Dimas menatap dokumen itu tanpa berkedip.
Nama Rania tercantum jelas di bagian bawah.
Tanda tangannya juga terlihat jelas.
Tanggalnya pun tidak mungkin salah.
Namun yang membuat tubuh Dimas merinding adalah waktunya.
Dokumen itu ditandatangani lebih dari satu tahun sebelumnya.
Saat itu Dimas dan Rania bahkan belum menikah.
Bahkan hubungan mereka belum resmi diketahui banyak orang.
Dimas mengangkat kepala dan menatap ibunya.
“Ibu sudah tahu sejak kapan?”
Marni terdiam.
“Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan?”
“Karena Ibu ingin kamu melihatnya sendiri.”
Dimas mengangkat dokumen itu.
Itu adalah sebuah perjanjian konsultasi keuangan.
Rania menandatanganinya bukan sebagai istri Dimas.
Melainkan sebagai perwakilan sebuah perusahaan perantara.
Perusahaan itu pernah menawarkan untuk membeli hak atas investasi yang dimiliki Marni.
Harga yang ditawarkan jauh lebih rendah daripada nilai sebenarnya.
Marni menolaknya.
Dimas membaca sampai bagian akhir.
Satu catatan membuatnya terpaku.
“Jangan melanjutkan proses apabila penerima manfaat terakhir adalah Dimas.”
Dimas menatap ibunya.
“Ibu…”
Marni berkata pelan,
“Ibu tidak tahu apakah dia datang kepadamu karena uang.”
“Tapi dokumen ini…”
“Ibu tidak ingin kamu mengambil kesimpulan hanya dari dokumen.”
Dimas terdiam.
Itulah hal yang tidak pernah ia duga.
Ibunya bisa saja marah kepada Rania.
Namun perempuan tua itu tetap tidak ingin anaknya mengubah kecurigaan menjadi hukuman.
“Ibu masih membelanya?”
Marni tersenyum sedih.
“Tidak.”
“Ibu melindungi siapa?”
“Kamu.”
“Dengan cara apa?”
“Dengan tidak membiarkanmu menjadi seperti dia.”
Dimas tidak mampu berkata apa-apa.
Malam itu, Dimas kembali ke apartemen.
Rania sedang duduk di ruang keluarga.
Meja makan sudah tertata.
Dua gelas minuman diletakkan bersebelahan.
Sebuah makan malam yang dulu dianggap Dimas sebagai tanda keluarga bahagia.
Namun malam itu semuanya terasa asing.
Rania berdiri.
“Kamu pulang.”
Dimas tidak menjawab.
Rania mendekat.
“Ibumu di mana?”
“Di tempat yang aman.”
“Kamu sudah membawanya pulang?”

“Belum.”
Rania mengerutkan kening.
“Dimas.”
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Apa?”
“Sebelum kita menikah, kamu sudah tahu ibu memiliki aset itu?”
Rania membeku.
Beberapa detik kemudian, ia menjawab,
“Ya.”
Dimas memejamkan mata.
“Sejak kapan?”
“Tidak penting.”
“Bagi aku penting.”
Rania memalingkan wajah.
“Aku baru tahu belakangan.”
“Dokumen berkata lain.”
Rania langsung menoleh.
“Siapa yang memberimu dokumen?”
“Ibu.”
“Kamu sudah memilih dia.”
Dimas menatapnya.
“Aku tidak memilih siapa pun.”
Ia meletakkan berkas di meja.
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
Rania menatap dokumen tersebut.
Wajahnya berubah.
“Kamu sudah membaca semuanya?”
“Belum.”
Dimas berbicara perlahan.
“Aku ingin kamu yang menjelaskan.”
Rania terdiam cukup lama.
Kemudian ia duduk.
“Ya.”
Satu kata.
Namun kata itu terasa lebih menyakitkan daripada penjelasan panjang.
“Ya apa?”
“Aku tahu ibu kamu punya uang.”
“Lalu?”
“Aku tahu investasi itu bernilai besar.”
“Lalu?”
“Aku juga pernah ingin dia mengalihkan hak atas aset itu.”
Dimas memejamkan mata.
“Kenapa?”
“Karena aku mengira itu adalah aset keluarga.”
“Keluarga?”
“Kita suami istri.”
“Saat kamu meminta ibu menandatangani dokumen itu, kita bahkan belum menikah.”
Rania tidak menjawab.
Dimas menatapnya.
“Jadi saat itu kita apa?”
Rania menundukkan kepala.
Pertanyaan itu membuatnya tidak mampu menjawab.
Setelah beberapa saat, ia berkata,
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut suatu hari kamu berubah.”
Dimas terdiam.
Rania mengusap air matanya.
“Aku tumbuh dalam keluarga yang selalu kekurangan uang. Ibuku seumur hidup harus bergantung pada orang lain. Aku pernah berjanji kepada diriku sendiri bahwa suatu hari aku tidak akan hidup seperti itu lagi.”
“Aku pikir kamu adalah orang yang bisa membuatku aman.”
“Dan ketika aku mengetahui ibu kamu memiliki aset…”
Rania menarik napas panjang.
“Aku mulai menghitung.”
Dimas diam.
Rania melanjutkan,
“Tapi aku juga benar-benar mencintaimu.”
“Aku tidak tahu mana yang benar.”
“Aku juga tidak tahu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Dimas menatap wanita yang selama ini tidur di sampingnya.
Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari semua foto keluarga yang terlihat sempurna.
Bukan seseorang yang sepenuhnya jahat.
Melainkan seseorang yang membiarkan rasa takut terhadap kemiskinan berubah menjadi keserakahan.
Namun memahami alasan bukan berarti menghapus akibat.
Dimas berkata,
“Aku tidak akan menandatangani dokumen apa pun.”
Rania menangis.
“Kamu ingin menceraikanku?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia teringat ibunya.
Teringat koper kecil.
Teringat pertanyaan yang pernah dilontarkan ibunya.
“Apakah kamu juga merasa Ibu membuatmu malu?”
Akhirnya Dimas berkata,
“Aku butuh waktu.”
Namun masalah itu belum selesai.
Keesokan harinya, Dimas menerima telepon dari pengacara perusahaan.
Ada transaksi keuangan mencurigakan yang berkaitan dengan investasi lama milik Marni.
Sejumlah besar uang telah dipindahkan melalui beberapa rekening perantara.
Dimas langsung melakukan pemeriksaan.
Nama penerima terakhir bukan Rania.
Bukan perusahaan Rania.
Melainkan seorang pria bernama Arman.
Dimas tidak pernah mengenal nama itu.
Ia segera menemui ibunya.
“Ibu mengenal orang ini?”
Marni melihat nama tersebut.
Ia terdiam.
Sari juga berada di sana.
Setelah beberapa detik, Sari berkata,
“Dia pernah bekerja dengan ibu kamu.”
“Siapa dia?”
“Orang yang menangani investasi itu bertahun-tahun lalu.”
Dimas merasa semakin dingin.
“Kalau begitu kenapa uangnya masuk ke rekening dia?”
Sari memandang Marni.
Marni menghela napas.
“Karena dulu Ibu pernah memberikan surat kuasa.”
“Surat kuasa?”
“Untuk mengelola investasi ketika Ibu sakit.”
“Apakah dia bisa mengambil uang?”
“Tidak.”
Marni menggeleng.
“Tapi dia bisa membuat transaksi palsu jika ada orang lain yang bekerja sama dengannya.”
Dimas langsung memikirkan Rania.
Namun ibunya berkata,
“Jangan terburu-buru menuduh.”
Kalimat itu sekali lagi menghentikan Dimas agar tidak mengubah kecurigaan menjadi hukuman.
Mereka memeriksa seluruh dokumen.
Setelah beberapa hari, kebenaran mulai terlihat.
Arman telah menggunakan data dari dokumen lama untuk membuat serangkaian transaksi palsu.
Rania pernah berhubungan dengannya.
Namun dia bukan orang yang secara langsung memindahkan uang.
Dia pernah memberikan beberapa dokumen, tetapi tidak mengetahui bahwa dokumen tersebut akan digunakan untuk tujuan lain.
Ketika menyadari apa yang terjadi, dia panik.
Ia mencoba mendapatkan kembali dokumen-dokumen tersebut.
Namun semuanya sudah terlambat.
Dimas bertanya,
“Rania tahu tentang ini?”
Pengacara menjawab,
“Ada kemungkinan.”
“Ada bukti?”
“Ada pesan.”
Dimas membaca pesan tersebut.
Dalam salah satu pesan, Rania menulis:
“Saya hanya ingin mengetahui nilai sebenarnya dari investasi itu. Saya tidak mengizinkan Anda memindahkan uang.”
Arman menjawab:
“Anda urus saja urusan Anda. Jika semuanya berhasil, Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan.”
Dimas terdiam.
Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa masalah ini jauh lebih rumit daripada sekadar keserakahan satu orang.
Rania memang salah.
Namun belum tentu dia adalah orang yang mengendalikan semuanya.
Tiga hari kemudian, Arman ditemukan ketika sedang berusaha meninggalkan kota.
Dokumen-dokumen tersebut diserahkan kepada pihak berwenang.
Rekening yang berkaitan dengan transaksi dibekukan untuk pemeriksaan.
Rania juga harus menjalani pemeriksaan hukum karena pernah memberikan dokumen.
Ia tidak bisa menghapus tanggung jawab atas kesalahannya.
Namun ia juga bekerja sama untuk membantu mengungkap seluruh kejadian.
Dimas tidak menyelamatkannya dengan uang.
Ia juga tidak menggunakan koneksi untuk mengubah proses hukum.
Ia hanya berkata,
“Kalau kamu salah, kamu harus bertanggung jawab. Tapi kalau kamu tidak melakukan sesuatu yang dituduhkan kepadamu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadikanmu kambing hitam.”
Rania menangis.
“Kamu masih mencintaiku?”
Dimas menatapnya.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena ibuku mengajarkan bahwa keadilan tidak bergantung pada apakah kita masih mencintai seseorang atau tidak.”
Rania menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami perempuan yang dulu pernah ia sebut kampungan dan merepotkan.
Beberapa bulan berlalu.
Masalah itu perlahan menemukan titik terang.
Sebagian besar uang yang salah dipindahkan berhasil dipulihkan.
Sebagian lainnya masih harus melalui proses hukum.
Rania bertanggung jawab atas tindakan yang memang dilakukannya.
Ia mengembalikan keuntungan yang pernah ia terima.
Setelah itu, ia meninggalkan apartemen.
Bukan karena Dimas mengusirnya.
Tetapi karena ia sendiri tahu bahwa ia membutuhkan awal yang baru.
Dimas dan Rania akhirnya memutuskan untuk berpisah sementara.
Tidak ada adegan saling menghina.
Tidak ada perang memperebutkan harta.
Mereka hanya menandatangani dokumen yang diperlukan dan mulai menjalani kehidupan masing-masing.
Marni juga tidak mengambil kembali asetnya untuk menghukum anaknya.
Ia hanya berkata,
“Uang adalah sesuatu yang bisa hilang lalu dicari lagi.”
“Tapi kalau kamu kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah, kamu kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.”
Dimas membawa ibunya pulang.
Bukan ke apartemen mewah.
Melainkan ke sebuah rumah kecil dengan halaman.
Ia memperbaiki kamar dekat jendela untuk ibunya.
Membeli kursi goyang.
Menanam beberapa tanaman bunga.
Setiap pagi ia membuatkan teh.
Kadang-kadang ia bahkan membakar roti karena belum pandai memasak.
Marni tertawa.
“Dulu kamu tidak bisa melakukan apa-apa.”
Dimas menjawab,
“Sekarang aku sedang belajar.”
“Sudah terlambat.”
“Aku tahu.”
Dimas menatap ibunya.
“Tapi untung Ibu masih memberiku kesempatan.”
Marni terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Jangan sebut kesempatan.”
“Lalu apa?”
“Keluarga.”
Setahun kemudian, Rania datang ke rumah Marni.
Ia tidak membawa bunga mahal.
Tidak membawa hadiah.
Hanya membawa sekantong buah sederhana.
Ia berdiri cukup lama di depan gerbang sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Marni yang membuka.
Mereka saling menatap.
Rania menundukkan kepala.
“Maaf, Bu.”
Marni tidak berkata apa-apa.
“Saya tahu kata maaf tidak bisa menghapus semua yang terjadi.”
“Ya.”
“Saya juga tidak berharap Ibu langsung memaafkan saya.”
Marni menatapnya.
“Kamu datang untuk apa?”
Rania terdiam.
“Saya hanya ingin berterima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena waktu itu Ibu tidak menghancurkan hidup saya.”
Marni tampak terkejut.
Rania mulai menangis.
“Kalau Ibu mau, Ibu bisa membuat Dimas membenci saya selamanya.”
“Tapi Ibu tidak melakukannya.”
“Saya sudah lama memikirkan semuanya.”
Rania mengusap air matanya.
“Sekarang saya mengerti.”
“Mengerti apa?”
“Orang miskin bukan sesuatu yang menakutkan.”
Marni menatapnya.
“Keserakahanlah yang menakutkan.”
Rania menundukkan kepala.
“Saya dulu berpikir kalau punya cukup uang, saya tidak akan takut lagi.”
“Tapi semakin saya ingin mempertahankan uang, semakin banyak hal penting yang saya kehilangan.”
Marni diam beberapa saat.
Kemudian membuka gerbang.
“Masuklah.”
Rania mengangkat kepala.
“Ibu…”
“Jangan panggil Ibu kalau kamu belum siap.”
Rania menangis.
“Bolehkah saya memanggil Ibu?”
Marni berbalik.
“Masuk dulu. Kita minum teh.”
Itulah pertama kalinya setelah sekian lama Rania memasuki rumah Marni tanpa melihat apakah ada sesuatu yang berharga di dalamnya.
Ia hanya melihat seorang perempuan tua yang sedang menuangkan teh.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat seorang ibu.
Beberapa waktu kemudian, Dimas juga pulang.
Ia berdiri di depan pintu dan melihat Rania sedang membantu Marni memotong buah.
Dimas tidak berkata apa-apa.
Rania juga tidak tahu harus mengatakan apa.
Marni memandang mereka berdua.
“Jangan berdiri di sana seperti orang asing.”
Dimas tertawa kecil.
“Kami sudah bukan suami istri.”
Marni menjawab,
“Tidak menjadi suami istri bukan berarti tidak bisa menjadi manusia yang baik.”
Keduanya terdiam.
Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan mereka.
Mungkin Dimas dan Rania tidak akan kembali bersama.
Mungkin suatu hari mereka akan memulai kembali setelah bertahun-tahun.
Namun jika suatu hari mereka kembali berjalan menuju satu sama lain, itu tidak akan terjadi karena uang.
Bukan karena rumah.
Bukan karena foto-foto indah di media sosial.
Melainkan karena mereka sudah belajar melihat nilai seorang manusia sebelum melihat apa yang dimilikinya.
Suatu sore, Dimas duduk di samping ibunya di teras.
Ia bertanya,
“Ibu, waktu itu Ibu pernah berpikir saya tidak akan datang mencari Ibu?”
Marni memandang tanaman bunga di depan rumah.
“Pernah.”
“Apakah Ibu sedih?”
“Sedih.”
“Benar-benar sedih?”
Marni tersenyum.
“Sangat.”
Dimas menundukkan kepala.
“Maaf, Bu.”
Marni meletakkan tangannya di atas tangan Dimas.
“Nak.”
“Iya?”
“Ada anak-anak yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami orang tuanya.”
Dimas diam.
“Tapi kalau suatu hari kamu akhirnya mengerti…”
Marni menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
“…jangan habiskan sisa hidupmu untuk menghukum dirimu sendiri.”
Dimas mengangkat kepala.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?”
“Cintai Ibu selama Ibu masih di sini.”
Air mata Dimas mengalir.
Ia menyandarkan kepala di bahu ibunya seperti seorang anak kecil.
Marni tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengusap rambutnya dengan lembut.
Di luar halaman, matahari sore perlahan tenggelam.
Sebuah rumah kecil.
Seorang ibu tua.
Seorang anak laki-laki yang akhirnya pulang ke tempat yang seharusnya.
Setelah itu, Dimas menghapus semua unggahan lama yang pernah ia buat tentang dirinya sebagai anak yang berbakti.
Bukan karena ia malu.
Tetapi karena ia akhirnya mengerti sesuatu.
Berbakti kepada orang tua bukan berarti membawa mereka ke restoran mahal agar orang lain melihatnya.
Bukan pula tentang mengambil foto yang indah.
Bukan tentang menulis kalimat-kalimat manis di media sosial.
Terkadang, berbakti hanya berarti duduk di samping ibu ketika punggungnya sakit.
Mengingat bahwa ibu menyukai teh hangat.
Mendengarkan cerita yang sama untuk kesepuluh kalinya tanpa menunjukkan rasa bosan.
Dan yang paling penting…
jangan menunggu sampai kamar ibu hanya menyisakan tempat tidur kosong sebelum menyadari bahwa dulu kita memiliki seseorang yang mencintai kita tanpa syarat.
Dimas menyimpan tas pakaian lama milik ibunya.
Bukan karena tas itu memiliki nilai.
Tetapi karena benda tersebut mengingatkannya bahwa ia hampir kehilangan sesuatu yang paling berharga hanya karena terlalu sibuk membuktikan kepada orang lain bahwa hidupnya sempurna.
Suatu malam, Dimas bertanya,
“Ibu mau saya belikan baju baru?”
Marni tertawa.
“Mau.”
“Berapa?”
“Tiga.”
“Hanya tiga?”
“Sudah tua, mau pakai berapa banyak?”
Dimas tertawa.
“Saya beli sepuluh.”
Marni memelototinya.
“Jangan boros.”
“Kali ini saya ingin boros.”
“Boros apa?”
Dimas menatap ibunya.
“Menyia-nyiakan waktu bersama Ibu.”
Marni tertawa.
Lalu cepat-cepat memalingkan wajah.
Karena matanya sudah memerah.
Di luar jendela, malam perlahan turun.
Dimas berdiri dan menutup pintu.
Di dalam rumah kecil itu, cahaya lampu kuning menerangi dua orang yang duduk berdampingan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada penonton.
Tidak ada komentar pujian di media sosial.
Hanya seorang ibu dan seorang anak yang akhirnya memahami bahwa…
ada hal-hal di dunia ini yang jika hilang masih bisa dibeli kembali dengan uang.
Tetapi ada manusia yang, ketika sudah melangkah melewati pintu terakhir, tidak akan pernah bisa dipanggil pulang oleh seluruh kekayaan di dunia.
Dan keberuntungan terbesar Dimas bukanlah karena ia berhasil mempertahankan uang.
Bukan pula karena ia berhasil membongkar sebuah penipuan.
Melainkan karena…
ketika akhirnya ia menyadari bahwa dirinya telah salah, ibunya masih berada di sana sehingga ia masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan satu kalimat yang seharusnya sudah ia katakan sejak dulu.
“Aku sayang Ibu.”
Marni tidak menoleh.
Ia hanya menjawab pelan,
“Ibu tahu.”
Dan kali ini…
Dimas tidak membutuhkan kamera apa pun untuk membuktikannya.
