Bagian 3 — Surat Kuasa Palsu, Uang Muka Rumah, dan Rahasia Transfer yang Mereka Sembunyikan
Aku meminta Pak Hendra duduk.
Tanganku dingin, tetapi kepalaku justru terasa sangat jernih.
“Pak, sertifikat rumah itu atas nama saya.”
Wajah istrinya langsung pucat.
“Dan saya tidak pernah menawarkan rumah itu untuk dijual.”
Pak Hendra tidak langsung marah.
Dia membuka mapnya pelan-pelan.
Di dalam ada hasil cetak percakapan WhatsApp, bukti transfer, fotokopi sertifikat, bahkan foto rumah dari berbagai sudut.
Beberapa foto diambil dari dalam kamarku.
Foto lemari.
Dapur.
Halaman belakang.
Semua dikirim dari nomor Ibu.
Aku menahan napas.
Pak Hendra berkata, “Bu Sulastri bilang Mbak bekerja di Jakarta dan menyerahkan semua urusan rumah kepada kakak Mbak.”
“Tidak pernah.”
“Beliau juga bilang uang tanda jadi aman karena minggu ini akan dibuat surat kuasa.”
Aku mengangguk.
“Itu sebabnya mereka memaksa saya tanda tangan tadi malam.”
Istrinya menutup mulut.
Pak Hendra mengembuskan napas panjang.
“Saya tidak mau rumah orang. Saya cuma mau uang saya kembali.”
“Saya mengerti.”
“Tapi kalau keluarga Mbak tidak mengembalikan, saya akan buat laporan.”
Aku menatap bukti transfer di tangannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, masalah keluarga tidak lagi hanya berupa tangisan, bentakan, dan rasa bersalah.
Ada angka.
Ada rekening.
Ada dokumen.
Ada pihak luar.
Dan ada konsekuensi.
Aku memotret semua bukti dengan izin Pak Hendra.
Kemudian aku menelepon Nadia, teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai konsultan hukum di Surabaya.
Aku tidak menceritakan soal uang Rp12 miliar.
Aku hanya menjelaskan tentang rumah.
Dua jam kemudian kami bertemu di sebuah kedai kopi.
Nadia membaca dokumen satu per satu.
“SHM asli di mana?”
Aku terdiam.
“Seharusnya di lemari besi kamar orang tua.”
“Artinya bukan di tanganmu?”
Aku menggeleng.
Dia menatapku tajam.
“Ambil.”
“Aku harus pulang ke sana?”
“Minimal pastikan keberadaannya. Jangan biarkan dokumen asli rumah atas namamu berada di tangan orang yang baru saja menerima uang untuk menjualnya tanpa persetujuanmu.”
Kalimat itu menamparku.
Selama ini aku mengira bersikap baik berarti percaya.
Ternyata percaya tanpa batas bisa berubah menjadi menyerahkan leher sendiri.
Siang itu aku kembali ke rumah bersama Nadia.
Ibu membuka pintu dengan wajah kesal.
“Ngapain bawa orang?”
“Nadia mendampingi aku.”
“Keluarga sendiri pakai pendamping segala?”
Aku tidak menjawab.
“SHM rumah di mana?”
Ibu langsung defensif.
“Buat apa?”
“Karena itu dokumen milikku.”
“Kamu ini kenapa sih?”
“Di mana?”
Kak Raka keluar dari kamar.
Dia memaksakan senyum.
“Rani, jangan bikin suasana tambah panas.”
Nadia memperkenalkan diri dengan tenang.
Begitu mendengar pekerjaannya, wajah Kak Raka berubah.
Aku berjalan ke lemari tempat sertifikat biasanya disimpan.
Kosong.
Aku menoleh.
“Kak.”
Dia menggaruk belakang kepala.
“Sertifikatnya lagi tidak di sini.”
“Di mana?”
“Hanya dibawa lihat orang.”
“Siapa?”
“Kenalan.”
Nadia langsung bertanya, “Dalam rangka apa?”
Kak Raka mulai gugup.
Ternyata sebulan sebelumnya, jauh sebelum Pak Hendra muncul, Kak Raka juga pernah membawa fotokopi dan sertifikat asli kepada seorang perantara pembiayaan untuk menanyakan kemungkinan pinjaman.
Permohonan belum berjalan karena nama sertifikat tidak cocok dengan pemohon.
Namun kenyataan bahwa sertifikat itu pernah dibawa keluar tanpa sepengetahuanku membuatku hampir kehilangan kesabaran.
“Ambil sekarang.”
Ibu berteriak dari belakang.
“Jangan kasih!”
Aku menoleh.
Ibu berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Kalau sertifikat dibawa Rani, nanti rumah langsung dijual dan kita semua diusir!”
Aku menatapnya lama.
“Aku baru pulang semalam. Siapa yang lebih dulu mencoba menjual rumah?”
Ibu kehilangan kata-kata.
Aku menambahkan:
“Bukan aku.”
Akhirnya Kak Raka mengambil sertifikat dari laci terkunci di kamarnya.
Dia menyerahkannya dengan wajah seperti seseorang baru saja merampas hak miliknya.
Padahal nama di halaman pertama jelas namaku.
Rani Prameswari.
Aku memeluk map sertifikat itu di dada.
Mbak Lilis muncul dari dapur.
“Kalau rumah tidak jadi dijual, uang Pak Hendra siapa yang balikin?”
Aku menjawab, “Yang menerima.”
“Uangnya sudah habis!”
“Bukan aku yang menghabiskan.”
“Tapi kita keluarga!”
“Waktu kalian menerima uang itu, kenapa tidak ingat aku keluarga?”
Ibu mulai menangis.
Tangis yang selama ini selalu membuatku merasa bersalah.
“Dari kecil kamu memang keras hati.”
Aku terpaku.
Anak yang sejak umur dua puluh tiga tahun mengirim sebagian gajinya setiap bulan disebut keras hati karena sekali berkata tidak.
Aku tidak membalas.
Aku membawa sertifikat dan pergi.
Hari berikutnya, Nadia membantuku mengirim pemberitahuan tertulis kepada Pak Hendra bahwa aku tidak pernah memberikan kuasa penjualan.
Pak Hendra mengerti.
Dia malah meminta maaf karena sempat percaya tanpa bertemu pemilik sertifikat.
Tetapi soal Rp175 juta, dia tegas.
Kak Raka harus mengembalikannya.
Masalah baru muncul ketika Pak Hendra memberi batas waktu empat belas hari.
Kak Raka tidak punya uang.
Supplier sudah menerima Rp80 juta.
Tunggakan mobil Rp26 juta.
Dimas meminjam Rp22 juta.
Sisanya habis untuk kebutuhan rumah dan cicilan.
Malam kedua setelah aku pergi, Ibu menelepon empat belas kali.
Aku tidak mengangkat.
Kemudian pesan masuk.
“Kalau kakakmu masuk penjara, kamu puas?”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Lucu.
Kak Raka menerima uang orang tanpa hak, tetapi aku yang harus merasa bersalah karena tidak membayar akibatnya.
Aku mematikan layar.
Hari berikutnya telepon datang dari Bude Sri, kakak Ibu.
“Rani, Ibumu bilang kamu mau merebut rumah orang tua.”
Aku tertawa kecil.
“Bude tahu siapa pemilik sertifikat?”
Dia terdiam.
Aku mengirim foto halaman pertama SHM, bukti transfer pembelian rumah lima tahun lalu, serta bukti pembayaran renovasi.
Bude Sri tidak membalas selama sepuluh menit.
Kemudian dia menelepon lagi.
“Rumah ini benar kamu yang beli semuanya?”
“Iya.”
“Lalu kenapa keluargamu cerita ke semua orang bahwa rumah itu dibeli Raka bersama orang tua?”
Itulah pertama kalinya aku tahu cerita lain.
Di lingkungan rumah, Kak Raka selama bertahun-tahun mengaku dialah yang mencicil sebagian besar rumah.
Kepada keluarga besar, Ibu bilang aku hanya “membantu sedikit”.
Bahkan ketika renovasi lantai dua sebesar Rp180 juta kubayar penuh, orang-orang diberi tahu itu uang Kak Raka.
Tiba-tiba banyak hal masuk akal.
Mengapa tetangga sering memuji Kak Raka sebagai anak sukses.
Mengapa orang menganggap aku anak yang jarang pulang dan tidak peduli orang tua.
Mengapa ketika aku pulang membawa oleh-oleh, beberapa saudara berkata, “Sekali-sekali bantu kakakmu juga.”
Aku tertawa sampai mataku berair.
Aku bukan hanya dijadikan ATM.
Aku bahkan tidak diberi kredit atas uangku sendiri.
Tiga hari kemudian Ayah masuk rumah sakit.
Tekanan darahnya melonjak dan dia mengalami nyeri dada.
Kak Raka meneleponku.
Untuk urusan kesehatan Ayah, aku datang.
Aku membayar langsung biaya yang tidak ditanggung BPJS melalui kasir.
Bukan mentransfer ke Ibu.
Begitu pembayaran selesai, Ibu menarikku ke lorong.
“Transfer tiga ratus juta ke Raka.”
Aku mengira salah dengar.
“Untuk apa?”
“Bayar Pak Hendra dulu. Nanti dicicil ke kamu.”
Aku tertawa pendek.
“Dengan uang apa Kak Raka mencicil?”
“Ya nanti kalau usahanya maju.”
“Usaha yang sekarang menunggak supplier?”
Ibu langsung marah.
“Kamu punya tabungan. Jangan pura-pura miskin.”
Aku menatapnya.
“Tabunganku bukan dana darurat untuk kesalahan Kak Raka.”
Mbak Lilis yang duduk tidak jauh dari kami tiba-tiba berdiri.
“Kalau sampai Mas Raka dilaporkan, anak-anak saya bagaimana?”
“Aku tidak menerima uang Pak Hendra.”
“Harusnya dari awal kamu tanda tangan saja!”
Aku benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Ayah sedang terbaring di rumah sakit, tetapi mereka masih berbicara tentang rumah.
Aku masuk menemui Ayah.
Dia tampak jauh lebih tua daripada terakhir kali aku pulang.
Setelah beberapa menit diam, Ayah berkata:
“Kalau bisa bantu kakakmu, bantu.”
Aku menunduk.
“Ayah pernah berpikir siapa yang membantu aku?”
Dia terdiam.
“Waktu pertama kerja di Jakarta, gajiku Rp5,2 juta. Aku transfer dua juta ke rumah. Uang kosku Rp1,6 juta. Sisanya buat makan dan transport. Pernah Ayah bertanya aku cukup atau tidak?”
Tidak ada jawaban.
“Waktu aku demam tiga hari sendirian di kos, Ibu menelepon hanya untuk bertanya kenapa transfer terlambat. Waktu aku dapat bonus, kalian minta motor untuk Kak Raka. Waktu aku beli rumah, kamar terbaik diberikan ke dia. Sekarang kamarku diberikan ke Dimas.”
Ayah menatap selimut.
“Aku tidak pernah minta diperlakukan lebih istimewa. Aku cuma ingin dianggap anak.”
Untuk pertama kalinya, mata Ayah memerah.
Namun luka puluhan tahun tidak hilang hanya karena satu ekspresi penyesalan.
Aku pulang ke hotel.
Beberapa hari berikutnya, aku mengurus keuanganku dengan serius.
Aku memindahkan sebagian uang ke deposito berjangka dan instrumen konservatif.
Aku menyewa apartemen kecil selama beberapa bulan.
Aku juga mengganti semua kata sandi email lama.
Sayangnya, satu hal terlambat kulakukan.
Laptop lama yang pernah kupakai masih tersimpan di rumah.
Aku pikir datanya sudah tidak penting.
Ternyata browser di laptop itu masih menyimpan sesi masuk salah satu email pribadiku.
Dan Kak Raka menemukannya.
Malam Jumat, bel apartemenku berbunyi berkali-kali.
Ketika kubuka melalui kamera pintu, Ibu, Kak Raka, Mbak Lilis, dan Dimas berdiri di luar.
Aku tidak membukakan pintu.
Kak Raka mengangkat selembar kertas ke kamera.
“Rani!”
Dia berteriak.
“Kita perlu bicara!”
Aku menyalakan perekam di ponsel.
“Ada apa?”
“Kamu bohong sama kita!”
“Aku bohong apa?”
Kak Raka mengangkat kertas lebih tinggi.
Itu hasil cetak email dari perusahaan lamaku.
Judulnya tentang penyelesaian pencairan saham karyawan.
Di bagian bawah terlihat nilai bersih yang masuk ke rekening investasiku.
Rp11.842.700.000.
Suara Ibu terdengar dari belakang.
Kali ini tidak ada bentakan.
Nada suaranya lembut.
Hampir manis.
“Rani, buka pintunya, Nak.”
Aku memejamkan mata.
Tiga hari lalu perempuan yang sama menyuruhku keluar dari rumah yang kubeli karena dianggap tidak punya penghasilan.
Sekarang dia memanggilku “Nak”.
Lalu Kak Raka mengatakan kalimat yang membuat seluruh tubuhku dingin.
“Kamu punya hampir dua belas miliar, tapi membiarkan kakakmu dikejar orang karena seratus tujuh puluh lima juta?”
Dia menempelkan telapak tangannya pada pintu.
“Kalau benar kamu masih menganggap kami keluarga, besok transfer lima miliar. Kita selesaikan semuanya sekaligus.”

