tanpa mendengarkan orang-orang yang benar-benar bekerja di sana.

Aku akhirnya belajar.

Uang memang membantu.

Namun uang bukan jawaban untuk semuanya.

Setahun kemudian, tepat pada ulang tahun Dimas yang kesebelas, kami berkumpul di ruang jahit.

Sari mengeluarkan baju berikutnya dari koper.

Dimas mengenakannya.

Sedikit terlalu besar.

Dia berdiri di depan cermin dan tertawa.

—Ibu salah ukuran.

Aku ikut tertawa.

—Mungkin Ibumu sengaja.

—Kenapa?

—Supaya kamu punya ruang untuk tumbuh.

Dimas terdiam sebentar.

Kemudian tersenyum.

Hari itu dia menyelesaikan selimut yang dulu kulihat ketika pulang lebih awal.

Selama ini aku tidak pernah tahu untuk siapa selimut tersebut dibuat.

Ternyata untukku.

Dia menyerahkannya menjelang malam.

—Ini buat Ayah.

Aku terdiam.

—Kenapa buat Ayah?

Dimas menunjuk setiap potongan kain.

Sebagian berasal dari sisa kain baju buatan ibunya.

Sebagian dari pakaian lama Dimas.

Dan beberapa berasal dari kemejaku yang sudah tidak terpakai.

—Bu Sari bilang keluarga itu seperti selimut. Potongannya beda-beda, tapi kalau disatukan bisa membuat seseorang merasa hangat.

Aku menatap Sari.

Dia tersenyum.

Aku memeluk Dimas.

—Ayah suka sekali.

—Walaupun jahitannya jelek?

—Justru karena jahitannya jelek.

Dia tertawa.

Dan kali ini aku ikut tertawa bersamanya.

Hubunganku dengan ibuku tidak langsung kembali seperti dahulu.

Mungkin memang tidak seharusnya.

Kepercayaan perlu dibangun ulang.

Dia mulai datang seminggu sekali, bukan untuk mengatur rumah, tetapi menemani cucunya.

Kadang mereka memasak bersama.

Kadang Dimas mengajarinya menjahit.

Sedangkan Raka harus menjalani konsekuensi dari perbuatannya.

Dia menjual rumah besarnya dan pindah ke tempat yang jauh lebih sederhana.

Dia bekerja untuk melunasi sisa kewajibannya.

Aku tidak menghapus kesalahannya.

Namun aku juga tidak melarang Dimas mengenal pamannya.

Aku hanya menetapkan satu syarat.

Tidak ada lagi kebohongan.

Dua tahun kemudian, sebagian besar uang berhasil dikembalikan.

Tetapi pada saat itu, angka tersebut tidak lagi menjadi hal terpenting bagiku.

Suatu malam, aku pulang dari kantor sebelum matahari terbenam.

Dulu hal seperti itu hampir tidak pernah terjadi.

Aku membuka pintu.

Terdengar suara mesin jahit dari lantai dua.

Tak… tak… tak…

Aku menaiki tangga.

Dimas duduk di depan mesin jahit.

Sari sedang memotong kain di meja.

Ibuku duduk di kursi rotan sambil memasukkan benang ke jarum.

Mereka berdebat soal warna kain.

Ketika melihatku, Dimas melambaikan tangan.

—Ayah! Cepat sini!

Aku berdiri di ambang pintu.

Tiba-tiba aku teringat sore beberapa tahun sebelumnya.

Saat aku pulang lebih cepat dan marah karena seseorang berani membuka kamar yang telah kukunci.

Saat itu aku mengira pintu tersebut menjaga kenangan istriku.

Sekarang aku mengerti.

Aku bukan sedang menjaga kenangan.

Aku sedang mengurungnya.

Aku masuk dan meletakkan tas kerja.

Ponselku bergetar.

Ada pesan tentang rapat penting.

Aku melihatnya sebentar.

Lalu mematikan layar.

—Ayah harus kerja? —tanya Dimas.

Aku menggeleng.

—Tidak malam ini.

Aku duduk di sampingnya.

Di dinding, kami memasang satu foto istriku.

Bukan foto saat dia sakit.

Bukan foto dari rumah sakit.

Melainkan foto ketika dia masih muda, duduk di depan mesin jahit sambil tertawa.

Di bawahnya ada tulisan kecil yang dibuat Dimas sendiri:

“Rumah bukan tempat kita menyembunyikan kesedihan. Rumah adalah tempat kita belajar hidup bersamanya.”

Aku tidak tahu apakah istriku akan menyukai semua keputusan yang kubuat setelah kepergiannya.

Aku juga tidak tahu apakah aku sudah menjadi ayah seperti yang dia harapkan.

Tetapi sekarang aku tahu satu hal.

Anakku tertawa lagi.

Bukan karena kami berhasil melupakan ibunya.

Melainkan karena akhirnya kami berhenti memaksanya untuk melupakan.

Aku memandang Dimas yang sedang berusaha memasukkan benang ke jarum.

Dia gagal dua kali.

Pada percobaan ketiga, dia berhasil.

—Ayah lihat?

—Ayah lihat.

Dimas tersenyum.

Dan di ruangan yang pernah kukunci selama tiga tahun itu, suara mesin jahit kembali terdengar.

Tak… tak… tak…

Kali ini aku tidak meminta siapa pun menghentikannya.

Karena akhirnya aku mengerti bahwa beberapa pintu memang harus ditutup untuk melindungi sesuatu.

Tetapi ada juga pintu yang harus dibuka agar sebuah keluarga bisa mulai hidup kembali.