BAGIAN 3 — Saat Pengkhianatan Terungkap, Nadira Menemukan Arti Keluarga, Sedangkan Arman Kembali Untuk Menepati Janji yang Hampir Tak Sempat Ia Penuhi
Aku menggenggam kartu hitam itu erat-erat.
—Kamu bekerja sama dengan mereka?
Faris tertawa kecil.
—Bekerja sama? Tidak. Aku hanya mengambil kesempatan.
Dia melangkah mendekat.
—Selama bertahun-tahun, Ayah selalu membandingkanku denganmu. Nadira lebih pintar. Nadira lebih berani. Nadira lebih cocok memimpin perusahaan. Lalu ketika akhirnya aku hampir mendapatkan posisi itu, kamu menikahi orang yang ternyata memiliki kerajaan bisnis jauh lebih besar.
Aku menatapnya.
—Jadi semua ini karena iri?
—Karena aku lelah menjadi nomor dua.
—Lalu orang-orang yang mengejar Arman?
Faris tidak menjawab langsung.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
—Berikan kartunya.
—Tidak.
Wajahnya mengeras.
—Jangan membuat semuanya lebih sulit.
Aku mundur hingga punggungku menyentuh meja.
—Kalau kamu pikir kartu ini bisa menyelamatkanmu, kamu salah.
Aku sengaja mengatakannya keras-keras.
Karena beberapa menit sebelum Faris masuk, aku sudah mengirim pesan kepada Ayah.
Hanya satu kalimat.
“Buka pelacak di ponselku.”
Aku perlu membuat Faris tetap berbicara.
—Berapa banyak uang yang mereka janjikan?
—Cukup untuk membuatku tidak pernah lagi membutuhkan perusahaan Ayah.
—Dan kamu rela menghancurkan keluargamu sendiri?
Faris tersenyum pahit.
—Keluarga? Kapan kalian pernah menganggapku keluarga?
Untuk sesaat aku melihat luka lama di matanya.
Namun luka bukan alasan untuk mengkhianati orang lain.
—Ayah mungkin melakukan banyak kesalahan. Aku juga. Tapi kamu memilih jalan ini sendiri.
Faris kehilangan kesabaran.
Dia maju dan mencoba merebut kartu dari tanganku.
Aku menghindar.
Tiba-tiba lampu gedung padam.
Gelap total.
Faris mengumpat.
Lalu terdengar suara benturan dari lorong.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka keras.
—Nadira!
Aku mengenali suara itu.
—Arman?!
Seseorang menarikku menjauh dari Faris.
Lampu darurat menyala.
Dan di sanalah dia.
Arman.
Wajahnya pucat. Ada luka di pelipisnya dan perban di bawah kemejanya.
Namun dia hidup.
Benar-benar hidup.
Aku bahkan lupa bahwa aku sedang marah kepadanya.
Aku langsung memeluknya.
—Kamu bodoh! Kamu benar-benar bodoh!
Arman memelukku erat.
—Maaf.
Air mataku jatuh.
—Jangan pernah lakukan ini lagi.
—Aku janji.
Faris mencoba berlari.
Namun beberapa petugas keamanan muncul dari lorong bersama Ayah.
Kali ini mereka adalah orang-orang yang benar-benar kami kenal.
Faris berhenti.
Wajahnya pucat.
—Ayah…
Ayah menatapnya dengan kesedihan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
—Kenapa, Faris?
Faris tidak menjawab.
Tak lama kemudian, pihak berwenang datang.
Bukti dalam flash drive cukup untuk membuka penyelidikan besar terhadap jaringan internal yang selama ini mencoba mengambil alih perusahaan Arman.
Faris ternyata menerima uang untuk memberikan informasi mengenai kontrak keluarga kami dan pergerakan Arman.
Namun dia bukan dalang utama.
Beberapa eksekutif senior di grup Arman telah merencanakan semuanya jauh sebelum Faris terlibat.
Malam itu, setelah semuanya selesai, Arman dibawa ke rumah sakit.
Aku duduk di samping ranjangnya.
Kami berdua terdiam lama.
Akhirnya aku berkata:
—Aku masih marah.
—Aku tahu.
—Sangat marah.
—Aku tahu.
—Jangan kira karena aku memelukmu tadi berarti semuanya selesai.
Arman tersenyum lemah.
—Aku juga tahu.
Aku menatapnya.
—Kenapa kamu menikahiku kalau kamu tahu hidupmu sedang berbahaya?
Senyumnya menghilang.
—Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memiliki sesuatu yang tidak berhubungan dengan perusahaan.
Dia menggenggam tanganku.
—Ketika menjadi Arman sang ketua, semua orang menghormatiku karena nama, uang, atau kekuasaanku. Ketika menjadi pegawai gudang, hanya kamu yang memarahiku karena aku lupa makan siang.
Aku hampir tertawa.
—Itu alasanmu mencintaiku?
—Salah satunya.
Kemudian dia menjadi serius.
—Aku tidak pernah ingin menipumu. Awalnya aku pikir penyelidikan akan selesai sebelum hubungan kita menjadi serius. Tetapi aku jatuh cinta terlalu cepat.
—Kamu tetap seharusnya memberitahuku.
—Benar.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya pengakuan.
Dan mungkin itulah pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai aku merasa kami benar-benar berbicara sebagai suami dan istri.
Tiga bulan berikutnya tidak mudah.
Penyelidikan berlangsung panjang.
Beberapa eksekutif diberhentikan dan kasus mereka diproses sesuai hukum.
Faris juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya.
Ayah beberapa kali mencoba meminta keringanan untuknya, tetapi akhirnya memahami bahwa mencintai seorang anak tidak berarti menghapus konsekuensi dari pilihannya.
Sementara itu, aku menolak langsung pindah ke rumah mewah milik Arman.
Aku tetap tinggal di rumah kontrakan kecil kami.
Arman terkejut.
—Kamu serius?
—Sangat serius. Kamu bilang ingin hidup normal denganku, kan?
—Tapi rumah ini hanya punya satu kamar mandi.
—Ketua perusahaan internasional takut antre kamar mandi?
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia tertawa terbahak-bahak.
Kami memulai kembali pernikahan kami dari sana.
Bukan sebagai pewaris perusahaan dan seorang miliarder.
Hanya Nadira dan Arman.
Kami memasak bersama.
Belanja sendiri.
Berdebat tentang siapa yang lupa membeli sabun.
Kadang-kadang aku masih marah ketika mengingat kebohongannya.
Dan setiap kali itu terjadi, Arman tidak melarikan diri dari percakapan.
Dia mendengarkan.
Enam bulan kemudian, Ayah memanggilku ke kantor.
Di meja terdapat dokumen pengangkatan pimpinan baru.
Aku melihat namaku.
—Ayah mau menyerahkan perusahaan kepadaku?
—Tidak.
Aku terkejut.
Ayah tersenyum.
—Aku ingin menawarkan posisi itu kepadamu. Keputusan menerimanya tetap milikmu.
Perbedaannya sederhana.
Tetapi bagiku sangat berarti.
Dulu semua orang menentukan hidupku.
Sekarang Ayah memberiku pilihan.
Aku menerima posisi tersebut dengan satu syarat: perusahaan harus dikelola berdasarkan kemampuan profesional, bukan hubungan keluarga.
Ayah setuju.
Satu tahun setelah pernikahan pertama kami, Arman mengajakku kembali ke taman kecil tempat kami menikah.
Aku mengira kami hanya akan makan malam.
Ternyata ada puluhan orang menunggu.
Teman-temanku.
Rekan kerja.
Ayah.
Bahkan beberapa pegawai gudang yang pernah bekerja bersama Arman ketika dia menyamar.
Aku menatap suamiku.
—Apa ini?
Arman berdiri di hadapanku.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada pengawal.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana seperti pertama kali aku mengenalnya.
—Pernikahan pertama kita penuh rahasia, katanya. —Aku ingin mengulanginya tanpa satu pun kebohongan.
Mataku langsung berkaca-kaca.
—Arman…
—Namaku Arman. Aku memang ketua sebuah grup perusahaan. Aku punya beberapa rumah yang belum pernah kamu lihat, pesawat yang sekarang membuatmu takut setiap kali aku naik, dan pekerjaan yang terlalu sering membuatku pulang terlambat.
Semua orang tertawa kecil.
Arman melanjutkan:
—Tetapi di hadapanmu, aku hanya ingin menjadi seorang suami yang tidak perlu menyembunyikan apa pun.
Dia mengulurkan tangannya.
—Nadira, maukah kamu menikah denganku sekali lagi, kali ini setelah mengetahui siapa aku sebenarnya?
Aku menatap Ayah.
Dia mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian aku melihat tangan Arman.
Setahun lalu, aku menikahi seorang pria yang kukira pegawai biasa.
Kemudian aku mengetahui bahwa dia menyimpan kehidupan lain.
Aku pernah berpikir kebahagiaan berarti memiliki semuanya.
Lalu aku berpikir cinta berarti mempercayai seseorang tanpa bertanya.
Sekarang aku memahami bahwa keduanya salah.
Cinta bukan hidup tanpa rahasia karena manusia bisa melakukan kesalahan.
Cinta adalah keberanian untuk membuka kebenaran, menerima konsekuensi, memperbaiki kepercayaan yang rusak, lalu memberi satu sama lain kebebasan untuk memilih apakah masih ingin berjalan bersama.
Aku meletakkan tanganku di telapak tangan Arman.
—Aku mau.
Tepuk tangan langsung memenuhi taman.
Beberapa bulan kemudian, kami pindah dari rumah kontrakan.
Bukan ke rumah terbesar milik Arman.
Kami memilih rumah yang lebih sederhana, cukup dekat dengan kantor kami berdua.
Kartu hitam yang dahulu hampir menghancurkan hidup kami tidak lagi dibawa Arman.
Dia memasukkannya ke dalam sebuah kotak kaca kecil di ruang kerja rumah.
Di bawahnya ada tulisan:
“Rahasia memiliki harga. Kepercayaan memiliki nilai.”
Suatu malam, aku berdiri di depan kotak itu ketika Arman memelukku dari belakang.
—Masih menyesal menikah dengan pegawai gudang? godanya.
Aku tersenyum.
—Sedikit.
—Kenapa?
Aku berbalik menatapnya.
—Karena ternyata pegawai gudang itu punya terlalu banyak rapat.
Arman tertawa.
Aku ikut tertawa.
Di luar jendela, hujan turun perlahan.
Tidak ada SUV hitam.
Tidak ada orang yang mengejar kami.
Tidak ada identitas palsu.
Hanya rumah kami.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menjadi putri seorang pengusaha besar.
Dia juga tidak menjadi ketua sebuah kerajaan bisnis.
Kami hanyalah Nadira dan Arman.
Dua orang yang pernah memulai pernikahan dengan terlalu banyak kebohongan, hampir kehilangan satu sama lain karena rahasia, tetapi akhirnya memilih membangun kembali hubungan mereka dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekayaan.
Kejujuran.
Kepercayaan.
Dan sebuah kesempatan kedua.
Beberapa tahun kemudian, ketika putri kecil kami bertanya bagaimana Ayah dan Ibunya pertama kali bertemu, Arman menjawab dengan wajah sangat serius:
—Ayah dulu cuma pegawai gudang.
Aku langsung menyikut lengannya.
—Jangan mulai lagi.
Putri kami tertawa tanpa memahami apa pun.
Arman menatapku dan tersenyum.
Aku pun tersenyum kembali.
Kali ini aku tahu persis siapa pria yang duduk di sampingku.
Dan kali ini…
tidak ada lagi rahasia di antara kami.
