Suami yang Kukira Telah Meninggal Kembali Membawa Putraku, Sementara Rahasia Kakakku Perlahan Membuka Kebohongan Enam Tahun

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 218 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Suami yang Kukira Telah Meninggal Kembali Membawa Putraku, Sementara Rahasia Kakakku Perlahan Membuka Kebohongan Enam Tahun

Aku tidak mampu bergerak.

Pria yang berdiri di samping Ratih memiliki wajah yang selama enam tahun hanya bisa kulihat melalui foto lama.

Raka.

Suamiku.

Pria yang menurut polisi meninggal setelah kendaraan yang dikendarainya jatuh ke sungai enam tahun lalu.

Jenazahnya memang tidak pernah ditemukan, tetapi setelah pencarian berminggu-minggu, pihak berwenang menyimpulkan kemungkinan bertahan hidup hampir tidak ada.

Selama bertahun-tahun aku membesarkan Dimas sambil membawa keyakinan bahwa ayahnya telah meninggal.

Namun sekarang Raka berdiri hanya beberapa meter dariku.

Dan Dimas terkulai di dalam pelukannya.

—Letakkan anakku!

Aku berteriak sambil berlari ke arahnya.

Ratih langsung berdiri menghadang.

—Jangan mendekat!

Aku berhenti.

Bukan karena takut kepadanya.

Melainkan karena Raka tiba-tiba berkata:

—Maya, Dimas tidak apa-apa. Dia hanya pingsan karena ketakutan.

Suara itu.

Aku tidak mungkin melupakannya.

—Kamu masih hidup?

Raka menunduk.

Aku berjalan mendekat, lalu menampar wajahnya sekuat tenaga.

Ratih terkejut.

Namun Raka tidak melawan.

—Itu pantas untukku.

—Enam tahun!

Suaraku gemetar.

—Enam tahun aku mengira kamu sudah mati! Enam tahun aku membesarkan anak kita sendirian! Sekarang kamu muncul bersama perempuan ini sambil membawa Dimas?

Raka hendak menjawab ketika Ratih tiba-tiba berlari menuju tangga.

—Ratih!

Raka berteriak.

Ratih tidak berhenti.

Dia berusaha kabur.

Saat itulah aku sadar ada sesuatu yang salah.

Raka menyerahkan Dimas kepadaku.

—Pegang dia!

Kemudian dia mengejar Ratih.

Aku memeluk Dimas erat.

—Dimas! Sayang, bangun!

Kelopak matanya bergerak.

Beberapa detik kemudian, dia membuka mata.

—Mama…

Aku hampir menangis.

—Mama di sini.

Dimas memeluk leherku erat.

—Mama akhirnya percaya kepadaku?

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.

Aku mencium kepalanya berkali-kali.

—Mama percaya. Maafkan Mama.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari lantai bawah.

Aku membawa Dimas turun.

Di ruang tamu, Raka telah berhasil menahan Ratih.

Tas yang dibawa Ratih jatuh ke lantai dan isinya berserakan.

Perhiasanku.

Beberapa kartu bank lama.

Jam tangan milik almarhum ibuku.

Uang tunai.

Dan sebuah kotak kecil yang langsung kukenali.

Kotak penyimpanan milik kakakku.

Ratih ternyata mencuri dari rumah ini sedikit demi sedikit.

Namun Raka mengambil sebuah benda dari antara barang-barang itu.

Sebuah USB.

—Inilah yang dicari Ratih selama ini.

Aku menatapnya.

—Apa maksudmu?

Raka tidak langsung menjawab.

Dia meminta aku menghubungi polisi terlebih dahulu.

Ratih mendadak panik.

—Jangan dengarkan dia! Dia pembohong! Dia meninggalkanmu selama enam tahun!

Aku memang ingin mengetahui jawabannya.

Namun keselamatan Dimas lebih penting.

Aku menghubungi polisi dan petugas keamanan lingkungan.

Ratih akhirnya tidak bisa melarikan diri.

Setelah keadaan terkendali, kami duduk di ruang keluarga.

Dimas tetap berada dalam pelukanku.

Raka duduk berseberangan.

Aku menatapnya tanpa sedikit pun kehangatan.

—Sekarang bicara.

Raka menghela napas panjang.

—Enam tahun lalu kecelakaan itu memang terjadi. Tapi aku selamat.

—Lalu kenapa tidak pulang?

—Karena itu bukan kecelakaan.

Aku terdiam.

Raka menjelaskan bahwa sebelum kejadian, dia bekerja menangani distribusi barang untuk sebuah perusahaan. Dia menemukan transaksi ilegal yang melibatkan beberapa orang di dalam perusahaan.

Dia berniat menyerahkan bukti kepada pihak berwenang.

Namun seseorang mengetahuinya.

Mobilnya dikejar malam itu hingga jatuh ke sungai.

Raka berhasil keluar, tetapi terluka parah.

Setelah itu, dengan bantuan seorang kenalan yang bekerja di bidang hukum, dia bersembunyi karena orang-orang tersebut masih mencarinya.

—Kenapa tidak memberitahuku?

—Karena aku takut mereka akan menggunakanmu.

Aku tertawa pahit.

—Jadi kamu melindungiku dengan membuatku menjadi janda selama enam tahun?

Raka menunduk.

—Aku membuat keputusan yang salah.

Aku tidak membantah.

Tidak ada alasan yang bisa mengembalikan enam tahun kehidupan kami.

—Lalu apa hubungannya dengan kakakku?

Raka mengangkat kepala.

—Kakakmu tahu aku masih hidup.

Aku membeku.

Ternyata setelah kecelakaan itu, kakakku menemukan Raka secara tidak sengaja.

Dia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang mengetahui semuanya.

Kakakku membantu menyimpan salinan bukti di rumah ini.

USB yang tadi ditemukan adalah salah satunya.

Namun tiga tahun lalu, sebelum meninggal karena sakit, kakakku meninggalkan beberapa rekaman suara.

Dia takut seseorang suatu hari akan mencari bukti tersebut.

—Ratih tahu soal USB?

—Dia bekerja untuk seseorang yang dulu terlibat dalam kasus itu.

Aku menatap Ratih yang kini dijaga petugas.

Wajahnya pucat.

Barulah aku memahami semuanya.

Ratih tidak datang ke rumahku secara kebetulan.

Dia sengaja melamar menjadi pengasuh.

Dia mencari sesuatu.

Dan ketika Dimas memergokinya membuka kamar lama milik kakakku, Ratih mulai menakut-nakutinya agar diam.

—Lalu perempuan yang muncul di kamera?

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Aku mengambil tablet dan memperlihatkan rekaman tersebut.

Ketika melihat sosok perempuan bersyal cokelat, ekspresinya berubah.

—Itu bukan kakakmu.

—Apa?

Raka memperbesar gambar.

Kemudian menunjuk kaki perempuan tersebut.

—Lihat.

Aku memperhatikan dengan saksama.

Perempuan itu mengenakan sepatu olahraga putih.

Aku teringat sesuatu.

Syal kakakku memang masih tersimpan di rumah setelah dia meninggal.

Artinya seseorang mengambilnya.

—Siapa dia?

Raka menjawab:

—Seorang penyelidik yang membantuku.

Ternyata beberapa minggu sebelumnya, Raka mengetahui Ratih telah berhasil masuk ke rumahku.

Karena belum berani muncul secara langsung, dia meminta seorang penyelidik mengawasi rumah.

Perempuan itu memakai syal kakakku karena ditemukan terjatuh di dekat gudang setelah Ratih mengobrak-abrik barang-barang lama.

Ratih mengira sosok tersebut adalah hantu kakakku.

Itulah sebabnya dia ketakutan setiap kali melihatnya.

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Tidak ada hantu.

Tidak ada orang mati yang kembali.

Hanya serangkaian kebohongan yang terlalu lama disembunyikan.

Namun tiba-tiba Dimas menarik bajuku.

—Mama…

—Ya?

—Masih ada satu rahasia lagi.

Kami semua menatapnya.

Dimas menunjuk USB di tangan Raka.

—Bukan itu yang dicari Tante Ratih.

Raka mengerutkan kening.

—Lalu apa?

Dimas turun dari pelukanku.

Dia berjalan menuju mobil remote control yang kubelikan beberapa minggu sebelumnya.

Mainan yang selama ini tidak pernah disentuhnya.

Dimas membalik mobil tersebut.

Kemudian membuka tempat baterainya.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah kartu memori kecil.

Ratih yang melihatnya langsung berteriak:

—JANGAN!

Semua orang terkejut.

Dimas berlari kepadaku dan menyerahkan kartu tersebut.

—Aku menemukan ini di kamar Tante Ratih malam Mama pergi.

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Ratih berusaha melepaskan diri dari petugas.

—Berikan kepadaku!

Raka langsung berdiri di depanku.

Aku memasukkan kartu memori itu ke tablet.

Ada satu video di dalamnya.

Tanggalnya tiga tahun lalu.

Hari terakhir kakakku berada di rumah ini sebelum dibawa ke rumah sakit.

Aku menekan tombol putar.

Wajah kakakku muncul di layar.

Dia terlihat lemah.

Namun kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

—Maya, kalau suatu hari kamu melihat rekaman ini, berarti aku tidak sempat mengatakan kebenaran kepadamu secara langsung.

Dia menarik napas.

—Kecelakaan Raka bukan satu-satunya rahasia yang disembunyikan dari keluarga kita.

Kemudian kakakku menyebut satu nama.

Nama yang membuat wajah Ratih seketika kehilangan seluruh warnanya.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)