Bagian 4 — Mereka Membawa Surat Palsu, Tapi Justru Itulah Awal Mereka Kehilangan Segalanya
Bu Marni mungkin mengira aku takut.
Dia duduk lebih tegak setelah melihatku mengambil ponsel.
“Telepon siapa pun yang kamu mau,” katanya. “Suratnya jelas.”
Aku tidak menjawab.
Aku memotret dokumen dari depan sampai belakang.
Kemudian aku mengirimkannya kepada pengacara yang sudah kutemui dua hari sebelumnya.
Pesanku pendek.
Dokumen baru. Saya tidak pernah menandatangani ini. Tanda tangan diduga disalin dari dokumen rumah sakit.
Balasannya datang tiga menit kemudian.
Jangan serahkan dokumen asli ke mereka. Jangan tanda tangan apa pun. Simpan semua komunikasi. Saya telepon sebentar lagi.
Aku meletakkan ponsel.
Bu Marni menunjuk surat itu.
“Rumah itu sudah kamu izinkan untuk dipakai keluarga.”
Aku bertanya,
“Kapan saya menandatangani?”
Dia terdiam sebentar.
“Beberapa bulan lalu.”
“Di mana?”
“Di Jakarta.”
“Di bagian mana?”
“Kok banyak tanya?”
Aku menoleh kepada Dimas.
“Kamu jawab.”
Dia menekan rahang.
“Mungkin waktu banyak dokumen setelah Kirana lahir.”
Aku hampir tertawa.
“Mungkin?”
“Maya, aku tidak hafal.”
“Aku hafal.”
Aku mengambil salinan berkas rumah sakit dari lemari dokumen.
Setelah pulang dari Solo, aku sudah meminta rumah sakit mengirimkan salinan formulir administratif yang pernah kutandatangani.
Aku menemukan yang kucari.
Formulir persetujuan tindakan medis setelah persalinan.
Aku meletakkannya berdampingan dengan surat yang dibawa Bu Marni.
Posisi tanda tangan.
Panjang garis.
Kemiringan huruf M.
Bahkan titik kecil akibat tinta pena yang sempat macet.
Sama persis.
Bukan mirip.
Sama.
Ayahku mengambil kedua kertas.
“Ini hasil salin-tempel.”
Paman Dimas yang sejak tadi diam akhirnya menyela.
“Jangan langsung menuduh.”
Aku memandangnya.
“Bapak yang membuat surat ini?”
Dia terkejut.
“Bukan.”
“Kalau begitu tidak perlu tersinggung.”
Bu Marni mulai kehilangan kesabaran.
“Intinya kamu dulu sudah bilang keluarga boleh tinggal di rumah itu!”
“Boleh berkunjung berbeda dengan mengalihkan hak.”
“Kamu menantu!”
“Benar.”
Aku menunjuk rumah tempat kami duduk.
“Tapi bahkan orang tua kandung saya tidak pernah mengambil rumah saya tanpa izin.”
Dimas berdiri.
“Cukup.”
Aku menoleh.
Untuk sesaat aku berharap dia akhirnya akan membela kebenaran.
Ternyata aku masih terlalu murah hati kepadanya.
“Kita pulang saja ke Jakarta,” katanya. “Surat itu lupakan. Nanti aku bicara sama Ibu.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu surat ini dibuat?”
Dia tidak menjawab.
“Dimas.”
“Maya, jangan memperpanjang.”
“Apakah kamu tahu?”
Bu Marni langsung memotong.
“Dia tahu. Memang kenapa?”
Semua orang menoleh kepadanya.
Dimas memejamkan mata.
“Bu…”
“Kenapa harus takut?”
Bu Marni semakin emosi.
“Rumah itu nanti juga untuk keluarga kalian! Masa orang tua mau numpang saja dipersulit?”
Aku mengangguk pelan.
“Jadi Dimas tahu.”
“Kalian suami istri. Milik istri ya milik suami.”
Aku tidak berdebat soal hukum dengannya.
Tidak perlu.
Aku hanya perlu kepastian.
Aku mengaktifkan perekam suara di ponsel, lalu meletakkannya di meja.
“Siapa yang mengambil fotokopi KTP saya?”
Dimas diam.
“Siapa?”
Akhirnya Lina bicara.
“Mas Dimas.”
Semua kepala berbalik kepadanya.
Bu Marni membentak,
“Lina!”
Lina langsung pucat.
“Tapi memang Mas yang kasih ke Paman Joko.”
Dimas menatap adiknya tajam.
“Kamu diam saja!”
Lina mundur.
Aku justru merasa sangat tenang.
“Kenapa KTP saya diberikan?”
Dimas menjawab dengan suara rendah,
“Buat menyiapkan surat.”
“Tanpa sepengetahuan saya?”
Dia mengusap wajah.
“Iya.”
“Dan tanda tangan saya?”
“Aku tidak tahu bagian itu.”
Bu Marni menyela,
“Ya saya yang bilang pakai contoh tanda tangan yang sudah ada. Toh niatnya bukan mencuri.”
Ibuku menutup mata sebentar.
Ayahku mengembuskan napas berat.
Aku menatap Bu Marni.
“Ibu baru saja mengakui mengambil contoh tanda tangan saya dan memasukkannya ke dokumen yang tidak pernah saya setujui.”
Dia baru sadar kata-katanya sendiri.
Wajahnya berubah.
“Jangan dipelintir.”
“Aku tidak perlu memelintir.”
Aku mengangkat ponsel.
“Semuanya terekam.”
Bu Marni langsung berdiri.
“Hapus!”
Aku mundur.
Dimas memegang lengan ibunya.
“Bu, sudah.”
“Hapus sekarang!”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya sejak menikah, satu kata itu terasa sangat ringan keluar dari mulutku.
Tidak.
Tidak makan sisa mereka.
Tidak menerima uangku diambil diam-diam.
Tidak membiarkan rumahku direncanakan untuk orang lain.
Tidak membiarkan anakku digunakan sebagai alasan agar aku tetap bertahan.
Dan tidak lagi takut dianggap menantu buruk hanya karena aku mempunyai batas.
Aku meminta mereka pulang.
Bu Marni masih mengomel sampai ke halaman.
Sebelum masuk mobil dia menunjukku.
“Kamu pikir perempuan cerai dengan bayi kecil hidupnya gampang?”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan,
“Lihat saja. Nanti kamu yang datang minta Dimas pulang.”
Aku menatap Kirana yang tidur di pelukan ibuku.
Lalu aku berkata,
“Kalau harga memiliki suami adalah kehilangan harga diri, uang, rumah, dan hak menentukan hidup sendiri, saya lebih memilih tidak punya suami.”
Mobil mereka pergi.
Besok paginya aku resmi meminta pengacaraku memulai proses cerai gugat.
Ketika surat panggilan pertama sampai kepada Dimas, dia berubah.
Pesan marah berganti pesan manis.
Aku masih sayang kamu.
Kita punya Kirana.
Semua keluarga pernah salah paham.
Aku cuma ingin bantu orang tua.
Tidak satu pun pesan berbunyi:
Aku salah mengambil uang tanpa izin.
Tidak satu pun:
Aku salah membiarkan ibuku merendahkanmu.
Tidak satu pun:
Aku salah ikut merencanakan supaya kamu tunduk.
Aku akhirnya membalas satu kali.
Masalah kita bukan ibumu. Masalah kita adalah kamu memilih bekerja sama dengannya dan menganggap aku tidak akan pergi karena sudah punya anak.
Setelah itu aku hanya berkomunikasi melalui hal-hal yang berkaitan dengan Kirana dan proses hukum.
Dimas meminta bertemu.
Aku setuju di kantor pengacara.
Dia datang sendirian.
Wajahnya jauh lebih kurus.
“Aku akan kembalikan delapan belas juta.”
“Memang harus.”
“Aku sudah minta Ibu berhenti soal rumah.”
“Rumah itu tidak pernah menjadi urusan Ibu.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu sekarang karena rencanamu gagal.”
Dia terdiam.
Beberapa saat kemudian dia mulai menangis.
Aku pernah melihat Dimas menangis dua kali sebelumnya.
Ketika ayahnya masuk rumah sakit.
Dan ketika Kirana lahir.
Dulu tangisnya selalu membuatku ingin memeluk.
Hari itu tidak.
“Aku bodoh,” katanya.
Aku tidak membantah.
“Aku pikir kalau kamu lebih dekat sama keluargaku, semuanya akan lebih mudah.”
“Kamu tidak mencoba membuatku dekat.”
Aku membuka catatan percakapan.
“Kamu mencoba membuatku takut kehilangan pernikahan supaya aku menuruti mereka.”
Dia mengusap wajah.
“Aku dibesarkan seperti itu.”
“Itu penjelasan.”
Aku menatap matanya.
“Bukan pembenaran.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Matanya langsung terangkat.
“Tapi aku tidak wajib mempertaruhkan hidupku untuk menunggu apakah perubahan itu benar-benar terjadi.”
Dia menangis lagi.
Aku tetap duduk.
Bukan karena tidak punya perasaan.
Justru karena selama bertahun-tahun aku terlalu banyak memakai perasaanku untuk menjelaskan hal-hal yang sebenarnya sudah sangat jelas.
Beberapa minggu kemudian, delapan belas juta rupiah dikembalikan.
Bukan langsung oleh Dimas.
Pak Warto menjual salah satu motor tua dan Dimas mengambil pinjaman dari tempat kerjanya.
Aku tidak peduli sumbernya.
Yang penting uang yang diambil tanpa persetujuanku kembali.
Mengenai surat palsu, pengacaraku menyimpan seluruh bukti.
Aku mempunyai pilihan untuk membawa perkara tersebut lebih jauh.
Setelah diskusi panjang, kami mengirimkan somasi resmi kepada pihak-pihak yang terlibat.
Isinya jelas:
Dokumen tersebut tidak pernah kusetujui.
Tidak mempunyai izin dariku.
Tidak boleh digunakan untuk tujuan apa pun.
Seluruh salinan harus diserahkan dan dimusnahkan sesuai prosedur yang disepakati.
Jika ada upaya penggunaan lebih lanjut, aku akan menempuh jalur hukum.
Mereka menyerah.
Bukan karena tiba-tiba mempunyai hati nurani.
Karena untuk pertama kalinya mereka sadar aku tidak lagi menghadapi mereka sendirian dan tanpa bukti.
Paman Joko bahkan datang menemui ayahku.
Dia mengaku hanya diminta membantu membuat format surat dan tidak mengira masalah akan sejauh itu.
Ayahku menjawab satu kalimat,
“Kalau tanda tangan bukan milik Anda, jangan pernah membantu orang lain menggunakannya.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada perkelahian.
Justru ketenangan itu membuat mereka semakin malu.
Yang paling ironis adalah kabar di desa.
Aku tidak pernah mengunggah rekaman ke media sosial.
Tidak pernah menulis nama keluarga Dimas di Facebook.
Tidak pernah mengirim cerita ke grup desa.
Aku tidak perlu.
Bu Sari dan beberapa tetangga sudah melihat sendiri bagaimana hari itu aku keluar rumah sambil mencari makan.
Mereka tahu aku sedang menyusui.
Mereka tahu tiga kotak ayam justru disimpan untuk Lina.
Dan beberapa hari kemudian, mereka melihat keluarga Dimas pergi ke Bandung lalu pulang dengan wajah kusut.
Cerita berkembang dengan sendirinya.
Perempuan yang dulu sering mendengar Bu Marni membanggakan,
“Anak saya menikah dengan perempuan Jakarta, rumahnya sudah punya sendiri,”
sekarang mulai bertanya,
“Katanya rumah itu mau ditempati tanpa izin?”
Bu Marni berhenti duduk sore di teras hampir sebulan.
Aku tahu dari Lina.
Aneh memang.
Orang yang sangat takut kehilangan muka di depan tetangga sering kali tidak takut menyakiti anggota keluarganya sendiri.
Mereka baru merasa ada masalah setelah tetangga mengetahuinya.
Lina sendiri menghubungiku diam-diam.
Pesannya panjang.
Dia meminta maaf soal tiga kotak makanan.
Ternyata dua kotak memang untuk dirinya.
Satu kotak untuk suaminya.
Namun dia bersumpah tidak pernah meminta ibunya mengambil seluruh lauk.
“Aku pikir semua orang sudah dapat bagian,” tulisnya.
Aku percaya bagian itu.
Bukan karena aku harus memaafkan semuanya.
Tapi karena rekaman membuktikan pusat rencana itu memang Bu Marni dan Dimas.
Lina juga mengakui satu hal lain.
“Ibu sejak sebelum Kak Maya datang sudah bilang, kali ini Kak Maya harus dibuat tahu posisi.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Tahu posisi.
Tiga kata yang sering dipakai orang untuk menyamarkan keinginan menguasai orang lain.
Posisiku sebagai apa?
Istri?
Menantu?
Ibu?
Atau seseorang yang dianggap harus membayar harga karena menikah dengan anak laki-laki mereka?
Aku tidak pernah mendapatkan jawaban.
Dan akhirnya aku menyadari aku tidak membutuhkannya.
Proses perceraian tidak cepat.
Ada mediasi.
Ada pertemuan yang membuat lelah.
Ada hari ketika aku pulang dan menangis di kamar karena melihat perempuan lain datang ke pengadilan sambil menggandeng anaknya.
Ada juga malam ketika Kirana demam dan aku tanpa sadar ingin menelepon Dimas seperti dulu.
Tetapi setiap kali mulai ragu, aku memutar satu potongan rekaman.
Suara Dimas:
Sekarang sudah ada Kirana. Maya paling takut anak tumbuh tanpa ayah. Dia tidak bakal berani macam-macam.
Kalimat itu mengembalikan pikiranku.
Aku tidak meninggalkan pernikahan karena satu potong ayam.
Aku pergi karena suamiku menganggap kelahiran anak kami sebagai borgol.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Pengaturan mengenai Kirana dibuat dengan jelas.
Dimas tetap ayahnya.
Aku tidak pernah menggunakan anak sebagai alat balas dendam.
Dia boleh bertemu Kirana sesuai kesepakatan.
Dia juga mempunyai kewajiban memberikan biaya untuk anak.
Aku tidak meminta satu rupiah pun untuk diriku sendiri.
Rumah Bekasi tetap milikku.
Tidak pernah berpindah.
Tidak pernah ditempati Bu Marni.
Tidak pernah menjadi hadiah untuk siapa pun.
Enam bulan setelah perceraian, aku kembali ke sana untuk pertama kalinya.
Aku membawa Kirana.
Rumah itu sempat kosong cukup lama.
Ada sedikit debu di jendela.
Rumput depan meninggi.
Tapi ketika membuka pintu, aku tidak merasakan kesepian.
Aku justru merasa seperti mendapatkan kembali sesuatu yang hampir dirampas dariku tanpa aku sadari.
Bukan rumahnya.
Keputusan atas hidupku.
Aku merenovasi satu kamar kecil menjadi ruang kerja.
Kamar satunya menjadi kamar Kirana.
Di dinding aku memasang rak rendah untuk buku anak-anak.
Aku juga membeli meja makan baru.
Bukan meja mahal.
Hanya meja kayu empat kursi.
Malam pertama kami tinggal di sana, ibuku datang.
Dia membawa sop ayam, tumis buncis, tahu goreng, dan sambal.
Saat hendak makan, Kirana tiba-tiba menangis.
Aku tertawa.
“Pasti waktunya menyusu.”
Aku masuk kamar.
Dua puluh menit kemudian aku keluar.
Di meja makan ada sebuah piring tertutup tudung saji.
Aku membukanya.
Nasi masih hangat.
Sop ayam.
Tahu.
Sayur.
Semuanya utuh.
Di samping piring ada kertas kecil tulisan ibuku.
Makan setelah Kirana kenyang. Porsimu sudah Ibu sisihkan.
Aku berdiri di depan meja itu beberapa detik.
Kemudian tertawa sambil menangis.
Ternyata sesederhana itu.
Bukan soal ayam.
Bukan soal nasi.
Bukan soal siapa dari kota dan siapa dari desa.
Bukan soal menantu atau anak kandung.
Masalahnya selalu tentang satu hal:
Apakah orang yang mengaku keluarga masih memikirkanmu ketika kamu tidak ada di meja?
Setahun kemudian, hidupku jauh lebih tenang.
Aku kembali bekerja penuh.
Kirana mulai berjalan sambil berpegangan pada sofa.
Dia anak yang cerewet, mudah tertawa, dan sangat suka pisang kukus.
Dimas berubah lebih banyak setelah perceraian daripada selama kami menikah.
Mungkin kehilangan sesuatu akhirnya memaksanya melihat dirinya sendiri.
Dia mulai konseling.
Dia pindah dari rumah orang tuanya.
Dia membayar biaya Kirana tepat waktu.
Saat datang menemui anak, dia tidak lagi membawa ibunya.
Suatu sore setelah bermain dengan Kirana, dia berdiri di teras sebelum pulang.
“Maya.”
Aku menoleh.
“Aku mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
Dia menarik napas.
“Waktu itu… di desa… aku sebenarnya tahu Ibu sengaja tidak menyisakan makanan.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir kalau kamu mengalah sekali, semuanya bakal selesai.”
Aku menatapnya.
“Tidak akan.”
“Iya.”
Dia mengangguk.
“Sekarang aku tahu.”
Aku tidak tersenyum.
Tidak marah.
Hanya mendengarkan.
“Aku minta maaf.”
Kali ini kalimat itu tidak disertai alasan.
Tidak ada “tapi”.
Tidak ada “karena Ibu”.
Tidak ada “kamu juga salah”.
Hanya permintaan maaf.
Mungkin itulah pertama kalinya dia benar-benar memahami apa yang hilang.
Aku menjawab,
“Aku terima permintaan maafmu.”
Matanya sedikit berbinar.
Tapi aku melanjutkan,
“Bukan berarti kita kembali.”
Dia terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Aku ngerti.”
Dan memang seharusnya begitu.
Memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang sudah pernah membuat kita terluka.
Kadang memaafkan berarti kita berhenti membawa kemarahan, tetapi tetap mengunci pintu itu.
Bu Marni membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Hampir setahun dia tidak pernah berbicara langsung denganku.
Jika ingin melihat Kirana, dia selalu menyampaikan lewat Dimas.
Aku tidak melarang selama pertemuan berlangsung dengan batas yang jelas.
Suatu hari dia datang.
Tidak membawa surat.
Tidak membawa kerabat.
Tidak membawa suara keras.
Dia hanya membawa sekotak jeruk dan beberapa buku gambar untuk Kirana.
Di depan pintu dia berkata,
“Saya tidak masuk kalau kamu tidak mengizinkan.”
Aku menatap perempuan yang dulu merasa mempunyai hak menentukan rumahku.
Sekarang dia bahkan menunggu izin untuk melangkah melewati ambang pintu.
Aku membukakan pintu.
“Masuk, Bu.”
Dia duduk sekitar satu jam.
Sebelum pulang dia melihat meja makan.
Mungkin dia juga teringat hari itu.
Dia berkata pelan,
“Saya salah waktu itu.”
Aku tidak menjawab cepat.
Dia melanjutkan,
“Saya pikir menantu harus dibuat nurut supaya keluarga tidak pecah.”
Aku menatapnya.
“Justru karena Ibu ingin membuat saya tunduk, keluarga itu pecah.”
Dia menunduk.
Aku tidak merasa menang melihatnya begitu.
Kemenangan sebenarnya sudah terjadi jauh sebelumnya.
Saat aku berhenti menganggap penderitaan sebagai harga wajib untuk mempertahankan keluarga.
Sekarang kalau seseorang bertanya kepadaku kenapa pernikahanku berakhir, aku tidak pernah menjawab,
“Karena ibu mertua tidak menyisakan makanan.”
Karena itu bukan seluruh kebenarannya.
Piring kosong hanya membuka pintu.
Di balik pintu itu ada suami yang berbohong tentang uang.
Ada keluarga yang menganggap bantuanku sebagai kewajiban.
Ada rencana memakai anakku untuk membuatku takut pergi.
Ada dokumen yang dibuat menggunakan tanda tanganku tanpa izin.
Ada keyakinan bahwa setelah perempuan menikah dan mempunyai anak, dia tidak lagi berani berkata tidak.
Mereka salah.
Hari itu aku memang keluar dari rumah mertua dalam keadaan lapar.
Aku membawa bayi tiga bulan.
Tas popok.
Dompet.
Ponsel.
Dan hampir tidak ada rencana.
Tetapi aku juga membawa satu hal yang ternyata jauh lebih penting daripada semua barang itu.
Keputusan bahwa aku tidak akan kembali menjadi orang yang sama.
Aku tidak tahu persis bagaimana masa depanku ketika berjalan menuju jalan raya sore itu.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku lebih takut Kirana tumbuh melihat ibunya terus direndahkan daripada tumbuh dengan dua orang tua yang tinggal di rumah berbeda.
Sekarang ketika dia duduk di kursi makannya dan menyodorkan potongan pisang kepadaku sambil berkata,
“Mama, makan,”
aku selalu mengambilnya.
Lalu aku mencium keningnya.
Karena suatu hari nanti, ketika Kirana cukup besar untuk memahami cerita hidup kami, aku ingin memberitahunya sesuatu.
Keluarga bukan tempat di mana satu orang terus-menerus diminta mengalah supaya orang lain nyaman.
Cinta bukan izin untuk mengambil uang tanpa bertanya.
Pernikahan bukan alasan untuk menguasai rumah pasangan.
Dan mempunyai anak bukan alasan bagi seorang perempuan untuk menerima penghinaan seumur hidup.
Hari itu mereka sengaja tidak menyisakan satu piring makan untukku karena ingin mengajarkanku “posisi”.
Pada akhirnya, justru merekalah yang belajar.
Bu Marni belajar bahwa menantu bukan bawahan.
Dimas belajar bahwa istri bukan orang yang bisa ditahan dengan rasa takut.
Keluarganya belajar bahwa kebaikan yang diterima terlalu lama bukan berarti mereka berhak memilikinya.
Dan aku?
Aku belajar bahwa meja makan yang kosong kadang bisa menunjukkan dengan sangat jelas siapa yang benar-benar menganggapmu keluarga.
Malam itu, setelah Kirana tidur, aku duduk sendirian di meja makan rumahku.
Di depanku masih ada setengah mangkuk sop ayam.
Aku makan perlahan.
Tidak ada yang menyuruhku bersyukur atas sisa.
Tidak ada yang mengatakan aku terlalu sensitif.
Tidak ada yang memakai kata “keluarga” untuk memaksaku diam.
Rumah itu sunyi.
Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kesunyian tidak terasa seperti kesepian.
Kesunyian itu terasa seperti damai.
Dan kali ini, piring di depanku tidak kosong.

