Bagian 4 — Ketika Semua Beban Berbalik ke Mereka, Barulah Harga Pengorbanan Ibuku Terlihat Jelas
Map itu bukan surat cerai.
Belum.
Isinya lebih sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, Fajar tidak bisa menghindarinya.
Di halaman pertama ada salinan sertifikat rumah kami.
Rumah itu memang kami tempati setelah menikah.
Tetapi tanahnya berasal dari warisan almarhum ayahku.
Lima tahun setelah pernikahan, rumah lama di atas tanah itu direnovasi total menggunakan gabungan tabunganku, uang penjualan sebidang sawah warisan, dan sebagian pinjaman bank yang sudah lunas.
Sertifikat Hak Milik tetap atas namaku.
Fajar tahu.
Namun selama bertahun-tahun kami tidak pernah mempermasalahkannya karena aku memang menganggap ini rumah keluarga.
Di belakang salinan sertifikat ada daftar biaya rumah tangga tiga tahun terakhir.
Aku tidak membuatnya untuk menyerang Fajar.
Sebagai orang administrasi, aku memang terbiasa menyimpan catatan.
Cicilan yang dulu kami bayarkan bersama.
Listrik.
Sekolah Arga.
Asuransi.
Kebutuhan rumah.
Biaya kesehatan.
Semuanya.
Kemudian ada satu halaman terakhir.
Empat poin yang kutulis sendiri.
Orang tuanya tidak akan tinggal permanen di rumah kami.
Perawatan Bu Ratna harus dilakukan caregiver profesional atau anggota keluarga kandung yang bersedia.
Biayanya diambil dari pendapatan orang tuanya sendiri dan dibagi dengan anak-anak bila diperlukan.
Ibuku tidak boleh lagi disebut, direncanakan, atau dijadikan solusi tanpa persetujuan langsung darinya.
Di bagian bawah, aku menulis satu kalimat.
“Jika empat batas ini dianggap alasan untuk mengakhiri pernikahan, aku siap membicarakannya secara resmi.”
Fajar membaca semuanya tanpa suara.
Lalu mendongak.
“Kamu ngancam aku?”
“Tidak.”
“Aku menjelaskan pilihanku.”
“Kamu mau ngusir Mama?”
“Tidak.”
“Aku minta kamu mengembalikan tanggung jawab perawatan kepada orang-orang yang memang bertanggung jawab.”
“Mama baru stroke!”
“Karena itu dia membutuhkan tenaga profesional.”
Fajar melempar map itu ke meja.
“Rumah ini juga rumahku!”
“Aku tidak pernah bilang bukan.”
Aku tetap duduk.
“Tapi rumah keluarga bukan berarti siapa pun boleh masuk lalu menjadikan ibuku pelayan.”
Dari kamar bawah terdengar suara tongkat.
Bu Ratna ternyata berdiri di pintu.
Pak Hendra berada di belakangnya.
Wajah keduanya kaku.
“Jadi selama ini kamu hitung-hitungan sama keluarga?” tanya Bu Ratna.
Aku berdiri.
“Justru saya baru mulai menghitung sekarang, Bu.”
Dia terdiam.
Aku menatapnya lurus.
“Sepuluh tahun lalu saat saya butuh bantuan tujuh juta untuk biaya NICU, Ibu berkata setiap keluarga harus menyelesaikan urusannya sendiri.”
“Kalimat itu tidak salah.”
“Yang salah adalah ketika aturan berubah hanya karena sekarang Ibu yang membutuhkan bantuan.”
Pak Hendra berkata,
“Orang tua dan anak itu beda.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Karena itu anak kandung Ibu masih ada dua.”
Aku melihat Fajar.
“Fajar.”
Lalu ke arah ponselnya.
“Dan Dinda.”
Pak Hendra langsung membuang muka.
Aku tahu alasannya.
Dinda tinggal di Bogor.
Hanya satu setengah jam perjalanan.
Dia punya usaha salon yang dikelola pegawai.
Tetapi sejak ibunya sakit, kontribusinya hanya beberapa kali transfer obat dan video call pada malam hari.
Setiap ada pembicaraan soal pendampingan, jawabannya selalu sama.
“Aku ada anak kecil.”
Anaknya berusia sembilan tahun.
Hanya dua tahun lebih muda dari Arga.
Anehnya, alasan anak kecil dianggap sah jika keluar dari mulut Dinda.
Tetapi sepuluh tahun pengasuhan Arga oleh ibuku dianggap sekadar karena “Bu Sulastri memang mau”.
Besok paginya aku membuat grup WhatsApp baru.
Anggotanya hanya enam orang.
Aku.
Fajar.
Bu Ratna.
Pak Hendra.
Dinda.
Suaminya.
Aku menulis pesan tanpa marah-marah.
Aku menjelaskan kondisi medis Bu Ratna.
Kebutuhan hariannya.
Perkiraan biaya caregiver.
Pendapatan pensiun.
Pendapatan sewa kios.
Kemudian aku meminta mereka menentukan pembagian tanggung jawab.
Dinda langsung menelepon Fajar.
Aku tidak mendengar seluruh percakapan.
Tetapi suaranya terdengar dari ruang tengah.
“Mas, jangan libatkan aku dong.”
“Kenapa?”
“Ya aku repot.”
“Aku juga kerja.”
“Tapi Mama tinggal sama kalian.”
“Karena Mama memilih pindah ke sini.”
“Kak Rani kan bisa bantu.”
Fajar terdiam cukup lama.
Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung mengiyakan.
“Kak Rani juga kerja.”
“Ya terus Mbak Sulastri?”
Aku sedang menyiram tanaman di teras ketika mendengar namaku disebut.
Fajar menjawab pelan tetapi jelas.
“Ibu Sulastri bukan perawat Mama.”
Aku berhenti.
Itu kalimat pertama yang benar-benar membuatku merasa dia mulai memahami sesuatu.
Dinda rupanya tidak puas.
Siangnya dia mengirim pesan panjang di grup keluarga besar.
Intinya aku dianggap menantu yang tidak tahu balas budi.
Dia menulis bahwa ibunya sedang sakit tetapi malah dibuat merasa tidak diterima.
Beberapa tante langsung ikut berkomentar.
“Namanya juga mertua.”
“Kalau sudah menikah harus menerima keluarga pasangan.”
“Jangan sampai nanti anak sendiri meniru.”
Aku membaca semuanya.
Lalu mengunggah satu foto.
Bukan foto Bu Ratna.
Bukan foto tagihan.
Foto itu adalah foto ibuku sepuluh tahun lalu.
Duduk di kursi plastik rumah sakit.
Masih mengenakan jaket perjalanan.
Di pangkuannya ada tas kain.
Tangannya menggenggam kuitansi pelunasan NICU Arga.
Aku menulis di bawahnya,
“Ini ibu saya saat meninggalkan pekerjaannya dan datang membantu ketika anak kami lahir prematur.”
Kemudian kukirim foto kedua.
Sebuah tangkapan layar SMS lama yang masih kusimpan di email.
Pesan Bu Ratna kepada Fajar saat itu.
“Kalau anakmu sakit, kalian sebagai orang tua yang tanggung. Jangan biasakan bergantung.”
Setelah dua foto itu terkirim, grup keluarga mendadak sunyi.
Satu jam.
Dua jam.
Tidak ada lagi yang mengajariku tentang kewajiban menantu.
Sore harinya, seorang tante menghapus pesannya sendiri.
Aku tidak merasa menang.
Tetapi setidaknya untuk pertama kali, seluruh keluarga melihat sejarah yang selama ini mereka minta kulupakan.
Masalah berikutnya adalah caregiver.
Bu Ratna menolak empat kandidat.
Yang pertama dianggap terlalu muda.
Yang kedua dianggap terlalu cerewet.
Yang ketiga dianggap kurang rapi.
Yang keempat baru berbicara lima menit sudah ditanya soal status pernikahan dan tempat tinggalnya.
Aku tidak ikut campur.
Fajar dan Pak Hendra yang mengurus.
Tiga hari berikutnya menjadi pengalaman yang akhirnya mengubah suamiku lebih banyak daripada semua pertengkaran kami selama sepuluh tahun.
Senin malam, Bu Ratna tidak sempat mencapai toilet.
Fajar yang membersihkan lantai.
Selasa dini hari, dia bangun dua kali karena ibunya kesemutan dan panik.
Rabu, Pak Hendra bertengkar dengan Bu Ratna karena salah menaruh obat.
Kamis pagi, Fajar hampir tertidur saat menyetir ke kantor.
Tidak terjadi kecelakaan.
Namun di lampu merah dekat Kalimalang, klakson mobil belakang membuatnya tersentak sadar.
Malam itu dia pulang lebih awal.
Duduk sendirian di teras.
Aku sedang melipat pakaian ketika dia memanggilku.
“Ran.”
Aku keluar.
Wajahnya benar-benar lelah.
“Dulu waktu Arga bayi…”
Dia berhenti.
“Seburuk ini?”
Aku menatapnya.
“Lebih.”
“Kenapa?”
“Karena Arga prematur.”
“Setiap dua jam harus minum.”
“Kalau suhu tubuh turun, Ibu panik.”
“Kalau aku masih sakit, Ibu harus urus aku juga.”
“Belum lagi masak, cuci pakaian bayi, steril botol, kontrol dokter.”
Fajar menunduk.
“Dan aku kerja.”
“Ya.”
“Ibu kamu ngurus hampir semuanya.”
“Ya.”
Lama sekali dia tidak bicara.
Lalu dia berkata,
“Aku selama ini pikir karena Ibu selalu kelihatan biasa saja… berarti beliau nggak keberatan.”
Aku memandang ke jalan.
“Itu penyakit banyak keluarga.”
“Kita mengira orang yang tidak mengeluh berarti tidak lelah.”
Malam itu untuk pertama kali Fajar menangis di depanku sejak ayahnya sendiri pernah dirawat bertahun-tahun lalu.
Bukan tangisan besar.
Dia hanya menutup wajah dan berkata,
“Aku malu.”
Aku tidak memeluknya.
Belum.
Ada luka yang tidak selesai hanya karena seseorang akhirnya merasa bersalah.
Aku berkata,
“Kalau kamu benar-benar malu, jangan minta aku melupakannya.”
“Perbaiki.”
Besoknya Fajar menelepon Mbak Nuraini.
Ternyata dia sudah bekerja sementara di keluarga lain, tetapi kontraknya hanya dua minggu.
Fajar meminta maaf karena pemberhentian sebelumnya mendadak.
Dia juga menawarkan gaji sembilan juta rupiah.
Bu Ratna langsung protes.
“Kenapa malah dinaikkan?”
Fajar menjawab,
“Karena kerjaannya memang berat.”
“Mama nggak setuju.”
“Kalau Mama nggak setuju, aku yang rawat malam, Papa yang rawat siang.”
Bu Ratna menatapnya.
Fajar kali ini tidak mundur.
“Mama pilih.”
Hari itu Bu Ratna tidak menjawab.
Tetapi keesokan paginya dia setuju.
Masalah biaya lalu muncul.
Pak Hendra bersikeras uang pensiunnya tidak boleh banyak berkurang.
Dia berkata punya rencana memperbaiki dapur dan mengganti mobil lama.
Fajar menunjukkan perhitungan.
Pendapatan sewa dua kios mereka sekitar tujuh juta per bulan.
Pensiun gabungan lebih dari sebelas juta.
Jika dikurangi sembilan juta untuk caregiver, obat-obatan, dan terapi, mereka memang harus mengurangi pengeluaran.
Tetapi mereka tidak akan jatuh miskin.
Pak Hendra tetap keberatan.
Fajar berkata sesuatu yang membuatku hampir tersenyum.
“Kalau Papa merasa sembilan juta mahal, Papa bisa rawat Mama sendiri.”
Pak Hendra langsung diam.
Akhirnya mereka membuat keputusan.
Salah satu kios tidak lagi menyetor pendapatannya ke tabungan keluarga.
Seluruh uang sewanya dialokasikan untuk caregiver.
Dinda diwajibkan membayar sebagian biaya fisioterapi setiap bulan.
Fajar menanggung transportasi kontrol.
Pak Hendra menangani kebutuhan harian.
Bu Ratna awalnya merasa semua anak sedang menghukumnya.
Tidak ada yang membalas.
Kami hanya berhenti menyelamatkannya dari konsekuensi kehidupan nyata.
Tiga minggu kemudian, mereka kembali ke rumah sendiri.
Mbak Nur ikut bersama mereka.
Hari kepindahan itu tidak dramatis.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada koper dilempar.
Aku membantu mengecek obat Bu Ratna.
Bukan karena aku tiba-tiba melupakan semuanya.
Tetapi karena memasang batas tidak sama dengan menjadi kejam.
Sebelum masuk mobil, Bu Ratna memanggilku.
“Rani.”
Aku mendekat.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding tiga minggu sebelumnya.
“Kalau dulu Mama bantu kamu sedikit saja…”
Aku menunggu.
Dia menunduk.
“Mungkin sekarang kamu nggak akan sekeras ini.”
Aku menjawab pelan,
“Bukan soal keras, Bu.”
“Kalau dulu Ibu mengatakan tidak bisa, saya mungkin tetap mengerti.”
“Yang saya ingat adalah Ibu mengatakan kami tidak boleh menjadikan masalah kami tanggung jawab Ibu.”
“Sekarang saya cuma menjalankan aturan yang Ibu sendiri buat.”
Dia diam lama.
Kemudian mengangguk.
Itu bukan permintaan maaf yang sempurna.
Tetapi untuk orang seperti Bu Ratna, itu mungkin kalimat paling dekat dengan pengakuan salah yang bisa keluar saat itu.
Satu bulan setelah semuanya selesai, ibuku pulang.
Kulitnya sedikit lebih gelap.
Dia membawa oleh-oleh bakpia, batik, dan satu folder penuh foto dari Banyuwangi.
Arga berlari memeluknya begitu pintu dibuka.
Fajar berdiri di belakang anak kami.
Tidak langsung bicara.
Ibuku malah tertawa.
“Lho, kok kurusan?”
Fajar tersenyum canggung.
“Ibu…”
Dia mendekat.
Kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Fajar membungkuk sedikit dan menggenggam tangan ibu.
“Maafin saya.”
Ibuku bingung.
“Lho, kenapa?”
“Saya sepuluh tahun menikmati semua yang Ibu kerjakan, tapi menganggap itu biasa.”
Mata ibu langsung memerah.
Fajar melanjutkan,
“Saya juga hampir membiarkan keluarga saya memperlakukan Ibu seolah-olah tenaga Ibu memang milik kami.”
“Ibu nggak harus jawab sekarang.”
“Saya cuma mau bilang saya salah.”
Ibuku tidak membalas dengan pidato panjang.
Beliau hanya menepuk lengannya.
“Sudah.”
Tetapi aku melihat beliau cepat-cepat membuang muka.
Malam itu kami makan bersama.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ibu tidak berdiri setiap lima menit mengambil sesuatu.
Fajar yang mengambil nasi.
Arga yang membawa piring.
Aku yang mencuci.
Ketika ibu refleks hendak bangun mengambil buah, Fajar langsung berkata,
“Ibu duduk.”
“Saya ambil.”
Aku melihat ibu tertawa kecil.
Perubahan tidak datang sekaligus.
Fajar masih kadang lupa.
Masih kadang harus kuingatkan.
Tetapi sekarang setiap kali ibuku mengatakan ingin pergi, tidak ada lagi yang bertanya,
“Terus siapa yang antar Arga?”
Kami bertanya,
“Ibu mau berapa hari?”
Beberapa bulan kemudian, ibu mulai mengikuti kelas memasak komunitas di dekat rumah.
Dua kali seminggu.
Kemudian dia ikut kelompok senam lansia.
Hari Sabtu kadang pergi dengan teman-temannya tanpa menjelaskan akan pulang jam berapa.
Arga juga belajar mengurus dirinya sendiri.
Menyiapkan seragam.
Membuat telur.
Merapikan kamar.
Hal-hal yang dulu selalu kami biarkan ibu lakukan karena beliau terlalu cekatan.
Anehnya, ketika kami berhenti mengandalkan ibu untuk semuanya, rumah kami tidak runtuh.
Kami justru menjadi keluarga yang lebih sehat.
Hubunganku dengan Fajar juga berubah.
Aku tidak langsung menganggap semua selesai.
Aku memisahkan sebagian tabunganku.
Kami membuat pembagian biaya rumah yang jauh lebih transparan.
Aku juga menegaskan satu aturan.
Tidak ada keputusan tentang keluarga besar yang dibuat tanpa persetujuan kami berdua.
Termasuk uang.
Tempat tinggal.
Perawatan orang tua.
Fajar setuju.
Bukan karena takut aku meninggalkannya.
Setidaknya bukan hanya karena itu.
Dia akhirnya mengerti bahwa pernikahan tidak boleh bekerja dengan sistem siapa yang paling sabar, dialah yang paling banyak dipakai.
Setengah tahun kemudian, kondisi Bu Ratna jauh lebih stabil.
Dia sudah bisa berjalan jarak pendek memakai tongkat.
Mbak Nur masih bekerja dengannya.
Pak Hendra kini bisa mengukur tekanan darah istrinya sendiri dan bahkan belajar memanaskan makanan tanpa memanggil orang lain setiap lima menit.
Dinda datang setiap dua minggu.
Awalnya karena diwajibkan.
Kemudian mulai terbiasa.
Suatu sore kami mengunjungi mereka.
Bu Ratna sedang duduk di teras.
Saat melihat ibuku ikut bersama kami, ekspresinya sempat canggung.
Ibuku justru membawa sekotak lemper.
“Bikin kebanyakan.”
Katanya begitu.
Bu Ratna menerimanya.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada adegan mendadak menjadi akrab.
Tidak perlu.
Kadang hubungan yang sehat bukan tentang menjadi sangat dekat.
Kadang cukup tahu sampai di mana batas masing-masing.
Sebelum kami pulang, Bu Ratna tiba-tiba berkata kepada ibuku,
“Bu Sulastri.”
Ibuku berhenti.
“Ya?”
Bu Ratna menghela napas.
“Saya dulu banyak salah.”
Kami semua diam.
Dia melanjutkan,
“Terima kasih sudah menjaga Arga selama ini.”
Ibuku tersenyum.
“Saya jaga cucu saya karena saya sayang.”
Bu Ratna mengangguk.
“Saya tahu.”
Lalu setelah beberapa detik dia menambahkan,
“Tapi sayang bukan berarti tidak capek.”
Aku melihat ibuku.
Matanya berkaca-kaca.
“Betul.”
Hanya itu.
Tetapi entah kenapa kalimat itu terasa seperti menutup sebuah lingkaran yang terbuka selama sepuluh tahun.
Dalam perjalanan pulang, Arga tertidur di kursi belakang.
Ibuku duduk di sampingnya sambil melihat keluar jendela.
Fajar menyetir.
Aku duduk di depan.
Di lampu merah, dia menggenggam tanganku sebentar.
“Terima kasih karena waktu itu kamu nggak langsung pergi.”
Aku melihatnya.
“Aku hampir pergi.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau kamu nggak berubah, aku memang akan pergi.”
Dia mengangguk.
“Aku juga tahu.”
Aku tidak mengatakan semuanya sudah sempurna.
Karena hidup tidak bekerja seperti itu.
Namun setidaknya sekarang setiap orang membawa bebannya sendiri.
Yang sakit mendapatkan perawatan layak.
Yang menjadi anak menjalankan tanggung jawabnya.
Yang menjadi pasangan belajar menghormati batas.
Dan perempuan tua yang selama sepuluh tahun mengorbankan hidupnya untuk kami akhirnya punya kembali waktunya sendiri.
Beberapa minggu setelah itu, ibu menunjukkan brosur perjalanan ke Lombok.
“Kalau bulan depan Ibu pergi empat hari, boleh?”
Aku pura-pura berpikir keras.
“Kayaknya susah.”
Wajah ibu berubah.
Lalu aku menunjuk koper di lemari.
“Empat hari terlalu sebentar. Sekalian seminggu.”
Ibu memukul lenganku sambil tertawa.
Dari ruang tengah, Fajar berseru,
“Pergi saja, Bu! Arga saya urus!”
Arga yang sedang main gim langsung protes,
“Lho, kok aku yang dibahas?”
Kami semua tertawa.
Aku memandang ibu.
Sepuluh tahun lalu beliau datang ke rumahku membawa satu tas kain dan menjual gelangnya demi menyelamatkan cucunya.
Sepuluh tahun kemudian, hampir saja kami membalas semua itu dengan memberikan kepadanya pekerjaan baru yang tidak pernah dia pilih.
Untung kali ini aku mengatakan tidak.
Karena kadang kata “tidak” bukan bentuk ketidakpedulian.
Kadang “tidak” adalah cara terakhir melindungi seseorang yang terlalu baik untuk melindungi dirinya sendiri.
Dan sejak hari itu, di keluarga kami berlaku satu aturan sederhana.
Kasih sayang boleh diberikan dengan tulus.
Pengorbanan boleh dilakukan dengan sukarela.
Tetapi waktu, tenaga, tubuh, dan hidup seseorang tidak pernah menjadi milik keluarga hanya karena orang itu selama ini terlalu baik untuk menolak.

