Bagian 3 — Mereka Mengira Ibu Tak Punya Pilihan, Sampai Semua Kunci, Uang, dan Kebohongan Kembali kepada Pemiliknya
Untuk beberapa detik, tak seorang pun bergerak.
Suara pendingin ruangan terdengar lebih keras daripada napas kami.
Aku masih memegang ponsel Ibu.
Di layar terdapat nomor rekening yang baru saja disebutkan pria bernama Rudi itu.
Empat digit terakhirnya sama.
Aku pernah melihat rekening tersebut berkali-kali karena Arga menggunakannya sebelum membuka rekening perusahaan.
Aku mengangkat kepala.
“Arga.”
Dia tidak menatapku.
“Rekening itu masih milikmu?”
Bu Ratih berdiri.
“Nadira, jangan menuduh sembarangan.”
Aku tidak memandangnya.
“Arga. Jawab.”
Akhirnya dia berkata,
“Iya.”
Satu kata.
Cukup untuk mengubah semua yang selama ini kukira sebagai masalah antara ibu mertua dan ibuku menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.
Aku bertanya kepada Ibu,
“Berapa yang sudah Ibu kirim?”
Ibu terlihat bingung.
“Kadang satu juta. Kadang dua. Kalau uang pensiun masuk, biasanya tiga juta.”
“Sejak kapan?”
“Sekitar sepuluh bulan.”
Aku meminta izin memeriksa aplikasi banknya.
Tanganku semakin dingin setiap kali melihat transaksi.
Rp2.000.000.
Rp1.500.000.
Rp3.000.000.
Rp2.500.000.
Hampir setiap bulan.
Beberapa kali dua transfer dalam satu bulan.
Totalnya Rp30,5 juta.
Itulah sebabnya pesan penagihan menyebut “sisa kewajiban” Rp34,5 juta.
Jumlah awal yang mereka tetapkan Rp65 juta.
Semuanya cocok.
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Jadi bukan hanya membuat Ibu bekerja untuk kalian.”
Aku menatap Arga.
“Kalian juga menerima uangnya.”
Arga akhirnya membela diri.
“Uangnya belum saya pakai.”
Aku hampir tertawa.
“Belum dipakai?”
“Masih ada sebagian.”
“Sebagian?”
Dia terdiam.
Aku mengerti.
“Berapa yang tersisa?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka aplikasi perbankanku sendiri.
Arga masih memiliki satu kartu tambahan yang terhubung ke rekening rumah tangga kami.
Selama bertahun-tahun aku membiarkannya karena kami menikah.
Aku langsung memblokir kartu itu.
Lalu aku menghubungi manajer keuangan keluargaku dan meminta seluruh pembayaran otomatis yang berkaitan dengan kartu tambahan Arga dihentikan.
Telepon Arga berbunyi hampir bersamaan.
Notifikasi transaksi ditolak.
Dia menatap layar.
“Nadira, kamu serius?”
Aku menjawab,
“Baru mulai.”
Bu Ratih maju.
“Jangan mencampur masalah suami istri dengan orang tua.”
Aku menatapnya.
“Justru Ibu yang mencampur semuanya sejak awal.”
Dia membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Sekarang saya yang bicara.”
Aku menunjuk dapur.
“Ibu saya pensiunan guru SMP. Tiga puluh tiga tahun dia mengajar anak orang membaca, menulis, dan menghormati sesama manusia.”
Kemudian aku menunjuk meja makan.
“Di rumah yang saya beli, dia disuruh memasak untuk kalian.”
Tak ada jawaban.
“Dia disuruh mencuci piring kalian.”
Diam.
“Menjaga anak kalian.”
Dinda menunduk.
“Mengantar kalian.”
Bu Ratih mencengkeram tasnya.
“Lalu ketika makanannya selesai, dia makan sisa makanan sendirian di dapur karena dianggap tidak pantas duduk bersama keluarga?”
Bu Ratih menjawab cepat,
“Saya tidak pernah bilang tidak pantas.”
Aku mengambil ponsel.
“Bagus.”
Aku memutar rekaman dua minggu sebelumnya.
Suara Bu Ratih memenuhi ruangan.
“Kalau ada tamu keluarga, kamu makan belakangan saja, Salma. Meja penuh. Lagipula kamu kan bukan keluarga inti Arga.”
Rekaman berhenti.
Tidak ada yang bisa berkata apa-apa.
Aku melihat Ibu menunduk.
Aku baru mengerti kenapa selama berbulan-bulan setiap kali menelepon, Ibu selalu mengarahkan kamera hanya ke wajahnya.
Dia tidak pernah memperlihatkan sekeliling rumah.
Dia melindungiku dari kenyataan.
Dan pada saat yang sama, dia melindungi orang-orang yang menyakitinya.
Aku duduk di sebelahnya.
“Ibu.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku minta satu hal.”
“Apa?”
“Mulai hari ini jangan pernah melindungi orang yang memperlakukan Ibu seperti ini.”
Air matanya jatuh.
Dia mengangguk.
Maya yang sejak tadi diam akhirnya berdiri di depan kakaknya.
“Mbak Ratih, saya meminjamkan uang kepada Bu Salma karena saya kasihan waktu ibunya harus operasi.”
Bu Ratih mendecakkan lidah.
“Sudah, Maya.”
“Belum.”
Suara Maya berubah tegas.
“Saya tidak pernah meminta bunga. Saya juga tidak pernah meminta uang terima kasih.”
Dia menunjuk Arga.
“Apalagi memasukkan uang itu ke rekening Arga.”
Bu Ratih menjawab,
“Arga yang mengurus. Saya cuma—”
“Cuma apa?”
Maya memotong.
“Membuat orang tua merasa berutang kepada keluarga kita supaya bisa disuruh-suruh?”
Wajah Bu Ratih merah.
Dinda mencoba menarik tangan ibunya.
“Ma, kita pulang saja.”
Aku langsung menjawab,
“Ya.”
Semua menoleh.
“Silakan pulang.”
Arga berjalan mendekat.
“Nadira, jangan emosional. Ini rumah kita.”
Aku mengangguk.
“Dulu saya juga berpikir begitu.”
“Memang begitu.”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Ini rumah saya yang saya izinkan menjadi rumah kita.”
Wajahnya menegang.
Aku masuk ke ruang kerja dan mengambil map biru dari lemari tahan api.
Aku membawa salinan SHM serta perjanjian perkawinan yang dibuat empat tahun sebelumnya.
Aku menaruhnya di meja.
“Rumah ini aset sebelum perkawinan. Sertifikat atas nama saya. Kita juga memiliki perjanjian pisah harta.”
Arga menatap dokumen itu.
Dia tentu tahu.
Namun mungkin selama ini dia menganggap semua itu tidak penting karena kami hidup sebagai pasangan.
Aku pun pernah berpikir demikian.
Sampai pagi itu.
“Aku suamimu.”
“Benar.”
“Kamu tidak bisa begitu saja mengusir suamimu.”
“Aku tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar hukum.”
Aku sudah menelepon pengacaraku pagi itu setelah melihat transaksi pertama.
Dia menyarankan agar aku tidak membuat tindakan fisik atau mengambil barang pribadi siapa pun.
Jadi aku sudah menyiapkan langkah yang benar.
Aku memberi tahu Arga bahwa aku menginginkan pemisahan tempat tinggal sementara.
Untuk sementara, dia boleh mengambil pakaian dan barang pribadinya.
Jika dia menolak, persoalan kepemilikan dan penggunaan rumah akan diproses melalui jalur hukum sesuai perjanjian perkawinan kami.
Namun untuk Bu Ratih, Dinda, suaminya, dan keluarga lain yang tidak tinggal secara hukum di rumah tersebut, aku meminta mereka mengembalikan semua duplikat kunci dan berhenti menggunakan rumahku sebagai tempat berkumpul.
Bu Ratih tertawa sinis.
“Kamu mau memutus keluarga hanya karena semangkuk nasi?”
Aku menatapnya.
“Bukan.”
Aku mengambil buku catatan Ibu.
“Karena sepuluh bulan manipulasi.”
Aku menunjukkan riwayat transfer.
“Karena Rp30,5 juta yang diambil dari pensiun seorang perempuan tua.”
Aku menunjukkan rekaman.
“Karena ratusan jam pekerjaan tanpa bayaran yang kalian paksa dengan rasa bersalah.”
Lalu aku menunjuk Arga.
“Dan karena suami saya tahu semuanya.”
Itu yang paling penting.
Bukan Bu Ratih.
Bukan Dinda.
Arga.
Orang yang tidur di sebelahku.
Orang yang setiap pagi mencium keningku sebelum aku berangkat.
Orang yang berkata,
“Jangan terlalu capek, nanti sakit lagi.”
Dia melihat ibuku diperlakukan seperti pembantu.
Dan memilih diam.
Lebih buruk lagi, dia menerima uangnya.
Arga mendekat.
“Saya mengaku salah soal rekening. Tapi jangan dibuat seolah saya sengaja menipu Ibu kamu.”
“Kalau bukan menipu, kenapa rekeningmu?”
“Karena Mama tidak punya rekening digital waktu itu.”
Bu Ratih buru-buru mengangguk.
“Benar.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Baik.”
Aku membuka percakapan WhatsApp Ibu dengan nomor “Penagihan”.
“Kalau begitu siapa Rudi?”
Arga membeku.
Aku menghubungi nomor itu lagi.
Kali ini Rudi mengaku bekerja paruh waktu membantu penagihan usaha ekspedisi Arga.
Dia berkata Arga sendiri yang memberikan nomor Bu Salma dan meminta Rudi mengirim pengingat setiap akhir bulan.
Arga langsung menyambar,
“Itu hanya supaya pembayarannya tertib.”
Aku menatapnya lama.
“Pembayaran atas utang yang tidak pernah ada?”
Dia tidak bisa menjawab.
Maya kemudian berkata,
“Kalau ini dibawa ke polisi, saya bersedia menjelaskan bahwa pinjaman asli sudah lunas dan tambahan Rp65 juta bukan permintaan saya.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku tidak langsung mengancam siapa pun dengan penjara.
Aku tidak ingin membuat keputusan hukum hanya berdasarkan kemarahan.
Aku ingin bukti.
Maka hari itu aku meminta semua bukti disalin.
Riwayat bank Ibu.
Percakapan pesan.
Rekaman kamera.
Dokumen pinjaman Maya.
Mutasi transaksi bisnis Arga yang kami miliki.
Proposal modal.
Bukti transfer Rp1,2 miliar.
Semua disimpan.
Sore itu Bu Ratih dan Dinda akhirnya pergi.
Sebelum keluar, Bu Ratih masih berkata,
“Suatu hari kamu akan menyesal lebih memilih ibumu daripada suami.”
Ibu langsung menangis mendengarnya.
Aku justru menjawab,
“Saya tidak pernah meminta Arga memilih antara saya dan ibunya.”
Aku membuka pintu.
“Saya cuma meminta dia memperlakukan ibu saya seperti manusia.”
Bu Ratih pergi tanpa menjawab.
Dinda menyusul dengan membawa dua tas.
Suaminya bahkan tidak berani menatapku.
Arga tidak pergi sore itu.
Dia duduk sendirian di ruang keluarga sampai malam.
Aku membawa Ibu ke kamar utama.
“Mulai hari ini Ibu tidur di sini.”
Ibu langsung menolak.
“Itu kamar kamu.”
“Aku masih punya kamar kerja.”
“Tidak usah.”
Aku membuka lemari.
Di bagian paling bawah aku menemukan sesuatu.
Sebuah tas kain tua.
Di dalamnya terdapat cardigan baru yang kata Ibu dibelikan Bu Ratih.
Label harganya masih ada.
Rp189.000.
Di sampingnya terdapat amplop berisi Rp200.000.
Aku bertanya,
“Ini apa?”
Ibu menjawab lirih,
“Uang yang dikasih Bu Ratih setelah Ibu menemani dia ke rumah sakit seharian.”
Aku memejamkan mata.
Jadi cardigan itu bukan hadiah.
Itu seperti upah kecil yang kemudian diceritakan Ibu kepadaku sebagai bentuk kebaikan keluarga.
Aku duduk di tepi kasur.
“Kenapa Ibu bohong waktu aku tanya keadaan Ibu?”
Dia tersenyum sedih.
“Karena setiap kali kamu menelepon, kamu kelihatan lelah.”
Aku menunduk.
Ibu melanjutkan,
“Kamu sudah membiayai rumah ini, biaya hidup, obat Ibu, banyak hal. Ibu tidak mau menjadi beban.”
Kalimat itu menghancurkanku lebih kuat daripada semua pertengkaran sebelumnya.
Aku memegang kedua tangannya.
“Ibu tidak pernah menjadi beban.”
“Nadira…”
“Dengar.”
Aku menatap matanya.
“Ayah meninggal waktu aku kuliah semester empat. Ibu menjual gelang pernikahan supaya aku tidak berhenti kuliah.”
Ibu mulai menangis.
“Waktu aku diterima kerja pertama kali di Jakarta, Ibu naik bus malam sebelas jam cuma untuk mengantarkan dua kotak makanan.”
Aku tertawa kecil sambil menangis.
“Waktu aku gagal promosi pertama kali, Ibu yang bilang kegagalan bukan bukti bahwa aku bodoh.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kalau sekarang aku punya rumah, pekerjaan, dan hidup yang layak, sebagian karena Ibu.”
Dia memelukku.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur satu kamar dengan ibuku.
Seperti ketika aku masih sekolah.
Arga tidur di ruang tamu.
Keesokan harinya, aku bertemu pengacara.
Aku tidak langsung menggugat cerai.
Aku memberi diriku tujuh hari.
Bukan untuk memberi Arga kesempatan memanipulasi keadaan.
Tetapi agar aku sendiri mengambil keputusan ketika pikiranku jernih.
Selama tujuh hari itu, sesuatu yang menarik terjadi.
Arga mulai mengirim pesan.
Hari pertama:
“Aku benar-benar menyesal.”
Hari kedua:
“Aku tertekan karena bisnis gagal.”
Hari ketiga:
“Aku hanya ingin membantu Mama dan Dinda.”
Hari keempat:
“Kenapa kesalahan satu tahun harus menghapus pernikahan empat tahun?”
Aku membaca semuanya.
Tidak satu pun pesan pertama itu membicarakan Ibu.
Baru pada hari kelima dia menulis,
“Aku minta maaf kepada Bu Salma.”
Aku sudah tahu jawabannya.
Aku bertemu dengannya di sebuah kedai kopi dekat kantor pengacaraku.
Arga terlihat jauh lebih tua.
“Aku akan kembalikan uang Bu Salma.”
“Kapan?”
“Beri aku waktu.”
“Berapa yang masih ada dari Rp30,5 juta?”
Dia menunduk.
“Sekitar delapan juta.”
Aku mengangguk.
“Yang lain?”
“Terpakai.”
“Untuk?”
Dia tidak menjawab.
Aku tidak perlu tahu semuanya lagi.
Aku mengeluarkan satu lembar.
Itu rancangan kesepakatan pengembalian uang yang dibuat pengacaraku.
Seluruh Rp30,5 juta harus dikembalikan kepada Ibu.
Bukan hanya sisa di rekening.
Selain itu, transaksi Rp320 juta kepada Dinda dan Rp175 juta untuk kebutuhan Bu Ratih akan dimasukkan ke dalam pemeriksaan aset dan kewajiban karena bersumber dari modal yang diberikan berdasarkan proposal usaha yang ternyata tidak sesuai penggunaannya.
Arga membaca dokumen itu.
“Kamu mau menghancurkan keluargaku?”
Aku menjawab,
“Tidak.”
Aku menunjuk angka-angkanya.
“Kalian sudah melakukannya sendiri. Saya cuma berhenti membayar akibatnya.”
Pada hari kedelapan, aku mengajukan proses perceraian.
Arga sempat meminta mediasi.
Aku datang.
Aku mendengarkan.
Dia mengatakan dirinya merasa rendah diri sejak kehilangan pekerjaan tetap.
Dia merasa menjadi “suami yang hidup dari uang istri”.
Dia mulai membiarkan ibunya mengambil lebih banyak kendali di rumah karena ingin merasa setidaknya keluarganya masih menghormatinya.
Aku bisa memahami rasa malu itu.
Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.
Aku berkata kepadanya,
“Kalau kamu merasa kecil karena penghasilanku lebih tinggi, kita bisa bicara.”
Dia diam.
“Kalau bisnis gagal, kita bisa bicara.”
Matanya mulai merah.
“Kalau kamu perlu bantuan, kita bisa bicara.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi kamu memilih mendapatkan rasa berkuasa dengan membiarkan seorang perempuan berusia enam puluh empat tahun mencuci piringmu karena dia takut dianggap berutang.”
Arga menangis.
Aku juga menangis.
Bukan karena ingin kembali.
Tetapi karena akhirnya aku menerima bahwa lelaki yang pernah kucintai memang mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa kuterima sebagai fondasi pernikahan.
Prosesnya membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Tidak ada adegan dramatis seperti di film.
Tidak ada hakim mengetuk meja lalu semuanya selesai dalam lima menit.
Ada dokumen.
Pertemuan.
Mediasi.
Pemeriksaan transaksi.
Diskusi soal kewajiban.
Dan banyak hari melelahkan.
Tetapi sedikit demi sedikit, hidup kami kembali teratur.
Arga akhirnya mengembalikan seluruh Rp30,5 juta milik Ibu melalui beberapa tahap setelah menjual mobil keduanya dan sebagian perlengkapan usaha.
Dinda mengembalikan sebagian besar Rp320 juta setelah dibuat perjanjian terpisah.
Untuk sisa yang belum mampu dibayar, dibuat jadwal cicilan resmi.
Bu Ratih tidak pernah meminta maaf kepadaku.
Namun dua bulan setelah kejadian, dia datang menemui Ibu.
Aku sengaja tidak ikut duduk.
Percakapan itu milik mereka.
Dari ruang kerja aku hanya mendengar suara Bu Ratih beberapa kali meninggi lalu melemah.
Setelah hampir satu jam, dia pergi.
Aku bertanya kepada Ibu,
“Dia minta maaf?”
Ibu tersenyum.
“Dia bilang mungkin caranya salah.”
Aku mendengus.
“Itu bukan minta maaf.”
Ibu tertawa untuk pertama kalinya ketika membahas masalah itu.
“Ibu tahu.”
“Lalu Ibu bilang apa?”
Ibu menuangkan teh.
“Ibu bilang, ‘Kalau suatu hari kita bertemu lagi, saya akan menyapa. Tapi saya tidak akan pernah lagi bekerja untuk membayar utang yang tidak saya punya.’”
Aku terdiam.
Kemudian memeluknya.
Enam bulan kemudian, rumah ini berubah.
Meja makan yang dulu selalu dipenuhi keluarga Arga sekarang jauh lebih sepi.
Tapi anehnya, rumah terasa lebih hidup.
Ibu mengikuti kegiatan literasi di sebuah taman baca masyarakat di Tangerang Selatan.
Tiga sore setiap minggu, dia mengajar anak-anak membaca.
Tidak dibayar besar.
Hanya uang transport dan makan.
Tetapi setiap kali pulang, wajahnya bersinar.
Kadang murid-muridnya memberikan gambar.
Ada yang menulis:
“Terima kasih, Bu Salma.”
Ada yang membuat bunga dari kertas.
Semuanya ditempel Ibu di dinding dekat meja makan.
Suatu Minggu, aku pulang dari kantor setelah lembur.
Dari pintu sudah tercium aroma sop buntut.
Aku masuk dan melihat Ibu sedang menata dua piring.
Aku tertawa.
“Ibu masak lagi?”
Dia menjawab,
“Untuk anak sendiri boleh.”
Aku menggantung tas.
“Kalau capek jangan masak.”
Dia mendelik.
“Jangan mengatur guru pensiunan.”
Aku tertawa.
Lalu sesuatu membuatku berhenti.
Ibu menarik kursi di kepala meja.
Kursi yang dulu dikatakan Bu Ratih sebagai “tempat Arga”.
Dia duduk di sana dengan santai.
Tidak ragu.
Tidak meminta izin.
Aku duduk di seberangnya.
Kami makan bersama.
Sop masih panas.
Nasinya baru matang.
Tidak ada orang yang makan di dapur.
Beberapa minggu kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Arga mengirim satu pesan terakhir.
“Aku berharap suatu hari kamu bisa memaafkan aku.”
Aku membaca lama.
Lalu menjawab:
“Aku sudah tidak marah setiap hari. Tapi memaafkan tidak berarti mengulang hidup yang sama.”
Setelah itu aku menghapus percakapan kami dari daftar utama.
Bukan dengan kebencian.
Hanya selesai.
Setahun setelah malam ketika aku menemukan Ibu makan nasi dingin, taman baca tempatnya mengajar mengadakan acara kecil untuk para relawan.
Aku datang terlambat karena rapat.
Ketika memasuki ruangan, sekitar dua puluh anak duduk di lantai.
Ibu berdiri di depan papan tulis.
Rambutnya masih sama-sama putih.
Tangannya masih memiliki beberapa garis kasar akibat usia.
Tetapi tubuhnya tidak lagi membungkuk seperti malam itu.
Dia sedang membaca sebuah cerita.
Anak-anak mendengarkan.
Salah satu anak kemudian bertanya,
“Bu Salma, kenapa tokoh di cerita ini tidak melawan sejak awal?”
Ibu tersenyum.
Dia menjawab,
“Kadang orang diam bukan karena lemah.”
Aku berhenti di dekat pintu.
Ibu melanjutkan,
“Kadang dia hanya terlalu lama percaya bahwa menjaga keluarga berarti harus menerima semuanya.”
Seorang anak bertanya,
“Terus kapan dia harus berhenti?”
Ibu memandang mereka.
“Ketika kebaikannya mulai dipakai orang lain untuk merendahkan dirinya.”
Dadaku terasa sesak.
Tetapi kali ini bukan karena marah.
Setelah acara, kami pulang bersama.
Dalam perjalanan, Ibu berkata,
“Nadira.”
“Hm?”
“Ibu mau beli meja makan baru.”
Aku tertawa.
“Meja yang sekarang kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Terus?”
Dia menatap keluar jendela.
“Ibu cuma ingin meja bundar.”
“Kenapa bundar?”
Dia tersenyum.
“Supaya tidak ada kepala meja.”
Aku terdiam sebentar.
Lalu tertawa sampai mataku berair.
Akhir pekan itu kami membeli meja bundar dari toko furnitur lokal.
Meja lama kami berikan kepada sebuah rumah singgah.
Ketika meja baru datang, Ibu berdiri mengelilinginya.
“Bagus.”
Aku bertanya,
“Sekarang Ibu mau duduk di mana?”
Dia menarik kursi terdekat.
“Di mana saja.”
Jawaban sederhana.
Tetapi aku tahu betapa mahal harga yang harus kami bayar untuk sampai pada kalimat itu.
Malam itu kami makan bertiga bersama Maya yang datang dari Bekasi.
Maya membawa sekotak kue.
Dia masih merasa bersalah karena pinjamannya dulu dipakai kakaknya sebagai alat menekan Ibu.
Ibu sudah berkali-kali mengatakan itu bukan kesalahannya.
Sebelum pulang, Maya memberikan sebuah amplop.
Ibu menolak.
“Apa lagi ini?”
“Bukan uang.”
Di dalamnya ada fotokopi surat pelunasan lama, kali ini dengan tulisan besar di bagian bawah:
LUNAS. TIDAK ADA KEWAJIBAN APA PUN.
Maya tersenyum.
“Biar kalau ada yang macam-macam lagi, tempel saja di kulkas.”
Ibu tertawa keras.
Aku ikut tertawa.
Surat itu benar-benar ditempel di kulkas.
Bukan karena kami masih takut ditagih.
Tetapi sebagai pengingat.
Utang uang bisa dilunasi.
Utang budi tidak pernah boleh dijadikan rantai.
Dan keluarga bukanlah orang yang paling lantang menuntut penghormatan.
Keluarga adalah orang yang ketika melihatmu duduk sendirian dengan nasi dingin, akan mengambil piringnya sendiri, duduk di sampingmu, dan berkata:
“Kita makan bersama.”
Malam ketika aku pulang lebih cepat itu memang menghancurkan pernikahanku.
Namun malam yang sama mengembalikan sesuatu yang jauh lebih penting.
Harga diri ibuku.
Keberanianku untuk berhenti membenarkan perlakuan buruk hanya demi mempertahankan nama “keluarga”.
Dan sebuah rumah yang akhirnya benar-benar terasa seperti rumah.
Sekarang setiap kali aku harus pergi dinas, aku masih menelepon Ibu.
Aku tetap menanyakan hal yang sama.
“Ibu sudah makan?”
Bedanya, sekarang dia sering mengarahkan kamera ke meja bundar kami.
Kadang ada teman-teman taman baca.
Kadang tetangga.
Kadang hanya dia sendiri dengan sepiring nasi hangat.
Dan hampir setiap kali aku bertanya apakah semuanya baik-baik saja, Ibu akan mengangkat piring ke arah kamera sambil tertawa.
“Tenang saja.”
“Nasinya masih panas.”

