Rekaman Terakhir Membongkar Semua Kebohongan, dan Dimas Akhirnya Mendapatkan Kembali Rumah Serta Keluarga yang Hampir Direnggut Darinya

Avatar penulis
Cerita 05
8 menit baca 273 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Rekaman Terakhir Membongkar Semua Kebohongan, dan Dimas Akhirnya Mendapatkan Kembali Rumah Serta Keluarga yang Hampir Direnggut Darinya

Nama yang disebut kakakku adalah Ratih.

Aku menoleh perlahan.

Ratih tidak lagi berusaha melawan.

Dia hanya berdiri dengan wajah pucat.

Rekaman terus berjalan.

Kakakku menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelum jatuh sakit, dia pernah melihat Ratih bertemu dengan salah satu orang yang berkaitan dengan kasus Raka.

Saat itu Ratih belum bekerja untukku.

Kakakku diam-diam mengambil foto dan menyimpannya.

Namun dia belum memiliki bukti cukup untuk menuduh siapa pun.

Karena kesehatannya terus memburuk, dia memilih menyimpan seluruh informasi di kartu memori tersebut.

—Kalau perempuan bernama Ratih suatu hari mendekati keluarga kita, jangan biarkan dia tinggal dekat Dimas.

Aku langsung memeluk putraku.

Selama tiga bulan, perempuan yang telah diperingatkan kakakku justru tinggal satu rumah dengan anakku.

Ratih mulai menangis.

—Aku tidak pernah berniat menyakiti Dimas.

Aku menatapnya dingin.

—Kamu menguncinya di gudang.

Ratih terdiam.

—Kamu mengancamnya.

Dia menunduk.

—Kamu membuat anakku takut tidur di rumahnya sendiri.

Tidak ada jawaban.

Aku baru menyadari satu hal.

Selama ini aku terlalu sibuk mencari kebohongan dalam perkataan Dimas sampai tidak pernah bertanya mengapa seorang anak enam tahun harus berusaha begitu keras agar ibunya percaya.

Aku berlutut di depan putraku.

—Dimas.

Dia menatapku.

—Mama salah.

Air mataku jatuh.

—Mama selalu berpikir memberikan rumah yang bagus, sekolah yang bagus, mainan, dan makanan adalah cara terbaik menjaga kamu. Tapi ketika kamu benar-benar membutuhkan Mama untuk mendengarkanmu, Mama malah tidak ada.

Dimas diam cukup lama.

Lalu dia mengusap air mataku dengan tangan kecilnya.

—Sekarang Mama percaya, kan?

Aku mengangguk.

—Sekarang dan seterusnya, Mama akan mendengarkanmu.

Dia langsung memelukku.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tubuh kecil itu terasa benar-benar rileks di pelukanku.

Polisi membawa Ratih pergi bersama semua barang bukti.

Penyelidikan berikutnya berlangsung cukup panjang.

Dari kartu memori milik kakakku, USB yang disimpan Raka, serta keterangan beberapa saksi, pihak berwenang akhirnya dapat membuka kembali kasus lama tersebut.

Ratih mengakui bahwa dirinya dibayar untuk mencari bukti yang disembunyikan di rumahku.

Awalnya dia hanya diperintahkan mencari dokumen dan perangkat penyimpanan.

Namun ketika Dimas beberapa kali melihatnya masuk ke ruangan terlarang, dia mulai mengintimidasi anakku.

Dia menguncinya di gudang agar Dimas takut.

Dia juga berusaha meyakinkanku bahwa putraku suka berbohong sehingga jika suatu hari Dimas mengatakan sesuatu tentang dirinya, aku tidak akan percaya.

Dan rencananya hampir berhasil.

Kesadaran itu membuatku sulit tidur selama berhari-hari.

Namun ada satu persoalan yang jauh lebih rumit.

Raka.

Setelah polisi selesai meminta keterangannya malam itu, dia berdiri di depan pintu.

Dimas tertidur di sofa.

Aku menghampirinya.

—Kamu mau pergi lagi?

Raka menatap putranya.

—Kalau keberadaanku membuat kalian tidak nyaman, aku akan pergi.

Aku tidak menjawab.

Raka melangkah menuju pintu.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, terdengar suara kecil.

—Ayah?

Raka membeku.

Dimas sudah bangun.

Dia duduk di sofa sambil memandang pria yang selama ini hanya dikenalnya melalui foto.

Raka perlahan berbalik.

—Ya?

Dimas turun dari sofa.

—Kamu benar-benar ayahku?

Mata Raka memerah.

—Iya.

—Kenapa Ayah tidak pulang?

Pertanyaan sederhana itu membuat seorang pria dewasa tidak mampu menjawab.

Akhirnya Raka berlutut.

—Karena Ayah takut.

Dimas mengernyit.

—Orang dewasa juga takut?

Raka tersenyum pahit.

—Sangat sering.

—Ayah takut apa?

—Takut kalau orang jahat menemukan Mama dan kamu karena Ayah.

Dimas berpikir sebentar.

Kemudian berkata:

—Tapi kalau Ayah pergi, Mama tetap sedih.

Raka menundukkan kepala.

Air matanya jatuh.

—Ayah tahu. Ayah melakukan kesalahan besar.

Dimas berjalan mendekat.

Namun dia tidak langsung memeluk Raka.

Dia hanya mengulurkan tangan kecilnya.

—Kalau begitu jangan bohong lagi.

Raka menggenggam tangan itu.

—Ayah janji.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka.

Aku tidak langsung memaafkan Raka.

Enam tahun bukan waktu yang singkat.

Cinta tidak bisa menghapus luka hanya dalam satu malam.

Dan sebuah keluarga tidak dapat dibangun kembali hanya karena seseorang mengatakan maaf.

Aku mengatakan itu kepadanya.

Raka menerimanya.

Dia menyewa tempat tinggal tidak jauh dari rumah kami.

Selama beberapa bulan berikutnya, dia datang setiap akhir pekan menemui Dimas.

Kadang mereka bermain sepak bola.

Kadang memperbaiki mobil remote control.

Kadang hanya duduk bersama sambil makan mi goreng buatan Dimas yang rasanya terlalu asin.

Aku memperhatikan mereka dari jauh.

Raka tidak pernah memaksaku kembali kepadanya.

Dia hanya berusaha menjadi ayah yang selama enam tahun tidak bisa hadir.

Sementara aku juga mulai mengubah hidupku.

Aku mengurangi jam kerja.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mulai pulang sebelum matahari tenggelam.

Aku sendiri yang menjemput Dimas beberapa kali dalam seminggu.

Kami pergi membeli makanan di warung dekat rumah.

Kadang Dimas menceritakan sekolahnya sepanjang perjalanan.

Cerita yang dulu mungkin hanya akan kujawab dengan, “Nanti saja, Mama sedang sibuk,” kini kudengarkan sampai selesai.

Beberapa bulan kemudian, kasus Ratih dan orang-orang yang bekerja bersamanya akhirnya diproses secara hukum.

Raka juga tidak perlu lagi bersembunyi.

Suatu sore, aku membuka kembali kamar kerja kakakku.

Aku membersihkan debunya, membuka jendela, dan membiarkan sinar matahari masuk.

Di meja, aku meletakkan foto kakakku.

—Terima kasih.

Aku tahu dia tidak akan menjawab.

Tetapi untuk pertama kalinya, ruangan itu tidak terasa menyeramkan.

Tidak ada lagi sosok misterius di halaman.

Tidak ada lagi ketukan di jendela pada pukul dua pagi.

Rumah itu akhirnya kembali menjadi rumah.

Setahun berlalu.

Pada ulang tahun Dimas yang ketujuh, kami mengadakan pesta kecil di halaman belakang.

Tidak mewah.

Hanya beberapa teman sekolah, tetangga, makanan rumahan, dan sebuah kue cokelat.

Raka datang membawa hadiah.

Dimas langsung membukanya.

Sebuah mobil remote control baru.

Dimas menatapnya, lalu tertawa.

—Kenapa mobil lagi?

Raka ikut tertawa.

—Karena mobil yang lama pernah menyelamatkan rahasia penting.

Aku yang sedang membawa minuman ikut tersenyum.

Hubunganku dengan Raka belum kembali seperti dahulu.

Mungkin tidak akan pernah sama.

Namun kami sedang belajar mengenal satu sama lain kembali.

Bukan sebagai dua orang yang berusaha menghidupkan masa lalu.

Melainkan sebagai dua orang dewasa yang mencoba membangun sesuatu yang baru dengan kejujuran.

Setelah pesta selesai, Dimas duduk di antara kami di teras.

Langit mulai berubah jingga.

Tiba-tiba dia bertanya:

—Mama masih ingat gelang yang aku kasih waktu Mama pergi?

Aku tersenyum.

—Tentu.

Aku mengangkat pergelangan tangan.

Gelang kayu itu masih kupakai.

—Kamu bilang supaya Mama ingat jalan pulang.

Dimas mengangguk.

Kemudian dia menatap Raka.

—Ayah juga perlu satu.

Raka tertawa.

—Kenapa?

Dimas menjawab dengan sangat serius:

—Karena Ayah paling lama tersesat.

Aku tidak bisa menahan tawa.

Raka juga tertawa sambil mengusap matanya.

Dimas kemudian berlari masuk ke rumah.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa gelang lain yang dibuatnya sendiri.

Dia memasangkannya di pergelangan tangan Raka.

—Sekarang jangan tersesat lagi.

Raka menatap gelang sederhana itu cukup lama.

—Tidak akan.

Dimas mengangkat jari kelingking.

—Janji?

Raka mengaitkan kelingkingnya.

—Janji.

Aku memandang keduanya.

Dulu aku berpikir kehilangan terbesar dalam hidupku adalah kematian suamiku.

Kemudian aku mengetahui bahwa dia ternyata masih hidup.

Namun setelah semua yang terjadi, aku akhirnya memahami sesuatu.

Kehilangan yang paling menakutkan bukan selalu ketika seseorang pergi untuk selamanya.

Kadang kita kehilangan orang yang masih berada tepat di depan mata karena terlalu sibuk untuk mendengar mereka.

Aku hampir kehilangan kepercayaan putraku dengan cara seperti itu.

Untungnya, Dimas masih memberiku kesempatan kedua.

Malam itu, sebelum tidur, aku menyelimuti Dimas.

Dia menunjuk jendela.

—Mama.

—Hmm?

—Sekarang tidak ada perempuan itu lagi.

Aku melihat keluar.

Halaman belakang tenang di bawah cahaya lampu.

—Kamu masih takut?

Dimas menggeleng.

—Tidak.

Aku mencium keningnya.

—Tidurlah. Mama ada di kamar sebelah.

Aku hendak berdiri ketika tangannya memegang jariku.

—Mama?

—Ya?

—Kalau nanti aku bilang ada sesuatu yang aneh lagi, Mama akan percaya?

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.

—Mama mungkin akan bertanya dan mencari tahu dulu. Tapi Mama tidak akan mengabaikanmu lagi.

Dimas akhirnya tersenyum puas.

—Selamat malam, Mama.

—Selamat malam, Sayang.

Aku mematikan lampu dan menutup pintu perlahan.

Di ruang tamu, Raka sedang menunggu untuk berpamitan.

Sebelum keluar, dia menatap gelang kayu di tangannya.

—Maya.

Aku menatapnya.

—Terima kasih karena masih mengizinkanku menjadi bagian dari hidup Dimas.

Aku mengangguk.

—Jangan berterima kasih kepadaku. Buktikan kepada dia bahwa janjimu bisa dipercaya.

Raka tersenyum.

—Aku akan melakukannya.

Dia berjalan keluar.

Beberapa langkah kemudian, aku memanggilnya.

—Raka.

Dia berbalik.

Aku menunjuk meja makan.

Di sana masih ada tiga piring nasi goreng yang tadi kubuat.

—Makanannya masih banyak. Kalau kamu belum makan malam… masuklah lagi.

Raka terdiam beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

Dia kembali masuk.

Aku tidak mengatakan bahwa aku telah memaafkannya.

Dia juga tidak meminta kami kembali seperti dahulu.

Kami hanya duduk di meja yang sama dan makan malam.

Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Dari lantai atas terdengar langkah kaki kecil.

Dimas muncul sambil membawa bantal.

—Aku tahu Ayah pasti kembali!

Dia berlari turun dan duduk di antara kami.

Aku tertawa.

Raka menggeser piring agar Dimas mendapat tempat.

Di luar, jendela yang dahulu membuat anakku ketakutan kini memantulkan cahaya hangat dari ruang makan.

Tidak ada lagi sosok misterius.

Tidak ada lagi rahasia.

Hanya tiga orang yang pernah terpisah oleh ketakutan, kebohongan, dan waktu.

Mereka belum menjadi keluarga yang sempurna.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah enam tahun, tidak ada seorang pun yang harus bertanya apakah orang yang mereka cintai akan pulang.

Karena akhirnya…

kami semua sudah menemukan jalan kembali ke rumah.