WANITA YANG DIKIRA TELAH MENINGGAL KEMBALI, DAN RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN IBU DIMAS SELAMA PULUHAN TAHUN

Avatar penulis
Cerita 01
6 menit baca 843 tayangan
WANITA YANG DIKIRA TELAH MENINGGAL KEMBALI, DAN RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN IBU DIMAS SELAMA PULUHAN TAHUN
Indeks

Dimas berdiri terpaku di depan ruang administrasi.

Wanita yang berdiri di halaman itu sudah tidak muda lagi.

Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna cokelat muda dan membawa sebuah koper tua di sampingnya.

Namun Dimas tetap mengenalinya.

Ia sudah melihat wajah itu berkali-kali dalam sebuah foto lama yang dulu disimpan ibunya di dasar lemari.

Itu Sari.

Wanita yang selama ini diyakini Dimas telah meninggal lebih dari dua puluh tahun lalu.

“Sari…”

Tenggorokan Dimas terasa kering.

Wanita itu mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Sari tidak berlari memeluknya.

Ia juga tidak menangis.

Ia hanya berdiri diam beberapa saat sebelum bertanya,

“Kamu Dimas?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Ia memandang wanita itu seperti sedang melihat seseorang yang keluar dari masa lalu.

“Anda… mengenal saya?”

Sari tersenyum sedih.

“Kenal.”

Tangannya semakin erat menggenggam pegangan koper.

“Karena sebelum ibumu pergi dari sini, dia mengatakan suatu hari nanti kamu akan datang.”

Dada Dimas terasa sesak.

“Ibu saya di mana?”
WANITA YANG DIKIRA TELAH MENINGGAL KEMBALI, DAN RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN IBU DIMAS SELAMA PULUHAN TAHUN

Sari tidak menjawab.

Ia hanya mengambil selembar kertas kecil dari saku bajunya.

Di sana tertulis sebuah alamat.

“Ibumu memintaku memberikan ini kepadamu.”

Dimas membaca alamat tersebut.

Itu adalah sebuah rumah kecil di pinggiran kota.

Tempat yang belum pernah ia dengar disebut ibunya.

“Antarkan saya menemui ibu.”

“Tidak.”

Sari menggeleng.

“Kamu harus pergi sendiri.”

“Kenapa?”

Sari menatapnya lurus.

“Karena ibumu ingin kamu memutuskan sendiri sebuah hal.”

“Hal apa?”

Sari menarik napas.

“Apakah kamu ingin menyelamatkannya karena dia ibumu…”

Ia berhenti sejenak.

“Atau karena hari ini kamu baru mengetahui bahwa dia pernah memiliki sesuatu yang kamu butuhkan?”

Dimas terdiam.

Pertanyaan itu terasa seperti tamparan.

Ia menunduk melihat tas pakaian lama milik ibunya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa malu.

Bukan karena pakaian tua itu.

Tetapi karena selama hampir dua bulan, ia tidak pernah sekalipun bertanya bagaimana ibunya menjalani hari-harinya.

Ia hanya membayar biaya panti.

Setelah itu menganggap kewajibannya selesai.

Sari berbalik.

“Ayo.”

Dimas segera mengikutinya.

Sebelum meninggalkan tempat itu, ia kembali mengambil amplop yang ditinggalkan ibunya.

Ia bertanya kepada perawat,

“Apa yang ibu saya katakan sebelum pergi?”

Perawat itu terdiam sebentar.

“Beliau bilang tidak marah kepada Anda.”

Dimas menundukkan kepala.

“Lalu?”

“Beliau hanya meminta kami menjaga tempat tidurnya selama beberapa hari.”

“Untuk apa?”

Perawat menatapnya.

“Beliau bilang mungkin anak laki-lakinya akan datang.”

Dimas tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia keluar dari panti.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak menelepon Rania.

Tidak mengatakan di mana dirinya berada.

Tidak mengirim foto.

Tidak merekam video.

Ia hanya ingin bertemu ibunya.

Satu jam kemudian, Dimas tiba di rumah yang alamatnya diberikan Sari.

Rumah itu kecil dan berada di balik sebuah jalan yang tenang.

Tidak ada gerbang besar.

Tidak ada mobil mewah.

Namun ketika pintunya terbuka, Dimas langsung mengenali sepasang sandal yang diletakkan di teras.

Sandal tua milik ibunya.

“Ibu…”

Ia masuk.

Marni sedang duduk di dekat jendela.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

Namun wajahnya masih tenang.

Ia menatap anaknya.

Tidak berdiri.

Tidak memarahinya.

Ia hanya bertanya,

“Kamu sudah makan?”

Dimas langsung menangis.

Ia berlutut di depan ibunya.

“Ibu…”

Marni memandangnya lama.

Kemudian mengusap rambut anaknya.

“Berdiri.”

“Maaf, Bu.”

“Ya.”

“Apakah Ibu marah kepada saya?”

Marni menggeleng.

“Marah.”

Dimas tertegun.

Marni tersenyum kecil.

“Ibu juga manusia. Bagaimana mungkin Ibu tidak marah?”

Dimas menundukkan kepala.

Air matanya jatuh ke tangan ibunya.

“Ibu tahu saya tidak datang menjenguk…”

“Tahu.”

“Ibu tahu saya memasukkan Ibu ke panti karena Rania tidak menyukai Ibu…”

“Tahu.”

“Lalu kenapa Ibu tidak mengatakan apa-apa?”

Marni memandang keluar jendela.

“Karena dulu Ibu berpikir, kalau Ibu membesarkanmu dengan cukup baik, kamu akan selalu tahu mana yang benar.”

Ia menghela napas pelan.

“Lalu Ibu sadar, kamu harus melewati jalanmu sendiri untuk memahaminya.”

Dimas tercekat.

“Apakah Ibu benar-benar meninggalkan saya?”

“Tidak.”

Marni menatapnya.

“Ibu hanya meninggalkan tempat yang sudah tidak menginginkan Ibu di sana.”

Kalimat itu membuat Dimas tidak sanggup mengangkat wajah.

Beberapa saat kemudian, ia bertanya,

“Bagaimana dengan Rania?”

Marni diam.

Dimas menatap ibunya.

“Apakah dia pernah datang ke sini?”

Marni tidak menjawab.

Namun Sari yang berdiri di belakang mereka berkata,

“Pernah.”

Dimas langsung menoleh.

“Kapan?”

“Sekitar dua minggu lalu.”

“Apa yang dia katakan?”

Sari melihat Marni.

Marni mengangguk kecil.

Barulah Sari menjawab,

“Dia ingin ibumu menandatangani beberapa dokumen.”

Dimas merasa tubuhnya dingin.

“Dokumen apa?”

Marni menunjuk lemari kayu di sudut ruangan.

“Ambil sendiri.”

Dimas membuka lemari.

Di dalamnya ada sebuah berkas yang diikat dengan tali.

Ia membukanya.

Halaman pertama membuatnya tidak percaya pada matanya.

Itu adalah dokumen mengenai rumah lama keluarganya.

Namun yang membuatnya semakin terkejut adalah sebuah dokumen lain.

Dokumen yang berkaitan dengan perusahaan yang sekarang ia kelola.

Dimas membaca setiap baris.

Wajahnya perlahan menjadi pucat.

Perusahaan yang selama ini ia kira dibangun sepenuhnya dengan uangnya sendiri ternyata tidak demikian.

Dua puluh tahun lalu, ketika ia masih kecil, Marni telah menjual satu-satunya aset yang dimilikinya untuk berinvestasi bersama seorang sahabat.

Sahabat itu adalah Sari.

Bertahun-tahun kemudian, investasi tersebut berkembang dan berubah menjadi aset yang nilainya sangat besar.

Namun Marni tidak pernah mengambilnya kembali.

Ia membiarkan semuanya digunakan untuk membantu Dimas mengembangkan karier dan kehidupannya.

Dimas menatap ibunya.

“Ibu…”

Marni berkata pelan,

“Ibu tidak pernah menceritakannya karena Ibu takut kamu mengira Ibu memberikan uang itu sebagai imbalan atas baktimu.”

“Tapi kenapa Rania tahu?”

Marni terdiam.

Sari menjawab,

“Karena dia menemukan salinan dokumen tersebut.”

Dimas menggenggam berkas itu erat.

“Lalu apa yang dia inginkan?”

Sari menatapnya.

“Dia ingin ibumu mengalihkan hak atas aset tersebut.”

Dimas merasa kepalanya berputar.

“Tidak mungkin.”

“Dia pernah mengatakan kepada ibumu bahwa jika ibumu tidak menandatangani, dia akan membuatmu berpikir bahwa ibumu sengaja menyembunyikan uang darimu.”

Dimas memejamkan mata.

Dalam pikirannya muncul semua makan malam mewah.

Foto-foto.

Ucapan Rania.

“Orang tua harus diperlakukan dengan baik.”

“Keluarga adalah hal terpenting.”

Tiba-tiba semua kalimat itu terasa asing.

Ponsel di sakunya bergetar.

Rania menelepon.

Dimas melihat layar.

Kali ini ia mengangkatnya.

“Kamu sudah selesai merekam?”

Dimas tidak menjawab pertanyaan itu.

“Rania.”

“Iya?”

“Kamu pernah datang ke panti menemui ibuku?”

Di seberang sana hening.

Beberapa detik.

Kemudian Rania berkata,

“Aku hanya datang menjenguk.”

“Untuk apa?”

“Aku menantumu.”

“Tidak.”

Dimas membuka matanya.

“Kamu datang untuk meminta tanda tangan.”

Suasana di seberang langsung berubah.

“Kamu mendengar dari siapa?”

“Ibu.”

“Dimas, kamu salah paham.”

“Kalau begitu kenapa ibuku menyimpan dokumen yang kamu minta untuk ditandatangani?”

Rania mulai meninggi.

“Itu aset keluarga! Aku hanya ingin melindungi hak kita!”

Dimas tertawa pahit.

“Hak kita?”

“Ya!”

“Jadi kamu menginginkannya karena kita suami istri?”

“Benar!”

“Waktu kamu meminta tanda tangan ibu, kita bahkan belum menikah.”

Rania terdiam.

Dimas menatap ibunya.

Kemudian berkata,

“Aku akan pulang malam ini.”

“Baik.”

Suara Rania kembali melembut.

“Kita bicara baik-baik.”

Dimas memutuskan telepon.

Marni menatap anaknya.

“Kamu mau melakukan apa?”

Dimas berdiri.

“Aku tidak tahu.”

Ia menatap ibunya.

“Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan Ibu sendirian.”

Di luar rumah, Sari berdiri diam.

Ia tahu cerita ini baru saja dimulai.

Karena ada satu hal yang belum diketahui Dimas.

Di dalam berkas itu masih ada satu lembar dokumen yang belum pernah ditunjukkan Marni kepadanya.

Sebuah dokumen dengan tanda tangan Rania.

Dan tanggal di dalamnya…

tertulis sebelum hari pertama Dimas mengenal Rania.