Bagian 4 — Setelah Cincin Itu Kulepas, Mereka Baru Tahu Rumah Itu Tidak Pernah Menjadi Milik Mereka

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 1,938 tayangan
Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Menangis, Padahal Aku Mulai Mengumpulkan Setiap Bukti
Indeks

Bagian 4 — Setelah Cincin Itu Kulepas, Mereka Baru Tahu Rumah Itu Tidak Pernah Menjadi Milik Mereka

“Alya!”

Raka mengejar sampai kamar.

Alya berjongkok di depan lemari, mengambil beberapa pakaian, dokumen, mukena, kosmetik, dan barang pribadi yang masih tersimpan di sana.

Dina berdiri di pintu.

Wajahnya pucat.

“Kak, jangan begini. Kalau masalahnya kamar, aku pindah ke kamar belakang malam ini.”

Alya tidak menjawab.

Ia memasukkan pakaian ke dalam koper.

“Kak, serius. Besok juga aku pindahkan semua barang.”

Masih tidak ada jawaban.

Raka meraih lengan Alya.

“Alya, lihat saya.”

Alya berdiri dan melepaskan tangannya.

“Jangan pegang aku.”

Raka langsung mundur.

Di ruang tengah Bu Ratna sudah mulai menangis.

“Ya Allah, cuma gara-gara adik tinggal sementara rumah tangga belum mulai sudah mau dihancurkan?”

Alya keluar membawa koper.

“Bukan karena Dina tinggal di sini.”

“Lalu karena apa?”

“Karena kalian memutuskan dia boleh tinggal tanpa bertanya.”

Bu Ratna terdiam.

“Karena kalian menentukan kamar yang akan kupakai setelah menikah tanpa bertanya.”

Alya melanjutkan.

“Karena kalian membuat empat kunci rumah tanpa bertanya.”

“Karena alamat rumah dipakai untuk sekolah.”

“Karena garasi mau dipakai usaha.”

“Karena rencana dua minggu berubah menjadi enam bulan sampai setahun.”

“Dan karena calon suamiku tahu beberapa hal itu tapi memilih menyembunyikannya sampai akad selesai.”

Raka mengusap wajah.

“Saya takut kamu salah paham.”

“Tidak.”

Alya menatapnya.

“Kamu takut aku mengambil keputusan sebelum statusku menjadi istrimu.”

Kalimat itu mengenai sasaran.

Raka tidak mampu membalas.

Bu Ratna langsung berkata:

“Kamu terlalu curiga.”

Alya tersenyum tipis.

“Bu, saya mendengar sendiri Ibu mengatakan kepada Raka supaya jangan kalah dengan calon istri.”

Bu Ratna langsung diam.

Dina memandang ibunya.

Fajar yang sejak tadi berdiri dekat meja tidak lagi berani ikut bicara.

Alya mengeluarkan ponselnya.

“Aku juga punya pesan dari grup kompleks.”

Ia menunjukkan tangkapan layar.

“Katanya Dina kemungkinan tinggal cukup lama karena sedang menata ekonomi.”

Kemudian formulir sekolah Naya.

“Alamat permanennya menggunakan rumah ini.”

Lalu struk duplikat kunci.

“Empat kunci.”

Terakhir Alya menghadap Raka.

“Dan ketika aku bertanya lewat telepon kemarin, kamu bilang paling lama satu bulan.”

Raka menggeleng.

“Saya memang salah. Oke. Saya akui.”

Ia mendekat.

“Tapi membatalkan pernikahan karena ini terlalu jauh.”

“Kalau aku menikah dulu baru tahu semuanya, apa yang berubah?”

“Saya bisa bereskan.”

“Kapan?”

“Besok.”

“Kenapa bukan kemarin?”

Raka terdiam.

“Kenapa bukan sebelum mereka masuk?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa bukan saat ibumu memberi kunci?”

Tetap diam.

Alya mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

Bu Ratna terlihat semakin kesal.

“Kalau Dina saya suruh keluar sekarang, kamu jadi menikah?”

Alya menatap perempuan yang sebentar lagi seharusnya menjadi mertuanya itu.

“Tidak.”

Bu Ratna terbelalak.

“Kenapa?”

“Karena masalah saya bukan lagi Dina.”

Ia menoleh kepada Raka.

“Masalah saya adalah laki-laki yang membiarkan semua ini terjadi lalu berharap saya baru tahu setelah terlalu sulit mundur.”

Raka menatap cincin di atas meja.

“Alya, kita tiga tahun bersama.”

“Aku tahu.”

“Undangan sudah disebar.”

“Aku tahu.”

“Gedung sudah dibayar.”

“Aku tahu.”

“Orang kantor saya semua datang.”

“Aku tahu.”

“Jadi kamu mau mempermalukan saya?”

Alya menggeleng.

“Aku sedang mencegah diriku sendiri membuat kesalahan hanya karena takut dipermalukan.”

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang langsung menjawab.

Alya mengambil koper kedua.

Dina tiba-tiba menangis.

“Kak, semua ini salahku. Jangan batal nikah karena aku.”

Alya menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya sedikit melunak.

“Dina, kamu memang salah karena masuk dan mengatur rumah orang tanpa meminta izin.”

Dina menunduk.

“Tapi kamu bukan orang yang berjanji menikah denganku.”

Alya menoleh kepada Raka.

“Dia.”

Raka menarik kursi dan duduk.

Seperti kehilangan tenaga.

“Terus sekarang apa?”

Alya menyerahkan satu lembar kertas.

“Ini pemberitahuan tertulis.”

Raka membacanya.

Dina ikut melihat.

Wajah keduanya berubah.

“Izin tinggal di rumah ini berakhir tujuh hari dari hari ini,” kata Alya.

Bu Ratna langsung berdiri lagi.

“Kamu benar-benar mengusir mereka?”

“Aku memberikan waktu tujuh hari untuk mencari tempat.”

“Dengan anak kecil?”

“Aku tidak mengunci pintu malam ini.”

“Dina tidak punya uang sewa!”

Fajar akhirnya bicara.

“Bu.”

Semua menoleh.

Laki-laki itu menunduk.

“Sebenarnya masih ada tabungan.”

Dina langsung menatap suaminya tajam.

“Mas!”

“Berapa?” tanya Bu Ratna.

Fajar terlihat malu.

“Sekitar tiga puluh delapan juta.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Ratna sampai tidak langsung bereaksi.

Alya juga terkejut.

Dina memukul lengan suaminya.

“Kamu ngapain ngomong begitu?”

“Karena sudah keburu begini.”

Fajar menghela napas.

“Kami bukan sama sekali nggak bisa sewa.”

“Terus kenapa tinggal di sini?”

Fajar tidak menjawab.

Dina akhirnya berkata dengan suara pelan:

“Kalau sewa rumah lagi, tabungan habis.”

Alya hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Jadi rumahnya dipilih bukan karena mereka akan tidur di jalan.

Mereka hanya tidak ingin uang mereka berkurang.

Bu Ratna menatap putrinya.

“Kamu bilang sama Ibu kalian sudah hampir tidak punya uang.”

Dina mulai menangis.

“Aku takut, Bu.”

Fajar mengusap tengkuk.

“Kontrakan Bandung memang habis. Tapi kami sebenarnya bisa cari kontrakan kecil di Depok.”

“Lalu rencana usaha di garasi?”

Alya bertanya.

Fajar menunduk.

“Supaya nggak perlu sewa tempat.”

Semua potongan akhirnya menyatu.

Rumah Alya bukan tempat darurat.

Rumah Alya adalah cara termurah bagi Dina dan Fajar untuk mempertahankan tabungan, menyekolahkan anak dekat rumah, serta memulai usaha tanpa membayar sewa.

Dan orang-orang di ruangan itu menganggap Alya seharusnya menerima semuanya sebagai bukti bahwa ia “mengerti keluarga”.

Alya mengambil napas.

“Baik. Berarti tujuh hari cukup.”

Dina terdiam.

“Besok mulai cari kontrakan.”

Alya menunjuk formulir sekolah.

“Kalau Naya tetap sekolah di sekitar sini, silakan. Tapi ganti alamat setelah kalian pindah.”

Ia kemudian menatap Fajar.

“Dan jangan menerima pesanan usaha menggunakan alamat rumah ini.”

Fajar mengangguk cepat.

“Baik.”

Raka tiba-tiba berdiri lagi.

“Kalau rumah semuanya atas nama kamu, jadi saya dianggap apa selama ini?”

Alya menatapnya.

“Calon suamiku.”

“Bukan pemilik?”

“Kamu ikut berkontribusi.”

“Berarti saya punya hak.”

“Kamu punya hak atas uang yang memang kamu keluarkan.”

Alya menyerahkan rincian perhitungan.

“Itu sebabnya akan aku kembalikan.”

Raka membacanya.

“Sembilan puluh satu juta?”

“Rp91,4 juta.”

“Terus tiga tahun saya?”

Alya diam.

Raka tertawa pahit.

“Waktu saya? Tenaga saya? Saya urus tukang. Saya bolak-balik toko bangunan.”

“Dan aku juga melakukan hal yang sama.”

“Jadi selesai begitu saja?”

Alya mengangguk.

“Hubungan bisa selesai tanpa salah satu pihak menjadi penjahat.”

Ia menatapnya lama.

“Tapi hubungan memang harus selesai ketika kepercayaan sudah tidak ada.”

Bu Ratna mulai menangis lagi.

Kali ini tidak ada yang menenangkannya.

Alya membawa dua koper ke pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh.

“Besok aku akan membatalkan gedung dan vendor.”

Raka langsung berjalan cepat mendekat.

“Tunggu.”

“Apa?”

“Jangan malam ini.”

“Kenapa?”

“Kasih saya waktu bicara sama kamu.”

Alya melihat jam.

“Sekarang jam sembilan lewat dua puluh.”

Raka mengangguk.

“Kita bicara sampai pagi pun saya mau.”

Alya menatapnya beberapa detik.

Lalu mengeluarkan ponsel.

Ia menelepon manajer gedung di depan semua orang.

“Selamat malam, Pak Arman.”

Raka memejamkan mata.

“Saya Alya Prameswari untuk resepsi hari Sabtu depan.”

Bu Ratna mulai menggeleng-gelengkan kepala.

Dina menutup mulut.

Alya melanjutkan:

“Saya konfirmasi acaranya dibatalkan.”

Raka berbisik:

“Alya…”

“Silakan proses sesuai ketentuan pembatalan. Untuk sisa dana yang masih bisa dikembalikan, transfer ke rekening yang terdaftar.”

Ia menutup telepon.

Selesai.

Tiga tahun hubungan.

Delapan bulan renovasi.

Ratusan undangan.

Puluhan rencana.

Selesai dalam panggilan kurang dari dua menit.

Alya pikir dirinya akan merasa hancur.

Anehnya tidak.

Yang ia rasakan justru seperti seseorang baru saja membuka jendela setelah ruangan tertutup terlalu lama.

Udara masuk.

Dingin.

Tetapi ia bisa bernapas lagi.

Keesokan harinya kabar pembatalan menyebar.

Raka tidak masuk kerja.

Bu Ratna menelepon ibu Alya berkali-kali.

Awalnya meminta bantuan.

Kemudian memohon.

Setelah itu marah.

Terakhir menyalahkan Alya.

Ibu Alya hanya menjawab satu kali:

“Anak saya tidak membatalkan karena rumah dipakai. Dia membatalkan karena semua orang merasa boleh memutuskan sesuatu miliknya tanpa bertanya.”

Setelah itu nomor Bu Ratna dibisukan.

Beberapa kerabat Raka menghubungi Alya.

Ada yang berkata ia egois.

Ada yang berkata terlalu perhitungan.

Ada yang menasihati:

“Kalau baru begini saja sudah menyerah, bagaimana nanti menikah?”

Alya tidak berdebat.

Ia hanya menjawab pendek:

“Karena saya memikirkan bagaimana nanti menikah, maka saya berhenti sekarang.”

Sebagian tidak membalas lagi.

Dua hari setelah pembatalan, Raka datang ke rumah orang tua Alya.

Ia terlihat tidak tidur.

Matanya merah.

“Aku mau bicara.”

Ayah Alya mempersilakannya masuk.

Raka duduk berhadapan dengan Alya.

Kali ini tidak ada Bu Ratna.

Tidak ada Dina.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya mereka.

“Aku salah.”

Itu kalimat pertama Raka.

Alya menunggu.

“Aku harusnya bilang dari awal.”

“Ya.”

“Aku harusnya minta izin.”

“Ya.”

“Aku harusnya nggak biarkan Ibu mengatur.”

Alya kembali mengangguk.

Raka menarik napas panjang.

“Kalau aku berubah?”

Alya menatapnya.

“Untuk siapa?”

Raka terdiam.

“Kalau kamu berubah karena takut kehilangan aku, berapa lama bertahan?”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

Raka menunduk.

“Aku pilih kamu.”

Alya hampir tersenyum.

Kalimat itu datang terlambat.

“Rak.”

“Ya?”

“Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku dan keluargamu.”

Raka mengangkat wajah.

“Aku cuma meminta satu hal sederhana.”

“Apa?”

“Kalau menyangkut rumahku, uangku, waktuku, atau hidup yang akan kita bangun bersama, tanyakan aku sebelum membuat keputusan.”

Raka tidak menjawab.

“Dan ternyata itu saja terlalu sulit.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata laki-laki itu.

Alya tidak senang melihatnya.

Tetapi ia juga tidak lagi ingin menyelamatkannya dari akibat pilihannya sendiri.

Raka mengembalikan cincin.

Alya menyerahkan salinan perhitungan kontribusi.

“Setelah rumah kosong dan kondisi barang diperiksa bersama, aku transfer sesuai jumlah final.”

Raka terlihat terpukul.

“Kamu benar-benar mau semuanya selesai rapi?”

“Ya.”

“Bahkan uangku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin ketika kita berpisah, tidak ada satu rupiah pun yang bisa kamu gunakan sebagai alasan untuk kembali.”

Raka menutup mata.

Tujuh hari kemudian Dina dan Fajar keluar dari rumah itu.

Mereka menyewa rumah kecil dua kamar sekitar empat kilometer dari sana dengan biaya Rp24 juta per tahun.

Tabungan mereka tidak habis.

Mereka juga tidak jatuh miskin.

Dunia tidak runtuh.

Hanya kenyamanan gratis yang berakhir.

Sebelum pindah, Alya datang ditemani ayahnya dan ketua RT untuk memeriksa kondisi rumah.

Ada beberapa kerusakan kecil.

Stiker di lemari meninggalkan bekas.

Satu kursi makan tergores.

Sebuah pintu kabinet dapur longgar.

Bingkai prewedding retak.

Alya tidak membuat drama.

Biaya perbaikannya sekitar Rp2,7 juta.

Fajar membayar sendiri.

“Maaf, Kak,” katanya.

Alya menerima transfernya.

“Terima kasih sudah bertanggung jawab.”

Dina berdiri beberapa langkah di belakang.

Ia menangis ketika menyerahkan kunci.

“Aku benar-benar pikir waktu itu Kak Alya cuma pelit.”

Alya tidak marah.

“Sekarang?”

Dina menatap rumah tersebut.

“Sekarang aku ngerti kenapa Kak marah.”

“Aku bukan marah karena kamu butuh tempat.”

Alya mengambil kunci.

“Aku marah karena semua orang menganggap aku tidak perlu ditanya.”

Dina mengangguk.

Sebelum pergi, ia berkata pelan:

“Kalau dulu aku tanya baik-baik, Kak Alya bakal izinkan?”

Alya berpikir beberapa detik.

“Mungkin.”

Dina terkejut.

“Mungkin aku izinkan dua minggu.”

Alya tersenyum tipis.

“Justru karena kalian tidak bertanya, semuanya berubah.”

Itu adalah terakhir kalinya mereka berbicara lama.

Setelah rumah kosong, Alya mengganti seluruh silinder kunci.

Bukan untuk balas dendam.

Semua kunci lama sudah beredar terlalu banyak.

Ia memperbaiki lemari.

Membersihkan rumah.

Mencuci seprai.

Mengganti beberapa benda kecil yang membuatnya tidak nyaman.

Foto prewedding tidak pernah dipasang kembali.

Alya memasukkannya ke kardus.

Cincin pertunangan juga tidak ia simpan sebagai kenang-kenangan.

Karena cincin itu dibeli bersama, ia menjualnya dan membagi uang sesuai porsi pembayaran masing-masing.

Dua minggu kemudian ia mentransfer Rp91,4 juta kepada Raka.

Tidak dipotong biaya pembatalan pernikahan.

Tidak dipotong rasa sakit.

Tidak dipotong tiga tahun yang hilang.

Hanya uang.

Beberapa menit kemudian Raka mengirim pesan.

Sudah masuk.

Kemudian pesan kedua.

Maaf.

Alya membaca.

Tidak membalas.

Tiga bulan berlalu.

Rumah di Sawangan akhirnya tidak lagi terasa seperti rumah pengantin yang gagal.

Alya menjadikannya rumahnya sendiri.

Kamar kecil yang tadinya disiapkan untuk calon anak diubah menjadi ruang kerja dan ruang baca.

Garasi yang hampir dijadikan gudang frozen food ditata dengan rak tanaman.

Di ruang tamu, tempat koper Dina dulu bertumpuk, Alya menaruh kursi baca dan lampu berdiri.

Ibunya beberapa kali datang menginap.

Ayahnya memasang rak dinding.

Teman-teman gurunya datang membawa makanan saat ulang tahunnya.

Rumah itu akhirnya dipenuhi orang.

Tetapi kali ini semua orang datang karena diundang.

Delapan bulan kemudian Alya dipromosikan menjadi koordinator akademik di sekolahnya.

Gajinya naik.

Ia mulai membayar cicilan tambahan agar tenor KPR lebih pendek.

Suatu sore, ketika sedang duduk di teras bersama ibunya, Alya mendapat pesan dari nomor yang masih ia kenal.

Raka.

Sudah berbulan-bulan mereka tidak berkomunikasi.

Pesannya pendek.

Alya, aku akan menikah akhir tahun ini.

Alya membaca tanpa perasaan aneh.

Tidak sakit.

Tidak marah.

Tidak lega berlebihan.

Hanya tenang.

Pesan kedua masuk.

Aku cuma mau bilang, sekarang aku baru benar-benar paham apa yang dulu kamu maksud soal batas.

Alya tetap diam.

Kemudian pesan terakhir.

Semoga kamu bahagia.

Kali ini Alya membalas.

Semoga kamu juga.

Hanya itu.

Tidak ada pertemuan terakhir.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada adegan Raka kembali berlutut meminta kesempatan.

Karena beberapa hubungan memang tidak perlu diselamatkan untuk mendapatkan akhir yang baik.

Kadang-kadang akhir terbaik adalah ketika kedua orang berhenti saling menarik kembali.

Satu tahun setelah hari pernikahan yang batal itu, Alya mengadakan makan malam kecil di rumahnya.

Bukan resepsi.

Bukan perayaan besar.

Hanya ulang tahun ayahnya.

Meja makan dipenuhi sate, sop iga, tumis sayur, sambal, buah, dan kue sederhana.

Ibunya duduk di sebelah ayah.

Beberapa sepupu datang.

Dua sahabat Alya membantu membereskan piring.

Menjelang malam, salah satu sepupunya bertanya:

“Kamu nggak nyesel waktu itu batal nikah?”

Alya melihat sekeliling.

Rumah yang dulu hampir membuatnya merasa seperti tamu sekarang terasa hangat.

Tidak ada koper orang lain.

Tidak ada keputusan yang dibuat diam-diam.

Tidak ada seorang pun yang berkata dirinya harus “mengerti” sambil mengambil haknya.

Alya tersenyum.

“Pernah sedih.”

“Kalau nyesel?”

Ia menggeleng.

“Tidak.”

“Padahal tinggal seminggu lagi.”

“Justru karena tinggal seminggu.”

Sepupunya bingung.

Alya menatap lampu teras.

“Andai aku tahu semuanya setelah menikah, mungkin aku akan terus bertahan karena merasa sudah terlanjur.”

Ia menarik napas.

“Kadang-kadang tujuh hari sebelum pernikahan bukan waktu yang terlalu terlambat untuk pergi.”

Ia tersenyum.

“Kadang itu justru tujuh hari terakhir yang diberikan hidup supaya kita masih sempat memilih.”

Malam semakin larut.

Setelah semua tamu pulang, Alya mengunci pintu.

Satu putaran.

Dua putaran.

Klik.

Kunci itu sekarang hanya dipegang olehnya dan orang tuanya.

Bukan karena ia menjadi perempuan yang takut berbagi.

Justru sebaliknya.

Ia akhirnya memahami perbedaan antara berbagi dan membiarkan orang lain mengambil.

Berbagi membutuhkan persetujuan.

Keluarga membutuhkan rasa hormat.

Dan pernikahan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk berkata:

“Ini hidupku juga. Tanyakan aku.”

Alya mematikan lampu ruang tamu lalu berjalan menuju kamar.

Di kamar utama yang dulu dipakai Dina tanpa izin itu, kini ada seprai baru berwarna hijau sage.

Tidak ada foto pernikahan.

Tidak ada gaun pengantin.

Tidak ada Raka.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak rumah itu dibeli, Alya merasa benar-benar pulang.

Ia tidak kehilangan sebuah pernikahan.

Ia menyelamatkan dirinya dari kehidupan di mana semua orang akan terus menyebut pengorbanannya sebagai kewajiban.

Dan malam itu, saat pintu kamar tertutup, Alya tidur dengan tenang.

Di rumahnya sendiri.

Dengan keputusan yang juga sepenuhnya miliknya.