KEBOHONGAN TUJUH TAHUN AKHIRNYA TERBONGKAR, SAAT ARDI MENGETAHUI SIAPA YANG MEMISAHKANNYA DARI ISTRI DAN ANAKNYA

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 95 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — KEBOHONGAN TUJUH TAHUN AKHIRNYA TERBONGKAR, SAAT ARDI MENGETAHUI SIAPA YANG MEMISAHKANNYA DARI ISTRI DAN ANAKNYA

—ARDI, JANGAN PERCAYA PADANYA!

Teriakan ibu mertua memecah keheningan aula.

Semua tamu menoleh.

Ardi berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Tatapannya berpindah dari ibunya kepadaku, lalu kembali kepada Raka.

Aku sendiri bahkan tidak mampu bergerak.

Selama tujuh tahun aku membayangkan hari ketika Ardi pulang.

Dalam bayanganku, aku akan berlari memeluknya.

Aku akan menangis.

Aku akan mengatakan betapa kerasnya aku mencarinya.

Namun sekarang, ketika dia benar-benar berdiri beberapa meter dariku, kakiku justru terasa membeku.

Ardi mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan mendekat.

—Apa maksud Ibu?

Ibunya buru-buru berdiri di depannya.

—Perempuan itu berbohong kepadamu. Dulu dia meninggalkan keluarga kita. Ibu melihatnya sendiri!

—Cukup!

Suara Ardi menggema di seluruh aula.

Ibunya terdiam.

Ardi menatapku.

—Jawab satu hal saja. Setelah kebakaran itu, apakah kamu mengambil uang kompensasi lalu pergi bersama laki-laki lain?

Air mataku akhirnya jatuh.

Aku menggeleng.

—Aku bahkan tidak pernah menerima uang kompensasi.

Aku menunjuk ibu dan adiknya.

—Empat hari setelah kamu menghilang, mereka mengeluarkan koperku dan mengusirku saat aku sedang hamil delapan bulan.

Ardi membeku.

—Mengusirmu?

—Aku melahirkan Raka delapan belas hari kemudian. Selama tujuh tahun aku berjualan nasi uduk untuk membesarkannya. Kalau aku benar-benar pergi bersama laki-laki kaya seperti yang mereka katakan, menurutmu untuk apa aku bangun pukul tiga pagi setiap hari dan mendorong gerobak ke pasar?

Suasana aula berubah.

Beberapa tamu mulai berbisik.

Adik Ardi tiba-tiba berkata:

—Jangan percaya! Dia bisa mengarang semuanya!

Aku menoleh kepadanya.

—Kalau begitu, jawab pertanyaanku. Kenapa tujuh tahun lalu kamu begitu yakin kakakmu tidak akan kembali?

Dia tidak menjawab.

Ardi memandang adiknya.

—Jawab.

—Aku… cuma emosi.

—Lalu kenapa jam tanganku ada padamu?

Pertanyaan itu membuat wajahnya seketika kehilangan warna.

Ardi mengulurkan tangan.

—Berikan.

Dengan gemetar, adiknya menyerahkan jam tangan tua itu.

Ardi membaliknya dan menyentuh goresan panjang di bagian belakang.

—Goresan ini terjadi setelah kebakaran.

Aku menatapnya.

Ardi menarik napas panjang.

—Malam kebakaran, aku berhasil keluar lewat pintu belakang gudang. Sebuah balok jatuh dan mengenai kaki serta kepalaku. Aku ditemukan sopir truk dan dibawa ke klinik kecil di luar kota.

Dia berhenti sebentar.

—Aku kehilangan sebagian ingatan selama beberapa minggu. Ketika ingatanku mulai kembali, aku hanya ingat rumah dan namamu.

Dadaku terasa sesak.

—Lalu kamu pulang?

Ardi mengangguk.

—Sekitar dua bulan kemudian.

Aku menutup mulut.

Dua bulan.

Hanya dua bulan setelah aku diusir, suamiku ternyata pernah kembali.

—Aku datang malam hari. Kakiku belum pulih. Ibu dan adikku yang membukakan pintu.

Ardi menatap ibunya.

—Mereka bilang kamu sudah menerima uang kompensasi dari perusahaan. Mereka bilang kamu tidak mau merawat suami cacat, lalu meninggalkan bayi kita kepada kerabat dan pergi bersama pria lain.

—Tidak!

Aku hampir berteriak.

—Raka tidak pernah meninggalkanku satu hari pun!

Ardi menutup mata.

Wajahnya dipenuhi rasa sakit.

—Aku tahu sekarang.

Raka yang sejak tadi bersembunyi di belakangku tiba-tiba menggenggam bajuku semakin erat.

Ardi melihat gerakan itu.

Matanya langsung memerah.

Dia berlutut perlahan meskipun kaki kirinya tampak kesakitan.

—Namamu Raka?

Anakku mengangguk kecil.

—Umurmu tujuh tahun?

Raka kembali mengangguk.

Ardi menelan ludah.

—Boleh aku melihatmu lebih dekat?

Raka menatapku.

Aku mengusap rambutnya.

—Tidak apa-apa.

Raka maju satu langkah.

Ardi memandang wajahnya lama sekali, seakan sedang mencari tujuh tahun kehidupannya yang hilang di wajah anak itu.

Lalu Raka bertanya polos:

—Benarkah Om ayahku?

Bibir Ardi bergetar.

—Kalau ibumu mengizinkan… iya.

Air matanya jatuh.

—Aku ayahmu.

Raka tidak langsung memeluknya.

Dia justru bertanya:

—Kalau Ayah masih hidup, kenapa Ayah tidak pernah mencariku?

Pertanyaan itu membuat seluruh aula kembali sunyi.

Ardi menundukkan kepala.

—Karena Ayah bodoh. Ayah percaya pada perkataan orang tanpa mencari kebenarannya sendiri.

Kemudian dia menatapku.

—Aku minta maaf.

Aku menggeleng pelan.

—Maaf tidak bisa mengembalikan tujuh tahun.

—Aku tahu.

Ardi tidak membela diri.

—Karena itu aku tidak akan meminta kamu memaafkanku hari ini.

Tiba-tiba pria paruh baya yang membawa foto Ardi maju.

—Ada satu hal lagi yang sebaiknya kalian ketahui.

Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

Adik Ardi langsung panik.

—Jangan!

Semua orang menoleh.

Pria itu mengernyit.

—Kenapa tidak?

Ardi mengambil amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama dari perusahaan tempatnya bekerja.

Wajahnya berubah saat membaca salah satu halaman.

—Uang kompensasi… seratus delapan puluh juta rupiah?

Aku tercengang.

Aku tidak pernah tahu jumlah itu.

Pria paruh baya menjelaskan:

—Setelah kebakaran, perusahaan memberikan kompensasi awal karena Ardi dinyatakan hilang dalam kecelakaan kerja. Dana ditransfer kepada anggota keluarga yang mengurus administrasi.

Ardi membaca nama penerimanya.

Tangannya mulai gemetar.

Nama itu adalah nama ibunya.

Aku menatap perempuan tua tersebut.

—Jadi uang itu benar-benar ada?

Dia mundur selangkah.

—Ibu… Ibu hanya menyimpannya.

Ardi tertawa getir.

—Menyimpan?

Dia menatap dekorasi pesta yang mewah, lalu menatap adiknya.

—Atau uang itu dipakai untuk membuka toko dan membayar uang muka rumah adik?

Adiknya langsung menangis.

—Kak, waktu itu aku juga tidak tahu harus bagaimana…

—Kalian tahu!

Suara Ardi meninggi.

—Kalian tahu istriku sedang hamil. Kalian tahu aku masih hidup ketika aku pulang. Tapi kalian bilang dia pergi membawa uang yang sebenarnya kalian ambil!

Ibunya mulai menangis.

—Ibu takut!

—Takut apa?

Perempuan itu menutup wajah.

—Takut kamu kembali kepadanya! Kalau kamu tahu dia masih menunggumu, kamu pasti pergi lagi bersamanya. Setelah ayahmu meninggal, hanya kamu yang selalu mengirim uang untuk keluarga. Ibu takut kehilanganmu.

Aku tidak percaya apa yang kudengar.

Tujuh tahun kehidupan kami dihancurkan hanya karena ketakutan dan keserakahan.

Ardi terdiam lama.

Lalu dia berkata:

—Jadi karena takut kehilangan anak laki-laki, Ibu membuat anak laki-laki saya tumbuh tanpa ayah?

Ibunya tidak mampu menjawab.

Pengantin pria tiba-tiba memandang istrinya.

—Kamu tahu semua ini?

Adik Ardi menangis semakin keras.

—Aku hanya mengikuti Ibu.

—Jawab.

Dia akhirnya mengangguk.

Wajah pengantin pria berubah.

Para tamu mulai berbisik semakin keras.

Aku tidak ingin melihat lebih banyak kekacauan.

Aku menggenggam tangan Raka.

—Kita pulang.

Namun baru beberapa langkah, Ardi memanggilku.

—Tunggu.

Aku berhenti.

Dia tidak mencoba menyentuhku.

Dia hanya berdiri beberapa meter di belakang kami.

—Aku tidak akan memintamu kembali kepadaku.

Aku menoleh.

Ardi melanjutkan:

—Tapi beri aku kesempatan menjadi ayah bagi Raka. Bukan karena darah. Bukan karena rasa bersalah. Biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa hadir untuknya.

Aku memandang anakku.

Raka justru sedang menatap Ardi.

Lama sekali.

Kemudian dia bertanya:

—Ayah akan menghilang lagi?

Ardi menggigit bibirnya.

—Tidak.

—Janji?

—Ayah tidak mau menjanjikan sesuatu hanya dengan kata-kata.

Ardi menyeka air matanya.

—Mulai sekarang, Ayah akan membuktikannya setiap hari.

Aku tidak mengatakan iya.

Aku juga tidak mengatakan tidak.

Aku hanya menggenggam tangan Raka dan berjalan keluar.

Namun sebelum pintu tertutup, aku mendengar Ardi berkata kepada ibunya:

—Mulai hari ini, jangan pernah lagi menggunakan nama keluarga untuk membenarkan apa yang kalian lakukan.

Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku sadar satu hal.

Mungkin kisah kami belum benar-benar berakhir.

Mungkin justru baru dimulai kembali.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)