Saat Arman Membuka Pintu, Perempuan Misterius Itu Memanggil Namaku dan Rahasia Delapan Tahun Lalu Akhirnya Mulai Terungkap

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 63 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Saat Arman Membuka Pintu, Perempuan Misterius Itu Memanggil Namaku dan Rahasia Delapan Tahun Lalu Akhirnya Mulai Terungkap

Klik.

Suara kunci pintu utama terdengar begitu jelas dari monitor hingga jantungku seperti berhenti berdetak.

Aku berdiri di tengah ruangan rahasia, sementara langkah kaki Arman mulai terdengar dari lantai bawah.

Perempuan berambut putih itu ikut masuk.

Aku menatap layar komputer. Video delapan tahun lalu masih berhenti pada wajah ayahku.

Aku tidak punya banyak waktu.

Aku mencabut hard disk dari komputer, memasukkannya ke dalam tas, lalu mengambil buku catatan berisi foto-foto tiga perempuan yang disebut sebagai “subjek”.

Setelah itu aku mematikan monitor dan keluar dari ruangan rahasia.

Baru saja aku hendak mendorong lemari kembali, terdengar suara Arman dari bawah.

—Sayang?

Nada suaranya tetap lembut.

Justru itu yang membuatku semakin takut.

—Kamu di atas?

Aku menelan ludah.

—Ya. Aku sedang membersihkan ruang kerjamu.

Langkah kaki itu berhenti.

Sunyi.

Lalu terdengar suara Arman.

—Aku sudah bilang, jangan masuk ke ruang kerjaku.

Aku mundur perlahan.

Tidak ada jalan keluar lain selain jendela di lantai dua.

Namun sebelum aku sempat bergerak, perempuan yang datang bersamanya tiba-tiba berkata:

—Biarkan aku bicara dengannya.

Suara itu membuat dadaku terasa aneh.

Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa sangat familier.

Beberapa detik kemudian Arman muncul di ambang pintu.

Tatapannya langsung jatuh pada lemari yang bergeser.

Senyumnya menghilang.

—Kamu sudah melihat semuanya?

Aku tidak menjawab.

Arman masuk dan menutup pintu di belakangnya.

—Berikan hard disk itu kepadaku.

Aku menggenggam tas lebih erat.

—Siapa kamu sebenarnya?

—Aku suamimu.

—Suami tidak memasang dua belas kamera untuk mengawasi istrinya.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya selama lima tahun mengenalnya, aku melihat ekspresi yang tidak pernah dia tunjukkan.

Kelelahan.

Bukan kemarahan.

Arman mengusap wajahnya.

—Kamera-kamera itu bukan untuk mengawasimu.

Aku tertawa getir.

—Lalu untuk apa? Menontonku tidur?

—Untuk memastikan orang lain tidak menemukanmu.

Aku terdiam.

Saat itulah perempuan tadi muncul di belakangnya.

Begitu melihatku, matanya langsung memerah.

Dia melangkah mendekat.

Aku spontan mundur.

—Jangan mendekat!

Dia berhenti.

Bibirnya bergetar.

—Maafkan Ibu.

Dua kata itu membuat kepalaku berdengung.

—Ibu?

Dia menangis.

—Nama Ibu Kirana.

Aku menatap Arman.

—Apa maksud semua ini?

Arman membuka mulut, tetapi Kirana menggeleng.

—Biar Ibu sendiri yang menjelaskan.

Tiga puluh satu tahun lalu, Kirana bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi milik keluarga besar.

Suatu malam, dia tanpa sengaja menemukan catatan pengiriman ilegal yang disembunyikan di antara dokumen perusahaan.

Bukan narkoba.

Bukan senjata.

Melainkan transaksi pemalsuan identitas dan pengalihan aset milik puluhan keluarga melalui perusahaan-perusahaan fiktif.

Salah satu orang yang mengetahui rahasia itu adalah ayahku.

Saat itu ayah bekerja di bagian keuangan.

Mereka berusaha mengumpulkan bukti.

Namun sebelum sempat menyerahkannya kepada pihak berwenang, seseorang mengetahui rencana mereka.

Kirana sedang mengandungku.

Setelah aku lahir, ancaman semakin serius.

Akhirnya ayah mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya.

Dia menyerahkanku kepada adik perempuannya dan suaminya untuk dibesarkan sebagai anak mereka sendiri.

Perempuan yang selama ini kupanggil Ibu sebenarnya adalah bibiku.

Aku menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca.

—Kalau begitu kenapa Ibu tidak pernah kembali?

Kirana menunduk.

—Karena setiap kali Ibu mencoba mendekat, seseorang mengikuti Ibu.

Dia lalu menatap Arman.

—Sampai delapan tahun lalu, ayahmu menemukan tanda bahwa orang-orang itu mulai mencari keberadaanmu.

Aku teringat video.

—Jadi percakapan di kedai kopi itu…

Arman menjawab:

—Ayahmu sedang mencari seseorang yang bisa menjagamu tanpa membuat mereka curiga.

Aku menatapnya tajam.

—Dan kamu dipilih?

—Awalnya, ya.

Jawaban itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

—Jadi pernikahan kita juga bagian dari rencana?

Arman tidak menjawab.

Keheningannya sudah menjadi jawaban.

Aku menamparnya.

Suara tamparan menggema di ruangan.

Kirana tersentak.

Arman tidak menghindar.

—Lima tahun! Selama lima tahun aku mencintaimu!

Air mataku akhirnya jatuh.

—Kamu mendekatiku karena sebuah tugas?

—Pada awalnya.

Aku kembali mengangkat tangan, tetapi Arman menangkap pergelangan tanganku.

Bukan dengan kasar.

Dia melepaskannya lagi.

—Pada awalnya aku memang mendekatimu karena permintaan ayahmu. Tapi aku tidak diperintahkan menikahimu.

Aku membeku.

—Apa?

—Ayahmu hanya meminta aku mengawasi dari jauh selama enam bulan.

Arman menatapku.

—Aku yang memilih tetap tinggal.

Dadaku naik turun.

Aku ingin mempercayainya.

Namun setelah menemukan ruangan itu, bagaimana mungkin?

Aku mengangkat buku catatan.

—Lalu mereka siapa?

Aku menunjukkan foto dua perempuan lain.

Arman melihatnya dan wajahnya langsung berubah.

—Dari mana kamu mendapatkan ini?

—Di ruanganmu!

Dia merampas buku itu, membuka beberapa halaman, lalu menatap Kirana.

—Ini bukan milikku.

Kirana memucat.

—Kalau bukan milikmu, bagaimana bisa ada di sini?

Arman membalik bagian belakang buku.

Kemudian dia berhenti.

Ada sebuah simbol kecil tercetak di sampul belakang.

Wajahnya kehilangan warna.

—Kita harus keluar dari rumah ini.

—Kenapa?

Arman langsung menarik tanganku.

—Sekarang!

Tiba-tiba semua lampu padam.

Rumah tenggelam dalam kegelapan.

Kirana menjerit kecil.

Dari ruangan rahasia terdengar bunyi elektronik.

Bip.

Bip.

Bip.

Arman menyalakan senter ponselnya.

—Jangan kembali ke sana!

Terlambat.

Monitor di ruangan rahasia menyala sendiri.

Satu per satu.

Layar pertama menunjukkan ruang tamu.

Layar kedua menunjukkan dapur.

Layar ketiga menunjukkan halaman.

Namun layar keempat menampilkan sesuatu yang membuat kami bertiga terdiam.

Seseorang berdiri di depan pagar.

Seorang pria tua.

Tangannya memegang payung hitam.

Kirana menutup mulut.

—Tidak mungkin…

Aku menatapnya.

—Ibu kenal dia?

Tubuh Kirana gemetar.

—Dia orang yang membuat Ibu harus meninggalkanmu tiga puluh satu tahun lalu.

Arman segera mengambil ponselnya.

Namun tidak ada sinyal.

Pria tua di monitor mengangkat wajah.

Lalu menatap tepat ke kamera.

Dia tersenyum.

Detik berikutnya, sebuah pesan muncul di layar komputer.

“Terima kasih sudah mengumpulkan semuanya di satu tempat.”

Arman langsung mengerti.

—Hard disk!

Aku merogoh tas.

Masih ada.

Kemudian terdengar suara pecahan kaca dari lantai bawah.

Arman mendorongku dan Kirana menuju lorong belakang.

—Turun lewat tangga servis!

—Kamu bagaimana?

—Aku menyusul.

Aku memegang lengannya.

—Tidak. Tidak ada lagi rahasia. Kita pergi bersama.

Untuk sesaat Arman menatapku.

Lalu mengangguk.

Kami bertiga turun melalui tangga sempit di belakang dapur.

Tetapi ketika hampir mencapai pintu belakang, seseorang mengetuk pintu dari luar.

Tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku berhenti.

Arman berdiri di depanku.

—Jangan buka.

Namun suara dari balik pintu membuatku membeku.

—Ini aku. Cepat buka!

Aku mengenal suara itu.

Tukang yang tadi siang menemukan ruangan rahasia.

Arman membuka sedikit pintu.

Pria itu berdiri di sana sambil terengah-engah.

Di belakangnya terdapat dua orang lain.

Dia menunjukkan kartu identitas.

—Maaf saya tidak jujur tadi. Saya bukan hanya tukang.

Aku menatap kartu tersebut.

Dia melanjutkan:

—Ayah Anda menghubungi saya delapan tahun lalu. Jika suatu hari lemari itu terbuka, saya diperintahkan memastikan satu hal.

—Apa?

Dia menatap hard disk di tanganku.

—Bahwa bukti terakhir akhirnya sampai kepada orang yang tepat.

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki.

Bukan satu orang.

Banyak.

Pria itu langsung membuka pintu belakang lebih lebar.

—Kita harus pergi sekarang.

Namun sebelum kami bergerak, suara pria tua dari monitor di lantai atas terdengar melalui seluruh speaker rumah.

—Tidak ada yang akan pergi.

Kemudian pintu belakang otomatis terkunci.

Dan Arman berbisik:

—Dia sudah mengambil alih sistem rumah.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)