Bagian 3 — Satu Minggu Menjelang Pesta, Aku Menemukan Pengkhianatan Mereka Ternyata Jauh Lebih Mahal
Aku tidak langsung pulang setelah meninggalkan rumah Mama Mira.
Aku duduk hampir dua puluh menit di dalam mobil, memandang pagar rumah itu tanpa benar-benar melihat apa pun.
Kalimat terakhir Mama Mira terus berputar di kepalaku.
Raka yang membayar semua biaya kepulangannya.
Enam bulan terakhir tiba-tiba terlihat berbeda.
Nadya bukan perempuan yang kebetulan kembali ke Jakarta lalu bertemu mantan kekasih.
Raka sudah menyiapkan jalan untuknya.
Aku menelepon Mama Mira lagi.
“Ma.”
Suara di seberang terdengar lelah.
“Iya.”
“Saya perlu tahu semuanya.”
Mama Mira diam cukup lama.
Akhirnya ia berkata, “Datang lagi besok.”
“Tidak. Sekarang.”
Malam itu aku kembali masuk.
Tidak ada teh.
Tidak ada basa-basi.
Mama Mira membuka tablet dan menunjukkan beberapa percakapan dengan Raka.
Delapan bulan lalu, dua bulan sebelum Nadya resmi pulang ke Indonesia, Raka pernah menghubunginya.
Ma, kalau Nadya balik Jakarta dan kerja sama aku, Mama keberatan?
Mama Mira menjawab:
Kamu sudah menikah. Pikir baik-baik.
Raka membalas:
Aku cuma mau bantu. Dia sedang susah.
Susah.
Kata yang begitu sederhana.
Ternyata bentuk bantuannya tidak sederhana sama sekali.
Raka membantu membayar deposit apartemen Nadya.
Menanggung tiket pulang dari Singapura.
Memberikan posisi konsultan di Mahendra Living tanpa proses seleksi.
Bahkan merekomendasikan Nadya kepada beberapa klien.
Mama Mira mengaku pernah menegur Raka.
Raka marah.
Katanya Nadya tidak punya siapa-siapa di Jakarta.
Katanya ia merasa bersalah karena dulu membiarkan Nadya pergi.
Katanya menolong mantan bukan berarti mengkhianati istri.
Aku mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Lalu aku bertanya satu hal.
“Mama pernah bilang padanya bahwa saya harus tahu?”
Mama Mira menunduk.
“Pernah.”
“Dan?”
“Dia bilang kamu akan salah paham.”
Aku mengangguk.
Lucu.
Orang yang melakukan sesuatu diam-diam sering sekali takut disalahpahami.
Padahal yang mereka takutkan bukan salah paham.
Mereka takut dipahami dengan benar.
Sebelum pergi, Mama Mira memegang tanganku.
“Kalau kamu masih mau menyelamatkan rumah tangga kalian…”
Aku menarik tangan perlahan.
“Ma.”
Ia menatapku.
“Yang sedang saya selamatkan sekarang bukan rumah tangga.”
“Lalu apa?”
“Diri saya sendiri.”
Hari berikutnya, audit internal dimulai.
Aku tidak melibatkan seluruh staf.
Hanya Dimas, kepala keuangan bernama Ibu Sinta, serta auditor eksternal yang selama ini menangani laporan tahunan.
Aku memberikan satu instruksi jelas:
“Jangan cari perselingkuhan.”
Mereka menatapku.
“Cari uang perusahaan.”
Karena urusan siapa tidur dengan siapa adalah urusan rumah tangga.
Tetapi ketika biaya hotel, perjalanan, hadiah, atau keperluan pribadi dibebankan sebagai pengeluaran perusahaan, itu sudah menjadi urusan pemegang saham.
Mahendra Living bukan sepenuhnya milik Raka.
Empat puluh persen saham berada di bawah perusahaan investasi milik keluargaku.
Dua puluh lima persen milik Raka.
Sisanya milik investor dan dua pendiri awal.
Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menggunakan kepemilikan itu untuk menekan suamiku.
Aku membiarkan Raka menjadi wajah perusahaan.
CEO muda.
Pengusaha sukses.
Suami romantis.
Aku lebih suka mengurus ekspansi, rantai pasok, dan kontrak bisnis dari belakang.
Mungkin karena itu Raka mulai lupa satu hal.
Perusahaan tersebut bukan dompet pribadinya.
Hari kedua audit, Sinta datang membawa enam belas halaman transaksi.
“Bu Laras.”
“Berapa?”
Ia tampak tidak nyaman.
“Yang sejauh ini tidak punya bukti kepentingan bisnis… sekitar tujuh ratus tiga puluh delapan juta.”
Aku diam.
Jumlahnya lebih besar daripada laporan yang pertama kulihat.
“Ada apa saja?”
“Hotel. Tiket. Furnitur apartemen. Dua perjalanan ke Bali. Konsultan pribadi. Jam tangan.”
“Jam tangan?”
Sinta menyerahkan invoice.
Rp214 juta.
Dibeli tiga bulan lalu.
Aku belum pernah melihat Raka memakai jam itu.
“Penerimanya?”
“Kami belum tahu.”
Aku tidak perlu menebak.
“Teruskan.”
Sinta ragu.
“Ada satu hal lagi.”
Ia menunjukkan kontrak konsultan Nadya.
Gaji Rp85 juta per bulan.
Aku mengerutkan kening.
Itu hampir dua kali lipat kepala divisi pemasaran kami yang memiliki pengalaman lima belas tahun.
“Siapa yang menyetujui?”
“Pak Raka.”
“Board?”
“Tidak.”
“HR?”
“Dokumennya dibuat setelah Nadya mulai bekerja.”
Aku tertawa pelan.
Sekali lagi, tidak ada air mata.
Aku mulai bertanya-tanya apakah rasa sakit memiliki titik tertentu ketika tubuh berhenti memproduksi tangisan.
“Dokumentasikan semua.”
“Apakah kita akan melaporkan Pak Raka?”
“Belum.”
Aku menatap transaksi-transaksi itu.
“Berikan kesempatan kepadanya menjelaskan di depan dewan.”
Malam itu Raka pulang membawa martabak manis.
Kesukaanku.
Ia berdiri di dapur sambil memotongnya kecil-kecil.
“Cokelat keju, setengah tipis. Persis pesanan Nyonya Laras.”
Aku duduk di island table.
Ada sesuatu yang mengerikan dari seorang pengkhianat yang masih mengingat makanan favoritmu.
Kalau Raka berubah menjadi monster sepenuhnya, mungkin meninggalkannya akan jauh lebih mudah.
Masalahnya, ia masih lelaki yang tahu aku tidak suka martabak terlalu tebal.
Masih lelaki yang mematikan AC kalau tanganku mulai dingin.
Masih lelaki yang selalu meletakkan charger di sisi kanan tempat tidur karena aku tidur di sana.
Manusia jarang menghancurkan hati kita dengan menjadi jahat setiap detik.
Mereka menghancurkannya sambil sesekali tetap menjadi orang yang pernah kita cintai.
Raka mendorong piring ke arahku.
“Kamu aneh beberapa hari ini.”
“Benarkah?”
“Dingin.”
“Aku sedang banyak pikiran.”
“Masalah kantor?”
Aku memandang wajahnya.
“Ya.”
Ia duduk di sampingku.
“Cerita.”
“Ada beberapa pengeluaran yang tidak jelas.”
Tangan Raka berhenti.
Hanya sesaat.
“Pengeluaran apa?”
“Masih diperiksa.”
Ia mengambil potongan martabak.
“Oh.”
“Kamu tidak penasaran?”
“Kan ada tim finance.”
“Benar.”
Aku tersenyum.
“Makanya sedang aku biarkan mereka bekerja.”
Raka menatapku beberapa detik lebih lama.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku mulai audit, ia tidak menyentuh martabak lagi.
Keesokan paginya Nadya datang ke kantorku.
Tanpa janji.
Ia mengenakan dress hijau zaitun, membawa tas mewah, dan gelang berlian milikku masih berada di tangannya.
Atau lebih tepatnya, gelang yang dulu kukira akan menjadi milikku.
Sekretaris hendak mencegah, tetapi aku mempersilahkannya masuk.
Nadya duduk.
“Mbak Laras kelihatannya sibuk.”
“Lumayan.”
Matanya bergerak ke undangan putih di mejaku.
Aku sengaja membiarkannya terlihat.
Nama Raka Mahendra & Nadya Halim tercetak timbul dengan tinta emas.
Nadya mengangkat alis.
“Ini apa?”
“Undangan.”
“Untuk?”
“Sabtu malam.”
Ia mengambilnya.
Aku tidak mencegah.
Semakin lama membaca, semakin sulit ia menyembunyikan senyum.
“Raka tahu?”
“Belum.”
Nadya meletakkan undangan.
“Mbak ini menarik.”
“Aku juga berpikir begitu.”
Ia menyentuh gelang di tangannya.
Gerakan yang sangat disengaja.
“Mungkin saya harus minta maaf soal foto malam itu.”
“Tidak perlu.”
“Saya memang agak mabuk.”
“Kamu terlihat cukup sadar ketika mengetik.”
Senyumnya membeku sebentar.
Lalu ia bersandar.
“Mbak Laras, saya cuma tidak mau jadi perempuan jahat dalam cerita orang lain.”
“Kamu datang ke kantor istrinya memakai hadiah ulang tahun istrinya.”
Nadya menatap gelang.
“Raka bilang ini bukan punya siapa-siapa.”
“Kalau begitu tidak ada masalah.”
Ia tampaknya tidak mendapatkan reaksi yang diharapkan.
Akhirnya Nadya berkata terus terang.
“Saya dan Raka punya sejarah.”
“Aku tahu.”
“Dia tidak pernah benar-benar melupakan saya.”
“Mungkin.”
“Mbak tidak marah?”
“Sudah lewat.”
Nadya tertawa kecil.
“Kalau sudah lewat, kenapa bikin acara seperti ini?”
Aku tersenyum.
“Karena kadang dua orang membutuhkan panggung untuk berhenti bersembunyi.”
Untuk pertama kalinya, matanya menunjukkan keraguan.
Namun hanya sebentar.
Sebelum keluar, ia berhenti.
“Oh iya.”
Ia menoleh.
“Raka pernah bilang satu hal ke saya.”
“Apa?”
“Kalau dulu saya tidak pergi ke Singapura, mungkin yang jadi istrinya bukan Mbak.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Nadya mengerutkan kening.
“Kok bagus?”
“Karena Sabtu nanti kamu bisa menanyakan kalimat itu langsung kepadanya.”
Tiga hari sebelum pesta, Raka mulai panik.
Bukan karena ia tahu soal perceraian.
Tetapi karena audit.
Ia masuk ke ruang kerjaku tanpa mengetuk.
“Kenapa kamu minta auditor eksternal masuk?”
Aku tidak mengangkat kepala.
“Karena ada transaksi tanpa dokumentasi.”
“Kamu bisa tanya aku.”
“Sekarang aku bertanya.”
Aku menutup laptop.
“Perjalanan Bali bulan April. Klien mana?”
Raka membeku.
“Bali?”
“Vila Rp31 juta semalam.”
“Oh. Itu… meeting calon investor.”
“Nama?”
Ia diam.
Aku melanjutkan.
“Hotel Senopati tanggal ulang tahun pernikahan kita?”
Wajahnya berubah.
“Lar…”
“Client entertainment?”
“Dengar dulu.”
“Dengan Nadya?”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat itu rupanya benar-benar ada di dunia nyata.
“Lalu seperti apa?”
Raka berjalan mendekat.
“Nadya sedang ada masalah.”
“Apa hubungan masalahnya dengan kamar hotel?”
“Dia habis bertengkar dengan mantan tunangannya. Aku cuma menemani.”
“Dengan sampanye?”
“Lar…”
“Dan gelang ulang tahunku?”
Sunyi.
Raka pucat.
Aku menatapnya.
Ia akhirnya tahu.
Semua kepura-puraan runtuh dalam satu detik.
“Siapa yang kasih tahu kamu?”
Aku menghela napas.
Bahkan saat terpojok, pertanyaan pertama seorang pembohong sering bukan apa yang sudah kulakukan, melainkan siapa yang membocorkannya.
“Tidak penting.”
“Laras, aku bisa jelaskan.”
“Sabtu.”
“Apa?”
“Jelaskan Sabtu malam.”
Aku berdiri.
“Semua orang akan ada di sana.”
Raka menatapku dengan bingung.
“Acara apa?”
Aku mengambil satu undangan dan memberikannya.
Darah seperti menghilang dari wajahnya ketika membaca dua nama di sana.
“Ini lelucon apa?”
“Bukan lelucon.”
“Kenapa nama Nadya ada di sini?”
“Bukankah kamu bilang dia cuma masa lalu?”
“Memang!”
“Bagus.”
Aku mengambil tas.
“Berarti tidak ada alasan takut.”
Raka menangkap pergelangan tanganku.
“Laras!”
Aku menatap tangannya sampai ia melepaskannya.
“Batalkan acara itu.”
“Kenapa?”
“Karena ini memalukan!”
Aku tersenyum kecil.
“Bagian mana yang memalukan, Raka?”
“Undangannya?”
Aku melangkah mendekat.
“Atau kenyataan bahwa nama perempuan yang kamu sembunyikan dari istrimu sekarang dicetak cukup besar untuk dibaca semua orang?”
Ia tidak menjawab.
Aku berjalan keluar.
Namun sore itu, sesuatu terjadi.
Sesuatu yang bahkan tidak masuk dalam rencanaku.
Dimas berlari ke ruanganku membawa laptop.
“Mbak Laras.”
“Ada apa?”
“Kami menemukan transfer.”
“Transfer apa?”
Ia memutar layar.
Sebuah bukti transaksi muncul.
Rp1.850.000.000.
Dari rekening perusahaan.
Tujuan:
sebuah pengembang properti di Bali.
Keterangan:
Down payment Villa Canggu Unit 17.
Aku menatap nama pembeli.
Bukan Raka.
Bukan perusahaan.
Tercantum jelas:
Nadya Halim.
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Raka tidak hanya berselingkuh.
Ia membeli properti senilai hampir dua miliar rupiah untuk perempuan itu menggunakan uang perusahaan.
Dan tepat di bawah dokumen pembayaran, ada salinan email persetujuan.
Ditandatangani secara digital oleh CEO.
Raka Mahendra.
Aku memandang Dimas.
“Siapa lagi yang tahu?”
“Bu Sinta. Auditor.”
“Jangan bocorkan.”
Dimas mengangguk.
Aku mengambil ponsel.
Ada pesan baru dari Raka.
Lar, jangan lakukan apa pun dulu. Kita bicara malam ini. Aku janji akan jujur semuanya.
Tiga detik kemudian, pesan lain masuk.
Dari Nadya.
Sampai ketemu Sabtu, Mbak. Terima kasih sudah menyiapkan acara sebagus itu untuk kami.
Aku membaca dua pesan tersebut bergantian.
Lalu aku mengunci layar.
Sabtu malam tadinya hanya akan menjadi akhir pernikahanku.
Sekarang tidak lagi.
Karena Raka telah menyeret uang milik perusahaan ke dalam perselingkuhannya.
Dan kali ini, bukan hanya aku yang berhak mendengar penjelasannya.
Seluruh dewan direksi juga akan datang.

