Pergi Kencan Buta, Ternyata Bertemu Teman Sebangku Semasa SMA, Dia Tersenyum Jail: “Dulu Berani Menciumku Diam-Diam, Sekarang Menatapku Saja Tidak Berani?”

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 558 tayangan
Pergi Kencan Buta, Ternyata Bertemu Teman Sebangku Semasa SMA, Dia Tersenyum Jail: “Dulu Berani Menciumku Diam-Diam, Sekarang Menatapku Saja Tidak Berani?”
Indeks

Pergi Kencan Buta, Ternyata Bertemu Teman Sebangku Semasa SMA, Dia Tersenyum Jail: “Dulu Berani Menciumku Diam-Diam, Sekarang Menatapku Saja Tidak Berani?”

Selamat datang di kisah hari ini.

Karena terus didesak ibunya untuk pergi kencan buta, seorang insinyur berusia awal tiga puluhan di Semarang hampir membeku di tempat ketika mengetahui bahwa wanita yang duduk di hadapannya ternyata adalah teman sebangkunya semasa SMA, seseorang yang sudah kehilangan kontak dengannya selama dua belas tahun.

Saat ia begitu gugup sampai menjatuhkan sendok ke lantai, wanita itu hanya memiringkan kepala. Tatapan matanya memancarkan kenakalan yang begitu familiar sebelum akhirnya berkata,

“Dulu berani menciumku diam-diam, sekarang menatapku saja tidak berani?”

Sebuah rahasia yang selama ini dianggap telah terkubur bersama masa-masa sekolah ternyata justru menjadi benang yang menghubungkan dua orang yang telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya kembali dipertemukan.

Pergi Kencan Buta, Ternyata Bertemu Teman Sebangku Semasa SMA, Dia Tersenyum Jail: “Dulu Berani Menciumku Diam-Diam, Sekarang Menatapku Saja Tidak Berani?”

Namaku Raka Pratama, umurku tiga puluh dua tahun. Aku bekerja sebagai insinyur perawatan mesin di sebuah pabrik di Kawasan Industri Wijayakusuma, Semarang.

Hampir sepuluh tahun terakhir, hidupku dipenuhi suara mesin bubut, aroma oli industri, kunci-kunci pas yang berat, dan gambar teknik yang sama sekali tidak memiliki sedikit pun unsur romantis.

Penghasilanku memang tidak bisa disebut berlimpah, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri, mengirim sebagian uang kepada ibu, sekaligus menyisihkan sedikit tabungan setiap bulan.

Hanya ada satu hal yang selalu membuat ibu tidak pernah benar-benar tenang.

Aku belum menikah.

Ibuku, Bu Ratna, sudah berusia lebih dari enam puluh tahun dan tinggal di sebuah rumah kecil di Ngaliyan. Setiap kali aku pulang dengan sepeda motor dan baru saja berhenti di depan pagar, jarang sekali pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah tentang pekerjaanku.

Biasanya justru begini,

“Raka, sampai kapan kamu mau membuat Ibu menunggu punya menantu?”

Aku selalu hanya bisa tersenyum kaku.

Namun bagi Ibu, itu jelas bukan sesuatu yang pantas ditertawakan.

Melihat putra satu-satunya berangkat ke pabrik setiap pagi, pulang malam lalu membaca dokumen teknik, sementara akhir pekannya hanya dihabiskan memperbaiki motor atau tidur untuk mengganti waktu istirahat yang kurang, akhirnya Ibu memutuskan turun tangan sendiri.

Pada suatu Minggu pagi, Ibu memaksaku mengenakan batik biru tua yang biasanya hanya kupakai ketika menghadiri acara keluarga. Setelah itu, beliau mengambil sebuah foto diriku dalam pose serius dan langsung menyebarkannya ke berbagai grup WhatsApp.

Mulai dari grup keluarga besar.

Grup arisan ibu-ibu di lingkungan rumah.

Sampai grup pengajian para kenalannya.

Kalimat perkenalan yang ditulis Ibu sebenarnya cukup singkat, tetapi setelah membacanya aku langsung ingin mematikan ponsel.

“Anak laki-laki saya namanya Raka, insinyur mesin, pekerjaannya stabil, tidak merokok, tidak berjudi, dan orangnya bertanggung jawab. Keluarga hanya berharap bisa mengenalkannya dengan perempuan baik-baik untuk menjalani hubungan yang serius.”

Entah sudah melewati berapa banyak ponsel foto itu diteruskan.

Sampai suatu siang, ketika aku sedang duduk menikmati nasi bungkus di bawah atap kecil di samping bengkel pabrik, ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar berkali-kali tanpa henti.

Aku membuka WhatsApp.

Grup alumni XII IPA 2, yang sudah berbulan-bulan hampir tidak pernah berbunyi, mendadak dipenuhi lebih dari seratus pesan baru.

Dan tepat di tengah layar, terpampang fotoku.

Bima, sahabatku yang dulu duduk di meja belakang, menjadi orang pertama yang memulai keributan.

“Teman-teman, barang langka akhirnya resmi dipasarkan oleh Bu Ratna! Yang punya kakak atau adik perempuan masih jomlo, buruan sebelum keduluan!”

Grup langsung meledak.

Ada yang mengirim stiker.

Ada yang meledek bahwa sejak SMA aku memang terlalu pendiam sampai mereka pernah menduga aku akan memilih hidup membujang seumur hidup.

Di antara ratusan pesan itu, Sari, wakil ketua kelas kami dulu, tiba-tiba menyebut sebuah nama.

“Ngomong-ngomong soal Raka, aku jadi ingat. Dulu dia duduk sebangku dengan Ayu selama dua tahun. Mereka berdua sering saling melirik diam-diam, tapi tidak ada satu pun yang berani bicara. Entah bagaimana kabarnya Ayu Lestari sekarang?”

Tanganku mendadak berhenti bergerak.

Ayu Lestari.

Sudah dua belas tahun aku tidak mendengar seseorang menyebut nama itu.

Kenangan lama langsung menyerbu pikiranku.

Ketika kelas sebelas, wali kelas mengganti susunan tempat duduk dan menempatkanku di samping Ayu, di deretan meja dekat jendela.

Ayu adalah kebalikan dariku.

Dia ceria, pintar, mudah bergaul, dan setiap kali tersenyum akan muncul dua lesung pipi kecil di wajahnya.

Sedangkan aku waktu itu hanyalah anak laki-laki dari keluarga sederhana, selalu mengenakan seragam putih abu-abu yang warnanya sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci, pendiam, dan penuh rasa rendah diri.

Aku menyukai Ayu.

Begitu menyukainya sampai-sampai setiap sore setelah dia pulang dengan sepeda, aku masih sengaja duduk beberapa menit di dalam kelas hanya untuk memandangi kursi kosong di sebelahku.

Namun aku tidak pernah berani mengatakannya.

Hal paling bodoh terjadi pada suatu sore menjelang akhir kelas dua belas.

Ruang kelas hampir kosong. Anak-anak laki-laki pergi ke lapangan untuk bermain bola, sementara beberapa siswi menuju kantin membeli makanan.

Hanya tersisa aku dan Ayu.

Dia menyandarkan kepala di atas kedua lengannya dengan mata tertutup.

Rambut hitam panjangnya terurai di atas meja.

Aku duduk di sampingnya dengan jantung berdebar begitu keras hingga rasanya aku sendiri bisa mendengarnya.

Entah dari mana datangnya keberanian itu, aku perlahan membungkuk dan memberikan sebuah ciuman sangat ringan pada rambutnya.

Namun pada detik berikutnya, aku langsung panik.

Lututku menghantam sisi meja.

Kursi di belakangku jatuh menghantam lantai dengan suara keras.

“Brak!”

Aku mengira Ayu sudah terbangun.

Karena malu setengah mati, aku langsung berlari keluar kelas seolah baru saja melakukan sebuah kejahatan besar.

Sejak hari itu, aku tidak berani lagi menatap matanya.

Semakin Ayu mencoba mengajakku bicara, semakin keras aku berusaha menghindarinya.

Kemudian kami lulus.

Aku melanjutkan kuliah di bidang teknik, lalu kembali ke Semarang untuk bekerja.

Aku sempat mendengar bahwa Ayu kuliah di bidang bisnis, kemudian keluarganya pindah rumah.

Kami kehilangan kontak.

Dua belas tahun.

Aku mengira cerita itu sudah lama berakhir.

Sampai nama Ayu kembali muncul di tengah percakapan grup WhatsApp pada sebuah siang yang panas.

Sejak saat itu, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.

Setiap kali suara mesin di pabrik mendadak mereda, nama itu muncul lagi di kepalaku. Setiap kali aku melihat bangku kosong di ruang istirahat, aku teringat meja kayu di kelas kami dulu. Bahkan ketika aku pulang dan melewati gerbang sekolah lama dari kejauhan, aku kembali menjadi Raka yang berusia delapan belas tahun, anak laki-laki kurus yang terlalu takut mengakui perasaannya sendiri.

Namun aku tidak pernah menyangka bahwa hanya beberapa hari kemudian, masa lalu itu akan berdiri tepat di hadapanku.

Sabtu sore, Bu Ratna sudah membangunkanku sejak siang.

“Jangan pulang dari pabrik lalu langsung datang ke sana dengan bau oli,” katanya sambil menyodorkan kemeja batik yang sudah disetrika.

“Bu, aku bukan mau wawancara kerja.”

“Lebih penting daripada wawancara kerja. Kalau gagal wawancara, kamu cari pekerjaan lain. Kalau gagal bicara dengan calon istri, belum tentu Ibu punya tenaga mencarikan lagi.”

Aku tertawa kecil, tetapi tetap menuruti keinginannya.

Perempuan yang akan kutemui, menurut Ibu, adalah keponakan seorang kenalannya. Umurnya tiga puluh satu tahun, belum menikah, punya toko bunga sendiri, dan tinggal bersama ibunya.

Ibu tidak pernah menyebut namanya.

Aku pun tidak bertanya.

Bagiku, pertemuan itu hanyalah satu lagi usaha Ibu untuk menyeret anak laki-lakinya keluar dari kehidupan yang terlalu nyaman dan terlalu sepi.

Kami sepakat bertemu di sebuah kafe taman di Gajahmungkur.

Aku datang lima belas menit lebih awal.

Kupilih meja kecil di sudut taman, memesan kopi hitam, lalu berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak ada alasan untuk gugup.

Aku terbiasa menangani mesin bernilai miliaran rupiah.

Aku pernah berdiri sendirian di tengah pabrik ketika jalur produksi berhenti dan puluhan orang menunggu keputusanku.

Seharusnya duduk bersama seorang perempuan tidak lebih menakutkan daripada itu.

Ternyata aku salah.

Tepat pukul empat sore, lonceng kecil di pintu masuk berbunyi.

Seorang perempuan masuk.

Ia mengenakan gaun panjang berwarna kuning lembut. Rambutnya diikat sederhana di belakang kepala. Langkahnya tenang, tetapi ada sesuatu dalam caranya menoleh yang membuat napasku tercekat.

Ketika wajahnya akhirnya terlihat jelas, tanganku membeku di atas meja.

Ayu.

Aku mengenali dua lesung pipinya sebelum otakku sempat menerima kenyataan.

Perempuan itu berhenti beberapa langkah dari mejaku.

Tatapan kami bertemu.

Ayu juga terdiam.

Namun hanya selama dua detik.

Setelah itu, bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat kukenal.

“Mas Raka?”

Aku berdiri terlalu cepat hingga lututku hampir menghantam meja.

“Iya.”

Ayu menahan tawa.

“Yang dikenalkan Tante Mira?”

“Iya.”

“Jadi benar kamu.”

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tetapi tanganku malah menyenggol sendok kecil di samping cangkir.

Sendok itu jatuh.

Ting!

Aku buru-buru membungkuk untuk mengambilnya.

Ketika kembali duduk, Ayu sudah berada di kursi seberang.

Dia menatapku dengan mata berbinar.

Aku justru menunduk.

Anehnya, di hadapan perempuan yang terakhir kulihat dua belas tahun lalu, semua keberanian yang kupunya di pabrik menghilang.

Aku kembali menjadi anak SMA yang tidak tahu harus meletakkan kedua tangannya di mana.

Ayu akhirnya tertawa pelan.

“Raka.”

“Hm?”

“Lihat aku.”

Aku mengangkat kepala sedikit.

Dia menyandarkan siku di meja.

Lalu dengan wajah sangat tenang, dia berkata,

“Dulu berani menciumku diam-diam, sekarang menatapku saja tidak berani?”

Aku hampir tersedak udara.

“Ayu…”

Senyumnya semakin lebar.

Jantungku seakan berhenti.

“Kamu tahu?”

“Menurutmu?”

“Aku pikir kamu tidur.”

“Kalau aku benar-benar tidur, mana mungkin aku ingat semuanya?”

Aku kehilangan kemampuan bicara.

Dua belas tahun.

Selama dua belas tahun aku membawa rasa bersalah karena mengira pernah melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya.

Dan sekarang Ayu duduk di depanku sambil tersenyum seakan sedang membuka rahasia kecil yang baru terjadi kemarin sore.

Pertemuan itu berlangsung tidak lebih dari satu jam.

Sebagian besar waktu justru kuhabiskan dalam keadaan gugup.

Ayu bertanya tentang pekerjaanku, Bu Ratna, dan kehidupanku sekarang.

Aku menjawab seperlunya.

Sebelum pergi, dia memberikan alamat toko bunganya.

“Kalau nanti keberanianmu sudah kembali,” katanya, “datanglah.”

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku memikirkan satu pertanyaan.

Jika Ayu tahu sejak dulu, mengapa dia tidak pernah marah?

Keesokan harinya, sepulang kerja, aku langsung menuju toko bunganya.

Namanya Bunga Senja.

Toko kecil itu berada di sebuah jalan yang cukup tenang. Di depannya terdapat papan kayu sederhana, sementara jendela kacanya dipenuhi buket berwarna-warni.

Ketika aku masuk, aroma bunga segar langsung memenuhi hidungku.

Ayu berdiri di belakang meja, mengenakan celemek cokelat muda sambil memotong batang mawar.

Dia menoleh.

Tidak terlihat terkejut.

“Sudah kuduga kamu datang.”

Aku berdiri di dekat pintu.

“Aku mau minta maaf.”

Ayu meletakkan gunting.

“Untuk apa?”

“Untuk hari itu.”

Wajahnya berubah sedikit.

Aku menarik napas.

“Aku tidak seharusnya mencium rambutmu tanpa izin. Setelah itu aku malah lari. Aku malu, takut kamu marah, takut kamu menganggapku kurang ajar. Jadi aku memilih menghindar.”

Ayu diam cukup lama.

Kemudian dia menarik sebuah kursi untukku.

“Duduk.”

Aku menurut.

Dia menuangkan teh hangat ke dua cangkir.

Setelah duduk di depanku, Ayu berkata pelan,

“Raka, aku tidak tidur waktu itu.”

Aku sudah mendengar kalimat itu kemarin, tetapi kali ini nadanya berbeda.

Lebih serius.

“Aku cuma memejamkan mata karena kepalaku pusing. Aku tahu kamu mendekat.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu tidak bergerak?”

Pipinya memerah.

“Karena aku menunggu.”

“Menunggu apa?”

Ayu mendengus kecil.

“Ya ampun, ternyata setelah dua belas tahun kamu masih sama bodohnya.”

Lalu matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku menunggu kamu mengatakan sesuatu.”

Dadaku menghangat sekaligus sakit.

“Aku suka kamu waktu itu, Raka.”

Aku membeku.

Ayu tersenyum pahit.

“Aku suka anak laki-laki yang selalu meminjamkan penggaris tanpa pernah berani menatap mataku. Aku suka anak laki-laki yang diam-diam memperbaiki rantai sepedaku tanpa mengaku. Aku bahkan tahu kamu sering menggambar wajahku di belakang buku fisikamu.”

Aku menelan ludah.

“Kamu tahu?”

“Aku duduk di sebelahmu selama dua tahun.”

Dia tertawa sambil mengusap ujung matanya.

“Ketika kamu mencium rambutku, aku pikir akhirnya kamu akan mengatakan bahwa kamu menyukaiku.”

Ayu menunduk.

“Tapi kamu menjatuhkan kursi lalu kabur.”

Aku ingin menghilang ke dalam lantai.

“Aku menunggu kamu keesokan harinya,” lanjutnya. “Lalu hari berikutnya. Tapi setiap aku mencoba bicara, kamu menghindar.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Aku akhirnya berpikir mungkin ciuman itu cuma keisengan. Mungkin aku saja yang terlalu berharap.”

“Ayu…”

“Waktu kelulusan, aku menunggu kamu menghampiriku. Kamu tidak datang.”

Suara Ayu bergetar.

Aku menggenggam cangkir begitu kuat sampai jemariku memutih.

Dua anak muda yang saling menyukai ternyata kehilangan dua belas tahun hanya karena sama-sama takut.

“Aku minta maaf.”

Ayu menghela napas.

“Itu sudah lama.”

“Tidak bagiku.”

Dia menatapku.

Aku mengumpulkan keberanian.

“Aku tidak pernah benar-benar melupakanmu.”

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, Ayu kehilangan kata-kata.

Aku melanjutkan,

“Aku pernah mencoba mengenal beberapa perempuan. Tidak ada yang berjalan jauh. Setiap kali hubungan mulai serius, entah kenapa aku selalu teringat seorang gadis yang duduk di dekat jendela kelas XII IPA 2.”

Air mata tipis muncul di sudut mata Ayu.

Beberapa saat kemudian dia tersenyum.

“Kalau begitu, Bu Ratna berjasa besar.”

Aku ikut tersenyum.

“Kamu sudah tahu bahwa orang yang akan kamu temui adalah aku?”

“Sejak Tante Mira menyebut namamu.”

“Kenapa kamu tetap datang?”

Ayu mengangkat bahu.

“Aku penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Apakah setelah dua belas tahun kamu masih akan kabur kalau bertemu aku.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya malam itu.

Ayu menunjuk pintu.

“Sejauh ini kamu belum kabur.”

“Tidak akan.”

“Jangan terlalu cepat berjanji.”

Aku mengulurkan tangan di atas meja.

“Kali ini aku serius.”

Ayu memandang tanganku cukup lama.

Kemudian telapak tangannya yang lembut menyentuh tanganku.

“Baiklah,” katanya. “Kita mulai lagi dari awal.”

Hari itu menjadi awal kehidupan yang sama sekali berbeda.

Aku mulai sering datang ke Bunga Senja setelah bekerja.

Awalnya hanya untuk menemani Ayu.

Kemudian tanpa sadar aku ikut bekerja.

Tanganku yang terbiasa memegang kunci pas mulai belajar membersihkan duri mawar.

Aku membuat rak baru untuk menyimpan bunga.

Memperbaiki pompa air yang sering bermasalah.

Mengganti lampu toko.

Bahkan membuat sistem sederhana agar Ayu bisa mencatat pesanan pelanggan dengan lebih rapi.

Sebaliknya, Ayu mulai mengisi bagian hidupku yang selama ini kosong.

Setiap pagi dia kadang membawakanku nasi uduk atau lontong sayur.

Kalau aku mendapat shift malam, dia akan mengirim pesan,

“Jangan cuma minum kopi. Makan.”

Setiap akhir pekan kami mencoba makan di tempat sederhana yang berbeda.

Bakso.

Soto Semarang.

Nasi goreng babat.

Kadang hanya jagung bakar sambil duduk lama di taman.

Hubungan kami tidak meledak dengan romantisme besar.

Justru tumbuh dari hal-hal kecil.

Dan mungkin karena itulah rasanya lebih nyata.

Suatu malam, Ayu mengunggah foto dua tangan yang saling menggenggam.

Dia tidak menampilkan wajah.

Sayangnya dia lupa satu hal.

Jam tanganku.

Bima mengenalinya.

Lima menit kemudian grup alumni kembali kacau.

“RAKA!”

Pesan Bima muncul dengan huruf kapital.

“DUA BELAS TAHUN MENUNGGU, SEKALI GERAK LANGSUNG DAPAT AYU?”

Sari menimpali,

“Sudah kubilang dua manusia ini dari SMA sebenarnya saling suka.”

Aku hanya membalas satu kalimat:

“Doakan saja kali ini aku tidak terlambat lagi.”

Ayu yang duduk di sampingku membacanya.

Dia menyandarkan kepala ke bahuku.

“Jangan terlambat.”

Aku menatapnya.

“Tidak akan.”

Dua bulan kemudian aku datang ke rumah Ayu untuk bertemu Bu Sri.

Aku membawa buah, lapis legit, dan teh pilihan yang dibelikan Bu Ratna.

Bu Sri menerima kami di ruang tamu sederhana.

Setelah beberapa percakapan, beliau memandangku cukup lama.

“Ayu sudah cerita banyak tentang kamu.”

Aku gugup.

“Yang baik atau yang buruk, Bu?”

Beliau tersenyum.

“Dari SMA.”

Ayu langsung protes.

“Ibu…”

Bu Sri tertawa.

Namun beberapa saat kemudian wajahnya menjadi serius.

Beliau bercerita bahwa ayah Ayu meninggalkan keluarga ketika Ayu masih berusia lima tahun.

Bu Sri membesarkannya sendirian.

Berjualan makanan.

Menerima pesanan kue.

Melakukan apa pun agar putrinya bisa sekolah.

“Ayu bukan anak yang mudah percaya pada orang,” kata Bu Sri. “Kalau dia membuka hati untukmu, saya hanya minta satu hal.”

Aku menunggu.

“Jangan tinggalkan dia ketika hidup sedang sulit.”

Aku menatap beliau.

“Saya tidak bisa berjanji hidup kami akan selalu mudah, Bu.”

Tanganku mengepal di atas lutut.

“Tapi saya bisa berjanji, selama Ayu masih mengizinkan saya berada di sampingnya, saya tidak akan membiarkan dia menghadapi kesulitan sendirian.”

Ayu diam-diam menghapus air mata.

Aku pikir setelah hari itu kehidupan kami akan berjalan tenang.

Ternyata belum.

Beberapa minggu kemudian, telepon rumah Bu Sri berbunyi.

Orang di seberang adalah ayah kandung Ayu.

Laki-laki yang pergi lebih dari dua puluh tahun lalu.

Dia telah kembali dari Kalimantan dalam keadaan sakit dan ingin bertemu Ayu.

Reaksi Ayu keras.

“Aku tidak punya ayah.”

Dia menolak.

Marah.

Menangis.

“Apa dia pikir cukup datang sekarang lalu semua selesai?”

Aku tidak mencoba membelanya.

Aku hanya duduk di samping Ayu.

“Kamu tidak wajib memaafkan siapa pun.”

Dia menatapku.

“Tapi kalau kamu ingin mengatakan semua yang selama ini kamu simpan, mungkin ini kesempatanmu.”

Dua hari kemudian kami bertemu laki-laki itu di sebuah kedai kecil.

Namanya Pak Hendra.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Ketika melihat Ayu, wajahnya langsung runtuh.

“Ayu…”

Ayu tidak memanggilnya Ayah.

Dia hanya duduk.

Pak Hendra meminta maaf.

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan kepergiannya.

Ia mengaku egois.

Mengaku pengecut.

Mengaku baru menyadari harga sebuah keluarga setelah usianya semakin tua dan kesehatannya memburuk.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Ayah tidak punya banyak. Ini tabungan yang tersisa.”

Ayu tidak menyentuhnya.

“Dulu ketika saya kecil, saya tidak butuh uang.”

Pak Hendra menunduk.

“Saya butuh ayah.”

Tanganku menggenggam tangan Ayu di bawah meja.

“Semua kebutuhan saya dipenuhi Ibu. Semua biaya sekolah, makanan, obat ketika saya sakit. Ibu yang bekerja.”

Air mata mengalir di wajah Pak Hendra.

Ayu menarik napas panjang.

“Saya datang bukan untuk menerima uang dan bukan untuk membuat Bapak menderita.”

Untuk pertama kalinya Ayu memanggilnya Bapak.

“Saya datang karena saya tidak ingin membawa kemarahan ini sampai tua.”

Pak Hendra menutup wajahnya.

“Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya bisa benar-benar memanggil Bapak sebagai ayah lagi.”

Ayu berdiri.

“Tapi saya harap Bapak berobat dan menjaga diri.”

Dia mendorong amplop itu kembali.

“Gunakan uangnya untuk pengobatan.”

Ketika kami keluar dari kedai, Ayu berjalan beberapa meter lalu berhenti.

Dia memelukku.

Tangisnya pecah.

Aku tidak memberikan nasihat apa pun.

Aku hanya memeluknya sampai tangis itu perlahan reda.

Malam itu, Ayu mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Terima kasih karena tidak menyuruhku memaafkan.”

Aku mengusap rambutnya.

“Maaf itu bukan utang yang harus dibayar hari ini.”

Dia menatapku lama.

Kemudian tersenyum.

Setelah pertemuan itu, sesuatu dalam diri Ayu berubah.

Dia tampak lebih ringan.

Bunga Senja juga berkembang pesat.

Pesanan pernikahan semakin banyak.

Sebuah ruko kecil di sebelah toko tiba-tiba kosong dan pemiliknya menawarkan harga sewa yang cukup masuk akal.

Ayu punya mimpi membuka kelas merangkai bunga.

Namun biaya renovasi dan peralatan cukup besar.

Aku melihatnya menghitung anggaran berulang kali.

Suatu malam aku datang membawa buku tabunganku.

“Apa ini?”

“Tabungan.”

Ayu melihat angka di dalamnya.

Hampir 230 juta rupiah.

Matanya membesar.

“Raka, jangan bilang…”

“Aku tadinya ingin memakai ini sebagai uang muka rumah.”

“Lalu?”

“Aku ingin menginvestasikan sebagian untuk perluasan toko.”

Ayu langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Dengar dulu.”

“Ini tabungan sepuluh tahunmu.”

“Aku tahu.”

“Kalau gagal?”

Aku tersenyum.

“Karena itu kita tidak pakai semuanya.”

Kami menghitung bersama.

Akhirnya kami hanya mengambil sebagian uang, mempertahankan dana darurat dan membuat rencana realistis.

Aku membantu renovasi.

Teman-teman pabrik membantu membuat beberapa rak dengan harga lebih murah.

Ayu mengurus izin usaha dan pemasok.

Tiga bulan kemudian, ruangan baru dibuka.

Kelas merangkai bunga pertama hanya memiliki dua belas peserta.

Ayu terlihat kecewa.

Aku justru tersenyum.

“Dua belas orang yang membayar untuk belajar darimu itu bukan kegagalan.”

Bulan berikutnya peserta bertambah.

Kemudian dua kelas seminggu.

Bunga Senja perlahan menjadi lebih dikenal.

Suatu malam, setelah kami selesai membereskan meja kelas, hujan turun deras di luar.

Ayu duduk di atas bangku kayu.

“Raka.”

“Ya?”

“Besok kamu ada waktu?”

“Setelah jam tiga.”

“Antar aku ke KUA.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

Ayu memandangku dengan wajah serius selama dua detik sebelum tertawa.

“Kamu insinyur, tapi kenapa harus dijelaskan semua?”

Aku terdiam.

“Ayu…”

Dia bangkit.

“Aku capek menunggu.”

Jantungku berpacu.

Ayu mendekat.

“Dulu aku menunggumu dua tahun untuk bilang suka.”

Satu langkah lagi.

“Lalu menunggu dua belas tahun sampai kita bertemu lagi.”

Dia berhenti tepat di depanku.

“Sekarang jangan suruh aku menunggu terlalu lama untuk menikah.”

Aku langsung memeluknya.

Ayu tertawa.

“Jadi?”

“Aku bahkan mau ke KUA sekarang kalau masih buka.”

Beberapa minggu kemudian, hari yang dulu tidak pernah berani kubayangkan akhirnya datang.

Aku mengenakan batik krem.

Ayu mengenakan kebaya putih sederhana.

Bu Ratna sejak pagi sudah menangis.

Bu Sri tak kalah sibuk mengusap mata.

Akad nikah dilakukan sederhana, dihadiri keluarga dekat dan beberapa sahabat.

Ketika tiba giliranku mengucapkan ijab kabul, telapak tanganku berkeringat lebih parah dibanding ketika menghadapi mesin rusak bernilai miliaran rupiah.

Namun aku mengucapkannya dengan jelas.

Satu tarikan napas.

Ketika para saksi mengatakan,

“Sah.”

Ruangan dipenuhi ucapan syukur.

Aku memandang Ayu.

Air mata mengalir di pipinya.

Perempuan yang dahulu duduk di sebelahku di kelas kini resmi menjadi istriku.

Bima yang duduk di belakang langsung berbisik cukup keras,

“Akhirnya anak ini berhenti kabur.”

Semua orang tertawa.

Aku ikut tertawa.

Ayu menoleh kepadaku.

“Kamu dengar?”

“Dengar.”

“Jangan kabur.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kali ini kalau kamu usir pun aku pikir-pikir dulu.”

Syukuran kami sederhana.

Ada nasi tumpeng, ayam opor, sate, sambal goreng ati, sayur, dan aneka jajanan pasar.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada gedung besar.

Namun bagiku, hari itu sempurna.

Beberapa bulan setelah menikah, kami menyewa rumah kecil yang tidak jauh dari Bunga Senja.

Pagi-pagi Ayu membuka toko.

Aku bekerja di pabrik.

Sore hari kami bertemu.

Kadang bertengkar karena hal kecil.

Aku suka meletakkan kaus kaki sembarangan.

Ayu sering lupa makan ketika pesanan sedang banyak.

Namun setiap malam, kami berusaha menyelesaikan masalah sebelum tidur.

Karena kami sudah pernah kehilangan dua belas tahun akibat diam.

Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Setahun kemudian, kami mengambil cuti tiga hari ke Jepara.

Tidak ada hotel mewah.

Kami menginap di penginapan kecil dekat Pantai Bandengan.

Sore itu kami berjalan di tepi pantai.

Angin laut meniup rambut Ayu.

Tiba-tiba dia berhenti.

Aku menoleh.

Wajahnya aneh.

“Kamu kenapa?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia membuka tas kecilnya.

Mengeluarkan sesuatu.

Sebuah alat tes kehamilan.

Dua garis.

Aku menatap benda itu.

Lalu Ayu.

Lalu benda itu lagi.

“Ayu…”

Dia tertawa sambil menangis.

“Aku sudah telat hampir tiga minggu.”

Aku tidak tahu harus melakukan apa.

Aku ingin memeluknya.

Ingin berteriak.

Ingin menelepon Ibu.

Akhirnya aku hanya berdiri membeku.

Ayu tertawa.

“Mas Raka?”

“Hm?”

“Kamu masih hidup?”

Aku langsung memeluknya.

“Aku akan jadi ayah?”

“Kalau dokter besok mengonfirmasi, iya.”

Keesokan paginya kami pergi ke klinik.

Dokter memastikan kehamilan Ayu.

Masih sangat awal.

Kami diminta menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan rutin.

Begitu keluar dari klinik, kami menelepon dua ibu kami melalui video call.

Bu Ratna terdiam.

Lalu,

“Alhamdulillah!”

Suaranya begitu keras sampai petugas klinik menoleh.

Bu Sri menangis.

Dua perempuan itu langsung mendiskusikan makanan yang harus dibuat untuk Ayu, seolah cucu mereka akan lahir minggu depan.

Dalam perjalanan kembali ke Semarang, Ayu tertidur di bahuku.

Aku menatap jalan melalui kaca kendaraan.

Tanganku menutupi tangannya yang berada di atas perut.

Aku tiba-tiba teringat anak laki-laki berusia delapan belas tahun di ruang kelas dulu.

Anak yang terlalu takut mengatakan,

“Aku menyukaimu.”

Dia hanya mampu mencium rambut seorang gadis lalu berlari.

Seandainya aku bisa bertemu dengan diriku sendiri pada hari itu, mungkin aku akan menepuk bahunya dan berkata,

“Jangan lari.”

Namun kalau kupikir-pikir lagi, mungkin semua harus terjadi seperti itu.

Kami perlu tumbuh.

Perlu mengalami kehidupan masing-masing.

Perlu belajar tentang kehilangan, keberanian, tanggung jawab, keluarga, dan pengampunan.

Sampai akhirnya sebuah foto yang dikirim Bu Ratna ke grup WhatsApp membawa kami kembali ke titik yang pernah kami tinggalkan.

Aku menunduk memandang Ayu.

Dia masih tidur.

Ada senyum tipis di wajahnya.

Aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Dulu aku mengira rumah berarti bangunan yang harus kubeli dengan tabungan bertahun-tahun.

Sekarang aku tahu rumah bukan soal luas tanah.

Bukan soal sertifikat.

Bukan soal berapa harga cicilannya.

Rumah adalah seseorang yang membuatmu ingin pulang.

Dan rumahku sedang tertidur di bahuku.

Beberapa bulan setelah itu, perut Ayu semakin besar.

Aku menjadi suami yang terlalu khawatir.

Kalau dia membawa satu ember bunga, aku merebutnya.

Kalau dia berdiri terlalu lama, aku menyuruhnya duduk.

Suatu sore dia akhirnya kesal.

“Raka, aku hamil, bukan berubah menjadi kaca.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa aku mau mengambil sapu saja kamu larang?”

“Aku waspada.”

Ayu mendengus.

“Dua belas tahun lalu kamu lari cepat sekali. Sekarang aku jalan ke dapur pun kamu ikuti.”

Aku tertawa.

“Berarti ada perkembangan.”

Ayu tidak bisa menahan senyum.

Bulan kedelapan, dokter menyarankan Ayu mengurangi aktivitas.

Bu Ratna dan Bu Sri bergantian datang.

Rumah kecil kami menjadi jauh lebih ramai.

Hingga pada suatu dini hari, Ayu membangunkanku.

“Raka.”

Aku membuka mata.

“Apa?”

“Sepertinya waktunya.”

Aku langsung melompat dari tempat tidur.

Saking paniknya, aku memakai sandal yang berbeda warna.

Ayu yang sedang menahan kontraksi malah tertawa melihatku.

Setelah beberapa jam yang terasa seperti beberapa tahun, suara tangis bayi akhirnya terdengar.

Seorang bayi perempuan.

Kecil.

Merah.

Dengan jari-jari mungil yang langsung menggenggam ujung telunjukku.

Aku menangis.

Aku bahkan tidak mencoba menyembunyikannya.

Ayu yang kelelahan tersenyum dari ranjang.

“Kita kasih nama apa?”

Aku duduk di sampingnya.

Kami sudah berdiskusi sebelumnya.

Namun saat melihat wajah kecil itu, nama yang kami pilih terasa semakin tepat.

“Naira Pratama.”

Ayu mengangguk.

“Selamat datang, Naira.”

Beberapa minggu kemudian, aku berdiri di Bunga Senja sambil menggendong putri kami.

Ayu sedang menyusun bunga di meja.

Bu Sri menjaga kasir.

Bu Ratna duduk di kursi sambil sibuk menceritakan kepada pelanggan bahwa cucunya sangat mirip ayahnya.

Aku memandang semua itu.

Toko kecil.

Bunga-bunga.

Ibu kami.

Istriku.

Anak kami.

Tidak ada satu pun yang luar biasa bagi dunia.

Namun bagiku, itu adalah seluruh dunia.

Ayu mendekat.

Dia mencubit pipi Naira.

Kemudian menatapku dengan senyum jahil yang sama seperti ketika kami bertemu kembali di kafe.

“Mas.”

“Hm?”

“Masih ingat pertama kali kita ketemu lagi?”

Aku tertawa.

“Bagaimana bisa lupa?”

Ayu menirukan ekspresinya waktu itu.

“Dulu berani menciumku diam-diam, sekarang menatapku saja tidak berani?”

Aku menggeleng.

“Kalau sekarang?”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Sekarang aku berani.”

“Berani apa?”

Aku mencium keningnya.

“Berani mencintaimu terang-terangan.”

Ayu terdiam sebentar.

Lalu tertawa sambil menyandarkan kepala di bahuku.

Di pelukanku, Naira tidur dengan tenang.

Di luar toko, Semarang mulai diselimuti cahaya senja.

Dan pada saat itulah aku benar-benar mengerti.

Beberapa kisah cinta tidak dimulai ketika dua orang pertama kali bertemu.

Tidak juga ketika mereka pertama kali mengatakan cinta.

Ada kisah yang dimulai dari kesalahan kecil.

Dari sebuah ciuman yang terlalu takut untuk diakui.

Dari kursi yang jatuh.

Dari dua anak muda yang sama-sama diam.

Lalu kehidupan memisahkan mereka.

Memberi mereka waktu untuk tumbuh.

Dan ketika waktunya tepat, kehidupan mempertemukan mereka kembali.

Aku memang pernah kehilangan Ayu selama dua belas tahun.

Namun mungkin kami tidak benar-benar kehilangan satu sama lain.

Kami hanya mengambil jalan memutar yang sangat panjang sebelum akhirnya sampai di rumah yang sama.

Dan kali ini, aku tidak akan lari lagi.

Tidak hari ini.

Tidak besok.

Tidak selama tanganku masih mampu menggenggam tangannya.

Tamat.