Bagian 4 — Aku Membatalkan Pernikahan, Membongkar Motif Mereka, dan Memilih Pulang Bersama Satu-Satunya Ayahku
Dimas menatap kertas di tanganku selama beberapa detik.
Aku menunggu.
Masih ada bagian bodoh dalam diriku yang berharap dia akan berkata bahwa semuanya salah paham.
Bahwa paraf itu bukan miliknya.
Bahwa dia tidak tahu namaku dicantumkan sebagai calon penjamin.
Bahwa lelaki yang akan kunikahi tidak mungkin menjadikan hari pernikahan kami sebagai jebakan untuk memaksaku menanggung utang ayah biologis yang bahkan tidak kuanggap keluarga.
Tetapi Dimas hanya berkata,
“Aku belum menyetujui apa pun.”
Aku tersenyum.
“Parafmu ada di sini.”
“Itu cuma tanda aku sudah membaca.”
“Kenapa kamu membaca dokumen yang memakai nama saya tanpa sepengetahuan saya?”
Dia membisu.
“Kenapa ada fotokopi KTP saya?”
Ratih langsung menyela.
“Fotokopi KTP kan memang ada banyak sejak persiapan nikah.”
Aku menoleh kepadanya.
“Jadi Ibu tahu?”
Dia langsung salah tingkah.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kalau tidak tahu, kenapa langsung bisa menjelaskan asal fotokopinya?”
Ratih terdiam.
Beberapa tamu mulai mengeluarkan ponsel.
Aku mengangkat tangan.
“Saya minta satu hal.”
Semua menatapku.
“Tolong jangan merekam wajah Ayah saya.”
Lalu aku menoleh kepada Pak Budi.
“Beliau sudah cukup dipermalukan hari ini.”
Beberapa orang perlahan menurunkan ponsel.
Aku kembali kepada Dimas.
“Jelaskan.”
Dia menghela napas panjang.
“Aku ketemu Om Joko dua kali.”
“Sudah tahu.”
“Dia bilang bisnisnya sedang kesulitan sementara.”
“Sudah tahu.”
“Kalau kreditnya direstrukturisasi, rukonya aman.”
“Lanjut.”
“Setelah lunas, katanya ruko itu akan diberikan kepada kita.”
Aku menatapnya.
“Sebagai imbalan karena saya menjadi penjamin?”
Dimas langsung menjawab,
“Bukan imbalan.”
“Lalu?”
“Warisan.”
Aku hampir tertawa.
“Warisan yang harus saya selamatkan dulu dari bank?”
Dimas mulai kesal.
“Kamu selalu melihat semuanya dari sisi paling buruk!”
Aku menatapnya tak percaya.
“Nama saya dimasukkan ke draft penjamin utang Rp700 juta tanpa izin dan menurutmu saya terlalu negatif?”
“Belum ditandatangani!”
“Tapi kalian berencana membicarakannya setelah saya resmi menjadi istrimu.”
Dia diam.
Aku menunjuk tangkapan layar di ponsel WO.
“Pesan ibumu jelas.”
Kalau pemberkatan sudah selesai, dia tidak akan bisa mundur lagi.
Aku menoleh kepada Ratih.
“Bukan begitu?”
Ratih mengangkat dagu.
“Karena setelah menikah, keputusan keuangan memang harus dibicarakan suami istri.”
“Dibicarakan?”
Aku tersenyum.
“Dengan saya yang baru mengetahui dokumennya lima menit sebelum menikah?”
“Itu sebabnya belum ditandatangani!”
“Luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Jadi karena kalian belum berhasil mendapatkan tanda tangan saya, kalian merasa belum melakukan apa-apa.”
Ratih tidak menjawab.
Joko tiba-tiba berkata,
“Alya, dengar dulu.”
Aku menoleh.
Dia maju satu langkah.
Wajahnya berkeringat.
“Aku tidak akan membiarkan kamu rugi.”
“Bapak bahkan tidak sanggup membayar utang sendiri.”
“Aku punya aset.”
“Yang sedang terancam disita.”
“Itu cuma masalah arus kas!”
“Bapak muncul tiga bulan lalu meminta tanda tangan saya.”
Aku menatap matanya.
“Saya menolak.”
“Lalu Bapak mendekati calon suami saya.”
Dia terdiam.
“Benar?”
“Aku cuma mencari jalan agar kita bisa bicara.”
“Dengan menawarkan ruko?”
Wajahnya menegang.
Aku tidak perlu jawaban.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Joko tidak datang karena menyesal.
Dia datang karena pintu depanku sudah kututup.
Jadi dia mencari pintu lain.
Dimas.
Ratih.
Keluarga yang terobsesi dengan citra dan aset.
Dia memberi mereka umpan.
Satu ruko.
Ratih menganggap mendapat properti tambahan untuk anaknya.
Dimas menganggap aku akhirnya akan melunak setelah menikah.
Joko menganggap status istri akan membuatku lebih mudah ditekan.
Dan Pak Budi?
Lelaki yang benar-benar membesarkanku?
Dia harus disingkirkan dari panggung karena keberadaannya bisa membuat rencana “rekonsiliasi keluarga” tidak berjalan mulus.
Aku mengangkat mikrofon.
“Baik.”
Dimas langsung maju.
“Alya…”
Aku menatapnya.
“Jangan sentuh saya.”
Dia berhenti.
Aku menghadap para tamu.
“Bapak dan Ibu, saya minta maaf karena hari ini berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.”
Ballroom sunyi.
“Beberapa dari Anda sudah datang dari luar kota. Beberapa mungkin sudah meninggalkan pekerjaan, membawa keluarga, membeli hadiah.”
Aku menarik napas.
“Karena itu saya ingin menyampaikan keputusan saya dengan jelas.”
Ratih mulai panik.
“Alya, jangan terburu-buru.”
Aku melanjutkan.
“Pernikahan hari ini dibatalkan.”
Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.
Dimas pucat.
“Alya!”
“Aku bilang dibatalkan.”
“Kamu gila?”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Dia sadar kata itu terucap di depan mikrofon.
Terlambat.
Beberapa tamu menoleh kepadanya.
Dimas menurunkan suara.
“Kita sudah menghabiskan ratusan juta untuk acara ini.”
Aku mengangguk.
“Betul.”
“Undangan sudah datang.”
“Betul.”
“Semua orang sudah tahu kita menikah.”
“Betul.”
“Lalu cuma karena satu masalah keluarga, kamu mau menghancurkan semuanya?”
Aku menatap lelaki yang dua jam sebelumnya masih kupikir akan menjadi teman hidupku.
“Bukan satu masalah keluarga.”
Aku mengangkat satu jari.
“Kamu membohongi saya.”
Jari kedua.
“Kamu membohongi Ayah saya.”
Ketiga.
“Kamu diam-diam berhubungan dengan orang yang sudah saya minta menjauh.”
Keempat.
“Kamu mengetahui ada dokumen penjamin atas nama saya.”
Kelima.
“Kamu menyembunyikannya karena ingin membicarakannya setelah saya terikat pernikahan.”
Aku menurunkan tangan.
“Kalau itu semua dianggap masalah kecil olehmu, justru itu alasan terbesar saya tidak boleh menikah denganmu.”
Ratih mendekat.
“Kamu akan menyesal.”
Aku menatapnya.
“Mungkin.”
“Tapi kalau hari ini saya tetap menikah, saya tahu pasti saya akan menyesal.”
Ratih mengertakkan gigi.
“Perempuan yang membatalkan pernikahan di depan ratusan orang akan dibicarakan seumur hidup.”
Aku mengangkat bahu.
“Lebih baik dibicarakan orang setahun daripada salah menikah tiga puluh tahun.”
Beberapa tamu terdengar menarik napas.
Di bagian belakang, seorang perempuan bahkan bertepuk tangan satu kali sebelum buru-buru berhenti.
Ratih merah padam.
“Kamu benar-benar tidak punya malu.”
Aku tersenyum.
“Lucu.”
“Sejak tadi semua orang di sini sibuk meminta saya menjaga malu keluarga.”
“Tidak ada seorang pun yang meminta Dimas menjaga kepercayaan calon istrinya.”
Ratih hendak menjawab.
Pak Budi tiba-tiba naik ke panggung.
Dia tidak marah.
Tidak berteriak.
Dia hanya berdiri di sampingku.
“Sudah, Nduk.”
Aku menoleh.
Ayah tersenyum.
“Kalau memang tidak jadi, kita pulang.”
Sederhana.
Hanya itu.
Kita pulang.
Aku hampir menangis lagi.
Di tengah ratusan orang, di tengah dekorasi bunga bernilai puluhan juta, lampu kristal, gaun mahal, meja hadiah, dan suara bisik-bisik…
dua kata itu terasa paling aman.
Aku mengangguk.
“Tunggu sebentar, Yah.”
Aku kembali memegang mikrofon.
“Untuk semua tamu…”
“Karena makanan sudah disiapkan, silakan tetap makan.”
Beberapa orang tersenyum canggung.
“Acaranya boleh batal. Nasi jangan dibuang.”
Terdengar tawa kecil.
Ketegangan sedikit pecah.
Aku melanjutkan.
“Dan untuk vendor, kru hotel, WO, dekorasi, dokumentasi, musisi, MC—tidak ada yang salah dari pihak kalian.”
Aku menoleh kepada koordinator WO.
“Semua kewajiban dari bagian saya tetap dibayar sesuai kontrak.”
Dimas langsung berkata,
“Dari bagianmu?”
Aku menatapnya.
“Ya.”
“Kita sudah sepakat bagi dua.”
“Betul.”
“Berarti kamu harus—”
“Kewajiban saya, saya bayar.”
Aku memotong.
“Tambahan dekorasi keluarga besar yang ibumu minta kemarin, meja VIP tambahan, kamar hotel kerabat kalian, dan perubahan susunan acara pagi ini bukan pesanan saya.”
Ratih melotot.
“Itu bagian dari pernikahan!”
Aku tersenyum.
“Silakan selesaikan dengan hotel.”
Wajahnya langsung berubah.
Ternyata keberanian mempertahankan “nama baik keluarga” bisa turun drastis begitu invoice datang.
Aku menyerahkan mikrofon kepada MC.
Tetapi sebelum turun, Joko tiba-tiba memegang lenganku.
“Alya.”
Aku langsung melepaskannya.
Dia berbisik,
“Kita belum selesai bicara.”
“Saya sudah selesai sejak dua puluh tahun lalu.”
“Aku ayahmu.”
Aku menatapnya.
“Bapak adalah ayah biologis saya.”
“Itu beda dengan menjadi Ayah.”
Wajahnya mengeras.
“Kamu pikir lelaki itu bisa mengubah darah?”
Aku menoleh ke arah Pak Budi.
“Tidak perlu.”
“Dia mengubah hidup saya.”
Joko terdiam.
Aku menggandeng lengan Ayah.
Ironis.
Lelaki yang seharusnya menggandengku memasuki aula sebagai pengantin justru menggandengku keluar sebagai perempuan yang membatalkan pernikahan.
Tetapi langkahku terasa jauh lebih ringan.
Di luar ballroom, Ayah berhenti.
“Nduk.”
“Ya?”
“Maaf.”
Aku langsung mengernyit.
“Untuk apa?”
“Kalau Ayah tadi dari awal bilang mereka memindahkan kursi Ayah…”
Aku memeluknya.
Kencang.
“Jangan.”
Ayah terdiam.
“Jangan minta maaf karena orang lain menyakiti Ayah.”
Bahu Ayah bergerak sedikit.
Aku tahu dia menangis.
Tetapi seperti biasa, dia buru-buru mengusapnya.
“Makeup kamu nanti rusak.”
Aku malah tertawa sambil menangis.
“Pernikahannya saja sudah rusak.”
Dia mengusap kepalaku.
“Bagus.”
Aku melepaskan pelukan.
“Bagus?”
“Iya.”
Ayah tersenyum.
“Daripada hidupmu yang rusak.”
Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar tertawa.
Aku tidak langsung pulang.
Manajer hotel meminta kami masuk ke ruangan kecil untuk menyelesaikan administrasi.
Di sana barulah kejutan berikutnya muncul.
Ada tagihan tambahan Rp43 juta.
Ratih memesan dua suite untuk keluarganya.
Menambah meja VIP.
Mengganti backdrop keluarga.
Mencetak ulang beberapa materi.
Memesan minuman tambahan.
Dan pagi itu, dia meminta perubahan layout serta kursi tanpa sepengetahuanku.
Dimas berharap biaya itu dibagi.
Aku menunjukkan kontrak.
Semua tambahan menggunakan nama Ratih sebagai pemesan.
Manajer hotel berkata sangat sopan,
“Untuk item ini memang persetujuannya dari Ibu Ratih.”
Ratih langsung membantah.
“Saya keluarga pengantin!”
Manajer tetap tersenyum.
“Betul, Bu.”
“Tetapi nama pemesan tetap Ibu.”
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Lebih menarik lagi, dua hari kemudian aku mengetahui sesuatu dari Dimas sendiri.
Dia datang ke apartemenku.
Membawa bunga.
Pak Budi sedang memperbaiki engsel lemari ketika bel berbunyi.
Aku membuka pintu hanya sedikit.
Dimas berdiri di luar.
“Aku mau bicara.”
“Bicara dari sana.”
“Alya…”
“Dari sana.”
Dia melihat Pak Budi di belakangku.
Ekspresinya berubah.
Pak Budi tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya tetap memegang obeng.
Entah kenapa itu cukup efektif.
Dimas menarik napas.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku panik.”
“Bagian mana yang membuatmu panik?”
“Semua.”
Dia mengusap wajah.
“Mama terlalu ikut campur.”
Aku hampir tertawa.
Sekarang ibunya yang disalahkan.
“Terus?”
“Aku juga salah karena mendengarkan Om Joko.”
“Pak Joko.”
Dia diam sebentar.
“Pak Joko.”
“Bagus.”
“Aku benar-benar pikir rukonya akan diberikan ke kita.”
Aku menatapnya.
“Jadi memang karena ruko.”
“Bukan cuma itu.”
“Berapa?”
Dia bingung.
“Apa?”
“Berapa uang yang sudah kamu berikan kepada Joko?”
Wajahnya berubah.
Aku tahu.
Ada sesuatu.
“Dimas.”
Dia akhirnya menunduk.
“Empat puluh juta.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Berapa?”
“Empat puluh.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Untuk apa?”
“Biaya pengurusan restrukturisasi.”
Aku tertawa.
Tidak bisa kutahan.
“Kamu memberikan Rp40 juta kepada lelaki yang kamu sendiri tahu punya utang hampir Rp700 juta?”
“Katanya nanti diganti.”
“Dari mana uangnya?”
Dimas tidak menjawab.
Aku langsung tahu jawabannya.
“Tabungan pernikahan?”
Dia menghela napas.
“Itu tabunganku sendiri.”
Aku hampir kagum.
Joko ternyata tidak hanya mencoba memanfaatkanku.
Dia sudah berhasil memanfaatkan Dimas.
“Sudah dikembalikan?”
Dimas menggeleng.
“Tiga hari ini nomor dia susah dihubungi.”
Pak Budi yang sejak tadi diam tiba-tiba batuk kecil.
Aku menoleh.
Dia pura-pura fokus pada engsel lemari.
Tetapi aku melihat ujung bibirnya bergerak.
Dia hampir tertawa.
Aku kembali kepada Dimas.
“Jadi sekarang kamu datang karena sadar ditipu?”
“Bukan.”
“Karena kehilangan Rp40 juta?”
“Bukan!”
“Karena pernikahan batal?”
“Alya, aku masih sayang kamu.”
Aku menatapnya lama.
Dulu kalimat itu bisa membuat hatiku lunak.
Sekarang terdengar kosong.
“Kalau saya menikah denganmu hari itu, apa yang terjadi setelah resepsi?”
Dimas diam.
“Jawab.”
“Mungkin kita akan bicara soal dokumen.”
“Di depan ibumu dan Joko?”
Dia tidak menjawab.
“Mungkin saya marah.”
Aku melanjutkan.
“Mungkin ibumu akan bilang saya egois.”
Diam.
“Joko akan bilang saya anak durhaka.”
Diam.
“Lalu kamu akan bilang, ‘Kita sudah menikah, masa kamu tidak memikirkan masa depan kita?’”
Wajah Dimas berubah.
Aku ternyata tepat.
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena tidak membantah.”
Aku mengambil kotak kecil dari meja dekat pintu.
Di dalamnya ada cincin pertunangan.
Aku menyerahkannya.
“Ambil.”
Dia tidak mau menerima.
“Alya.”
“Ambil.”
“Kita bisa mulai lagi.”
“Tidak.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Dia seperti mendapat harapan.
Aku melanjutkan,
“Tapi perubahanmu bukan proyek saya.”
Harapan itu mati.
“Aku sudah minta maaf.”
“Dan saya menerima permintaan maafmu.”
Dia tercengang.
“Jadi?”
“Saya memaafkan supaya tidak membawa marah terus.”
Aku mendorong kotak cincin ke tangannya.
“Bukan supaya menikah denganmu.”
Dimas berdiri lama di depan pintu.
Akhirnya dia mengambil cincin.
Sebelum pergi, dia berkata,
“Kamu benar-benar memilih Pak Budi daripada aku?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu membuatku sadar bahwa sampai detik terakhir pun dia belum mengerti.
“Salah.”
“Saya tidak sedang memilih antara Ayah dan kamu.”
“Saya memilih harga diri saya.”
Pintu kututup.
Joko mencoba menghubungiku selama hampir dua minggu.
Nomor berbeda.
WhatsApp berbeda.
Bahkan melalui saudara jauh Mama.
Aku tidak membalas.
Ketika kemudian dia mengirim surat melalui seorang pengacara yang menyatakan aku telah “merusak nama baiknya di depan umum”, aku menyerahkan semuanya kepada penasihat hukum perusahaan tempatku bekerja.
Jawabannya sederhana.
Kami memiliki tangkapan layar.
Dokumen.
Pesan.
Saksi.
Dan aku tidak pernah mengunggah wajah atau data pribadinya ke internet.
Surat kedua tidak pernah datang.
Sebaliknya, satu bulan kemudian aku mendapat telepon dari sebuah bank.
Mereka ingin memastikan bahwa aku tidak pernah menyetujui permohonan sebagai penjamin kredit Joko Pranata.
Aku menjawab tegas,
“Tidak pernah.”
Pihak bank mengatakan ada fotokopi identitasku di berkas awal, tetapi proses tidak dapat dilanjutkan tanpa persetujuan dan verifikasi langsung.
Aku membuat pernyataan tertulis bahwa dokumen identitasku tidak boleh digunakan untuk permohonan apa pun yang berkaitan dengan Joko.
Sejak saat itu, aku tidak pernah mendengar soal ruko tersebut lagi.
Dari kerabat jauh, aku hanya tahu bisnis percetakannya akhirnya mengecil dan dia harus menjual beberapa mesin untuk membayar kewajiban.
Aku tidak senang mendengarnya.
Aku juga tidak sedih.
Beberapa hubungan memang tidak membutuhkan akhir dramatis.
Cukup pintu yang dikunci dari dalam.
Sementara itu, keluarga Dimas mencoba menyelamatkan muka.
Ratih bercerita kepada beberapa kerabat bahwa aku “emosional karena trauma masa kecil”.
Sayangnya, beberapa tamu yang hadir hari itu mendengar percakapan di ballroom dengan telinga mereka sendiri.
Tidak semua orang percaya versinya.
Aku tidak membalas.
Tidak membuat video klarifikasi.
Tidak menulis status panjang.
Aku hanya mengatakan kepada orang-orang terdekat:
“Pernikahan batal karena ada kebohongan mengenai keluarga dan keuangan. Saya memilih berhenti sebelum semuanya terlambat.”
Selesai.
Ternyata diam dengan bukti lebih kuat daripada ribut tanpa dasar.
Yang paling membuatku lega adalah Pak Budi.
Selama beberapa minggu pertama, dia justru merasa bersalah.
Suatu malam kami makan pecel lele dekat rumah.
Tiba-tiba dia berkata,
“Kalau waktu itu Ayah tidak datang…”
Aku langsung meletakkan sendok.
“Jangan mulai.”
Dia tertawa kecil.
“Ayah cuma mikir.”
“Tidak usah.”
“Kalau kamu tetap nikah mungkin—”
“Yah.”
Dia berhenti.
Aku menatapnya.
“Dulu waktu Mama meninggal, Ayah bilang yang meninggal itu istri Ayah, bukan anak Ayah.”
Dia mengangguk pelan.
“Sekarang saya bilang.”
“Yang batal itu pernikahan saya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bukan masa depan saya.”
Ayah menunduk.
Matanya memerah.
“Anak pintar.”
Aku tertawa.
“Kalau pintar harusnya dari awal tahu Dimas begitu.”
“Orang pintar juga bisa salah pilih.”
“Terus?”
“Yang penting tahu kapan berhenti.”
Kalimat itu kusimpan.
Enam bulan setelah pernikahan yang batal, aku mengundurkan diri dari kantor lamaku.
Bukan karena malu.
Justru karena selama bertahun-tahun aku memang ingin membuka studio desain sendiri.
Selalu kutunda.
Takut gagal.
Takut kehilangan gaji tetap.
Takut mengecewakan orang.
Setelah kejadian itu, aku sadar satu hal.
Terlalu banyak keputusan hidupku dibuat berdasarkan ketakutan terhadap pendapat orang lain.
Jadi aku menyewa kantor kecil di daerah Rungkut.
Hanya dua ruangan.
Satu ruang kerja.
Satu ruang pertemuan.
Aku memberi nama studio itu:
Ruang Pulang.
Pak Budi tertawa ketika melihat papan namanya.
“Kenapa begitu?”
Aku menjawab,
“Karena desain rumah yang bagus harus membuat orang merasa aman untuk pulang.”
Dia terdiam.
Lalu pura-pura melihat dinding supaya aku tidak melihat matanya berkaca-kaca.
Hari pembukaan studio tidak mewah.
Hanya ada beberapa teman.
Mantan rekan kerja.
Tetangga.
Klien lama.
Dan tentu saja Ayah.
Sebelum acara selesai, aku teringat sesuatu.
“Ayah tunggu.”
Aku pergi ke mobil.
Di bagasi masih tersimpan satu kotak dari hari pernikahan.
Isinya map cokelat.
Pidato Ayah.
Kertasnya sudah sedikit kusut.
Aku menyerahkannya.
“Baca.”
Ayah langsung panik.
“Di sini?”
“Iya.”
“Tidak usah.”
“Harus.”
“Alya…”
“Dua puluh tahun Ayah latihan jadi ayah saya.”
Aku tersenyum.
“Sebulan latihan pidato masa dibuang?”
Semua teman tertawa.
Akhirnya Ayah berdiri.
Dia memakai kacamata baca.
Tangannya gemetar ketika membuka kertas.
Kalimat pertama membuat ruangan langsung hening.
“Untuk anak saya, Alya.”
Dia berhenti.
Menelan ludah.
“Dulu ketika pertama kali kamu memanggil saya Ayah, saya takut.”
Aku membeku.
Bagian itu belum pernah kubaca.
“Saya takut suatu hari kamu besar dan sadar bahwa kita tidak punya darah yang sama.”
Suara Ayah mulai bergetar.
“Ternyata saya salah.”
“Saya baru mengerti setelah bertahun-tahun.”
“Menjadi ayah tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dulu memberi nama.”
“Tapi siapa yang tetap tinggal ketika anaknya sedang tidak punya siapa-siapa.”
Aku menutup mulut.
Air mataku jatuh.
Ayah membaca kalimat terakhir.
“Dulu saya menulis pidato ini untuk menyerahkan tanganmu kepada suamimu.”
Dia menatapku.
“Tapi ternyata hari itu tidak jadi.”
Semua orang tertawa pelan.
Ayah ikut tersenyum.
“Sekarang saya tidak mau menyerahkan kamu kepada siapa-siapa.”
Dia melipat kertas.
“Kalau suatu hari ada orang yang datang, dia harus berjalan di sampingmu.”
“Bukan mengambilmu dari Ayah.”
“Dan bukan menyuruhmu meninggalkan siapa pun demi dia.”
Aku berjalan memeluknya.
Tidak ada gaun pengantin.
Tidak ada musik megah.
Tidak ada bunga puluhan juta.
Tidak ada dua ratus tamu.
Hanya sebuah studio kecil dengan dinding yang bahkan catnya belum benar-benar kering.
Namun anehnya…
di situlah aku merasa mendapatkan akhir paling indah dari pernikahan yang tidak pernah terjadi.
Beberapa orang pernah bertanya apakah aku menyesal.
Jawabanku selalu sama.
Tidak.
Aku justru bersyukur kebohongan mereka terbuka lima menit sebelum aku mengikat hidupku dengan keluarga itu.
Karena kadang-kadang, kehilangan sebuah pesta bukanlah bencana.
Kehilangan lelaki yang salah juga bukan kegagalan.
Hari itu aku memang tidak mendapatkan seorang suami.
Tetapi aku mempertahankan seseorang yang selama lebih dari dua puluh tahun tidak pernah berhenti menjadi ayahku.
Dan yang lebih penting—
aku mempertahankan diriku sendiri.
Joko boleh menjadi orang yang memberiku darah.
Dimas pernah menjadi orang yang hampir kunikahi.
Ratih boleh mengatakan apa pun tentang bakti, keluarga, atau rasa malu.
Tetapi mulai hari itu aku tidak lagi membiarkan siapa pun menjelaskan kepadaku siapa yang layak kusebut keluarga.
Karena keluarga bukan orang yang muncul saat lampu ballroom menyala.
Bukan orang yang menuntut tempat di panggung karena memiliki hubungan darah.
Bukan pula orang yang berkata “demi kebaikanmu” sambil diam-diam menyiapkan jebakan.
Keluarga adalah lelaki yang pulang dengan seragam kerja basah oleh keringat supaya uang sekolahku tidak menunggak.
Lelaki yang membeli lima jenis pembalut karena takut memilih salah.
Lelaki yang menjual motor karena menganggap pendidikan anaknya lebih penting daripada kenyamanannya sendiri.
Lelaki yang duduk diam di kursi paling belakang pada hari pernikahanku karena mengira itulah yang kuminta.
Dan ketika seluruh rencana hidupku runtuh…
dia tidak bertanya soal uang.
Tidak bertanya soal malu.
Tidak bertanya apa kata orang.
Dia hanya berdiri di sampingku dan berkata:
“Kalau memang tidak jadi, kita pulang.”
Jadi pada akhirnya, aku memang pulang.
Bukan sebagai pengantin.
Bukan sebagai istri seseorang.
Aku pulang sebagai Alya.
Anak perempuan Pak Budi Santoso.
Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku tahu persis satu hal:
Aku tidak kehilangan keluarga pada hari itu.
Aku hanya akhirnya berhasil membedakan siapa keluarga sebenarnya.

