Bagian 3 — Satu Pesan Suara Membuktikan Mertuaku Sudah Tahu, dan Dimas Sedang Ditipu Semua Orang

Avatar penulis
Cerita 02
11 menit baca 901 tayangan
Indeks

Bagian 3 — Satu Pesan Suara Membuktikan Mertuaku Sudah Tahu, dan Dimas Sedang Ditipu Semua Orang

Aku keluar dari kantor pengacara dengan telapak tangan dingin.

Namanya Ratih Pranoto.

Usianya sekitar empat puluh lima tahun, berbicara tenang, hampir tanpa ekspresi. Justru ketenangannya membuatku sadar betapa seriusnya situasi yang sedang kuhadapi.

Dia meminta semua bukti disimpan dalam beberapa tempat terpisah.

Rekening koran asli.

Surel pembayaran apartemen.

Foto kamar hotel.

Dokumen dengan tanda tangan yang menyerupai milikku.

Catatan transfer.

Jangan hanya menyimpan di ponsel.

Jangan memberi tahu Raka bahwa aku sudah berkonsultasi.

Dan yang paling penting, jangan memindahkan uang dalam jumlah besar dari rekening bersama hanya karena marah.

“Kalau Ibu ingin keluar dari pernikahan ini,” katanya, “keluarlah dengan dokumen, bukan dengan emosi.”

Aku mengikuti sarannya.

Dalam dua minggu berikutnya aku hidup seperti dua orang berbeda.

Di depan keluarga, aku adalah Mira yang sedang belajar memaafkan.

Aku sarapan bersama mereka.

Aku masih memasakkan kopi untuk Raka.

Aku bahkan ikut tersenyum ketika Bu Yuni berkata hubungan kami mulai membaik.

Tetapi setiap kali pintu kamar tertutup, aku menyusun kronologi.

Ternyata kebohongan memiliki pola.

Kalau dicatat satu per satu, pola itu menjadi sangat jelas.

Dua tahun lalu Dimas berangkat ke Jepang.

Tiga bulan setelah keberangkatannya, Raka mulai sering mengatakan ada rapat malam.

Enam bulan kemudian, transfer pertama ke Intan muncul.

Tak lama sesudahnya, unit apartemen dibeli.

Ketika kutelusuri mutasi kartu kredit, terdapat pembayaran hotel di Bogor, Bandung, Semarang, dan Bali.

Sebagian jatuh tepat pada tanggal Raka mengatakan ada perjalanan kerja.

Aku mencetak kalender lama.

Melingkari setiap tanggal.

Ada dua belas perjalanan.

Dua belas.

Aku sempat menatap angka itu cukup lama.

Bukan karena masih terkejut Raka bisa berbohong.

Melainkan karena aku mencoba menghitung berapa kali setelah pulang dari perempuan itu dia masih masuk ke kamar kami, memelukku, lalu berkata dia merindukanku.

Aku muntah di kamar mandi.

Tetapi setelah itu aku kembali bekerja.

Ratih menyarankan aku memisahkan pendapatan usaha yang memang berasal dari bisnis pribadiku ke rekening operasional baru atas nama usaha, dengan pencatatan yang jelas.

Aku melakukannya.

Aku juga mengambil semua dokumen pribadiku dari lemari—ijazah, sertifikat usaha, bukti transfer renovasi rumah mertua, perjanjian investasi, dan bukti kepemilikan peralatan katering.

Dokumen asli kusimpan di rumah ibuku di Bekasi.

Raka tidak memperhatikan.

Dia terlalu sibuk memainkan peran suami bertobat.

Suatu malam dia bahkan berkata, “Aku bersyukur kamu tidak seperti perempuan lain yang langsung menghancurkan keluarga.”

Aku memandangnya sambil tersenyum.

“Memangnya keluarga kita belum hancur?”

Wajahnya berubah.

Aku segera tertawa kecil seolah sedang bercanda.

Dia ikut tertawa, meskipun kaku.

Tiga hari kemudian, sesuatu terjadi.

Bu Yuni meminta bantuanku mencetak foto dari ponselnya untuk acara arisan.

Dia menyerahkan ponsel itu tanpa curiga.

Saat aku membuka aplikasi percakapan untuk mengambil foto yang dikirim temannya, sebuah nama muncul di daftar percakapan yang diarsipkan.

Intan.

Aku tidak membukanya.

Aku tidak perlu melanggar privasi Bu Yuni untuk mengetahui sesuatu sedang disembunyikan.

Namun malam itu, ketika kami sedang makan, Bu Yuni meninggalkan ponselnya di meja untuk mengambil air.

Layar menyala.

Sebuah pesan masuk dari Intan.

Ma, Raka bilang Mira sudah mulai percaya lagi. Aku kapan boleh pulang seperti biasa?

Tanganku berhenti di atas piring.

Bu Yuni kembali dan segera mengambil ponselnya.

Dia melihat notifikasi itu.

Lalu menatapku.

Aku pura-pura tidak melihat.

Malamnya aku tidak bisa tidur.

Kalimat kapan boleh pulang seperti biasa berputar-putar di kepalaku.

Seperti biasa?

Berarti hubungan Bu Yuni dan Intan masih berjalan normal.

Lebih buruk lagi, Intan masih berkomunikasi dengan Raka.

Janji putus itu bohong.

Keesokan harinya aku membuat kesalahan kecil dengan sengaja.

Saat sarapan aku berkata, “Kasihan Intan juga ya, Bu. Sudah dua minggu di rumah orang tuanya.”

Sendok Bu Yuni berhenti.

“Iya.”

“Dia masih kontak Ibu?”

“Tidak terlalu.”

Aku menatap wajahnya.

“Kemarin kayaknya ada pesan.”

Bu Yuni tersenyum terlalu cepat.

“Oh, cuma tanya Naya.”

Aku mengangguk.

Percakapan selesai.

Tetapi sejak pagi itu aku berhenti menganggap Bu Yuni korban yang tidak tahu apa-apa.

Aku mulai memperhatikan semuanya.

Dua hari kemudian Pak Darma meminta Raka mengantarnya ke bengkel. Ketika mereka pergi, Bu Yuni mandi.

Ponselnya tertinggal di sofa dan berdering.

Nama Intan muncul.

Aku tidak menjawab.

Panggilan berhenti.

Tak sampai satu menit kemudian, sebuah pesan suara masuk.

Entah karena gugup atau terburu-buru, Bu Yuni rupanya pernah mengaktifkan pratinjau otomatis.

Pesan suara mulai terdengar dari speaker sebelum sempat kusentuh.

Suara Intan.

“Ma, aku sudah bilang ke Raka jangan datang dulu ke apartemen. Mama sendiri kemarin bilang Mira masih curiga. Kalau Dimas pulang bulan depan dan semuanya belum beres, gimana?”

Tubuhku membeku.

Lalu pesan kedua masuk.

“Kunci cadangan masih di Mama, kan? Tolong jangan sampai Bapak nemu.”

Aku tidak bergerak sampai layar padam.

Bu Yuni keluar dari kamar beberapa menit kemudian.

Aku sedang melipat pakaian seolah tak terjadi apa-apa.

Tetapi di kepalaku hanya ada satu kalimat.

Kunci cadangan masih di Mama.

Artinya Bu Yuni bukan baru mengetahui semuanya di Bali.

Dia sudah tahu apartemen itu.

Mungkin dia bahkan pernah ke sana.

Hari itu aku tidak mengatakan apa-apa.

Malamnya aku menemui Ratih.

“Aku pikir ibu mertuaku tahu.”

“Punya bukti?”

“Belum yang bisa kusimpan.”

Ratih mengangguk.

“Kalau begitu jangan tuduh. Cari bukti dari jalur yang sah dan bisa diverifikasi.”

Jawaban datang lebih cepat daripada yang kuduga.

Tiga hari kemudian, aku sedang memeriksa map lama berisi kuitansi renovasi rumah ketika menemukan amplop cokelat dengan logo apartemen Graha Mahardika.

Alamat pengirimnya adalah kantor pengelola.

Nama penerimanya:

Yuni Kartikasari.

Tanganku gemetar.

Di dalamnya ada salinan formulir pengambilan kartu akses cadangan unit B-17-09.

Tanggalnya sebelas bulan sebelumnya.

Pemilik unit tertulis Intan Prameswari.

Orang yang diberi kuasa mengambil kartu akses:

Yuni Kartikasari.

Tanda tangan Bu Yuni berada di bagian bawah.

Aku memotretnya.

Mengembalikan amplop persis ke tempat semula.

Malam itu untuk pertama kali aku menangis sejak kembali dari Bali.

Bukan karena Raka.

Aneh, tetapi pengkhianatan suamiku sudah terasa seperti luka yang mati rasa.

Aku menangis karena teringat semua malam ketika Bu Yuni duduk bersamaku di dapur dan berkata aku adalah anak perempuannya sendiri.

Saat aku keguguran tiga tahun lalu, dialah yang menyuapiku.

Saat usahaku hampir bangkrut, dia memelukku dan berkata jangan menyerah.

Dan selama hampir setahun terakhir dia memegang kunci tempat anak laki-lakinya tidur dengan istri anak laki-lakinya yang lain.

Keesokan paginya Bu Yuni masih memanggilku dari dapur.

“Mira, bikinkan Ibu teh, ya.”

Aku membuatkannya.

Aku menaruh cangkir di depan perempuan itu tanpa berkata sepatah kata.

Dia tersenyum.

“Terima kasih, Nak.”

Aku membalas senyum.

Malamnya Ratih menghubungiku.

Dia telah meminta seorang konsultan dokumen memeriksa scan tanda tangan yang digunakan dalam pembelian furnitur. Pemeriksaan scan tentu belum cukup untuk kesimpulan hukum, tetapi ada perbedaan yang layak ditelusuri.

Kemudian dia menyampaikan temuan lain.

“Ada transaksi yang jauh lebih besar.”

“Apa?”

“Coba cek deposito bersama yang kamu bilang jatuh tempo Januari.”

Aku membuka aplikasi.

Kosong.

Deposito Rp620 juta yang seharusnya diperpanjang ternyata sudah dicairkan delapan bulan sebelumnya.

Dana itu hanya berada di rekening kami selama sebelas menit.

Lalu dipindahkan.

Ke rekening Raka.

Dua hari kemudian, Rp600 juta keluar lagi.

Tujuannya sebuah perusahaan dealer mobil.

Aku langsung teringat kendaraan putih yang beberapa kali muncul dalam foto Intan.

Aku mencari nomor plat dari salah satu foto lama di cloud.

Ratih meminta kenalannya memeriksa melalui dokumen transaksi yang tersedia dari dealer karena nomor invoice tercantum di mutasi.

Mobil itu dibeli atas nama Intan.

Toyota Fortuner bekas keluaran tiga tahun sebelumnya.

Aku menutup mata.

Jadi totalnya bukan hanya Rp1,67 miliar.

Ada apartemen.

Mobil.

Perabot.

Hotel.

Perjalanan.

Dan uang yang seharusnya menjadi tabungan masa depan kami.

Namun yang membuat semuanya berubah adalah sebuah surel yang tiba malam berikutnya.

Dikirim oleh Arief.

Rekan Raka yang pertama memberiku alamat hotel Bali.

Subjeknya hanya:

Maaf baru berani.

Isi surelnya pendek.

Mira, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu temukan. Tapi aku merasa bersalah karena selama berbulan-bulan aku diminta Raka menukar jadwal perjalanan dinas dan membuat seolah-olah dia berada di lokasi proyek. Aku tidak pernah tahu perempuan itu siapa sampai kejadian di Bali. Setelah melihat keluargamu datang, aku sadar ini sudah keterlaluan. Aku lampirkan salinan jadwal perjalanan asli dan pengajuan reimbursement yang pernah masuk melalui tim.

Aku membuka lampiran.

Beberapa hotel yang kutemukan di kartu kredit ternyata masuk sebagai biaya perjalanan kantor.

Tetapi jadwal proyek menunjukkan Raka tidak memiliki tugas di kota-kota tersebut.

Bali juga sama.

Audit distributor yang katanya darurat itu tidak pernah ada.

Raka mengambil cuti satu hari.

Kemudian mengajukan sebagian biaya sebagai kunjungan kerja.

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

Untuk pertama kalinya muncul konsekuensi yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan.

Ini menyentuh pekerjaannya.

Ratih memperingatkanku agar tidak menyebarkan dokumen itu.

“Simpan. Kalau perusahaannya melakukan audit, biarkan mereka memproses sendiri.”

Aku mengangguk.

Aku tidak ingin menghancurkan Raka lewat gosip.

Aku ingin semua orang jatuh karena pilihan mereka sendiri.

Dua minggu kemudian, Dimas menelepon video dari Jepang.

Seluruh keluarga berkumpul di ruang makan.

Wajahnya terlihat lebih kurus.

“Naya mana?” tanyanya.

Bu Yuni menjawab terlalu cepat.

“Lagi di rumah nenek dari pihak Intan.”

Dimas mengangguk.

Lalu melihatku.

“Mbak Mira kok kurusan?”

Aku tersenyum.

“Banyak kerjaan.”

Dia tertawa.

“Raka jangan bikin Mbak Mira capek terus.”

Raka tertawa kaku.

“Iya.”

Aku melihat Bu Yuni.

Dia tidak berani menatapku.

Dimas lalu berkata sesuatu yang membuat ruangan mendadak sunyi.

“Ngomong-ngomong, bulan depan kemungkinan aku pulang lebih cepat.”

Sendok Bu Yuni jatuh.

“Pulang?”

“Iya. Kontrak bagian produksi bisa selesai tiga minggu lebih awal.”

Intan rupanya belum tahu.

Dimas tersenyum lebar.

“Aku mau bikin kejutan buat Intan sama Naya. Jangan kasih tahu mereka.”

Aku hampir tertawa.

Keluarga ini ternyata sangat menyukai kejutan.

Setelah panggilan selesai, Bu Yuni langsung berdiri.

Wajahnya putih.

Pak Darma bertanya, “Kenapa?”

Bu Yuni menjawab, “Tidak apa-apa.”

Tetapi malam itu aku melihat dia dan Raka berbicara berbisik di garasi selama hampir dua puluh menit.

Keesokan paginya, apartemen B-17-09 tiba-tiba muncul di salah satu situs jual beli properti.

Dijual cepat.

Harga Rp2,55 miliar.

Di bawah harga pasar.

Aku langsung mengambil tangkapan layar.

Mereka tahu Dimas akan pulang.

Dan mereka sedang berusaha menghapus bukti.

Aku mengirim semuanya kepada Ratih.

Sore itu kami duduk berhadapan.

“Kalau mereka menjual aset itu sekarang, jejak uangnya masih ada,” katanya. “Tapi kalau tujuanmu juga melindungi posisi finansialmu, kita harus bergerak.”

Aku menatap tumpukan bukti.

“Aku juga harus memberi tahu Dimas.”

Ratih diam sebentar.

“Itu keputusan pribadi. Tapi dia adalah pihak yang langsung terdampak.”

Aku tahu.

Selama berminggu-minggu aku menggunakan alasan yang sama dengan keluarga Raka.

Dimas sendirian.

Dimas bekerja berat.

Dimas bisa terpukul.

Tetapi kemudian aku sadar sesuatu.

Kami bukan melindungi Dimas dengan merahasiakan kebenaran.

Kami sedang mengambil haknya untuk mengetahui hidupnya sendiri.

Malam itu pukul sebelas tiga puluh, aku mengirim pesan kepadanya.

Mas Dimas, kalau besok ada waktu, telepon aku saat sendirian. Ada sesuatu tentang Intan dan Raka yang harus kamu tahu. Aku punya bukti. Tolong jangan menghubungi siapa pun dulu sebelum kita bicara.

Pesan dibaca enam menit kemudian.

Tidak ada balasan.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Setengah jam.

Aku mulai takut.

Lalu layar ponselku menyala.

Dimas menelepon.

Begitu kuangkat, dia hanya berkata:

“Mbak…”

Suaranya bergetar.

“Aku sebenarnya sudah curiga sejak delapan bulan lalu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Setiap aku menelepon, Intan sering tidak di rumah. Naya beberapa kali bilang Mama tidur di rumah Om Raka.”

Dadaku sesak.

Dimas menarik napas.

“Aku diam karena kupikir anak kecil salah bicara.”

Aku tidak sanggup menjawab.

Kemudian dia berkata:

“Kirimi aku semuanya.”

Aku mengirim folder bukti.

Kami berbicara hampir dua jam.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada makian.

Justru itu yang membuatku takut.

Dimas hanya bertanya tanggal.

Jumlah uang.

Nama apartemen.

Nomor unit.

Setelah itu dia berkata pelan:

“Mbak Mira, jangan kasih tahu mereka bahwa aku sudah tahu.”

“Kenapa?”

“Aku akan pulang.”

“Kapan?”

Dia diam beberapa detik.

Lalu menjawab:

“Bukan bulan depan.”

Aku menatap layar.

“Terus?”

“Besok malam aku terbang.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Dimas…”

“Aku mau lihat sendiri siapa yang masih berani bohong di depan wajahku.”

Panggilan berakhir.

Keesokan malam, Raka pulang membawa bunga.

Bu Yuni memasak sup buntut.

Pak Darma menonton televisi.

Tidak ada satu pun dari mereka tahu bahwa sebuah pesawat dari Nagoya sedang menuju Jakarta membawa pulang lelaki yang selama hampir dua tahun mereka tipu.

Pukul sembilan lewat dua belas malam, bel rumah berbunyi.

Pak Darma berdiri.

“Siapa malam-malam?”

Aku tetap duduk.

Raka membuka pintu.

Lalu tubuhnya membeku.

Di depan rumah berdiri Dimas.

Satu koper hitam di sampingnya.

Wajah pucat.

Mata merah.

Di tangan kanannya ada map tebal yang kukirim dalam bentuk digital dan sudah dia cetak.

Dia menatap kakaknya.

Lalu menatap ibunya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada salam.

Dimas masuk, meletakkan map di meja ruang keluarga, lalu mengeluarkan satu foto Raka dan Intan dari kamar hotel Bali.

Dia mendorong foto itu tepat ke depan ibunya.

“Sekarang,” katanya pelan.

“Aku mau dengar langsung.”

“Siapa di rumah ini yang pertama kali tahu kakakku tidur dengan istriku?”