Datang untuk Wawancara di Perusahaan Bernilai Puluhan Triliun Rupiah, Sang Komisaris Utama Menatapku Lama Lalu Berkata, “Sudah 20 Tahun Tak Bertemu, Sampai Istrimu Sendiri Pun Kau Tak Mengenalinya?”
Terik menjelang siang di Jakarta memantul dari aspal Jalan Sudirman, membuat udara di depan gedung-gedung pencakar langit seolah bergetar.
Aku berdiri di bawah bayangan sebuah pohon di tepi jalan, mendongak menatap gedung kaca menjulang tinggi di hadapanku.
Di bagian depan gedung, terpampang tulisan berwarna perak yang berkilau dingin:
PT ARUNIKA KONSTRUKSI NUSANTARA TBK
Salah satu grup konstruksi besar di Indonesia, perusahaan bernilai puluhan triliun rupiah yang mengerjakan berbagai proyek dari Jakarta, Surabaya, hingga Makassar.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tanganku yang kasar dan penuh kapalan.
Namaku Budi Santoso.
Tahun ini usiaku lima puluh dua tahun.

Selama dua puluh tahun terakhir, kedua tangan ini telah mengaduk beton, mengikat besi tulangan, memasang bekisting, memasang keramik, dan memperbaiki berbagai bangunan yang mungkin bahkan tak akan pernah sanggup kumasuki jika harus membayarnya sendiri.
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengenakan kemeja putih dan datang ke sebuah gedung perkantoran untuk melamar pekerjaan.
Posisi yang kulamar adalah pengawas lapangan.
Berkas lamaran milikku jauh lebih tipis dibandingkan milik semua kandidat yang lalu-lalang melewati pintu kaca di depanku.
Aku tidak memiliki gelar teknik dari Institut Teknologi Bandung, tidak punya sertifikat dari luar negeri, dan juga tidak pernah bekerja di perusahaan besar ternama.
Satu-satunya yang kumiliki adalah pengalaman selama tiga puluh tahun di dunia konstruksi.
Dan sebuah rantang enamel berwarna hijau yang sudah tua di dalam tas kainku.
Rantang itu dibelikan istriku ketika kami masih begitu miskin hingga makan nasi dengan telur saja sudah dianggap sebuah kemewahan.
Aku masih membawanya selama dua puluh tahun ini.
Meskipun perempuan yang memberikannya mungkin sudah lama membenciku.
Aku melangkah masuk ke lobi.
Udara dingin dari pendingin ruangan membuat bulu kudukku berdiri.
Lantai batu mengilap begitu bersih hingga aku bisa melihat bayanganku sendiri: seorang pria berkulit gelap terbakar matahari, rambut mulai dipenuhi uban, dan sepatu kulit tua yang sudah kupoles sebaik mungkin sejak malam sebelumnya.
Petugas resepsionis melihat berkas lamaranku lalu berkata dengan sopan,
“Pak Budi, ruang wawancaranya ada di lantai delapan belas.”
Aku mengucapkan terima kasih lalu masuk ke lift.
Di ruang tunggu sudah ada empat orang pelamar lain.
Salah seorang sedang melihat gambar teknik di tablet.
Seorang lainnya berbicara melalui telepon dalam bahasa Inggris.
Sementara pelamar yang lain mengenakan setelan jas yang mungkin harganya lebih mahal daripada biaya sewa kamar kontrakanku selama enam bulan.
Aku duduk diam di salah satu sudut.
Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang staf HR memanggil namaku.
“Pak Budi Santoso?”
Aku segera berdiri.
“Ya.”
Ruang wawancara itu luas dan terasa dingin.
Tiga orang duduk di seberang meja.
Seorang direktur sumber daya manusia, seorang direktur teknik, dan seorang kepala divisi manajemen proyek.
Mereka membaca berkas lamaranku cukup lama.
Pria yang duduk di tengah kemudian bertanya,
“Pak Budi tidak memiliki gelar sarjana teknik?”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak, Pak.”
“Lalu apa yang membuat Bapak yakin mampu mengawasi proyek kami yang nilainya lebih dari dua triliun rupiah?”
Aku menarik napas panjang.
Pertanyaan itu sudah kuduga sejak awal.
Aku menatap ketiga orang di hadapanku, lalu menjawab setenang mungkin.
“Saya mungkin tidak bisa menjelaskan struktur beton dengan istilah akademis sebaik insinyur muda, Pak. Tetapi saya sudah tiga puluh tahun hidup di antara besi, semen, pasir, bekisting, dan pekerja lapangan.”
Aku mengangkat kedua tanganku yang penuh kapalan.
“Saya bisa melihat campuran beton yang salah sebelum hasil laboratorium keluar. Saya tahu suara besi yang kualitasnya buruk ketika diketuk. Saya juga tahu kapan seorang pekerja sudah terlalu lelah untuk naik ke lantai dua puluh meskipun dia masih bilang sanggup.”
Direktur teknik yang duduk di sebelah kiri berhenti membolak-balik berkas.
Dia menatapku lebih serius.
Aku melanjutkan.
“Bangunan tidak hanya berdiri karena gambar. Bangunan berdiri karena setiap orang di lapangan melakukan pekerjaannya dengan benar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pria di tengah bersandar pada kursinya.
“Satu hal lagi, Pak Budi. Untuk posisi ini, penilaian terakhir akan dilakukan langsung oleh Komisaris Utama.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku pernah membaca tentang perempuan yang memimpin Arunika Konstruksi Nusantara.
Orang-orang menyebutnya perempuan besi.
Dia dikenal tegas, jarang tersenyum, dan tidak segan memutus kontrak bernilai ratusan miliar rupiah jika menemukan pelanggaran kualitas.
Suara langkah sepatu terdengar dari koridor.
Pintu terbuka.
Ketiga pewawancara langsung berdiri.
Aku ikut berdiri.
Seorang perempuan memasuki ruangan.
Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun. Rambutnya disanggul rapi. Setelan abu-abu yang dikenakannya sederhana tetapi berwibawa.
Dia membawa sebuah tablet.
Awalnya dia tidak melihatku.
Dia duduk di kursi tengah, membuka berkas, lalu bertanya kepada direktur HR,
“Ini kandidat terakhir?”
“Betul, Bu Ratih.”
Nama itu membuat dadaku terasa aneh.
Ratih.
Nama yang selama dua puluh tahun berusaha kutanam jauh di dalam ingatan tetapi tidak pernah benar-benar bisa kulupakan.
Perempuan itu mengangkat kepala.
Mata kami bertemu.
Tablet di tangannya terlepas.
Benda itu jatuh ke meja dengan suara keras.
Aku merasa seluruh ruangan tiba-tiba mengecil.
Wajahnya telah berubah.
Ada garis usia di sekitar matanya.
Ada ketegasan yang dulu tidak pernah kulihat.
Tetapi mata itu tetap sama.
Mata perempuan yang dulu menungguku pulang di depan sebuah rumah kecil dekat tambak di Demak.
Bibirku bergerak.
“Ratih…”
Ketiga direktur menoleh kepadaku.
Ratih berdiri perlahan.
Wajahnya pucat.
Dia berjalan mengitari meja tanpa memedulikan orang-orang di ruangan.
Ketika berdiri tepat di depanku, matanya sudah penuh air.
“Budi?”
Aku tidak sanggup menjawab.
Ratih menatapku dari kepala sampai kaki.
Kemudian dia berkata dengan suara bergetar,
“Dua puluh tahun tidak bertemu… sampai istrimu sendiri pun kau tidak mengenalinya?”
Dadaku seperti dihantam palu.
Aku menunduk.
“Ratih… aku mengenalimu.”
“Kalau begitu kenapa kau berdiri seperti orang asing?”
Tidak ada seorang pun berani bergerak.
Ratih berbalik kepada para direktur.
“Tolong keluar.”
“Bu?”
“Semua jadwal saya pagi ini dibatalkan.”
Mereka segera mengumpulkan berkas lalu meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Ratih menatapku lagi.
Tangannya tiba-tiba menghantam dadaku.
Sekali.
Dua kali.
Tidak terlalu keras.
“Kenapa?”
Aku diam.
“Kenapa kau pergi?”
Pukulannya melemah.
“Kenapa kau meninggalkanku saat aku sedang mengandung anakmu?”
Air matanya jatuh.
“Dua puluh tahun, Budi.”
Aku membiarkannya memukulku.
Aku pantas menerimanya.
“Aku minta maaf.”
“Jangan cuma bilang maaf!”
Ratih menangis semakin keras.
“Aku menunggumu setiap malam selama bertahun-tahun!”
Aku membuka tas kain yang kubawa.
Dengan tangan gemetar, kukeluarkan rantang enamel hijau yang catnya sudah terkelupas.
Ratih terdiam.
Matanya jatuh pada rantang itu.
“Ini…”
“Masih kusimpan.”
Tangannya menutup mulut.
“Selama dua puluh tahun?”
Aku mengangguk.
“Setiap hari.”
Ratih terduduk.
Aku pun mulai menceritakan semuanya.
Tentang proyek di Semarang.
Tentang Darman Prasetyo.
Tentang besi murah dan semen yang dicampur bahan berkualitas rendah.
Tentang runtuhnya perancah yang mencederai banyak pekerja.
Tentang malam ketika empat orang memukuliku di barak.
Tentang Darman yang meletakkan seratus lima puluh juta rupiah di hadapanku dan memaksaku mengaku sebagai penyebab kecelakaan.
Aku mengatakan bahwa aku menolak.
Lalu Darman menyebut namanya.
Ratih.
Dia tahu Ratih sedang hamil.
Dia tahu rumah kami.
Dia tahu tempat Ratih biasa berbelanja.
“Aku tidak takut dipenjara,” kataku.
“Tapi ketika dia mengancam akan menyakitimu dan bayi kita, aku kehilangan akal.”
Ratih menatapku tanpa berkedip.
“Aku pergi malam itu. Aku memberikan uang dan surat kepada Wawan. Aku memintanya mengantarkannya kepadamu.”
Wajah Ratih berubah.
“Surat apa?”
Aku membeku.
“Surat yang menjelaskan semuanya.”
“Aku tidak pernah menerima surat.”
Napas terasa berhenti di tenggorokan.
“Uangnya?”
Ratih menggeleng.
“Tidak ada.”
Aku menutup mata.
Jadi selama dua puluh tahun, aku hidup dengan keyakinan bahwa Ratih mengetahui alasan kepergianku.
Sedangkan Ratih hidup dengan keyakinan bahwa aku mengambil uang lalu meninggalkannya.
Ratih mulai menangis lagi.
“Aku mengira kau malu punya istri miskin.”
“Tidak pernah.”
“Aku mengira kau bertemu perempuan lain.”
“Tidak.”
“Lalu kenapa tidak pernah pulang setelah bertahun-tahun?”
Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang bisa membebaskanku.
“Aku takut.”
Aku menunduk.
“Pada awalnya aku takut Darman masih mengawasimu. Setelah bertahun-tahun berlalu, aku mulai malu. Aku merasa aku sudah terlalu lama menghilang. Aku berpikir mungkin kau sudah membangun kehidupan baru.”
“Kau seharusnya datang dan bertanya kepadaku.”
“Aku tahu.”
“Jangan membuat keputusan untuk hidupku seorang diri, Budi.”
Aku mengangguk.
“Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Ratih diam lama.
Kemudian dia mulai menceritakan kehidupannya.
Tiga bulan setelah aku pergi, dia melahirkan seorang anak perempuan.
Namanya Kirana.
“Kenapa Kirana?” tanyaku.
Ratih tersenyum tipis.
“Karena dulu kau berjanji akan membawaku melihat matahari terbit di Bromo.”
Aku teringat malam di Demak ketika kami duduk di depan rumah kecil sambil minum teh.
Ratih menunjukkan gambar Bromo dari kalender.
Dia ingin melihat matahari terbit sekali saja.
Aku berjanji akan membawanya jika kami punya uang.
“Kirana berarti cahaya,” kata Ratih.
“Setidaknya aku masih ingin menyimpan sedikit cahaya dari janji itu.”
Aku tidak sanggup menahan air mata.
Ratih membesarkan Kirana sendirian.
Awalnya dia menjual sayuran dan ikan asin.
Kemudian dia menjadi perantara bahan bangunan.
Dia mulai memahami harga semen, pasir, batu, dan besi.
Beberapa tahun kemudian dia meminjam modal untuk membuka toko material kecil.
Toko itu berkembang menjadi perusahaan kontraktor.
Lalu menjadi Arunika.
Aku menatap perempuan di hadapanku dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bangga.
Sedih.
Dan malu.
“Di mana Kirana sekarang?”
“Dia bekerja di salah satu proyek perusahaan.”
“Boleh aku bertemu dengannya?”
Ratih menatapku.
“Boleh.”
Kemudian dia menambahkan,
“Tapi jangan berharap dia langsung memanggilmu Ayah.”
Aku mengangguk.
“Aku tidak punya hak meminta itu.”
Ratih ingin membawaku pulang hari itu.
Aku menolak.
“Aku datang untuk melamar pekerjaan.”
“Kau suamiku.”
“Itu tidak membuatku otomatis pantas bekerja di perusahaanmu.”
Ratih tersenyum untuk pertama kalinya.
“Masih keras kepala.”
“Aku ingin diterima atau ditolak berdasarkan kemampuanku.”
Tiga hari kemudian, aku menerima telepon dari HR.
Aku diterima sebagai pengawas lapangan proyek apartemen di Bekasi.
Hari pertama, aku datang sebelum pukul tujuh pagi.
Aku memakai rompi keselamatan dan helm putih.
Di antara suara mesin, debu beton, dan pekerja yang berteriak memberi aba-aba, aku merasa kembali menjadi diriku sendiri.
Menjelang siang, sebuah SUV hitam memasuki lokasi proyek.
Seorang perempuan muda turun.
Usianya sekitar dua puluh tahun lebih.
Rambutnya diikat sederhana. Dia memakai kemeja putih, celana kerja, dan helm kuning.
Begitu melihat wajahnya, lututku hampir kehilangan tenaga.
Mata Ratih.
Tetapi bentuk dagunya milikku.
Manajer proyek memperkenalkan,
“Pak Budi, ini Kirana Wulandari. Dia dari tim pengendalian proyek kantor pusat.”
Kirana mengulurkan tangan.
“Selamat datang, Pak Budi.”
Aku menyambut tangannya.
Jari-jariku gemetar.
Kirana memperhatikannya.
“Bapak tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku segera melepaskan tangannya.
Anakku berdiri di depanku.
Anak yang tak pernah kugendong.
Tak pernah kuantar sekolah.
Tak pernah kutemani saat sakit.
Namun aku tidak boleh merampas haknya untuk mengenalku secara perlahan.
Beberapa hari kemudian, Ratih mengundangku makan malam.
Kirana pulang sekitar pukul tujuh.
Ketika melihatku duduk di ruang makan, ekspresinya langsung berubah.
“Mama?”
“Pak Budi teman lama Mama.”
Kirana menatap kami bergantian.
Sepanjang makan malam, dia memperhatikan bagaimana Ratih menyendokkan sayur untukku, bagaimana aku hafal Ratih tidak suka sambal terlalu pedas, dan bagaimana Ratih tanpa sadar memanggilku hanya dengan nama.
Akhirnya Kirana bertanya,
“Pak Budi berasal dari mana?”
“Demak.”
Dia diam.
“Mama juga dari Demak.”
Aku mengangguk.
“Sudah berapa lama Bapak mengenal Mama?”
Tanganku berhenti.
Ratih mencoba menjawab, tetapi Kirana menatap ibunya.
“Mama, sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?”
Aku tidak ingin Ratih dipaksa membuka semuanya malam itu.
Aku berdiri.
“Kirana, maaf. Saya seharusnya tidak datang mendadak.”
Aku hendak pergi, tetapi Ratih menahanku karena malam sudah larut.
Aku tidur di sofa.
Sekitar pukul satu dini hari, pintu kamar Kirana terbuka.
Dia keluar membawa sebuah foto tua.
Itu foto pernikahan kami.
Kirana berdiri di bawah lampu ruang tamu dan memandangku.
Lalu memandang foto.
Tatapannya berhenti pada bekas luka kecil di alis kiriku.
Tangannya mulai gemetar.
“Pak Budi.”
Aku bangun.
“Ya?”
Dia menunjukkan foto.
“Pria ini siapa?”
Aku tidak menjawab.
Kirana menoleh kepada Ratih yang baru keluar dari kamar.
“Mama?”
Ratih mulai menangis.
Kirana kembali menatapku.
“Jangan bilang…”
Aku mengambil napas.
“Aku ayahmu.”
Tamparan mendarat di pipiku.
Ratih terkejut.
“Kirana!”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan marahi dia.”
Kirana menangis.
“Jangan panggil dirimu ayah!”
Aku mengangguk.
“Baik.”
“Di mana kau selama dua puluh tahun?”
Aku menceritakan semuanya.
Tidak kubuat diriku menjadi pahlawan.
Aku mengatakan bahwa aku pernah diancam.
Aku juga mengatakan aku memilih lari.
Aku mengakui bahwa setelah ancaman itu seharusnya sudah berlalu, aku tetap tidak pulang karena takut dan malu.
“Aku punya alasan meninggalkan rumah malam itu,” kataku.
“Tapi aku tidak punya alasan yang cukup baik untuk kehilangan dua puluh tahun kehidupanmu.”
Kirana berdiri sambil menangis.
“Apakah kau pernah memikirkanku?”
Aku mengambil rantang hijau dari tas.
Pada bagian bawahnya ada satu kata yang kugores kasar bertahun-tahun lalu.
Kirana.
“Aku tahu namamu dari sebuah artikel tentang ibumu beberapa tahun lalu.”
Kirana menyentuh tulisan itu.
“Kenapa tidak datang saat itu?”
“Karena aku pengecut.”
Jawaban itu membuatnya terdiam.
Aku tidak meminta maaf berkali-kali.
Aku hanya mengatakan,
“Kau tidak harus memaafkanku malam ini. Bahkan jika kau membutuhkan bertahun-tahun, aku akan menunggu.”
Kirana memalingkan wajah.
Beberapa menit kemudian dia berjalan mendekat.
Dia tidak memanggilku Ayah.
Dia hanya menyandarkan kepalanya di dadaku.
Aku memeluknya perlahan.
Ratih bergabung memeluk kami.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, keluarga kami berada di bawah satu atap.
Namun kehidupan belum selesai menguji kami.
Dua minggu setelah aku mulai bekerja, aku memeriksa material untuk pengecoran salah satu menara.
Sebuah batang besi terasa lebih ringan dari spesifikasi.
Aku meminta dokumen pemasok.
Ketika membaca nama perusahaan, tubuhku membeku.
PT Darman Jaya Material.
Direktur Utama: Darman Prasetyo.
Aku hampir tidak percaya.
Pria yang menghancurkan hidupku sekarang menjadi pemasok proyek milik Ratih.
Aku tidak bertindak gegabah.
Aku mengambil sampel material sesuai prosedur.
Sampel dikirim ke laboratorium independen.
Aku juga meminta tim audit menelusuri dokumen pengadaan.
Hasilnya mengejutkan.
Beberapa material memang tidak memenuhi spesifikasi kontrak.
Ada perbedaan antara barang yang tercatat di dokumen dan barang yang dikirim.
Aku membawa bukti itu kepada Ratih.
Begitu membaca nama Darman, wajahnya menegang.
“Kita serahkan semuanya kepada hukum,” katanya.
Aku setuju.
Aku tidak ingin balas dendam.
Aku hanya ingin kebenaran.
Kontrak Darman ditangguhkan.
Tim hukum perusahaan menyerahkan temuan kepada pihak berwenang.
Saat Darman datang ke proyek untuk memprotes, dia melihatku.
Awalnya dia tidak mengenali.
Aku melepas helm.
“Masih ingat proyek di Semarang dua puluh tahun lalu?”
Wajahnya berubah.
“Budi?”
Aku menatapnya.
“Kali ini aku tidak akan lari.”
Darman berusaha menyangkal semuanya.
Namun bukti laboratorium, catatan transaksi, dan dokumen pengadaan berbicara lebih keras.
Penyelidikan kemudian menemukan beberapa orang yang terlibat dalam manipulasi material.
Kasus lama yang pernah menghancurkan hidupku juga kembali diperiksa setelah seorang mantan penjaga proyek bernama Pak Sumarno bersedia memberikan kesaksian tentang apa yang dilihatnya dua puluh tahun sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, namaku benar-benar dibersihkan.
Aku pulang membawa surat hasil pemeriksaan dan meletakkannya di meja.
Ratih tidak membacanya lebih dulu.
Dia memegang tanganku.
“Sejak hari kau menjelaskan semuanya, aku sudah percaya.”
Aku menatapnya.
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih padaku.”
Ratih tersenyum.
“Bayar utangmu saja.”
“Utang apa?”
“Bromo.”
Aku tertawa.
Namun sebelum pergi ke Bromo, masih ada satu misteri yang harus diselesaikan.
Wawan.
Kami akhirnya menemukan dia di sebuah desa di Grobogan.
Dia tinggal di rumah sederhana dan berjalan menggunakan kaki palsu.
Ketika melihatku, wajahnya langsung pucat.
“Budi?”
Aku memeluknya.
Wawan menangis.
Dia menjelaskan malam ketika menerima surat dan uangku, dia langsung berangkat menuju Demak.
Di perjalanan, motornya ditabrak truk.
Tas berisi uang dan surat terlempar ke sungai.
Wawan terluka parah.
Kaki kirinya harus diamputasi.
Setelah berbulan-bulan dirawat, dia mencari Ratih, tetapi Ratih sudah pindah.
Dia hidup dengan rasa bersalah selama dua puluh tahun.
“Aku gagal menepati janji.”
Aku memegang bahunya.
“Tidak.”
“Kau kehilangan keluargamu karena aku.”
“Bukan.”
Ratih duduk di samping kami.
“Pak Wawan, kecelakaan bukan kesalahan Anda.”
Wawan menangis semakin keras.
Ratih menggenggam tangannya.
“Kita semua kehilangan dua puluh tahun. Jangan buang sisa hidup kita untuk menyalahkan diri sendiri.”
Kalimat itu menyembuhkan sesuatu dalam diri kami bertiga.
Enam bulan setelah aku datang untuk wawancara, hidup kami berubah.
Kirana masih kadang memanggilku Pak Budi.
Aku tidak pernah memaksa.
Suatu pagi aku hendak berangkat kerja ketika dia berteriak dari dapur,
“Ayah, rantangnya jangan lupa!”
Aku berhenti.
Kirana juga berhenti.
Wajahnya memerah.
Dia sadar apa yang baru saja diucapkannya.
Aku perlahan menoleh.
“Apa tadi?”
Kirana mengambil rantang hijau dan menyodorkannya kepadaku.
“Sudah, jangan bikin drama. Nanti aku telat.”
Aku menerima rantang itu.
Mataku panas.
Kirana mendecakkan lidah.
“Ayah menangis lagi?”
Aku tertawa sambil mengusap mata.
“Debu.”
“Kita di dalam rumah.”
Aku langsung memeluknya.
“Ayah!”
Kirana protes, tetapi kemudian lengannya ikut memelukku.
Ratih berdiri di pintu dapur sambil tersenyum.
Beberapa bulan kemudian, kami akhirnya pergi ke Bromo.
Kami berangkat sebelum fajar.
Udara dingin menusuk tulang.
Ratih berdiri di sampingku sambil memegang secangkir teh panas.
Kirana sibuk mengambil foto.
Perlahan, garis cahaya muncul di cakrawala.
Langit berubah dari hitam menjadi ungu, lalu merah jingga.
Bromo muncul di antara lautan kabut.
Ratih tidak berkata apa-apa.
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Ratih menoleh.
“Untuk apa lagi?”
“Aku terlambat dua puluh tahun menepati janji.”
Dia tersenyum.
“Yang penting kau datang.”
Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada cincin emas sederhana.
Ratih tertawa kecil.
“Budi, kita sudah tua.”
“Memangnya orang tua tidak boleh memberikan cincin?”
Aku memasangkannya di jarinya.
“Dulu aku berpikir menjadi suami yang baik berarti bisa membangun rumah besar untuk istriku.”
Aku melihat Kirana.
“Sekarang aku tahu yang paling penting bukan rumah.”
Ratih menatapku.
“Lalu?”
“Hadir.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku melanjutkan,
“Ketika kau takut, aku harus hadir. Ketika anak kita tumbuh, aku harus hadir. Ketika hidup sulit, aku tidak boleh pergi dan memutuskan semuanya sendiri.”
Ratih memelukku.
Kirana berlari mendekat.
“Kalau kalian menangis lagi, aku akan foto dan kirim ke grup keluarga.”
Kami tertawa.
Beberapa tahun setelah itu, Ratih mulai mengurangi kesibukannya di perusahaan.
Aku juga tidak tertarik menjadi direktur atau mendapat jabatan khusus.
Aku tetap bekerja di bidang yang kupahami.
Aku mengawasi proyek.
Mengajari pengawas muda.
Kadang-kadang aku menghabiskan satu jam menjelaskan kepada pekerja baru mengapa keselamatan tidak boleh ditukar dengan kecepatan.
Kirana berkembang menjadi insinyur yang hebat.
Dia tidak mendapat jabatan hanya karena ibunya pemilik perusahaan.
Ratih sengaja memaksanya melewati setiap tahap.
Suatu hari Kirana membawa seorang pria bernama Arga ke rumah.
Arga berasal dari Yogyakarta.
Ayahnya guru pensiunan, ibunya menjual sarapan.
Setelah makan malam, Arga meminta bicara denganku.
“Pak Budi, saya serius dengan Kirana.”
Aku memandangnya lama.
Dia terlihat gugup.
Aku bertanya,
“Kalau suatu hari hidupmu sulit, apa yang akan kau lakukan?”
Dia tampak bingung.
“Berusaha menyelesaikannya, Pak.”
“Sendiri?”
Arga berpikir sejenak.
Kemudian menggeleng.
“Tidak. Saya akan bicara dengan Kirana. Karena kalau kami menikah, masalah saya juga menjadi masalah kami.”
Aku tersenyum.
“Itu jawaban yang benar.”
Setahun kemudian mereka menikah.
Ketika Kirana berjalan menuju pelaminan, dia menggandeng lenganku.
Aku gemetar.
“Ayah kenapa?”
“Ayah cuma berpikir…”
Aku sulit melanjutkan.
“Ayah tidak pernah mengantarmu ke sekolah.”
Kirana berhenti.
“Tidak pernah menunggumu pulang.”
“Ayah.”
“Tidak pernah melihatmu wisuda.”
Dia menggenggam lenganku lebih erat.
“Tapi hari ini Ayah ada.”
Aku menatapnya.
Kirana tersenyum.
“Itu cukup.”
Aku hampir menangis lagi.
“Jangan,” katanya cepat.
“Makeup-ku mahal.”
Aku tertawa.
Beberapa tahun kemudian, Kirana melahirkan anak laki-laki.
Namanya Raka.
Ketika pertama kali menggendong cucuku, aku menangis begitu keras sampai Ratih mengejek,
“Dulu di proyek jatuh dari scaffolding tidak menangis. Sekarang digendong bayi malah menangis.”
Aku berkata,
“Ini berbeda.”
Raka menggenggam jari telunjukku.
Saat itu aku menyadari sesuatu.
Aku memang tidak bisa kembali ke masa lalu.
Aku tidak bisa mengambil kembali dua puluh tahun yang hilang.
Aku tidak bisa melihat Kirana belajar berjalan.
Tidak bisa mendengar kata pertamanya.
Tidak bisa mengganti setiap malam ketika Ratih menangis sendirian.
Tetapi hidup masih memberiku waktu.
Dan kali ini aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
Aku dan Ratih akhirnya pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran Bogor.
Ratih menanam bunga.
Aku menanam cabai, kangkung, tomat, dan beberapa pohon buah.
Rantang enamel hijau itu sekarang berada di rak dapur.
Catnya hampir habis.
Pegangannya pernah diperbaiki dua kali.
Ratih berkali-kali berkata,
“Buang saja. Kita beli baru.”
Aku selalu menjawab,
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena ini benda paling mahal di rumah.”
Ratih tertawa.
“Kita punya rumah, mobil, dan saham perusahaan.”
Aku menunjuk rantang itu.
“Semua itu bisa dibeli dengan uang.”
“Rantang itu juga dulu kubeli dengan uang.”
“Tapi kenangannya tidak.”
Ratih tidak pernah membantah lagi.
Pada akhir pekan, Kirana datang bersama Arga dan Raka.
Rumah kecil kami menjadi ramai.
Raka berlari di halaman.
Kirana membantu ibunya di dapur.
Arga biasanya duduk bersamaku sambil membicarakan bangunan atau mengeluh tentang harga material.
Suatu sore, setelah semuanya pulang, aku duduk bersama Ratih di teras.
Langit Bogor berwarna jingga.
Ratih bersandar di bahuku.
“Budi.”
“Hmm?”
“Kalau kau bisa kembali ke malam dua puluh tahun lalu, apa yang akan kau lakukan?”
Aku berpikir lama.
“Aku akan pulang.”
“Walaupun Darman mengancam?”
“Aku akan tetap pulang.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku akan memberitahumu semuanya. Kita bisa pergi bersama. Kita bisa meminta bantuan polisi. Bisa meminta perlindungan. Bisa melakukan seratus hal lain.”
Aku menarik napas.
“Tapi aku tidak akan pernah lagi memutuskan bahwa menghilang adalah cara terbaik untuk melindungimu.”
Ratih tersenyum.
“Akhirnya pintar juga.”
“Agak terlambat.”
“Cuma dua puluh tahun.”
Aku tertawa.
Dia menatap taman.
Kemudian berkata,
“Yang penting kau ada di sini sekarang.”
Tak lama kemudian terdengar suara mobil di depan rumah.
Pintu gerbang terbuka.
Raka berlari masuk sambil berteriak,
“Kakek!”
Aku berdiri.
Kirana menyusul di belakangnya.
“Ayah, kami bawa martabak!”
Ratih ikut bangkit.
Aku menatap keluargaku.
Dulu aku mengira kebahagiaan berarti punya banyak uang.
Lalu aku mengira kebahagiaan berarti memiliki rumah yang besar.
Setelah kehilangan dua puluh tahun, aku akhirnya mengerti.
Kebahagiaan adalah mendengar anakmu memanggilmu Ayah.
Adalah melihat istrimu duduk di sampingmu ketika rambut kalian sudah sama-sama memutih.
Adalah memiliki kesempatan kedua ketika kau tahu kau sebenarnya tidak pantas mendapatkannya.
Aku mengambil rantang enamel hijau dari rak.
Raka menunjuknya.
“Kakek, kenapa rantangnya jelek?”
Aku tertawa.
“Karena rantang ini lebih tua dari ibumu.”
Kirana protes dari dapur.
“Ayah!”
Semua orang tertawa.
Aku memandang Ratih.
Dia memandangku kembali.
Tidak ada lagi jarak dua puluh tahun di antara kami.
Tidak ada lagi ketakutan.
Tidak ada lagi pertanyaan yang tertinggal.
Hanya keluarga yang akhirnya kembali utuh.
Malam itu kami makan bersama di meja kecil.
Tidak ada hidangan mewah.
Hanya nasi hangat, ayam goreng, sayur asem, sambal, tempe, dan martabak yang dibawa Kirana.
Tetapi bagiku, itu adalah jamuan paling mewah di dunia.
Karena semua kursi yang seharusnya terisi akhirnya terisi.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi merasa sedang pulang ke rumah orang lain.
Aku sudah benar-benar pulang.
Kali ini, untuk selamanya.
