BAGIAN 3 — Pertemuan dengan Ratih Mengakhiri Kebohongan Sebelas Tahun, dan Aku Memilih Masa Depan Baru Tanpa Membiarkan Anak-Anak Mewarisi Luka Kami
Aku tidak ingat bagaimana perjalanan menuju kantor polisi.
Sepanjang jalan, hanya satu nama yang terus berputar di kepalaku.
Ratih.
Perempuan yang selama beberapa jam terakhir kukira sudah meninggal ternyata masih hidup.
Ketika pintu ruang pemeriksaan dibuka, aku langsung mengenalinya.
Wajahnya lebih tua daripada foto di kamar 307.
Rambutnya sudah memiliki beberapa helai putih.
Namun matanya sama.
Dia berdiri ketika melihatku.
—Mira?
Aku mengangguk.
Ratih menutup mulutnya.
Kemudian matanya beralih kepada Nadia.
Air matanya jatuh.
—Maaf.
Itulah kata pertama yang dia ucapkan kepadaku.
Bukan penjelasan.
Bukan pembelaan.
Hanya permintaan maaf.
Kami duduk berhadapan.
Ratih menceritakan bahwa selama bertahun-tahun dia tinggal jauh dari keluarga itu dan mengumpulkan bukti tambahan mengenai bisnis ilegal mantan ayah mertuanya.
Dia tidak berani kembali karena Fajar masih berada dalam pengawasan keluarga.
—Lalu mengapa sekarang?
Aku bertanya.
—Karena tiga bulan lalu ayah Arman meninggal.
Aku terdiam.
Memang benar ayah mertuaku meninggal tiga bulan sebelumnya.
Sejak itu Arman sering terlihat gelisah.
Ratih menjelaskan bahwa setelah kematian pria itu, dia mulai mempersiapkan kepulangannya.
Kamar 307 menyimpan perangkat yang akan mengirim pesan otomatis kepadanya jika pintu rahasia dibuka.
Itulah sebabnya dia datang hari ini.
—Nadia mendengar suara siapa?
Ratih menunduk.
—Rekaman suaraku.
Ternyata perangkat lama di kamar itu mengalami gangguan ketika kamera lantai tiga dimatikan oleh sistem keamanan. Rekaman yang seharusnya hanya aktif ketika pintu dibuka malah menyala sendiri.
Nadia mendengarnya dan mengikuti suara itu.
Pintu kemudian terkunci otomatis.
Tidak ada yang sengaja menculiknya.
Aku memeluk Nadia.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku bisa bernapas sedikit lega.
—Fajar di mana?
Ratih menangis.
—Di sini.
Pintu kembali terbuka.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun masuk.
Di belakangnya berdiri Arman.
Aku langsung memahami.
Mata pemuda itu sama persis dengan mata Nadia.
Arman tidak mendekatiku.
Dia hanya berkata:
—Ini Fajar.
Ratih bangkit.
Selama beberapa detik ibu dan anak itu hanya saling memandang.
Fajar adalah orang pertama yang bergerak.
—Ibu?
Satu kata.
Ratih langsung memeluknya.
Tangisnya pecah.
Aku menundukkan kepala karena merasa sedang menyaksikan sesuatu yang terlalu pribadi.
Arman berdiri di sudut ruangan.
Matanya merah.
Setelah Ratih dan Fajar keluar bersama petugas untuk memberikan keterangan, hanya aku, Arman, dan Nadia yang tertinggal.
Nadia tertidur di sofa.
Arman akhirnya duduk di hadapanku.
—Aku tidak akan meminta kamu memaafkanku.
Aku diam.
—Aku memang mendekatimu karena Ayah.
Tanganku mengepal.
—Jadi semuanya benar.
—Awalnya, ya.
Dia tidak mencoba berbohong lagi.
Sebelas tahun lalu, ayahnya memberikan informasi tentang beberapa perempuan yang dianggap cocok secara medis dengan Fajar.
Aku termasuk salah satunya.
Arman diperintahkan mendekatiku.
Rencana ayahnya sangat kejam: menikahkanku dengan Arman, lalu berharap anak yang lahir kelak memiliki kecocokan biologis tertentu yang mungkin bisa membantu Fajar.
Namun setelah beberapa kali bertemu denganku, Arman menolak melanjutkan rencana itu.
—Lalu kenapa kamu tetap menikahiku?
Arman menatapku.
—Karena aku jatuh cinta.
Aku tertawa pahit.
—Bagaimana aku bisa tahu bagian mana yang harus kupercaya?
Dia menunduk.
—Kamu tidak harus percaya.
Jawaban itu membuatku terdiam.
—Aku punya sebelas tahun untuk mengatakan semuanya kepadamu. Aku tidak melakukannya. Aku takut kalau kamu tahu bagaimana pertemuan kita dimulai, kamu akan pergi.
—Jadi kamu memilih membuatku hidup dalam kebohongan?
—Ya.
Dia menatapku lagi.
—Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupku.
Aku tidak memaafkannya malam itu.
Aku juga tidak pulang bersamanya.
Aku membawa Nadia dan putra kami yang sedang tinggal bersama kerabatku untuk sementara waktu.
Beberapa minggu berikutnya mengubah seluruh keluarga.
Bukti Ratih dan isi flashdisk diserahkan kepada pihak berwenang.
Beberapa mantan rekan bisnis ayah Arman diperiksa. Penginapan ditutup sementara selama penyelidikan.
Ibu mertuaku juga memberikan kesaksian.
Dia mengakui bahwa bertahun-tahun dirinya mengetahui sebagian kegiatan suaminya tetapi memilih diam demi melindungi keluarga.
Sementara Arman menyerahkan seluruh dokumen perusahaan yang masih disimpannya.
Untuk pertama kalinya, rahasia yang selama bertahun-tahun dikunci di kamar 307 benar-benar dibuka.
Aku mengajukan perceraian.
Ketika kuberitahu Arman, dia hanya terdiam.
Kemudian dia mengangguk.
—Aku akan menandatanganinya.
—Tidak mau membujukku?
Dia tersenyum sedih.
—Kalau aku membujukmu sekarang, berarti sekali lagi aku menempatkan keinginanku di atas pilihanmu.
Kalimat itu tidak membuatku berubah pikiran.
Tetapi setidaknya aku tahu dia akhirnya mengerti.
Aku tidak meminta rumah besar.
Tidak meminta penginapan.
Aku hanya meminta hak pengasuhan yang jelas dan jaminan pendidikan anak-anak.
Arman menyetujuinya.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Aku kembali bekerja.
Untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun, aku memiliki penghasilan atas namaku sendiri.
Dengan tabungan yang kumiliki dan bantuan kecil dari orang tuaku, aku menyewa sebuah bangunan sederhana di dekat sekolah Nadia.
Lantai bawah kujadikan kedai sarapan.
Lantai atas menjadi rumah kami.
Hari pertama buka, hanya sembilan pelanggan yang datang.
Hari kedua dua belas.
Sebulan kemudian, setiap pagi hampir semua meja penuh.
Nadia suka duduk di dekat kasir sepulang sekolah.
Suatu sore dia bertanya:
—Ibu bahagia?
Aku berhenti menghitung uang.
Aku memandang kedai kecil itu.
Tidak ada lampu mahal.
Tidak ada pelayan pribadi.
Tidak ada kartu tanpa batas.
Namun untuk pertama kalinya, semua keputusan dalam hidupku adalah milikku.
Aku tersenyum.
—Bahagia.
Hubunganku dengan Ratih juga berubah perlahan.
Kami bukan sahabat.
Mungkin tidak akan pernah.
Tetapi kami berhenti melihat satu sama lain sebagai bagian dari masa lalu Arman.
Kami adalah dua perempuan yang sama-sama pernah menjadi korban kebohongan keluarga yang sama.
Ratih akhirnya tinggal bersama Fajar.
Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi ibu dan anak lagi.
Kadang Fajar datang ke kedai.
Nadia dengan cepat memanggilnya Kak Fajar.
Yang paling mengejutkan adalah Arman.
Dia tidak pernah mencoba memaksaku kembali.
Dia menemui anak-anak sesuai jadwal.
Mengantar mereka pulang tepat waktu.
Tidak pernah masuk ke rumah tanpa izin.
Setahun berlalu.
Suatu pagi, sebuah mobil berhenti di depan kedai.
Arman turun.
Dia membawa dua kotak kue.
Hari itu ulang tahun Nadia.
Setelah pesta kecil selesai dan anak-anak bermain di lantai atas, Arman menghampiriku.
—Aku mau memberikan sesuatu.
Dia meletakkan sebuah amplop di meja.
Aku langsung mengernyit.
—Kalau ini uang, bawa pulang.
—Bukan.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada dokumen penyerahan kepemilikan penginapan lama kepada sebuah yayasan sosial.
Aku menatapnya.
Arman berkata:
—Bangunan itu akan diubah menjadi tempat tinggal sementara untuk perempuan dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
—Kenapa memberitahuku?
—Karena ada satu ruangan yang belum kuputuskan.
Aku langsung tahu.
—307?
Dia mengangguk.
—Ratih ingin semua barang di sana dimusnahkan. Aku setuju. Tapi dia bilang keputusan terakhir tentang foto-fotomu harus berasal darimu.
Dua hari kemudian aku kembali ke penginapan.
Untuk pertama kalinya sejak hari Nadia menghilang.
Kamar 307 sudah kosong.
Aku masuk ke ruangan rahasia.
Foto-fotoku masih ada di dinding.
Aku melihat perempuan dalam foto pertama.
Diriku sebelas tahun lalu.
Dia sedang keluar dari toko tempatnya bekerja, tidak tahu seseorang memotretnya dari kejauhan.
Di bawahnya masih tertulis:
“SUBJEK NOMOR 2.”
Aku mengambil foto itu.
Kemudian satu per satu kulepaskan semua foto dari dinding.
Nadia membantu memasukkannya ke dalam sebuah kotak.
Dia bertanya:
—Ibu, kita mau apakan ini?
Aku memandang Arman.
Kemudian Ratih.
Fajar juga berdiri di dekat pintu.
—Kita bakar.
Kami membawa kotak itu ke halaman belakang.
Tidak ada upacara.
Tidak ada pidato.
Hanya sebuah wadah logam dan api kecil.
Foto pertama terbakar.
Tulisan “Subjek Nomor 2” perlahan berubah menjadi abu.
Aku berdiri menatapnya sampai tidak tersisa apa pun.
Arman berada beberapa langkah di belakangku.
—Mira.
Aku menoleh.
—Maaf.
Kali ini aku tidak marah.
Aku juga tidak menangis.
—Aku tahu.
Dia tampak terkejut.
Aku melanjutkan:
—Mengetahui kamu menyesal bukan berarti aku harus kembali kepadamu.
Arman mengangguk.
—Aku mengerti.
—Tapi kamu tetap ayah dari anak-anakku. Jadilah ayah yang baik. Itu sudah cukup.
Matanya memerah.
—Aku akan berusaha.
Aku menggandeng Nadia.
Sebelum pergi, aku berhenti di pintu.
—Arman.
Dia menatapku.
—Terima kasih karena akhirnya mengatakan kebenaran.
Itulah terakhir kalinya kami membicarakan pernikahan kami.
Dua tahun kemudian, bangunan bekas penginapan itu benar-benar berubah.
Kamar 307 tidak ada lagi.
Dinding rahasianya dibongkar.
Ruangan itu menjadi perpustakaan kecil.
Pada hari peresmian, aku datang bersama Nadia.
Ratih datang bersama Fajar.
Arman dan ibunya juga hadir.
Kami tidak lagi menjadi satu keluarga seperti dahulu.
Namun anehnya, kami bisa berdiri di ruangan yang sama tanpa kebencian.
Nadia menarik tanganku menuju jendela.
—Ibu, lihat!
Di luar, beberapa anak sedang bermain.
Cahaya sore masuk melalui jendela yang dulu selalu tertutup.
Aku tiba-tiba teringat diriku sebelas tahun lalu.
Perempuan yang percaya bahwa kebahagiaan berarti memiliki suami kaya, rumah besar, sopir, dan kehidupan tanpa kekurangan.
Sekarang aku akhirnya mengerti.
Kebahagiaan bukan hidup di tempat yang semua pintunya dibukakan untukmu.
Kebahagiaan adalah memiliki keberanian untuk pergi ketika sebuah pintu sengaja dikunci agar kamu tidak mengetahui kebenaran.
Malam itu aku kembali ke kedai bersama Nadia.
Anakku berlari masuk lebih dulu.
—Ibu, besok aku boleh membantu di kasir?
Aku tertawa.
—Kalau pekerjaan rumahmu sudah selesai.
—Janji!
Dia berlari menaiki tangga.
Aku berdiri sendirian beberapa saat di depan kedai.
Lampu dari dalam memancar hangat ke trotoar.
Namaku tertulis kecil di papan depan.
Bukan nama keluarga Arman.
Bukan nama siapa pun.
Namaku sendiri.
Aku tersenyum.
Sebelas tahun lalu, seseorang memilihku dan menuliskan “Subjek Nomor 2” di bawah fotoku.
Mereka mengira hidupku bisa direncanakan tanpa persetujuanku.
Mereka salah.
Karena hari ini aku bukan lagi subjek dalam rencana siapa pun.
Aku adalah Mira.
Seorang ibu.
Seorang perempuan yang memiliki pekerjaannya sendiri.
Dan pemilik dari hidupnya sendiri.
Dari lantai atas terdengar suara Nadia:
—Ibu! Cepat naik! Aku lapar!
Aku tertawa.
—Ya, sebentar!
Aku mematikan lampu depan, mengunci pintu kedai, lalu menaiki tangga.
Di atas sana, kedua anakku menungguku.
Tidak ada kamar rahasia.
Tidak ada pintu yang dilarang kubuka.
Tidak ada lagi kehidupan yang dibangun dari kebohongan.
Hanya rumah kecil kami.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika menutup pintu di belakangku, aku tidak merasa sedang terkurung.
Aku merasa telah pulang.
