Bagian 3 — Tiga Hari Kemudian Seluruh Kebohongan Terbuka, dan Mereka Kehilangan Lebih Banyak daripada yang Ingin Mereka Rampas
Selama tiga hari berikutnya, Dimas mencoba segala cara untuk menghentikanku.
Pertama, ia menelepon.
Aku tidak menjawab.
Lalu ia mengirim pesan.
Kita ini suami istri. Jangan hancurkan semuanya karena emosi.
Lima menit kemudian:
Aku bisa jelaskan soal Selina.
Lalu:
Anak itu belum tentu anakku.
Aku membaca pesan terakhir dua kali.
Bukan karena terkejut.
Melainkan karena aku baru sadar seberapa cepat seseorang bisa melempar perempuan yang beberapa hari lalu ingin ditempatkannya di kamar utama rumah kami ketika keselamatannya sendiri terancam.
Selina juga menghubungiku.
Pesannya jauh lebih panjang.
Ia mengatakan bahwa dirinya “terjebak perasaan”.
Bahwa Dimas selalu mengatakan pernikahan kami sudah tidak harmonis.
Bahwa Dimas menjanjikan akan bercerai.
Bahwa ia tidak tahu rumah itu sepenuhnya milikku.
Bahwa ia tidak mengerti struktur saham perusahaan.
Aku hanya membalas satu kalimat.
Datanglah ke rapat hari Jumat kalau ingin mengatakan sesuatu.
Karena kali ini aku tidak ingin ada pertengkaran di dapur.
Tidak ada teriakan di kamar tidur.
Tidak ada adegan saling melempar barang.
Selama bertahun-tahun, Dimas terbiasa menyelesaikan masalah dengan mengubah cerita.
Jika dilakukan di rumah, besok ia bisa mengatakan bahwa aku cemburu.
Bahwa aku emosional.
Bahwa aku tidak stabil.
Bahwa aku salah dengar.
Maka aku memilih tempat yang tidak memberinya ruang untuk mengubah fakta.
Ruang rapat.
Dokumen.
Angka.
Rekaman.
Saksi.
Dan tanda tangan.
Jumat pagi, rapat pemegang saham luar biasa dimulai pukul sembilan tepat.
Arunika Ventures hadir dengan kepemilikan empat puluh delapan persen.
Dimas dan dua pemegang saham pendiri memegang tiga puluh dua persen.
Sisanya tersebar pada dua investor minoritas dan program kepemilikan manajemen.
Dimas datang memakai setelan abu-abu gelap.
Wajahnya tampak lelah.
Namun begitu kamera konferensi menyala dan seluruh pihak duduk, ia kembali memakai suara seorang direktur utama.
“Sebelum rapat dimulai, saya ingin menegaskan bahwa konflik ini berasal dari masalah pribadi antara saya dan istri saya.”
Aku membuka laptop.
“Tidak.”
Dimas menatapku.
Aku melanjutkan.
“Hubungan pribadi kita hanyalah alasan audit dimulai. Yang dibahas hari ini adalah tindakan korporasi.”
Kepala auditor kemudian mempresentasikan temuan.
Dalam delapan belas bulan terakhir, terdapat pengeluaran yang tidak memiliki dasar bisnis memadai senilai lebih dari Rp1,2 miliar.
Tidak semuanya untuk Selina.
Itu justru membuat persoalannya lebih buruk.
Ada perjalanan pribadi yang diklaim sebagai kunjungan klien.
Pembelian jam tangan senilai Rp86 juta yang dicatat sebagai hadiah relasi.
Sewa mobil premium selama liburan keluarga Dimas ke Yogyakarta yang dimasukkan ke anggaran operasional.
Makan malam pribadi.
Kamar hotel.
Bahkan uang muka apartemen yang sebenarnya akan digunakan Selina setelah melahirkan.
Kemudian auditor membuka dokumen pembentukan PT Mahendra Asset Management.
Perusahaan yang dibentuk Dimas.
Komisarisnya Selina.
Tujuannya tercatat sebagai pengelolaan aset properti.
Dan aset pertama yang direncanakan masuk adalah rumahku.
Dimas langsung menyela.
“Itu hanya struktur perlindungan aset keluarga.”
Kepala legal bertanya,
“Keluarga yang mana?”
Tidak ada yang tertawa.
Justru karena tidak ada yang tertawa, wajah Dimas semakin merah.
Ia menoleh kepadaku.
“Alya, kamu tahu aku tidak bermaksud mengambil rumahmu.”
Aku mengeluarkan salinan percakapannya dengan notaris.
Bukan dari ponselnya.
Notaris Bram sendiri menyerahkan dokumentasi setelah tim hukum mengirimkan surat permintaan klarifikasi.
Dalam salah satu pesan, Dimas menulis:
Jangan jelaskan terlalu detail ke Alya. Bilang saja untuk efisiensi pajak keluarga. Kalau dia baca semua, dia pasti nolak.
Aku membacanya keras-keras.
Kemudian menatapnya.
“Masih mau mengatakan itu bukan upaya mengambil rumah?”
Dimas diam.
Pemegang saham minoritas yang selama ini dekat dengannya mulai saling berbisik.
Lalu tibalah giliran Selina.
Ia datang terlambat dua belas menit.
Tidak memakai blazer putih seperti tiga hari sebelumnya.
Hanya kemeja krem sederhana.
Wajahnya pucat.
Begitu duduk, Dimas langsung berkata,
“Selina tidak perlu ada di sini.”
Aku menjawab,
“Namanya muncul dalam transaksi perusahaan dan struktur badan hukum. Dia berhak memberikan klarifikasi.”
Selina menatap meja.
“Aku memang hamil.”
Ruangan hening.
“Dan Dimas mengatakan bahwa dia akan bercerai setelah restrukturisasi perusahaan selesai.”
Dimas langsung berdiri.
“Jangan bicara sembarangan.”
Selina akhirnya menatapnya.
“Tiga hari lalu kau bilang anak ini anakmu.”
“Aku bilang kita harus tes dulu.”
“Kau juga bilang rumah Pondok Indah akan menjadi rumah kita.”
“Aku tidak pernah—”
“Aku punya pesanmu.”
Kini giliran Dimas terdiam.
Selina mengeluarkan ponsel.
Ternyata bukan hanya aku yang menyimpan bukti.
Pesan mereka ditampilkan.
Salah satunya berbunyi:
Setelah saham Alya dilemahkan, dia tidak punya alasan bertahan di perusahaan. Rumah juga akan kita pindahkan. Aku ingin semuanya selesai sebelum bayi lahir.
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku melihat sesuatu di wajah Selina yang bukan kesombongan.
Ketakutan.
Mungkin juga penyesalan.
Aku tidak merasa kasihan.
Tetapi aku juga tidak perlu menghancurkannya lebih jauh.
Keputusan yang akan dibuat hari itu bukan mengenai moralitas hubungan mereka.
Melainkan tanggung jawab masing-masing.
Setelah dua jam pembahasan, agenda pemungutan suara dimulai.
Pemberhentian Dimas sebagai Direktur Utama mendapat dukungan yang cukup sesuai ketentuan anggaran dasar dan suara pemegang saham yang hadir.
Salah satu investor yang semula dianggap akan membela Dimas justru memilih mendukung pergantian direksi setelah melihat laporan audit.
Dimas mendengar hasilnya tanpa bicara.
Ketika ketua rapat menyatakan jabatan Direktur Utamanya berakhir efektif hari itu, ia menoleh kepadaku.
Tatapannya sulit dijelaskan.
Marah.
Tidak percaya.
Dan mungkin untuk pertama kalinya, sadar bahwa perempuan yang selama ini dianggap hidup di bawah bayangannya ternyata berdiri di bagian fondasi yang menyangga seluruh gedungnya.
“Alya.”
Aku menutup map.
“Kita belum selesai.”
Ia tertawa pahit.
“Mau apa lagi?”
“Perceraian.”
Ruangan kembali diam.
Dimas menatapku lama.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Pengacaraku sudah menyiapkan dokumennya.”
“Alya, jangan gila.”
Aku hampir tersenyum.
Enam tahun.
Enam tahun aku membantu menyusun presentasinya.
Memperbaiki bahasa proposalnya.
Menemani pertemuan dengan klien ketika ia masih gugup bicara bahasa Inggris.
Menggunakan jaringan keluargaku tanpa pernah menuntut namaku dipasang.
Bahkan ketika perusahaan mulai menghasilkan uang besar, aku tetap bekerja sebagai kepala kemitraan karena kupikir kami sedang membangun sesuatu bersama.
Dan sekarang, saat aku memilih pergi, kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah “gila”.
Aku menjawab tenang.
“Yang gila adalah kalau setelah semua ini aku masih tinggal.”
Rapat selesai pukul dua siang.
Dimas mengejarku sampai koridor.
“Alya!”
Aku terus berjalan.
Ia meraih lenganku.
Aku langsung berhenti.
Dua staf keamanan mendekat.
Dimas buru-buru melepaskan.
“Kita bicara sebentar.”
“Apa?”
Ia menurunkan suara.
“Aku salah.”
Itu pertama kalinya aku mendengar kalimat tersebut dari mulutnya tanpa diikuti kata “tapi”.
Namun rupanya aku terlalu cepat berharap.
Karena tiga detik kemudian ia melanjutkan,
“Tapi kita sudah enam tahun menikah.”
Aku tertawa kecil.
“Aku tahu.”
“Kamu mau buang enam tahun begitu saja?”
“Bukan aku yang membuangnya.”
Wajahnya menegang.
“Aku bisa tinggalkan Selina.”
Aku menatapnya.
“Dan anakmu?”
Ia tidak menjawab.
Aku meneruskan,
“Kemarin kamu ingin hidup dengannya. Hari ini, karena kehilangan jabatan, kamu menawarkan untuk meninggalkannya. Apa yang membuatmu berpikir aku ingin hidup dengan laki-laki seperti itu?”
“Aku masih sayang kamu.”
“Tidak.”
Ia terdiam.
Aku menatap langsung ke matanya.
“Kamu sayang pada kenyamanan yang kuberikan.”
Rumah yang selalu rapi.
Istri yang menyelesaikan masalah.
Jaringan bisnis.
Orang yang menutup kekuranganmu.
Orang yang berkali-kali memilih diam demi menjaga harga dirimu.
“Itu bukan cinta, Dimas.”
Aku masuk lift.
Pintu hampir menutup ketika ia berkata,
“Tanpa aku kamu mau jadi apa?”
Kalimat itu persis seperti yang kudengar dalam rekaman bahasa Jepang.
Kali ini aku menjawab.
Dalam bahasa Jepang.
Lancar.
Jelas.
Tanpa ragu.
“Aku sudah menjadi seseorang jauh sebelum bertemu denganmu.”
Wajah Dimas membeku.
Aku melanjutkan dalam bahasa Jepang.
“Dan untuk informasi, pengucapanmu buruk sejak kalimat pertama malam itu.”
Pintu lift tertutup.
Itulah terakhir kalinya aku melihat Dimas sebagai suamiku.
Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.
Tidak secepat dalam cerita-cerita yang biasa orang baca.
Ada dokumen.
Mediasi.
Pemeriksaan aset.
Perdebatan soal harta yang diperoleh selama pernikahan.
Untungnya, rumah Pondok Indah memiliki jejak kepemilikan yang jelas dan telah diatur dalam perjanjian kami.
Upaya pengalihan tidak pernah selesai karena aku tidak pernah menandatangani dokumen.
Dimas sempat meminta bagian dari nilai properti.
Tim hukumnya akhirnya menarik tuntutan setelah dokumen pembayaran dan perjanjian pranikah dibuka.
Audit perusahaan juga berlanjut.
Sebagian pengeluaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus dikembalikan.
Kasus internalnya tidak berubah menjadi drama penangkapan spektakuler seperti film.
Tidak ada polisi datang menyeret seseorang dari ruang rapat.
Tidak perlu.
Dimas mengalami sesuatu yang menurutku jauh lebih realistis.
Reputasinya rusak di kalangan investor.
Dewan mencabut berbagai kewenangan.
Ia harus menjual sebagian kepemilikan pribadinya untuk menyelesaikan kewajiban finansial dan pengembalian tertentu.
Beberapa mitra yang sebelumnya dekat mulai menjaga jarak setelah mengetahui bagaimana dana perusahaan digunakan.
Orang yang selalu memperkenalkan dirinya sebagai “pendiri yang membangun semuanya dari nol” akhirnya dipaksa menghadapi dokumen yang menunjukkan betapa banyak orang lain yang sebenarnya menopang kesuksesannya.
Sementara itu, Selina mengundurkan diri.
Beberapa minggu setelah rapat, ia meminta bertemu denganku.
Aku hampir menolak.
Namun akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi di Kemang.
Perutnya sudah mulai terlihat.
Ia duduk di depanku tanpa makeup berlebihan seperti biasanya.
“Kak Alya.”
“Panggil Alya saja.”
Ia mengangguk.
“Aku mau minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Ia menarik napas.
“Aku tahu meminta maaf tidak memperbaiki apa pun.”
“Benar.”
“Aku juga tahu aku tidak bisa bilang aku korban.”
Aku menatapnya.
Setidaknya kalimat itu jujur.
Selina mengusap gelasnya.
“Aku tahu dia menikah.”
“Ya.”
“Aku pikir… karena dia terus bilang kalian cuma bertahan untuk bisnis, aku membuat alasan untuk diriku sendiri.”
Aku tidak memotong.
“Dan waktu aku mengejek Kak Alya malam itu…”
Ia berhenti.
Wajahnya memerah.
“Aku malu kalau ingat.”
“Kamu seharusnya malu.”
Ia mengangguk.
Tidak menangis.
Aku menghargai itu.
“Aku datang bukan supaya Kak Alya memaafkan aku,” katanya. “Aku cuma mau bilang aku akan bertanggung jawab atas apa yang menjadi bagianku. Pengeluaran perusahaan yang masuk ke aku sudah aku kembalikan sebagian. Sisanya sedang aku cicil.”
“Bagus.”
“Dimas sekarang menuntut tes DNA setelah sebelumnya bilang akan menikahiku.”
Aku tidak terkejut.
Selina tersenyum pahit.
“Sepertinya aku baru mengenalnya setelah dia kehilangan sesuatu.”
Aku menjawab,
“Kadang orang baru terlihat jelas ketika mereka tidak lagi mendapatkan apa yang mereka mau.”
Kami tidak menjadi teman.
Aku juga tidak memeluknya.
Tidak semua luka perlu diakhiri dengan persahabatan.
Sebelum pergi, aku hanya mengatakan satu hal.
“Jangan gunakan anakmu untuk membuat Dimas kembali. Dan jangan biarkan Dimas menggunakan anak itu untuk mengontrol hidupmu.”
Selina mengangguk.
“Itu saja?”
“Itu saja.”
Aku berdiri.
Hidupku terlalu panjang untuk kuhabiskan menjadi hakim bagi semua orang yang pernah menyakitiku.
Enam bulan setelah perceraian resmi selesai, aku mengambil keputusan terbesar dalam karierku.
Aku tidak menjadi CEO Cakra Niaga Asia.
Banyak orang mengira aku akan mengambil kursi Dimas.
Aku tidak mau.
Aku menunjuk seorang profesional bernama Ratih Kusuma, mantan direktur operasi yang sudah bekerja bersama kami hampir empat tahun.
Ia kompeten.
Tenang.
Dan tidak memiliki hubungan keluarga dengan siapa pun di jajaran pemegang saham.
Aku sendiri masuk sebagai anggota dewan yang mewakili Arunika.
Untuk pertama kalinya, aku bekerja dengan namaku sendiri.
Bukan sebagai istri pendiri.
Bukan sebagai “orang belakang layar”.
Bukan perempuan yang dipanggil ketika presentasi bahasa Inggris perlu diperbaiki.
Pada tahun berikutnya, kami membuka unit perdagangan regional baru.
Bukan Jepang.
Vietnam dan Korea Selatan.
Aku memimpin negosiasinya.
Ketika penandatanganan kontrak pertama berlangsung di Seoul, salah satu mitra Korea bertanya,
“Dulu Anda belajar bahasa Korea di mana?”
Aku tertawa.
“Cerita panjang.”
Malam setelah kontrak ditandatangani, aku kembali ke hotel dan membuka ponsel.
Ada pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
Dimas.
Sudah hampir empat bulan ia tidak menghubungiku.
Pesannya singkat.
Aku dengar kontrak Korea berhasil. Selamat.
Aku membaca.
Tidak membalas.
Lima menit kemudian masuk pesan kedua.
Kadang aku masih berpikir semuanya seharusnya tidak berakhir seperti ini.
Aku menatap layar lama.
Dulu kalimat semacam itu mungkin membuatku mempertanyakan keputusanku.
Sekarang tidak.
Aku menghapus pesan.
Bukan karena masih marah.
Justru karena sudah tidak ada lagi yang perlu kubicarakan.
Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar dari orang lain bahwa Dimas sedang membangun bisnis konsultasi kecil.
Tidak sebesar perusahaan lamanya.
Tidak ada investor besar.
Tidak ada tim yang mengurus semua detail untuknya.
Untuk pertama kalinya ia harus benar-benar membangun sesuatu tanpa orang lain diam-diam menyelamatkannya.
Apakah bisnis itu akan berhasil?
Aku tidak tahu.
Dan aku tidak peduli.
Tentang Selina, hasil tes DNA kemudian memastikan Dimas memang ayah anaknya.
Mereka tidak menikah.
Namun melalui proses hukum keluarga, kewajiban Dimas terhadap anak tetap ditetapkan.
Aku tidak mengikuti detailnya.
Anak itu tidak pernah bersalah.
Aku berharap ia tumbuh tanpa mewarisi kebohongan orang dewasa yang membawanya ke dunia.
Setahun setelah malam makan malam itu, aku menjual rumah Pondok Indah.
Banyak orang heran.
Rumah itu milikku.
Dimas tidak mendapatkan satu rupiah pun darinya.
Kenapa dijual?
Karena setiap kali masuk ruang makan, aku masih ingat suara mereka tertawa dalam bahasa Jepang.
Aku tidak mau sebuah rumah menjadi museum penghinaan.
Jadi aku menjualnya kepada pasangan muda yang memiliki dua anak kecil.
Ketika menyerahkan kunci, si anak perempuan berlari naik turun tangga sambil tertawa.
Ibunya meminta maaf.
Aku justru tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Untuk pertama kalinya, suara tawa di rumah itu tidak membuat dadaku sesak.
Aku membeli apartemen lebih kecil di Jakarta Selatan.
Tidak ada delapan kamar.
Tidak ada meja makan untuk dua belas orang.
Hanya ruang yang cukup untukku.
Buku-buku.
Tanaman.
Dan sebuah meja dekat jendela tempat aku biasa bekerja pagi-pagi.
Di ulang tahunku yang ketiga puluh tiga, Pak Harun datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ini milik kakek Anda,” katanya.
Di dalamnya ada pena tua yang dulu sering kupakai bermain ketika kecil.
Di bawah pena itu terselip secarik kertas dengan tulisan tangan Kakek.
Jangan pernah mengecilkan dirimu supaya orang lain merasa besar.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu tertawa sendiri.
Kalau saja aku memahaminya enam tahun lebih awal.
Namun aku tidak menyesal sepenuhnya.
Karena aku belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan buku bisnis mana pun.
Orang tidak selalu menghianatimu karena kamu lemah.
Kadang mereka berani menghianatimu justru karena kamu terlalu lama menggunakan kekuatanmu untuk melindungi mereka.
Mereka mengira kesabaran adalah ketergantungan.
Mereka mengira diam adalah kebodohan.
Mereka mengira kasih sayang berarti kamu tidak punya batas.
Malam itu, Dimas dan Selina duduk di meja makanku menggunakan bahasa asing karena yakin aku tidak mampu memahami mereka.
Padahal masalah sebenarnya bukan aku tidak mengerti.
Aku mengerti semuanya.
Aku hanya belum memutuskan harus melakukan apa.
Begitu keputusan itu dibuat, bahasa tidak lagi penting.
Karena pada akhirnya, bukti berbicara dengan bahasa yang paling sulit dibantah.
Dan aku?
Aku tidak kehilangan perusahaan.
Tidak kehilangan rumah.
Tidak kehilangan masa depan.
Aku hanya kehilangan seorang suami yang ternyata sudah lama berhenti menjadi pasangan.
Sebagai gantinya, aku mendapatkan kembali sesuatu yang bertahun-tahun tidak kusadari telah kuberikan kepadanya.
Namaku.
Suaraku.
Dan hidupku sendiri.
Beberapa orang menyebut itu balas dendam.
Aku tidak.
Balas dendam adalah ketika kita menghancurkan hidup orang lain hanya untuk melihat mereka menderita.
Aku hanya berhenti menopang hidup seseorang yang sibuk menghancurkan hidupku.
Sisanya?
Ia jatuh karena akhirnya harus berdiri dengan kakinya sendiri.
Dan malam ketika aku pertama kali tidur di rumah baruku, tidak ada suara pertengkaran.
Tidak ada pesan yang harus kusembunyikan.
Tidak ada suami yang harus kutunggu pulang.
Aku membuka jendela.
Lampu Jakarta berpendar jauh di bawah.
Ponselku tergeletak di meja.
Tidak merekam apa pun.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak membutuhkan bukti.
Karena tidak ada lagi yang harus kubuktikan kepada siapa pun.
Termasuk kepada diriku sendiri.

