Bagian 3 — Suamiku Memintaku Diam Demi Promosinya, Padahal Bukti di Meja Sudah Menunjuk Kepadanya
Aku tiba di sebuah kafe kecil di kawasan Senayan pukul sebelas lewat dua puluh.
Orang yang menungguku bernama Irwan Hakim.
Dulu ia dosen tamu di kampusku. Sekarang ia memimpin firma konsultasi yang menangani audit teknis dan integritas proyek.
Ketika aku duduk, ia tidak membuang waktu.
Ia membuka tablet.
“Nadira, sebelum bicara lebih jauh, saya perlu memastikan satu hal.”
Ia memperlihatkan tiga gambar.
“Apakah ini berasal dari proyek Tambaklorok tahun 2018?”
Aku mengangguk.
“Ya.”
“Kamu anggota tim?”
“Koordinator desain.”
“Bisa dibuktikan?”
Aku mengeluarkan salinan dokumen yang diberikan Pak Bima.
Irwan membacanya.
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Berarti dugaan kami benar.”
Aku menatapnya.
“Kapan kalian curiga?”
“Dua hari lalu.”
Irwan memperbesar salah satu gambar.
“Ada beberapa elemen aneh. Proyek sekarang lokasinya di Karawang, tetapi orientasi angin, sistem kanal, bahkan pola modul servisnya mengikuti kondisi pesisir Semarang.”
Aku langsung mengerti.
Citra mengubah bentuk luar.
Tapi struktur pemikirannya tidak diubah.
Kesalahan yang sangat umum dilakukan orang yang mencuri desain tanpa memahami alasan di balik desain tersebut.
“Siapa yang menyerahkan file ini?”
“Secara resmi?”
Irwan berhenti sebentar.
“Citra Ayuningtyas sebagai Design Project Manager.”
Aku menahan napas.
“Dan secara administratif, submission final disetujui dua orang.”
Ia menggeser halaman.
Nama pertama milik direktur divisi.
Nama kedua membuat perutku terasa kosong.
Arga Mahendra — Commercial Development Manager.
Suamiku.
Aku menatap tanda tangan digital itu cukup lama.
“Apa konsekuensinya?”
“Audit.”
“Kalau terbukti?”
“Bisa didiskualifikasi dari tender. Secara internal, itu urusan perusahaan mereka. Secara hukum, pemegang hak dapat mengambil langkah sendiri.”
Aku mengangguk.
Irwan memperhatikanku.
“Saya tahu ini suamimu.”
Aku menatap keluar jendela.
Mobil berlalu-lalang di Jalan Sudirman.
“Kami tidak pernah bicara banyak soal pekerjaanku dulu.”
“Itu tidak menjawab apa pun.”
Aku tersenyum hambar.
“Memang.”
Irwan menutup tabletnya.
“Kami tidak membutuhkan kamu untuk membuat keputusan hari ini.”
“Saya hanya perlu konfirmasi awal sebelum meminta dokumen resmi dari studio.”
Aku mengangguk.
“Lakukan sesuai prosedur.”
“Yakin?”
Aku kembali menatapnya.
“Jangan lindungi siapa pun karena saya.”
Itu kalimat pertama hari itu yang terasa benar-benar ringan setelah keluar dari mulutku.
Aku pulang sekitar pukul satu.
Bu Ratih sedang menemani Aluna tidur siang.
Beliau melihat wajahku.
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
Aku masuk kamar mandi dan mencuci muka.
Di cermin, wajahku terlihat normal.
Itulah bagian yang paling aneh.
Dunia bisa bergeser beberapa sentimeter dari porosnya, tetapi wajah manusia tetap tampak sama.
Pukul dua belas lewat empat puluh delapan, sebuah pesan masuk dari Arga.
Doakan ya. Presentasinya jam dua.
Aku membaca tanpa menjawab.
Dua menit kemudian:
Kalau lancar, malam kita makan enak.
Aku akhirnya mengetik:
Semoga semua yang dipresentasikan memang bisa dipertanggungjawabkan.
Tanda centang dua berubah biru.
Tidak ada balasan.
Pukul empat sore, Pak Bima menelepon.
“Presentasi dihentikan.”
Dadaku berdebar.
“Kenapa?”
“Tim audit meminta verifikasi hak desain sebelum penilaian dilanjutkan.”
Aku menutup mata.
“Citra bagaimana?”
“Saya tidak tahu.”
“Tapi Dira…”
Nada Pak Bima berubah.
“Barusan ada orang dari Mahardika menelepon kantor. Dia bertanya apakah kita sudah menghubungimu.”
“Siapa?”
“Arga.”
Aku membuka mata.
Dua puluh menit kemudian, pintu rumah terbuka keras.
Arga masuk tanpa menyapa.
Jasnya masih dipakai.
Wajahnya pucat, tetapi matanya merah karena marah.
Bu Ratih yang sedang menonton televisi langsung berdiri.
“Kenapa?”
Arga tidak menjawab ibunya.
Ia berjalan lurus ke arahku.
“Kamu ngomong apa ke Studio Garis Selatan?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Jangan pura-pura!”
Aluna yang sedang menggambar di lantai menoleh.
Aku bangkit.
“Jangan bicara keras di depan anak.”
“Jawab aku!”
Bu Ratih mendekat.
“Arga!”
Aku menatap Aluna.
“Sayang, masuk kamar Nenek dulu.”
Anakku melihat kami bergantian.
Bu Ratih memegang tangannya dan membawanya masuk.
Setelah pintu tertutup, aku baru berkata:
“Presentasinya dihentikan?”
Rahang Arga mengeras.
“Kamu tahu.”
“Ya.”
“Dari siapa?”
“Tidak penting.”
“Buatku penting!”
Ia melempar tas kerjanya ke sofa.
“Tim audit tiba-tiba bilang desain Citra mirip karya lama studio tempatmu kerja. Lalu studio itu mengirim dokumen yang mencantumkan namamu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Arga menatapku seperti baru pertama kali melihatku.
“Desain itu benar-benar punya kamu?”
“Punya tim kami.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku hampir tidak percaya.
“Arga, tadi pagi aku menanyakan hak cipta.”
“Bukan itu maksudku!”
Ia mengusap rambut.
“Kenapa kamu tidak bilang sejak awal bahwa kamu pernah mengerjakan desain seperti itu?”
Aku tertawa pelan.
“Sejak awal yang mana?”
“Delapan tahun lalu ketika kita pacaran dan kamu berkali-kali membatalkan makan malam karena kompetisi itu?”
“Atau ketika aku memperlihatkan maketnya dan kamu bilang semua gedung terlihat sama bagimu?”
Wajahnya berubah.
Aku meneruskan.
“Atau tiga tahun lalu ketika aku hendak membuang sebagian portofolio dan kamu bilang buat apa menyimpan ‘kertas pekerjaan zaman dulu’?”
Arga diam.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Mungkin kamu memang lupa.”
Ia membuang muka.
“Sekarang bukan waktunya membahas masa lalu.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Sekarang kita membahas kenapa desain itu ada di tangan Citra.”
Ia langsung menjawab.
“Aku tidak tahu.”
Aku menatapnya.
“Aku benar-benar tidak tahu dia mengambilnya dari mana.”
“Lalu kenapa tiga bulan lalu kamu mengirim email ke Studio Garis Selatan meminta file resolusi tinggi?”
Wajah Arga kehilangan warna.
Hening.
Beberapa detik sangat panjang lewat di antara kami.
“Aku…”
“Kamu apa?”
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
Kalimat paling tua di dunia.
Aku hampir merasa lelah mendengarnya.
“Coba jelaskan.”
Arga duduk.
Untuk pertama kalinya, suaranya merendah.
“Citra bilang dia pernah melihat proyek lama yang cocok dijadikan referensi.”
“Referensi?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Dia tidak punya file lengkap.”
“Jadi kamu meminta ke studio.”
“Cuma untuk referensi.”
“Studio menolak.”
Arga diam.
Aku mendekat.
“Setelah ditolak, apa yang terjadi?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tanda tangan submission final.”
“Itu prosedur!”
“Kamu bilang sendiri tadi pagi konsep itu luar biasa.”
“Aku bukan arsitek, Dira!”
“Menarik.”
Aku menyilangkan tangan.
“Tadi malam kamu bilang aku tidak akan mengerti detail proyek kalian.”
Arga berdiri lagi.
“Sekarang kamu mau apa?”
Pertanyaan itu membuatku benar-benar sadar.
Ia tidak meminta maaf.
Ia tidak bertanya apakah aku terluka.
Ia tidak bertanya bagaimana rasanya melihat pekerjaan yang kubangun berbulan-bulan ditempel nama perempuan lain.
Pertanyaan pertamanya adalah:
Sekarang kamu mau apa?
“Aku belum memutuskan.”
Wajahnya semakin tegang.
“Dira.”
Ia mendekat.
“Dengar dulu.”
“Proyek ini penting buatku.”
“Aku tahu.”
“Kalau sampai perusahaan didiskualifikasi karena masalah ini, semua orang yang terlibat kena.”
“Aku tahu.”
“Promosiku juga selesai.”
Aku menatapnya.
Akhirnya kami sampai di pusat masalah yang sebenarnya.
Promosinya.
Bukan kebenaran.
Bukan aku.
Bukan desain yang dicuri.
Promosinya.
Arga menarik napas.
“Kalau pihak studio mau bilang desain itu cuma referensi, masalahnya bisa selesai.”
Aku sampai harus memastikan aku tidak salah dengar.
“Kamu sedang memintaku melakukan apa?”
“Aku tidak minta kamu bohong.”
Aku tertawa.
“Kamu baru saja memintaku membuat pemilik karya asli mengubah keterangan.”
“Jangan dibesar-besarkan!”
Suara Arga kembali meninggi.
“Aku tidak mengambil desainmu!”
“Tapi kamu tahu Citra mencari arsipnya.”
“Aku cuma bantu!”
“Kamu bilang kepadanya tidak akan ada orang yang membongkar asal desain itu.”
Arga membeku.
Sekarang ia benar-benar pucat.
“Dari mana kamu tahu?”
Aku menatapnya.
“Jadi percakapan itu benar.”
Ia terdiam.
Kesalahan kecil.
Tapi cukup.
Aku tidak perlu memberitahunya bahwa aku melihat ponselnya.
Wajah Arga berubah dari marah menjadi gugup.
“Dira…”
“Apa hubunganmu dengan Citra?”
“Teman kerja.”
“Dinner berdua?”
“Bahas proyek.”
“‘Dunia kami sekarang beda’?”
Ia berkedip.
Aku meneruskan.
“‘Kalau lembur ditemani kamu, aku tidak akan protes’?”
“Dira.”
“‘Aku cuma percaya kamu’?”
“Itu dia yang bilang!”
“Dan kamu menikmati semuanya.”
Arga memalingkan wajah.
Aku merasa tenggorokanku panas.
Namun suaraku tetap stabil.
“Apa kalian tidur bersama?”
Ia langsung menatapku.
“Tidak.”
Aku menunggu.
“Tidak pernah.”
“Ciuman?”
“Tidak.”
“Pegangan tangan?”
“Dira, serius?”
“Jawab.”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
Aneh.
Ada sedikit rasa lega.
Bukan karena tindakannya menjadi benar.
Tetapi karena setidaknya satu bentuk pengkhianatan belum terjadi.
Arga menghela napas panjang.
“Aku cuma…”
Ia mengusap wajah.
“Aku nyaman ngobrol dengannya.”
“Kenapa?”
“Dia ngerti tekanan kerja.”
Aku tertawa kecil.
“Dan aku tidak?”
“Kamu sudah terlalu lama di rumah.”
Kalimat itu keluar otomatis.
Begitu keluar, Arga tampak menyesal.
Tapi terlambat.
Aku menatapnya.
“Jadi karena aku menghabiskan lima tahun membesarkan anakmu, aku tidak lagi mampu memahami tekanan?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Barusan kamu bilang.”
“Dira, aku sedang kacau!”
“Aku juga.”
Ia berdiri di depanku, lalu suaranya mendadak melunak.
“Aku salah ngomong.”
“Aku minta maaf.”
Itu pertama kalinya ia meminta maaf.
Sayangnya, kalimat berikutnya menghancurkan seluruh nilainya.
“Tapi tolong bantu aku sekali ini.”
Aku hampir tersenyum.
“Bagaimana?”
“Besok pihak audit mau wawancara Citra dan tim.”
“Lalu?”
“Kalau kamu bilang konsep itu pernah dipublikasikan terbuka dan boleh dipakai sebagai referensi…”
Aku menatapnya lama.
Arga semakin panik.
“Tidak perlu bilang dia mencuri.”
“Cukup bilang ada kemungkinan kemiripan.”
“Setelah tender selesai, kita bereskan internal.”
“Kamu mau aku melindungi perempuan yang mengambil karyaku.”
“Aku mau kamu melindungi keluarga kita!”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Kalau aku kehilangan pekerjaan, siapa yang menanggung rumah ini?”
Kalimat itu.
Lagi.
Aku tidak menjawab.
Sebaliknya, aku berjalan ke lemari ruang tamu.
Kubuka laci paling bawah.
Keluarkan satu map biru.
Aku meletakkannya di meja.
Arga mengernyit.
“Apa itu?”
“Dokumen rumah.”
Ia membuka.
Sertifikat.
Perjanjian kredit.
Bukti uang muka.
Lembar transaksi.
Arga membaca.
Alisnya perlahan berubah.
Aku mengeluarkan map kedua.
“Ini biaya renovasi.”
Map ketiga.
“Ini pembayaran sekolah Aluna dua tahun.”
Map keempat.
“Operasi Ibu.”
Arga mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku sederhana.”
Aku menunjuk angka-angka itu.
“Selama lima tahun kamu mengira gajimu menanggung semuanya karena aku tidak pernah mengoreksi cerita yang membuatmu merasa hebat.”
“Aku pikir tidak penting siapa membayar apa.”
“Ternyata buatmu sangat penting.”
Arga melihat transaksi satu per satu.
“Ini rekening siapa?”
“Punyaku.”
“Dari mana uang sebanyak ini?”
Aku menatapnya.
“Dari hal yang tidak pernah kamu anggap pekerjaan.”
Setelah keluar dari studio lima tahun lalu, aku tidak benar-benar berhenti menghasilkan uang.
Ayahku memiliki beberapa ruko dan gudang sewa bersama dua adiknya.
Ketika kesehatannya menurun, sebagian saham pengelolaan dialihkan kepadaku.
Aku mengurus kontrak, renovasi, pajak, dan penyewa dari rumah.
Tidak setiap hari.
Tidak memakai blazer.
Tidak punya kartu pegawai.
Tapi setiap bulan ada pendapatan yang masuk.
Beberapa tahun bagus.
Beberapa biasa.
Arga pernah tahu usaha itu ada.
Namun ia menganggapnya “aset keluarga Dira”.
Ia tidak pernah bertanya siapa yang mengelola.
“Aku kira…”
Ia berhenti.
“Kamu kira semua uang itu uang ayahku.”
Aku tersenyum tipis.
“Benar?”
Arga tidak menjawab.
Aku mengembalikan dokumen ke map.
“Tidak masalah.”
“Selama ini aku juga tidak butuh kamu mengakuinya.”
“Tapi jangan pernah lagi bertanya siapa yang akan menanggung rumah ini jika kamu kehilangan pekerjaan.”
Arga berdiri terpaku.
Aku hendak membawa map-map itu kembali ketika ia berkata:
“Jadi karena kamu punya uang, kamu mau menghancurkan karierku?”
Aku berhenti.
Dan entah kenapa, kalimat itu justru membuat semuanya menjadi sangat jelas.
Aku menoleh.
“Aku belum melakukan apa pun pada kariermu.”
“Kamu yang menandatangani dokumen.”
“Kamu yang meminta file.”
“Kamu yang menjanjikan pada Citra bahwa asal desain tidak akan dibongkar.”
“Dan kamu masih merasa orang yang menghancurkan kariermu adalah aku?”
Wajah Arga mengeras.
Pintu kamar terbuka.
Bu Ratih keluar seorang diri.
“Ada apa sebenarnya?”
Tak satu pun dari kami menjawab.
Malam itu Arga tidur di ruang kerja.
Pagi berikutnya aku menerima email resmi dari tim audit.
Mereka meminta pernyataan tertulis.
Aku menyusun kronologi dengan dingin.
Tidak menambah.
Tidak mengurangi.
Tidak memasukkan percakapan pribadi tentang dinner.
Hanya fakta profesional.
Jam sembilan lewat sedikit, Arga keluar kamar.
Wajahnya kusut.
“Kamu sudah kirim pernyataan?”
“Belum.”
Ia tampak sedikit lega.
Kemudian ia berkata:
“Jangan kirim dulu sampai sore.”
“Kenapa?”
“Direktur mau ketemu Citra dan aku.”
Aku mengangguk.
Arga berdiri di depan pintu.
“Dira.”
Aku menatapnya.
“Aku akan memperbaiki semuanya.”
Entah kenapa, aku masih ingin percaya satu bagian kecil dari kalimat itu.
Sampai pukul sebelas, sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk.
Bu Nadira, saya staf legal PT Mahardika. Maaf menghubungi langsung. Nama Ibu baru saja disebut dalam rapat internal. Kami perlu memastikan apakah benar Ibu pernah memberikan izin kepada Bapak Arga Mahendra untuk menggunakan arsip desain tersebut.
Aku membalas:
Tidak pernah.
Jawaban datang satu menit kemudian.
Baik. Karena di dalam rapat, Bapak Arga menyatakan bahwa materi tersebut berasal dari arsip pribadi istrinya dan telah digunakan dengan persetujuan keluarga.
Tanganku membeku.
Jadi itulah cara Arga “memperbaiki semuanya”.
Ia tidak mengaku.
Ia baru saja menjadikan aku tameng.
Aku meneleponnya.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu WhatsApp-ku berbunyi.
Pesannya hanya satu baris.
Tolong jangan bikin keadaan tambah kacau. Aku jelaskan nanti di rumah.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian aku membuka email audit yang masih belum kukirim.
Aku menambahkan satu paragraf.
Bukan kemarahan.
Bukan ancaman.
Hanya fakta bahwa aku tidak pernah memberikan izin apa pun kepada Arga.
Lalu kuklik Send.
Sekitar dua jam kemudian, Bu Ratih memanggilku dari ruang tamu.
Wajah beliau pucat.
“Dira…”
Di tangannya ada tablet Arga yang tertinggal.
Layar masih menyala.
Sebuah percakapan WhatsApp Web terbuka.
Bu Ratih menatapku dengan tangan gemetar.
“Apa maksud pesan perempuan ini?”
Aku mengambil tablet.
Pesan dari Citra masuk baru beberapa detik sebelumnya.
Ga, legal mulai curiga. Kalau Nadira tidak mau tutup mulut, kita pakai rencana kedua. Kamu masih punya scan tanda tangannya, kan?
Dan tepat di bawahnya, Arga telah menjawab dari ponselnya:
Ada. Nanti malam aku cari cara.
Aku tidak merasa marah lagi.
Aku merasa takut.
Karena sekarang masalahnya bukan lagi hanya tentang desain yang dicuri.
Suamiku sedang mempertimbangkan menggunakan tanda tanganku tanpa izin.
Dan kali ini, aku memutuskan dia tidak akan mendapat kesempatan kedua untuk menjelaskan.

