Bagian 3 — Satu Buku Catatan Nenek Membongkar Siapa yang Benar-Benar Hadir Selama Dua Puluh Tahun
Ibu membaca tangkapan layar itu berkali-kali.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Justru wajahnya menjadi sangat tenang.
Aku lebih takut melihat ibu seperti itu daripada melihatnya menangis.
Selama hidupku, ibu adalah jenis orang yang selalu mencari alasan untuk memaklumi orang lain.
Om Bowo terlambat datang menjenguk Mbah?
“Dia sibuk kerja.”
Om Yanto tidak bisa menjaga Mbah semalam di rumah sakit?
“Dia besok masuk kantor.”
Tante Rina hanya menelepon?
“Dia juga mengurus keluarganya.”
Om Fajar tiga bulan tidak pulang?
“Rumahnya jauh.”
Semua orang mendapat alasan.
Kecuali ibu sendiri.
Untuk dirinya, ibu tidak pernah memberi kelonggaran apa pun.
Pukul sebelas malam, aku menemukan ibu masih duduk di meja makan.
Ponselnya tergeletak di depan.
Ayah membuatkan teh.
Aku duduk di seberangnya.
“Ibu mau bagaimana?”
Dia lama tidak menjawab.
Kemudian bertanya,
“Menurutmu selama ini Ibu bodoh?”
Aku langsung menggeleng.
“Ibu baik. Itu beda.”
Ibu tersenyum kecil.
“Kalau kebaikan dibiarkan dipakai orang bertahun-tahun, mungkin bedanya tipis.”
Ayah menyela.
“Jangan salahkan dirimu.”
Ibu menatap ayah.
“Aku yang membuat mereka terbiasa.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Sejak kecil, rumah kami memang seperti posko darurat keluarga besar.
Ketika atap rumah Mbah bocor setelah hujan besar tahun 2011, ayah yang memperbaiki.
Tiga hari.
Sendirian.
Kayu kaso dibeli menggunakan uangnya sendiri.
Om Bowo datang sore hari terakhir, membawa dua bungkus nasi padang.
Kemudian berkata,
“Wah, Kang Hendra memang paling bisa diandalkan.”
Setelah itu pulang.
Ketika Mbah harus operasi katarak, ibu mengambil cuti lima hari.
Dia yang mengantar pemeriksaan.
Dia yang menunggu jadwal operasi.
Dia yang tidur di kursi plastik.
Dia pula yang meneteskan obat mata Mbah setiap empat jam selama minggu pertama.
Om Yanto datang membawa buah.
Tante Rina mentransfer satu juta.
Om Fajar mengirim pesan suara.
Om Bowo datang pada hari Mbah sudah boleh pulang.
Dia membawakan bunga.
Lalu berfoto.
Foto itu masuk Facebook.
Caption-nya:
“Jaga orang tua selagi masih ada.”
Hampir seribu orang memberi tanda suka.
Ibu tidak punya foto.
Karena saat foto itu dibuat, ibu sedang antre mengambil obat di apotek rumah sakit.
Empat tahun lalu, Mbah terpeleset di kamar mandi.
Tidak sampai patah tulang, tetapi pinggangnya memar dan dia harus fisioterapi hampir dua bulan.
Setiap Selasa dan Jumat pagi, ibu datang pukul enam.
Membantu mandi.
Menyiapkan sarapan.
Mengantar ke klinik.
Setelah itu baru berangkat ke toko tempatnya bekerja sebagai administrasi.
Kalau terlambat, gajinya dipotong.
Aku pernah bertanya,
“Kenapa tidak gantian?”
Ibu menjawab,
“Sudahlah. Rumah kita paling dekat.”
Padahal rumah Om Yanto hanya lebih jauh dua puluh menit.
Alasan sebenarnya bukan jarak.
Alasannya karena semua tahu ibu pasti datang.
Orang seperti ibu sering dianggap paling kuat hanya karena paling jarang menolak.
Keesokan paginya, Mbah meminta semua anaknya datang ke rumah.
“Tidak usah ramai,” katanya.
“Cuma anak-anak dan cucu yang kemarin bayar.”
Pukul sepuluh, ruang tamu rumah Mbah penuh.
Om Bowo datang terakhir.
Kemeja batiknya rapi.
Jam tangannya berkilau.
Ekspresinya seperti orang yang datang untuk membereskan kesalahpahaman kecil.
Begitu duduk, dia langsung bicara.
“Saya rasa urusan kemarin sudah dibesar-besarkan.”
Aku belum mengatakan apa pun.
Mbah menatapnya.
“Yang dibesar-besarkan bagian mana?”
“Arga membuka tagihan di depan orang.”
Aku hampir menyela.
Tapi Mbah mengangkat tangan.
“Bowo. Jawab Ibu saja.”
Om Bowo diam.
Mbah berkata lagi,
“Kamu pinjam dua puluh juta dari Ibu.”
“Iya.”
“Katamu dikembalikan sebelum acara.”
“Iya.”
“Sudah?”
“Belum.”
“Kamu minta Tari dua belas juta?”
Om Bowo melirik ibu.
“Dia sendiri yang kirim.”
Ibu akhirnya bicara.
“Karena Mas bilang semua keluarga diminta kontribusi.”
Om Yanto langsung memotong.
“Aku tidak diminta.”
Tante Rina juga menggeleng.
Om Fajar menatap lantai.
Mbah menarik napas.
“Terus kamu minta Arga bayar lima puluh tiga juta?”
“Itu—”
“Jawab.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Om Bowo mulai kehilangan kesabaran.
“Karena Mbak Tari anak paling tua! Masa untuk ulang tahun ibu sendiri hitung-hitungan?”
Aku membuka ponsel.
“Kalau soal anak paling tua, kenapa grup ANAK-ANAK IBU justru satu-satunya tidak memasukkan anak paling tua?”
Wajahnya berubah.
Tante Rina langsung menunduk.
Om Yanto mengusap wajah.
Om Fajar memalingkan muka.
Aku meletakkan cetakan screenshot di meja.
Tidak ada yang bisa bilang aku mengarang.
Pesannya ada.
Tanggalnya ada.
Nama pengirimnya ada.
Kalimatnya ada.
Biar Arga yang lunasi setelah acara. Mereka paling tidak enakan kalau urusan Ibu. Nanti juga diam.
Mbah membaca pelan.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena tidak kuat.
Karena marah.
Dia mengangkat wajah.
“Jadi kamu sudah merencanakan ini?”
Om Bowo menjawab cepat.
“Bu, itu cuma cara bicara di grup.”
“Cara bicara mencerminkan isi kepala.”
Ruangan sunyi.
Aku kemudian mengeluarkan invoice hotel yang sudah kucetak.
“Ini rincian Rp73.850.000.”
Om Bowo langsung berkata,
“Semua untuk acara Ibu.”
“Tidak semua.”
Aku menunjuk satu per satu.
“Buffet dan ballroom, jelas.”
“Dekorasi dan musik, jelas.”
“Kue, jelas.”
Kemudian jariku turun.
“Dua kamar eksekutif Rp5.600.000.”
Aku melihat Om Bowo.
“Untuk Pak Hermawan dan Pak Rudi. Keduanya relasi usaha Om.”
Dia tidak menjawab.
Aku lanjut.
“Paket suvenir premium Rp7.200.000. Total tiga puluh kotak.”
Tante Rina mengernyit.
“Bukannya tamu keluarga kemarin dapat besek biasa?”
“Benar.”
Aku membuka foto dokumentasi hotel.
“Dua puluh kotak premium tidak ada di meja tamu.”
Om Bowo mulai berkata,
“Itu saya bagikan—”
“Kepada relasi usaha Om.”
Diam.
Aku menunjukkan pesan dari manajer hotel.
Om Bowo sendiri meminta dua puluh hampers premium dikirim ke kantornya dua hari sebelum acara.
Di kartunya bahkan tertulis:
Salam hangat — Bowo Jaya Material.
Om Yanto langsung menoleh.
“Mas, itu promosi usahamu.”
“Sekalian saja! Memangnya salah?”
Aku berkata,
“Tidak salah.”
Dia seperti mendapat celah.
“Tapi salah kalau biaya promosinya Om masukkan ke pesta Mbah, lalu menyuruh saya membayar.”
Om Fajar akhirnya bersuara.
“Mas, itu keterlaluan.”
Om Bowo menoleh tajam.
“Kamu jangan ikut-ikut. Waktu butuh uang siapa yang bantu?”
Om Fajar langsung diam lagi.
Itulah cara Om Bowo mempertahankan kekuasaan selama bertahun-tahun.
Dia membantu orang, lalu menyimpan bantuan itu sebagai utang moral.
Setiap orang yang pernah menerima uang darinya seolah kehilangan hak untuk mengkritik.
Mbah memukul ujung tongkatnya sekali ke lantai.
“Cukup.”
Semua diam.
Kemudian hal yang tidak kuduga terjadi.
Mbah meminta ibu masuk ke kamar belakang.
“Tari, ambil buku biru di lemari pakaian.”
Ibu tampak bingung.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah buku tulis tua.
Sampulnya sudah pudar.
Di beberapa bagian bahkan ditempeli selotip.
Mbah mengambilnya.
“Sejak Bapak kalian meninggal, Ibu mulai mencatat.”
Om Bowo mengerutkan kening.
“Catat apa?”
“Siapa yang datang.”
Ruangan seketika hening.
Mbah membuka halaman pertama.
Tulisan tangannya besar-besar.
Tidak selalu rapi.
Tapi bisa dibaca.
“Tahun 2012.”
Dia menunjuk satu halaman.
“Tari datang tiga kali dalam seminggu waktu Ibu demam.”
Halaman berikutnya.
“Hendra memperbaiki pintu belakang.”
Berikutnya.
“Tari mengantar kontrol tekanan darah.”
Berikutnya lagi.
“Arga membelikan alat cek gula.”
Lalu ada nama-nama lain.
Bowo.
Yanto.
Rina.
Fajar.
Mbah tidak membuat daftar untuk mempermalukan siapa pun.
Dia hanya mencatat hari-hari.
Kadang satu kalimat.
Kadang dua.
Bowo datang membawa jeruk. Duduk 20 menit.
Yanto menelepon. Tidak bisa datang karena dinas.
Rina kirim obat.
Fajar janji pulang bulan depan.
Kemudian nama ibu.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Halaman demi halaman.
Aku melihat mata ibu mulai merah.
Mbah berkata,
“Kalian mungkin lupa.”
Dia menatap anak-anaknya satu per satu.
“Ibu tidak.”
Om Bowo bergerak gelisah.
“Bu, masa kasih sayang dihitung pakai buku?”
Mbah menutup buku itu.
“Tidak.”
Suaranya tenang.
“Justru karena kasih sayang tidak bisa dihitung, jangan kamu ubah kebohongan menjadi seolah-olah kamu yang paling berbakti.”
Tidak ada yang berani menatapnya.
Ayah duduk di belakang ibu.
Tangannya mengepal di lutut.
Mbah kemudian berkata sesuatu yang membuat ibu langsung menangis.
“Selama dua puluh tahun, kalau Ibu sakit, nama pertama yang Ibu panggil memang Tari.”
Dia berhenti sebentar.
“Bukan karena Tari tidak punya kesibukan.”
“Tapi karena Ibu tahu yang lain akan mencari alasan.”
Air mata ibu akhirnya jatuh.
Mbah memandangnya.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Tapi mungkin itulah kata yang sudah ditunggu ibu puluhan tahun.
Bukan uang.
Bukan pujian.
Hanya pengakuan bahwa apa yang dia lakukan selama ini terlihat.
Om Bowo berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Baik. Kalau masalah biaya, saya bisa ganti uang muka Ibu.”
Aku menatapnya.
“Bukan cuma uang muka.”
“Apa lagi?”
Aku membuka aplikasi bank ibu.
Kemudian menunjukkan transaksi yang dilakukan enam hari sebelum pesta.
Transfer ke Bowo Santoso — Rp12.000.000.
“Kemarin Om bilang uang ini ‘beda’.”
Dia diam.
“Sekarang saya tanya di depan semua orang.”
Aku meletakkan ponsel di tengah meja.
“Dua belas juta milik Ibu saya dipakai untuk apa?”
Om Bowo mengusap wajah.
“Untuk kebutuhan acara.”
“Yang mana?”
“Macam-macam.”
“Buktinya?”
“Arga, jangan seperti auditor!”
“Karena invoice hotel sudah lunas dengan uang Mbah dan uang saya. Jadi dua belas juta dari Ibu saya tidak masuk pembayaran hotel.”
Dia terdiam.
Tante Rina mulai menatap kakaknya dengan ekspresi berbeda.
Om Yanto berkata,
“Mas, tunjukkan saja kalau memang dipakai untuk acara.”
Om Bowo mendadak berdiri.
“Saya tidak perlu diinterogasi seperti pencuri di rumah ibu saya sendiri!”
Mbah tidak bergeming.
Justru dia berkata,
“Duduk.”
Om Bowo berhenti.
Mbah menatapnya sangat lama.
Lalu berkata perlahan,
“Kalau uang dua belas juta itu memang dipakai untuk ulang tahun Ibu, tunjukkan.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau tidak bisa…”
Mbah mengambil ponselnya dari meja.
“…Ibu akan mengatakan sesuatu yang selama ini Ibu simpan, karena Ibu masih ingin menjaga nama baikmu.”
Wajah Om Bowo langsung pucat.
Dan untuk pertama kalinya sejak rapat keluarga dimulai, dia tampak benar-benar takut.

