Bagian 4 — Enam Bulan Setelah Berpisah, Raka Memilih Siapa yang Benar-Benar Hadir untuknya

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 1,429 tayangan
Bagian 3 — Ketika Bukti Mulai Bicara, Ardi Baru Tahu Keluarganya Tidak Lagi Menunggunya
Indeks

Bagian 4 — Enam Bulan Setelah Berpisah, Raka Memilih Siapa yang Benar-Benar Hadir untuknya

Aku membaca pesan Kirana tiga kali.

Uang tabungan pendidikan Raka.

Selama enam tahun, setiap bulan aku dan Ardi menyisihkan uang ke sebuah rekening khusus.

Tidak banyak pada awalnya.

Kadang Rp500 ribu.

Kadang Rp1 juta.

Setelah Ardi mendapat promosi, jumlahnya naik.

Tujuannya sederhana.

Kami ingin Raka bisa masuk sekolah yang baik tanpa harus bergantung pada utang.

Rekening itu dibuat atas nama Ardi karena saat pertama membukanya aku sedang sibuk mengurus Raka yang masih bayi.

Namun aku selalu menganggapnya uang anak kami.

Aku langsung masuk ke ruang makan.

Ardi masih duduk di sana.

“Kapan terakhir kamu lihat rekening pendidikan Raka?”

Wajahnya langsung berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi aku menangkapnya.

“Kenapa?”

“Jawab.”

“Beberapa bulan lalu.”

“Berapa saldonya?”

“Naya, sekarang bukan waktu—”

“Berapa?”

Ia berdiri.

“Sekitar seratus jutaan.”

Aku membuka aplikasi bank di ponsel.

Rekening tersebut memang tidak bisa kuakses langsung.

Namun laporan tahunan terakhir yang kusimpan menunjukkan saldo Rp138 juta.

Aku menatap Ardi.

“Aku mau lihat sekarang.”

“Besok.”

“Sekarang.”

“Naya.”

Aku menunjukkan pesan Kirana.

Semua warna menghilang dari wajah Ardi.

Untuk beberapa saat kami hanya saling memandang.

Kemudian ia duduk kembali.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku tertawa kecil.

Satu kalimat yang terlalu sering diucapkan orang sebelum mengakui sesuatu.

“Berapa yang kamu ambil?”

“Bukan ambil.”

“Berapa?”

“Empat puluh.”

“Empat puluh juta?”

Ardi mengusap wajahnya.

Aku merasa telingaku berdenging.

“Untuk apa?”

“Ada masalah investasi.”

“Kamu pakai tabungan sekolah anakmu untuk investasi?”

“Bukan seperti itu.”

“Tolong berhenti mengatakan bukan seperti itu setiap kali kenyataannya persis seperti itu.”

Ardi membentak,

“Aku niat mengembalikan!”

“Kapan?”

“Setelah bonus.”

“Bonus yang sekarang bahkan belum tentu kamu dapat karena audit?”

Ia diam.

Aku menatapnya.

“Apakah Kirana tahu?”

Ardi tidak menjawab.

Itu cukup.

Aku menelepon Kirana.

Perempuan itu mengangkat setelah beberapa dering.

Suaranya terdengar gemetar.

“Bu Naya…”

“Bicara jujur.”

Ia menarik napas.

Ternyata dua bulan sebelumnya Ardi pernah mengatakan sedang membutuhkan dana cepat untuk masuk ke sebuah skema investasi bersama kenalannya.

Kirana membantu mengenalkannya kepada seseorang dari komunitas bisnis.

Ardi kemudian bercerita kepadanya bahwa ia menggunakan “dana keluarga sementara”.

Beberapa minggu kemudian investasi itu bermasalah.

Dana sulit ditarik.

Kirana baru mengetahui bahwa uang tersebut adalah tabungan sekolah Raka ketika ia melihat nama folder dokumen di laptop Ardi.

“Apa kamu menerima uang itu?”

“Tidak, Bu.”

“Apakah ada hubungan kalian selain pekerjaan?”

Kirana diam cukup lama.

“Ada kedekatan yang tidak seharusnya.”

Ardi tiba-tiba berdiri.

“Matikan telepon itu!”

Aku menjauh.

Kirana melanjutkan,

“Pak Ardi sering curhat. Saya juga salah karena membiarkan. Tapi kami tidak pernah…”

Ia berhenti.

Aku tidak memaksanya menyelesaikan.

Sudah tidak penting.

“Kenapa baru sekarang bilang?”

Suara perempuan muda itu pecah.

“Karena setelah audit, Pak Ardi bilang semua masalahnya terjadi gara-gara Ibu terlalu ikut campur.”

Aku hampir tertawa.

Tentu saja.

Selalu salah orang lain.

Kirana melanjutkan,

“Saya baru sadar selama ini setiap kali Bapak melakukan sesuatu, beliau selalu punya alasan dan selalu ada orang lain yang disalahkan.”

Aku menatap Ardi.

Ia bisa mendengar setiap kata.

“Terima kasih sudah bilang.”

Aku menutup telepon.

Ardi langsung berkata,

“Dia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Mungkin.”

“Naya, kamu percaya anak itu daripada suamimu?”

Aku menatapnya lama.

“Bukan.”

“Aku percaya rekening bank.”

Malam itu juga aku meminta seluruh mutasi rekening pendidikan Raka.

Setelah perdebatan hampir satu jam, Ardi akhirnya menyerah.

Bukan hanya Rp40 juta.

Total dana yang pernah ia tarik mencapai Rp52 juta.

Sebagian sudah dikembalikan.

Sisa kekurangannya Rp37 juta.

Ada pula transfer ke rekening investasi yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku.

Aku menyimpan semua bukti.

Bukan untuk mempermalukannya.

Bukan untuk dikirim ke keluarga besar.

Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku berhenti mengandalkan penjelasan dan mulai mengandalkan dokumen.

Keesokan harinya aku menemui Ratih.

Setelah melihat mutasi tersebut, ia berkata,

“Masukkan ke dalam daftar fakta finansial. Jangan menyebarkannya. Kita gunakan sesuai kebutuhan proses.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak mau menghancurkan dia.”

Ratih melihatku.

“Ibu tidak perlu menghancurkan siapa pun.”

“Orang dewasa sering kali cukup dibiarkan menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka sendiri.”

Kalimat itu menempel di kepalaku.

Dua bulan berikutnya sangat melelahkan.

Mediasi berjalan.

Tidak ada pertengkaran dramatis di ruang sidang.

Tidak ada meja dipukul.

Tidak ada adegan seperti televisi.

Justru karena semuanya berlangsung tenang, aku merasa akhirnya benar-benar memahami pernikahan kami.

Ketika mediator bertanya tentang pembagian waktu dengan Raka, Ardi meminta akhir pekan bergantian.

Aku setuju.

Dengan syarat jadwal jelas.

Tidak boleh membatalkan mendadak kecuali keadaan darurat.

Tidak boleh menitipkan Raka kepada orang lain selama waktu kunjungannya tanpa pemberitahuan.

Ardi menatapku.

“Kamu menganggap aku tidak bisa mengurus anakku?”

Aku menjawab,

“Aku ingin Raka tahu kapan dia bisa mengandalkanmu.”

Mediator menulis sesuatu.

Tentang uang pendidikan, Ardi setuju mengembalikan seluruh kekurangannya secara bertahap ke rekening baru yang kini dibuat dengan mekanisme transparan.

Ia juga menyerahkan sebagian tabungan pribadinya sebagai pembayaran awal.

Rumah kontrakan kami ditinggalkan.

Aku dan Raka pindah ke rumah kecil dekat tempat kerja baruku dan rumah ibuku.

Bukan rumah mewah.

Dua kamar.

Ruang tamunya sempit.

Dapurnya bahkan tidak muat meja makan besar.

Namun pada malam pertama, Raka berlari dari kamar ke kamar sambil berkata,

“Bunda, di sini suara motor dari jalan kedengaran.”

Aku tertawa.

“Berisik?”

“Tidak.”

Ia membuka jendela.

“Kayak rumah hidup.”

Aku hampir menangis mendengarnya.

Aku membeli meja makan kecil untuk dua orang.

Raka protes.

“Kalau Nenek datang?”

Aku menambahkan satu kursi lipat.

Ia puas.

Hidup baru tidak langsung mudah.

Aku bangun pukul lima.

Menyiapkan sarapan.

Mengantar Raka.

Bekerja sampai sore.

Kadang ibuku menjemput.

Kadang aku terlambat karena macet.

Kadang makan malam kami hanya telur dadar dan sayur bening.

Namun ada satu hal yang berubah.

Raka tidak lagi bertanya,

“Ayah pulang jam berapa?”

Ia tahu jadwal.

Setiap Sabtu kedua dan keempat, Ardi menjemputnya pukul sembilan.

Pada kunjungan pertama, Ardi datang pukul sembilan lewat tiga puluh lima.

Raka sudah memakai sepatu sejak pukul delapan lima puluh.

Ketika bel berbunyi, anakku membuka pintu.

Ardi tersenyum canggung.

“Maaf macet.”

Raka melihat jam dinding.

Tidak mengatakan apa-apa.

Malam setelah pulang, ia berkata kepadaku,

“Bunda.”

“Ya?”

“Kalau Ayah terlambat lagi, Raka boleh tidak ikut?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Aku tidak ingin menanam kebencian.

“Boleh bilang ke Ayah kalau kamu kecewa.”

“Kalau Raka tidak mau menunggu?”

Aku duduk di sebelahnya.

“Kamu juga boleh bilang.”

Pada kunjungan berikutnya, sesuatu berbeda.

Pukul delapan empat puluh lima, Ardi sudah berdiri di depan rumah.

Raka melihat dari jendela.

Ia tampak terkejut.

“Ayah cepat.”

Aku tersenyum.

“Pergilah.”

Hari itu Ardi membawa Raka ke museum transportasi, lalu makan bakso.

Mereka pulang tepat waktu.

Raka bercerita panjang.

Untuk sesaat aku melihat sesuatu yang dulu kuinginkan.

Seorang ayah bersama anaknya.

Tetapi kali ini aku tidak merasa ingin kembali.

Aku justru merasa lega karena Ardi mulai belajar menjadi ayah tanpa harus menjadi suamiku lagi.

Perusahaan akhirnya memberi keputusan final tiga bulan setelah audit.

Ardi tidak dipecat.

Tetapi promosi dan jabatan manajerialnya dicabut.

Ia menerima surat peringatan terakhir dan harus mengembalikan sejumlah klaim perjalanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pendapatannya turun cukup besar.

Mobil dinas dikembalikan.

Beberapa rekan yang dulu selalu mengelilinginya mulai menjaga jarak.

Suatu sore ia meneleponku.

“Aku baru tahu orang menghormati jabatan, bukan orangnya.”

Aku sedang memotong apel untuk Raka.

Aku menjawab,

“Mungkin sekarang kamu punya kesempatan mencari tahu siapa dirimu tanpa jabatan itu.”

Ia tertawa hambar.

“Kamu terdengar seperti konselor.”

“Aku cuma sedang masak.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, percakapan kami berakhir tanpa pertengkaran.

Kirana sendiri keluar dari perusahaan.

Beberapa waktu kemudian ia mengirim satu pesan terakhir.

Bu Naya, saya minta maaf karena pernah menikmati perhatian yang seharusnya membuat saya sadar ada batas yang sedang dilanggar. Saya tidak meminta dimaafkan. Saya hanya ingin mengakui bagian kesalahan saya.

Aku membaca.

Lalu membalas singkat.

Jaga hidupmu baik-baik.

Setelah itu kami tidak pernah berhubungan lagi.

Aku tidak membenci Kirana.

Aneh mungkin.

Tetapi setelah semuanya selesai, aku sadar orang yang mengucapkan janji pernikahan kepadaku bukan Kirana.

Orang yang berjanji datang ke wisuda Raka juga bukan Kirana.

Tanggung jawab terbesar tetap milik Ardi.

Enam bulan setelah hari wisuda TK itu, Raka mulai masuk kelas satu SD.

Sekolah barunya mengadakan pertunjukan kecil untuk Hari Kemerdekaan.

Raka terpilih membaca puisi pendek.

Seminggu sebelumnya ia memberiku dua tiket.

Satu kuberikan kepada ibuku.

Raka memegang tiket satunya.

“Ini untuk Ayah.”

Aku menatapnya.

“Kamu mau kasih sendiri?”

Ia mengangguk.

Saat Ardi menjemput Sabtu itu, Raka menyerahkan tiket.

“Ayah, Jumat depan jam sepuluh.”

Ardi membaca.

“Ayah datang.”

Aku yang berdiri dekat pintu tanpa sadar menahan napas.

Raka tidak langsung tersenyum.

Ia berkata,

“Kalau tidak bisa, bilang sekarang.”

Ardi menatap anaknya.

Lama.

Kemudian berjongkok.

“Ayah datang.”

Raka bertanya,

“Janji?”

Aku melihat ekspresi Ardi berubah.

Dulu ia akan langsung berkata iya.

Cepat.

Mudah.

Seperti semua janji sebelumnya.

Namun kali ini ia membuka kalender ponselnya.

Memeriksa jadwal.

Mengirim pesan kepada atasannya.

Menunggu balasan.

Baru setelah itu ia melihat Raka lagi.

“Ayah sudah izin setengah hari.”

“Ayah datang.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

Jumat pagi, aku dan ibuku tiba pukul sembilan tiga puluh.

Aku sengaja tidak bertanya apakah Ardi sudah datang.

Tidak menelepon.

Tidak mengingatkan.

Aku tidak mau kembali menjadi orang yang bertugas memastikan seorang ayah menepati janji kepada anaknya.

Pukul sembilan empat puluh lima, kami duduk.

Kursi di sebelah Raka yang telah disediakan untuk orang tua masih kosong.

Pukul sembilan lima puluh.

Kosong.

Aku melihat anakku dari kejauhan.

Ia berdiri bersama teman-temannya.

Sesekali matanya melirik pintu.

Dadaku mulai terasa sesak.

Pukul sembilan lima puluh lima.

Pintu aula terbuka.

Ardi masuk.

Kemeja putih.

Celana hitam.

Tidak membawa bunga besar.

Tidak membawa hadiah.

Tidak membawa kopi.

Ia hanya membawa sebuah kamera kecil.

Begitu melihatnya, Raka tersenyum.

Bukan senyum besar.

Tetapi nyata.

Ardi duduk di kursinya.

Acara dimulai.

Saat nama Raka dipanggil, anakku naik ke panggung.

Ia memegang mikrofon.

Sebelum membaca puisi, matanya menyapu aula.

Menemukan aku.

Menemukan neneknya.

Lalu menemukan Ardi.

Kali ini tidak ada kursi kosong.

Raka tersenyum.

Setelah acara, ia berlari turun.

Ardi membuka tangan.

Raka berhenti di depannya.

Untuk sedetik aku mengira anakku akan langsung memeluknya.

Namun Raka justru berkata,

“Ayah datang tepat waktu.”

Ardi tersenyum.

Matanya memerah.

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan polos itu membuat senyum Ardi hilang.

Ia berjongkok.

“Karena dulu Ayah pikir menjadi ayah itu cukup dengan bekerja, memberi uang, dan pulang ke rumah.”

Ardi menelan ludah.

“Ternyata tidak.”

Raka mendengarkan.

Ardi melanjutkan,

“Menjadi ayah itu datang.”

“Kalau sudah bilang akan datang, ya datang.”

“Kalau tidak bisa, bilang jujur.”

“Kalau salah, jangan cari alasan.”

Raka mengangguk.

Kemudian ia memeluk ayahnya.

Aku memalingkan wajah sesaat.

Bukan karena ingin menangis karena cinta lama.

Bukan.

Aku menangis karena anakku akhirnya mendapat satu hal yang selama ini ia minta.

Bukan keluarga yang kembali utuh.

Melainkan seorang ayah yang mulai memahami arti kehadiran.

Beberapa minggu setelah itu, putusan perceraian kami selesai.

Hak pengasuhan utama berada padaku.

Ardi memperoleh jadwal bertemu yang jelas.

Tabungan pendidikan Raka sudah hampir sepenuhnya dikembalikan.

Pembagian kewajiban finansial dicatat.

Tidak ada adegan Ardi memohon di depan gedung pengadilan.

Tidak ada aku melempar cincin ke tanah.

Setelah keluar, kami hanya berdiri beberapa meter satu sama lain.

Ardi memegang map dokumen.

“Akhirnya selesai.”

“Iya.”

Ia melihatku.

“Naya.”

Aku berhenti.

“Aku tahu mungkin terlambat.”

Ia tersenyum pahit.

“Tapi aku minta maaf.”

“Bukan cuma soal Kirana.”

“Bukan cuma soal uang.”

“Bukan cuma soal wisuda.”

“Aku minta maaf karena selama bertahun-tahun aku membuat kamu dan Raka merasa harus bersyukur setiap kali aku memberi sedikit waktu.”

Aku diam.

Angin siang meniup rambutku.

Ardi melanjutkan,

“Dulu aku selalu berpikir kalian pasti ada di rumah.”

“Jadi aku terus pergi.”

“Dan saat aku pulang, aku pikir semuanya bisa kembali seperti biasa.”

Ia menatap map di tangannya.

“Baru ketika rumah itu benar-benar kosong, aku sadar kalian tidak pernah minta terlalu banyak.”

Aku menjawab,

“Kami cuma minta kamu hadir.”

“Aku tahu.”

“Terlambat.”

Ia mengangguk.

“Iya.”

Aku tidak mengatakan aku memaafkannya.

Aku juga tidak mengatakan aku membencinya.

Beberapa hubungan tidak perlu diperbaiki menjadi bentuk lama supaya bisa berakhir dengan baik.

Kadang yang perlu dilakukan hanyalah mengakhiri peran yang sudah rusak dan menyelamatkan peran yang masih bisa diselamatkan.

Ardi gagal menjadi suamiku.

Tetapi perlahan ia sedang belajar untuk tidak gagal menjadi ayah Raka.

Dan aku tidak lagi menjadi perempuan yang menunggu.

Setahun kemudian, hidup kami jauh berbeda.

Aku mendapat kenaikan posisi menjadi koordinator administrasi procurement.

Gajiku belum luar biasa besar.

Tetapi cukup.

Aku bahkan mulai menyisihkan uang sendiri untuk pendidikan Raka.

Rekeningnya kini tercatat dengan transparan.

Setiap rupiah bisa kulihat.

Ibuku masih sering datang makan malam.

Rumah kami tetap kecil.

Meja makan tetap hanya cukup untuk tiga kursi.

Suatu malam, Raka mengerjakan tugas sekolah tentang keluarga.

Ia menggambar tiga rumah kecil.

Aku melihat.

“Kenapa ada tiga?”

“Ini rumah Bunda.”

Ia menunjuk yang pertama.

“Ini rumah Nenek.”

Kemudian menunjuk yang terakhir.

“Ini rumah Ayah.”

Aku menunggu.

Raka menambahkan garis jalan menghubungkan ketiganya.

“Kalau keluarga bukannya harus satu rumah?”

Ia menggeleng.

“Bu Guru bilang keluarga itu orang yang menjaga kita.”

Aku tersenyum.

Raka melanjutkan menggambar.

Beberapa menit kemudian ia bertanya,

“Bunda.”

“Hmm?”

“Dulu waktu wisuda TK, Raka bilang tidak mau sediakan kursi buat Ayah lagi.”

Aku mengingat hari itu dengan sangat jelas.

“Iya.”

“Sekarang boleh sediakan lagi.”

Aku menatapnya.

Raka segera menambahkan,

“Tapi kalau Ayah datang tepat waktu.”

Aku tertawa.

“Setuju.”

Ia kembali menggambar.

Dan saat itulah aku akhirnya mengerti sesuatu.

Anak-anak sebenarnya tidak meminta orang tua yang sempurna.

Mereka hanya ingin tahu bahwa ketika seseorang mengatakan,

Aku akan datang,

orang itu benar-benar muncul.

Karena hadiah bisa dibeli.

Uang bisa dicari lagi.

Jabatan bisa hilang lalu dibangun kembali.

Bahkan kesalahan tertentu masih mungkin diperbaiki.

Tetapi masa kecil seorang anak hanya terjadi sekali.

Dan hari-hari ketika mereka berdiri di atas panggung sambil mencari wajah kita di antara kerumunan tidak akan pernah terulang.

Dulu Ardi mengira kami akan selalu menunggu.

Ia salah.

Aku berhenti menunggu.

Raka berhenti percaya pada janji kosong.

Dan justru setelah kehilangan rumah tangganya, pekerjaannya yang nyaman, jabatan yang ia banggakan, serta kepercayaan anaknya, Ardi akhirnya memahami satu hal yang selama bertahun-tahun gagal ia pahami.

Menjadi penting bagi keluarga bukan berarti menjadi orang yang paling banyak menghasilkan uang.

Bukan pula menjadi orang yang selalu punya alasan paling masuk akal.

Menjadi penting berarti hadir ketika keberadaanmu dibutuhkan.

Hari wisuda TK itu memang menjadi hari sebuah pernikahan berakhir.

Namun anehnya, hari itu pula menjadi awal kehidupan yang jauh lebih sehat bagi kami bertiga.

Aku mendapatkan kembali keberanianku.

Raka mendapatkan kembali rasa aman.

Dan Ardi—

akhirnya mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi ayah.

Bukan karena namanya tertulis di akta kelahiran.

Melainkan karena sekarang, ketika anaknya menyediakan sebuah kursi untuknya…

ia tahu kursi itu tidak akan menunggu selamanya.