Bagian 4 — Ketika Mereka Memintaku Kembali, Aku Membawa Catatan yang Mengubah Seluruh Aturan Keluarga

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 696 tayangan
Indeks

Bagian 4 — Ketika Mereka Memintaku Kembali, Aku Membawa Catatan yang Mengubah Seluruh Aturan Keluarga

Mas Bima adalah orang pertama yang mengambil kertas itu.

Ia membacanya pelan.

Kemudian sekali lagi.

Seolah berharap angka di sana berubah.

Fajar berdiri dari kursinya.

“Ini tulisan Ibu?”

Tidak ada jawaban.

Aku tahu tulisan itu milik Ibu.

Kami semua tahu.

Catatan tersebut dibuat di belakang fotokopi kuitansi penjualan tanah.

Ada tanggal.

Ada jumlah.

Ada nama kami bertiga.

Dan di bagian bawah terdapat tanda tangan Ibu serta Bapak.

Bukan dokumen warisan resmi.

Bukan surat yang bisa membuat seseorang langsung masuk penjara.

Tetapi cukup untuk membuktikan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kuketahui.

Bapak pernah memikirkan masa depanku.

Uang itu memang pernah ada.

Aku tidak mengarang.

Aku tidak sekadar merasa diperlakukan tidak adil.

Aku memang benar-benar dikorbankan.

Bude Mira mengambil kertas lain.

“Ada enam puluh juta untuk Ayu.”

Ia melihat Ibu.

“Uangnya mana, Mbak?”

Ibu menunduk.

“Sudah lama.”

“Lama bukan berarti hilang.”

“Dipakai kebutuhan keluarga.”

Aku bertanya, “Kebutuhan keluarga apa?”

Tidak ada jawaban.

Mas Bima tiba-tiba berdiri.

“Ibu, uang itu dipakai buat usaha saya?”

Ibu terlihat semakin panik.

“Bukan semuanya.”

Dadaku serasa ditimpa benda berat.

“Berapa?”

“Ayu…”

“Berapa, Bu?”

Ibu akhirnya menjawab sangat pelan.

“Empat puluh juta.”

Bima membeku.

Aku tertawa kecil.

“Jadi Mas dapat delapan puluh juta sesuai catatan Bapak.”

Aku menunjuk kertas itu.

“Lalu ditambah empat puluh juta dari bagian saya.”

Bima langsung membela diri.

“Aku tidak tahu itu uangmu.”

Aku percaya.

Wajahnya saat itu terlalu terkejut untuk dibuat-buat.

“Mas pikir uang tambahan itu dari mana?”

“Ibu bilang simpanan.”

“Dan sisanya?”

Aku kembali menatap Ibu.

Beliau mulai menangis.

“Untuk membantu Fajar.”

Sekarang giliran Fajar membeku.

“Aku?”

“Kamera pertama kamu rusak.”

Fajar membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Aku masih ingat kamera itu.

Waktu itu harganya belasan juta.

Ibu mengatakan kepada semua orang ia menggadaikan perhiasannya agar Fajar tidak kehilangan pekerjaan.

Ternyata—

Ia menggunakan uang milikku.

“Berapa?”

“Lima belas juta.”

“Berarti sisa lima juta?”

Ibu mengusap wajah.

“Dipakai rumah.”

Aku tersenyum.

Tidak ada lagi air mata.

Enam puluh juta rupiah yang seharusnya menjadi bekalku memulai hidup setelah kuliah—

Hilang sebelum aku bahkan mengetahui keberadaannya.

Lalu setelah itu aku diminta meninggalkan pekerjaan untuk merawat orang yang mengambilnya.

Selama tiga tahun aku hidup hemat karena takut membebani kakak.

Aku memakai sepatu yang solnya sudah tipis.

Menunda mengganti ponsel retak.

Menghitung harga telur.

Mengerjakan pesanan sampai lewat tengah malam.

Sementara dua kakakku memulai hidup dengan bantuan uang yang salah satunya berasal dari jatahku sendiri.

Dan Ibu masih mampu berkata aku hidup dari uang mereka.

Aku berdiri.

“Kita tidak perlu berdebat lagi.”

Mas Bima juga bangkit.

“Ayu, tunggu.”

“Aku belum selesai.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Mulai sekarang, urusan Ibu dibagi bertiga berdasarkan kemampuan. Bukan berdasarkan jenis kelamin.”

Ibu langsung menyela.

“Kamu masih anak Ibu!”

Kalimat itu begitu ironis sampai Bude Mira memalingkan wajah.

Aku menatapnya tenang.

“Tadi di rumah sakit Ibu bilang anak Ibu cuma dua.”

“Itu cuma cara bicara!”

“Baik.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu sekarang dua anak Ibu bisa belajar menjadi anak.”

Ibu menangis semakin keras.

Biasanya suara itu cukup untuk membuatku menyerah.

Hari itu tidak.

Aku mengeluarkan satu lembar kertas lain.

Bukan dokumen hukum.

Hanya pembagian tanggung jawab yang kubuat sendiri.

Biaya caregiver.

Obat.

Transportasi.

Kontrol.

Belanja harian.

Aku tidak meminta satu orang membayar semuanya.

Aku bahkan masih bersedia membantu secara finansial sesuai kemampuanku setelah tiga bulan bekerja.

Tetapi aku menolak satu hal.

Aku tidak akan menjadi caregiver penuh waktu lagi.

“Kalau ada keadaan darurat, hubungi aku.”

“Kalau mau tanya soal obat, aku jawab.”

“Kalau jadwal kontrol bentrok, aku bisa membantu sesekali.”

“Tapi aku tidak kembali tinggal di rumah.”

Ibu menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang kejam.

“Jadi kamu benar-benar tega melihat Ibu dirawat orang lain?”

Aku menjawab, “Kenapa kalau dirawat orang lain berarti aku tega?”

“Kamu anak perempuan!”

“Dan Mas Bima serta Mas Fajar anak laki-laki.”

“Itu berbeda.”

“Karena?”

Ibu membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

Karena untuk menjawabnya ia harus mengakui sesuatu yang selama ini dianggap normal.

Bahwa waktu anak perempuan dianggap lebih murah.

Karier anak perempuan dianggap lebih mudah dikorbankan.

Tidur anak perempuan boleh diganggu.

Tubuh anak perempuan boleh lelah.

Masa mudanya boleh berhenti.

Selama anak laki-laki bisa terus maju.

Hari itu aku pulang ke kos tanpa membawa gelang Ibu.

Tanpa meminta rumah.

Tanpa meminta enam puluh juta dibayar seketika.

Aku hanya berkata kepada kedua kakakku:

“Aku tidak tahu kalian tahu atau tidak soal uang itu.”

“Tapi sekarang kalian sudah tahu.”

“Setelah ini, lakukan apa yang menurut kalian benar.”

Ternyata hidup tidak langsung menjadi indah setelah kita berani pergi.

Ada harga yang tetap harus dibayar.

Bulan kedua bekerja, aku masih sering terbangun pukul dua pagi karena merasa mendengar Ibu memanggil.

Kadang saat mencium bau antiseptik di klinik, perutku mendadak mual karena teringat rumah.

Ketika pasien lanjut usia membentak anaknya, aku harus masuk toilet dan menenangkan diri.

Ada rasa bersalah yang terus mengejar.

Apakah Ibu sudah makan?

Apakah popoknya diganti?

Apakah Bima ingat jadwal obat?

Apakah Fajar mengunci rem kursi roda?

Beberapa kali tanganku hampir otomatis memesan ojek untuk pulang.

Namun setiap kali itu terjadi, aku membuka foto kartu identitas kerjaku.

AYU LESTARI.

Namaku.

Hidupku.

Aku belajar bahwa pergi bukan berarti berhenti mencintai seseorang.

Kadang pergi justru satu-satunya cara untuk menghentikan hubungan yang membuat semua orang semakin buruk.

Di rumah, keadaan juga berubah.

Setelah tiga caregiver mengundurkan diri, Bima dan Fajar akhirnya membuat jadwal.

Senin sampai Rabu ada caregiver siang.

Malamnya Bima bergantian menginap.

Kamis sampai Sabtu giliran Fajar.

Minggu mereka bergantian.

Pada bulan pertama, keduanya masih sering bertengkar.

Bima menuduh Fajar tidak disiplin.

Fajar menuduh Bima merasa bisa menyelesaikan semuanya dengan uang.

Ibu membuat keadaan lebih buruk.

Kalau Bima terlambat tiga puluh menit, ia menelepon Fajar mengadu.

Kalau Fajar salah membeli buah, ia menelepon Bima.

Kalau caregiver mengatakan sesuatu yang tidak ia suka, ia meneleponku.

Awalnya aku masih mengangkat.

Lama-lama aku belajar mengatakan:

“Bu, kalau bukan keadaan medis darurat, bicara dengan orang yang sedang bertugas.”

Suatu malam Fajar menelepon hampir pukul sebelas.

Suaranya terdengar seperti orang kalah perang.

“Ayu.”

“Apa?”

“Aku minta maaf.”

Aku duduk di kasur.

“Kenapa?”

Hening.

Lalu ia berkata, “Ibu tadi buang air besar di kasur.”

Aku langsung tahu apa yang terjadi.

“Aku baru selesai membersihkan.”

Ia tertawa pahit.

“Aku muntah dua kali.”

Aku tidak menertawakannya.

Tidak ada kepuasan melihat orang kesulitan merawat pasien.

Tetapi kalimat berikutnya membuat tenggorokanku sesak.

“Yu… kamu melakukan ini hampir setiap hari?”

“Tidak setiap hari.”

Aku berhenti.

“Kadang dua kali sehari.”

Fajar tidak bicara.

“Aku dulu pikir kamu cuma masak, membersihkan rumah, lalu banyak waktu kosong.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang separah ini?”

Aku tersenyum.

“Aku bilang.”

Ia terdiam.

Benar.

Aku memang pernah bilang.

Berkali-kali.

Masalahnya bukan aku tidak pernah berbicara.

Mereka yang tidak pernah benar-benar mendengar.

Seminggu kemudian giliran Bima memahami hal yang sama.

Ibu menolak menggunakan popok malam.

Bima tidak memaksanya karena merasa kasihan.

Pukul dua pagi Ibu mengompol.

Ia mengganti seprai.

Pukul empat Ibu melakukannya lagi.

Pukul enam pagi Bima harus bertemu calon klien besar.

Ia datang terlambat.

Pertemuan batal.

Nilai proyeknya lebih dari seratus juta.

Malam itu ia mengirim satu pesan kepadaku.

Sekarang aku paham kenapa dulu kamu selalu kelihatan capek.

Aku membacanya.

Tidak membalas.

Permintaan maaf seharusnya tidak selalu dibayar dengan penghiburan.

Kadang seseorang harus duduk bersama rasa bersalahnya sendiri.

Tentang uang enam puluh juta, perubahan terjadi perlahan.

Mas Bima datang ke klinikku pada suatu sore.

Ia menungguku selesai bekerja.

Kami duduk di warung soto dekat jalan raya.

Ia meletakkan sebuah amplop di meja.

Aku tidak membukanya.

“Apa?”

“Sepuluh juta.”

Aku langsung menggeleng.

“Aku bukan minta sedekah.”

“Aku tahu.”

Ia menatap mangkuknya.

“Empat puluh juta uangmu masuk ke usahaku. Walaupun aku tidak tahu waktu itu, aku tetap menikmati manfaatnya.”

Ia menarik napas.

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Tidak perlu sekaligus.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya kakakku yang selalu bicara paling keras itu terlihat malu.

“Ayu.”

Aku menunggu.

“Tentang uang tiga juta dua ratus…”

“Sudah.”

“Biar aku selesai.”

Ia mengusap wajah.

“Aku memang menganggap itu gajimu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Sekarang setelah hitung biaya caregiver, makan, popok, obat, listrik, transportasi… aku sadar aku bodoh.”

Aku tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Ia tertawa hambar.

“Aku layak dapat itu.”

Bima kemudian membuat transfer rutin.

Bukan untuk Ibu.

Untukku.

Dua juta setiap bulan sampai empat puluh juta selesai.

Fajar melakukan hal serupa.

Ia menjual satu lensa kamera yang jarang dipakai.

Lima belas juta yang dulu diambil dari bagian uangku dikembalikan dalam tiga tahap.

Lima juta sisanya?

Aku tidak mengejar Ibu.

Namun sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Tiga bulan kemudian, Ibu sendiri memintaku datang.

Aku tidak langsung setuju.

Aku bertanya dulu kepada Bima apakah benar ada kondisi darurat.

“Bukan.”

“Terus?”

“Ibu bilang mau bicara.”

Aku datang hari Minggu siang.

Rumah terlihat berbeda.

Di dekat tempat tidur ada pagar pengaman.

Ada kasur antidekubitus baru.

Di sudut kamar terdapat rak obat dengan label pagi, siang, malam.

Dan yang paling mengejutkan—

Ada paket popok dewasa terbuka.

Ibu sekarang menggunakannya pada malam hari.

Aku hampir tertawa.

Tiga tahun aku membujuk.

Tidak berhasil.

Tiga minggu dirawat dua putra kesayangannya—

Langsung berhasil.

Ibu duduk di kursi roda.

Tubuhnya tampak lebih kurus.

Aku duduk berhadapan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan dramatis.

Hanya dua perempuan yang pernah hidup terlalu dekat sampai hubungan mereka menjadi rusak.

Ibu mengeluarkan amplop.

Lima juta rupiah.

“Sisa uangmu.”

Aku menatapnya.

“Dari mana?”

“Ibu jual gelang.”

Aku langsung teringat gelang yang beberapa bulan lalu dikatakan hilang.

Aku menatapnya tajam.

Ibu menghindari mataku.

“Gelangnya ternyata tidak hilang?”

Ia menggeleng perlahan.

Aku sudah menduga.

Tetapi mendengar pengakuannya tetap membuat dada panas.

“Jadi waktu pertemuan keluarga itu Ibu memang sengaja menuduh aku?”

Air matanya jatuh.

“Ibu marah.”

“Itu bukan jawaban.”

“Ibu takut.”

“Takut apa?”

“Kamu benar-benar pergi.”

Aku tertawa kecil karena logikanya begitu menyakitkan.

“Karena takut aku pergi, Ibu menuduhku mencuri?”

Ibu menangis.

Dulu pemandangan itu akan membuatku segera mengambil tisu.

Hari itu aku tetap duduk.

“Ibu pikir kalau semua orang marah sama kamu, kamu akan takut dan pulang.”

Aku memejamkan mata.

Tiga tahun hidupku tiba-tiba terasa jauh sekali.

“Ibu.”

“Ya?”

“Aku pergi bukan karena satu kalimat di rumah sakit.”

Ia menatapku.

“Aku pergi karena kalimat itu membuatku akhirnya melihat semuanya.”

Aku menyebut satu per satu.

Uang pendidikan yang dipakai untuk kakakku.

Pekerjaan yang kulepas.

Pengeluaran yang kubayar diam-diam.

Makanan pemberian Fajar yang selalu ia simpan untuk dirinya sendiri.

Kebiasaan sengaja mengompol ketika marah.

Telepon kepada kakakku setiap kali aku membantah.

Cara ia terlihat mandiri ketika anak laki-lakinya datang tetapi berubah tak berdaya ketika tinggal bersamaku.

Dan terakhir—

Tuduhan mencuri gelang.

Ibu menangis semakin keras.

Namun kali ini tangisnya tidak menghentikan percakapan.

“Aku tidak butuh Ibu bilang maaf kalau besok semuanya kembali seperti dulu.”

Aku menunjuk kursi roda.

“Kalau Ibu benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita, berhenti menggunakan sakit Ibu untuk mengontrol orang.”

Ia menatapku lama.

Kemudian untuk pertama kalinya mengucapkan sesuatu yang tidak pernah kudengar.

“Ibu memang sengaja.”

Aku terdiam.

“Kadang kalau kamu lama datang, Ibu sengaja kencing di kasur.”

Suara Ibu sangat pelan.

“Karena setelah sakit, Ibu merasa tidak punya kuasa apa-apa.”

Tangannya gemetar di pangkuan.

“Tubuh sendiri tidak bisa diatur.”

“Mau pergi ke mana-mana harus minta bantuan.”

“Ibu marah.”

“Dan kamu yang paling dekat.”

Aku tidak memaafkannya seketika.

Memahami alasan seseorang tidak berarti membenarkan tindakannya.

Ibu mengakui satu hal lagi.

Ia memang lebih bangga menyebut dua anak laki-laki.

Sejak kecil ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa anak laki-laki adalah penerus keluarga, sedangkan anak perempuan suatu hari akan pergi.

Ironisnya—

Ketika tubuhnya tidak lagi berfungsi seperti dulu, justru anak perempuan yang dianggap “akan pergi” itulah yang tinggal.

“Waktu perempuan di rumah sakit itu memuji kamu…”

Ibu berhenti.

“Apa?”

“Ibu malu.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu tahu dia benar.”

Air matanya menetes.

“Dia pikir kamu anak yang sangat berbakti.”

Ibu mengusap wajahnya.

“Sedangkan Ibu tahu bagaimana Ibu memperlakukan kamu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Lalu Ibu mengatakan kalimat yang selama bertahun-tahun mungkin paling ingin kudengar.

Bukan “Ibu sayang kamu.”

Bukan “Pulanglah.”

Tetapi—

“Ibu salah.”

Sederhana.

Tidak menghapus masa lalu.

Tidak mengembalikan tiga tahun.

Namun itu pertama kalinya ia tidak menambahkan kata tapi setelah mengakui kesalahan.

Aku menerima amplop lima juta itu.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena uang tersebut memang milikku sejak awal.

Kemudian aku berdiri.

Ibu tampak panik.

“Kamu pulang?”

“Iya.”

“Kapan datang lagi?”

Aku berpikir.

“Dua minggu lagi.”

Wajahnya berubah kecewa.

Namun ia mengangguk.

Aku tersenyum kecil.

“Kalau rindu, telepon.”

“Ibu boleh?”

“Boleh.”

“Tapi jangan jam dua pagi kalau cuma mau bilang bantal kurang tinggi.”

Untuk pertama kalinya kami tertawa pada kalimat yang sama.

Hubungan kami tidak langsung menjadi sempurna.

Tidak ada keajaiban.

Ibu masih kadang mengeluh.

Kadang masih mencoba membuat salah satu dari kami merasa bersalah.

Bedanya sekarang Bima, Fajar, dan aku menggunakan aturan yang sama.

Tidak ada lagi satu orang yang menanggung semuanya.

Kalau Ibu memecat caregiver tanpa alasan jelas, beliau sendiri harus menjelaskan pada kami bertiga.

Kalau ada biaya tambahan, dibicarakan dalam grup.

Kalau salah satu dari kami tidak bisa bertugas, ia harus mencari pengganti.

Mas Bima tidak lagi bisa berkata, “Aku sibuk.”

Mas Fajar tidak lagi bisa berkata, “Aku sedang luar kota,” lalu menghilang.

Dan aku tidak lagi bisa dipaksa dengan kalimat, “Kamu kan perempuan.”

Enam bulan setelah keluar dari rumah, aku mendapat promosi menjadi koordinator administrasi rehabilitasi.

Atasanku mengatakan pengalamanku menghadapi keluarga pasien membuatku lebih teliti daripada staf lain.

Ironis.

Tiga tahun yang dulu kupikir menghancurkan masa depanku ternyata tidak sepenuhnya sia-sia.

Yang salah bukan pengalamannya.

Yang salah adalah ketika pengorbanan itu dianggap kewajiban dan tidak diberi pilihan.

Aku pindah dari kos kecil ke kontrakan studio yang memiliki jendela menghadap timur.

Aku membeli meja kerja sendiri.

Lemari sendiri.

Kasur yang kupilih sendiri.

Di dekat jendela, sirih gading kecil yang kubeli dari gaji pertama sudah menjalar panjang.

Setiap pagi cahaya matahari masuk ke lantai.

Dan hampir setiap kali melihatnya, aku teringat rumah lama.

Dulu aku menghabiskan begitu banyak waktu mencuci seprai di halaman belakang sampai tidak pernah sempat menyadari betapa terang matahari pagi.

Mas Bima akhirnya melunasi empat puluh juta rupiah.

Fajar juga melunasi bagiannya.

Mereka tidak menjadi kakak sempurna.

Kami masih berdebat.

Kadang mereka masih menyebalkan.

Tetapi sekarang kalau Ibu kontrol, kami membuat jadwal.

Bima mengurus transportasi.

Fajar menemani pemeriksaan.

Aku membantu administrasi dan obat.

Tugas dibagi.

Bukan dilempar.

Setahun setelah hari di rumah sakit itu, kami bertiga kembali menemani Ibu kontrol.

Di ruang tunggu, seorang nenek yang duduk di sebelah Ibu mengajak berbicara.

Percakapannya hampir membuatku merinding karena terasa begitu familiar.

“Anaknya berapa, Bu?”

Tanganku yang sedang membuka botol air berhenti.

Bima melirikku.

Fajar juga.

Kami bertiga sama-sama diam.

Ibu menjawab.

“Tiga.”

Nenek itu tersenyum.

“Oh, tiga?”

Ibu mengangguk.

“Dua laki-laki.”

Lalu tangannya menunjuk ke arahku.

“Dan satu perempuan.”

Aku tidak bergerak.

Ibu menatapku beberapa detik.

Kemudian menambahkan,

“Yang perempuan ini paling lama menjaga saya waktu saya sakit.”

Aku menelan ludah.

Nenek itu tersenyum kepadaku.

“Berarti Ibu beruntung sekali.”

Dulu kalimat yang sama membuatku ingin menangis.

Sekarang rasanya berbeda.

Ibu menjawab sebelum aku sempat berkata apa-apa.

“Iya.”

Ia menarik napas panjang.

“Saya yang dulu terlalu lama tidak tahu kalau saya beruntung.”

Tidak ada musik.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada orang yang mengetahui betapa panjang perjalanan menuju kalimat itu.

Hanya aku.

Dua kakakku.

Dan seorang perempuan tua yang akhirnya belajar menyebut anak perempuannya sebagai anak.

Aku tidak kembali menjadi Ayu yang dulu.

Aku tidak mau.

Aku tidak lagi mengukur bakti dari seberapa banyak rasa sakit yang sanggup kutahan.

Aku tidak lagi percaya bahwa menjadi anak baik berarti selalu mengalah.

Aku juga tidak membenci Ibu sampai akhir hidupnya.

Aku memilih sesuatu yang lebih sulit.

Mencintainya dengan batas.

Membantu tanpa menyerahkan seluruh hidup.

Datang karena ingin datang.

Bukan karena dipaksa.

Dan ketika suatu malam Ibu menelepon lalu berkata, “Ayu, besok kalau kamu sibuk tidak usah datang. Bima sudah jadwalnya di sini,” aku duduk lama di tepi tempat tidur setelah telepon ditutup.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagiku—

Itulah bukti perubahan yang sesungguhnya.

Untuk pertama kalinya, Ibu tidak menganggap waktuku kosong hanya karena aku anak perempuan.

Untuk pertama kalinya, kakak-kakakku memahami bahwa merawat orang tua bukan pekerjaan yang otomatis jatuh ke pundak saudari mereka.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

Aku bisa menjadi anak.

Bukan pembantu.

Bukan perawat tanpa jam kerja.

Bukan tempat semua orang membuang tanggung jawab.

Hanya anak.

Namaku Ayu Lestari.

Aku punya dua kakak laki-laki.

Aku punya seorang ibu yang pernah melukaiku sangat dalam, lalu perlahan belajar berubah.

Dan aku punya hidupku sendiri.

Kali ini—

Aku tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun lagi.