Bagian 3 — Folder Tua Ayah Membuka Dua Puluh Tahun Pengorbanan dan Satu Kebohongan yang Lebih Busuk

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 778 tayangan
Bagian 3 — Folder Tua Ayah Membuka Dua Puluh Tahun Pengorbanan dan Satu Kebohongan yang Lebih Busuk
Indeks

Bagian 3 — Folder Tua Ayah Membuka Dua Puluh Tahun Pengorbanan dan Satu Kebohongan yang Lebih Busuk

Tanganku terasa dingin ketika menerima amplop itu.

Nama Joko tercetak di bagian depan.

Di bawahnya ada alamat rumah lama Mama di Sidoarjo, rumah yang sudah dijual bertahun-tahun lalu.

Pak Budi menjelaskan bahwa tetangga lama kami mengantarkan surat tersebut tiga hari sebelumnya karena pengirim masih memakai alamat lama.

Ayah sebenarnya ingin menyerahkannya kepadaku setelah pernikahan.

Dia takut merusak suasana.

Begitulah Ayah.

Bahkan setelah dipindahkan ke kursi paling belakang, dia masih memikirkan bagaimana caranya agar hari bahagiaku tidak rusak.

Sedangkan orang lain justru sengaja merusaknya demi kepentingan mereka sendiri.

Aku membuka surat.

Isinya pemberitahuan tunggakan fasilitas kredit usaha milik Joko.

Jumlah pokok beserta denda sudah melewati Rp700 juta.

Ada keterangan mengenai agunan berupa sebuah ruko di Gresik.

Ruko yang baru saja dikatakan Joko ingin dia “wariskan” kepadaku.

Aku membaca sekali lagi.

Kemudian menatap Ratih.

“Ini ruko yang Ibu maksud?”

Ratih mengernyit.

Joko buru-buru berkata, “Itu bisa dijelaskan.”

“Silakan.”

“Aku sedang restrukturisasi.”

“Dengan menjadikan saya penjamin?”

Dia diam.

Aku tersenyum hambar.

“Kenapa diam?”

“Alya, kondisi usaha orang tidak selalu—”

“Jawab.”

Wajahnya memerah.

“Aku cuma butuh bantuan sementara.”

Aku mengangguk.

Akhirnya semuanya masuk akal.

Tiga bulan sebelumnya Joko memang datang ke studio desain tempatku bekerja.

Aku bahkan tidak langsung mengenalinya.

Dia menyebut namaku lengkap, lalu menunjukkan foto lama Mama.

Awalnya dia menangis.

Katanya usia membuatnya sadar.

Katanya dia ingin menebus kesalahan.

Katanya setiap malam dia memikirkan anak perempuan yang ditinggalkan.

Aku hampir percaya selama lima belas menit.

Sampai dia mengeluarkan map.

Di dalamnya ada formulir permohonan pinjaman.

“Ayah cuma butuh tanda tanganmu.”

Itulah kalimat pertamanya setelah dua puluh dua tahun.

Bukan: Apa kabar?

Bukan: Maaf.

Bukan: Bagaimana hidupmu selama ini?

Tanda tangan.

Itu yang dia butuhkan.

Dia bilang percetakannya sedang kesulitan karena kehilangan beberapa pelanggan besar.

Dia sudah punya aset.

Sudah punya usaha.

Sudah punya rumah.

Namun bank meminta tambahan penjamin.

Aku menolak.

Dia langsung berubah.

Dari menangis menjadi marah.

“Kamu sekarang hidup enak karena siapa?”

Aku sampai tertawa mendengarnya.

“Karena Pak Budi.”

Dia memukul meja.

“Aku ayah kandungmu!”

Aku meminta satpam mengeluarkannya.

Malam itu aku menceritakan semuanya kepada Dimas.

Dimas memelukku.

Dia bilang dia mengerti.

Dia bilang tidak akan pernah memaksaku berdamai dengan siapa pun.

Ternyata pelukan itu tidak memiliki arti apa-apa.

Aku menatapnya sekarang.

“Kapan kamu pertama kali bertemu Joko tanpa sepengetahuan saya?”

Dimas mengusap bibirnya.

“Tidak penting.”

“Kalau tidak penting, jawab.”

Ratih memotong.

“Dimas hanya berusaha memperbaiki hubungan keluarga.”

Aku mengabaikannya.

“Berapa kali?”

Dimas akhirnya berkata pelan.

“Dua kali.”

Seketika terdengar bisik-bisik dari bangku tamu.

Aku mengangguk.

“Di mana?”

“Sekali di kafe.”

“Sekali lagi?”

Dimas menutup mata sebentar.

“Di rukonya.”

Aku tertawa.

Tidak keras.

Tetapi beberapa orang langsung menundukkan kepala.

“Jadi kamu bahkan pergi mengecek properti orang yang katanya ingin berdamai dengan saya.”

“Alya, bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dimas mulai kehilangan kesabaran.

“Karena kalau memang dia mau memberikan aset itu kepada kita setelah menikah, apa salahnya aku mendengarkan?”

Aku terdiam.

Akhirnya keluar juga.

Bukan tentang memaafkan.

Bukan tentang keluarga.

Aset.

Ratih langsung menyela.

“Kamu jangan memelintir!”

“Tidak perlu.”

Aku menunjuk Dimas.

“Anak Ibu sudah menjelaskannya sendiri.”

Ratih berusaha tersenyum kepada tamu.

“Semua keluarga juga memikirkan masa depan anak. Kalau ada orang tua ingin memberi properti, masa kami menolak?”

“Walaupun orang itu meninggalkan anaknya?”

“Masalah orang dewasa rumit.”

“Walaupun rukonya sedang diagunkan?”

Ratih tidak bisa menjawab.

Aku menatap Joko.

“Bapak bilang kepada mereka ruko itu akan diberikan kepada kami?”

Dia mengangguk ragu.

“Kalau semua selesai.”

“Semua apa?”

Joko tidak menjawab.

Pak Budi akhirnya berkata,

“Tanda tangan Alya.”

Joko langsung membentak.

“Jangan ikut campur!”

Kalimat itu membuatku berbalik tajam.

Pak Budi tidak mundur.

Untuk pertama kalinya aku melihat Ayah menatap Joko tanpa keramahan.

“Kalau urusannya anak saya, saya ikut campur.”

Joko mencibir.

“Anak kamu?”

Ayah diam.

“Dia darah daging saya.”

Pak Budi hanya menjawab,

“Darah memang dari kamu.”

Kemudian dia menunjukku.

“Tapi demamnya dulu saya yang tunggu.”

Joko bungkam.

“Uang sekolahnya saya yang cari.”

Ayah melanjutkan.

“Ketika ibunya meninggal, kamu tidak muncul.”

“Saat dia takut tidak bisa lanjut SMA, kamu tidak ada.”

“Ketika dia diterima kuliah dan harus membayar uang masuk, kamu juga tidak ada.”

Joko mendengus.

“Kamu mau dihargai karena membesarkan anak orang?”

Ayah menatapnya lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Tidak.”

“Saya tidak perlu dihargai.”

“Saya cuma tidak mau kamu datang ketika dia sudah berhasil lalu berpura-pura ikut menanam.”

Aku langsung menunduk.

Air mataku jatuh.

Kenangan lama muncul satu per satu.

Aku berusia enam tahun ketika Mama menikah dengan Pak Budi.

Waktu itu kami tinggal di rumah petak dengan dua kamar.

Ayah bekerja sebagai teknisi pendingin ruangan.

Gajinya biasa saja.

Tangannya selalu penuh bekas luka kecil karena logam dan alat kerja.

Pada malam pertama setelah pernikahan mereka, dia mengetuk kamar kecilku.

Dia membawa segelas susu cokelat.

“Alya boleh panggil saya Om Budi dulu.”

Aku tidak menjawab.

Aku takut.

Aku pernah mendengar anak-anak tetangga berkata ayah sambung itu galak.

Beberapa bulan kemudian aku demam.

Mama sedang menjaga nenek di rumah sakit.

Pak Budi yang membawaku ke klinik.

Aku muntah di bajunya.

Dia tidak marah.

Dia malah berkata,

“Wah, seragam baru Ayah.”

Itu pertama kalinya aku tertawa dan tanpa sadar memanggilnya Ayah.

Dia menoleh begitu cepat sampai hampir menabrak pintu.

Sejak saat itu, tidak pernah sekali pun dia membedakan aku.

Ketika aku meminta sepeda bekas, dia menabung empat bulan.

Ketika sekolah mengadakan study tour dan aku malu meminta uang, amplop pembayaran tiba-tiba sudah ada di meja.

Ketika menstruasi pertamaku datang saat Mama bekerja, Ayah pergi ke minimarket dan pulang membawa lima jenis pembalut karena tidak tahu harus membeli yang mana.

Mama menertawakannya seminggu penuh.

Rumah kecil kami tidak mewah.

Tetapi aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang.

Sampai aku berusia lima belas tahun.

Mama didiagnosis gagal ginjal.

Enam bulan terakhir hidupnya menghabiskan hampir seluruh tabungan.

Pak Budi menjual motor.

Menjual perhiasan kecil miliknya.

Mengambil pekerjaan tambahan malam hari.

Tetapi Mama tetap pergi.

Setelah pemakaman, aku duduk di dapur sampai tengah malam.

Aku takut bertanya.

Akhirnya aku berkata,

“Yah…”

Pak Budi menoleh.

“Kalau Ayah mau menikah lagi, tidak apa-apa.”

Dia terdiam.

Aku memaksa tersenyum.

“Alya bisa tinggal sama Tante Rini.”

Dia meletakkan gelasnya.

“Kamu mau Ayah usir?”

Aku langsung menangis.

Dia panik.

“Lho, kok nangis?”

Aku menggeleng.

Dia menarik kursi mendekat.

“Dengar.”

“Yang meninggal itu istri Ayah.”

“Bukan anak Ayah.”

Kalimat itu kuingat sampai sekarang.

Dua bulan kemudian uang sekolah SMA jatuh tempo.

Ayah mengambil proyek pemasangan AC untuk sebuah gedung di kawasan industri.

Pulang lewat pukul sebelas malam.

Pergi lagi sebelum pukul enam.

Kulit lengannya menghitam karena panas.

Suatu malam aku melihat telapak tangannya melepuh.

Tetapi tiga hari kemudian uang sekolahku lunas.

Ketika aku diterima di universitas negeri di Surabaya, Ayah begitu bangga sampai mencetak pengumuman penerimaanku dan menunjukkannya kepada tetangga.

Uang pangkal tetap besar bagi kami.

Diam-diam dia menjual motor.

Aku baru tahu satu bulan kemudian ketika melihat dia pulang naik bus.

“Motor Ayah?”

“Dijual.”

“Kenapa?”

“Motor bisa beli lagi.”

Dia mengacak rambutku.

“Kesempatan kamu belum tentu.”

Setelah lulus, aku mendapat pekerjaan sebagai desainer interior.

Gajiku perlahan membaik.

Aku berkali-kali menyuruh Ayah berhenti mengambil proyek berat.

Dia selalu menjawab,

“Nanti kalau kamu sudah menikah.”

Dua tahun kemudian, dia membantu uang muka apartemen kecilku.

Aku menolak.

Dia marah.

“Orang lain punya bekal, anak Ayah juga harus punya.”

Itulah lelaki yang hari ini dipindahkan ke kursi paling belakang.

Aku mengusap air mata.

Lalu menatap Dimas.

“Ketika kita pertama kali pacaran, kamu tahu semua cerita ini.”

Dimas diam.

“Ketika kamu melamar saya, Ayah yang menerima kamu.”

“Benar.”

“Ketika keluargamu datang, Ayah yang menyiapkan semuanya.”

“Benar.”

“Lalu kamu membohonginya di hari pernikahan kita.”

Dimas menggeleng.

“Aku cuma mencoba mencari jalan tengah.”

“Jalan tengah?”

Aku menunjuk kursi belakang.

“Itu jalan tengah?”

Dimas tiba-tiba meninggikan suara.

“Aku capek dengan keras kepalamu, Alya!”

Semua orang terdiam.

Dia sepertinya sadar sudah bicara terlalu keras.

Tapi terlambat.

“Setiap kali soal ayah kandungmu, kamu selalu menutup pintu. Aku cuma berpikir kalau kalian bertemu di hari bahagia, mungkin kamu akan luluh!”

Aku menatapnya.

“Dan ruko?”

Dia tidak menjawab.

“Ruko juga demi kebahagiaan saya?”

Dimas mengepalkan tangan.

“Kalau ada kesempatan kita punya aset tambahan, kenapa harus ditolak?”

Aku tertawa lagi.

Kali ini air mataku ikut jatuh.

“Karena aset itu bukan milikmu.”

“Belum tentu.”

“Dan karena pemiliknya meminta saya menjadi penjamin utangnya.”

Dimas mendekat.

“Kita bisa hitung risikonya.”

Kalimat itu membuatku benar-benar kehilangan sisa kepercayaan.

“Kita?”

Aku menunjuk diriku.

“Yang menandatangani saya.”

“Yang asetnya mungkin disita saya.”

“Yang dikejar bank saya.”

“Tapi kamu sudah menghitung untungnya sebagai milik kita?”

Dimas tidak menjawab.

Tiba-tiba seorang staf hotel datang berlari kecil dari arah pintu samping.

Dia membawa sebuah map plastik bening.

“Maaf, Kak.”

“Ada apa?”

“Tadi pagi ada dokumen tertinggal di ruang keluarga pria. Kami kira punya pihak pengantin.”

Dia menyerahkan map itu kepadaku.

Joko begitu melihatnya langsung berubah.

“Tunggu!”

Dia hendak merebutnya.

Pak Budi maju satu langkah.

Joko berhenti.

Aku membuka map.

Halaman pertama berisi fotokopi sertifikat ruko.

Halaman kedua berisi simulasi restrukturisasi kredit.

Halaman ketiga membuat darahku seperti berhenti.

Judulnya:

DRAFT PERSETUJUAN PENJAMIN TAMBAHAN.

Nama calon penjamin:

ALYA PRAMESTI.

Ada fotokopi KTP-ku.

Aku menatap Dimas.

“Apa ini?”

“Entahlah.”

Aku membalik halaman.

Di halaman terakhir terdapat catatan tulisan tangan.

Setelah resepsi, bicara bersama. Dimas bantu yakinkan Alya.

Di sebelah catatan itu…

ada paraf yang sangat kukenal.

Paraf yang selama dua tahun kulihat di kartu ucapan, dokumen vendor, dan formulir persiapan pernikahan.

Paraf Dimas.

Tanganku mulai gemetar.

Aku mengangkat kertas tersebut di depan wajahnya.

“Kamu bukan cuma tahu.”

“Kamu sudah ikut merencanakan tanda tangan saya.”

Dan untuk pertama kalinya sejak drama ini dimulai…

Dimas tidak membantah.