Bagian 3 — Suamiku Memohon Kesempatan Kedua, tetapi Audit Rekening Menunjukkan Pengkhianatan Itu Sudah Direncanakan Berbulan-Bulan

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 99 tayangan
Bagian 3 — Suamiku Memohon Kesempatan Kedua, tetapi Audit Rekening Menunjukkan Pengkhianatan Itu Sudah Direncanakan Berbulan-Bulan
Indeks

Bagian 3 — Suamiku Memohon Kesempatan Kedua, tetapi Audit Rekening Menunjukkan Pengkhianatan Itu Sudah Direncanakan Berbulan-Bulan

Kami pulang ke Jakarta hampir pukul dua belas malam.

Sepanjang perjalanan, Dimas mencoba bicara berkali-kali.

Aku tidak menjawab.

Lampu jalan tol berkelebat di kaca mobil seperti garis-garis putih yang terputus.

“Ayu.”

Diam.

“Ayu, tolong dengarkan aku.”

Aku menatap ke depan.

“Besok.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Besok.”

“Aku salah, tapi tidak seperti yang kamu pikir.”

Aku akhirnya menoleh.

“Mengambil hampir tujuh ratus juta dari rekening bersama tanpa izin.”

Aku mengangkat satu jari.

“Meminjam sembilan ratus juta.”

Jari kedua.

“Membiarkan adikmu memiliki rekaman percakapan pribadi kita.”

Jari ketiga.

“Membiarkan keluargamu mengancamku.”

Jari keempat.

“Mencoba menggunakan sertifikat rumah ayahmu.”

Jari kelima.

“Mengubah penerima manfaat polis.”

Aku menatapnya.

“Bagian mana yang tidak seperti yang kupikir?”

Dimas kehilangan suara.

Sesampainya di apartemen, aku langsung masuk ke ruang kerja.

Dimas mengikutiku.

“Aku memang salah.”

Aku membuka laptop.

“Kamu sudah bilang.”

“Aku panik.”

“Kamu juga sudah bilang.”

“Aku mau bantu Nabila.”

“Kamu membantu Nabila dengan uangku tanpa izin.”

“Uang kita.”

Tanganku berhenti di atas keyboard.

Aku menoleh.

Dimas menyadari kesalahannya satu detik terlambat.

“Rekening bersama memang uang kita,” katanya cepat. “Maksudku bukan—”

“Delapan puluh persen dana di rekening itu berasal dariku.”

Dia diam.

“Dan kita sepakat penggunaan di atas lima puluh juta harus dibicarakan.”

Dia menunduk.

Aku membuka aplikasi perbankan.

Lalu satu per satu aku mengunduh mutasi rekening selama dua belas bulan terakhir.

Aku bekerja di dunia keuangan.

Aku tahu pola transaksi.

Aku tahu bagaimana uang yang ingin disembunyikan biasanya tidak hilang dalam satu transfer besar.

Uang dipisah.

Diputar.

Dipindahkan melalui rekening lain.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku memeriksa keuangan rumah tanggaku seperti sedang mengaudit perusahaan yang dicurigai melakukan fraud.

Hasil awalnya membuat perutku mual.

Bukan hanya Rp685 juta.

Ada transfer Rp48 juta ke rekening Bu Ratih.

Rp37 juta.

Rp45 juta.

Rp29 juta.

Nominalnya selalu di bawah batas notifikasi khusus yang selama ini kupasang.

Total dalam setahun?

Rp312 juta.

Aku memanggil Dimas.

Dia berdiri di pintu.

“Apa ini?”

Aku memutar layar.

Wajahnya berubah.

“Untuk Mama.”

“Dua puluh juta per bulan yang kuberikan ke orang tuamu masuk ke mana?”

“Ke rekening Ayah.”

“Lalu tiga ratus dua belas juta ini?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap beberapa keterangan transfer.

DP mobil Bil.

Renov dapur.

Cicilan Arga.

Vendor catering.

Aku tertawa kecil.

Semuanya ada di sana.

Hanya saja aku tidak pernah melihat.

“Aku bodoh sekali.”

Dimas langsung maju.

“Jangan bilang begitu.”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan sentuh aku.”

Dia berhenti.

Aku terus membuka transaksi.

Ada satu nama yang muncul berulang kali.

Rizky Adiputra.

Aku tidak mengenalnya.

Transfer pertama Rp75 juta.

Kedua Rp100 juta.

Ketiga Rp65 juta.

Keempat Rp120 juta.

“Siapa Rizky?”

Dimas membeku.

Itu cukup bagiku untuk tahu jawabannya tidak akan bagus.

“Teman.”

“Teman siapa?”

“Arga.”

“Kenapa kamu mengirim tiga ratus enam puluh juta kepada teman calon suami adikmu?”

Dimas menutup mata.

“Dia yang mengurus investasinya.”

Aku berdiri.

“Investasi apa?”

Tidak menjawab.

“Dimas.”

“Ayu…”

“Investasi apa?”

Dia akhirnya berbisik.

“Kripto.”

Aku menatapnya.

“Kamu memakai uang rumah tangga untuk spekulasi?”

“Arga bilang peluangnya—”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena saat itu aku benar-benar tidak tahu apakah harus marah atau menangis.

“Kamu bekerja di perusahaan negara.”

Aku menunjuknya.

“Adikmu menjalankan katering.”

“Calon suaminya pernah gagal dua usaha.”

“Lalu kalian bertiga memutuskan kalian cukup ahli untuk mengelola ratusan juta dalam aset berisiko tanpa memberitahuku?”

“Aku mau untung.”

“Untuk apa?”

Dimas terdiam.

“Untuk apa?”

Kali ini suaraku keras.

Dia akhirnya berteriak balik.

“Supaya sekali saja aku tidak merasa kecil di sebelahmu!”

Ruangan sunyi.

Aku memandangnya.

Dimas terengah.

Matanya merah.

“Setiap kali kita datang ke acara kantor kamu, semua orang tanya pekerjaanku.”

“Aku tidak pernah merendahkan pekerjaanmu.”

“Aku tahu!”

“Lalu?”

“Kamu tidak perlu merendahkanku!”

Dia memukul dadanya.

“Aku sendiri yang merasa seperti itu!”

Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang jujur keluar dari mulutnya.

Dimas duduk.

“Aku lihat kamu beli mobil tanpa cicilan.”

“Aku lihat bonus tahunanmu lebih besar daripada total gajiku bertahun-tahun.”

“Aku lihat kamu bicara investasi dengan orang-orang yang nilainya miliaran.”

Dia mengusap wajah.

“Lalu Nabila bilang Arga punya kesempatan.”

“Aku pikir kalau berhasil…”

Dia tertawa hambar.

“…aku bisa menunjukkan bahwa aku juga mampu.”

“Dengan uangku?”

Kalimat itu menghantamnya.

Dia menunduk lagi.

Aku menatap lelaki yang selama bertahun-tahun kupikir sederhana dan tidak terobsesi status.

Ternyata aku salah.

Dia bukan tidak peduli.

Dia hanya menyimpan rasa rendah dirinya begitu dalam hingga akhirnya rasa itu berubah menjadi kebohongan.

“Rekaman itu?”

tanyaku.

Dimas menegang.

“Kenapa Nabila punya?”

Dia tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

“Kamu kirim?”

“Satu.”

“Berapa banyak?”

“Satu folder.”

Darahku terasa dingin.

“Satu folder?”

“Aku sering merekam pembicaraan kita kalau membahas uang karena…”

“Karena apa?”

Dia menelan ludah.

“Nabila bilang kalau suatu hari kita bermasalah, keluarga harus punya bukti bahwa kamu selalu dominan.”

Aku menatapnya hampir tanpa berkedip.

“Kapan kamu mulai merekam?”

“Sekitar delapan bulan lalu.”

Delapan bulan.

Delapan bulan aku tidur di sebelah seseorang yang diam-diam menyimpan percakapan kami.

Delapan bulan.

Bukan kesalahan sesaat.

Bukan kepanikan satu malam.

Pola.

Aku menutup laptop.

“Kemasi pakaianmu.”

Dimas langsung berdiri.

“Ayu.”

“Pulang ke Bandung.”

“Jangan.”

“Aku tidak bisa melihatmu malam ini.”

Dia mendekat.

Aku mundur.

Dimas berhenti.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku menatapnya.

“Cinta tanpa kejujuran cuma kata.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Wajahnya sedikit berharap.

“Tapi bukan berarti aku wajib menunggu.”

Dia menangis.

Selama lima tahun menikah, aku baru dua kali melihatnya menangis.

Malam itu adalah yang ketiga.

Namun anehnya, aku tidak lagi merasa harus menghiburnya.

Aku membuka pintu kamar.

“Kemasi barang untuk seminggu.”

“Ayu…”

“Kalau kamu tidak pergi, aku yang pergi.”

Akhirnya dia masuk kamar.

Pukul dua pagi, Dimas meninggalkan apartemen.

Aku tidak tidur.

Pukul enam tiga puluh, aku menghubungi salah satu teman kuliahku yang sekarang menjadi pengacara keluarga dan sengketa bisnis.

Namanya Sinta.

Aku hanya berkata:

“Aku perlu konsultasi hari ini.”

Sinta tidak bertanya banyak.

Jam sembilan kami bertemu.

Aku membawa mutasi rekening.

Percakapan WhatsApp.

Fotokopi pengajuan kredit.

Dokumen polis.

Rekaman yang diedit.

Sinta membaca semuanya selama hampir satu jam.

Kemudian dia menatapku.

“Pertama, amankan akses ke semua rekening dan aset yang memang berada di bawah kendalimu.”

Aku mengangguk.

“Kedua, jangan hapus pesan apa pun.”

“Baik.”

“Ketiga, pisahkan antara masalah rumah tangga dan kemungkinan pelanggaran finansial.”

Aku mengangguk lagi.

“Dan keempat…”

Sinta menatapku serius.

“Jangan buat keputusan karena mereka menangis.”

Kalimat itu terdengar dingin.

Tetapi tepat.

Siang itu aku menonaktifkan kartu tambahan yang terhubung ke rekeningku.

Aku memindahkan pembayaran rutin apartemen ke rekening pribadiku.

Aku meminta bank menambahkan autentikasi baru.

Aku juga menghubungi auditor forensik yang pernah bekerja dengan perusahaanku.

Bukan untuk mempermalukan Dimas.

Aku hanya ingin tahu satu hal.

Seberapa jauh uangku sudah digunakan tanpa sepengetahuanku?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Lebih buruk daripada perkiraanku.

Selama dua puluh satu bulan, terdapat arus dana tidak wajar senilai hampir Rp1,74 miliar.

Sebagian berasal dari rekening rumah tangga.

Sebagian dari fasilitas pinjaman atas nama Dimas.

Sebagian dari kartu kredit.

Dan hampir Rp460 juta masuk ke rekening beberapa orang yang terhubung dengan Arga.

Aku menelepon Pak Hendra.

“Ayah tahu soal ini?”

Beliau terdiam lama.

“Tidak sebanyak itu.”

Aku mengirimkan ringkasan audit.

Sepuluh menit kemudian beliau menelepon balik.

Suaranya terdengar seperti orang yang baru menua sepuluh tahun.

“Ayu.”

“Iya, Yah.”

“Kalau kamu mau meninggalkan Dimas…”

Beliau menarik napas.

“…Ayah tidak akan menyalahkanmu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Pak Hendra melanjutkan.

“Yang dilakukan anak saya salah.”

Beliau berhenti.

“Sangat salah.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, air mataku jatuh.

Bukan karena Dimas.

Justru karena ayah mertuaku satu-satunya orang dari keluarga itu yang tidak meminta aku mengerti.

Tidak meminta aku memaafkan.

Tidak meminta aku mengalah.

“Ayah akan datang ke Jakarta besok,” katanya.

“Ada apa?”

“Ayah menemukan sesuatu.”

Jantungku menegang.

“Apa?”

“Kuitansi penjualan.”

“Penjualan apa?”

Beliau menjawab pelan.

“Perhiasan Mama.”

Aku diam.

“Dan ada satu surat perjanjian antara Nabila, Arga, dan Dimas.”

“Ayah menemukannya di mana?”

“Di kotak dokumen Dimas yang dititipkan di rumah.”

Aku menelan ludah.

“Isinya?”

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

Ketika beliau akhirnya bicara, tengkukku terasa dingin.

“Mereka pernah berencana membeli sebuah rumah atas nama Nabila.”

“Dengan uang siapa?”

“Ayu…”

Suara Pak Hendra terdengar berat.

“Di draf perjanjian itu tertulis bahwa uang muka akan berasal dari ‘dana keluarga yang dikelola Mas Dimas’.”

Aku memejamkan mata.

“Berapa?”

“Rp1,2 miliar.”

Aku membuka mata.

Pak Hendra melanjutkan.

“Dan kalau dana itu tidak cukup…”

Beliau berhenti.

“…Dimas setuju meminta kamu mencairkan sebagian deposito setelah Lebaran.”

Jadi makan malam itu bukan sekadar permintaan tambahan.

Mereka sudah menentukan target.

Sudah menentukan nominal.

Sudah menentukan waktu.

Bahkan sebelum aku duduk di meja makan, mereka sudah menganggap uangku tersedia.

“Masih ada satu hal,” kata Pak Hendra.

“Apa lagi?”

“Di bagian akhir surat…”

Suara beliau berubah.

“…ada tulisan tangan Dimas.”

Aku hampir takut bertanya.

“Apa tulisannya?”

Pak Hendra membacanya perlahan.

Kalau Ayu menolak, Mama dan Nabila bantu tekan. Setelah dia setuju, jangan sampai Ayu tahu rumah ini untuk Nabila sebelum sertifikat selesai.

Aku tidak menangis lagi.

Ada titik tertentu ketika rasa sakit berhenti terasa seperti luka.

Ia berubah menjadi keputusan.

“Yah.”

“Iya?”

“Besok bawa semua dokumen.”

“Ayu…”

“Saya sudah memutuskan.”

Pak Hendra diam.

Aku menatap cincin pernikahan di jariku.

Lima tahun.

Lima tahun aku memakai cincin itu.

Lalu kulepaskan.

Aku meletakkannya di meja.

“Besok saya mulai proses perceraian.”

Tetapi sebelum sambungan ditutup, Pak Hendra berkata sesuatu yang membuatku terdiam.

“Ayu, sebelum kamu mengajukan apa pun, datanglah ke Bandung sekali lagi.”

“Untuk apa?”

“Kali ini bukan untuk berdamai.”

Suara beliau tegas.

“Arga akan datang.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena saya sudah memberi tahu dia bahwa saya punya semua bukti transfer.”

Beliau menarik napas.

“Dan sejak tadi sore, dia terus meminta bertemu.”

“Dia mau apa?”

Pak Hendra menjawab:

“Katanya dia bisa mengembalikan sebagian uangmu.”

Aku langsung duduk tegak.

“Sebagian?”

“Iya.”

“Dari mana?”

Pak Hendra terdiam dua detik.

“Menurutnya…”

“…uang itu belum semuanya hilang.”