Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Menangis, Padahal Aku Mulai Mengumpulkan Setiap Bukti
Alya tidak masuk kembali ke ruang tengah.
Ia juga tidak berteriak.
Tidak ada piring pecah.
Tidak ada pintu dibanting.
Ia berjalan keluar, memakai sandal, lalu memesan ojek daring.
Raka mengejarnya sampai halaman.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Aku capek. Besok aku kerja.”
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
“Alya, soal yang kamu dengar tadi…”
“Aku tidak dengar apa-apa.”
Jawaban itu justru membuat wajah Raka semakin tegang.
Selama perjalanan pulang, Alya tidak menangis.
Ia hanya melihat lampu kendaraan lewat satu demi satu.
Sesampainya di rumah orang tuanya, barulah ia membuka laptop.
Di sana tersimpan seluruh dokumen pembelian rumah.
PPJB.
Dokumen KPR.
Bukti uang muka.
Rekening koran.
Invoice furnitur.
Biaya renovasi.
Alya membuka satu per satu.
Harga rumah: Rp785 juta.
Uang muka yang ia bayarkan: Rp310 juta.
Kontribusi Raka di awal: Rp65 juta.
Biaya renovasi selama delapan bulan: sekitar Rp128 juta.
Dari jumlah tersebut, Rp89 juta dibayar Alya.
Sisanya dibagi antara Raka dan beberapa hadiah dari orang tua mereka.
KPR tercatat atas nama Alya.
Rekening autodebet juga miliknya.
Ia menatap angka-angka itu lama.
Selama tiga tahun berpacaran, Alya hampir tidak pernah menghitung kontribusi Raka.
Ia tidak ingin pernikahan dimulai seperti perusahaan.
Tetapi malam itu ia belajar satu hal.
Kadang-kadang orang yang paling sering berkata, “Kita kan keluarga,” adalah orang yang paling berharap kita berhenti menghitung agar mereka bebas mengambil.
Keesokan pagi, sebelum masuk kelas, Alya menghubungi seorang notaris yang dulu membantu proses pembelian rumah.
Ia tidak menceritakan drama keluarga.
Ia hanya bertanya sederhana.
“Kalau pemilik rumah memberikan izin lisan kepada kerabat untuk tinggal sementara, lalu izin itu dicabut, apa yang harus dilakukan supaya prosesnya tertib?”
Notaris menjelaskan prosedurnya.
Jangan melakukan pengusiran paksa.
Jangan membuang barang penghuni.
Jangan mematikan listrik atau air.
Sampaikan pemberitahuan tertulis.
Berikan tenggat yang wajar.
Simpan dokumentasi.
Jika terjadi penolakan atau kerusakan, gunakan mediasi RT/RW atau langkah hukum resmi.
Alya mencatat semuanya.
Siang harinya ia menghubungi pihak bank untuk memastikan tidak ada perubahan data kontak maupun permintaan dokumen yang dilakukan tanpa sepengetahuannya.
Tidak ada.
Bagus.
Sepulang kerja, ia datang ke studio foto untuk mengambil salinan digital foto prewedding.
Kemudian ia menelepon gedung resepsi.
“Kalau acara dibatalkan H-6, berapa biaya yang hangus?”
Manajer gedung menyebut jumlahnya.
Alya menelan ludah.
Besar.
Tetapi masih lebih murah daripada menghabiskan bertahun-tahun dengan keluarga yang menganggap batas miliknya bisa dipindahkan sesuka hati.
Ia belum membatalkan.
Belum.
Ia masih memberi dirinya satu kesempatan terakhir.
Bukan untuk menyelamatkan hubungan.
Untuk memastikan apakah Raka masih mampu berkata jujur ketika tidak tahu bahwa Alya sudah mengetahui semuanya.
Malamnya Raka menelepon.
“Kamu masih marah?”
“Tidak.”
“Serius?”
“Iya.”
Nada Raka langsung terdengar lega.
“Ibu juga sebenarnya merasa bersalah.”
Alya hampir tersenyum.
“Besok malam kita makan bareng di rumah baru saja.”
“Di sana?”
“Iya. Dina bilang mau masak sebagai bentuk terima kasih.”
“Semua datang?”
“Ibu, Bapak, Dina, Fajar. Kamu juga ajak orang tuamu kalau mau.”
Alya menatap dinding kamarnya.
“Tidak usah.”
“Kenapa?”
“Ayah sedang kurang enak badan.”
Itu bohong.
Ayah Alya sehat.
Justru satu jam sebelumnya Alya sudah duduk bersama kedua orang tuanya dan menceritakan semuanya.
Ayahnya hanya menanyakan satu hal.
“Kamu masih ingin menikah dengan dia?”
Alya menjawab setelah diam hampir satu menit.
“Tidak.”
Ibunya menggenggam tangannya.
Ayahnya tidak mencoba membujuk.
Tidak berkata, “Sayang sudah tiga tahun.”
Tidak berkata, “Undangan sudah disebar.”
Tidak berkata, “Nanti malu sama keluarga.”
Ia hanya berkata:
“Kalau begitu selesaikan dengan bersih. Jangan meninggalkan utang, jangan mengambil hak orang, tapi jangan biarkan mereka mengambil hidupmu karena kamu takut malu seminggu.”
Besok sorenya, Alya melakukan tiga hal.
Pertama, ia meminta pihak gedung menahan semua perubahan acara sampai pukul sembilan malam.
Kedua, ia menyiapkan perhitungan kontribusi Raka untuk rumah.
Rp65 juta uang awal.
Ditambah beberapa cicilan renovasi dan pembelian barang yang memang terbukti dibayar Raka.
Totalnya Rp91,4 juta.
Alya berniat mengembalikan bagian tersebut setelah seluruh urusan rumah selesai dan setelah dikurangi hanya jika ada barang milik Alya yang benar-benar rusak berdasarkan kesepakatan tertulis.
Ia tidak ingin Raka suatu hari bisa berkata bahwa Alya mengambil uangnya.
Ketiga, ia mencetak dua dokumen.
Satu surat pembatalan rencana pernikahan.
Satu pemberitahuan bahwa izin tinggal sementara di rumahnya akan berakhir dalam tujuh hari.
Alya memasukkannya ke dalam map cokelat.
Pukul tujuh malam ia datang ke rumah di Sawangan.
Dina memasak soto Betawi.
Ada ayam goreng.
Perkedel.
Sambal.
Bu Ratna bahkan membawa puding.
Suasananya dibuat seperti sebuah makan malam keluarga bahagia.
Alya duduk.
Ia makan.
Dina bercerita soal sekolah Naya.
Fajar membahas rencana usaha frozen food.
Bu Ratna membahas dekorasi resepsi.
Raka beberapa kali menyentuh tangan Alya di bawah meja.
Alya menarik tangannya dengan alasan mengambil air.
“Minggu depan sudah jadi istri orang,” kata Bu Ratna sambil tertawa. “Setelah itu jangan terlalu kaku lagi. Kalau keluarga butuh bantuan ya bantu.”
Alya tersenyum.
“Kalau bantuannya enam bulan sampai setahun bagaimana, Bu?”
Sendok Dina berhenti.
Raka menegang.
Bu Ratna memandang Alya.
“Ya kita lihat keadaan.”
“Kalau garasi dipakai usaha?”
Fajar berdeham.
“Itu sementara.”
“Kalau alamat rumah dipakai sekolah anak?”
Dina tidak menjawab.
“Kalau dibuat empat kunci tanpa izin pemilik?”
Sekarang seluruh meja benar-benar hening.
Raka menaruh sendok.
“Alya.”
“Aku cuma memastikan.”
Ia menatap satu per satu.
“Kalian sebenarnya ingin tinggal di sini berapa lama?”
Bu Ratna yang menjawab.
“Kalau kamu mau jawaban jujur, sampai Dina mampu berdiri sendiri.”
“Bisa setahun?”
“Bisa.”
“Dua tahun?”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Kenapa sekarang kamu seperti menginterogasi?”
Alya mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia melanjutkan makan.
Justru itu yang membuat mereka kebingungan.
Dina beberapa kali melirik Raka.
Setelah hampir dua puluh menit, Alya meletakkan sendok dan garpunya.
Ia mengambil tisu.
Mengusap bibir.
Lalu berkata:
“Terima kasih makanannya.”
Bu Ratna tersenyum tipis, mengira pembicaraan selesai.
Belum.
Alya mengambil map cokelat dari dalam tas.
Raka langsung menatapnya.
“Apa itu?”
“Beberapa dokumen.”
Alya mengeluarkan kertas pertama.
“Rak, sebelum aku menyerahkan ini, aku mau bertanya satu kali.”
Raka menelan ludah.
“Kamu tahu sejak awal Dina berniat tinggal di sini lebih dari satu bulan?”
Raka menatap ibunya.
Lalu Dina.
Kemudian kembali ke Alya.
“Aku tahu kemungkinan itu ada.”
“Kamu tahu alamat rumah ini dipakai untuk sekolah Naya?”
“Baru kemarin.”
“Kamu tahu empat kunci dibuat?”
Raka tidak menjawab.
“Kamu tahu Fajar mau memakai garasi untuk usaha?”
“Alya, mereka keluarga saya.”
Alya tersenyum tipis.
“Bukan itu pertanyaanku.”
Raka mulai meninggikan suara.
“Terus kamu mau apa? Saya suruh adik saya, keponakan saya, keluar malam-malam?”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Lalu?”
“Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang bertanya kepadaku?”
Bu Ratna langsung menyela.
“Karena Raka calon suamimu!”
Alya menoleh kepadanya.
Bu Ratna berdiri.
“Kalau semuanya harus minta izin kamu, terus Raka ini apa? Orang numpang?”
Alya belum sempat menjawab ketika Raka berkata:
“Rumah ini rumah kita, Alya. Saya juga keluar uang.”
“Benar.”
“Nah.”
Raka menunjuk meja.
“Berarti saya punya hak membawa keluarga saya.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Jawaban itu membuat Raka sedikit tenang.
Tetapi kalimat berikutnya membuat wajahnya langsung berubah.
“Aku sudah menghitung semua uangmu.”
Alya mengeluarkan lembar kedua.
“Uang muka, renovasi, furnitur, dan pembayaran lain yang punya bukti.”
Raka menatap angka di atas kertas.
“Apa maksudnya?”
“Total kontribusimu Rp91,4 juta.”
“Alya…”
“Dan aku akan mengembalikannya.”
Dina berdiri.
“Kak?”
Alya mengambil cincin pertunangan dari jarinya.
Ia meletakkannya perlahan di atas meja makan.
Bunyi kecil logam menyentuh kayu membuat ruangan itu terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Wajah Raka memucat.
“Alya, kamu jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
“Apa maksudmu?”
Alya mendorong map itu ke arahnya.
“Tadi kamu bilang rumah ini rumah kita.”
Ia berdiri.
“Mulai malam ini, tidak ada lagi ‘kita’.”
Raka ikut berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Jadi kamu mau mengusir keluarga saya?”
Alya menatapnya datar.
“Tidak malam ini.”
Ia mengambil tasnya.
“Aku cuma sedang mencabut satu-satunya alasan kalian merasa berhak membuat keputusan atas rumah dan hidupku tanpa bertanya.”
Lalu Alya berjalan menuju kamar utama.
Dina langsung mengejarnya.
“Kak Alya, mau apa?”
Alya membuka lemari.
Di bagian paling bawah masih ada dua koper miliknya yang sudah ia siapkan untuk setelah menikah.
Ia menarik koper pertama keluar.
Saat itulah Raka akhirnya memahami bahwa Alya bukan sedang mengancam.
Ia benar-benar pergi.

