Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Koper, Tetapi Orang yang Hendak Mereka Perintah Sudah Pergi

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 1,196 tayangan
Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Koper, Tetapi Orang yang Hendak Mereka Perintah Sudah Pergi
Indeks

Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Koper, Tetapi Orang yang Hendak Mereka Perintah Sudah Pergi

Sabtu siang aku mengajak ibu keluar dengan alasan membeli beberapa keperluan.

Sebenarnya aku sudah menyusun semuanya sejak malam sebelumnya.

Adik ibu tinggal di Bantul.

Sudah hampir dua tahun ibu tidak mengunjunginya karena selalu khawatir kalau Arga mendadak membutuhkan sesuatu.

Beberapa bulan sebelumnya, ibu juga pernah bilang ingin melihat Bromo dan Banyuwangi bersama teman-teman lamanya.

Setiap kali kuajak pergi, jawabannya selalu sama.

“Nanti saja. Arga masih sekolah.”

Kali ini aku tidak memberinya kesempatan mencari alasan.

Aku memesankan tiket kereta ke Yogyakarta, lalu membayar paket perjalanan empat hari bersama teman-teman komunitas lamanya dua minggu kemudian.

Setelah itu ibu bebas tinggal di Bantul selama yang dia mau.

Ketika kuberitahu, ibu justru panik.

“Terus rumah?”

“Ada aku.”

“Arga?”

“Sudah sebelas tahun, Bu. Dia bisa pakai seragam sendiri.”

“Masak?”

“Fajar punya dua tangan.”

Ibu menatapku lama.

“Jangan karena marah sama mertua, kamu korbankan rumah tanggamu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Yang merusak rumah tangga bukan orang yang membuat batas, Bu.”

“Yang merusak itu orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah kewajiban.”

Ibu akhirnya diam.

Malam itu aku mengantar beliau ke Stasiun Pasar Senen.

Sebelum naik, ibu masih memegang tanganku erat.

“Kalau Bu Ratna memang butuh bantuan, kamu jangan tega.”

Aku tersenyum.

“Aku tidak akan tega.”

“Tapi aku juga tidak akan tega sama Ibu.”

Kereta berangkat pukul sembilan lewat sedikit.

Ketika aku pulang, Fajar sedang menonton televisi.

Dia bertanya ibu ke mana.

“Bantul.”

Dia langsung berdiri.

“Bantul?”

“Ya.”

“Kapan pulang?”

“Belum tahu.”

Wajahnya berubah.

“Rani, Mama besok datang.”

“Aku tahu.”

“Terus siapa yang bantu?”

Aku melepas sepatu.

“Kamu.”

“Maksudmu?”

“Kamu anaknya.”

Fajar mulai berjalan mengikutiku menuju dapur.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

“Rani, aku kerja Senin sampai Jumat.”

“Aku juga.”

“Pekerjaanku nggak bisa ditinggal.”

“Pekerjaanku juga.”

“Mama perlu bantuan perempuan.”

“Caregiver yang kamu berhentikan juga perempuan.”

Fajar mengusap kepalanya.

“Mbak Nur sudah terlanjur dikasih tahu Papa nggak perlu datang lagi.”

Aku berhenti.

“Bagus.”

“Kok bagus?”

“Jadi sekarang kalian bisa merasakan kenapa pekerjaan orang seperti Mbak Nur layak dibayar delapan setengah juta.”

Fajar marah besar malam itu.

Tetapi tak ada gunanya.

Minggu pagi, sebuah mobil MPV berhenti di depan rumah.

Di belakangnya ada mobil bak tertutup membawa empat koper, kursi roda lipat, alat terapi, dua kardus makanan kesehatan, dan entah kenapa sebuah televisi empat puluh tiga inci.

Pak Hendra turun lebih dulu.

Dia berjalan masuk sambil melihat sekeliling seperti sedang memeriksa hotel.

Bu Ratna menyusul dengan tongkat kaki empat.

Begitu sampai ruang tamu, pertanyaan pertamanya bukan soal aku.

Bukan juga soal Arga.

“Besanmu mana?”

“Pergi.”

Bu Ratna mengerutkan kening.

“Pergi ke mana?”

“Yogyakarta.”

“Kapan pulang?”

“Belum tahu.”

Wajahnya langsung tidak enak.

Pak Hendra ikut bertanya,

“Kok pergi sekarang?”

Aku hampir tertawa.

“Karena beliau ingin pergi.”

Bu Ratna menatap Fajar.

“Kamu nggak bilang sama dia?”

Fajar memijat pelipisnya.

“Mama duduk dulu.”

Mereka baru berada di rumah kami sekitar dua puluh menit ketika Pak Hendra meminta kopi tanpa gula.

Lima menit kemudian meminta air hangat.

Kemudian menanyakan remote AC.

Lalu protes karena kamar bawah terlalu lembap.

Bu Ratna meminta bantal diganti karena terlalu tinggi.

Seprai dianggap kasar.

Kamar mandi katanya licin.

Aku melakukan satu hal.

Tidak ikut campur.

Fajar yang mengangkat koper.

Fajar yang mengganti bantal.

Fajar yang memasang keset antiselip.

Fajar pula yang bolak-balik menyiapkan minuman.

Menjelang malam, dia sudah kelelahan.

Tetapi ujian sebenarnya baru mulai pukul dua pagi.

Bu Ratna ingin ke kamar mandi.

Fajar terbangun karena panggilan dari bawah.

Dia membantunya berdiri, tetapi tidak tahu cara memindahkan beban tubuh pasien stroke.

Bu Ratna ketakutan.

“Jangan tarik tangan Mama! Sakit!”

Aku mendengar semuanya dari kamar.

Aku turun.

Bukan untuk mengambil alih.

Aku menunjukkan cara mengunci walker dan menopang pinggang.

Setelah Bu Ratna kembali ke tempat tidur, Fajar menatapku kesal.

“Kamu tahu caranya, kenapa dari tadi nggak bantu?”

“Karena kamu perlu belajar.”

Hari Senin, Fajar terlambat masuk kantor satu jam.

Pak Hendra tidak bisa memasak.

Bu Ratna ingin bubur ayam tanpa daun bawang.

Pak Hendra menyuruh Fajar membelinya.

Siang hari aku bekerja dari kantor.

Pukul sebelas, ponselku berbunyi enam kali.

Satu panggilan dari Bu Ratna.

Dua dari Pak Hendra.

Tiga dari Fajar.

Aku tidak mengangkat sampai jam makan siang.

“Apa?”

Suara Fajar terdengar lelah.

“Mama nggak bisa mandi sendiri.”

“Lalu?”

“Papa nggak berani bantu.”

“Telepon caregiver.”

“Sudah kubilang Mbak Nur berhenti.”

“Cari yang lain.”

“Segampang itu?”

Aku diam beberapa detik.

“Tidak.”

“Memang tidak gampang.”

“Itu sebabnya biaya mereka mahal.”

Hari kedua lebih buruk.

Pak Hendra memasak mi instan untuk makan siang.

Bu Ratna marah karena dokter menyuruh mengurangi garam.

Hari ketiga, Fajar harus pulang kantor pukul tiga karena ibunya hampir jatuh saat berusaha mengambil pakaian dari lemari.

Hari keempat, atasannya mulai bertanya kenapa dia terus meninggalkan kantor.

Jumat pagi dia duduk di meja makan dengan mata merah.

Baru lima hari.

Hanya lima hari.

Sepuluh tahun sebelumnya, ibuku menjalani rutinitas semacam itu sambil merawat bayi prematur.

Tidak ada yang menyebutnya kerja.

Tidak ada yang menghitung berapa nilainya.

Tidak ada yang bertanya apakah dia lelah.

Jumat malam, sebuah percakapan keluarga masuk ke ponsel Fajar.

Kebetulan ponselnya tertinggal di meja ketika dia mandi.

Aku tidak berniat membuka.

Namun notifikasi muncul terus-menerus.

Nama adik perempuannya, Dinda, terlihat di layar.

“Gimana? Bu Sulastri mau bantu nggak?”

Lalu pesan lain.

“Kalau dia pulang terus, ya repot. Padahal dari awal Mama bilang enak kalau tinggal sama kalian, ada besan yang sudah terbiasa ngurus rumah.”

Pesan berikutnya membuatku diam.

“Mbak Sulastri juga kan nggak kerja. Daripada bengong.”

Aku tidak menyentuh ponsel itu.

Tidak perlu.

Kalimat di layar sudah cukup.

Ketika Fajar keluar dari kamar mandi, aku menunjuk ponselnya.

“Keluargamu memang sudah membahas ibuku sejak sebelum mereka pindah?”

Fajar mengambil teleponnya.

Wajahnya berubah.

“Rani…”

“Berapa lama?”

Dia diam.

“Berapa lama kalian merencanakan ini?”

“Mama pernah ngomong sekitar sebulan lalu.”

“Satu bulan.”

Aku tertawa pendek.

“Jadi ketika aku sibuk mencari caregiver terbaik, kalian sebenarnya sedang menghitung kapan ibuku bisa menggantikannya gratis?”

“Nggak begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Fajar meninggikan suara.

“Karena kita keluarga!”

Aku langsung membalas,

“Kalau keluarga, kenapa hanya satu orang yang selalu diminta berkorban?”

Suasana menjadi panas.

Bu Ratna mendengar dari kamar bawah dan ikut keluar.

Dengan tongkatnya, dia berdiri di ujung ruang keluarga.

“Kalau Rani memang tidak ikhlas menerima Mama di sini, bilang saja.”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Semua diam.

“Apa?”

“Aku tidak ikhlas kalau Ibu datang dengan tujuan menjadikan ibu saya caregiver gratis.”

Bu Ratna langsung menangis.

Fajar panik.

“Rani!”

Aku tidak berhenti.

“Ibu boleh sakit. Ibu boleh butuh bantuan. Itu manusiawi.”

“Tapi Ibu tidak boleh merasa karena ibu saya tinggal di sini maka waktu dan tenaganya otomatis menjadi milik keluarga Ibu.”

Bu Ratna menghapus air mata.

“Dulu Mama memang nggak bisa bantu kamu.”

“Bukan nggak bisa.”

Aku memotongnya.

“Ibu memilih tidak mau.”

“Dan itu hak Ibu.”

“Saya juga tidak pernah datang menagih sepuluh tahun hidup ibu saya.”

“Tapi sekarang, tolong hormati hak kami melakukan hal yang sama.”

Pak Hendra mulai ikut campur.

“Sudahlah. Jangan ungkit masa lalu terus.”

Aku menatapnya.

“Pak, justru karena Bapak menganggap masa lalu tidak penting, kalian mengulangi perilaku yang sama.”

Dua hari setelah pertengkaran itu, Fajar mendapatkan teguran resmi dari kantor.

Dia pulang dengan wajah kusut.

Malam itu dia berkata sesuatu yang selama beberapa hari sebenarnya sudah kuduga akan muncul.

“Kalau begini terus, salah satu dari kita harus mengalah.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

“Kamu bisa ambil cuti panjang.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kenapa aku?”

“Karena kerjaku sekarang sedang ada proyek besar.”

“Kerjaku juga.”

“Kamu kan posisinya lebih fleksibel.”

“Aku kepala administrasi, Jar.”

Dia mulai kehilangan kesabaran.

“Terus solusinya apa?”

“Bayar caregiver.”

“Mama nggak mau orang asing lagi.”

“Itu keputusan Mama. Konsekuensinya bukan otomatis pindah ke pundakku.”

Fajar berdiri.

Suara kursinya bergeser keras.

“Aku sudah capek.”

“Aku juga.”

“Aku cuma minta kamu sedikit berkorban untuk orang tuaku.”

Aku menatap wajahnya lama.

Sepuluh tahun.

Ibuku sudah mengorbankan pekerjaan.

Waktu.

Tenaga.

Tidur.

Kesehatan.

Dan tidak ada yang pernah menyebutnya pengorbanan.

Tetapi sekarang, setelah lima hari Fajar bangun malam membantu ibunya sendiri, dia sudah merasa hidupnya tidak adil.

Dia menunjuk ke arah kamar bawah.

“Itu Mama aku.”

Aku menjawab,

“Dan Bu Sulastri itu Mama aku.”

Fajar memukul meja dengan telapak tangannya.

“Kalau kamu memang tidak mau membantu Mama, terus buat apa kita jadi suami istri?”

Aku diam.

Dia meneruskan dengan suara berat,

“Pilih saja, Rani.”

“Mama tetap di sini dan kamu ikut bantu, atau hubungan kita yang harus dipikirkan ulang.”

Ruangan seketika sunyi.

Aku berjalan ke lemari kecil di ruang kerja.

Mengambil map cokelat yang sudah kusiapkan dua hari sebelumnya.

Lalu meletakkannya di depan Fajar.

“Bagus.”

“Karena aku juga sudah memikirkan ulang.”

Dia menatap map itu.

“Apa ini?”

Aku mendorongnya perlahan.

“Buka.”

Dan saat dia membaca halaman pertama, untuk pertama kalinya sejak orang tuanya datang ke rumah kami, wajah Fajar benar-benar pucat.