BAGIAN 2 — Pintu Gudang Itu Terbuka, dan Rahasia Terakhir Ayah Raka Mengubah Semua yang Kami Percayai Selama Empat Tahun
Tanganku masih menempel pada kunci ketika pria itu berkata bahwa kematian suamiku bukan kecelakaan.
Aku menoleh perlahan.
—Apa maksud Anda?
Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada pintu di depanku.
—Jangan buka.
Kalimat itu membuatku semakin yakin bahwa aku harus membukanya.
Aku memutar kunci.
Klik.
Begitu pintu terbuka, bau lembap langsung menerpa wajahku.
Ruangan di baliknya kecil, seperti bekas tempat penyimpanan. Hanya ada lampu redup, sebuah kursi plastik, beberapa kardus, dan seorang anak perempuan yang meringkuk di sudut sambil memeluk lutut.
Usianya mungkin sebelas tahun sekarang.
Bukan tujuh tahun seperti dalam foto.
Rambutnya panjang dan berantakan. Wajahnya pucat.
Namun saat melihat Raka, matanya langsung berbinar.
—Kak Raka!
Raka berlari melewatiku.
—Nisa!
Anak perempuan itu bangkit dan memeluk Raka erat.
Aku terdiam.
—Kalian saling mengenal?
Raka mengangguk.
—Aku menemukannya dua minggu lalu, Bu.
Aku semakin bingung.
—Kenapa dia berada di sini?
Pemilik laundry akhirnya menjelaskan.
Nisa sebenarnya tidak dikurung di gudang itu oleh mereka.
Selama beberapa tahun terakhir, ia tinggal berpindah-pindah bersama seorang perempuan tua yang merawatnya. Setelah perempuan itu meninggal beberapa bulan lalu, Nisa hidup bersama seorang kerabat jauh.
Dua minggu sebelumnya, Raka berhasil menemukan Nisa setelah menelusuri alamat-alamat lama yang tersimpan dalam pesan ayahnya.
Namun sejak saat itu, seseorang terus mengikuti mereka.
Pria yang sekarang berdiri di belakangku.
Aku berbalik.
—Siapa Anda sebenarnya?
Pria itu mengepalkan tangan.
—Nama saya Hendra.
—Apa hubungan Anda dengan anak ini?
Ia terdiam.
Justru Nisa yang menjawab.
—Dia paman saya.
Hendra memejamkan mata.
Aku kembali memandang foto lama.
Suamiku.
Nisa.
Hendra.
—Lalu apa hubungan suami saya dengan kalian?
Hendra menarik napas panjang.
—Suamimu bekerja bersamaku dulu.
Dunia seakan berhenti.
Selama bertahun-tahun aku mengenal suamiku sebagai pegawai bagian administrasi sebuah perusahaan distribusi.
Hendra menggeleng ketika aku mengatakan itu.
—Itu pekerjaannya secara resmi. Tetapi beberapa bulan sebelum meninggal, dia menemukan sesuatu di perusahaan.
Suamiku menemukan bahwa sejumlah bantuan yang seharusnya dikirim kepada keluarga pekerja telah dialihkan secara ilegal oleh beberapa orang di dalam perusahaan.
Salah satu penerimanya adalah keluarga Nisa.
Ayah Nisa meninggal dalam kecelakaan kerja. Ibunya jatuh sakit tidak lama kemudian.
Uang santunan yang seharusnya membantu mereka tidak pernah sampai.
Suamiku mengetahuinya.
Dan ia mulai mengumpulkan bukti.
Aku memandang Nisa.
—Kenapa suamiku berfoto dengannya?
—Karena ayahmu yang menemukan keluarga kami.
Suara Nisa sangat pelan.
—Kata nenek, ayah Kak Raka sering datang membawa makanan dan membantu ibu berobat.
Dadaku terasa sesak.
Selama ini aku mengira suamiku sering pulang terlambat karena pekerjaan.
Aku pernah marah.
Pernah menuduhnya lebih peduli pada kantor daripada keluarganya.
Ternyata ada kehidupan lain yang diam-diam sedang ia coba selamatkan.
Namun satu pertanyaan belum terjawab.
Aku menatap Hendra.
—Kalau begitu kenapa Raka mengatakan harus menemukan Nisa sebelum Anda menemukannya?
Wajah Hendra berubah.
—Karena suamimu tidak mempercayaiku.
—Kenapa?
Raka tiba-tiba mengambil sebuah ponsel lama dari tasnya.
—Karena ini, Bu.
Aku mengenalinya.
Ponsel lama suamiku.
—Kamu menemukannya di mana?
—Di dalam kotak perkakas Ayah.
Raka membuka sebuah rekaman suara.
Lalu suara yang sudah empat tahun tidak pernah kudengar memenuhi gudang itu.
Suara suamiku.
“Maya, kalau suatu hari kamu mendengar ini, mungkin aku sudah terlambat menjelaskan semuanya.”
Kakiku lemas.
Aku berpegangan pada dinding.
“Aku menemukan orang-orang yang mengambil uang santunan pekerja. Aku sudah mencoba menghentikan mereka. Tetapi sekarang mereka tahu aku menyimpan salinannya.”
Suara itu berhenti beberapa detik.
Kemudian terdengar lagi.
“Hendra mengatakan dia ingin membantu. Aku ingin mempercayainya. Tetapi ada sesuatu yang tidak cocok. Kalau terjadi sesuatu padaku, lindungi Raka. Dan kalau kalian menemukan pesan tentang seorang anak bernama Nisa, pastikan dia aman.”
Aku menatap Hendra.
—Anda tahu tentang rekaman ini?
—Tidak.
—Lalu kenapa Anda mengejar Raka?
Hendra menunduk.
—Karena saya mencari barang yang disembunyikan suamimu.
—Bukti itu?
Ia mengangguk.
Namun sebelum aku sempat berbicara lagi, Nisa berkata:
—Paman bukan orang jahat.
Kami semua menatapnya.
Nisa berjalan mendekati Hendra.
—Nenek pernah bilang Paman Hendra mencoba membantu Ayah Raka.
Hendra menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lalu untuk pertama kalinya, pria itu menangis.
Empat tahun lalu, katanya, ia memang bekerja sama dengan suamiku untuk membongkar penyelewengan itu.
Tetapi ketika ancaman mulai datang, Hendra ketakutan.
Ia mundur.
Suamiku terus maju sendirian.
Pada malam sebelum kecelakaan itu, suamiku meneleponnya berkali-kali.
Hendra tidak menjawab.
—Saya takut.
Suaranya pecah.
—Besok paginya saya mendengar dia meninggal.
Aku menahan napas.
—Apakah kecelakaannya disengaja?
—Saya tidak tahu.
—Tapi tadi Anda bilang itu bukan kecelakaan.
—Karena ada sesuatu yang tidak pernah diketahui polisi.
Hendra mengambil sebuah benda kecil dari sakunya.
Sebuah kunci penyimpanan.
—Malam sebelum meninggal, suamimu menitipkan ini kepada saya. Saya terlalu takut membukanya. Beberapa bulan kemudian saya kembali, tetapi tempat penyimpanannya sudah kosong.
Raka tiba-tiba berkata:
—Karena Ayah memindahkannya.
Semua mata tertuju kepadanya.
—Apa?
Raka menunjuk tumpukan pakaian anak-anak di lantai.
—Itulah alasan aku bekerja di laundry.
Ternyata beberapa bulan lalu, Raka menemukan pesan terakhir ayahnya.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat:
“Cari pakaian yang tak pernah diambil pemiliknya.”
Raka mengetahui bahwa sebelum meninggal, ayahnya pernah menitipkan beberapa kantong pakaian di laundry ini.
Karena itulah ia meminta pemilik laundry membayar upahnya bukan dengan uang, melainkan dengan izin memeriksa gudang lama dan barang-barang pelanggan yang bertahun-tahun tidak pernah diambil.
Setiap akhir pekan, ia memilahnya satu demi satu.
Pakaian yang kubawa pulang bukan barang curian.
Semua berasal dari kantong-kantong lama yang berkaitan dengan pencariannya.
—Kenapa kamu tidak bilang pada Ibu?
Raka menatapku dengan mata berkaca-kaca.
—Karena aku takut Ibu akan melarangku.
Aku ingin marah.
Tetapi melihat wajahnya, yang kulakukan justru memeluknya.
—Kamu baru empat belas tahun, Raka. Kamu tidak seharusnya menanggung rahasia Ayah sendirian.
Ia menangis di bahuku.
—Aku cuma ingin tahu kenapa Ayah meninggal.
Tiba-tiba pemilik laundry berseru dari belakang.
—Tunggu.
Ia mengambil jaket anak berwarna kuning dari koper.
—Ini yang terakhir kali dititipkan suamimu.
Ia meraba bagian dalam jaket.
Kemudian berhenti.
Ada sesuatu di balik lapisannya.
Raka mengambil gunting kecil dan membuka jahitan dengan hati-hati.
Sebuah benda tipis jatuh ke lantai.
Kartu memori.
Hendra menjadi pucat.
Aku memungutnya.
—Apa isinya?
Raka menatapku.
—Mungkin jawaban yang kita cari selama empat tahun.
Namun tepat saat itu, dari luar gudang terdengar suara kendaraan berhenti.
Lampu menyapu jendela.
Hendra langsung berdiri.
—Matikan lampu!
—Kenapa?
Ia menatap kartu memori di tanganku.
—Karena kalau mereka tahu benda itu masih ada, mereka tidak akan membiarkan kita keluar dari sini dengan mudah.
Dan beberapa detik kemudian, seseorang mulai mengetuk pintu besi dari luar.
Bukan tiga ketukan pelan seperti Nisa tadi.
Melainkan hantaman keras.
Sekali.
Dua kali.
Lalu sebuah suara terdengar dari luar.
—Serahkan barang peninggalan pria itu, dan kami akan pergi.
Aku menggenggam tangan Raka dan Nisa.
Untuk pertama kalinya setelah empat tahun, aku sadar kami akhirnya berdiri tepat di depan kebenaran yang telah merenggut suamiku.
Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menguburnya lagi.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
