Tanda Tangan Palsu Membuka Rahasia Masa Lalu, Sementara Pengkhianatan Bu Ratna Membuat Ardi Menyadari Harga Kesalahannya Selama Ini

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 202 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Tanda Tangan Palsu Membuka Rahasia Masa Lalu, Sementara Pengkhianatan Bu Ratna Membuat Ardi Menyadari Harga Kesalahannya Selama Ini

Tangisan putriku memenuhi toko tua itu ketika semua orang masih terpaku pada dokumen di atas meja.

Aku menatap tanda tangan yang menggunakan namaku berulang kali.

Bentuk hurufnya hampir sama.

Cara menulis huruf M bahkan menyerupai tanda tanganku.

Tetapi ada satu hal yang membuatku yakin.

—Ini bukan tanda tangan saya.

Pria yang membawa dokumen itu mengerutkan kening.

—Anda yakin?

—Sangat yakin. Saya tidak pernah menandatangani surat penjualan tanah apa pun.

Bu Ratna tiba-tiba menyela.

—Dia baru melahirkan. Mungkin dia lupa.

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya selama hampir empat tahun menjadi menantunya, aku tidak merasa takut.

—Saya mungkin lemah, Bu. Tapi saya tidak kehilangan ingatan.

Wajah Bu Ratna menegang.

Pria tua yang datang bersama bibiku kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Pak Surya. Dahulu dia bekerja membantu pengurusan administrasi usaha milik ibuku.

Pak Surya mengambil dokumen itu dan memeriksanya dengan teliti.

—Transaksi ini harus dihentikan sampai keaslian tanda tangan diverifikasi.

Salah satu pria dari pihak pengurusan transaksi segera menelepon kantornya.

Bu Ratna panik.

—Tidak perlu! Itu hanya kesalahpahaman keluarga!

Pak Surya menatapnya tajam.

—Pemalsuan tanda tangan pemilik aset bukan kesalahpahaman keluarga.

Ardi seperti tersambar petir.

—Pemilik aset?

Pak Surya mengeluarkan beberapa salinan dokumen lama.

Menurutnya, lebih dari dua puluh tahun lalu, ibuku menjalankan usaha kecil pemasok bahan bangunan bersama beberapa kerabat. Toko tua tempat kami berdiri hanyalah kantor pertama. Di belakangnya terdapat gudang dan lahan yang kemudian berkembang menjadi tempat penyimpanan barang.

Setelah ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan, aku masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.

Hak atas beberapa aset seharusnya disimpan untukku sampai aku dewasa.

Namun terjadi perubahan pengelolaan.

Nama-nama baru muncul.

Perusahaan baru dibentuk.

Dan sedikit demi sedikit, jejak usaha lama menghilang.

Aku memandang Bu Ratna.

—Apa hubungan Ibu dengan semua ini?

Dia mengatupkan bibir.

Bibiku akhirnya berbicara.

—Dulu Ratna bekerja bersama ibumu.

Ardi menoleh cepat.

—Apa?

—Mereka saling mengenal.

Bu Ratna berteriak:

—Cukup!

Namun semuanya sudah terlambat.

Pak Surya membuka buku catatan biru yang kutemukan.

Ada pencatatan modal, pembelian barang, pembayaran pemasok, hingga pembagian keuntungan.

Nama ibuku tercatat berkali-kali.

Nama Bu Ratna juga ada.

Tetapi bukan sebagai pemilik utama.

Dia tercatat sebagai orang yang mengurus sebagian operasional.

Ardi terduduk.

—Jadi bisnis keluarga kita…

—Jangan mengatakan hal yang belum terbukti sepenuhnya, Ardi, kata Pak Surya. —Kita harus memeriksa dokumen secara resmi. Tapi catatan ini menunjukkan bahwa asal-usul sebagian aset yang kemudian digunakan keluarga kalian perlu diperiksa.

Bu Ratna tiba-tiba menangis.

Bukan tangisan sedih.

Lebih seperti tangisan seseorang yang menyadari rahasia puluhan tahun sedang runtuh di depan matanya.

Dia menunjuk kepadaku.

—Kalau saja kamu tidak membuka lemari itu!

Kalimat tersebut membuat semua orang terdiam.

Aku tersenyum getir.

—Jadi Ibu memang tahu isinya.

Bu Ratna sadar dirinya baru saja melakukan kesalahan.

Ardi berdiri.

—Maya, berikan Zion kepadaku. Kamu masih lemah.

Tanganku refleks memeluk putriku lebih erat.

—Jangan sentuh anakku.

Wajah Ardi pucat.

—Aku ayahnya.

Aku menatapnya.

—Tiga hari setelah aku melahirkan, kamu membawa kami ke gudang tua dan meninggalkan kami di sini. Ketika ibumu mengatakan anak perempuanmu hanya menambah satu mulut untuk diberi makan, kamu diam.

Ardi tidak mampu membalas.

—Sekarang jangan menggunakan kata "ayah" seolah-olah itu otomatis membuatmu berhak mendapatkan kepercayaanku.

Dia menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, Ardi tidak mencari alasan.

—Kamu benar.

Bu Ratna menatap putranya dengan tidak percaya.

—Ardi!

Namun Ardi justru berbalik.

—Kenapa Ibu begitu ingin Maya pergi?

Bu Ratna diam.

—Karena dia miskin? Atau karena Ibu takut suatu hari dia mengetahui siapa ibunya?

Pertanyaan itu menghantam tepat ke pusat rahasia.

Bu Ratna mulai gemetar.

Pak Surya kemudian meminta semua orang meninggalkan dokumen pada tempatnya untuk diperiksa lebih lanjut. Proses penjualan tanah dihentikan sementara.

Bibiku membawaku dan Zion pergi.

Sebelum masuk mobil, aku mendengar Ardi memanggil.

—Maya.

Aku berhenti tanpa berbalik.

—Maaf.

Hanya satu kata.

Aku menunggu bertahun-tahun untuk mendengarnya.

Anehnya, ketika akhirnya kata itu keluar, aku tidak merasakan apa-apa selain lelah.

—Maaf tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, Ardi.

Aku pergi.

Beberapa hari berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Aku harus merawat bayi sambil mengikuti proses pemeriksaan dokumen.

Pak Surya menghubungi pihak-pihak terkait untuk memastikan status aset dan meminta bantuan profesional untuk memeriksa tanda tangan serta arsip lama.

Semakin banyak dokumen ditemukan, semakin jelas gambaran masa lalu.

Ibuku ternyata bukan perempuan miskin seperti yang selama ini kukira.

Dia pernah membangun usaha dari nol.

Setelah kematiannya, sebagian pengelolaan aset berpindah tangan melalui dokumen yang keabsahannya kini dipertanyakan.

Namun kejutan terbesar datang dari bibiku.

Suatu malam, ketika Zion sudah tidur, dia duduk di sampingku.

—Ada sesuatu yang harus Bibi katakan.

Aku menatapnya.

—Tentang kecelakaan Ibu?

Dia mengangguk.

—Malam sebelum ibumu meninggal, dia datang menemui Bibi. Dia bilang menemukan ketidaksesuaian besar dalam pembukuan usaha.

Dadaku sesak.

—Apakah itu berhubungan dengan Bu Ratna?

—Bibi tidak tahu seluruhnya. Tapi ibumu mengatakan dia akan meminta pemeriksaan menyeluruh.

—Lalu keesokan harinya dia meninggal?

Bibiku menunduk.

—Ya.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Tetapi Pak Surya memperingatkanku agar tidak langsung menyimpulkan.

Tidak ada bukti bahwa kematian ibuku berkaitan dengan sengketa bisnis.

Yang bisa dibuktikan harus dipisahkan dari dugaan.

Aku setuju.

Aku tidak menginginkan balas dendam.

Aku hanya menginginkan kebenaran.

Dua minggu kemudian, hasil pemeriksaan tanda tangan datang.

Tanda tangan pada dokumen penjualan tanah dinyatakan tidak sesuai dengan contoh tanda tanganku.

Permohonan transaksi dibatalkan.

Penyelidikan mengenai siapa yang mengajukan dokumen tersebut pun dimulai.

Pada hari yang sama, Ardi datang ke tempatku tinggal.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

—Maya, aku tidak datang untuk meminta kamu pulang.

Aku diam.

Dia mengeluarkan kunci rumah.

—Aku sudah keluar dari rumah Ibu.

—Kenapa?

—Karena aku akhirnya mengerti sesuatu. Selama ini aku menyebut diriku suami, tapi membiarkan ibuku menentukan bagaimana istriku diperlakukan.

Dia meletakkan kunci itu di meja.

—Aku juga sudah mundur sementara dari bisnis keluarga sampai asal-usul asetnya jelas.

Aku terkejut.

Ardi memandang Zion yang tertidur.

—Aku ingin bertanggung jawab sebagai ayahnya. Tapi aku tahu aku harus mendapatkan kepercayaanmu dari awal.

Aku belum sempat menjawab ketika Pak Surya menelepon.

Suaranya tegang.

—Maya, datanglah ke toko lama besok pagi. Kami menemukan sesuatu di bawah lantai ruang belakang.

—Apa?

Dia terdiam sesaat.

—Sebuah ruang penyimpanan yang sudah ditutup lebih dari dua puluh tahun.

Keesokan paginya kami membukanya.

Di balik tumpukan papan tua terdapat sebuah kotak penyimpanan kedap air.

Pak Surya membukanya perlahan.

Di dalamnya ada buku pembukuan lama, beberapa foto, dan sebuah kaset rekaman kecil.

Bibiku menutup mulutnya.

—Itu milik ibumu.

Pak Surya menemukan alat lama yang masih bisa memutar rekaman tersebut.

Suara berdesis memenuhi ruangan.

Lalu terdengar suara seorang perempuan.

Aku tidak pernah melupakannya meskipun terakhir kali mendengarnya ketika masih kecil.

Suara ibuku.

"Kalau Maya suatu hari mendengar rekaman ini, berarti Ibu mungkin tidak sempat menjelaskan semuanya sendiri…"

Air mataku langsung jatuh.

Namun kalimat berikutnya membuat Bu Ratna, yang hadir bersama pendamping hukumnya, kehilangan warna di wajahnya.

"Ratna sudah mengetahui bahwa aku menemukan transaksi yang disembunyikan. Besok aku akan menemuinya dan meminta semua pembukuan dikembalikan…"

Rekaman mendadak berhenti.

Pak Surya membalik kaset itu.

Masih ada sisi kedua.

Dan ketika dia hendak menekan tombol putar, Bu Ratna tiba-tiba berdiri.

—Jangan!

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Tangannya gemetar hebat.

Lalu dengan suara nyaris tak terdengar, dia berkata:

—Tidak perlu diputar lagi.

Air mata mengalir di pipinya.

—Aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam sebelum ibu Maya meninggal.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)