Cinta Pertamaku Menjadi Direktur Utama, Setiap Hari Menekanku Agar Mengundurkan Diri… Malam Itu Dia Datang Membawa Putrinya yang Berusia Enam Tahun

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 360 tayangan
Cinta Pertamaku Menjadi Direktur Utama, Setiap Hari Menekanku Agar Mengundurkan Diri… Malam Itu Dia Datang Membawa Putrinya yang Berusia Enam Tahun
Indeks

Cinta Pertamaku Menjadi Direktur Utama, Setiap Hari Menekanku Agar Mengundurkan Diri… Malam Itu Dia Datang Membawa Putrinya yang Berusia Enam Tahun

Apa yang akan terjadi ketika cinta pertama yang kukira telah menghilang dari hidupku selama hampir tujuh tahun tiba-tiba muncul kembali sebagai direktur utama baru di perusahaan tempatku bekerja?

Bukan hanya itu.

Sejak hari pertama, dia terus mencari kesalahanku, menekan target penjualan, dan membuatku terpojok sampai aku hanya ingin menulis surat pengunduran diri.

Aku sempat mengira Nadira Maheswari masih membenciku.

Sampai suatu malam ketika hujan turun begitu deras di Jakarta, dia datang mengetuk pintu kamar kosku sambil membawa seorang anak perempuan berusia enam tahun.

Dan kalimat pertama yang Nadira ucapkan setelah masuk membuat seluruh duniaku seakan terbalik.

“Ardi, anak ini adalah putrimu.”

Cinta Pertamaku Menjadi Direktur Utama, Setiap Hari Menekanku Agar Mengundurkan Diri… Malam Itu Dia Datang Membawa Putrinya yang Berusia Enam Tahun

Namaku Ardi Pratama. Saat itu usiaku baru menginjak tiga puluh tahun.

Aku tinggal di sebuah kamar kos kecil di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, lebih dari sepuluh kilometer dari kantor. Luas kamarnya hanya sedikit di atas dua puluh meter persegi, cukup untuk sebuah ranjang tunggal, meja lipat, lemari pakaian tua, dan dapur kecil yang begitu sempit hingga jika aku merentangkan kedua tangan, rasanya hampir bisa menyentuh kedua sisi dinding sekaligus.

Setiap pagi, aku mengendarai Honda Beat yang sudah menemaniku sejak masa kuliah, menyelip di antara lautan sepeda motor yang memenuhi Jalan Raya Pasar Minggu menuju kantor sebuah perusahaan media di kawasan Kuningan.

Gaji pokokku sekitar 7,5 juta rupiah per bulan.

Setelah dipotong biaya kos sebesar 2,2 juta rupiah, listrik, bensin, makan, serta uang yang kukirim kepada orang tuaku di kampung di Jawa Tengah, hampir tidak ada yang tersisa.

Di usia tiga puluh tahun, ketika teman-teman seangkatanku sudah ada yang membeli rumah subsidi, ada yang menjadi manajer, bahkan ada yang sudah mengantar anak mereka masuk sekolah dasar, aku masih menjadi staf penjualan biasa.

Tidak punya rumah.

Tidak punya mobil.

Dan tabungan pun nyaris tidak ada.

Aku sebenarnya tidak terlalu sedih dengan semua itu.

Setidaknya, dulu begitu.

Aku sudah terbiasa hidup secukupnya, memiliki cukup uang untuk makan dan berpakaian, tanpa perlu bersaing dengan siapa pun.

Pagi itu, begitu melangkah masuk ke lobi kantor, aku langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Staf administrasi mondar-mandir.

Petugas resepsionis sibuk merapikan pot-pot tanaman.

Petugas keamanan berdiri tegap di depan pintu.

Kepala HR berkali-kali mengingatkan semua orang untuk memeriksa kartu identitas dan merapikan meja kerja masing-masing.

Seorang rekan kerja menarik lenganku lalu berbisik,

“Kamu belum tahu? Kantor pusat baru saja mengirim direktur utama baru untuk mengambil alih cabang Jakarta.”

Aku mengangkat bahu.

“Bos ya tetap bos. Apa bedanya?”

“Yang ini beda. Katanya dia dipindahkan dari kantor pusat Surabaya. Masih muda, perempuan, tapi terkenal sangat keras. Cabang mana pun yang kinerjanya buruk, begitu dia datang biasanya langsung ada perombakan besar-besaran.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau begitu, aku sebaiknya mulai menyiapkan kardus buat membereskan barang-barangku.”

Dia tidak ikut tertawa.

Karena selama tiga kuartal berturut-turut, namaku selalu berada di dekat posisi paling bawah dalam daftar penjualan.

Aku turun ke kedai kopi di lantai dasar untuk membeli segelas es kopi susu.

Saat hendak kembali, sebuah Toyota Alphard hitam perlahan berhenti di depan lobi.

Petugas keamanan segera menghampiri dan membukakan pintu.

Seorang perempuan turun dari dalam mobil.

Dia mengenakan setelan jas abu-abu muda dengan kemeja putih sederhana di dalamnya. Rambut hitam panjangnya dibuat sedikit bergelombang di bagian ujung. Sepatu hak tingginya menghasilkan bunyi teratur di atas lantai batu yang mengilap.

Aku hanya memandangnya selama beberapa detik.

Namun jantungku langsung berdegup begitu keras sampai terasa sakit di dada.

Nadira.

Nadira Maheswari.

Cinta pertamaku.

Perempuan yang dulu duduk di belakang sepeda motor tuaku selama tahun-tahun ketika kami kuliah di Universitas Indonesia, Depok.

Perempuan yang pernah berbagi sepiring nasi goreng denganku karena di akhir bulan uang kami hanya tersisa beberapa puluh ribu rupiah.

Perempuan yang pernah berkata bahwa selama kami terus berusaha, suatu hari nanti kami pasti akan memiliki rumah sendiri.

Dan perempuan yang sama yang meninggalkanku setelah pertengkaran terburuk dalam hidupku.

Aku berdiri membeku.

Seorang pegawai yang berlari melewatiku tanpa sengaja menabrak bahuku hingga gelas kopi di tanganku terlepas.

Tutupnya terlempar.

Kopi tumpah ke lantai dan sebagian terciprat ke bagian belakang sepatu Nadira.

Seluruh lobi mendadak sunyi.

Aku segera membungkuk dan dengan gugup memungut gelas itu.

“Maaf… maaf sekali.”

Nadira berhenti.

Aku bahkan tidak berani menatapnya.

Beberapa detik kemudian, suara yang begitu kukenal terdengar dari atas kepalaku.

“Lain kali lebih hati-hati.”

Hanya itu.

Tidak ada keterkejutan.

Tidak ada rasa canggung.

Dia berjalan melewatiku seolah aku hanyalah seorang pegawai asing yang sama sekali tidak pernah dikenalnya.

Saat itu terasa lebih menyakitkan daripada jika dia menamparku.

Sore harinya, sekretaris direktur utama menelepon.

“Pak Ardi, Ibu Nadira meminta Bapak membawa seluruh berkas pelanggan dan laporan penjualan selama tiga kuartal terakhir ke ruang direktur.”

Aku memasuki sebuah ruangan luas dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di kawasan Kuningan.

Nadira duduk di belakang meja kerjanya yang besar.

Dia bahkan tidak mempersilahkanku duduk.

“Letakkan di sini.”

Aku meletakkan tumpukan dokumen di hadapannya.

Nadira tidak langsung berkata apa-apa. Dia membuka halaman pertama, lalu halaman berikutnya. Suara kertas yang dibalik satu per satu terdengar begitu jelas di ruangan yang sunyi itu.

Aku berdiri di depan mejanya dengan kedua tangan mengepal di samping tubuh.

Setiap detik terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.

Akhirnya Nadira menutup berkas itu.

“Ini hasil kerjamu selama tiga kuartal terakhir?”

Aku menelan ludah.

“Iya, Bu.”

Dia mengangkat wajah.

“Pelangganmu sebagian besar usaha kecil. Nilai kontraknya rendah. Proposal yang kamu kirim minggu lalu tidak memiliki analisis pasar yang cukup. Tidak ada strategi untuk mendapatkan klien baru dengan anggaran besar.”

Aku diam.

Nadira menyandarkan tubuh ke kursi.

“Ardi, kamu datang ke kantor untuk bekerja atau hanya menunggu tanggal gajian?”

Kalimat itu menusuk tepat ke bagian diriku yang selama ini paling ingin kusembunyikan.

Aku tahu kinerjaku memang buruk.

Tetapi mendengar semuanya dari perempuan yang pernah menjadi orang terdekat dalam hidupku membuat rasa malu itu terasa dua kali lebih berat.

“Pasar sedang sulit, Bu. Banyak perusahaan mengurangi anggaran promosi dan—”

“Aku tidak meminta alasan.”

Nada suaranya tetap datar.

“Aku dikirim ke cabang ini karena performanya terus menurun. Aku membutuhkan orang yang mau bergerak, bukan orang yang selalu punya alasan kenapa sesuatu tidak bisa dilakukan.”

Dia mendorong berkas itu ke arahku.

“Dalam satu bulan, penjualanmu harus mencapai enam ratus juta rupiah.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Biasanya, mencapai tujuh puluh juta rupiah dalam sebulan saja sudah membuatku lega.

“Enam ratus juta?”

“Benar.”

“Kalau tidak tercapai?”

Nadira menatapku lurus.

“Kamu sendiri yang memutuskan apakah masih pantas berada di posisi ini.”

Aku mengambil berkas itu.

Untuk sesaat mata kami bertemu.

Tidak ada senyum.

Tidak ada jejak perempuan yang dulu menungguiku di kantin kampus sambil membawa dua gelas teh manis.

Yang ada di depanku sekarang hanyalah seorang direktur utama.

“Baik, Bu.”

Aku berbalik dan keluar.

Begitu pintu tertutup, kakiku terasa kehilangan tenaga.

Hari itu aku yakin satu hal.

Nadira mengenaliku.

Dan dia membenciku.

Malamnya, setelah kembali ke kamar kos, aku membuka laptop dan menulis surat pengunduran diri.

Aku tidak sanggup membayangkan harus menjalani tiga puluh hari penuh dengan tatapan dingin Nadira.

Lebih baik pergi dengan sedikit harga diri daripada menunggu dipecat.

Hujan mulai turun sekitar pukul sembilan malam.

Menjelang tengah malam, suara petir berkali-kali mengguncang kaca jendela kamar.

Aku belum tidur.

Surat pengunduran diri masih terbuka di layar ketika terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku menatap jam.

00.07.

Siapa yang datang pada waktu seperti ini?

Ketukan terdengar lagi.

Aku membuka pintu.

Dan tubuhku membeku.

“Nadira?”

Dia berdiri di lorong dengan rambut basah menempel di pipinya.

Di sampingnya ada seorang anak perempuan kecil yang memeluk boneka beruang.

“Maaf datang malam-malam.”

Suara Nadira terdengar berbeda.

Tidak ada lagi ketegasan seorang direktur.

Hanya kelelahan.

“Hujannya terlalu deras. Mobil berhenti di ujung gang karena air mulai tinggi.”

Aku baru menyadari sepatu dan ujung celananya benar-benar basah.

“Masuk dulu.”

Aku membuka pintu lebar-lebar.

Anak kecil itu mengikuti Nadira masuk.

Aku mengambil dua handuk bersih dari lemari.

“Pakai ini. Aku buatkan minuman hangat.”

Aku pergi ke dapur kecil, memanaskan air, lalu membuat wedang jahe sederhana.

Saat kembali, anak perempuan itu sudah duduk di sisi tempat tidur.

Aku menaruh cangkir di meja.

“Namanya siapa?”

Nadira memandang anak itu.

“Alya.”

Alya.

Nama itu terdengar lembut.

Aku menatap wajahnya lebih lama.

Semakin kulihat, semakin aneh perasaan yang muncul dalam dadaku.

Bentuk alisnya.

Hidungnya.

Bahkan cara dia sedikit mengerutkan bibir saat gugup.

Entah kenapa semuanya terasa begitu akrab.

Nadira meletakkan cangkirnya.

“Ardi.”

Aku menoleh.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang belum pernah kulihat hari itu.

Ketakutan.

“Kenapa?”

Dia menarik napas panjang.

“Alya adalah putrimu.”

Suara hujan seolah menghilang.

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Apa?”

“Alya anak kandungmu.”

Aku menatap anak kecil di sampingnya.

Kemudian Nadira.

Lalu kembali kepada Alya.

“Jangan bercanda soal seperti ini.”

“Aku tidak bercanda.”

“Tapi… bagaimana mungkin?”

Mata Nadira mulai memerah.

“Dua minggu setelah kita berpisah, aku tahu aku hamil.”

Aku mundur satu langkah.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?”

Nadira tersenyum pahit.

“Menghubungimu untuk apa?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

“Waktu itu kita baru lulus. Kamu belum punya pekerjaan. Kita bertengkar hampir setiap minggu. Dan malam terakhir itu kamu sendiri yang mengatakan aku sebaiknya mencari laki-laki lain kalau aku menginginkan kehidupan yang lebih baik.”

Aku menunduk.

Aku masih mengingatnya.

Setiap kata.

Dan sampai malam itu aku tidak pernah menyadari betapa dalam luka yang ditinggalkannya.

“Aku mengetahui kehamilan itu sendirian,” lanjut Nadira. “Aku takut pulang ke rumah orang tuaku. Aku takut dihakimi. Aku juga terlalu marah dan terlalu gengsi untuk kembali kepadamu.”

“Lalu kamu pergi ke Surabaya?”

Dia mengangguk.

“Aku punya teman di sana. Awalnya aku bekerja sebagai pelayan. Setelah itu masuk bagian administrasi sebuah perusahaan kecil. Saat Alya lahir, aku bahkan belum punya tabungan satu juta rupiah.”

Aku menatap Alya.

Anak itu tidak memahami percakapan kami sepenuhnya. Dia hanya memeluk bonekanya semakin erat.

“Aku bekerja sambil membesarkan dia,” kata Nadira. “Malam hari aku belajar. Aku mengambil sertifikasi, belajar bahasa Inggris, belajar manajemen. Sedikit demi sedikit karierku naik.”

“Enam tahun…”

Suaraku pecah.

“Aku kehilangan enam tahun hidup anakku.”

Nadira tidak menjawab.

Aku duduk di lantai.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar merasa kecil.

Bukan karena jabatan.

Bukan karena uang.

Tetapi karena aku menyadari ada seorang anak yang tumbuh tanpa mengetahui siapa ayahnya sementara aku menjalani hidup dengan santai.

“Aku minta maaf.”

Aku menutupi wajah.

“Maaf tidak cukup.”

Nadira mengangguk pelan.

“Memang.”

Kami terdiam cukup lama.

Lalu aku bertanya,

“Kenapa sekarang?”

Nadira menatap hujan di luar jendela.

“Ketika dipindahkan ke Jakarta, aku tidak tahu kamu bekerja di perusahaan itu.”

Dia menarik napas.

“Hari pertama melihatmu di lobi, aku marah.”

“Kamu masih membenciku.”

“Aku tidak tahu.”

Dia menatapku.

“Mungkin aku membenci versi dirimu yang kulihat pagi itu.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu terlihat seperti Ardi tujuh tahun lalu. Selalu merasa tidak cukup baik. Selalu menghindar sebelum mencoba.”

“Jadi kamu sengaja memberiku target enam ratus juta?”

Nadira menunduk.

“Aku ingin melihat apakah kamu bisa berubah.”

Kemudian dia segera menambahkan,

“Tapi itu bukan cara yang benar.”

Aku terkejut.

“Sebagai direktur, aku seharusnya menilai pekerjaanmu secara profesional. Aku tidak berhak menggunakan jabatan untuk menyelesaikan masalah pribadi.”

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, aku melihat Nadira mengakui kesalahannya.

“Besok targetmu akan disesuaikan dengan standar tim.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Nadira mengerutkan kening.

“Apa?”

“Biarkan enam ratus juta.”

“Ardi, jangan bodoh.”

“Mungkin selama ini memang aku terlalu takut.”

Aku memandang Alya.

“Tapi sekarang aku punya alasan untuk berhenti lari.”

Nadira masih menatapku ketika aku berkata,

“Aku akan mencoba.”

Malam itu Nadira dan Alya tidur di tempat tidurku.

Aku tidur di lantai menggunakan tikar tipis.

Sekitar pukul dua pagi, Alya terbangun.

“Ummi…”

Nadira tertidur sangat lelap.

Aku bangun mendekat.

“Kamu kenapa?”

Alya melihatku malu-malu.

“Lapar.”

Aku membuka tas kecilnya dan menemukan susu kotak.

Aku menghangatkannya dengan merendam kotak susu dalam air hangat.

Ketika kuberikan, Alya menerimanya.

“Terima kasih, Om.”

Aku tersenyum.

“Minum pelan-pelan.”

Aku belum berani memintanya memanggilku Ayah.

Aku belum merasa pantas.

Pagi harinya, ketika Nadira dan Alya masih tidur, aku membuka laptop.

Surat pengunduran diri masih ada.

Aku membaca satu kalimat pertama.

Kemudian menekan Ctrl+A.

Delete.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memutuskan untuk bertahan.

Bukan karena Nadira.

Bukan pula karena jabatan.

Karena aku ingin tahu apakah hidupku benar-benar tidak bisa berubah, atau selama ini aku saja yang tidak pernah cukup berani mencoba.

Minggu pertama menjadi minggu yang menyakitkan.

Aku mulai menghubungi kembali klien-klien lama.

Dari dua puluh telepon, lima belas menolak.

Tiga tidak menjawab.

Dua bersedia bertemu.

Tak satu pun langsung menghasilkan kontrak.

Tetapi aku terus bergerak.

Aku datang lebih pagi.

Mempelajari data pasar.

Membandingkan kampanye pesaing.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami bisnis yang selama bertahun-tahun hanya kukerjakan sekadarnya.

Suatu siang Nadira mengembalikan proposal yang kubuat.

“Masih lemah.”

Aku menahan napas.

“Bagian mana?”

Dia menunjuk beberapa halaman.

“Segmentasinya terlalu umum. Data perilaku konsumen tidak mendukung rekomendasi ini.”

“Baik. Aku perbaiki.”

Nadira memandangku sejenak.

Mungkin dia menungguku mencari alasan.

Aku tidak melakukannya.

Dua jam kemudian aku kembali.

Dia membaca proposal baru.

“Lebih baik.”

Hanya dua kata.

Tetapi entah kenapa dua kata itu membuatku tersenyum sepanjang sore.

Target terbesarku kemudian muncul dari sebuah perusahaan peralatan rumah tangga di kawasan industri Cibitung.

Perusahaan itu sedang mencari agensi untuk kampanye nasional.

Nilainya bisa mencapai dua miliar rupiah.

Aku mengirim proposal.

Tidak ada jawaban.

Telepon.

Ditolak sekretaris.

Aku datang langsung.

Tidak bisa bertemu direktur.

Hari berikutnya aku datang lagi.

Hari ketiga.

Hari keempat.

Pada hari kelima, akhirnya Pak Hendra Santoso bersedia memberiku waktu lima belas menit.

Dia membaca profil perusahaan kami sambil sesekali menatapku.

“Pak Ardi.”

“Iya, Pak.”

“Saya lihat rekam jejak penjualan Anda biasa saja.”

Aku tersenyum tipis.

“Betul, Pak.”

“Lalu kenapa saya harus mempercayakan kampanye bernilai miliaran rupiah kepada Anda?”

Aku bisa saja menjawab dengan kalimat promosi.

Aku memilih tidak melakukannya.

“Kalau Bapak menilai saya hanya dari tiga kuartal terakhir, Bapak tidak punya alasan memilih saya.”

Pak Hendra mengangkat alis.

“Menarik.”

Aku membuka laptop.

“Tetapi selama seminggu terakhir saya mengunjungi dua belas toko yang menjual produk perusahaan Bapak.”

Tatapannya berubah.

Aku menunjukkan foto, data, dan catatan.

“Masalahnya bukan produk. Masalahnya adalah pesan promosi perusahaan Bapak sama untuk konsumen Jakarta, Bekasi, dan kota-kota satelit. Padahal perilaku pembeliannya berbeda.”

Lima belas menit berubah menjadi satu jam.

Sebelum aku pergi, Pak Hendra berkata,

“Besok pagi kembali. Bawa tiga pilihan anggaran dan rencana kampanye lengkap.”

Aku tidak tidur malam itu.

Bersama dua orang dari tim strategi, kami menyusun proposal sampai matahari terbit.

Nadira datang ke kantor pukul enam pagi dan melihat lampu ruang rapat masih menyala.

“Kamu belum pulang?”

“Jam tujuh presentasi.”

Dia melihat mataku yang merah.

“Sudah makan?”

Aku menggeleng.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa roti dan kopi.

“Jangan pingsan di depan klien.”

Aku tertawa.

“Perintah direktur?”

“Perintah seorang teman lama.”

Pagi itu aku melakukan presentasi terbaik dalam hidupku.

Pak Hendra dan empat orang manajernya bertanya hampir dua jam.

Ketika selesai, telapak tanganku basah.

Pak Hendra berdiri.

Dia mengulurkan tangan.

“Kita coba bekerja sama.”

Aku menatap tangannya.

Nilai kontrak tahap pertama: 1,8 miliar rupiah.

Aku berhasil.

Malam itu aku pulang dengan membawa salinan kontrak.

Nadira dan Alya sudah berada di kos.

Sejak malam hujan itu, Nadira beberapa kali membawa Alya mengunjungiku agar kami perlahan saling mengenal.

Aku membuka pintu tanpa berkata apa-apa.

Meletakkan kontrak di meja.

Nadira membacanya.

Dia menutup mulut.

“Ardi…”

“Aku melewati enam ratus juta.”

Mata Nadira langsung berkaca-kaca.

Dia berdiri.

Lalu memelukku.

Pelukan pertama kami setelah tujuh tahun.

Aku bisa merasakan bahunya bergetar.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya kamu percaya pada dirimu sendiri.”

Aku memejamkan mata.

Di belakang Nadira terdengar suara kecil.

“Ummi…”

Kami segera melepaskan pelukan.

Alya memandang kami sambil tersenyum nakal.

“Kenapa Ummi peluk Om Ardi?”

Wajah Nadira merah.

Aku berdeham.

“Itu… karena Om Ardi berhasil dapat pekerjaan besar.”

Alya berpikir sejenak.

Lalu dia berlari memeluk kakiku.

“Kalau begitu Alya juga mau peluk.”

Aku menunduk.

Memeluknya.

Dan saat itulah air mataku benar-benar jatuh.

Akhir bulan, seluruh tim menghadiri rapat evaluasi.

Kepala penjualan berdiri di depan layar.

“Pencapaian tertinggi bulan ini diraih oleh Pak Ardi Pratama dengan total nilai kontrak lebih dari 1,8 miliar rupiah.”

Ruangan riuh.

Orang-orang yang sebelumnya mengira aku akan segera keluar perusahaan menatap tidak percaya.

Aku berdiri.

Tidak ada rasa ingin membalas ejekan.

Aneh sekali.

Sebulan sebelumnya aku pasti ingin menikmati kemenangan itu.

Sekarang tidak.

Aku hanya berkata,

“Saya bukan tiba-tiba menjadi orang yang lebih pintar. Saya hanya berhenti menganggap kegagalan sebelumnya sebagai alasan untuk tidak mencoba lagi.”

Aku melihat Nadira.

Dia tersenyum kecil.

Beberapa minggu setelah itu, aku mengajak Nadira bicara.

Bukan di kantor.

Kami duduk di sebuah warung sate di Pasar Minggu setelah Alya tidur di rumah pengasuhnya.

“Aku ingin membicarakan kita.”

Nadira menatapku.

“Aku juga.”

“Aku tidak mau hubungan kita berjalan seperti ini tanpa arah.”

Dia diam.

“Aku juga tidak mau Alya tiba-tiba dipaksa menganggapku sebagai ayah hanya karena hubungan darah.”

Aku menarik napas.

“Aku ingin mengenalnya perlahan. Aku ingin hadir dalam hidupnya. Kalau kamu mengizinkan.”

Nadira mengangguk.

“Alya sudah mulai menunggumu setiap akhir pekan.”

Aku tersenyum.

“Dan soal kita…”

Aku berhenti.

“Nadira, aku masih mencintaimu.”

Matanya membesar sedikit.

“Tapi aku tidak meminta jawaban sekarang.”

Aku melanjutkan.

“Aku tahu kita bukan lagi mahasiswa yang bisa menyelesaikan semuanya dengan janji. Kalau suatu hari kita ingin kembali bersama, aku ingin itu karena kita memang sudah belajar dari kesalahan, bukan hanya karena Alya.”

Nadira terdiam cukup lama.

Kemudian tangannya bergerak di atas meja.

Jari-jarinya menyentuh tanganku.

“Aku juga tidak pernah benar-benar berhenti mencintaimu.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kita mengulang kesalahan yang sama.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kalau begitu jangan terburu-buru.”

Kami mulai dari awal.

Benar-benar dari awal.

Kami pergi makan bersama Alya.

Aku mengantarnya ke sekolah beberapa kali seminggu.

Membantu mengerjakan tugas.

Belajar mengepang rambut meskipun hasilnya selalu miring.

Suatu pagi, ketika aku selesai mengikat rambut Alya dengan susah payah, dia menatap cermin.

“Jelek.”

Aku pura-pura tersinggung.

“Ini gaya baru.”

“Kayak sapu.”

Nadira tertawa sampai hampir menumpahkan kopinya.

Tiga bulan setelah kami bertemu kembali, Alya pulang sekolah dengan demam tinggi.

Nadira sedang memimpin rapat penting di kantor pusat.

Aku yang menjemput.

Aku membawanya ke dokter.

Menunggu sampai obat selesai.

Memasak bubur.

Malamnya, ketika suhu tubuhnya mulai turun, Alya membuka mata.

“Om Ardi?”

“Iya?”

“Om jangan pulang.”

Aku tersenyum.

“Om di sini.”

Dia diam sebentar.

Kemudian berbisik,

“Boleh aku panggil Ayah?”

Aku tidak bisa menjawab.

Tenggorokanku terasa terkunci.

Alya menatapku takut-takut.

“Kalau tidak boleh—”

Aku langsung memeluknya.

“Boleh.”

Air mataku jatuh ke rambutnya.

“Tentu boleh.”

Saat Nadira pulang, dia menemukan kami tertidur di sofa.

Alya bersandar di dadaku.

Tangannya menggenggam bajuku.

Keesokan paginya Nadira berkata,

“Alya cerita.”

Aku tersenyum.

“Aku tidak memintanya.”

“Aku tahu.”

Nadira menatapku lama.

Lalu berkata,

“Mungkin sekarang giliran kita berhenti takut.”

Enam bulan kemudian, aku datang ke rumah orang tua Nadira bersama keluargaku.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada kejutan dramatis.

Hanya dua keluarga yang duduk di ruang tamu, minum teh, membicarakan masa lalu dan masa depan.

Ayah Nadira sempat menatapku lama.

“Dulu kamu membuat anak saya menangis.”

Aku mengangguk.

“Iya, Pak.”

“Sekarang kamu yakin tidak akan mengulanginya?”

Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak akan pernah membuat kesalahan.

Aku berkata,

“Saya mungkin masih bisa salah. Tapi saya berjanji tidak akan lari lagi ketika masalah datang.”

Beliau diam.

Kemudian mengangguk.

Beberapa minggu kemudian kami menikah dalam akad sederhana di KUA Jakarta Selatan.

Aku mengenakan baju koko putih dengan kain batik.

Nadira mengenakan kebaya krem.

Alya berdiri di antara kami dengan gaun kecil warna putih.

Setelah akad selesai, dia berlari memelukku.

“Ayah!”

Semua orang tertawa.

Aku memeluknya erat.

“Sekarang Ayah resmi jadi anggota rumah ini?”

Alya mengangguk serius.

“Tapi Ayah tetap harus antar Alya sekolah.”

Aku tertawa.

“Siap.”

Setelah menikah, aku meminta perusahaan mengubah struktur pelaporanku.

Aku tidak lagi berada langsung di bawah Nadira.

Penilaian kinerjaku dilakukan kepala divisi penjualan.

Aku ingin memastikan tidak ada lagi masalah pribadi yang bercampur dengan pekerjaan.

Nadira setuju.

Di kantor, dia tetap menjadi Ibu Direktur.

Di rumah, dia berubah menjadi perempuan yang bisa panik karena sambal gosong atau kesal karena aku lupa membeli telur.

Kami menyewa rumah kecil di daerah Pejaten.

Tidak mewah.

Tetapi memiliki dua kamar tidur dan dapur yang cukup luas.

Alya mendapat kamar sendiri.

Pada dinding kamarnya dia menempel gambar keluarga pertama yang dibuatnya.

Tiga orang bergandengan tangan.

Di bawahnya tertulis dengan pensil warna:

AYAH, UMMI, ALYA.

Aku menyimpan foto gambar itu di ponsel.

Beberapa bulan kemudian, perusahaan kami menghadapi masalah besar.

Sebuah akun anonim menuduh perusahaan membocorkan data pelanggan.

Berita menyebar cepat.

Beberapa klien menunda kerja sama.

Nadira dipanggil direksi.

Jika masalah tidak diselesaikan, posisinya terancam.

Malam itu aku menemukan Nadira sendirian di ruang kerjanya.

“Pulanglah,” katanya. “Alya menunggu.”

“Kamu?”

“Aku masih banyak pekerjaan.”

Aku menarik kursi.

“Kalau begitu aku di sini.”

Kami membentuk tim krisis bersama bagian IT, legal, dan komunikasi.

Aku menghubungi beberapa klien untuk memastikan fakta.

Tim teknologi memeriksa server.

Dua hari kemudian, kami menemukan bahwa data yang beredar merupakan arsip lama dari perusahaan anak yang sudah tidak aktif. Sejumlah tanggal telah dimanipulasi sehingga tampak baru.

Nadira tidak mengizinkan kami menuduh siapa pun tanpa bukti.

“Kita hanya bicara berdasarkan fakta.”

Pada konferensi pers, perusahaan membuka hasil audit independen dan menjelaskan kronologi secara transparan.

Perlahan kepercayaan klien kembali.

Posisi Nadira selamat.

Ketika dia keluar dari ruang direksi, aku menunggunya di lorong.

Dia berjalan mendekat.

Tidak mengatakan apa-apa.

Hanya memelukku.

“Capek?”

“Banget.”

“Mau pulang?”

Dia mengangguk.

“Alya pasti belum tidur.”

Benar saja.

Ketika pintu rumah dibuka, Alya langsung berlari.

“Ummi!”

Dia memeluk Nadira.

Kemudian memegang tanganku.

“Ayah juga.”

Kami bertiga berdiri di ruang tamu sambil berpelukan.

Aku teringat malam hujan ketika dua orang yang sama berdiri di depan pintu kosku.

Betapa jauh hidup membawa kami sejak malam itu.

Ramadan tahun itu menjadi Ramadan pertama kami sebagai keluarga.

Kami sahur bertiga.

Kadang Nadira terlalu mengantuk hingga salah memasukkan gula ke makanan.

Kadang Alya tertidur sambil memegang sendok.

Saat berbuka, jika kami pulang terlambat, kami membeli takjil di pinggir jalan.

Kolak.

Gorengan.

Es buah.

Tidak ada yang istimewa.

Namun semuanya terasa istimewa.

Pada malam terakhir Ramadan, suara takbir terdengar dari masjid di dekat rumah.

Nadira sudah menyiapkan ketupat, opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang.

Alya berkali-kali mencuri nastar dari toples.

“Alya!”

Nadira memanggil.

Anak itu berlari sambil tertawa.

“Ayah, lindungi Alya!”

Aku berdiri di depannya.

“Nggak bisa. Ayah takut sama direktur.”

Nadira melempar lap kecil ke arahku.

Kami tertawa bersama.

Sekitar pukul sebelas malam, Alya akhirnya tertidur.

Aku membawa dua cangkir teh hangat ke balkon.

Nadira berdiri di sana memandang lampu-lampu Jakarta.

Aku memberikan satu cangkir kepadanya.

“Dingin?”

“Sedikit.”

Aku berdiri di sampingnya.

Beberapa saat kami tidak berbicara.

“Aku dulu mengira hidupku gagal,” kataku akhirnya.

Nadira menoleh.

“Kenapa?”

“Karena umur tiga puluh belum punya rumah, belum punya mobil, karier biasa saja.”

Aku tersenyum.

“Sekarang?”

Aku melihat ke dalam rumah.

Di sofa terdapat boneka Alya.

Di meja ada piring bekas nastar.

Di gantungan dekat pintu terdapat tiga jaket.

“Sekarang aku tahu ukuran hidup ternyata bukan itu.”

Nadira menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Aku juga dulu mengira harus melakukan semuanya sendiri.”

“Kamu memang keras kepala.”

Dia mencubit lenganku.

“Aduh.”

“Siapa yang keras kepala?”

“Direktur utama tercantik di Jakarta.”

“Bohong.”

“Tapi efektif.”

Dia tertawa.

Suara takbir terus menggema di kejauhan.

“Nadira.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah datang malam itu.”

Dia terdiam.

“Kalau malam itu aku tidak datang?”

“Mungkin besok paginya aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri.”

“Serius?”

“Sudah selesai diketik.”

Nadira menatapku.

“Jadi aku menyelamatkan kariermu?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Kamu membawa seseorang yang membuatku ingin menyelamatkan diriku sendiri.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku menggenggam tangannya.

“Selama bertahun-tahun aku menyalahkan keadaan. Padahal sebenarnya aku takut mencoba.”

Aku menarik napas.

“Alya tidak membuatku tiba-tiba menjadi hebat. Kamu juga tidak. Tapi kalian membuatku sadar bahwa hidup ini terlalu berharga untuk terus kujalani setengah hati.”

Nadira tersenyum.

“Aku juga belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Jangan pernah memberikan target enam ratus juta kepada mantan pacar.”

Aku tertawa keras.

“Setuju.”

“Terlalu merepotkan.”

“Dan mantan pacarnya malah jadi suami.”

“Kesalahan terbesar HR.”

Kami tertawa bersama.

Tiba-tiba terdengar langkah kecil dari dalam rumah.

Alya berdiri di pintu balkon sambil mengucek mata.

“Ayah… Ummi…”

“Kok bangun?”

“Takbirnya keras.”

Aku mengangkatnya.

Dia bersandar di bahuku.

“Besok Lebaran?”

“Iya.”

“Alya dapat THR?”

Nadira langsung tertawa.

“Baru bangun sudah mikirin THR.”

Aku mencium rambutnya.

“Ayah kasih.”

“Banyak?”

“Negosiasi dulu.”

Alya mengerucutkan bibir.

Kami masuk ke dalam rumah.

Aku mematikan lampu ruang tamu satu per satu.

Sebelum masuk kamar, aku berhenti di depan gambar keluarga yang dibuat Alya.

Tiga orang bergandengan tangan.

Gambar yang sangat sederhana.

Tetapi di situlah akhirnya aku memahami sesuatu.

Aku tidak bisa kembali ke masa lalu.

Aku tidak bisa hadir pada hari Alya lahir.

Tidak bisa menyaksikan langkah pertamanya.

Tidak bisa menggendongnya ketika pertama kali sakit.

Tidak bisa menghapus malam-malam ketika Nadira harus menangis sendirian.

Tidak ada kesuksesan yang bisa membeli kembali waktu itu.

Yang bisa kulakukan hanyalah hadir mulai sekarang.

Setiap hari.

Ketika mudah.

Ketika sulit.

Ketika bahagia.

Ketika kami bertengkar.

Ketika uang cukup.

Ketika kehidupan kembali memberi masalah.

Karena menjadi suami dan ayah ternyata bukan tentang satu tindakan besar.

Melainkan ribuan tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Bangun pagi mengantar anak sekolah.

Menunggu istri pulang kerja.

Membuat teh ketika dia lelah.

Mendengarkan ketika dia marah.

Meminta maaf ketika salah.

Dan tetap tinggal ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Aku memandang Nadira.

Dia sedang membenarkan selimut Alya.

Perempuan yang pernah menjadi cinta pertamaku.

Perempuan yang pernah menjadi orang asing.

Perempuan yang pernah menjadi atasan yang paling kutakuti.

Dan sekarang menjadi istriku.

Aku mendekat.

Nadira berbisik,

“Kenapa lihat-lihat?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu aneh.”

Aku tersenyum.

“Mungkin.”

Dia mematikan lampu.

Sebelum kamar benar-benar gelap, tangan kecil Alya meraih tanganku dari bawah selimut.

Tangannya yang lain mencari tangan Nadira.

Kami bertiga saling menggenggam.

Di luar rumah, suara takbir masih bergema di langit Jakarta.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa perlu mengejar ke mana-mana.

Aku sudah sampai di rumah.

Bukan rumah yang dibeli dengan miliaran rupiah.

Bukan rumah besar dengan mobil mewah di halaman.

Melainkan tempat di mana dua orang yang pernah kehilangan satu sama lain akhirnya belajar saling memaafkan, dan seorang anak kecil mendapatkan ayah yang selama enam tahun hanya menjadi ruang kosong dalam hidupnya.

Aku pernah berpikir malam Nadira mengetuk pintuku adalah malam ketika kehidupanku hancur.

Ternyata aku salah.

Itulah malam ketika hidupku akhirnya dimulai kembali.