Bagian 4 — Ketika Bukti Lama Diputar, Bude Kehilangan Muka dan Kami Akhirnya Berhenti Mengalah
Tidak ada satu pun dari kami yang langsung bicara.
Suara musik dari panggung masih terdengar.
Para tamu di sisi lain ruangan masih makan, tertawa, dan berfoto seperti biasa.
Namun di sudut tempat kami berdiri, rasanya seperti seluruh suara menjauh.
Aku membaca pesan di layar koordinator acara sekali lagi.
Sisa Rp12,4 juta nanti dibayar keponakan saya, Kirana.
Namaku.
Tanpa izin.
Tanpa telepon.
Tanpa persetujuan.
Bude Mira akhirnya mencoba mengambil ponsel itu.
“Sudah, Mas. Saya urus sendiri.”
Koordinator menarik ponselnya dengan sopan.
“Maaf, Bu. Kami hanya perlu kepastian pembayaran.”
Aku bertanya,
“Mas, pernah bicara langsung dengan saya?”
“Belum, Mbak.”
“Pernah menerima pesan dari nomor saya?”
“Tidak.”
“Pernah saya menjanjikan pembayaran?”
“Tidak pernah.”
Aku mengangguk.
“Berarti jelas.”
Aku menoleh kepada Bude.
“Aku tidak bertanggung jawab atas tagihan itu.”
Wajah Bude langsung berubah.
“Kirana.”
Nada suaranya kini lebih rendah.
Bukan lagi marah.
Lebih mirip orang yang sedang berusaha menahan kepanikan.
“Kita keluarga.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Tiga tahun.
Butuh tiga tahun sampai kata keluarga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang sangat ironis.
Aku berkata,
“Justru karena keluarga, seharusnya Bude bertanya sebelum memakai namaku.”
“Bude cuma mengira—”
“Bude tidak mengira.”
Aku menunjuk percakapannya.
“Bude menulis seolah-olah aku sudah setuju.”
Dia menarik napas.
“Bude pikir kamu akan bantu.”
“Kenapa?”
“Karena Nadya sepupumu.”
Aku menatapnya lurus.
“Kalau Nadya membutuhkan bantuan dan bicara langsung kepadaku, mungkin jawabanku berbeda.”
Nadya menoleh kepadaku.
Aku melanjutkan.
“Tapi yang terjadi bukan begitu.”
“Namaku dimasukkan ke daftar Rp10 juta tanpa izin.”
“Lalu namaku dipakai sebagai jaminan ke vendor.”
“Dan sekarang setelah semuanya terbongkar, Bude kembali berkata aku harus bayar karena kita keluarga.”
Bude mulai menangis.
Aku tahu air mata itu akan datang.
Orang yang selama bertahun-tahun paling keras berbicara kadang menjadi orang pertama yang menangis ketika akhirnya tidak bisa mengendalikan keadaan.
“Masa kamu tega membiarkan acara adikmu bermasalah cuma karena dendam seratus ribu?”
Aku menggeleng perlahan.
“Jangan lempar tanggung jawab ke aku.”
“Aku tidak memesan dekorasi ini.”
“Aku tidak memilih paket katering ini.”
“Aku tidak menyetujui tagihannya.”
“Dan aku tidak pernah bilang akan membayarnya.”
Ibu berdiri di sampingku.
Untuk pertama kalinya, Bude menatap kakaknya meminta bantuan.
“Mbak…”
Ibu tidak bergerak.
“Mbak Sulastri, bilang ke Kirana.”
Bude memegang lengan ibu.
“Cuma dua belas juta empat ratus.”
Aku melihat jari ibu menegang.
Kalimat cuma dua belas juta empat ratus terdengar sangat aneh dari orang yang tiga tahun lalu menganggap Rp100.000 cukup untuk membuktikan kasih sayang keluarga.
Ibu menarik lengannya perlahan.
“Mira.”
“Ya?”
“Kamu tadi bilang cuma dua belas juta empat ratus.”
Bude mengangguk cepat.
“Ya, nanti aku ganti.”
Ibu tersenyum tipis.
“Kalau menurutmu cuma, kenapa tidak kamu bayar sendiri?”
Bude terdiam.
Aku hampir tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut ibu.
Tante Rini menundukkan kepala, menyembunyikan senyum kecil.
Bude terlihat seperti baru ditampar.
“Mbak…”
Ibu melanjutkan,
“Tiga tahun lalu kamu bilang seratus ribu cukup karena uang bukan ukuran keluarga.”
“Sekarang anakmu menikah, kamu menentukan berapa uang yang harus diberikan semua orang.”
“Mira, pilih salah satu.”
“Kalau uang bukan ukuran kasih sayang, jangan paksa orang membuktikan kasih sayang dengan uang.”
“Kalau uang memang penting, jangan hina orang lain saat mereka bicara soal uang.”
Tidak ada yang menyela.
Bude menatap lantai.
Nadya tiba-tiba duduk di kursi terdekat.
Tangannya memegang kepala.
Arga berjongkok di sampingnya.
“Nad?”
Nadya menggeleng.
“Aku kira sudah lunas.”
Arga menatap Bude.
“Tante, keluarga saya sudah menyerahkan bagian yang disepakati minggu lalu.”
Bude buru-buru mengangguk.
“Iya, iya. Tidak ada masalah dengan keluarga kalian.”
“Kalau begitu sisa ini dari bagian siapa?”
Bude tidak menjawab.
Nadya mengangkat wajah.
“Ma.”
Matanya merah.
“Uang yang Papa kasih buat vendor kemarin ke mana?”
Pertanyaan itu membuat ekspresi Bude berubah lagi.
Aku tidak tahu ada masalah lain.
Pakde Damar, suami Bude, yang sejak tadi berada di dekat meja besan akhirnya datang setelah melihat kerumunan.
“Ada apa?”
Nadya langsung berdiri.
“Pa, katering belum lunas.”
Wajah Pakde Damar berkerut.
“Belum lunas bagaimana?”
“Sisanya dua belas juta empat ratus.”
Pakde menatap istrinya.
“Mira?”
Bude terlihat panik.
“Kita bicara di belakang.”
“Bukannya Jumat aku transfer lima belas juta untuk pelunasan?”
Tidak ada yang bergerak.
Kalimat itu jatuh lebih keras daripada suara musik dari panggung.
Aku melihat Bude menelan ludah.
“Sebagian kepakai.”
Pakde Damar menatapnya.
“Buat apa?”
“Mira…”
“Buat apa?”
Nada suara Pakde bukan teriakan.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Bude menatap orang-orang di sekitar.
“Jangan sekarang.”
Pakde mengeluarkan ponsel.
“Aku transfer lima belas juta ke rekeningmu hari Jumat. Kamu bilang hari itu juga dibayarkan ke vendor.”
“Aku bayar sebagian.”
“Yang sebagian lagi?”
Bude diam.
Nadya mulai menangis.
“Ma…”
Akhirnya Bude berkata sangat pelan,
“Aku pakai dulu.”
“Untuk?”
“DP furnitur.”
Pakde tampak tidak memahami.
“Furnitur apa?”
Bude menutup mata.
“Sofa baru.”
Aku melihat Tante Rini spontan menutup mulut.
Pakde Damar berdiri kaku.
“Kamu pakai uang pelunasan pernikahan anakmu untuk beli sofa?”
“Barangnya diskon.”
Pakde mengusap wajah.
“Mira…”
“Aku pikir Kirana akan kasih sepuluh juta!”
Semua mata langsung mengarah kepadaku.
Bude menunjukku seperti orang yang baru menemukan pembelaan.
“Aku sudah lihat daftar. Kirana sepuluh juta. Ditambah beberapa amplop keluarga lain, pasti cukup.”
Aku berkata,
“Daftar itu Bude yang buat.”
“Karena aku pikir kamu mampu!”
“Mampu bukan berarti wajib.”
“Kamu keponakan!”
“Dan itu tetap bukan rekening Bude.”
Bude terdiam.
Arga berdiri.
Wajahnya kini serius.
“Tante, saya tidak mau Nadya berdiri di sini terus.”
Dia merangkul bahu istrinya.
“Mas vendor, apakah acara bisa dilanjutkan kalau ada pembayaran sebagian sekarang?”
Koordinator mengangguk.
“Bisa, Mas. Sebenarnya kami juga tidak berniat menghentikan acara. Manajemen hanya meminta kepastian tertulis dan minimal pembayaran sebelum sore.”
Pakde Damar mengambil ponsel.
“Berapa minimalnya?”
“Lima juta dulu bisa.”
Pakde melihat saldo rekeningnya.
Wajahnya sulit dibaca.
Kemudian dia menatap istrinya.
“Mira, transfer.”
Bude membeku.
“Aku?”
“Ya.”
“Aku tidak punya sebanyak itu sekarang.”
“Gelangmu.”
Bude spontan memegang pergelangan tangannya.
Gelang emas besar yang tiga tahun lalu juga dia kenakan ke pernikahanku masih ada di sana.
“Maksudmu?”
“Kamu bilang bulan lalu punya dana arisan.”
“Itu—”
“Bayar lima juta dulu.”
Bude menatap suaminya seolah berharap dia berubah pikiran.
Pakde tidak bergeming.
Akhirnya, setelah beberapa menit, Bude membuka aplikasi perbankannya.
Dia mentransfer Rp3 juta.
Pakde menambahkan Rp2 juta dari rekeningnya.
Koordinator menerima bukti pembayaran dan mengatakan sisa tagihan bisa diselesaikan paling lambat keesokan hari.
Acara tidak dihentikan.
Musik tetap dimainkan.
Makanan tetap keluar dari dapur.
Tidak ada tamu yang disuruh pulang.
Tidak ada pengantin yang dipermalukan di depan seluruh gedung.
Dan aku bersyukur untuk itu.
Karena sejak awal, tujuanku bukan membuat Nadya menderita.
Setelah keadaan sedikit tenang, Nadya mengajakku ke ruang rias.
Hanya kami berdua.
Begitu pintu ditutup, dia menangis.
“Kak, aku minta maaf.”
Aku memegang tangannya.
“Kamu tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang bukan kamu lakukan.”
“Tapi Mama…”
“Itu urusan Mama.”
Nadya mengusap air mata dengan tisu.
“Aku benar-benar tidak tahu soal amplop tiga tahun lalu.”
“Aku tahu.”
Dia menatapku.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Kalau kamu tahu, mungkin selama ini sikapmu kepadaku akan berbeda.”
Nadya terdiam.
Dia memang tidak pernah ikut menghina.
Hubungan kami hanya menjauh setelah aku pindah ke Jakarta.
Beberapa menit kemudian dia berkata,
“Mama selalu bilang keluarga harus bantu keluarga.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalimat itu benar.”
“Masalahnya ada orang yang menggunakan kalimat itu hanya ketika mereka butuh sesuatu.”
Nadya menunduk.
“Aku malu.”
“Jangan.”
Aku menarik kursi lebih dekat.
“Ini hari pernikahanmu.”
“Keluar sana.”
“Foto yang banyak.”
“Makan kalau sempat.”
“Bicaralah dengan suamimu.”
“Jangan biarkan kesalahan orang lain menjadi satu-satunya hal yang kamu ingat dari hari ini.”
Dia menangis lagi.
Kemudian memelukku.
Saat aku kembali ke aula, Bude tidak ada.
Ternyata dia berada di ruang belakang bersama Pakde Damar.
Aku tidak ikut campur.
Sekitar satu jam kemudian acara kembali berjalan normal.
Beberapa kerabat mendatangiku.
Ada yang berkata aku terlalu berani.
Ada yang berkata mereka sudah lama kesal dengan kebiasaan Bude menentukan nominal sumbangan.
Ada pula yang mencoba menasihati.
“Bagaimanapun dia budemu.”
Aku hanya menjawab,
“Betul.”
Itu saja.
Aku tidak membutuhkan semua orang setuju denganku.
Menjelang sore, aku dan ibu berpamitan.
Sebelum keluar gedung, aku benar-benar memasukkan Rp101.000 tadi ke kotak amal sebuah musala kecil di seberang tempat parkir.
Ibu melihatku.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku tersenyum.
“Uangnya sudah menjalankan tugasnya.”
Ibu tertawa untuk pertama kalinya hari itu.
Dalam perjalanan pulang, dia memegang tanganku.
“Kirana.”
“Hm?”
“Ibu minta maaf.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
“Selama ini Ibu terlalu sering menyuruh kamu mengalah.”
Aku diam.
“Karena Ibu pikir menjaga keluarga berarti kita harus diam.”
Dia melihat keluar jendela.
“Sekarang Ibu baru sadar, kadang diam cuma membuat orang lain merasa tindakannya benar.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ibu tidak salah.”
Ibu menggeleng.
“Tidak semua kesalahan harus dibela hanya karena dilakukan saudara sendiri.”
Kalimat itu kuingat sampai sekarang.
Namun masalah dengan Bude belum benar-benar berakhir pada hari pernikahan.
Malamnya, grup WhatsApp keluarga ramai.
Bude Mira mengirim pesan panjang.
Dia menulis bahwa dirinya dipermalukan.
Bahwa ada orang yang “membawa masalah lama ke hari bahagia anak.”
Bahwa generasi muda sudah tidak menghormati orang tua.
Dia tidak menyebut namaku.
Tidak perlu.
Semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Aku membaca pesan itu.
Aku tidak membalas.
Lima menit kemudian Tante Rini mengirim satu kalimat.
“Mira, sebaiknya jangan lanjut. Masalah sepuluh juta itu memang kamu tulis sendiri tanpa persetujuan Kirana.”
Pakde Harno ikut menulis.
“Saya juga merasa tidak nyaman sejak kamu membuat daftar nominal sumbangan.”
Sepupu lain menyusul.
“Saya pikir cuma saya yang ditagih.”
Lalu muncul cerita demi cerita.
Ternyata sebelum pernikahan Nadya, Bude menelepon hampir semua anggota keluarga.
Ada yang diminta Rp500.000 lebih tinggi karena dianggap “sudah naik jabatan”.
Ada yang diminta Rp1 juta karena baru membeli mobil.
Ada sepupu yang baru melahirkan tetapi masih ditanya mengapa hanya memberi Rp500.000.
Selama ini setiap orang mengira mereka satu-satunya yang diperlakukan seperti itu.
Malam itu semuanya terbuka.
Bude berhenti mengirim pesan.
Keesokan paginya, Pakde Damar menyelesaikan sisa pembayaran vendor.
Belakangan aku tahu Bude mengembalikan sofa yang belum dikirim dan kehilangan sebagian uang tanda jadi.
Tidak ada tragedi.
Tidak ada bisnis yang bangkrut.
Tidak ada rumah yang disita.
Dia hanya harus menanggung akibat dari keputusan yang dia buat sendiri.
Dua minggu kemudian, keluarga berkumpul di rumah Mbah Putri.
Aku sebenarnya tidak ingin datang.
Namun ibu berkata,
“Datanglah. Tidak usah takut.”
Aku tertawa.
“Aku bukan takut.”
“Ya sudah. Temani Ibu.”
Ketika kami tiba, Bude sudah ada di sana.
Tidak mengenakan gelang emas.
Tidak banyak bicara.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia tidak menjadi pusat percakapan.
Kami duduk berjauhan.
Aku tidak berniat membahas apa pun.
Sampai Mbah Putri memanggil.
“Mira. Sulastri. Kirana. Sini.”
Kami bertiga duduk di ruang tengah.
Mbah sudah berusia hampir delapan puluh tahun.
Pendengarannya mulai berkurang, tetapi pikirannya masih sangat tajam.
Dia melihat Bude.
“Kamu salah.”
Bude langsung menunduk.
“Mbah…”
“Tidak usah banyak alasan.”
Ruangan sunyi.
Mbah menunjuk ibu.
“Dulu kakakmu sudah mengalah.”
Lalu menunjukku.
“Anaknya juga mengalah.”
“Kamu kira orang diam berarti kamu benar?”
Bude mulai menangis.
Aku tidak merasa senang melihatnya.
Aneh.
Setelah tiga tahun menunggu dirinya merasakan malu yang pernah dirasakan ibuku, ketika saat itu benar-benar datang, yang kurasakan justru lega.
Bukan puas karena dia menangis.
Lega karena akhirnya ibu tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang harus menelan semuanya.
Bude mengambil napas.
Kemudian menghadap ibu.
“Mbak.”
Ibu menatapnya.
“Maaf.”
Suara itu pelan.
“Waktu pernikahan Kirana… aku memang sengaja bicara seperti itu.”
Ibu tidak menyela.
“Aku waktu itu sedang kesal.”
“Kenapa?”
Bude mengusap pipinya.
“Karena orang-orang memuji pernikahan Kirana.”
Aku terdiam.
Bude menatap lantai.
“Nadya waktu itu baru gagal masuk universitas yang dia mau.”
“Aku sedang banyak masalah.”
“Terus lihat semua orang memuji Kirana, kerja bagus, calon suaminya bagus…”
Dia menarik napas.
“Aku iri.”
Akhirnya.
Bukan soal seratus ribu.
Bukan soal keadaan ekonomi.
Bukan soal prinsip.
Iri.
Satu kata sederhana yang selama tiga tahun disamarkan sebagai nasihat tentang kekeluargaan.
Bude melanjutkan.
“Makanya aku kasih sedikit.”
“Aku ingin menunjukkan aku tidak terlalu peduli.”
Ibu bertanya,
“Lalu kenapa ketika Mbak telepon baik-baik, kamu malah marah?”
Bude tertunduk semakin dalam.
“Karena aku tahu aku salah.”
Tidak seorang pun bicara.
“Aku malu mengakuinya.”
“Jadi aku menyerang balik.”
Ibu memandang adiknya lama.
Kemudian berkata,
“Kalau waktu itu kamu bilang begini, mungkin masalahnya selesai tiga tahun lalu.”
Bude menangis.
“Aku tahu.”
Dia menoleh kepadaku.
“Kirana.”
Aku menunggu.
“Bude minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dia melanjutkan,
“Bukan cuma soal uang.”
“Bude juga salah pakai namamu buat janji ke vendor.”
“Bude pikir karena kamu sudah sukses, sepuluh atau dua belas juta bukan masalah besar.”
Aku berkata,
“Bagi siapa pun, jumlah sebesar itu tetap harus diminta, bukan dianggap otomatis tersedia.”
Dia mengangguk.
“Iya.”
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Jangan pernah lagi membuat daftar berisi nominal yang harus diberikan keluarga.”
Bude mengangguk lagi.
“Tidak akan.”
Aku menatap ibu.
Ibu tidak memberi kode agar aku memaafkan.
Tidak berkata sudahlah.
Keputusan itu benar-benar diserahkan kepadaku.
Aku kembali menatap Bude.
“Aku menerima permintaan maaf Bude.”
Dia mengangkat wajah.
“Tapi menerima maaf bukan berarti semuanya langsung kembali seperti dulu.”
Wajahnya sedikit berubah.
Aku melanjutkan.
“Kepercayaan itu dibangun ulang.”
“Pelan-pelan.”
“Kalau Bude benar-benar menyesal, tunjukkan lewat tindakan.”
Dia mengangguk.
“Bude mengerti.”
Dan ternyata dia benar-benar mencoba.
Saat Idulfitri berikutnya, tidak ada lagi candaan soal nominal amplop.
Ketika seorang sepupu menikah enam bulan kemudian, Bude tidak bertanya berapa sumbangan siapa pun.
Dia datang.
Menyerahkan amplop.
Makan.
Berfoto.
Pulang.
Sesederhana itu.
Beberapa bulan kemudian, ibu berulang tahun.
Bude datang membawa bolu buatan sendiri.
Tidak ada hadiah mahal.
Tidak ada emas.
Tidak ada amplop.
Dia hanya duduk di dapur bersama ibu hampir dua jam.
Aku melihat mereka tertawa tentang sesuatu dari teras.
Hubungan mereka tidak kembali seperti saat muda.
Mungkin tidak akan pernah.
Tetapi setidaknya sekarang hubungan itu tidak dibangun di atas satu orang yang terus mengalah.
Sementara hubunganku dengan Nadya justru membaik.
Dia dan Arga menggunakan voucher Yogyakarta dariku dua bulan setelah menikah.
Nadya mengirim foto mereka sedang sarapan dengan latar sawah.
Pesannya pendek.
“Akhirnya dipakai juga, Kak. Makasih sudah tetap kasih aku hadiah meskipun hari itu kacau.”
Aku membalas,
“Hari itu bukan kesalahanmu.”
Setahun setelah pernikahannya, Nadya membuka usaha kecil menjual hampers bersama temannya.
Ketika dia meminta bantuanku mengecek pembukuan, aku membantu.
Gratis.
Bukan karena dia menuntut.
Bukan karena dia keluarga.
Tetapi karena aku memang ingin.
Dan bagiku, itulah perbedaan antara kasih sayang dengan kewajiban yang dipaksakan.
Sekarang kalau mengingat amplop Rp101.000 itu, aku tidak lagi melihatnya sebagai balas dendam.
Amplop itu hanya sebuah cermin.
Selama tiga tahun, Bude Mira merasa kalimatnya sangat bijaksana:
“Yang penting ketulusan, bukan nominal.”
Dia baru mengerti arti sebenarnya ketika kalimat itu dikembalikan kepadanya.
Hari itu aku belajar sesuatu.
Menjadi baik bukan berarti membiarkan orang memperlakukan kita sesuka hati.
Menghormati keluarga bukan berarti menyerahkan hak kita untuk berkata tidak.
Dan menjaga hubungan tidak selalu berarti menelan luka sambil tersenyum.
Kadang hubungan justru baru bisa menjadi sehat setelah seseorang cukup berani untuk berkata:
“Aturan yang kamu gunakan untuk merendahkan orang lain juga berlaku untuk dirimu sendiri.”
Ibu sekarang sudah tidak pernah lagi mengatakan kepadaku,
“Sudahlah, namanya juga keluarga.”
Kalimatnya berubah.
Kalau ada kerabat yang mulai melewati batas, ibu akan berkata,
“Bicarakan baik-baik.”
“Kalau tetap tidak mau mengerti, jaga jarak.”
Aku lebih suka nasihat yang baru.
Karena keluarga memang penting.
Tetapi harga diri juga penting.
Dan sejak hari sebuah amplop berisi seratus satu lembar uang seribuan membuat satu aula mendadak sunyi, keluarga kami akhirnya belajar bahwa kasih sayang tidak bisa ditagih menggunakan daftar nominal.
Apalagi memakai rasa bersalah sebagai kuitansinya.

