Bagian 4 — Saat Bukti Diputar di Depan Keluarga, Pengkhianat Itu Kehilangan Segalanya Sekaligus

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 547 tayangan
Indeks

Bagian 4 — Saat Bukti Diputar di Depan Keluarga, Pengkhianat Itu Kehilangan Segalanya Sekaligus

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah rekaman berhenti.

Suasana ruang makan besar itu terasa seperti ruang sidang.

Pak Surya menatapku seolah baru saja melihat seluruh prasangkanya dibenarkan.

Bu Mira menangis tanpa suara.

Salah satu paman Adrian bahkan menggeleng pelan.

“Empat miliar lebih…”

bisiknya.

“Ya Allah.”

Siska berdiri di sebelah Raka sambil memegang tisu.

Perempuan itu benar-benar luar biasa.

Dia terlihat lebih sedih daripada aku.

Seolah dialah orang yang paling terluka oleh “kejahatanku”.

“Ratih,” katanya lirih.

“Kalau dari awal kamu mengaku, mungkin semuanya nggak perlu sampai sejauh ini.”

Aku menatapnya.

“Aku yang atur transfernya. Jangan sampai Adrian tahu dulu.”

Ya.

Itu memang suaraku.

Aku bahkan tahu kapan aku pernah mengatakan kalimat tersebut.

Dan justru karena itulah aku tidak panik.

Aku menoleh kepada penyidik yang berdiri di ujung meja.

“Pak, boleh diputar sekali lagi?”

Raka langsung menyela.

“Untuk apa?”

Aku tidak melihatnya.

Aku tetap menatap penyidik.

“Sekali lagi saja.”

Rekaman diputar.

Kalimat yang sama.

Aku yang atur transfernya. Jangan sampai Adrian tahu dulu.

Aku mengangguk.

Kemudian bertanya,

“Rekaman itu tanggal berapa?”

Siska menjawab lebih cepat daripada Raka.

“Dua belas Mei.”

Aku hampir tersenyum.

“Yakin?”

Raut wajahnya berubah sangat tipis.

“Ya.”

Aku mengambil ponsel.

“Farhan.”

Pengacara kami berdiri dan menyambungkan laptop ke layar.

“File yang baru saja diputar adalah potongan audio berdurasi delapan detik,” katanya.

“Kami sudah menerima salinannya dua hari lalu dari pihak yang sama.”

Raka langsung menatapnya.

“Kalian dapat dari mana?”

Farhan tersenyum tipis.

“Pak Raka mengirimnya ke email komisaris.”

Wajah Raka menegang.

“Jadi?”

“Kami mencari sumber aslinya.”

Di layar muncul sebuah video.

Aku mengenali tempatnya.

Rumah orang tuaku di Bandung.

Hari ulang tahun ibuku.

Tanggal 12 Mei.

Dalam video, aku duduk di ruang makan bersama kakakku.

Suara televisi terdengar samar dari belakang.

Aku sedang berbicara melalui telepon.

Versi lengkapnya diputar.

“Aku yang atur transfernya. Jangan sampai Adrian tahu dulu.”

Lalu suaraku melanjutkan,

“Ini hadiah ulang tahun Mama. Kalau Adrian tahu, dia pasti ikut bayar. Aku maunya tahun ini dari uangku sendiri.”

Di meja di depanku terlihat bukti transfer.

Rp12.500.000.

Bukan empat ratus juta.

Bukan dana perusahaan.

Uang tabunganku sendiri untuk membelikan ibuku mesin jahit industri kecil agar dia bisa kembali menerima pesanan kebaya.

Adrian menutup mata sebentar.

Pak Surya menatap layar.

Bu Mira berhenti menangis.

Aku kembali melihat Siska.

Wajahnya sudah kehilangan warna.

“Kamu mengambil delapan detik dari percakapan pribadiku.”

Aku berkata pelan.

“Kamu menghapus bagian sebelum dan sesudahnya.”

Siska mencoba tertawa.

“Siapa bilang aku yang buat?”

“Belum selesai.”

Farhan membuka dokumen berikutnya.

Metadata file.

Timestamp.

Tanggal pembuatan ulang.

Perangkat yang digunakan mengedit.

Raka berdiri.

“Data kayak begitu bisa dimanipulasi.”

“Betul,” jawab auditor independen.

“Makanya kami tidak hanya mengandalkan metadata.”

Dia membuka folder lain.

Salah satu anggota tim IT perusahaan sebelumnya telah menyalin log server email selama delapan bulan terakhir.

Email yang seolah kukirim tanggal 14 Juni tercatat menggunakan sesi login dari perangkat yang berbeda dengan laptop pribadiku.

Alamat IP berasal dari koneksi internet apartemen Siska.

Siska langsung menyahut,

“Ratih sering di apartemen saya!”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Lalu rekaman CCTV apartemen diputar.

Pukul 19.52.

Aku terlihat keluar.

Pukul 20.03, aku terekam memasuki mobil sepupuku.

Pukul 20.11, struk elektronik restoran menunjukkan aku melakukan pembayaran uang muka meja melalui QRIS.

Pukul 20.17, email palsu dikirim.

Dan pada waktu yang sama, kamera koridor lantai apartemen memperlihatkan Siska membuka pintunya sendirian.

“Satu email nggak membuktikan apa-apa.”

Suara Raka mulai meninggi.

Aku menatapnya.

“Benar.”

Aku mengeluarkan print-out lain.

“Makanya kita bicara soal uangnya.”

Auditor berdiri.

Aliran transaksi ditampilkan seperti cabang.

PT Mahendra Distribusi membayar PT Nusantara Arta Prima.

Uang kemudian dipecah.

Sebagian masuk ke rekening perusahaan lain.

Sebagian masuk ke rekening pribadi.

Salah satu rekening penerima akhirnya digunakan untuk membayar uang muka sebuah apartemen.

Nama penerima unitnya muncul di layar.

SISKA LARASATI.

Bu Mira mengembuskan napas panjang.

Pak Surya berdiri perlahan.

“Siska…”

Siska langsung menggeleng.

“Itu uang pinjaman!”

“Dari siapa?”

“Aku…”

“Dari siapa?”

Suara Pak Surya menggelegar.

Siska menatap Raka.

Kesalahan terbesar yang bisa dia lakukan malam itu.

Semua orang melihatnya.

Raka segera berkata,

“Jangan lihat saya. Saya nggak tahu.”

Siska terdiam.

Untuk pertama kalinya mereka mulai saling menjauh.

Aku hampir bisa melihat retaknya kerja sama mereka.

Raka kemudian berusaha menyerang.

“Kalau semua itu benar, kenapa Mas Adrian malah ganti kunci rumah?”

Semua mata pindah kepada suamiku.

Adrian berdiri.

“Karena saya menemukan ini.”

Rekaman kamera gerbang cluster diputar.

Tanggal dua hari sebelumnya.

Pukul 02.11.

Mobil Raka memasuki kawasan rumah kami.

Pukul 02.18.

Dia turun memakai topi dan masker.

Di tangannya ada sebuah kunci.

Pukul 03.06.

Dia keluar membawa map besar.

Raka memukul meja.

“Itu bukan saya!”

Adrian memperbesar rekaman ketika Raka melepas masker beberapa detik saat berada di mobil.

Wajahnya terlihat jelas.

Suasana berubah total.

Raka mengambil ponselnya.

Salah satu penyidik berkata,

“Pak, sebaiknya jangan menghapus atau mengubah data apa pun.”

Raka menatapnya.

“Saya belum berstatus apa-apa.”

“Benar. Kami juga belum mengatakan Bapak berstatus apa.”

Kalimat itu justru membuatnya semakin pucat.

Aku menoleh kepada Siska.

“Sekarang giliran kita.”

Dia menatapku.

“Aku nggak tahu apa maksudmu.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Rekaman kafe kemarin diputar.

Tidak seluruhnya.

Hanya bagian paling jelas.

Suara Siska:

Dia sudah tahu rumahnya dikunci.

Suara Raka:

Bagus. Biar dia panik.

Lalu—

Semakin dia kelihatan panik, semakin gampang orang percaya dia bersalah.

Wajah Bu Mira berubah total.

Dia berjalan mendekati Siska.

“Kamu datang ke rumah saya dua kali minggu ini.”

Siska mundur setengah langkah.

“Tante…”

“Kamu duduk di sini.”

Bu Mira menunjuk kursi.

“Kamu memegang tangan saya sambil bilang Ratih mungkin punya masalah keuangan.”

Siska tidak menjawab.

“Kamu bilang kamu khawatir Adrian dimanfaatkan istrinya.”

“Tante, saya cuma—”

Plak!

Tamparan Bu Mira terdengar keras.

Aku sendiri terkejut.

Bu Mira hampir tidak pernah meninggikan suara kepada siapa pun.

“Kamu makan di rumah saya.”

Suaranya gemetar.

“Kamu tidur di rumah anak saya. Lebaran tahun lalu saya kasih kamu kain batik karena kamu bilang kangen almarhum ibumu.”

Mata Siska merah.

Entah karena malu atau marah.

Bu Mira menunjukku.

“Dan kamu hancurkan nama perempuan yang memanggilmu saudara?”

Siska tiba-tiba berteriak.

“Karena keluarga kalian dulu menghancurkan keluarga saya!”

Ruangan sunyi.

Akhirnya.

Topeng itu benar-benar jatuh.

Siska menangis sambil tertawa getir.

“Ayah saya kehilangan semuanya gara-gara perusahaan ini.”

Pak Surya menatapnya.

“Ayahmu kehilangan kontrak karena dia menaikkan nilai invoice hampir dua kali lipat.”

“Itu kata kalian!”

“Bukan.”

Pak Surya berjalan ke sebuah lemari.

Dia mengeluarkan map lama.

“Ada audit eksternal. Ada putusan perdata. Ada bukti.”

Siska menatap dokumen itu.

Bahu perempuan itu bergetar.

“Ayah saya meninggal dengan utang.”

“Saya turut berduka.”

Pak Surya menjawab.

“Tapi Ratih bahkan belum mengenal Adrian saat itu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Aku berjalan mendekati Siska.

“Kalau kamu membenci keluarga Mahendra, kenapa kamu memilih aku?”

Dia menatapku dengan mata penuh air.

Beberapa detik aku berharap dia akan mengatakan semuanya palsu.

Bahwa persahabatan kami tetap pernah nyata.

Tetapi jawabannya justru lebih menyakitkan.

“Karena kamu paling mudah.”

Dadaku berhenti.

Dia tersenyum pahit.

“Kamu percaya orang.”

Aku tidak bergerak.

“Kamu cerita semuanya. Password Wi-Fi. Jadwal Adrian. Kapan rumah kosong. Kamu bahkan pernah kasih aku salinan KTP waktu kita urus tiket ke luar negeri.”

Aku merasakan sesuatu runtuh.

Bukan pernikahanku.

Bukan rumahku.

Sesuatu yang jauh lebih lama.

Kepercayaanku pada perempuan yang pernah kupanggil keluarga.

Siska melanjutkan,

“Awalnya aku cuma perlu dekat.”

“Lalu?”

Dia diam.

“Setelah tujuh tahun, Sis?”

Suaraku akhirnya pecah.

“Semua itu tetap cuma tugas?”

Siska menunduk.

Itu lebih buruk daripada jawaban apa pun.

Aku mengusap air mata.

“Baik.”

Aku mundur.

“Mulai sekarang kamu nggak perlu pura-pura lagi.”

Raka tiba-tiba berkata,

“Jangan sok suci. Adrian juga bohong sama kamu!”

Aku menoleh.

Untuk sekali ini, aku setuju dengannya.

“Iya.”

Adrian menatapku.

Aku melanjutkan,

“Dan dia akan bertanggung jawab atas caranya memperlakukanku.”

Raka terlihat bingung.

Mungkin dia mengira aku akan langsung berdiri di samping Adrian hanya karena suamiku ternyata tidak berselingkuh atau benar-benar membuangku.

Tidak.

Masalah kami belum selesai.

Membongkar pengkhianatan orang lain tidak otomatis menghapus kesalahan dalam pernikahan kami.

Aku menatap Adrian.

“Kita bicara nanti.”

Dia mengangguk.

Tidak membantah.

Tidak memaksa.

Malam itu tidak ada adegan dramatis polisi langsung memborgol siapa pun.

Hidup nyata tidak bekerja seperti itu.

Penyidik membawa salinan bukti.

Raka dan Siska diminta hadir untuk pemeriksaan lanjutan.

Laptop perusahaan diamankan melalui prosedur internal.

Akses Raka ke sistem keuangan dibekukan malam itu juga.

Pak Surya meminta audit penuh.

Dua hari kemudian aku datang memberikan keterangan resmi didampingi Farhan.

Seminggu setelahnya, beberapa rekening yang terkait transaksi mencurigakan mulai diperiksa.

Dan perlahan, cerita yang mereka bangun selama berbulan-bulan runtuh dari dalam.

Ternyata jumlahnya lebih besar daripada yang kami duga.

Bukan Rp4,2 miliar.

Audit lanjutan menemukan total transaksi bermasalah hampir Rp6,1 miliar selama sebelas bulan.

Sebagian memang biaya operasional nyata yang nilainya dinaikkan.

Sebagian berasal dari vendor fiktif.

Sebagian dialihkan melalui perusahaan perantara.

Raka menjadi pusatnya.

Siska bukan sekadar orang yang membantu memalsukan percakapan.

Dia menerima aliran dana dan menyediakan akses ke data pribadiku.

Yang paling menyakitkan adalah sebuah folder di laptopnya.

Namanya:

RATIH.

Di dalamnya ada foto dokumen pribadiku.

Jadwal.

Screenshot percakapan.

Bahkan catatan kecil tentang kebiasaanku.

Ratih biasanya tidur pukul 23.30.

Ratih menyimpan laptop di meja kerja.

Ratih gampang percaya kalau bicara soal keluarga.

Aku berhenti membaca setelah kalimat terakhir.

Aku tidak membutuhkan bukti lebih banyak untuk memahami siapa dia.

Proses hukumnya berlangsung berbulan-bulan.

Aku tidak mengikuti setiap detail.

Aku memberikan keterangan ketika dibutuhkan lalu kembali bekerja.

Aku tidak mau seluruh hidupku berubah menjadi perpanjangan pengkhianatan mereka.

Dalam persidangan berikutnya, jejak transaksi, dokumen perusahaan, rekaman, serta keterangan sejumlah saksi digunakan untuk membuktikan skema tersebut.

Raka akhirnya dinyatakan bersalah atas rangkaian penggelapan dan pemalsuan dokumen yang terkait dengan transaksi perusahaan.

Siska juga dinyatakan bersalah atas keterlibatannya dalam pemalsuan bukti serta penggunaan data pribadiku dalam skema itu.

Aset yang terbukti berkaitan dengan dana bermasalah disita dan diproses untuk pemulihan kerugian sesuai putusan.

Apartemen yang dulu Siska gunakan sebagai tempat kami tertawa sampai pagi ikut masuk dalam sengketa aset.

Aku mendengar kabarnya dari Farhan.

Aku tidak datang.

Aku juga tidak pernah mengunjunginya.

Sekali, beberapa minggu sebelum putusan, Siska mengirim surat melalui pengacaranya.

Hanya dua halaman.

Dia menulis bahwa pada tahun-tahun terakhir persahabatan kami, sebagian perasaannya kepadaku memang nyata.

Dia mengaku beberapa kali ingin berhenti.

Tetapi setiap kali mengingat keluarganya, dia kembali memilih rencana awal.

Di bagian akhir dia menulis:

Aku tahu kamu tidak akan memaafkanku. Aku juga tidak akan meminta.

Aku membaca surat itu sekali.

Lalu kusimpan di dalam kotak dokumen perkara.

Bukan karena aku masih menyayanginya.

Tetapi karena aku ingin mengingat satu hal.

Orang yang pernah tulus kepada kita tetap bisa memilih mengkhianati kita.

Masa lalu yang baik tidak membatalkan kejahatan yang dilakukan hari ini.

Hubunganku dengan keluarga Adrian juga berubah.

Tiga hari setelah rapat itu, Pak Surya datang menemuiku di kantor tempatku bekerja.

Tanpa sopir.

Tanpa sekretaris.

Dia duduk di kursi tamu selama hampir satu jam.

“Saya minta maaf.”

Itu kalimat pertama yang dia ucapkan.

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan,

“Saya terlalu cepat percaya pada dokumen karena saya sudah takut perusahaan ini hancur.”

Aku tidak membantunya merasa lebih baik.

Aku membiarkannya menyelesaikan kalimatnya sendiri.

“Saya seharusnya bicara langsung dengan kamu.”

“Iya, Pak.”

Dia terlihat sedikit terkejut mendengar jawabanku.

Aku tidak mengatakan, “Tidak apa-apa.”

Karena memang tidak apa-apa.

Beberapa luka tidak perlu dipermanis agar orang lain merasa nyaman.

Bu Mira datang dua hari kemudian.

Dia menangis.

Aku memeluknya karena aku memang ingin memeluknya, bukan karena merasa wajib.

Tetapi masalah terbesar tetap Adrian.

Selama hampir dua minggu setelah semuanya terbongkar, aku tinggal di apartemen sewaan.

Adrian tidak datang tanpa izin.

Dia hanya mengirim satu pesan setiap pagi.

Aku ada kalau kamu ingin bicara.

Tidak lebih.

Pada hari kelima belas, aku menyuruhnya datang.

Kami duduk berhadapan di sebuah kafe kecil.

Tanpa keluarga.

Tanpa pengacara.

Tanpa perusahaan.

Hanya suami dan istri yang pernikahannya hampir dihancurkan oleh orang lain—dan hampir benar-benar rusak karena keputusan salah salah satu dari kami sendiri.

“Aku belum bisa pulang.”

kataku.

Adrian mengangguk.

“Oke.”

“Aku masih marah.”

“Aku tahu.”

“Jangan bilang kamu tahu.”

Dia langsung diam.

Aku menarik napas.

“Ketika kamu mengganti kunci, yang kamu pikirkan cuma rencanamu berhasil atau tidak.”

Adrian menatap meja.

“Kamu nggak berpikir bagaimana rasanya buat aku.”

“Benar.”

“Kamu memutuskan aku perlu dilindungi.”

“Iya.”

“Tapi kamu nggak memberiku kesempatan memilih.”

“Benar.”

Aku benci bahwa jawabannya konsisten.

Aku lebih benci karena justru itu yang membuatku bisa melanjutkan percakapan.

“Kalau nanti ada masalah lagi, sekecil apa pun, kamu nggak boleh melakukan hal seperti itu.”

“Aku nggak akan.”

“Bukan cuma soal kunci.”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak boleh menghancurkan aku dengan alasan menyelamatkan aku.”

Mata Adrian merah.

“Aku mengerti.”

“Belum.”

Aku berkata.

“Tapi kamu harus belajar.”

Dia mengangguk.

Kami mulai dari sana.

Tidak ada adegan aku langsung pulang malam itu.

Tidak ada pelukan besar yang menyelesaikan semuanya.

Kami menjalani konseling pasangan.

Adrian menyerahkan sebagian tanggung jawab di perusahaan untuk sementara.

Dia juga memberikan kepadaku seluruh kronologi dan bukti tanpa menyembunyikan apa pun lagi.

Aku membuka rekening tabungan sendiri.

Membangun dana darurat yang sepenuhnya berada di bawah kendaliku.

Dan setelah bertahun-tahun selalu membantu bisnis orang lain, aku akhirnya menerima tawaran menjadi mitra di sebuah studio desain interior kecil milik teman lamaku.

Enam bulan kemudian, aku siap meninggalkan apartemen sewaan.

Tetapi aku tidak ingin kembali ke rumah lama.

Terlalu banyak kenangan buruk menempel di pintunya.

Adrian setuju menjual rumah itu.

Kami membeli rumah yang lebih kecil di daerah Ciputat Timur.

Tidak mewah.

Tidak punya tangga marmer.

Halaman depannya bahkan hanya cukup untuk dua pot besar dan satu bangku.

Hari kami menerima kunci, Adrian berdiri di teras.

Dia tidak langsung memberikannya kepadaku.

Dia menaruh dua kunci di atas telapak tangannya.

“Satu buat kamu.”

Aku mengambilnya.

“Yang satu?”

“Punyaku.”

Aku menatapnya curiga.

Adrian tersenyum kecil.

“Nggak ada yang punya hak ganti kunci tanpa persetujuan pemilik lainnya.”

Aku mengangkat alis.

“Pemilik lainnya?”

Dia menyerahkan map.

Sertifikat dan dokumen pembelian rumah mencantumkan nama kami berdua sesuai porsi kepemilikan yang disepakati sejak awal.

Aku menatapnya lama.

“Ini bukan cara menyuap aku supaya lupa, kan?”

“Nggak.”

“Bagus.”

Aku memasukkan kunci.

Memutarnya.

Klik.

Pintu terbuka.

Tidak ada rasa dingin di ujung jari.

Tidak ada suara telepon yang menyuruhku pergi.

Aku melangkah masuk lebih dulu.

Adrian berdiri menunggu di belakang.

Aku menoleh.

“Kamu nggak masuk?”

Dia tersenyum.

“Kamu dulu.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku ikut tersenyum.

“Masuklah.”

Dia melangkah melewati pintu.

Malam itu kami makan nasi goreng dari bungkus kertas karena dapur belum selesai dipasang.

Duduk di lantai.

Dikelilingi kardus.

Tidak ada sofa mahal.

Tidak ada keluarga besar.

Tidak ada sahabat palsu.

Hanya dua orang yang sedang belajar membangun rumah untuk kedua kalinya.

Bukan rumah yang pintunya bisa digunakan untuk menghukum salah satu dari kami.

Bukan rumah tempat rahasia dianggap perlindungan.

Tetapi rumah tempat setiap masalah harus dibicarakan sebelum seseorang memutuskan apa yang terbaik bagi orang lain.

Kadang aku masih teringat pagi ketika kunciku tidak bisa membuka pintu lama.

Dulu aku menganggap itulah hari ketika hidupku runtuh.

Sekarang aku memandangnya berbeda.

Hari itu memang ada sebuah pintu yang ditutup di depan wajahku.

Tetapi justru karena pintu itu tertutup, aku akhirnya melihat siapa yang selama bertahun-tahun berdiri diam-diam di belakangku sambil memegang kunci cadangan.

Dan yang lebih penting—

aku akhirnya belajar bahwa rumah bukan sekadar tempat kita diizinkan masuk.

Rumah adalah tempat di mana tak seorang pun boleh membuat kita merasa harus memohon untuk tetap tinggal.