Bagian 4 — Mereka Menjual Mobil, Mengembalikan Emasku, dan Kehilangan Rumah yang Tak Pernah Menjadi Milik Mereka

Avatar penulis
Cerita 02
11 menit baca 84 tayangan
Bagian 3 — Saat Mereka Memaksaku Menandatangani Dokumen, Aku Membuka Satu per Satu Bukti Mereka
Indeks

Bagian 4 — Mereka Menjual Mobil, Mengembalikan Emasku, dan Kehilangan Rumah yang Tak Pernah Menjadi Milik Mereka

Petugas survei itu langsung menutup map.

Suasana di depan rumah mendadak berubah.

Beberapa detik sebelumnya Bima masih berdiri dengan gaya seseorang yang merasa semua urusan sudah berada di bawah kendalinya.

Sekarang ia bahkan tidak berani menatap petugas tersebut.

Aku meminta satu hal.

“Pak, saya ingin dicatat bahwa saya sebagai pemilik rumah tidak pernah memberikan persetujuan untuk pengajuan ini.”

Petugas mengangguk.

Ia menjelaskan secara singkat bahwa proses belum sampai pada tahap pencairan.

Survei itu baru bagian awal.

Aku hampir tertawa karena lega.

Mereka terlambat beberapa langkah.

Seandainya pagi itu aku tidak pulang karena charger laptop…

Seandainya aku masih menganggap daftar belanja hari Minggu sebagai perhatian seorang suami…

Entah sampai tahap mana semuanya akan berjalan.

Petugas pamit setelah mencatat keberatanku.

Begitu mobilnya meninggalkan jalan, Bima langsung berkata,

“Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Nadira—”

“Setelah emas saya habis?”

“Nanti aku ganti.”

“Setelah tanda tangan saya dipalsukan?”

“Aku enggak berniat merugikan kamu.”

Aku tertawa.

Benar-benar tertawa.

Sampai mataku berair.

“Bima, kamu menggunakan dokumen rumah saya untuk utang yang bahkan tidak pernah kamu beritahukan kepada saya. Bagian mana yang menurutmu bukan merugikan?”

“Aku cuma butuh waktu.”

“Semua pencuri juga butuh waktu sebelum ketahuan.”

Wajahnya mengeras.

“Jangan sebut aku pencuri.”

“Kalau begitu sebutkan istilah lain untuk mengambil barang orang diam-diam.”

“Aku suamimu!”

“Dan saya istrimu, bukan ATM.”

Bima menendang ban mobilnya sendiri.

“Nadira, aku terdesak!”

“Aku bisa menerima suami yang bangkrut.”

Dia menatapku.

Aku melanjutkan,

“Aku bisa menerima suami yang kehilangan bisnis.”

“Aku bahkan mungkin bisa membantu suami yang datang kepadaku dan berkata, ‘Aku membuat kesalahan besar. Aku punya utang. Tolong bantu aku mencari jalan keluar.’”

“Tapi yang kamu lakukan bukan itu.”

“Kamu menikahiku sambil menyembunyikan utang.”

“Kamu berpura-pura bekerja setiap hari.”

“Kamu mengambil emas peninggalan ayahku.”

“Kamu menggunakan ibumu untuk menggeledah rumahku.”

“Kamu membayar mobil adikmu dengan barangku.”

“Lalu ketika semua itu belum cukup, kamu mencoba membawa rumahku masuk ke masalahmu.”

Aku membuka pintu.

“Masuk. Ambil pakaian yang kamu perlukan.”

Bima terdiam.

“Maksudmu apa?”

“Kamu tidak tinggal di sini lagi.”

“Nadira.”

“Masuk sebelum aku berubah pikiran dan meletakkan semua barangmu di teras.”

Dia mendekat.

“Ini rumah kita.”

Aku menjawab pelan,

“Tidak.”

Aku menunjuk dinding ruang tamu.

“Di rumah ini, kamu makan makanan yang kubeli.”

“Kamu tidur di kamar yang kubayar.”

“Ibumu masuk setiap Minggu dan membuka lemari saya.”

“Lalu kamu mencoba menjadikan rumah ini jaminan untuk utangmu.”

“Jadi jangan pernah lagi memakai kata ‘kita’ untuk membuat saya merasa bersalah.”

Bima mengambil dua koper.

Sebelum pergi, ia berdiri di pintu.

“Nanti kalau kamu sudah tenang, kita bicara.”

Aku menatapnya.

“Aku justru baru mulai berpikir dengan tenang.”

Pintu kututup.

Malam itu aku mengganti seluruh akses rumah.

Bukan hanya kode digital.

Kunci mekanis juga diganti.

Kamera tambahan dipasang di lorong depan dan ruang kerja.

Keesokan harinya Bu Rini datang membawa ember hijaunya.

Ember yang selama berbulan-bulan menjadi properti sempurna dalam sandiwara “ibu mertua baik hati yang membantu membersihkan rumah”.

Kali ini pintu tidak kubuka.

Ia menelepon.

“Nadira, buka. Ibu mau bicara.”

“Bicaralah lewat telepon.”

“Ini masalah keluarga.”

“Kalau Ibu ingin mengembalikan emas, kita bisa bertemu bersama pengacara.”

Suara Bu Rini langsung meninggi.

“Kenapa semuanya harus pakai pengacara?”

“Karena waktu hanya pakai kepercayaan, barang saya hilang.”

Ia terdiam.

Aku mematikan telepon.

Tiga hari setelah tenggat yang kuberikan, akhirnya aku mendapatkan daftar pertama.

Bukan dari Bima.

Dari Fajar.

Kakaknya memaksa Bu Rini membuka semua bukti transaksi.

Ternyata keadaannya bahkan lebih buruk daripada yang mereka akui.

Sembilan puluh gram emas masih berada di tempat pegadaian dalam beberapa transaksi.

Dua puluh gram sudah dijual kepada toko emas.

Dua puluh gram lainnya dijual melalui kenalan Bima.

Sebuah gelang peninggalan ibu masih berada di rumah Bu Rini.

Uang tunai tiga puluh lima juta rupiah yang hilang sudah habis untuk cicilan.

Total penggunaan uang mereka cocok dengan utang yang mulai terkumpul.

Sebagian membayar pemasok usaha lama.

Sebagian membayar pinjaman konsumtif.

Sebagian masuk ke kerugian judi online Bima.

Dan enam puluh lima juta rupiah masuk ke uang muka mobil Intan.

Saat mengetahui angka itu, Intan meneleponku.

Ia menangis.

“Kak, aku enggak tahu sebanyak itu.”

Aku hanya bertanya,

“Kamu tahu kakakmu sedang kesulitan?”

“Iya.”

“Kamu tahu uang muka mobilmu bukan dari tabungannya?”

Hening.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

“Kamu tidak tahu dari mana uangnya,” kataku, “tapi kamu juga tidak pernah bertanya.”

“Aku pikir Ibu bantu.”

“Ibumu tidak bekerja.”

Intan menangis lebih keras.

“Aku akan kembalikan mobilnya.”

“Jangan lakukan untuk aku.”

“Aku malu.”

“Bagus. Berarti kamu masih tahu ada yang salah.”

Mobil itu akhirnya dijual sekitar tiga minggu kemudian.

Harga jualnya tidak menutup seluruh kredit, tetapi setelah sisa kewajiban dibereskan, masih ada bagian dana yang bisa dikembalikan.

Bu Rini juga harus mengambil simpanan berjangka yang selama ini tidak pernah disebutnya.

Ironis.

Ketika mencuri emasku, ia selalu berkata keluarga sedang tidak punya uang.

Ternyata ia punya simpanan.

Ia hanya tidak mau menggunakan uangnya sendiri.

Fajar marah besar ketika mengetahui hal itu.

“Jadi kenapa emas Nadira yang digadaikan kalau Ibu punya deposito?”

Bu Rini menangis.

“Itu tabungan hari tua Ibu!”

Fajar menjawab,

“Emas Nadira juga tabungan dia!”

Untuk pertama kalinya, ada seseorang dari keluarga Bima yang mengucapkan kalimat yang selama ini mereka pura-pura tidak pahami.

Barang orang lain tetap barang orang lain.

Bahkan setelah menikah.

Bahkan ketika yang mengambil adalah suami.

Bahkan ketika alasannya “demi keluarga”.

Bu Rini akhirnya menggunakan sebagian tabungannya untuk menebus emas yang masih tergadai.

Bukan karena tiba-tiba sadar.

Ia melakukannya setelah Reza mengirimkan surat resmi yang meminta penyelesaian dan pengembalian barang.

Hari ketika sembilan puluh gram emas itu kembali ke tanganku, aku duduk hampir satu jam di ruang tamu.

Kotak-kotaknya kutata di meja.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku memeriksa nomor dan dokumennya.

Beberapa kemasan rusak.

Namun barangnya kembali.

Gelang milik ibu juga dikembalikan.

Aku memegang gelang itu lama.

Ibu meninggal ketika aku masih kuliah.

Gelang tersebut bukan benda paling mahal yang kumiliki.

Namun saat menyadari Bima mengambilnya bersama emas lain tanpa peduli sejarahnya, ada sesuatu di dalam diriku yang benar-benar mati terhadap pernikahan kami.

Bima masih mencoba menghubungiku.

Hari pertama, dia meminta maaf.

Hari kedua, dia menyalahkan tekanan utang.

Hari ketiga, dia mengatakan ibunya yang terlalu ikut campur.

Hari keempat, dia mengatakan aku terlalu keras.

Hari kelima, dia kembali meminta maaf.

Aku menyimpan semua pesannya.

Tapi tidak membalas.

Kemudian suatu malam ia menungguku di depan kantor.

Wajahnya kurus.

Kemejanya kusut.

Dia tidak lagi membawa mobil karena mobil miliknya sendiri sudah dijual untuk membantu menyelesaikan kewajiban.

“Nadira.”

Aku berhenti beberapa meter darinya.

“Aku cuma mau sepuluh menit.”

“Aku ada janji.”

“Sepuluh menit.”

Aku akhirnya berdiri di area lobi yang masih dijaga satpam.

Bima mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku sudah jual motor sama beberapa peralatan usaha.”

Aku tidak mengambilnya.

“Apa itu?”

“Uang untuk mengganti emas yang sudah enggak bisa dikembalikan.”

Aku menatap amplop tersebut.

“Serahkan lewat Reza.”

Bima menarik napas.

“Kita harus sampai segini?”

“Iya.”

“Aku ini suamimu.”

“Kamu selalu mengingat posisi sebagai suami ketika ingin hak.”

Ia terpukul.

Aku melanjutkan,

“Tapi saat harus jujur tentang utang sebelum menikah, kamu lupa.”

“Saat harus meminta izin sebelum mengambil emas, kamu lupa.”

“Saat harus melindungi rumah ini, kamu lupa.”

“Saat ibumu menggeledah lemari saya, kamu lupa.”

“Jangan gunakan status suami hanya ketika menguntungkanmu.”

Matanya merah.

“Aku memang salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku sakit, Nad.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

“Aku kecanduan judi waktu itu. Aku pikir aku bisa berhenti sendiri.”

Aku diam beberapa detik.

“Kamu seharusnya mencari bantuan.”

“Aku malu.”

“Lalu kamu memilih membuat aku yang membayar rasa malumu.”

Ia menunduk.

“Aku mulai konseling.”

“Itu bagus.”

Dia mengangkat kepala seolah mendapatkan sedikit harapan.

Aku langsung berkata,

“Tapi lakukan itu untuk dirimu sendiri. Bukan sebagai tiket untuk kembali ke hidupku.”

Harapan itu hilang.

“Nadira…”

“Aku berharap kamu sembuh.”

Aku menatapnya tanpa marah.

“Tapi memaafkan seseorang tidak berarti harus menyerahkan lagi kunci rumah kepadanya.”

Aku pergi.

Proses perpisahan kami dimulai tidak lama setelah itu.

Keluarga Bima kembali mencoba membujuk.

Bu Rini bahkan datang ke rumah kakakku sambil menangis.

Katanya perceraian akan mempermalukan keluarga.

Kakakku hanya bertanya satu hal,

“Waktu kalian mengambil emas adik saya tiap Minggu, kalian tidak takut mempermalukan keluarga?”

Bu Rini tidak bisa menjawab.

Bulan-bulan berikutnya tidak mudah.

Ada pertemuan.

Ada dokumen.

Ada pembicaraan tentang pengembalian sisa nilai emas yang sudah terjual.

Ada pemeriksaan terhadap dokumen yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin.

Aku menyerahkan semuanya kepada pihak yang memang menangani urusan tersebut.

Aku tidak lagi berbicara langsung dengan Bima mengenai uang.

Semua melalui perantara dan dokumen tertulis.

Pada akhirnya, seratus dua puluh gram emas fisik berhasil kembali.

Empat puluh gram yang sudah berpindah dan tidak dapat dikembalikan diganti berdasarkan nilai yang kami sepakati melalui pembayaran dari penjualan kendaraan, peralatan usaha, dan sebagian dana Bu Rini.

Uang tunai daruratku juga dikembalikan.

Tidak sekaligus.

Tapi lunas.

Yang paling penting, rumahku tidak pernah masuk ke transaksi apa pun.

Pengajuan yang sempat dibuat dihentikan sebelum berjalan lebih jauh.

Aku menyimpan sertifikat tetap di tempat aman.

Tidak pernah lagi kubawa pulang.

Proses perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.

Hari setelah semuanya resmi berakhir, Bima mengirim satu pesan.

Maaf karena aku baru menghargai kepercayaan setelah kehilangan semuanya.

Aku membaca.

Lalu menghapusnya.

Aku tidak membalas.

Bukan karena masih marah.

Aku hanya tidak memiliki sesuatu yang perlu kukatakan lagi.

Bu Rini juga berhenti menghubungiku.

Menurut Fajar, hubungan di keluarga mereka berubah drastis.

Intan menjual mobilnya dan kembali menggunakan kendaraan lamanya.

Ia mulai mencicil kembali sebagian uang yang secara tidak langsung dinikmatinya.

Bu Rini kehilangan sebagian besar tabungan yang selama ini ia pertahankan mati-matian.

Bima tinggal kembali di rumah ibunya.

Usaha lamanya tidak pernah benar-benar pulih.

Ia harus mulai dari proyek-proyek kecil sambil membayar kewajiban yang tersisa dan mengikuti konseling untuk masalah judinya.

Aku tidak merasa senang mendengar hidup mereka sulit.

Tapi aku juga tidak merasa bersalah.

Konsekuensi bukan balas dendam.

Konsekuensi adalah tagihan dari keputusan yang mereka buat sendiri.

Hampir setahun setelah hari aku pulang mengambil charger, aku merenovasi ruang kerja.

Lemari besi kecil tempat emas dulu disimpan kubuang.

Bukan karena rusak.

Aku hanya tidak ingin melihatnya lagi.

Ruangan itu kuubah menjadi perpustakaan kecil dengan meja kayu menghadap jendela.

Di salah satu rak, kusimpan satu kotak emas kecil peninggalan ayah.

Di dalamnya masih ada tulisan tangan ayah pada secarik kertas tua.

Aku baru menemukannya ketika memeriksa ulang dokumen pembelian.

Tulisan itu sederhana.

Harta bisa dicari lagi. Jangan pernah gadaikan harga dirimu untuk mempertahankan orang yang tidak menjagamu.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Mungkin ayah menulisnya hanya sebagai nasihat biasa.

Tapi setahun setelah semua kejadian, kalimat itu terasa seperti penutup yang akhirnya kutemukan sendiri.

Karierku juga berubah.

Aku mendapat promosi.

Bukan promosi ajaib yang datang karena hidup ingin menghiburku.

Aku mendapatkannya karena setelah semua kekacauan itu, aku tetap datang bekerja.

Tetap menyelesaikan target.

Tetap memimpin tim.

Tetap membangun hidup yang sebelumnya hampir kubiarkan bergantung pada seseorang yang tidak jujur kepadaku.

Pada Minggu pagi pertama setelah renovasi selesai, aku bangun pukul delapan.

Tidak ada Bu Rini di depan pintu.

Tidak ada ember hijau.

Tidak ada Bima membawa daftar belanja.

Tidak ada suara,

“Nadira, keluar sebentar, ya?”

Aku membuat kopi.

Membuka jendela.

Duduk di ruang kerja baru sambil melihat matahari jatuh di lantai kayu.

Kemudian aku sadar sesuatu yang membuatku tersenyum.

Selama delapan bulan menikah, hampir setiap Minggu aku disuruh keluar dari rumahku sendiri.

Dulu aku mengira itu hal kecil.

Sekarang aku tahu, pengkhianatan sering tidak dimulai dari kejadian besar.

Kadang dimulai dari daftar belanja yang terlalu panjang.

Dari mertua yang terlalu rajin “membersihkan”.

Dari suami yang terus mengatakan,

“Percaya saja.”

Dan kebohongan bisa tumbuh sangat besar ketika seseorang tahu kita tidak pernah memeriksa.

Sejak hari itu, aku tidak hidup dengan mencurigai semua orang.

Aku hanya belajar satu hal:

Kepercayaan bukan berarti menutup mata.

Cinta bukan berarti menyerahkan seluruh batas.

Dan pernikahan tidak pernah memberi seseorang hak untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Aku kehilangan sebuah pernikahan.

Tapi rumahku tetap berdiri.

Emas ayah kembali.

Namaku kembali bersih.

Uangku kembali.

Dan yang paling penting, hidupku kembali menjadi milikku.

Sekarang setiap Minggu pagi, aku masih pergi keluar.

Kadang ke pasar.

Kadang sarapan bersama Dita.

Kadang hanya berjalan tanpa tujuan.

Bedanya, tidak ada lagi seseorang yang membuat daftar belanja agar aku pergi cukup lama supaya mereka bisa menggeledah rumahku.

Aku keluar karena aku ingin.

Dan ketika pulang, aku membuka pintu rumahku sendiri dengan satu keyakinan sederhana:

Tidak ada lagi orang yang bisa menyuruhku pergi dari hidup yang kubangun dengan tanganku sendiri.