BAGIAN 2 — Saat Pintu Rumah Digedor, Kirana Membuka Rahasia Kartu Memori yang Membuat Ayahnya Akhirnya Mengetahui Kebenaran Selama Bertahun-Tahun
Gedoran di pintu semakin keras.
—Arman! Aku tahu Kirana ada di dalam! Buka pintunya!
Kirana langsung bersembunyi di belakangku. Jemarinya mencengkeram bajuku begitu kuat hingga terasa gemetar.
Arman menatap putrinya, lalu menatap kartu memori di tanganku.
Untuk pertama kalinya sejak Kirana datang, wajahnya tidak lagi menunjukkan kebingungan.
Yang tersisa hanya kemarahan seorang ayah yang akhirnya menyadari bahwa selama bertahun-tahun ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Aku segera berkata:
—Jangan buka pintu dulu. Kita harus tahu apa isi kartu ini.
Arman mengangguk.
Ia mengambil laptop dari kamar, sementara aku membawa Kirana menjauh dari pintu.
Gedoran kembali terdengar.
—Kalau kalian tidak membuka pintu, aku panggil orang!
Arman tidak menjawab.
Kartu memori dimasukkan ke laptop.
Di dalamnya terdapat beberapa folder.
Ada foto, rekaman suara, tangkapan layar percakapan, serta sebuah folder dengan nama sederhana: “Kirana”.
Arman membukanya.
Wajahnya perlahan berubah.
Di sana terdapat salinan percakapan antara ibu Kirana dan suaminya sekarang. Sebagian membahas uang yang dikirim Arman.
Namun ada sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Beberapa bulan sebelumnya, ibu Kirana rupanya berencana pindah mengikuti suaminya ke daerah lain.
Masalahnya, mereka tidak ingin membawa Kirana.
Dalam salah satu rekaman, terdengar suara pria itu berkata:
—Kalau dia tetap tinggal bersama kita, biaya sekolahnya akan terus bertambah.
Kemudian suara ibu Kirana menjawab:
—Aku sedang mencari sekolah berasrama yang murah. Kalau sudah masuk, kita tidak perlu memikirkannya setiap hari.
Arman mengepalkan tangan.
Tetapi Kirana tiba-tiba berkata:
—Bukan itu yang paling penting, Yah.
Kami menoleh kepadanya.
Kirana menunjuk sebuah folder lain.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa foto kuitansi pembayaran sekolah.
Jumlahnya jauh lebih kecil daripada uang yang selama ini dikirim Arman.
Kemudian kami menemukan percakapan yang menjelaskan semuanya.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar uang kebutuhan Kirana digunakan untuk membayar cicilan kendaraan, kebutuhan rumah tangga, dan biaya sekolah adik tirinya.
Kirana sendiri hanya mendapat sedikit uang saku.
Seragamnya tidak pernah diganti.
Sepatunya berasal dari pemberian teman.
Bahkan ketika ia sakit beberapa bulan lalu, ia tidak dibawa ke dokter karena dianggap terlalu mahal.
Arman menutup wajah dengan kedua tangannya.
—Kenapa kamu tidak pernah bilang kepada Ayah?
Kirana menunduk.
—Ibu bilang Ayah sudah punya keluarga baru.
Suaranya semakin kecil.
—Ibu bilang kalau aku mengganggu Ayah, Tante akan membenciku dan Ayah tidak akan mau melihatku lagi.
Dadaku terasa sesak.
Aku mendekati Kirana.
—Lihat Tante.
Ia perlahan mengangkat wajah.
—Tante tidak pernah membencimu.
Air matanya langsung jatuh.
Aku melanjutkan:
—Dan bayi ini juga tidak akan mengambil tempatmu sebagai anak ayahmu. Kalian berdua adalah anak-anaknya. Tidak perlu ada yang tersingkir supaya yang lain bisa disayangi.
Kirana menutup mulutnya sambil menangis.
Arman memeluk putrinya.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, terdengar suara keras dari luar.
—Kirana! Keluar sekarang!
Tubuh gadis itu kembali menegang.
Aku menatap Arman.
—Kita tidak bisa terus bersembunyi.
Arman mengangguk.
—Tapi aku juga tidak akan menyerahkan Kirana begitu saja.
Ia berjalan menuju pintu.
Sebelum membukanya, ia meminta Kirana tetap bersamaku.
Ketika pintu terbuka, ibu Kirana langsung melangkah maju.
—Mana anakku?
Arman berdiri menghalangi pintu.
—Dia aman.
—Aku ibunya! Aku berhak membawanya pulang!
—Kalau begitu, jelaskan dulu kenapa dia harus kabur tengah malam dan naik bus sendirian sampai ke sini.
Perempuan itu terdiam sesaat.
Suaminya segera menyela:
—Anak itu sedang memberontak. Jangan percaya semua ceritanya.
Aku melihat Kirana gemetar.
Tanpa sadar aku menggenggam tangannya.
Lalu ibu Kirana melihat putrinya di belakangku.
—Kirana! Kemari!
Kirana tidak bergerak.
—Ibu bilang kemari!
Kirana justru mundur satu langkah.
Ibunya tampak tidak percaya.
—Kamu sekarang berani melawan Ibu?
Kirana menangis.
Namun kali ini ia menjawab.
—Aku takut pulang.
Suasana mendadak sunyi.
Ibunya membeku.
Arman berkata:
—Kamu dengar sendiri.
—Dia hanya sedang marah!
—Tidak.
Arman mengangkat laptop.
—Aku sudah mendengar rekamannya.
Wajah mantan istrinya berubah.
Pria di sampingnya langsung menatap Kirana.
—Kamu mengambil file dari komputerku?
Nada suaranya membuat Kirana ketakutan.
Arman segera maju satu langkah.
—Jangan bicara kepada anakku seperti itu.
Pria itu terdiam.
Arman lalu berkata kepada mantan istrinya:
—Selama ini aku mengirim biaya untuk Kirana setiap bulan. Sekolah kubayar terpisah. Ketika ada kebutuhan tambahan, aku juga mengirim uang. Tapi anakku datang ke rumahku memakai sepatu rusak dan bertanya apakah dia harus membayar untuk sepiring nasi.
Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca.
—Aku bisa menjelaskan.
—Nanti jelaskan melalui jalur yang semestinya.
Arman menarik napas.
—Untuk sekarang, Kirana tidak akan pergi ke mana pun sampai semuanya jelas dan keselamatannya dipastikan.
Mantan istrinya mulai meninggikan suara.
Aku khawatir pertengkaran akan semakin buruk, jadi aku mengajak Kirana masuk ke kamar.
Di dalam, ia duduk di tepi ranjang sambil menangis.
—Semua ini salahku.
Aku terkejut.
—Kenapa salahmu?
—Kalau aku tidak datang, Ayah tidak akan bertengkar dengan Ibu.
Aku duduk di sampingnya.
—Dengarkan Tante. Orang dewasa bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri. Kamu datang karena kamu membutuhkan tempat yang aman. Meminta pertolongan bukan kesalahan.
Kirana memandangku.
—Tante benar-benar tidak ingin aku pergi?
Aku tersenyum.
—Kalau Tante ingin kamu pergi, tadi malam Tante tidak akan menggoreng telur untukmu.
Untuk pertama kalinya sejak datang, Kirana tertawa kecil di tengah air matanya.
Beberapa saat kemudian, suasana di luar menjadi tenang.
Ibu Kirana akhirnya pergi setelah Arman menolak menyerahkan putrinya saat itu juga dan mengatakan persoalan tersebut harus dibicarakan dengan pendamping keluarga serta pihak yang berwenang bila diperlukan.
Ketika pintu tertutup, Arman masuk ke kamar.
Matanya merah.
Ia berjongkok di depan Kirana.
—Ayah minta maaf.
Kirana menggeleng.
—Bukan salah Ayah.
—Tetap salah Ayah karena terlalu mudah percaya bahwa kamu baik-baik saja.
Ia menggenggam tangan putrinya.
—Ayah tidak bisa mengubah enam tahun yang sudah lewat. Tapi kalau kamu mengizinkan, Ayah ingin memperbaiki tahun-tahun setelah ini.
Kirana menangis lalu memeluknya.
Aku berdiri di dekat pintu, diam-diam mengusap air mata.
Kupikir masalah terbesar telah terungkap.
Ternyata aku salah.
Malam itu, ketika Arman kembali memeriksa kartu memori, ia menemukan satu rekaman video yang belum kami buka.
Tanggalnya hanya tiga hari sebelum Kirana datang.
Dalam video itu, terlihat ibu Kirana berbicara dengan seseorang melalui panggilan video.
Kami tidak bisa melihat wajah orang di seberang.
Tetapi satu kalimat terdengar jelas:
—Kalau Arman mengetahui Kirana sebenarnya sudah mencoba menghubunginya selama bertahun-tahun, semuanya akan terbongkar.
Arman menghentikan video.
Ia menoleh kepada putrinya.
—Kirana… kamu pernah mencoba menghubungi Ayah?
Kirana terdiam.
Kemudian ia berjalan menuju ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil.
Dari sela-sela halamannya, ia mengambil beberapa lembar kertas.
Semuanya adalah salinan surat.
Di bagian atas setiap surat tertulis nama Arman.
Ada belasan.
Surat ulang tahun.
Surat ketika Kirana masuk sekolah baru.
Surat ketika ia sakit.
Bahkan surat yang hanya berisi satu kalimat:
“Ayah, apakah Ayah masih ingat aku?”
Tangan Arman mulai gemetar.
—Ayah tidak pernah menerima satu pun.
Kirana menatapnya dengan mata merah.
—Aku tahu sekarang.
Lalu ia membuka halaman terakhir buku itu.
Di sana terdapat alamat rumah kami.
Dan di bawahnya tertulis sebuah kalimat yang membuatku merinding:
“Kalau suatu hari mereka benar-benar membawaku pergi, cari Ayah di alamat ini.”
Aku baru menyadari sesuatu.
—Kirana, dari mana kamu mendapatkan alamat rumah kami?
Gadis itu mengangkat wajah.
—Ada seseorang yang memberikannya kepadaku.
Arman langsung bertanya:
—Siapa?
Kirana menarik napas panjang.
—Seseorang yang selama ini diam-diam membantuku.
Dan nama yang disebut Kirana setelah itu membuat Arman berdiri terpaku.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
