6 Tahun Setelah Bercerai, Miliarder Wanita Membawa Kekasihnya Pulang Kampung… Lalu Terdiam Saat Melihat Mantan Suaminya Turun ke Sawah Menangkap Kepiting untuk Ibunya
Pada suatu pagi di awal Juni 2026, hujan semalaman baru saja mengguyur daerah pinggiran Kabupaten Garut, Jawa Barat. Petak-petak sawah di kedua sisi jalan masih tergenang air. Aroma tanah basah bercampur dengan bau jerami dan daun pisang muda. Dari kejauhan, suara sepeda motor bersahutan dengan kicauan burung di pohon-pohon mangga depan rumah warga.
Sebuah Toyota berwarna perak perlahan meninggalkan jalan utama, lalu berbelok ke jalan beton sempit yang membelah area persawahan.
Duduk di kursi penumpang depan, Nadira Pratama tanpa sadar menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Sudah lebih dari setengah tahun ia tidak pernah menginap semalam penuh di kampung halamannya.

Nadira berusia tiga puluh delapan tahun. Saat ini ia menjabat sebagai direktur bagian pengawasan kepatuhan di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Setelah hampir lima belas tahun bekerja, berinvestasi, dan menabung, kekayaannya sudah mencapai puluhan miliar rupiah. Teman-temannya sering bercanda menyebutnya sebagai “miliarder rupiah” pertama yang berhasil membangun kekayaannya sendiri dalam keluarga.
Pria yang sedang mengemudi adalah Aditya Wijaya, empat puluh dua tahun, seorang duda yang bekerja sebagai manajer operasional di sebuah grup perusahaan konstruksi di Jakarta.
Mereka sudah saling mengenal selama lebih dari dua tahun dan mulai membicarakan rencana pernikahan pada akhir tahun.
Aditya melirik ke arahnya.
“Kamu tegang?”
Nadira merapikan ujung bajunya.
“Sudah lama sekali aku tidak membawa seorang pria pulang untuk bertemu Ibu.”
Aditya tersenyum.
“Kalau begitu, mulai dari gerbang desa nanti aku harus bersikap lebih baik dari biasanya.”
Nadira ikut tersenyum, tetapi senyum itu segera menghilang.
Sebab sebelum memasuki pernikahan baru yang sedang ia rencanakan, masih ada sebuah keluarga lama dalam hidupnya yang belum benar-benar selesai.
Pada tahun 2020, Nadira dan Bima Santoso sepakat untuk bercerai.
Tidak ada perselingkuhan.
Tidak ada kekerasan.
Tidak ada satu orang pengkhianat yang bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan semua kesalahan.
Hanya ada dua orang yang semakin hari semakin kelelahan menjalani kehidupan bersama.
Nadira bekerja di Jakarta dan sering bepergian untuk urusan pekerjaan. Sementara Bima bekerja sebagai teknisi listrik, pipa air, dan perbaikan rumah di sekitar Garut.
Saat mereka bercerai, putra mereka, Rafi, baru berusia empat tahun. Sedangkan Alya baru berumur dua tahun.
Setelah perceraian, Bima menjadi orang yang mengasuh kedua anak mereka secara langsung.
Nadira rutin mengirim 8 juta rupiah setiap bulan, belum termasuk biaya sekolah, BPJS, seragam, buku pelajaran, dan berbagai kebutuhan besar lain yang muncul sewaktu-waktu.
Selama dua tahun pertama, Nadira masih cukup sering pulang.
Namun sejak 2023, pekerjaannya semakin padat.
Kepulangannya ke Garut yang semula dua minggu sekali berubah menjadi sebulan sekali, lalu dua bulan sekali.
Ada kalanya selama sebulan penuh Nadira hanya melihat kedua anaknya melalui layar ponsel.
Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak pernah meninggalkan anak-anaknya.
Mereka bersekolah di tempat yang baik.
Tidak kekurangan pakaian.
Tidak kekurangan uang.
Tidak kekurangan komputer untuk belajar.
Dan tanpa disadari Nadira, setiap bukti transfer yang selalu dikirim tepat waktu perlahan berubah menjadi semacam pembenaran bahwa ia masih menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
Sampai pagi itu tiba.
Mobil mereka baru saja melewati sebuah warung kecil di ujung desa ketika Nadira tiba-tiba menegakkan tubuh.
“Adi, pelan sedikit.”
Aditya mengurangi kecepatan.
Di sebuah petak sawah rendah yang masih penuh air setelah hujan, terlihat tiga orang sedang membungkuk di tengah lumpur.
Seorang pria menggulung celananya sampai di atas lutut sambil memegang keranjang plastik.
Dua anak kecil berjalan menerobos air di sekelilingnya. Sesekali mereka membungkuk dan meraba-raba lumpur dengan tangan.
Nadira mengenali mereka hampir seketika.
“Rafi! Alya!”
Pintu mobil langsung terbuka.
Pria yang berada di tengah sawah menoleh.
Bima.
Rafi juga mengangkat kepala.
Anak itu meletakkan keranjangnya, kemudian berlari menuju pematang.
Namun ketika tinggal dua langkah dari ibunya, ia tiba-tiba berhenti.
“Halo, Bu.”
Sapaan sopan itu membuat dada Nadira seolah kosong seketika.
Ia mengulurkan tangan dan mengusap rambut anaknya.
“Rafi sudah setinggi ini? Kenapa ketemu Ibu malah berdiri tegak begitu seperti sedang bertemu Bu Guru?”
Rafi tersenyum canggung.
“Tangan Rafi kotor kena lumpur.”
Alya masih berdiri di sawah di samping ayahnya. Di kepalanya terdapat topi lama yang warnanya sudah mulai pudar.
Nadira membuka kedua lengannya.
“Alya, sini. Naik dulu. Ibu mau peluk.”
Anak itu melihat kedua tangannya yang penuh lumpur, lalu menatap pakaian Nadira yang berwarna terang.
Ia menggeleng.
“Ibu di situ saja. Alya kotor. Nanti baju Ibu kena lumpur.”
Kedua tangan Nadira masih terbuka.
Namun ia tidak tahu berapa lama harus mempertahankan posisi itu.
Bima akhirnya berkata,
“Alya, salam dulu sama Ibu.”
“Halo, Bu.”
Barulah Aditya turun dari mobil.
Ia berdiri di samping pintu lalu mengangguk sopan kepada Bima.
Kedua pria itu belum pernah bertemu sebelumnya.
Tidak ada yang terlalu bersemangat mengulurkan tangan.
Namun tidak ada pula yang menunjukkan sikap bermusuhan.
Nadira melihat keranjang di dekat kaki Rafi.
Di dalamnya terdapat lebih dari selusin kepiting sawah kecil yang oleh warga setempat biasa disebut yuyu.
“Panas begini kenapa kalian bertiga harus turun ke sawah menangkap yuyu? Di pasar juga banyak.”
Alya langsung menjawab,
“Nenek Ratih sudah beberapa hari sakit lutut. Ayah bilang kita cari yuyu supaya bisa dibuatkan makanan kesukaan Nenek.”
Nadira terdiam.
“Nenek siapa?”
Alya malah tampak bingung.
“Nenek Ratih, lah. Memangnya Nenek siapa lagi, Bu?”
Ratih adalah ibu kandung Nadira.
Perempuan yang hendak ia temui setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Jakarta untuk membicarakan rencana pernikahannya.
Namun Nadira bahkan tidak tahu bahwa lutut ibunya sedang sakit.
Sementara mantan suaminya yang sudah enam tahun bercerai darinya justru turun ke sawah bersama kedua anak mereka hanya untuk mencarikan makanan kesukaan ibunya.
Nadira menoleh kepada Bima.
“Ibu sakit sejak kapan?”
“Sudah tiga hari. Kemarin aku bawa Ibu ke puskesmas untuk diperiksa. Dokter bilang belum ada masalah serius. Untuk sementara harus banyak istirahat dan dipantau.”
“Kenapa tidak ada yang meneleponku?”
Bima memandangnya.
“Aku kira Ibu sudah memberitahumu.”
Nadira mengatupkan bibir.
Tiba-tiba Rafi berteriak,
“Ayah! Yang itu lari!”
Bima menoleh.
“Ya tangkap. Kalau cuma dilihatin, memangnya dia bakal masuk keranjang sendiri?”
Alya langsung tertawa.
“Kalau Kak Rafi bisa tangkap yang itu, nanti malam Alya yang cuci piring!”
Rafi berkacak pinggang.
“Kamu sudah janji, ya. Nanti malam jangan pura-pura tangannya sakit.”
Ketiganya tertawa bersama.
Nadira berdiri di atas pematang.
Tiba-tiba ia merasa seperti seorang tamu yang kebetulan lewat di depan sebuah lukisan keluarga yang sebenarnya sudah lama selesai digambar.
Ia membuka bagasi mobil dan mengambil dua kantong hadiah.
“Ibu beli sesuatu untuk kalian.”
Rafi menjawab dengan sopan,
“Iya, Bu. Nanti Rafi ambil.”
Tidak ada teriakan kegembiraan.
Tidak ada adegan kedua anaknya berebut membuka hadiah seperti yang selama ini dibayangkan Nadira.
Bima memandang langit.
“Ayo pulang. Yuyunya sudah cukup. Nenek menunggu kita makan.”
Mendengar tiga kata “Nenek menunggu kita”, tenggorokan Nadira terasa tercekat.
Alya naik ke pematang.
Bahkan anak itu berhati-hati agar celananya yang penuh lumpur tidak menyentuh pakaian ibunya yang bersih.
“Alya pulang dulu sama Ayah untuk bersihin yuyu, ya, Bu.”
“Iya.”
Bima dan kedua anak itu berjalan menyusuri pematang.
Rafi membawa keranjang.
Alya melompati genangan-genangan kecil.
Bima berjalan di belakang sambil terus mengingatkan,
“Pelan-pelan. Nanti terpeleset.”
Aditya berdiri cukup lama di samping Nadira sebelum akhirnya berkata,
“Aku mau mengatakan sesuatu. Jangan mengira aku sedang menghakimimu.”
“Katakan saja.”
“Kedua anak itu tahu kamu ibu mereka. Itu terlihat jelas.”
Aditya berhenti sebentar.
“Tapi aku merasa mereka tidak terbiasa dengan kehadiranmu.”
Nadira langsung menoleh.
“Aku tetap menelepon mereka. Uang sekolah, BPJS, pakaian, komputer, tidak pernah kubiarkan mereka kekurangan apa pun.”
Aditya hanya menjawab pelan,
“Aku tahu.”
Tidak membela.
Tidak menyalahkan.
Justru dua kata itu membuat Nadira untuk pertama kalinya tidak mampu lagi menjadikan semua uang yang pernah ia kirim sebagai jawaban untuk segala sesuatu.
Siang itu, Nadira mengikuti Aditya menuju rumah ibunya dalam diam.
Sepanjang perjalanan yang hanya beberapa ratus meter, pikirannya terus kembali pada pemandangan di sawah tadi. Rafi yang berhenti dua langkah sebelum memeluknya. Alya yang takut mengotori pakaian ibunya. Bima yang tahu lutut Ratih sedang sakit sementara Nadira bahkan tidak tahu ibunya sudah pergi ke puskesmas.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Nadira mulai bertanya pada dirinya sendiri apakah selama ini ia benar-benar hadir sebagai seorang ibu, atau hanya hadir sebagai nama yang muncul setiap bulan di riwayat transfer bank.
Rumah Ratih berdiri di ujung jalan desa, sederhana tetapi terawat. Halaman depannya ditumbuhi pohon mangga, cabai, serai, dan beberapa pot bunga yang mulai miring karena hujan semalam.
Begitu mobil berhenti, Ratih keluar dari pintu depan.
“Nadira?”
Wajah perempuan berusia enam puluh enam tahun itu langsung cerah.
Nadira turun dan memeluk ibunya.
Namun bahkan dalam pelukan itu ia segera menyadari sesuatu.
Cara Ratih berdiri memang sedikit pincang.
“Ibu benar-benar sakit lutut?”
Ratih tersenyum kecil.
“Namanya juga sudah tua.”
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
“Kamu sibuk.”
Jawaban sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada omelan.
Aditya turun membawa dua tas buah tangan. Ratih menyambutnya dengan ramah. Tidak lama kemudian mereka duduk makan siang di ruang depan dengan nasi liwet, sayur asem, sambal terasi, ikan asin, lalapan, dan yuyu yang baru saja dibersihkan Bima bersama anak-anak.
Rafi dan Alya duduk di samping ayah mereka.
Nadira duduk berhadapan dengan kedua anaknya.
Sepanjang makan, ia memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Bima otomatis memisahkan sambal dari piring Alya karena anak itu tidak tahan pedas.
Rafi selalu mengambil air putih setelah tiga suapan.
Alya suka bagian telur dadar yang pinggirannya garing.
Ratih tidak perlu meminta ketika Bima bangkit mengambil obat lututnya.
Semua orang tahu kebiasaan satu sama lain.
Hanya Nadira yang terasa seperti sedang mempelajari sebuah keluarga dari luar.
Selesai makan, Ratih berkata kepada Aditya, “Bima ini meskipun sudah bukan suami Nadira, tetap tidak pernah meninggalkan kami kalau ada urusan mendesak.”
Nadira langsung menatap ibunya.
“Ibu, jangan bicara begitu di depan Mas Aditya.”
Ratih mengernyit.
“Kenapa? Ibu cuma mengatakan kenyataan.”
“Karena aku dan Bima sudah bercerai.”
Ratih terdiam.
Nadira melanjutkan, “Sudah enam tahun. Orang bisa salah paham kalau dia terus mengurus semua urusan rumah ini.”
Bima yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan gelasnya.
“Aku bisa mengurangi datang kalau itu membuatmu tidak nyaman.”
Ratih langsung menoleh.
“Bukan begitu maksud Ibu.”
Namun Bima hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa, Bu.”
Aditya tidak ikut campur.
Malamnya, ketika Nadira dan Aditya duduk di teras, pria itu berkata pelan, “Kamu marah kepada Bima?”
“Aku tidak tahu.”
“Karena dia masih membantu ibumu?”
“Karena semua orang seolah tidak membutuhkan aku.”
Aditya memandang halaman gelap.
“Atau mungkin karena mereka sudah belajar hidup tanpa menunggumu.”
Nadira menoleh tajam.
Aditya segera menambahkan, “Aku tidak sedang menyalahkanmu.”
Nadira tidak menjawab.
Namun kalimat itu masuk terlalu dalam untuk diabaikan.
Keesokan paginya, Nadira pergi ke rumah Bima membawa hadiah yang ia beli dari Jakarta.
Sepasang sepatu baru untuk Rafi.
Kotak alat gambar mahal untuk Alya.
Begitu Rafi mencoba sepatunya, anak itu berjalan beberapa langkah lalu berkata, “Kayaknya tidak bisa dipakai lama, Bu.”
“Kenapa? Ukurannya pas.”
Bima menjelaskan, “Tumit Rafi gampang lecet. Biasanya dia pakai sepatu dengan bagian belakang lebih rendah.”
Nadira terdiam.
Kemudian ia membuka sebuah kotak biskuit untuk Alya.
Bima langsung berkata, “Yang itu jangan.”
Nadira menatapnya.
“Ada kacang mete. Alya alergi.”
Tangan Nadira berhenti.
Ia menatap putrinya.
“Kamu alergi kacang mete?”
Alya mengangguk.
“Kalau sedikit cuma gatal, Bu. Kalau banyak bisa merah-merah.”
Nadira perlahan menutup kembali kotaknya.
Ia tahu nomor rekening sekolah anaknya.
Ia tahu jumlah uang yang harus dikirim setiap tanggal lima.
Namun ia tidak tahu alergi putrinya.
Ia bahkan tidak tahu jenis sepatu yang membuat kaki putranya sakit.
Saat itulah Nadira menyadari bahwa menjadi ibu ternyata terdiri dari ribuan pengetahuan kecil yang tidak bisa dibeli sekaligus.
Beberapa hari berikutnya, ia mulai mencoba sesuatu yang berbeda.
Ia berhenti membeli hadiah.
Sebaliknya, ia bertanya.
“Alya, hari Rabu kamu les gambar jam berapa?”
“Setengah lima.”
“Ibu boleh antar?”
Alya menatapnya seolah tidak yakin.
“Boleh.”
Rafi sedang mengerjakan PR ketika Nadira bertanya, “Jumat kamu latihan badminton?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Empat.”
“Ibu datang.”
Rafi tidak menjawab antusias.
Ia hanya mengangguk.
Nadira mengerti.
Anak-anak tidak membutuhkan janji baru.
Mereka membutuhkan bukti.
Hari Rabu, Nadira tiba sepuluh menit lebih awal.
Begitu keluar dari sekolah, Alya berhenti di gerbang.
“Ibu datang benar-benar?”
Nadira tersenyum.
“Kalau tidak datang, yang berdiri di sini hantu siapa?”
Alya tertawa.
Lalu untuk pertama kalinya sejak Nadira pulang, anak itu berlari dan memeluk pinggang ibunya tanpa peduli seragamnya sedikit kotor.
Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Namun Nadira harus menahan napas agar tidak menangis.
Jumat berikutnya, ia datang ke lapangan badminton Rafi.
Ketika melihat ibunya di tepi lapangan, gerakan Rafi sempat berhenti.
Salah satu temannya berkata, “Fi, itu ibumu?”
Rafi mengangguk.
“Iya.”
Hanya satu kata.
Tetapi Nadira melihat anaknya tersenyum kecil ketika kembali bermain.
Hubungan mereka belum pulih.
Namun setidaknya pintunya mulai terbuka.
Di tengah perubahan kecil itu, masalah lain muncul.
Suatu sore, adik Nadira, Rizky Pratama, datang membawa sekantong kuitansi.
Rizky bekerja sebagai pemasok bahan bangunan kecil-kecilan. Selama Nadira tinggal di Jakarta, ia sering menjadi orang yang diminta membantu Ratih mengurus keperluan rumah.
“Aku cuma mau memperjelas sesuatu,” katanya.
Ia mengeluarkan beberapa kuitansi.
“Selama ini kalau Ibu sakit, rumah bocor, atau perlu uang mendadak, siapa yang mengurus?”
Nadira melihat kertas-kertas itu.
“Kamu.”
“Benar. Tapi sekarang semua orang memuji Bima seolah cuma dia yang peduli.”
Ratih menghela napas.
“Jangan mulai lagi.”
Namun Nadira yang terbiasa bekerja dengan laporan keuangan mulai memperhatikan angka-angka di hadapannya.
Empat tahun terakhir, ia berkali-kali mentransfer uang kepada Rizky untuk keperluan ibu mereka.
Perbaikan atap.
Biaya rumah sakit.
Obat.
Pemeriksaan kesehatan.
Perawatan rumah.
Jumlahnya jika dikumpulkan mencapai hampir seratus delapan puluh juta rupiah.
Nadira membuka aplikasi perbankannya.
“Rizky.”
“Apa?”
“Tahun lalu kamu bilang perbaikan atap menghabiskan tiga puluh juta?”
“Iya.”
Ratih langsung menyahut, “Tiga puluh juta?”
Rizky menatap ibunya.
“Kan banyak yang diganti, Bu.”
Ratih menggeleng.
“Yang memperbaiki waktu itu Pak Dedi sama Bima. Cuma beberapa lembar atap dan kayu.”
Nadira tidak berkata apa-apa.
Ia mencatat.
Ada transaksi lain.
Lima belas juta rupiah untuk uang muka rumah sakit.
Ratih mengernyit.
“Kapan Ibu masuk rumah sakit waktu itu?”
Rizky mulai terlihat gelisah.
“Itu pemeriksaan juga termasuk.”
Nadira menatapnya.
“Lima belas juta untuk pemeriksaan?”
“Kenapa sih, Mbak? Baru pulang dari Jakarta langsung memeriksa aku seperti auditor?”
Nadira menutup laptopnya.
“Karena angka-angkanya tidak cocok.”
Rizky berdiri.
“Aku sudah membantu keluarga bertahun-tahun.”
“Aku tidak bilang kamu tidak membantu.”
“Tapi cara Mbak bertanya seperti aku mencuri.”
“Aku belum mengatakan itu.”
Rizky mengambil kuitansinya dan pergi.
Sejak hari itu, Nadira mulai memeriksa semuanya.
Bukan karena ingin menghukum adiknya.
Ia hanya ingin mengetahui kenyataan.
Dari Bima, ia menemukan informasi lain.
Setahun sebelumnya Ratih pernah mengeluh saldo tabungannya lebih cepat berkurang daripada biasanya.
“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?” tanya Nadira.
Bima menunduk.
“Aku tidak punya bukti.”
“Kamu mencurigai Rizky?”
“Aku pernah melihat orang datang menagih uang ke rumah ini. Rizky bilang cuma utang dagang.”
“Lalu?”
“Aku pikir kalau aku bicara tanpa bukti, Ibu akan sakit hati.”
Nadira menatap mantan suaminya.
“Kamu selalu begitu.”
“Apa?”
“Menentukan sendiri kebenaran mana yang orang lain boleh tahu.”
Bima terdiam.
Nadira melanjutkan, “Waktu Ibu masuk rumah sakit, kamu tidak bilang. Waktu Rafi terkena pneumonia tahun lalu, kamu juga tidak bilang.”
Wajah Bima berubah.
“Kamu tahu?”
“Ibu bilang.”
“Rafi sudah membaik setelah dua malam.”
“Itu bukan masalahnya.”
Nadira berdiri.
“Anakku dirawat dua malam dan aku tidak tahu.”
“Kamu sedang dinas di Surabaya.”
“Terus kenapa?”
“Aku pikir kalau kondisinya memburuk baru aku hubungi.”
Nadira tertawa pahit.
“Jadi aku harus menunggu anakku hampir dalam bahaya dulu supaya pantas diberi tahu?”
Bima menunduk.
“Aku salah.”
Nadira tidak menduga akan mendengar jawaban sesederhana itu.
Bima melanjutkan, “Aku pikir selama aku bisa menangani semuanya, orang lain tidak perlu ikut terbebani.”
“Dan selama enam tahun aku akhirnya terbiasa tidak dibutuhkan.”
Kalimat itu membuat Bima mengangkat kepala.
Nadira menahan air matanya.
“Kamu melindungi citraku di depan anak-anak. Setiap mereka marah, kamu bilang Ibu sibuk. Ibu tetap sayang. Ibu bekerja untuk kalian.”
“Itu benar.”
“Tapi mereka juga berhak marah kepadaku.”
Bima tidak menjawab.
“Mereka berhak bilang aku mengecewakan mereka. Kalau setiap kesedihan mereka kamu tutup dengan alasan untuk membelaku, bagaimana aku bisa tahu apa yang harus kuperbaiki?”
Malam itu mereka berbicara lebih lama daripada selama enam tahun sebelumnya.
Tidak sebagai mantan suami dan istri.
Tidak sebagai dua orang yang saling menuduh.
Namun sebagai dua orang tua yang akhirnya berani mengakui kesalahan masing-masing.
Bima terlalu banyak memikul sendiri.
Nadira terlalu lama percaya bahwa uang dan kesibukan bisa menjadi pengganti kehadiran.
Mereka sama-sama salah.
Mereka juga sama-sama masih punya kesempatan memperbaikinya.
Beberapa hari kemudian, kesempatan untuk menghadapi masalah keluarga yang lebih besar akhirnya datang.
Siang itu Nadira sedang duduk bersama Ratih ketika ponsel ibunya berbunyi.
Notifikasi bank.
Penarikan tunai sebesar dua belas juta rupiah.
Nadira langsung menoleh.
“Ibu tadi tarik uang?”
Ratih menggeleng.
“Tidak.”
“ATM Ibu di mana?”
Ratih berpikir.
“Masih sama Rizky.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nadira membantu ibunya segera memblokir kartu ATM.
Ratih mulai gelisah.
“Mungkin Rizky butuh mendadak.”
“Kalau butuh, apakah dia sudah meminta izin?”
Ratih tidak mampu menjawab.
Mereka memeriksa transaksi lama.
Ada beberapa penarikan yang tidak diingat Ratih.
Nominalnya berbeda-beda.
Satu juta.
Dua juta.
Lima juta.
Ratih semakin pucat.
Dua hari kemudian, masalah menjadi semakin serius.
Sebuah unggahan anonim muncul di grup Facebook warga.
Isinya menuduh Bima mendekati mantan mertuanya karena mengincar tanah seluas lebih dari tiga ratus meter persegi.
Foto Bima ketika keluar dari Kantor Pertanahan juga ikut diunggah.
Di bawahnya terdapat puluhan komentar.
Ada yang membela.
Ada yang mencibir.
Namun yang paling menyakitkan terjadi di sekolah.
Seorang teman Rafi berkata ayahnya hanya berpura-pura baik supaya mendapatkan tanah Nenek Ratih.
Rafi marah dan berkelahi.
Ketika Nadira tiba di sekolah, Bima sudah duduk di depan putranya.
“Kamu memukul temanmu?”
Rafi menahan tangis.
“Dia bilang Ayah penipu.”
“Ayah tanya kamu memukul atau tidak.”
Rafi mengangguk.
“Iya.”
“Kalau begitu minta maaf.”
“Tapi dia bohong!”
“Kesalahan dia berkata bohong adalah urusan dia. Kesalahan kamu memukul adalah urusan kamu.”
Rafi akhirnya meminta maaf.
Dalam perjalanan pulang, anak itu bertanya kepada Nadira,
“Ibu percaya Ayah mau mengambil tanah Nenek?”
Pertanyaan itu menusuk jauh lebih dalam daripada semua komentar Facebook.
Kali ini Nadira tidak ragu.
“Tidak.”
Rafi menatapnya.
“Ibu percaya Ayah?”
Nadira mengangguk.
“Ibu percaya sebelum ada bukti, kita tidak boleh menuduh orang.”
Malamnya, Nadira meminta Bima menunjukkan seluruh dokumen tanah.
Ternyata Ratih sendiri yang meminta Bima membantu mengecek SHM karena terdapat perbedaan batas lama dengan pagar yang sekarang.
Tidak ada surat jual beli.
Tidak ada hibah.
Tidak ada nama Bima di dokumen kepemilikan.
Semua tuduhan itu tidak memiliki dasar.
Tetapi seseorang tahu Bima membawa dokumen tersebut.
Seseorang juga mempunyai akses ke ponsel Ratih.
Seseorang yang tahu Bima pergi ke Kantor Pertanahan.
Nama yang sama terus muncul.
Rizky.
Keluarga akhirnya berkumpul di rumah Ratih.
Nadira meletakkan laporan transaksi di meja.
Bima membawa dokumen tanah.
Ratih membawa kartu ATM yang sudah diblokir.
Rizky duduk di depan mereka dengan wajah tegang.
Nadira mulai bicara.
“Penarikan dua belas juta ini dilakukan ketika Ibu sedang di rumah.”
Rizky menjawab cepat, “Aku cuma pinjam.”
“Tanpa izin?”
“Aku mau mengembalikan.”
“Dari uang apa?”
Rizky diam.
Nadira mengeluarkan catatan lain.
“Perbaikan atap tiga puluh juta. Biaya sebenarnya kurang dari lima belas juta.”
Rizky mulai berkeringat.
“Masih ada ongkos lain.”
“Yang mana?”
Tidak ada jawaban.
“Biaya rumah sakit lima belas juta. Ibu tidak dirawat saat itu.”
“Cukup, Mbak.”
“Belum.”
Nadira mengeluarkan tangkapan layar unggahan tentang Bima.
“Siapa yang mengambil foto Bima di Kantor Pertanahan?”
Rizky menatap meja.
Bima tidak berkata apa-apa.
Ratih akhirnya berbisik,
“Rizky, jawab.”
Pria itu menutup wajah dengan kedua tangannya.
Beberapa detik kemudian bahunya mulai bergetar.
“Aku takut.”
Nadira menatapnya.
“Takut apa?”
“Takut semuanya ketahuan.”
Sedikit demi sedikit, seluruh cerita keluar.
Dua tahun sebelumnya Rizky ikut investasi tanah bersama seorang kenalan.
Ia meminjam uang.
Investasi gagal.
Untuk membayar cicilan lama, ia membuat utang baru.
Utangnya akhirnya mendekati sembilan ratus juta rupiah.
Awalnya ia hanya memakai satu juta dari uang Ratih.
Kemudian dua juta.
Lima juta.
Lalu ia mulai melebihkan laporan biaya kepada Nadira.
Setiap kali berhasil, rasa takutnya justru bertambah.
Ketika Bima mulai bertanya tentang saldo Ratih, Rizky merasa posisinya terancam.
Maka ia memutuskan membuat Bima terlihat mencurigakan terlebih dahulu.
“Kalau orang-orang percaya Bima mengincar tanah,” katanya sambil menangis, “kalau nanti dia bicara soal uang Ibu, orang akan menganggap dia cuma ingin menjatuhkan aku.”
Ratih berdiri.
Tangannya gemetar.
“Kamu memfitnah orang yang enam tahun ini mengurus anak kakakmu dan membantu Ibu?”
Rizky menangis.
“Maaf, Bu.”
“Dan kamu menggunakan cucu Ibu sebagai korban.”
Rizky menunduk.
Untuk pertama kalinya Bima bicara.
“Aku tidak butuh kamu minta maaf kepadaku sekarang.”
Rizky menatapnya.
“Yang harus kamu lakukan adalah mengembalikan apa yang bisa kamu kembalikan, menjelaskan kebenaran, dan berhenti berbohong kepada keluargamu.”
Tidak ada yang memukul Rizky.
Tidak ada yang menyeretnya keluar rumah.
Namun tidak ada pula yang menutupi kesalahannya.
Rizky menjual mobilnya.
Sebagian aset usahanya dilepas.
Ia mulai mengembalikan uang Ratih sedikit demi sedikit.
Ia juga membuat klarifikasi di grup warga bahwa tuduhan terhadap Bima tidak benar dan berasal dari informasi yang ia sebarkan sendiri.
Reputasi yang rusak tidak pulih dalam sehari.
Kepercayaan keluarga juga tidak kembali hanya karena satu kata maaf.
Tetapi setidaknya kebohongan berhenti tumbuh.
Sementara itu, hubungan Nadira dan anak-anak perlahan berubah.
Setiap Minggu malam ia menelepon tepat pukul delapan.
Setiap Rabu ia menemani Alya ke kelas menggambar jika tidak ada pekerjaan mendesak.
Ia hadir pada pertandingan badminton pertama Rafi.
Ketika suatu kali rapat membuatnya gagal datang, Nadira menelepon dua jam sebelumnya.
“Ibu tidak bisa datang sore ini. Ibu minta maaf.”
Rafi hanya menjawab,
“Tidak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu bilang.”
Enam kata itu membuat Nadira menangis setelah telepon ditutup.
Ia akhirnya mengerti.
Kepercayaan anak-anak tidak dibangun lewat hadiah besar.
Ia dibangun lewat janji kecil yang ditepati berkali-kali.
Hubungannya dengan Aditya juga harus menghadapi kenyataan.
Suatu sore mereka duduk di sebuah kedai kopi di Bandung.
Aditya berkata, “Aku melihat kamu berubah.”
Nadira tersenyum.
“Semoga ke arah yang lebih baik.”
“Ke arah keluarga yang selama ini kamu tinggalkan terlalu jauh.”
Nadira menunduk.
Aditya menggenggam tangannya.
“Aku mencintaimu.”
Nadira menatapnya.
“Tapi?”
Aditya tersenyum tipis.
“Tapi kehidupanmu sekarang membutuhkan ruang yang mungkin tidak bisa kuberikan.”
“Aku tidak pernah meminta kamu meninggalkan Jakarta.”
“Aku tahu.”
Ia menarik napas.
“Justru itu. Kalau aku memaksakan pernikahan sekarang, akan ada dua kemungkinan. Kamu kembali sibuk membagi hidup antara Jakarta dan anak-anak, atau aku meninggalkan pekerjaanku kemudian suatu hari diam-diam merasa telah mengorbankan semuanya.”
Nadira menahan air mata.
“Jadi kita selesai?”
“Bukan karena ada orang lain.”
Aditya menggeleng.
“Bukan juga karena aku kalah dari Bima.”
Ia tersenyum.
“Hubungan bukan perlombaan.”
Mereka berpisah dengan pelukan panjang.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pengkhianatan.
Ada cinta yang harus dilepaskan sebelum berubah menjadi kebencian.
Beberapa bulan berlalu.
Nadira berhasil memindahkan sebagian tanggung jawab pekerjaannya sehingga tidak lagi terlalu sering bepergian.
Ia tetap bekerja.
Tetap menjadi perempuan mandiri.
Namun kini hidupnya tidak hanya diukur dari rapat, laporan, dan jumlah nol di rekening.
Pada ulang tahun Alya, Nadira membantu membuat nasi kuning bersama Ratih dan Siti, ibu Bima.
Saat melihat ketiga perempuan itu ribut soal jumlah santan, Bima berdiri di pintu sambil tertawa.
Nadira melirik.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau tidak apa-apa jangan senyum aneh begitu.”
Bima mengangkat tangan menyerah.
Malamnya setelah anak-anak tidur, mereka duduk di teras.
Sudah lama sejak percakapan mereka tidak dipenuhi urusan sekolah, uang, atau masalah keluarga.
Bima berkata, “Kamu bahagia sekarang?”
Nadira memandang halaman.
“Lebih tenang.”
“Bagus.”
Nadira menoleh.
“Kamu?”
Bima berpikir.
“Capek.”
Nadira tertawa.
“Kamu dari dulu juga capek.”
“Iya. Bedanya sekarang ada orang yang kadang bertanya aku capek atau tidak.”
Mereka terdiam.
Nadira berkata pelan, “Bima.”
“Hm?”
“Kalau dulu kita lebih bisa bicara seperti sekarang, menurutmu kita tetap akan bercerai?”
Bima tidak langsung menjawab.
“Mungkin.”
Nadira terlihat terkejut.
Bima tersenyum.
“Karena waktu itu kita adalah dua orang berbeda. Kamu merasa harus mengejar semuanya sebelum kesempatan hilang. Aku merasa laki-laki harus menyelesaikan semua masalah sendirian.”
“Berarti memang harus hancur dulu?”
“Tidak.”
Bima menggeleng.
“Tapi sudah telanjur terjadi. Aku tidak mau mengubah masa lalu menjadi dongeng supaya kita merasa lebih baik.”
Nadira tersenyum kecil.
“Jawabanmu menyebalkan.”
“Aku tahu.”
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak mereka rencanakan mulai tumbuh.
Tidak dramatis.
Tidak ada pengakuan cinta di tengah hujan.
Tidak ada cincin mendadak.
Hanya secangkir kopi yang Bima simpan untuk Nadira.
Pesan singkat menanyakan apakah ia sudah sampai Bandung.
Nadira membawa obat ketika Bima demam.
Mereka mulai tertawa lagi pada hal-hal yang dulu membuat mereka dekat.
Rafi menjadi orang pertama yang menyadarinya.
Suatu malam ia berkata,
“Ibu akhir-akhir ini sering senyum kalau Ayah kirim pesan.”
Nadira hampir tersedak teh.
“Kamu jangan mengurus ponsel orang tua.”
Alya langsung menyahut,
“Kalau Ibu sama Ayah nikah lagi, Alya mau gaun warna ungu.”
Nadira menutup wajah.
“Siapa bilang kami mau menikah?”
Alya menunjuk Rafi.
“Kak Rafi.”
Rafi protes.
“Aku cuma bilang mungkin!”
Bima yang baru masuk dari halaman mendengar semuanya.
Ia menatap Nadira.
Nadira menatapnya.
Keduanya malah tertawa.
Mereka tidak menikah lagi minggu berikutnya.
Bahkan tidak tahun itu.
Mereka memberi waktu.
Mereka belajar apakah perasaan yang tumbuh benar-benar cinta baru atau hanya nostalgia terhadap keluarga lama.
Setelah lebih dari setahun, Bima akhirnya mengajak Nadira berjalan ke sawah yang sama tempat mereka bertemu kembali dulu.
Tanahnya basah setelah hujan.
Di kejauhan Rafi dan Alya sedang membantu Ratih membawa sayuran.
Bima berkata,
“Aku tidak mau kembali ke pernikahan kita yang dulu.”
Nadira memandangnya.
“Aku juga tidak.”
“Aku juga tidak mau kamu menikah denganku karena merasa bersalah.”
“Tidak.”
“Dan aku tidak mau menikah lagi hanya demi anak-anak.”
Nadira tersenyum.
“Banyak sekali syaratmu.”
Bima ikut tersenyum.
“Karena sekali gagal sudah cukup mahal.”
Nadira tertawa pelan.
Bima kemudian mengeluarkan sebuah cincin sederhana.
Tidak ada berlian besar.
Tidak ada dekorasi.
Tidak ada fotografer.
Hanya mereka berdua, bau lumpur, suara serangga sawah, dan langit Garut yang mulai berubah jingga.
“Aku tidak meminta kita mengulang masa lalu.”
Bima menatapnya.
“Aku bertanya apakah kamu mau membangun sesuatu yang baru denganku.”
Mata Nadira perlahan dipenuhi air.
“Kali ini kalau ada masalah?”
“Kita bicara.”
“Kalau aku marah?”
“Aku dengar.”
“Kalau kamu mencoba menyelesaikan semuanya sendiri?”
“Kamu boleh marahi aku.”
Nadira tertawa sambil menangis.
“Kalau aku terlalu sibuk?”
“Aku ingatkan.”
“Kalau anak-anak marah kepada kita?”
“Kita biarkan mereka bicara.”
Nadira mengulurkan tangannya.
“Iya.”
Pernikahan kedua mereka dilakukan sederhana.
Tidak di hotel mewah Jakarta.
Tidak ada pesta ratusan juta rupiah.
Mereka menggelarnya di halaman rumah Ratih.
Rafi berdiri di samping ayahnya.
Alya akhirnya mendapatkan gaun ungu yang ia inginkan.
Ratih menangis paling keras.
Siti berkali-kali mengusap mata sambil mengatakan debu masuk, meskipun semua orang tahu tidak ada debu sebanyak itu.
Rizky datang bersama istrinya.
Ia belum sepenuhnya memperbaiki hidupnya, tetapi ia sudah bekerja kembali, menjalani rencana pembayaran utang, dan perlahan belajar mendapatkan kepercayaan keluarganya dengan tindakan.
Aditya tidak hadir.
Namun pagi itu Nadira menerima sebuah pesan darinya.
“Semoga kali ini kalian membangun rumah yang pintunya selalu terbuka untuk percakapan.”
Nadira membacanya dua kali.
Kemudian membalas,
“Terima kasih karena dulu kamu cukup baik untuk tidak memaksakan dirimu tinggal dalam hidup yang bukan lagi tempatmu.”
Sore setelah acara selesai, Rafi dan Alya mengajak kedua orang tuanya ke sawah.
Alya turun lebih dulu.
“Nanti cari yuyu!”
Nadira berdiri di pematang sambil melihat lumpur.
Bima tertawa.
“Takut kotor?”
Nadira meliriknya.
“Enam tahun lalu mungkin.”
Ia turun.
Kakinya langsung tenggelam sedikit.
Alya memegang tangan ibunya.
“Hati-hati, Bu.”
Rafi membawa keranjang.
Bima berjalan di belakang mereka.
Beberapa menit kemudian Bima terpeleset dan satu tangannya masuk ke lumpur.
Rafi tertawa terbahak-bahak.
“Ayah!”
Bima hendak berdiri sendiri.
“Ayah bisa.”
Nadira langsung mengulurkan tangan.
“Sudah. Jangan mulai lagi dengan ‘aku bisa sendiri’.”
Bima menatap tangan itu.
Lalu tersenyum.
Ia menggenggamnya.
Nadira menarik Bima berdiri.
Empat orang itu kemudian berjalan bersama di tengah sawah yang basah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali menjadi keluarga seperti enam tahun sebelumnya.
Mereka menjadi keluarga yang berbeda.
Keluarga yang sudah pernah retak.
Sudah pernah saling kecewa.
Sudah pernah salah memahami arti tanggung jawab.
Namun kali ini mereka tahu bahwa cinta tidak cukup hanya dengan bekerja keras untuk seseorang.
Cinta juga berarti hadir.
Berbicara.
Mendengar.
Mengakui kesalahan.
Memberi batas.
Dan ketika seseorang yang kita cintai mengulurkan tangan, terkadang keberanian terbesar bukanlah berkata, “Aku bisa sendiri.”
Melainkan berani menjawab,
“Baik. Kali ini kita lakukan bersama.”
