Bagian 3 — Dokumen di Ruang VIP Membuktikan Penghinaan Itu Bukan Kejadian Kebetulan Semata

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 226 tayangan
Bagian 3 — Dokumen di Ruang VIP Membuktikan Penghinaan Itu Bukan Kejadian Kebetulan Semata
Indeks

Bagian 3 — Dokumen di Ruang VIP Membuktikan Penghinaan Itu Bukan Kejadian Kebetulan Semata

Arga menutup pintu ruang VIP.

Kemudian dia melihat ke koridor seolah takut seseorang mendengar.

Gerakan itu saja sudah memberiku jawaban.

Jika dokumen-dokumen itu benar-benar tidak bermasalah, dia tidak perlu takut.

“Nadira, taruh dulu kertasnya.”

Aku memegang halaman rencana keuangan itu.

“Kenapa?”

“Kita bisa membahasnya berdua.”

“Aku sedang membahasnya denganmu sekarang.”

Arga menarik napas.

“Ini masih draft.”

“Draft yang dibuat tanpa sepengetahuanku.”

“Hanya perencanaan.”

“Perencanaan uangku?”

Dia diam.

Aku mengambil halaman apartemen.

“Uang muka enam ratus delapan puluh juta dari rekeningku.”

“Nanti kita suami istri.”

“Tapi sertifikat apartemen direncanakan atas namamu.”

“Itu karena pengajuan kreditku lebih mudah.”

Aku menunjuk halaman lain.

“Lima belas juta setiap bulan untuk Tante Ratna.”

Wajahnya menegang.

“Aku punya kewajiban moral.”

“Kalau itu kewajibanmu, kenapa ditulis sebagai kewajibanku?”

“Nadira…”

“Empat ratus lima puluh juta untuk bisnis Siska.”

“Itu investasi.”

“Investasi apa? Tidak ada proyeksi, tidak ada persentase saham, tidak ada perjanjian.”

Arga mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu selalu berpikir seperti sedang bekerja.”

Aku tertawa kecil.

“Tentu.”

“Karena ternyata kalau aku berhenti berpikir selama lima menit saja, calon suamiku bisa merencanakan penggunaan lebih dari satu miliar rupiah uangku tanpa memberitahuku.”

“Nad!”

Suaranya meninggi.

Pintu terbuka.

Ratna, Siska, dan Dimas masuk.

Siska langsung melihat folder di tanganku.

Wajahnya pucat.

“Kak Arga…”

Ratna jauh lebih cepat menguasai keadaan.

Dia tersenyum tipis.

“Nadira, tidak baik membuka barang pribadi tanpa izin.”

Aku hampir tidak percaya.

“Barang pribadi?”

Aku mengangkat map.

“Nama saya ada di sini sebanyak dua puluh tiga kali.”

Ratna tetap tenang.

“Itu rencana keluarga.”

“Dan saya bukan bagian keluarga yang pantas diberi tahu?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Arga menekan pelipis.

“Kita semua sedang emosi.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku tidak sedang emosi.”

Itulah kebenarannya.

Aneh sekali.

Dua puluh menit sebelumnya aku masih ingin menangis.

Sekarang justru tidak.

Ada titik tertentu ketika penghinaan terasa terlalu lengkap hingga rasa sakit berubah menjadi kepastian.

Aku tidak lagi bertanya apakah Arga mencintaiku.

Aku sudah tahu jawabannya.

Mungkin dia pernah menyayangiku.

Namun dia menyayangi kenyamanan yang kubawa jauh lebih besar.

Ratna duduk.

“Nadira, setelah menikah, penghasilan suami istri memang dibicarakan bersama.”

“Benar.”

“Jadi apa yang salah?”

“Yang salah adalah kalian membicarakan penghasilanku tanpa mengajakku.”

Siska menyela,

“Kak, Mama cuma memikirkan masa depan kalian.”

Aku memandangnya.

“Kamu juga?”

“Apa?”

“Bisnis kateringmu.”

Siska langsung diam.

Aku membuka halaman investasi.

“Rp450 juta.”

“Mas Arga bilang…”

Dia berhenti.

Aku tersenyum dingin.

“Lanjutkan.”

Siska melihat Arga.

“Dia bilang setelah menikah kalian akan punya keuangan bersama.”

Aku menatap Arga.

“Jadi kamu sudah menjanjikan uangku?”

“Aku tidak pernah menjanjikan.”

Siska panik.

“Tapi Kak Arga sendiri bilang Mbak Nadira punya deposito yang jatuh tempo bulan November dan—”

“Diam, Sis!”

Arga membentak.

Ruangan langsung sunyi.

Aku merasa mual.

Deposito itu hanya pernah kubicarakan dengan Arga.

Bahkan Ayah tidak tahu jumlahnya.

Aku kembali melihat dokumen.

Lalu menemukan sesuatu yang sebelumnya kulewatkan.

Sebuah tabel kecil.

Dana Nadira tersedia setelah menikah:

Deposito: Rp900 juta.

Tabungan: ±Rp310 juta.

Bonus tahunan: estimasi Rp180 juta.

Aku membaca angka-angka tersebut dua kali.

Mereka bahkan mencatat bonusku.

Aku menatap Arga.

“Kamu memberi mereka informasi rekeningku?”

“Bukan nomor rekening.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Aku cuma pernah cerita.”

“Tentang saldo tabunganku?”

“Kita akan menikah!”

Suara Arga meninggi.

“Kenapa semua harus dianggap rahasia?”

Aku mendekatinya satu langkah.

“Karena itu milikku.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan,

“Dan karena aku memberitahumu sebagai pasangan, bukan sebagai petugas pencatat aset untuk keluargamu.”

Ratna berdiri.

“Cukup.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lembut lagi.

“Aku dari tadi diam karena menghormati kamu sebagai calon istri Arga.”

Aku tertawa.

“Setelah Ayah saya dipindahkan ke meja servis?”

“Itu karena dia membuat Arga tidak nyaman.”

“Ayah saya mengambil lauk dengan sendok saji.”

“Masalahnya bukan cuma itu.”

Ratna akhirnya mengucapkan sesuatu yang selama ini mereka bungkus dengan kata etika dan aturan.

“Lingkungan kami berbeda.”

Aku tidak berkedip.

Dia melanjutkan,

“Pak Hadi orang baik. Saya tidak pernah bilang dia bukan orang baik.”

“Tapi teman bisnis keluarga Wijaya, direksi perusahaan, pejabat bank, semua hadir malam ini.”

“Kami hanya ingin menjaga kesan.”

“Menjaga kesan dari apa?”

Ratna terdiam sepersekian detik.

Aku membantunya.

“Dari seorang pemilik bengkel?”

Tidak ada jawaban.

“Dari seorang laki-laki yang tangannya kasar?”

“Nadira…”

“Atau dari seorang ayah yang tidak tahu merek wine tetapi tahu bagaimana membayar uang sekolah anaknya tanpa pernah terlambat satu bulan?”

Ratna memalingkan wajah.

Aku merasakan sesuatu panas naik ke tenggorokan.

Tapi aku menelannya.

Aku tidak mau menangis di hadapan mereka.

“Kalau begitu setidaknya jujur.”

Aku berkata.

“Kalian malu kepada Ayah saya.”

Arga akhirnya bicara.

“Tidak ada yang bilang begitu.”

Aku menatap susunan tempat duduk.

“Kalian menaruh namanya dekat pintu dapur.”

“Itu baru draft.”

“Lalu catatan ‘jangan banyak dilibatkan dengan tamu relasi kantor’?”

Arga terdiam.

Aku bertanya,

“Siapa yang menulis?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengangkat kertas itu.

“Siapa?”

Dimas tiba-tiba berkata,

“Mas Arga.”

Wajah Arga berubah.

Ratna memelototi Dimas.

Dimas baru sadar dia salah bicara.

“Mas Arga cuma bilang nanti Om Hadi mungkin tidak nyaman ngobrol dengan orang kantor.”

Aku menatap Arga.

Dia tidak menyangkal.

Di situlah sesuatu yang terakhir kali masih tersisa dalam diriku benar-benar mati.

Aku mengambil ponsel.

Memotret seluruh halaman dokumen.

Arga mencoba merebutnya.

“Nadira, jangan membuat masalah lebih besar.”

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Dia berhenti.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Pertunangan ini selesai.”

Siska menutup mulut.

Ratna menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Arga bahkan tertawa pendek.

“Maksudmu?”

“Aku tidak akan menikah denganmu.”

“Kamu serius membatalkan pernikahan hanya karena persoalan makan malam?”

“Bukan.”

Aku menunjuk dokumen.

“Aku membatalkannya karena akhirnya aku melihat dengan jelas seperti apa hidupku nanti.”

Arga maju satu langkah.

“Nadira, jangan bodoh.”

Aku tidak menjawab.

“Undangan save-the-date sudah dikirim.”

Diam.

“Venue sudah dibayar.”

Aku tetap diam.

“Keluarga besar sudah tahu.”

Aku berkata,

“Lebih murah kehilangan uang venue daripada kehilangan harga diri seumur hidup.”

Wajah Arga memerah.

“Kamu pikir menikah hanya soal perasaan?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Justru karena itu aku batal.”

Ratna mendekat.

“Kamu akan mempermalukan Arga di depan dua ratus tamu hanya karena ayahmu terlalu sensitif?”

Kalimat itu membuatku berhenti.

Bukan aku.

Bukan Mira.

Ayah.

Mereka masih ingin menjadikannya penyebab.

Aku membuka pintu.

Ratna menahan lenganku.

“Nadira.”

Aku melihat tangannya.

Dia melepaskan.

Suaraku sangat pelan.

“Jangan pernah lagi mengatakan Ayah saya terlalu sensitif setelah kalian mengatur supaya dia disembunyikan dari relasi bisnis.”

Aku kembali ke ballroom.

Musik sedang dimainkan.

Di layar besar terpampang foto prewedding-ku dan Arga.

Pembawa acara tersenyum melihat kami masuk.

“Nah, pasangan kita sudah kembali! Setelah ini kita akan masuk ke acara pertukaran cincin secara simbolis…”

Aku berjalan ke depan panggung.

Arga mengejarku.

“Nadira, jangan.”

Mungkin untuk pertama kalinya malam itu dia terdengar takut.

Aku menaiki panggung.

Ayah berdiri.

“Nduk?”

Aku mengambil mikrofon.

Seluruh ruangan perlahan sunyi.

Aku melihat lebih dari seratus pasang mata.

Sebagian adalah keluarga.

Sebagian kolega Arga.

Sebagian teman-temanku.

Aku menarik napas.

“Maaf mengganggu acara malam ini.”

Arga naik ke panggung.

Tangannya mencoba menyentuh sikuku.

Aku bergeser.

“Pesta pertunangan ini tidak akan dilanjutkan.”

Suara riuh langsung terdengar.

Ayah membeku.

Mira menutup mulut.

Ratna berdiri.

Arga berbisik marah,

“Turun.”

Aku tidak bergerak.

Aku mengeluarkan cincin dari tas.

“Arga.”

Dia menatapku.

Aku meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Aku mengembalikan ini.”

Beberapa kamera ponsel langsung terangkat.

“Aku tidak akan menjelaskan persoalan pribadi kita kepada tamu.”

Aku sengaja tidak membuka aib soal uang.

Tidak perlu.

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”

Aku melihat Ayah.

“Tidak ada pernikahan yang cukup berharga jika syarat untuk masuk ke dalamnya adalah membuat orang tua sendiri merasa malu terhadap dirinya.”

Ballroom benar-benar hening.

Mata Ayah memerah.

Aku menatap para tamu.

“Terima kasih sudah hadir. Seluruh biaya konsumsi malam ini sudah dibayar, jadi silakan tetap menikmati acara.”

Beberapa orang menunduk menahan reaksi.

Aku menyerahkan mikrofon.

Arga meraih tanganku.

“Kita bicara.”

Aku melepaskannya.

“Sudah selesai.”

“Nadira!”

Untuk pertama kali Ayah maju.

Dia berdiri di antara kami.

Ayah tidak tinggi.

Tidak memakai jas mahal.

Namun malam itu aku belum pernah melihatnya tampak sebesar itu.

“Mas Arga.”

Suara Ayah pelan.

“Anak saya bilang selesai.”

Arga menatapnya.

Mungkin dia ingin membalas.

Namun banyak tamu sedang melihat.

Dia akhirnya mundur.

Aku menggandeng Mira.

Kami bertiga berjalan menuju pintu ballroom.

Saat hampir keluar, Ayah berhenti.

Dia kembali ke meja utama.

Semua orang menatapnya.

Ayah mengambil amplop putih yang tadi dibawanya dari Klaten.

Aku tahu isinya.

Tabungan yang selama berbulan-bulan dia kumpulkan untuk “membantu biaya acara anak perempuan”.

Ayah meletakkan amplop itu di depan Arga.

“Ini tadinya hadiah dari saya.”

Arga memandangnya.

Ayah mengambil kembali amplop itu.

“Tapi sepertinya saya salah meja.”

Beberapa orang menahan napas.

Ayah memasukkan amplop ke tas kecilnya.

Kemudian tersenyum.

“Permisi.”

Kami keluar.

Kupikir semuanya selesai malam itu.

Ternyata aku salah.

Karena pukul sebelas malam, ketika kami baru sampai di hotel tempat Ayah dan Mira menginap, ponselku dipenuhi puluhan pesan.

Sebagian dari teman.

Sebagian keluarga.

Sebagian nomor yang tidak kukenal.

Namun satu pesan membuatku berhenti.

Pesan itu datang dari Dimas.

Hanya ada satu foto.

Screenshot percakapan keluarga mereka dari tiga bulan sebelumnya.

Di dalamnya, Arga menulis:

“Yang penting pertunangan jalan dulu. Setelah menikah, Nadira lebih mudah diarahkan. Dia terlalu sayang sama aku untuk mundur.”

Di bawahnya Ratna menjawab:

“Bagus. Jangan buat dia merasa sedang dimanfaatkan.”

Lalu Siska menambahkan emoji tertawa.

Aku menatap layar lama sekali.

Ternyata penghinaan malam itu bukan awal masalah kami.

Itu hanya malam ketika mereka terlalu percaya diri hingga akhirnya berhenti menyembunyikannya.

Dan pagi berikutnya, aku menemukan satu hal lagi.

Sebuah transfer Rp200 juta dari rekening bersama persiapan pernikahan kami telah keluar tiga minggu sebelumnya.

Tujuannya adalah rekening bisnis milik Siska.

Tanpa persetujuanku.

Tanpa pemberitahuan.

Tanpa satu kalimat pun.

Aku langsung menghubungi bank.

Dan sejak detik itu, masalah kami bukan lagi sekadar pertunangan yang gagal.

Ada uangku yang telah dipindahkan.

Ada bukti.

Dan kali ini aku tidak akan diam.