Bagian 4 — Di Ballroom Itu Suamiku Akhirnya Memilih, Lalu Semua yang Ia Banggakan Runtuh Bersamaan
Sabtu malam, pukul enam lewat empat puluh lima menit, aku berdiri di belakang ballroom sebuah hotel di Jakarta Selatan.
Aku mengenakan kebaya modern berwarna biru gelap.
Bukan putih.
Aku tidak datang sebagai pengantin.
Aku datang sebagai perempuan yang akhirnya berhenti memohon tempat dalam hidup suaminya sendiri.
Di balik pintu, hampir seratus dua puluh tamu sudah hadir.
Keluarga Raka.
Keluargaku.
Beberapa sahabat lama.
Tiga anggota dewan Mahendra Living.
Investor.
Bu Sinta.
Dimas.
Bu Ratih.
Dan, tentu saja, Nadya.
Dimas berdiri di sampingku.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk.
“Raka?”
“Baru masuk lobi.”
“Nadya?”
“Sudah di ballroom sejak dua puluh menit lalu.”
Aku tersenyum kecil.
Tentu saja ia datang lebih cepat.
Selama seminggu terakhir, Nadya pasti mengira pesta itu adalah bentuk penyerahanku.
Mungkin ia membayangkan aku akan berdiri di depan semua orang, menangis, lalu menyerahkan Raka kepadanya.
Aku memang akan menyerahkan Raka.
Hanya bukan dengan cara yang ia bayangkan.
Ballroom dihias seperti resepsi pernikahan.
Bunga putih.
Lampu keemasan.
Sebuah panggung.
Di tengah panggung terpampang dua nama besar.
RAKA & NADYA
Di bawahnya:
Untuk Cinta yang Katanya Tak Pernah Selesai.
Bisik-bisik terdengar di seluruh ruangan.
Nadya berdiri dekat panggung menggunakan gaun champagne.
Ia bahkan datang berpakaian seperti calon pengantin.
Ketika melihatku, ia tersenyum.
“Mbak Laras.”
Aku berjalan menghampiri.
“Kamu cantik.”
“Terima kasih.”
Ia melihat pakaianku.
“Mbak juga.”
“Terima kasih sudah datang.”
“Mana mungkin saya tidak datang?”
Nadya memandang dekorasi di sekeliling.
“Saya jujur tidak menyangka Mbak bisa se… dewasa ini.”
Aku mengangkat alis.
“Dewasa?”
“Menerima kenyataan.”
“Malam masih panjang.”
Senyumnya sedikit berkurang.
Saat itulah pintu ballroom terbuka.
Raka masuk.
Langkahnya langsung berhenti.
Ia melihat panggung.
Melihat Nadya.
Kemudian melihatku.
Wajahnya berubah merah.
“Laras.”
Semua kepala berbalik.
Raka berjalan cepat menghampiriku.
“Kita bicara.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Malam ini memang dibuat untuk bicara.”
“Bukan begini caranya.”
Aku menatapnya.
“Enam bulan kamu memilih caramu.”
“Sekarang izinkan aku memilih caraku satu malam saja.”
Raka menahan napas.
Nadya mendekat.
“Rak…”
Raka menoleh tajam.
“Kenapa kamu pakai baju begini?”
Nadya tampak tersinggung.
“Undangannya tema pernikahan.”
“Siapa suruh kamu—”
Aku memotong.
“Jangan bertengkar di pintu. Tamunya menunggu.”
Lalu aku naik ke panggung.
Mikrofon sudah tersedia.
Aku melihat ruangan.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun mengenal kami sebagai pasangan sempurna sekarang duduk dalam kebingungan.
Aku memulai.
“Terima kasih sudah datang.”
Ruangan tenang.
“Mungkin sebagian besar dari kalian bingung kenapa malam ini dekorasinya seperti pernikahan, sementara suamiku masih menikah denganku.”
Beberapa orang mulai saling pandang.
Aku tersenyum.
“Tenang. Tidak ada pernikahan yang akan dilakukan malam ini.”
Aku memandang Raka.
“Secara hukum, proses perceraianku dengan Raka bahkan baru dimulai.”
Suara gaduh langsung memenuhi ballroom.
Mama Mira menutup mulut.
Ayah Raka berdiri setengah badan.
Raka maju.
“Laras, cukup.”
Aku mengangkat tangan.
“Aku baru mulai.”
Ia berhenti.
Aku melanjutkan.
“Delapan tahun lalu, aku menikahi seorang laki-laki yang kucintai.”
“Namanya Raka Mahendra.”
“Dia bukan laki-laki kaya waktu itu.”
“Bukan CEO.”
“Bukan orang yang fotonya masuk majalah bisnis.”
“Kami bekerja dari ruko kecil.”
“Kami pernah tidak punya uang untuk membayar vendor.”
“Kami pernah membawa sofa contoh sendiri karena tidak mampu membayar jasa pengiriman tambahan.”
“Dan aku bahagia.”
Aku berhenti sebentar.
“Karena waktu itu aku yakin kami berada di pihak yang sama.”
Ruangan sangat hening.
“Enam bulan lalu, mantan kekasih Raka kembali ke Jakarta.”
Nadya menegang.
“Aku tidak mempermasalahkannya.”
“Karena aku percaya kepada suamiku.”
Aku menatap Raka.
“Ternyata kepercayaan adalah satu-satunya hal yang kuberikan tanpa meminta bukti.”
Layar besar di belakangku menyala.
Foto pertama muncul.
BMW Raka terparkir di hotel pada malam ulang tahun pernikahan kami.
Waktu dan lokasi terlihat.
Lalu foto Raka dan Nadya di kamar hotel.
Suara orang-orang langsung naik.
Raka pucat.
Nadya menatapku.
“Kamu sengaja mempermalukan saya?”
Aku menghadapnya.
“Foto itu dikirim dari nomormu sendiri, Nadya.”
Wajahnya kaku.
“Aku hanya menampilkan hadiah yang kamu berikan kepadaku.”
Foto berganti.
Nadya memakai gelang berlian.
Kemudian invoice pembelian gelang.
Tanggalnya.
Harganya.
Aku berkata,
“Gelang itu dibeli pada hari ketika suamiku mengajakku memilih hadiah ulang tahunku.”
Aku menatap Raka.
“Ternyata aku hanya diminta membantu memilih hadiah untuk perempuan lain.”
Mama Mira mulai menangis.
Namun aku belum selesai.
“Kalau masalahnya cuma gelang, mungkin malam ini tidak perlu melibatkan perusahaan.”
Raka tiba-tiba menegang.
Ia tahu apa yang akan datang.
“Laras.”
Aku memandang Dimas.
Ia mengangguk.
Slide berikutnya muncul.
Daftar transaksi.
Hotel.
Tiket.
Restoran.
Vila.
Konsultan.
Total sementara Rp738 juta.
Ruang ballroom berubah gaduh.
Salah satu komisaris berdiri.
“Raka, ini apa?”
Raka memandangku dengan mata marah.
“Kamu bawa urusan internal perusahaan ke sini?”
Aku menjawab tenang.
“Karena sebagian orang di ruangan ini pemegang saham.”
Aku menunjuk layar.
“Dan uang mereka ikut membayar perselingkuhanmu.”
“Itu bukan—”
“Ada invoice.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Aku menyerahkan mikrofon.
“Sekarang.”
Raka tidak mengambilnya.
Aku menunggu.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Tidak ada penjelasan.
Akhirnya aku berkata,
“Baik.”
Slide berikutnya muncul.
Kontrak Nadya.
Rp85 juta per bulan.
Tidak ada proses seleksi.
Tidak ada persetujuan board.
Nadya langsung maju.
“Saya memang bekerja!”
Bu Sinta berdiri dari meja.
“Kami sudah memeriksa deliverable enam bulan.”
Semua mata berpindah kepadanya.
Ia melanjutkan,
“Hanya ada dua presentasi dan satu laporan tiga belas halaman. Sebagian besar isinya berasal dari data tim internal.”
Wajah Nadya memerah.
“Itu fitnah.”
Bu Sinta menggeleng.
“Dokumennya tersedia.”
Raka menatapku.
“Laras. Kita selesaikan ini berdua.”
“Aku ingin sekali.”
Aku menelan sesuatu yang berat di tenggorokan.
“Aku ingin sekali masalah ini cuma tentang suami yang mencintai perempuan lain.”
Aku menekan remote.
Slide terakhir muncul.
TRANSFER Rp1.850.000.000
Ruangan langsung sunyi.
Alamat vila di Canggu terlihat.
Nama penerima kepemilikan:
NADYA HALIM.
Ayah Raka berdiri.
“Raka!”
Suara pria tua itu mengguncang ruangan.
“Apa-apaan ini?”
Raka menatap layar seperti orang yang baru melihat kecelakaan.
Nadya mundur.
Aku berkata,
“Pembayaran uang muka properti ini dilakukan dari rekening perusahaan.”
“Persetujuan digital menggunakan akun CEO.”
“Sampai saat ini tidak ada dokumen yang menunjukkan vila tersebut aset Mahendra Living.”
“Dokumen pemesanan atas nama Nadya.”
Nadya langsung memandang Raka.
“Katanya itu uangmu!”
Kepala-kepala berbalik.
Raka membentak,
“Diam!”
Terlambat.
Nadya melangkah mundur lagi.
“Raka, kamu bilang perusahaan itu milikmu!”
Beberapa orang terkesiap.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Raka menatap perempuan yang selama enam bulan ia bela.
“Nadya.”
“Kamu bilang kamu pemilik utama!”
“Aku CEO!”
“Itu beda!”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nadya.
Dan ironisnya, kalimat itulah yang akhirnya membuat seluruh ruangan memahami hubungan mereka jauh lebih baik daripada seratus foto.
Nadya tidak bertanya soal pernikahanku.
Tidak bertanya soal perasaan Raka.
Hal pertama yang membuatnya panik adalah kepemilikan perusahaan.
Aku menatapnya.
“Nadya.”
Ia berbalik kepadaku.
“Mungkin ada satu informasi yang Raka lupa jelaskan.”
Aku menunjuk layar.
“Mahendra Living bukan milik Raka seorang.”
Aku tidak perlu menjelaskan struktur saham secara lengkap.
Para pemegang saham sudah tahu.
Tetapi Nadya jelas tidak.
“Perusahaan investasi keluargaku memegang empat puluh persen saham.”
Wajah Nadya kosong.
“Raka memegang dua puluh lima persen.”
Ia menoleh cepat kepada Raka.
“Kamu bohong?”
Raka mengepalkan rahang.
“Nadya, jangan lakukan ini sekarang.”
“Kamu bilang semua ini kamu bangun sendiri!”
Aku tidak tertawa.
Meski bagian kecil dalam diriku ingin.
Karena delapan tahun aku berdiri di samping Raka saat ia membangun semua itu.
Dan sekarang perempuan yang ia pilih bahkan tidak tahu siapa yang membangun apa.
Aku mengambil mikrofon kembali.
“Tidak perlu bertengkar.”
Aku memandang para komisaris.
“Besok seluruh bukti audit akan diserahkan melalui prosedur resmi kepada dewan.”
“Saya tidak meminta siapa pun mengambil keputusan malam ini.”
“Biarkan dokumen yang bicara.”
Salah satu komisaris mengangguk.
Bagiku itu penting.
Aku tidak ingin Raka jatuh karena dendam istrinya.
Aku ingin setiap konsekuensi yang ia terima datang dari tindakannya sendiri.
Setelah presentasi, tamu-tamu mulai meninggalkan ballroom.
Raka menarikku ke lorong.
Wajahnya kacau.
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Kenapa kamu harus melakukan ini di depan semua orang?”
“Karena saat kita bicara berdua, kamu berbohong.”
“Aku mau jujur malam itu!”
“Malam yang mana?”
Aku tertawa kecil.
“Setelah foto hotel?”
“Setelah audit?”
“Atau setelah kamu tahu aku menemukan vila?”
Raka mengusap wajah.
“Aku memang salah.”
Aku diam.
“Aku salah, Lar.”
“Ya.”
“Tapi aku tidak pernah mau kehilangan kamu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, dadaku terasa sakit.
Karena aku tahu ia mengatakan kebenaran.
Raka memang tidak ingin kehilangan aku.
Ia ingin mempertahankanku sambil memiliki Nadya.
Itulah masalahnya.
Ia ingin dua kehidupan sekaligus.
Rumah bersamaku.
Kenangan bersama Nadya.
Status denganku.
Sensasi bersamanya.
Stabilitas dariku.
Pemujaan darinya.
Semua.
“Raka.”
Aku menatap lelaki yang dulu kupikir akan menua bersamaku.
“Kamu tahu kesalahan terbesar kita?”
Ia menggeleng.
“Aku selalu mengira cinta berarti bertahan.”
Mataku mulai panas.
“Ternyata kadang cinta pada diri sendiri berarti tahu kapan harus pergi.”
Raka menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu sejak ayahnya masuk ICU lima tahun lalu.
Ia menggenggam tanganku.
“Aku putus sama Nadya.”
Aku menarik tangan.
“Bukan itu masalahnya lagi.”
“Aku kembalikan semuanya.”
“Bukan itu juga.”
“Aku keluar dari perusahaan kalau perlu.”
“Raka.”
“Aku akan lakukan apa saja.”
Aku menatap matanya.
“Bisakah kamu mengembalikan malam ulang tahun pernikahan kita?”
Ia terdiam.
“Bisakah kamu membuatku tidak pernah melihat gelang itu di tangan dia?”
Diam.
“Bisakah kamu membuat enam bulan kebohongan tidak pernah terjadi?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Ada hal-hal yang bisa dibayar.
Ada barang yang bisa dikembalikan.
Ada kontrak yang bisa dibatalkan.
Tetapi rasa aman dalam sebuah pernikahan tidak memiliki tombol reset.
Begitu setiap kata aku sayang kamu mulai terasa seperti sesuatu yang harus diverifikasi, rumah tangga itu sudah berubah menjadi ruang interogasi.
Dan aku tidak mau hidup seperti itu.
Nadya menungguku di parkiran.
Gaun cantiknya kini tampak kusut.
“Mbak Laras.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Semua ini memang rencana Mbak?”
“Sebagian.”
“Jadi dari awal Mbak ingin membuat saya terlihat seperti perempuan murahan?”
Aku menatapnya lama.
“Aku tidak memilihkan gelang yang kamu kenakan.”
“Aku tidak memesan kamar hotel.”
“Aku tidak mengirim foto ke ponselku sendiri.”
“Aku tidak membuat kontrak Rp85 juta untukmu.”
“Aku juga tidak mentransfer Rp1,85 miliar atas namamu.”
Aku mendekat satu langkah.
“Jangan memberikan pekerjaanku terlalu banyak pujian, Nadya.”
Wajahnya merah.
“Raka bilang dia tidak bahagia.”
“Lalu?”
“Dia bilang kalian sudah seperti partner bisnis.”
“Dan kamu percaya?”
Nadya diam.
Aku mengangguk.
“Baik.”
Aku hendak pergi ketika ia berkata,
“Dia mencintai saya.”
Aku menoleh.
“Kalau itu membuatmu tidur lebih nyenyak, pegang saja keyakinan itu.”
“Kenapa Mbak tidak marah?”
“Aku marah.”
Aku tersenyum tipis.
“Bedanya, aku tidak lagi merasa harus berebut.”
Tiga minggu berikutnya adalah masa paling berisik dalam hidupku.
Dewan membentuk komite audit khusus.
Raka untuk sementara dinonaktifkan dari jabatan CEO.
Setelah pemeriksaan, sebagian pengeluaran memang bisa dibuktikan sebagai biaya bisnis.
Sebagian tidak.
Pembayaran vila paling serius.
Pengembang akhirnya membatalkan transaksi setelah perusahaan mengirimkan pemberitahuan resmi bahwa dana berasal dari rekening korporat tanpa prosedur yang memadai.
Sebagian besar uang muka berhasil dikembalikan setelah pemotongan biaya pembatalan.
Raka diwajibkan mengembalikan seluruh pengeluaran pribadi yang dibebankan ke perusahaan.
Dewan kemudian menerima pengunduran dirinya sebagai CEO.
Tidak ada adegan polisi menyeretnya.
Tidak ada penjara dramatis.
Tidak ada kehancuran ajaib dalam semalam.
Hidup nyata jarang bekerja seperti itu.
Tetapi bagi Raka, kehilangan posisi yang dibangunnya selama bertahun-tahun sudah cukup menjadi pukulan.
Terlebih ia tahu tidak ada satu orang pun yang mengambilnya secara paksa.
Ia sendiri yang memberikan alasan kepada dewan untuk tidak lagi mempercayainya.
Tentang Nadya, hubungan mereka tidak bertahan sebulan setelah malam di ballroom.
Aku tahu bukan dari Raka.
Mama Mira yang memberitahuku.
Nadya marah karena vila dibatalkan.
Raka marah karena Nadya dianggap lebih memikirkan properti daripada dirinya.
Mereka bertengkar.
Lalu berpisah.
Saat mendengarnya, aku tidak merasa puas seperti yang kubayangkan.
Aku hanya merasa kosong.
Mungkin karena pada akhirnya aku sadar—
Nadya bukan penyebab utama pernikahanku hancur.
Ia hanya pintu yang dipilih Raka untuk dibuka.
Orang yang berjanji kepadaku adalah Raka.
Bukan Nadya.
Proses perceraian kami berlangsung beberapa bulan.
Raka sempat meminta mediasi pribadi.
Aku datang satu kali.
Kami duduk di ruangan kecil bersama mediator.
Tanpa Nadya.
Tanpa keluarga.
Tanpa ballroom.
Untuk pertama kalinya, hanya kami berdua.
Raka terlihat jauh lebih kurus.
“Lar.”
Aku menatapnya.
“Aku masih sayang kamu.”
“Aku tahu.”
Ia tampak kaget.
“Kalau tahu, kenapa…”
“Karena sayang tidak selalu cukup.”
Matanya memerah.
“Aku bodoh.”
Aku tidak menyangkal.
“Aku pikir aku cuma membantu Nadya.”
“Lalu?”
“Lalu aku suka perasaan ketika dia kembali membutuhkan aku.”
Aku mendengarkan.
“Bersama kamu, aku selalu merasa kita setara.”
Ia tertawa pahit.
“Kamu bisa berdiri sendiri. Kadang bahkan lebih kuat dari aku.”
“Bersama Nadya… aku merasa seperti pahlawan lagi.”
Akhirnya.
Setelah semua kebohongan, Raka untuk pertama kalinya mengatakan sesuatu yang terasa jujur.
Bukan cinta besar.
Bukan takdir.
Bukan kisah dua kekasih yang dipisahkan keadaan.
Ego.
Ia menyukai dirinya sendiri ketika berada di dekat Nadya.
Aku berkata,
“Terima kasih sudah akhirnya jujur.”
Raka menatapku penuh harap.
“Terlambat?”
“Ya.”
Ia menunduk.
Aku tidak membencinya.
Itu mungkin hadiah terakhir yang kuberikan kepada diriku sendiri.
Membenci seseorang tetap membuatnya tinggal di dalam kepalamu.
Aku sudah terlalu lama memberi Raka ruang.
Saatnya ruangan itu kukembalikan kepada diriku sendiri.
Tujuh bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Tidak ada pesta.
Tidak ada unggahan panjang.
Tidak ada kalimat menyindir.
Aku hanya mengganti status kontak darurat di beberapa formulir.
Memindahkan barang terakhirku dari rumah lama.
Dan menyerahkan kunci melalui Dimas.
Rumah itu akhirnya dijual karena kami berdua sepakat tidak ada yang ingin tinggal di sana.
Bagian aset diselesaikan sesuai perjanjian dan dokumen kepemilikan.
Tidak sempurna.
Tetapi bersih.
Mahendra Living juga berubah.
Dewan menunjuk CEO profesional dari luar.
Aku tetap menjadi komisaris dan menangani ekspansi regional.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, perusahaan tidak lagi diperlakukan seperti perpanjangan pernikahan kami.
Aneh sekali.
Setelah bercerai, justru beberapa laporan keuangan terlihat jauh lebih sehat.
Setahun setelah malam ulang tahun pernikahan itu, aku berada di Yogyakarta.
Bukan di Jakarta.
Aku membeli sebuah rumah kecil dekat tempat tinggal orang tuaku yang sudah kembali menetap di Indonesia.
Tidak besar.
Tidak memiliki marmer Italia.
Tidak punya kolam renang.
Tetapi ada halaman belakang.
Ada pohon mangga.
Ada meja kayu panjang tempat Mama biasa mengupas buah.
Pagi itu, aku bangun karena suara ayah mengetuk pintu.
“Laras!”
“Apa?”
“Paket!”
Aku keluar masih memakai piyama.
Sebuah kotak panjang berada di teras.
Tidak ada nama pengirim.
Aku membukanya.
Mawar putih.
Aku membeku sesaat.
Lalu melihat kartu.
Tulisan tangan yang kukenal.
Selamat ulang tahun, Laras.
Aku tidak meminta kamu kembali.
Aku cuma ingin minta maaf karena pernah membuatmu merasa bahwa delapan tahun hidup kita tidak berarti.
Itu berarti. Sangat berarti.
Aku yang tidak menjaganya.
—Raka
Aku berdiri cukup lama.
Ayah mendekat.
“Dari dia?”
Aku mengangguk.
“Mau dibuang?”
Aku melihat bunga-bunga itu.
Setahun lalu, seribu mawar putih terasa seperti penghinaan.
Hari ini hanya bunga.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
“Jangan.”
Ayah mengangkat alis.
Aku mengambil beberapa tangkai.
“Taruh di meja makan saja.”
“Tidak marah?”
Aku tersenyum.
“Sudah capek marah.”
Ayah tertawa kecil.
Aku masuk ke rumah.
Di meja makan sudah ada nasi kuning, telur balado, ayam goreng, dan kue kecil yang dibuat Mama sendiri.
Di atas kue ada satu lilin.
Mama muncul dari dapur.
“Jangan sentuh dulu! Belum foto.”
Aku tertawa.
“Ma, umur segini masih pakai lilin?”
“Umur berapa pun tetap anak Mama.”
Ayah langsung menyela,
“Cepat. Nanti ayamnya dingin.”
Aku duduk.
Matahari pagi masuk melalui jendela.
Tidak ada ballroom.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada seribu orang yang mengagumi pernikahanku.
Tidak ada suami yang mengunggah kalimat romantis di media sosial.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku tidak merasa sedang menunggu seseorang pulang.
Aku sudah pulang.
Mama mendorong kue ke arahku.
“Bikin harapan.”
Aku memejamkan mata.
Dulu, setiap ulang tahun, harapanku selalu berhubungan dengan Raka.
Semoga bisnisnya berhasil.
Semoga pernikahan kami panjang.
Semoga kami selalu bersama.
Pagi itu harapanku lebih sederhana.
Semoga aku tidak pernah lagi mengabaikan suara hatiku hanya karena takut kehilangan seseorang.
Aku meniup lilin.
Api kecil itu padam.
Ayah dan Mama bertepuk tangan.
Ponselku berbunyi.
Dimas mengirim pesan.
Bu Laras, kontrak ekspansi Surabaya akhirnya ditandatangani. Selamat.
Aku tersenyum.
Bagus. Senin kita bahas. Hari ini saya libur.
Ia mengirim emoji hormat.
Aku meletakkan ponsel.
Mama menyodorkan sepotong kue.
“Jadi hari ini mau apa?”
Aku melihat halaman belakang.
“Tidak tahu.”
“Belanja?”
“Tidak.”
“Spa?”
“Tidak.”
Ayah menunjuk sepeda tua di teras.
“Gowes?”
Aku tertawa.
“Boleh.”
Sederhana.
Aneh.
Dulu aku berpikir hidup bahagia harus terlihat besar.
Rumah besar.
Perusahaan besar.
Hadiah mahal.
Bunga seribu tangkai.
Unggahan yang disukai puluhan ribu orang.
Ternyata kebahagiaan paling mahal justru sesuatu yang tidak bisa difoto.
Tidur tanpa curiga.
Makan tanpa menunggu.
Menerima telepon tanpa takut mendengar suara perempuan lain.
Melihat seseorang pergi tanpa merasa dunia ikut pergi bersamanya.
Aku pernah mengira malam ketika Raka memilih Nadya adalah hari terburuk dalam hidupku.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Malam itu sebenarnya bukan saat aku kehilangan suami.
Itu malam ketika aku berhenti kehilangan diriku sendiri sedikit demi sedikit.
Dan pesta yang kubuat seminggu kemudian bukan benar-benar hadiah pernikahan untuk Raka dan Nadya.
Itu hadiah perpisahan untuk perempuan yang selama bertahun-tahun terlalu sibuk menjaga semua orang kecuali dirinya sendiri.
Perempuan itu adalah aku.
Ia sudah pergi.
Yang tersisa sekarang adalah Laras yang berbeda.
Masih bisa mencintai.
Masih bisa percaya.
Tetapi tidak lagi bersedia menukar harga dirinya demi mempertahankan seseorang.
Aku mengambil satu tangkai mawar putih dari meja.
Mama bertanya,
“Mau diapakan?”
Aku memotong batangnya sedikit lalu memasukkannya ke vas kecil.
“Biar saja.”
Mama menatapku heran.
Aku tersenyum.
“Bunganya tidak salah.”
Lalu aku duduk bersama orang tuaku dan mulai sarapan.
Di luar, matahari Yogyakarta semakin tinggi.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika memikirkan masa depan, aku tidak melihat kursi kosong di depanku.
Aku melihat sebuah jalan panjang.
Tanpa Raka.
Tanpa Nadya.
Tanpa kebohongan.
Dan anehnya—
jalan itu tidak terlihat sepi sama sekali.
Ia terlihat seperti kebebasan.

